Winter here! Coba di baca dulu ya guys.

Yang pertama mohon maaf buat para readers karna jadi agak lama buat update ff ini. Jujur aku langsung bingung pas ada yang minta hunkai atau kaihun, padahal menurut aku mereka sama aja/? (emang sih beda pas bagian ncnya/? wkwk). Aku emang sengaja ga nulis siapa pairingnya biar kalian penasaran. Udah gitu yang ngebuat ff ini jadi lebih lama update karna aku bingung mau lanjutin ceritanya gimana. Di satu sisi aku udah bikin alur kasarnya. Dan di sisi lain aku juga gamau ngecewain kalian karna ceritanya jadi berbeda dari yang kalian inginkan.

Yang kedua, aku mau minta maaf lagi buat yang ga suka pairing hunkai. Aku udah berniat bikin hunkai dari awal tapi emang di awal chapter masih kaihun. Aku mau buat ff yang beda aja dari yang lain makanya nanti di pertengahan chapter ada suatu sebab kenapa jadi hunkai. Itu juga karna di chapter selanjutnya lagi kai nya mau aku buat konflik dengan seseorang.

Dan yang ketiga, aku berharap untuk para readers yang emang ga suka pairing hunkai atau kaihun coba deh di baca dulu. Karna menurut aku hunkai atau kaihun itu mirip mirip/? tapi aku juga ga memaksa kalian untuk baca ff ini~

So maafin aku kalau ada suatu kesalahan atau kejanggalan dari ff ini, karna aku juga manusia biasa yang banyak salahnya/? Kita langsung ke chapter 4 aja ya sesuai alur kasar yang udah aku buat. Untuk kalian yang mau minta pairing lain, aku tampung requestan kalian. Siapa tau aja setelah ini selesai aku bakal buat ff sesuai pairing yang kalian mau :)

Udah, segini dulu curhatan aku/? silahkan baca chapter 4 nya ya, jangan lupa review/?

.


.

Chapter 4

This Is So Unfair

winter and bunnytofu

T for this chapter

EXO Crack Couple

Warn; boys love


Pintu bercat putih itu terbuka dan menampakan dua pria di balik pintu tersebut.

"Oh nona Cheng, ada apa?"

"Bisa ku titipkan Dashiel selama seminggu? Aku tidak bisa menitipkan Dash di tempat penitipan anak. Dan aku yakin Dash lebih aman bersamamu daripada aku taruh ia di tempat penitipan anak."

"Tapi Jongin, seminggu ini—"

"Tentu nona, aku akan menjaga Dashiel selama seminggu ini."

"Ah syukurlah, terima kasih Jongin-ah. Hey Dash, jangan nakal selama mommy pergi, okay? Bye-bye~"

Anak kecil yang bernama Dashiel itu mengangguk, "Okay mommy, bye-bye!" ucap anak itu sambil melambaikan tangannya ketika sang ibu pergi. Sehun menatap Jongin dengan pandangan kesal. Pasalnya seminggu ini ia ingin bermanja-manja pada kekasihnya itu. Dan Jongin telah setuju akan memanjainya seminggu ini.

"Dash kemarilah, hyung akan membuatkan cokelat panas untukmu." Dash kecil mengikuti arah Jongin pergi ke dapur. Dan Sehun? Ah, dia hanya menganga melihat kepergian Jongin. Bisa-bisanya Sehun di abaikan seperti itu. Baru kali ini ia diabaikan oleh Jongin.

Kesal? Tentu. Sehun duduk di sofa sambil merengut sebal. Tak lama setelahnya Jongin kembali dengan Dashiel yang berada di gendongannya. Jongin duduk disebelah Sehun sambil memangku anak itu. Sedangkan Dashiel sibuk meminum cokelat panas buatan Jongin.

"Jangan merengut Sehun. Aku serasa menjaga dua balita hari ini." Ucap Jongin sebal. Menurut Jongin kadar kemanjaan Sehun hari ini meningkat drastis. Itu sangat berlebihan. "Kenapa kau menerima tawaran nona Chen tadi?" yang di tanya hanya menghela nafasnya.

"Namanya Cheng, Wendy Cheng. Dulu dia memang sering menitipkan anaknya padaku. Dan beberapa bulan setelahnya ia tidak menitipkannya lagi karena ia merasa tidak enak dan merepotkanku. Tapi itu tidak sama sekali merepotkan, menurutku." Jelas Jongin. "Dashiel juga penurut, disaat pertama kali bertemu aku seperti jatuh cinta pada Dashiel. Dan Dashiel sendiri sangat senang dan penurut." Lanjutnya.

"Kau jatuh cinta pada anak kecil? Kau gila Jong!"

"Ya! Jatuh cintanya tentu tidak sama dengan rasa cintaku padamu. Aku hanya merasa Dash seperti adikku yang harus kujaga. Kau pikir aku seorang pedofilia huh?"

"Sepintas aku berfikir seperti itu."

Satu jitakan penuh cinta di dapatkan Sehun.

"Oh ya Tuhan, Jongin, kepalaku bocor!"

"Kau berlebihan."

Jongin mengabaikan Sehun yang pura-pura kesakitan. Matanya terfokus pada Dashiel yang sedang bermain gelas plastik di depan Jongin. Anak itu benar-benar tidak menyulitkan Jongin. Cukup beri ia sesuatu benda yang tidak berbahaya, dan ia akan sibuk sendiri bermain dengan benda tersebut sampai ia lelah dan siap untuk di bawa ke kamar.

"Jongin, kenapa kau tenang-tenang saja? Kau tidak memberikan anak itu makan?" Jongin melihat jam lalu menggeleng. "Ini belum saatnya ia makan, sekitar dua puluh dua menit lagi baru akan kubuatkan bubur untuknya."

'Se-detail itu ya, sepertinya Jongin memang sudah terbiasa menjaga anak ini.' Batin Sehun. Sehun rasa seminggu ini pikiran Jongin akan teralihkan, dan mau tak mau Sehun juga ikut menjaga anak kecil bernama Dashiel itu.

.


.

Sang purnama mulai menampakkan dirinya. Ini masih awal tahun dan cuaca juga mulai bersahabat. Malam ini tidak terlalu dingin untuk sekedar membuka balkon flat milik Jongin. Sehun membuka sedikit jendela menuju balkon dari kamar Jongin. Untuk sekedar mengirup udara, katanya. Hari kedua ini Sehun berniat ikut merawat Dashiel selagi Jongin keluar untuk membeli beberapa makanan ringan untuk seminggu ke depan.

Sehun menghampiri Dashiel yang sedang memainkan ponsel Jongin. Dashiel tampak senang saat menonton video yang diputarkan Sehun. "Kau lucu sekali kalau tersenyum Dash, dan aku baru menyadarinya." Ucap Sehun sambil menciumi pipi Dashiel dan di balas kikikan lucu oleh Dashiel.

"Halo halo?" Dashiel meletakan ponsel Jongin di telinganya.

"Oh kau meniru gaya bertelefon?" Sehun mengira kalau Dashiel benar-benar hanya meniru gaya bertelefon. Ia tidak menyadari kalau itu memang panggilang sungguhan sampai sebuah suara menyahuti kata-kata Sehun.

"Halo? Nini hyung, apa itu kau?"

'Nini hyung...?'

"Nini hyung ini Jaejae!"

Sehun mengambil ponsel Jongin dan membalas panggilan tersebut, "Maaf, mungkin anda salah sambung, tuan." Sehun hendak menutup panggilan tersebut tapi sang penelfon berkata bahwa ia tidak salah sambung.

"Jongin, Kim Jongin! Ini nomor telfon milik Kim Jongin kan?"

Sehun menatap layar ponsel milik Jongin, dan Jongin tidak menyimpan nomor ini. Itu terlihat dari layarnya yang hanya tertera nomor telfon si pemanggil. "Ya betul, ini nomor milik Kim Jongin," Jawab Sehun, "kebetulan Jongin sedang keluar, kau bisa menitipkan pesan padaku." Lanjutnya.

"Tidak-tidak, aku hanya ingin berbicara dengannya. Jika Jongin hyung sudah kembali, katakan kalau Sungjae, Ah—Jaejae baru saja menelfonnya, oke? Aku tutup sambungannya."

Sehun kembali menatap layar ponsel tersebut. Apa-apaan pikirnya, orang tadi seenaknya menyuruh Sehun. Tapi ia rasa orang ini kerabatnya Jongin. Dan berarti Sehun harus mengabarkan ini kepada Jongin.

"Aku kembali~" sahut Jongin dari pintu depan. Jongin langsung menuju ke dapur untuk membereskan belanjaannya dan di susul Sehun yang menghampiri Jongin. Waktunya tepat sekali.

"Jong, tadi seseorang menelfonmu. Ia ingin berbicara denganmu." Sehun memberikan ponselnya pada Jongin. "Siapa yang menelfonku?" Sehun menggidikan bahunya, "Entahlah, ia memanggil dirinya Jaejae."

"Oh dia Sungjae!" pekik Jongin senang kemudian ia mengecek daftar panggilannya. Sehun melihat Jongin yang pergi agak menjauh dan mengisyaratkan Sehun untuk kembali ke kamar menjaga Dashiel. Sehun menurut saja.

Sehun duduk di ranjang sambil memangku Dashiel. Sesekali Sehun bermain bersama Dashiel untuk sekedar menghilangkan rasa penasarannya terhadap Sungjae, orang yang di sebut oleh Jongin tadi.

"Seberapa pentingnya si Sungjae itu? Lagi pula Sungjae itu siapanya Jongin?" monolognya.

"Sungjae itu adik kelasku, Sehun-ah."

Sehun menoleh. Bodoh, kenapa ia bicara sendiri tadi. "Kau penasaran heum?"

"Ti-tidak! Untuk apa aku penasaran?" sanggah Sehun dan Jongin hanya menautkan alisnya bingung. Tak biasanya Sehun bersikap acuh seperti ini.

Tak lama mau berdiam diri di depan pintu kamar, akhirnya Jongin membaringkan badannya di ranjang. Ia mempehatikan Sehun yang masih bermain dengan Dashiel. Jongin tersenyum tipis melihat kedekatan Sehun dengan Dasihiel. Ia sudah mengira kalau Sehun pada akhirnya akan menerima Dashiel tinggal di flat-nya selama seminggu.

.


.

Ini sudah masuk ke bulan ketiga dan ini masih awal tahun. Dari hari ke hari Jongin dan Sehun semakin dekat. Tak ayal, hampir seluruh warga kampus-terutama fakultas mereka masing-masing- mengenal dan menjuluki mereka sebagai pasangan 'Kopi-susu' ini. Meski mereka menjulukinya 'Kopi-susu'. Jongin berkata kalau ia sangat tidak suka terhadap segala jenis kopi. Sedangkan Sehun jika disuruh memilih antara kopi dan susu dia akan lebih memilih susu ketimbang kopi.

"Jongin, jam satu siang nanti aku akan menjemputmu di tempat biasa." Ucap Sehun setelah sampai di depan kelas Jongin. "Dan ingat, jangan berkumpul dengan club-mu di saat aku akan menjemputmu. Kau tidak mau uang kita habis lagi kan?" ledeknya menambahkan.

Jongin tertawa sebnetar lalu ia mengangguk, "Tenang lah, aku sudah dapat pekerjaan untuk membayar nafsu makan mereka."

"Kalau begitu sampai jumpa. Ingat jam satu siang!" Sehun melambaikan tangannya kemudian lari menuju kelasnya. Setelah melihat kepergian Sehun, Jongin segera masuk ke kelasnya.

"Serunya yang di antar pacar."

Jongin menoleh ke asal suara, dan ternyata asal suara itu berasal dari mulut Junhee. "Kau iri? Ku sarankan kau cari pacar mulai sekarang. Jika tidak kau akan terus terlihat iri melihatku berdeketan dengan Sehun."

"Maaf saja tuan Kim, aku lebih dulu mendapatkan pacar sebelum dirimu. Kau saja yang tidak peka terhadap lingkunganmu." Junhee menyilangkan tangannya dan bergaya pura-pura angkuh. Ingin sekali Junhee memamerkan pacarnya yang pemalu itu. Tapi di satu sisi ia ingin membuat Jongin penasaran juga.

"Oh kau sudah punya?"

Junhee membelakkan matanya. "Hanya itu?" tanyanya heran, "Hanya itu reaksimu Jongin?" lanjutnya lagi. Jongin mengangguk pelan, lagi pula untuk apa beraksi berlebihan hanya karena sudah memiliki kekasih, pikirnya.

"Sudahlah Jun, dosen Uhm sudah datang dan sebaiknya kita tidak berisik."

.


.

"Sehun-ah, seseorang mengirimkan amplop ini padaku."

Donghae menyodorkan amplop yang dimaksud kepada Sehun. Sehun menerimanya dan kemudian melihat seluruh bentuk fisik surat tersebut. Tidak ada nama pengirimnya.

"Apa ini berisi uang, hyung?"

Donghae menggeleng tidak tau, "Di otakmu itu hanya uang saja ya? Sebenarnya mungkin saja sih. Amplop itu sedikit tebal, tapi kalau itu memang uang kenapa harus di tutup rapat?" Sehun beralih menatap Donghae lalu mengerinyit bingung dengan kata-kata tersebut. "Ma-maksudku, tidak semua orang jahat untuk mengambil uang itu jika memang amplopnya tidak di tutup rapat."

Sehun mengangguk mengerti. Lagi pula untuk apa hyungnya itu mengambil uang-jika di dalam amplop itu benar-benar berisi uang- tersebut, padahal ia memiliki banyak uang.

"Kalau begitu terima kasih karena telah memberikan amplop ini, hyung. Aku ingin ke perpustakaan sebentar, kirimkan pesan padaku jika kelas sudah di mulai ya."

Donghae mengangguk menegerti kemudian Sehun pergi meninggalkannya. Ia berjalan menyusuri lorong paling panjang untuk segera sampai ke perpustakaan. Hari ini adalah waktu tenggat untuk mengembalikan buku yang ia pinjam di perpustakaan dan rencananya ia akan meminjam beberapa buku lagi.

Untung ini masih pagi, perpustakaan masih terlihat sepi saat Sehun melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam.

"Oh Sehun, akhirnya kau kembali." Ujar si petugas perpustakaan. "Untung kau datang hari ini, jika besok maka ku denda kau." Sehun hanya tersenyum malu, ia memang sering dapat teguran karena hampir terlambat mengembalikan buku. Hampir terlambat.

"Maafkan aku, sedikit lama untuk membaca semua buku-buku ini." Ucapnya seraya mengeluarkan buku-buku yang sudah ia pinjam lalu memberikan kartu tanda peminjamnya pada si petugas.

Sang petugas mendengus pelan, "Sudah tau cara bacamu itu sangat lama, masih saja meminjam banyak buku." Si petugas mengecek buku-buku tersebut kemudian menaruhnya di kereta dorong untuk ia kembalikan nanti. "Jadi, kau mau pinjam berapa hari ini? Tidak boleh lebih dari tiga buah buku!" Ancamnya.

Sehun merengut, ia sudah hafal betul pada petugas perpustakaan yang ber-nametag Angela ini. Sering sekali Sehun mendapat nasehat sepanjang gerbong kereta api hanya karena ia terlambat beberapa menit untuk mengembalikan buku. Bayangkan hanya beberapa menit. Namanya sangat indah tapi ocehannya tidak seindah namanya, pikir Sehun.

"Oh ayolah, banyak sekali buku yang menarik di perpustakaan ini dan aku tidak mungkin bermalaman disini hanya untuk membaca buku-buku itu."

"Tapi kau hanya boleh meminjam tiga buah buku, Oh Sehun."

"Tapi—"

"Permisi Angela noona, aku ingin meminjam buku-buku ini."

Percakapan Sehun dan Angela berhenti karena seseorang datang untuk meminjam buku. Sehun sedikit menggeserkan badanya ketika mahasiswa itu mendekat. Angela tersenyum pada mahsiswa tersebut lalu mengecek semua buku yang akan di pinjam mahasiswa tersebut. Sehun dengan malas memperhatikan mahsiswa itu.

'Dia meminjam lima buah buku sedangkan aku hanya diperbolehkan tiga buah? Ini tidak adil!'

Setelah mahasiswa itu pergi Sehun berdiri tepat di depan Angela dengan pandangan memelas. "Noona dia diperbolehlkan meminjam lima buah buku sedangkan aku hanya diperbolehkan tiga buah? Itu tidak adil noona."

Angela menghela nafas lagi, kalah sudah jika Sehun sudah seperti ini. Ia benar-benar tidak bisa melakukan apapun jika Sehun sudah memelas dan memohon-mohon seperti itu.

Sebenarnya di perpustakaan ini tidak di tentukan berapa buah buku yang boleh kau pinjam. Tapi Sehun memang pada dasarnya sering terlambat-hampir memasuki detik-detik waktu tenggat- mengembalikannya dan itu membuat Angela beberapa kali di tegur atasannya.

"Baiklah-baiklah, kau boleh meminjam lima buah buku seperti mahasiswa tadi. Sana pergi aku malas melihat mukamu."

"Ouh~ terima kasih noona yang sangat cantik. Baik aku pergi dulu untuk memilah buku yang akan ku pinjam nanti."

Angela memutar bola matanya malas dan ia kembali melakukan tugas mengecek buku bekas pinjaman orang-orang. Sedangkan Sehun sedang berjalan menuju rak-rak buku. Ia harus cermat memilih buku-buku yang akan dipinjam, karena ia baru saja di perbolehkan meminjam lima buah buku.

.


.

Hampir setengah jam Sehun berputar-putar di perpustakaan. Ia sudah menetapkan lima buah buku yang akan dipinjam dan beberapa buku untuk ia baca di perpustakaan. Rata-rata buku yang ia ambil lebih mengarah ke jurusannya. Tapi Sehun juga mengambil novel romansa. Salah satu dari lima buku yang Sehun pinjam juga terdapat novel romansa. Sehun pikir tidak ada salahnya membaca sesuatu yang belum pernah kau baca-Sehun lebih sering membaca novel misteri-.

Sambil menunggu Donghae memberi kabar, Sehun berniat membaca sebagian buku yang ia ambil tadi. Ia membuka halaman kata pengantar lalu membacanya.

Omong-omong, Sehun baru ingat kalau tadi ia diberikan sebuah amplop oleh Donghae. Ia kembali merogoh tas hitamnya untuk mencari amplop tersebut. Setelah ketemu, ia buka amplop itu dan mengambil isinya.

Sehun menghela nafasnya saat mengeluarkan isi amplop tersebut. Ternyata bukan uang yang ia inginkan. Isi amplop tersebut hanya satu lembar kertas karton berwarna ke kuningan yang di lipat. Sehun membuka lipatan kertas tersebut lalu membacanya.

Untuk Oh Sehun.

Sehun-ah, maaf aku bersikap sok akrab denganmu. Kita memang tidak dekat, bahkan kau dan aku hanya bercakap-cakap beberapa kali saja. Tapi aku mempunyai satu permintaan, bisakah kau kabulkan permintaan ini?

Aku menyukaimu Sehun-ah. Jadilah kekasihku. Aku tunggu jawabanmu Sehun. Datangi aku di taman belakang gedung fakultasmu.

Aku mengaharpkan kedatanganmu.

-Seseorang yang selalu memperhatikanmu.

Sehun mengerinyit bingung dengan isi surat tersebut. 'Apa ini? Surat pernyataan cinta? Kuno sekali.' Pikir Sehun. 'Memangnya orang ini tidak tau kalau aku adalah kekasih Jongin?' lanjutnya.

Tak merasa peduli, Sehun kembali memasukan surat beserta amplopnya tersesbut ke dalam tas. Ia sibuk. Kalau tau itu surat pernyataan cinta pasti akan ia buang terlebih dahulu tanpa membacanya. Malas sekali meladeni seseorang yang seperti itu. Sehun berpikir, kalaupun ia datang pasti orang itu akan memaksanya menerima pernyataan itu.

.


.

Kelas Sehun baru saja berakhir beberapa menit yang lalu. Jam digital dalam ponsel Sehun menunjukan tepat jam satu siang. Itu berarti kelas Jongin juga sudah selesai.

Sehun merapihkan beberapa buku dan alat tulis yang sempat ia pakai untuk mencatat beberapa materi tadi. Memasukan semuanya secara terburu-buru. Ia takut Jongin menunggu lama karena jarak tempuh kelas Sehun menuju tujuannya cukup jauh. Dan Sehun tidak ingin membuat Jongin menunggunya lebih lama. Pria ini takut sekali kalau kekasihnya jadi bahan bank berjalan lagi untuk teman-teman satu club-nya itu.

Sehun mempercepat langkahnya menuju kantin yang dimaksudnya tadi pagi. Tapi di tengah jalan ia merasa ingin buang air dan terpaksa mampir ke toilet terdekat.

"Oh Donghae hyung? Sedang apa kau disini?" tanyanya saat bertemu Donghae yang sedang mencuci tangannya di toilet tersebut.

"Kau pikir aku sedang apa? Menonton televisi? Aku habis buang air bodoh."

"Ah aku kira kau benar-benar habis menonton televisi hyung."

"Ya terserah kau saja, aku pergi." Sehun mengabaikan ucapan Donghae dan segera melakukan hasrat buang airnya.

Selesai sudah. Sehun benar-benar harus bergegas. Di saat ia sudah mencuci tangannya seseorang mendorong badan kurus bak triplek milik Sehun ke dinding sebelah tempat ia mencuci tangan tadi.

"Ya! Apa-apaan ini? Dan... siapa kau?"

"Aku?" jawab pria itu, "Aku makhluk hidup, tentu." Lanjutnya santai dan setelahnya ia membelai pipi putih Sehun. "Me-menyingkirlah!" gagap Sehun saat pria di depannya itu mulai meraba perpotongan lehernya.

"Menyingkir? Bagaimana kalau aku memperkosamu disini?"


To Be Continued.