Hoho~ kembali lagi dengan saya. Author siput yang sudah berevolusi(?) yah, ini chapter terakhir sebelum saya (sepertinya) bakal ngaret lagi XD *plak*
udah kuperbaiki lagi di sini. udah kuperbanyak juga (masih sedikit ah) :'3
hehe XD udah ah, silahkan menikmati~

=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=

.

The Prince Banana

.

author: lisa kuroneko

.

Disclaimer :

Vocaloid © Yamaha Corp
The Prince Banana © lisa kuroneko

.

Warning: Newbie, author gagal, OOC, gaje, abal, typo, misstypo, berbelit-belit sampe sembelit(?)

.

"let's get started…"

=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=

[ Normal POV ]

Sinar mentari masuk menyinari ruangan tempat di mana seorang gadis kecil tengah terlelap. Berpetualang di dunia mimpinya sebelum kesadarannya kembali di dunia nyata. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum ia duduk bangun. Ia meninggalkan kasurnya dan menemukan sandal rumah miliknya tergeletak di bawah kasur. Dengan cepat di kenakannya dan ia pun berjalan menuju pintu yang akan membawa dirinya keluar kamarnya. Masih dengan mata mengantuk, ia berjalan menuruni tangga. Kuapnya berkali-kali ia tutup dengan tangannya yang mungil.

"Ohayou, Okaa-san," gadis itu menyapa Kaa-san-nya yang tengah menyiapkan makanan untuknya.

"Ohayou gozaimasu, Rin-chan," jawab Kaa-san yang hanya menoleh sebentar untuk melempar senyum pada anak gadisnya sebelum ia melanjutkan kembali aktivitasnya.

Rin Kagamine berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci mukanya sebelum ia menyantap sarapannya. Ia mengambil handuk kecilnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Tangannya memegang kenop pintu dan kemudian memutarnya. Pintu terbuka dan mata gadis itu menangkap sosok lelaki di sana. Lelaki itu tampaknya menyadari keberadaannya.

"Ah, Ohayou, Rin-chan," lelaki itu tengah menggosok giginya di wastafel ketika Rin masuk.

"K—Kyaaaaaa!"

=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=

[ Normal POV ]

"Rin, tunggu!" Len berteriak di belakangnya. Mengejar Rin yang berjalan terus tanpa mengabaikan seruan Len.

Rin melirik ke belakang. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Tanpa menghiraukan Len yang terus berteriak memintanya untuk menunggu, ia mempercepat langkahnya. Ia berjalan menyusuri jalan yang membawanya kembali ke jalan kemarin. Dengan sakura yang berguguran di sekelilingnya. Yang membuatnya kembali teringat akan kejadian kemarin. Lelaki berambut turquoise yang menolongnya kemarin. Tapi daripada itu, ia lebih teringat akan kejadian saat ia bertemu Len di sini.

"Rin-chan, ada apa?" tanya Len yang sudah berhasil menyusulnya.

"Aa, tidak ada apa-apa," Rin tersadar bahwa ia sudah berdiri terdiam di sana.

"Ah!" Len berseru kaget saat melihat jam tangannya. "Ayo cepat, kita bisa ketinggalan kereta,"

Len menarik lengan Rin dan membawanya berlari kecil. Rin pasrah membiarkan tubuhnya dibawa olehnya. Jantungnya berdegup sangat keras sampai-sampai ia takut kalau Len bisa mendengarkannya.

=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=

[ Rin's POV ]

"Leeen~" seru gadis ber-twin tail warna tosca.

Gadis itu—Miku—memeluk Kagamine Len dari belakang. Len pun tersedak oleh sekotak susu strawberry yang tengah diminumnya. Miku berkata maaf berkali-kali. Pft. Rasakan.

Dia tampaknya sadar aku menertawakannya, karena dia tersenyum ke arahku. Aku membuang muka yang lagi-lagi memerah karenanya. Rin, kau tidak boleh. Aku memperingatkan diriku lagi untuk kesekian kalinya. Kalimat it uterus kuulang dalam hati. Seolah itu mantra untuk menyegel perasaan di dalam hatiku yang tidak seharusnya kurasakan. Tidak padanya.

Di sampingku, Len dan Miku tengah asyik berbincang. Miku membicarakan sesuatu yang membuat Len tersenyum. Deg. Jantungku berdebar. Namun hatiku terasa aneh saat melihat Len tersenyum pada orang lain. Rin, kau tidak boleh. Lagi-lagi aku memperingatkan diriku sendiri. Karena itu, aku berusaha untuk menulikan telingaku. Mengabaikan semua kata-kata yang mereka berdua lontarkan.

Miku kelihatannya tertarik pada Len. Yah, aku tahu. Hampir seluruh gadis yang melihatnya bernasib sama seperti Miku ini. Tertarik. Yang kemudian akan berlanjut jadi suka. Atau mungkin yang lebih parahnya menjadi cinta.

"Hei, Len," kelihatannya usahaku untuk menulikan telinga tidak cukup keras. Karena aku masih bisa mendengar Miku menyebut namanya. "Bagaimana kalau sepulang sekolah nanti kita karaoke?"

"Boleh saja," kelihatannya Len menerima ajakan Miku. "Tapi aku mau dia juga diajak."

Aku merasakan lenganku ditarik sedikit ke arah kanan. Len menarik lenganku dengan santainya tanpa memandang ke arahku sedikit pun. Lagi-lagi ia tersenyum pada gadis di hadapannya itu. Walau kali ini aku merasa bahwa senyum itu ditujukan untukku.

"Baiklah," Miku menyetujuinya. Tapi kulihat matanya tidak berkata setuju.

Aku menghela nafas sebelum berkata. "Tidak usah pedulikan aku, kalian berdua saja yang pergi,"

Mulutku bergerak sendiri. Aku merasa tidak setuju oleh kata-kataku. Tapi aku tidak menyesalinya. Toh aku hanya akan jadi pengganggu jika ikut mereka.

"Hmm, aku juga tidak—"

"Tidak, tidak!" Miku berkata dengan cepat sebelum Len sempat menolak. "Kalian berdua akan ikut, aku akan mengajak temanku yang lain, kita double date,"

Ia mengedipkan matanya sebelum kemudian berlari meninggalkan meja kami. Kelihatannya aku tidak punya pilihan lain. Aku terpaksa ikut. Tanpa sadar aku menghela nafas lagi.

"Kalau kau menghela nafas seperti itu, satu dari kebahagianmu hari ini akan hilang lho,"

Aku menoleh memandangnya. Senyumannya yang sedari tadi tidak kurelakan untuk orang lain, kali ini tertuju untukku. Dan juga, kalimat itu masih sama seperti yang kudengar kemarin di bawah pohon sakura. Kami-sama. Apa aku tidak diizinkan untuk memiliki perasaan ini?

=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=

[ Len's POV ]

Kesal. Kupikir aku bisa memanfaatkan usul dari gadis tosca ini untuk pergi karaoke dengan mengajak Rin-chan. Karena aku tahu dia tidak akan mau jika aku sendiri yang mengajaknya walau dengan iming-iming uang sekali pun. Karena dia berbeda dari gadis-gadis lain yang pernah kukenal sebelumnya. Gadis-gadis yang kukenal biasanya akan menyetujui ajakanku ke mana pun dengan senang hati. Kelihatannya jika kuajak mereka untuk terjun ke jurang pun mereka akan berteriak senang dan langsung terjun.

Tapi gadis tosca yang kumanfaatkan ini benar-benar membuatku kesal. Dia memang berhasil membuat Rin-chan juga ikut pergi karaoke bersama. Tapi, cowok bodoh yang ia bawa serta yang semata-mata untuk jadi pasangan Rin-chan double date itu, cowok yang menolong Rin-chan kemarin saat ia jatuh tersandung!

"Nah, ayo berangkat!" gadis bernama Hatsune Miku itu berteriak lantang sambil menggamit lenganku. Aku berjalan dengan dia yang menarikku. Rin-chan berjalan pelan di belakangku bersama cowok brengsek itu. Mereka tidak bergandeng tangan atau pun bersentuhan seperti yang dilakukan oleh Miku padaku. Tapi, melihat cowok itu bisa berjalan di samping Rin-chan saja sudah cukup membuatku kesal.

=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=

[ Rin's POV ]

Masa depan adalah misteri. Kalimat itu memang benar. Tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi nanti. Seperti saat ini. Ternyata cowok penolongku kemarin itu adalah sepupu Hatsune Miku. Namanya Hatsune Mikuo. Warna rambutnya sama seperti Miku. Turquoise. Dia tampan. Tapi ketampanannya tidak menggerakan perasaanku sedikit pun. Yang kurasakan darinya hanya sebuah kekaguman. Ya, aku yakin hanya itu.

"Kita bertemu lagi ya, Rin-chan," ia memulai pembicaraan. Yang hanya bisa kubalas dengan anggukan.

Ia memanggil dengan nama kecilku. Caranya memanggil namaku sama dengannya. Sama dengan dia yang sedang berjalan di depanku bersama gadis yang menggamit lengannya. Begitu mataku menatap punggungnya, lagi-lagi, hatiku terasa aneh. Tiba-tiba Miku mengatakan sesuatu padanya, yang membuatnya menoleh pada gadis di sampingnya. Dan mereka berdua tertawa. Hatiku mencelos. Seolah ada sosok monster di dalam diriku yang mengamuk ketika melihatnya berjalan berdampingan berdua dengan seorang gadis, melempar canda satu sama lain, tertawa bersama.

"Tidaaaak!"

Eh? Tanpa sadar aku berteriak. Semua mata tertuju padaku. Dua orang yang berjalan di depanku menoleh ke belakang. Len sudah menghentikan tawanya. Matanya memandang heran ke arahku. Beberapa detik kemudian telingaku menangkap suara hantaman yang keras tepat dari sampingku.

"Apa yang kau lakukan padanya, brengsek!?"

Len berteriak dengan tinjunya yang ia layangkan tanpa henti ke wajah Mikuo. Yang dipukul tidak hanya diam pasrah membiarkan wajah miliknya dipukul bertubi-tubi. Ia balas memukul dengan kuat sampai-sampai Len jatuh tersungkur.

"Aku tidak melakukan apa-apa!" Mikuo balas teriak.

"Kau pikir mataku ini tidak berfungsi!?" Len bangkit lagi, tinju mendarat di perut Mikuo. "Jelas-jelas aku melihat tanganmu yang berusaha menyentuhnya!"

Tanpa perlu diperintah, air mataku mengalir. Aku memberanikan diri untuk merelai pertengkaran ini. Kakiku berlari ke tengah mereka sambil berusaha meneriakan kata berhenti berkali-kali.

Masa depan adalah misteri. Sebuah tinju menghantam wajahku. Mendarat tepat di pipiku. Aku terdorong jatuh ke tanah. Ada suara teriakan dan beberapa namaku yang juga diteriakan. Pipiku terasa panas dan perih. Tanganku refleks memegang pipiku. Len, Mikuo dan Miku menghampiriku. Tangan Len berusaha untuk memegang lukaku, tapi aku menepisnya. Tanpa pikir panjang aku berdiri dan berlari kabur meninggalkan mereka. Aku membiarkan tubuhku dibawa lari oleh kaki kecilku. Terus berlari tanpa memandang ke belakang.

=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=

[ Rin's POV ]

Tanganku masih memegang luka di pipiku. Semakin lama lukanya terasa semakin perih. Air mataku sudah berhenti mengalir. Yang tertinggal hanya bekas air mata yang mengalir tadi di pipiku yang mulai mengering.

Aku duduk sendiri di sini. Taman kecil yang biasa digunakan anak-anak untuk bermain. Duduk di sebuah ayunan kecil yang besinya telah berkarat. Tepat di belakangku mentari terbenam. Memancarkan warna oranye kesukaanku. Aku berbalik untuk memandang matahari terbenam dengan lebih jelas. Sinarnya terasa hangat tapi kehangatan itu terkalahkan oleh rasa dingin dari angin yang berhembus. Ini awal musim semi. Suasana musim dingin masih sedikit terasa saat ini.

'Hachih!'

"Pakai ini sebelum kau masuk angin,"

Sebuah jas sekolah berwarna hitam menutupi tubuhku dari belakang. Aku menolehkan kepalaku ke belakang. Kagamine Len. Berdiri di belakangku dengan memar di sana-sini. Perasaan aneh itu muncul lagi.

"Berhentilah memasang wajah khawatir seperti itu," dia tersenyum pahit sebelum ia berlutut di bawahku. "Biar kuobati lukamu,"

Aku membiarkannya melepaskan tanganku yang terus memegang pipiku yang terluka. Ia mengelusnya perlahan. Aku berjengit karena sentuhannya mengakibatkan lukaku terasa perih. Len yang melihat reaksiku, menarik kembali tangannya dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan maksudnya. Aku terus berdebar tak karuan. Perasaan itu terus muncul. Kami-sama, tasukete

"Maaf aku telat, aku membeli ini dulu tadi," tangannya menggenggam kompres dan kemudian menempelkannya pada lukaku. Kali ini ia lakukan dengan lebih perlahan dan hati-hati. Berusaha agar perih yang kurasakan tidak begitu parah.

"Nah, selesai," ia tersenyum. Bukan senyum ceria seperti biasanya. Kali ini senyumnya senyuman pedih. Hatiku pun terasa pedih begitu melihat senyumnya.

"Biar aku yang mengobati lukamu sekarang," kata-kata itu meluncur dari mulutku tanpa kusadari. Ia kelihatan tercengang mendengarnya. Tapi kemudian ia tersenyum setuju.

Aku mengambil sisa kompres dari dalam bungkusan yang ia bawa. Kukeluarkan satu dari beberapa kompres yang ia beli. Aku menempelkannya perlahan di bawah matanya. Deg. Matanya memandangku lekat-lekat. Jantungku berdebar lagi. Lebih kencang dari sebelumnya. Belum pernah aku sedekat ini dengan laki-laki. Belum pernah.

Kelihatannya ia menyadari bahwa aku gugup. Terlalu gugup untuk hanya sekedar menempelkan kompres pada lukanya. Wajahku sudah pasti sangat merah sekarang ini. Ia tersenyum pahit dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan.

"Biar aku sendiri saja," tanpa menunggu jawabanku, ia menyambar kompres di tanganku dan kemudian menempelkannya sendiri pada lukanya. Tidak sempurna. Kompres itu agak bengkok dan tidak rapi, tapi aku tidak cukup bernyali untuk membetulkannya. Aku terlalu gugup. Debaran jantungku membuatku gugup.

"Maafkan aku, Rin-chan," dia meminta maaf. Namun tangannya tidak berhenti untuk mengompres lukanya sendiri. "Gara-gara aku kau jadi terluka,"

Itu lagi. Senyuman pahitnya yang sudah berkali-kali ia tunjukkan. Aku tidak suka. Aku lebih suka senyum ceria yang biasa menghiasi wajahnya.

"I—itu bukan salahmu," suaraku bergetar. Aku menahan tangisku. Aku tidak ingin menunjukkan sisi lemahku pada siapa pun.

"Itu…," ia berkata perlahan. "Itu ulahku,"

Sesaat aku mengira yang dia maksudkan adalah pertengkarannya. Tapi kemudian aku sadar bahwa yang dia maksud adalah lukaku. Aku terdiam beberapa detik.

"Ini bukan masalah," aku memegang lukaku dengan senyum yang palsuku.

Uso. Ini sebenarnya sakit. Tapi aku tidak ingin membuatnya merasa bersalah. Hening lagi. Tidak ada yang berbicara. Sekarang ini ia sudah duduk di atas tanah dengan kemeja putihnya yang sedikit kotor. Jasnya masih ada padaku. Jas hitam dengan bau cologne yang bercampur dengan keringatnya.

"Aku," dia bicara. "Boleh aku bertanya satu hal?"

Aku menganggukkan kepalaku.

"Apa yang ia lakukan padamu?" nadanya terdengar tegas.

Apa yang ia lakukan padaku? Tidak ada. Dia tidak melakukan apa pun. Karena itu aku menjawab, tapi entah kenapa suaraku tertahan. Aku menjawab dengan gelengan.

"Kalau begitu, kenapa kau berteriak?" tanyanya lagi.

"Bukan apa-apa," jawabku.

Bohong lagi. Tentu saja ada apa-apa. Tapi tidak ada hubungannya sama sekali dengan Hatsune Mikuo. Ini hubungannya denganmu, Len. Tapi mana mungkin aku mengatakan padanya. Mana mungkin aku berkata bahwa aku tidak suka melihatnya bersama dengan gadis lain? Itu sama saja dengan mengatakan aku suka padanya. Dan aku tidak boleh.

'Aku tidak boleh memiliki perasaan pada Kagamine Len. Dia saudaraku.'

'Tapi dia bukan saudara kandung kan? Dia hanya saudara tiri yang tidak punya hubungan darah sama sekali. Kau bisa dan kau boleh mencintainya.'

'Tapi jika itu terjadi, Kaa-san tidak akan bisa menikah dengan Tou-san Len. Mereka tidak bisa bahagia.'

Monster di dalam diriku berperang denganku. Aku terus mengulang bahwa aku tidak boleh. Perasaan ini salah. Tapi dia terus berkata bahwa aku tidak salah. Bahwa aku diizinkan untuk memiliki perasaanku ini. Aku ingin mempercainya. Aku ingin sependapat dengannya. Tapi aku tidak bisa. Jika aku berpikir bahwa dia benar, Kaa-san tidak akan bahagia. Apa yang harus kulakukan? Mana yang harus kupilih?

Kami-sama, tasukete…

ToBeContinued

=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=

Fail. Fail. Fail. Fail. Fail. Fail. Fail. (_ _)|||

Oh udah abis ya? ∑OΔO *plak*

Minna, saya tahu chapter ini fail banget feelingnya, romannya dan segalanya sama sekali ngga dapet TT3TT

Dan saya juga tahu anda sekalian ngga akan puas di chapter ini :'D *emang sebelumnya pernah puas?* #plak#

Setelah ini sepertinya saya bakal update siput lagi T^T berhubung liburan yang udah mau selesai dan tugas yang bakal numpuk, jadi sebelumnya saya minta maaf m(_ _)m

Oke, balas ripiu dulu deh, dari pada ane ngegalau X'D

Harada Ayumi-chan

konnichiwa Kuroneko-san Watashi Haradaa

Harada ga bisa ngomong apa-apa lagi dah *ngangkat tangan* semuanya udah bagus
Kalo soal typo, kayaknya gaada Hara gaada nemu typo
Biar Hara tebak, bapaknya Len itu, Rinto? betul? salah (?)

Updatenya lama cyin ngaret pisan, jangan update siput nanti Hara lupa ceritanya

Lanjut terus *ngibar2 bendera kuning(?)*

Konnichiwa Harada-senpai ^^ *bow*

Aiih, makasih banyak senpai~ X'D *hiks* #terharu#

Bapaknya Len? Hoho, sebenernya saya sendiri kagak tau itu siapa *duagh!* soalnya rinto mau kumunculin nanti ^^ *ups keceplosan*

Huaaa, Untuk update aku mohon maaf banget T^T semoga seterusnya ngga lagi ya

Makasih banyak udah baca dan ripiu, senpai~ *ngibarin bendera love is war* #plak#

Nice storyw
Tapi
(A)a
Perchapter terlalu sedikit menurutku,, chapter selanjutnya panjangin yakk (*O*)

Ayo lanjutt

Makasih banyak senpai XD *bow*

Per chapter terlalu pendek ya? Uhm mungkin ini karena rambutku juga pendek 8'D *plak* #ngga nyambung#

Tapi di chapter ini udah di panjangin hehe :D ngga terlalu panjang juga sih ^^" gomen

Oke, sankyuu udah baca dan ripiu ^w^

Namikaze Kyoko

Yey... Akhirnya dah diupdate :D
Meski chapter lalu sudah dilupa DX

Rin, tolak aja! Tolak! Biar bisa married dengan Len *dilempar sama Author and LenRin*

Sekian
Jangan lupa update kilat :)

Waduh jangan di lupa dong nanti saya dan rinlen nangis lho T^T *slap*

Wah, rin nya ngga nolak tuh! XP dia malah setuju hehe~

Oke, udah update nih ^^ arigatou udah baca dan review~

.

Makasih banyak yang juga udah baca tapi ngga review XD

semoga yang baca semua dapet pahala ya~ *haa?* #plak#

Last word, mind to review?