BAB 3
[Baekhyun]
Keledai ini akan senang untuk menampar pantat kecilmu sampai bersinar.
Astaga, siapa di dunia ini yang bisa mengatakan sesuatu seperti itu? Aku berbaring ke sisiku dan menatap jam alarm. 04:43. Alarmku akan berbunyi dalam tujuh belas menit, dan aku belum juga tidur. Bahkan tidak setelah tiga mil berlari dan kepanasan dan mandi air panas.
Sebaliknya, semua yang bisa aku dengar hanyalah suara berat Chanyeol yang berputar di kepalaku. Mata biru yang menghantuiku, cara matanya bersinar ketika dia senang dan gelap saat dia bergairah.
Dan mata itu semakin gelap ketika dia menatapku. Aku ingin menjilatinya.
Meskipun dia lebih suka mengikatku.
Dan bagian yang membuatku takut adalah aku juga ingin dia mengikatku.
Astaga, apa yang salah denganku?
Aku duduk dan mematikan alarm sebelum berbunyi dan dengan susah payah berjalan ke kamar mandi untuk mulai bersiap-siap memulai hariku. Ketika aku pergi ke toko di pagi hari untuk memanggang cupcakes, aku melupakan makeup yang membuat nyaman, kemudian berlari menaiki tangga sekitar tiga puluh menit sebelum kami membuka toko untuk berias dan terlihat lebih baik untuk menghadapi para pelanggan. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk berpakaian, menahan rambutku dengan bandana –satu-satunya alasan aku menyesal memotong rambutku adalah aku tidak akan memiliki ekor kuda lagi—dan aku sedang dalam perjalanan menuju dapur.
Ruang kerjaku adalah kebanggaan dan sukacitaku. Aku menghadiri banyak lelang dapur komersial, menunggu kesempatakan sampai aku menemukan peralatan yang sempurna dengan harga yang pas. Meja alumunium ini bersinar di bawah lampu. Ovenku hampir merangsang orgasme.
Aku mencintai tempat ini.
Bagian depan rumah ini dirancang dengan perawatan yang sama. Aku punya lemari kaca panjang yang dapat menampung sekitar lima puluh lusin cupcakes. Aku memiliki mesin espresso yang akan membuat Starbucks bangga.
Ruangan ini berwarna merah, putih dan hitam. Lantai ubin berwarna hitam dan putih. Meja sedikit hitam dengan tempaan besi untuk dua orang dan ditutupi taplak meja merah dan ada meja panjang di depan jendela di mana orang bisa berdiri dengan makanan mereka dan memperhatikan lalu lintas atau musisi yang masuk dan keluar dari studio rekamanan yang tidak mencolok di seberang jalan.
Aku sudah membuka tempat ini selama lebih dari satu tahun dan aku tidak bisa lebih bahagia lagi dengan keberhasilan toko ini. Succulent Sweets telah membuat keuntungan dari bulan pertama, yang aku tahu adalah hal langka.
Aku bekerja keras untuk itu.
Aku menyusun kue dengan rasa yang berbeda dan segera bekerja. Ini hari Minggu, jadi aku hanya akan membuka toko setengah hari, dari jam sembilan sampai jam satu, tapi aku masih memiliki pesanan untuk dua pesta ulang tahun, acara baptisan dan sebuah acara baby shower.
Terima kasih Tuhan banyak pesanan cupcakes hari ini.
Setelah cupcakes yang akan dijual di toko hari ini selesai dipanggang, aku membiarkan semuanya dingin sementara aku memanggang kue yang dipesan khusus. Baru saja aku akan mulai menghias, Jisoo, karyawan paruh waktuku, masuk ke dapur.
"Selamat pagi," ia bernyanyi dan tersenyum lebar.
"Kau sangat gembira di hari Minggu pagi," aku menanggapi dengan senyum. "Dan selamat pagi."
"Aku keluar tadi malam," ia mengumumkan sambil mengikat apron putih di pinggang langsingnya. Jisoo bertubuh tinggi dan kurus, dengan rambut pirang tebal, merah dan juga pink. Dia memakai kacamata hitam berbingkai yang hampir sebesar wajahnya, tapi dia bersikeras itu sangat keren.
Dan, harus aku akui, dia terlihat manis menggunakannya.
Dia mengikat rambutnya dengan ikatan ekor kuda dan meraih beberapa frosting keluar dari kulkas, siap untuk membantuku menyelesaikan kue hari ini.
"Siapa dia?" aku bertanya.
"Namanya Mino ..." Dia tampak berpikir.
"Mino... sesuatu"
"Astaga, Jisoo."
"Oh stop, aku sedikit minum. Dia tinggi dan tegap dan putingnya ditindik."
"Aduh," jawabku sambil tertawa.
Jisoo tertawa bersamaku saat dia melapisi cupcakes lemon dengan lemon frosting.
"Bagaimana malammu?" Dia bertanya. "Baik. Aku hanya pergi ke gym."
"Oh." Dia mendesah dan menatapku seperti aku adalah perawan tua.
"Jangan menatapku seperti itu."
"Aku hanya berharap kau akan pergi keluar dan bersenang-senang," dia menjawab dan mengatur cupcakes lemon pada baki plastik panjang, siap untuk di masukkan ke lemari kaca.
"Aku pergi keluar dan bersenang-senang," jawabku.
"Pergi ke lelang dapur tidak termasuk bersenang-senang," dia menjawab sinis.
Aku memberinya pandangan kesal dan dia tampak mengerut lalu mengangkat tangannya ke atas.
"Oke, oke, aku minta maaf. Aku yakin lelang dapur benar-benar menyenangkan dan penuh dengan pria yang panas."
"Sok pintar." Aku tertawa dan memberikan sentuhan akhir pada dua lusin kue untuk klienku.
"Kau mencintaiku," jawabnya dan mencium pipiku sebelum dia memantul keluar untuk mengatur kue di lemari kaca di depan.
"Oke," ucapku ketika dia kembali, "Ini adalah pesanan khusus yang tinggal dimasukkan ke dalam kotak. Apakah kau keberatan melakukan ini sementara aku ke atas untuk mandi? Aku akan menyelesaikan pesanan khususnya saat aku turun nanti."
"Tidak masalah. Santai saja. Kita akan lebih cepat dari jadwalnya, nona bos."
Aku menggeleng dan tertawa saat aku menaiki tangga ke apartemenku, melepaskan pakaian sambil melangkah.
Jisoo masih muda, baru berusia awal dua puluhan dan masih di perguruan tinggi, tapi dia seorang pekerja keras. Dia mencintai toko dan aku suka bekerja dengannya. Tidak pernah ada waktu yang membosankan ketika dia bekerja.
Tidak butuh waktu lama untuk mandi dan memakai seragam kerja; celana panjang hitam dan kemeja merah dengan apron putih, pita merah di rambutku yang menyerupai ikat kepala dan sedikit makeup.
Ketika aku kembali ke dapur, kami masih memiliki waktu empat puluh lima menit sebelum toko dibuka, jadi kami menghabiskan waktu dengan memberi lapisan pada pesanan khusus - cokelat putih mocha - dan menyiapkan adonan untuk stok kue besok pagi.
Pukul sembilan tepat, Jisoo membuka pintu dan segera muncul kerumunan kecil pelanggan yang masuk untuk memesan kue dan kopi.
Kerumunan berakhir saat jam menunjuk pukul 12:30. Aku menggunakan waktu untuk menyelinap ke belakang dan dengan cepat memakan pisang dan keju sebelum mengatur ulang cupcakes ke dalam lemari kaca dan merapikan tempat duduk.
Bel di atas pintu berbunyi di belakangku saat aku menyelipkan kursi di bawah meja.
"Baunya menakjubkan di sini." Aku mengenal suara itu.
Suara itu berada di kepalaku sepanjang malam.
Aku berbalik dan menemukan Chanyeol dan seorang pria yang sedikit lebih pendek dan berambut gelap yang belum pernah aku lihat sebelumnya, berdiri tepat di depan pintu. Salah satu tangan Chanyeol berada di saku celana jinsnya dan tersenyum padaku. Pria yang bersamanya sudah menyeberang ke lemari kaca, langsung melihat ke dalamnya.
"Hai," gumamku dan mengusap tanganku di celana.
"Bagaimana bisnismu hari ini?" Chanyeol bertanya saat aku berjalan ke belakang lemari kaca, menjaga jarak sekitar tiga kaki di antara kami.
"Sibuk. Tapi sudah mulai sepi."
"Park sudah kehilangan sopan santunnya," teman Chanyeol memberitahuku dengan senyum.
"Aku rekannya, Hanbin."
"Hai, aku Byun Baekhyun."
"Aku sudah melewati tempat ini seratus kali dan selalu berniat untuk masuk." Hanbin tersenyum lebar saat dia memperhatikan lemari dengan teliti.
"Apa yang kau sarankan?"
"Cokelat," jawabku, pandanganku masih terjebak pada Chanyeol. Dia tetap tenang, mundur dan mengawasi setiap gerakanku.
Ini mengerikan dan tidak nyaman dengan cara yang tidak bisa aku menjelaskan.
Dia mengenakan kemeja biru tua dengan lengan digulung dan tiba- tiba aku menyadari sesuatu. Dia mengenakan pistol yang disarungkan di pinggang dan lencana yang menempel.
Melirik Hanbin, aku melihat dia mengenakan setelan yang sama. Aku mengangkat alis pada Chanyeol. "Aku tidak menjual doughnut (sesuatu dalam kepolisian) di sini."
Bibirnya berkedut. Aku tidak tahu dia polisi!
"Mungkin kita perlu perubahan," Chanyeol menjawab. "Selain itu, aku bilang aku akan ke sini hari ini."
Aku mengangguk dan tersenyum pada Hanbin. "Kau bosan pada doughnut (kue donat) juga?"
"Aku tidak pernah bosan pada donat. Tapi aku akan membeli cupcake cokelatnya."
Aku menempatkan pesanannya di piring dan menyerahkannya kepadanya. Dia mengupas kertasnya dan menggigitnya lalu pandangannya beralih ke punggungnya.
"Menikahlah denganku," dia mengumumkan dan memasukkan sisanya ke dalam mulutnya.
"Nikahi aku sekarang. Kita akan pergi ke Vegas."
Aku tertawa dan menggelengkan kepala. "Apa yang bisa aku berikan padamu, Chanyeol?"
"Makan malam besok malam," jawabnya lancar.
"Dude, kau baik," Hanbin memujinya. "Tapi dia akan menikah denganku."
"Siapa yang menikahi siapa?" Jisoo bertanya saat ia kembali dari dapur lalu berhenti di tempatnya berdiri. Matanya melebar saat ia melihat dua orang yang sangat menarik - oke, tampan - yang mengobrol denganku.
"Baekhyun akan menikah denganku," Hanbin mengumumkan dengan kedipan mata.
"Atau, aku bisa memanggang cupcakesnya dan kau dipersilakan untuk mampir kapanpun. Dengan begitu, tidak ada kontrak yang berantakan atau hal-hal seperti komitmen," aku menyarankan sambil tertawa.
"Ya, itu bagus," Hanbin setuju.
"Jisoo, bisa tolong bungkuskan beberapa kue cokelat untuk Hanbin?" Aku bertanya padanya dan kembali menatap Chanyeol. "Apa yang kau suka?"
"Aku sudah bilang. Makan malam besok malam." Jantungku melompat dan berdetak cepat.
"Maksudku…"
"Aku tahu apa yang kau maksud. Aku akan mengambil selusin yang spesial dan makan malam besok."
"Ya, dia akan pergi," Jisoo menjawab untukku. "Aku bisa memecatmu, kau tahu."
Dia menatapku seperti aku baru saja mengumumkan bahwa ada sesuatu di giginya.
Chanyeol tertawa saat dia menerima cupcakes dariku. "Dapatkah aku bicara denganmu di tempat yang lebih pribadi?"
Toko masih sepi jadi aku mengangguk dan membawanya masuk ke dapur.
"Kau tidak perlu membeli selusin kue hanya untuk memintaku makan malam," aku mengatakan kepadanya dengan suara pelan.
"Aku membelinya untuk rekan-rekanku." Dia mengangkat bahu dan menyeringai padaku. Apakah ini benar orang yang sama yang telah mengikatku - harfiah dan kiasan – beberapa waktu lalu?
"Jadi, kau polisi."
"Ya." Dia mengangguk.
"Jadi, jika aku akan mengajukan keluhan penguntitan, kau orang yang akan ditelepon?"
Chanyeol melangkah mendekatiku dan mengusap jari telunjuknya di pipiku turun ke rahangku. "Ada nomor yang dapat dihubungi tapi aku harap bukan aku orang yang akan kau laporkan."
Aku menyeringai dan mengawasinya, menunggunya untuk mendikte apa yang akan kami lakukan selanjutnya atau di mana kami akan pergi untuk makan malam, tapi dia hanya menungguku, menatapku seperti yang aku lakukan padanya.
"Aku akan makan malam denganmu besok," aku akhirnya bergumam. Perutku mengepal dan putingku menegang ketika dia memberiku senyum sejuta watt dan mencium keningku.
"Bagus. Jam berapa kau akan selesai di sini?"
"Jam empat sore."
"Aku akan menjemputmu jam enam?"
Dia bertanya, tidak mendikte! "Tentu."
Dia menangkup wajahku dan mendesah saat ia menatap ke dalam mataku. "Kita perlu bicara, Little one."
"Itu biasanya merupakan bagian dari acara makan malam dengan seseorang," jawabku dengan senyum tidak bersalah.
Dia tertawa dan memberikan ciuman di bibirku lalu berbalik untuk pergi. "Sampai jumpa besok." Dia mengedipkan mata kemudian pergi.
Aku bersandar pada meja, mencoba untuk menarik napas. Astaga, dia nyaris tidak menyentuhku dan aku sudah siap untuk merobek bajuku dan menyerang dia di sini, di dapurku.
Itu tidak akan terjadi.
Aku menyibukkan diri dengan mengelap meja yang sudah bersih, berusaha menjernihkan kepalaku sebelum aku bisa menghadapi Jisoo atau para pelanggan.
Satu hal yang dapat aku katakan tentang Chanyeol adalah, dia selalu membuatku kehilangan keseimbangan, bukan dalam cara yang buruk.
Akankah sangat menyakitkan untuk keluar makan malam dengannya? Untuk bisa mengenal dia lebih baik? Aku menyandarkan pinggulku pada meja dan menggosok kedua tangan di wajahku.
"Apakah kau lupa makan lagi? Apakah kau baik-baik saja?"
Aku memutar tubuh mendengar suara Minseok dan menemukannya berdiri di ambang pintu. Tangannya di pinggul dan wajahnya yang cantik terlihat cemberut.
"Aku baik-baik saja."
"Apakah kau akan segera menutup toko?"
Aku memeriksa jam, terkejut melihat sudah hampir jam satu, yang merupakan waktu menutup toko pada hari Minggu.
"Ya, dalam beberapa menit."
"Baik, kita akan keluar untuk mencari makanan pembuka dan wine." dia memberitahuku.
"Baekhyun memiliki kencan!" Jisoo berteriak gembira saat ia menerobos masuk ke dapur.
"Dengan seorang polisi yang panas!"
"Benarkah?" Minseok bertanya dan mentapku. "Kita pasti akan keluar untuk minum anggur."
"Aku berharap aku bisa pergi tapi aku baru saja mendapat telepon dari Mino." Jisoo tersenyum lebar sambil meraih tasnya dan melepas apronnya.
"Aku sudah menutup tokonya, bos, jadi kalian bisa langsung pergi."
"Cepat sekali," jawabku.
"Sudah sepi di luar sana, jadi aku menutup sementara polisi yang satunya –Hanbin- mengobrol denganku. Dia memesan selusin strawberry cupcakes untuk hari Sabtu. Hari ulang tahun putrinya."
"Manisnya," aku menanggapi saat aku menutup dapur untuk malam ini.
Jisoo melangkah pergi dan meninggalkan Minseok dan aku. "Ceritakan," perintahnya.
"Aku butuh anggur lebih dulu." Aku menghela napas saat mengambil dompetku.
Aku mengunci pintu di belakang kami dan berjalan melewati blok untuk minum anggur.
"Seperti biasa?" pelayan kami, Jeno, bertanya setelah ia mengarahkan kami ke kursi.
"Ya, silakan," Minseok merespon dan kemudian cekikikan setelah mahasiswa tampan itu mengambil pesanan kami. "Aku pikir kita datang ke sini terlalu sering."
"Tidak juga," aku tidak setuju. "Kita harus melatih orang lain jika kita pergi ke tempat yang berbeda. Selain itu, mereka memiliki happy hour sepanjang hari pada hari Minggu dan itu sulit untuk ditemukan juga."
"Point yang bagus." Dia mengangguk.
"Satu gelas pinot noir dan satu gelas merlot dan satu keranjang roti segar." Jeno mengedipkan mata padaku kemudian menggosok tangannya bersama. "Apa yang kalian ingin makan?"
"Kami akan memesan spinach dip dengan chip dan cumi," Minseok merespon.
"Oh, keju dan cracker, juga, please," aku menambahkan dengan antusias. Aku kelaparan dan itu bukan hal yang baik.
"Kau benar, Ladies."
Kami berdua memperhatikan otot dada Jeno, si pemuda tampan, saat ia berjalan pergi kemudian mendesah sambil meneguk wine kami.
"Jadi, siapa polisi yang akan keluar bersamamu dan kenapa baru sekarang aku mendengar hal itu?" Minseok bertanya.
Aku merasa pipiku memanas saat aku memutar-mutar minum dalam gelasku. Minseok adalah satu-satunya orang yang aku beritahu tentang malamku dengan pria tampan itu. "Aku berlari dari Chanyeol kemarin di pernikahan yang mana aku buatkan kue."
"Chanyeol, orang yang mengikatmu dan mengguncang duniamu. Chanyeol yang itu?"
"Orang yang sama," aku membalas dengan anggukan. "Dunia ini sempit."
Aku mendengus. "Benar."
"Dia kelihatannya baik."
"Dia seorang yang kinky," Aku menjawab tanpa berpikir tapi kemudian menggigit bibir dan menggeleng.
"Dia melakukan hubungan seks bondage, lalu apa?"
"Apakah kau mengenalnya?" Tanyaku, berharap dia mengatakan "ya" jadi aku bisa menggali informasi darinya.
"Tidak juga. Aku pernah melihat di club sebelumnya, tapi aku belum pernah berbicara dengannya." Minseok memiringkan kepalanya, menyesap anggur dan menatapku lekat.
"Apa keputusanmu?"
"Aku bukan submisif, Minseok."
"Oke."
"Percayalah ketika aku mengatakan dia cukup dominan di kamar tidur."
"Oke."
Aku menggeram dan memberikan tatapan tajam pada sahabatku. "Berhentilah mengatakan oke."
"Dengar, kau terlalu berlebihan memikirkannya, Baekhyun." Dia sedikit menggeliat di depanku, mencari kenyamanan. "Kalian berdua memiliki waktu yang baik bersama. Apakah dia membuatmu takut?"
"Tidak."
"Apakah dia menyakitimu?" Dia menatapku hati-hati, membaca tubuhku serta kata-kataku.
"Tidak," jawabku segera.
"Lalu apa yang membuatmu ragu untuk bertemu dengan dia lagi?" Dia bertanya dan terlihat bingung.
"Well, pada awalnya aku pikir dia sudah menikah dan memiliki anak," aku mengingatkan dia dan mendelik saat dia tertawa. "Tapi aku baru tahu kemarin bahwa yang menelepon adalah keluarganya yang berada dalam keadaan darurat. Dan dia masih sendiri."
"Terlalu banyak drama?" Ia bertanya dengan tertawa. "Aku sudah bilang padamu mungkin saja yang kau pikirkan salah."
"Lihat, dia hidup dengan gaya hidup yang tidak aku mengerti dan aku tidak bisa kehilangan kendali atas hidupku, Minseok. Kau mengetahui itu lebih baik dari siapa pun."
"Siapa bilang dia ingin mengontrol hidupmu?" Minseok bertanya, ekspresinya jelas bingung.
"Please, dia seorang dominan, kan?"
Dia langsung tenang, mengerutkan kening dan gelisah dengan gelas ditangannya selama beberapa saat kemudian menatap mataku. Dia tampak... terluka.
"Aku tidak pernah membayangkanmu sebagai seorang yang angkuh, Baekhyun."
"Apa?!"
"Setiap orang berbeda, tidak peduli keadaan mereka. Kau seorang baker, tapi aku yakin baker lain tidak membuat cupcakes dengan cara yang sama seperti yang kau lakukan. Chanyeol menyukai bondage dan, ya, dia dominan di kamar tidur, tetapi kau bahkan tidak memberinya kesempatan untuk berbicara denganmu. Dia mungkin tidak mencari submisif penuh waktu. Mungkin dia hanya ingin mengikatmu dan memerintah di dalam kamar tidur. Dia jelas menginginkanmu."
Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku masih terjebak pada kata "angkuh."
"Dia tidak menyakitimu dan ia memiliki alasan yang tepat untuk meninggalkanmu malam itu. Beri dia satu kesempatan. Lihat di mana itu akan mengalir. Mungkin nanti kau tidak akan menyukainya tapi kau tidak akan tahu sampai kau mencobanya."
"Bagaimana kau bisa menjadi bagian dari komunitas ini dan tidak merasak takut sedikitpun?" Aku bertanya dengan jujur.
"Aku mengenalmu. Kau bukan orang yang aneh atau suka mendera."
"Um, terima kasih. Aku pikir." Dia mengerutkan hidungnya kemudian cekikikan. "Banyak orang yang menikmati seks kinky tidak melakukan pekerjaan mendera. Kami hanya sedikit berbeda. Aku belum yakin di mana aku berdiri sekarang. Aku bukan submifis. Belum ada satu pemujaan tertentu yang aku nikmati lebih dari yang lain. Kurasa aku masih mencari tahu."
"Sejak kapan kau begitu pintar?" Aku bertanya.
"Aku hanya tidak ingin kau membuang sesuatu yang bisa menjadi baik hanya karena kau memiliki praduga tentang gaya hidup yang tidak tahu ketahui. Ini bukan khayalan, Baekhyun. Dia hanya seorang pria. Jika ternyata kau tidak menyukai hal ini, kau bisa mengakhiri dan meninggalkannya."
"Aku menyukainya," aku mengakui lembut. "Dan mungkin itulah yang membuatku takut."
"Apakah dia memeriksamu?" "Apa maksudmu?"
"Ketika dia bersamamu, sementara kau terikat dan apapun yang dia lakukan padamu. Apakah dia memeriksamu untuk memastikan kau baik-baik saja?"
Aku berpikir kembali ke malam itu saat berada di apartemenku, saat dia bertanya apakah dia menyakitiku.
"Iya."
Dia mengangguk dan tersenyum padaku. "Aku senang untukmu."
"Ini hanya sekedar makan malam," aku mengingatkannya.
"Tapi kau akan memberinya kesempatan, kan?",
Aku mengosongkan gelas wine dan memperhatikan sahabatku sejenak. Kemudian kegembiraan menyebar dari perutku, lengan dan ke tenggorokan.
Dan itu tidak ada hubungannya dengan wine. "Ya, pasti."
"Gadis pintar!"
Mengapa aku setuju keluar untuk makan malam dengan dia? Apakah teman pergi keluar untuk makan malam? Well, pacar melakukannya, dan aku kira aku sudah keluar untuk makan malam dengan Changmin sekali atau dua kali ketika aku pulang berkunjung ke rumah.
Meskipun dia mantan pacarku, dia hanya seorang teman sekarang. Dan aku terlalu memikirkan semua ini.
Aku menggunakan capris hitam dan atasan putih dengan bahu terbuka, memamerkan tato di bahu kananku.
Bel pintu berbunyi tepat saat aku selesai menata rambut hitam pendekku. Aku meluncurkan kakiku ke dalam sandal hitam, mengambil tas dan membuka pintu dan menemukan pria paling tampan yang pernah aku lihat. Dia menggunakan jean pudar dan T- shirt biru yang melekat pada tubuhnya, memamerkan otot perutnya, membuatku ingin menariknya ke dalam apartemen ini dan mengatakan padanya untuk melupakan makan malam.
"Hei." Dia tersenyum lebar.
"Hai juga." Dia melangkah mundur, memberiku jarak untuk menutup dan mengunci pintu.
"Kau tampak hebat." Dia memberi aba-aba padaku untuk memimpinnya menuruni tangga menuju trotoar di bawah.
"Begitu juga dirimu," jawabku kemudian tertawa. "Serius, itu harusnya ilegal untuk terlihat seperti ini hanya dengan memakai T- shirt."
Dia tertawa. "Aku harus mencari undang-undang yang mengaturnya."
"Lakukanlah," jawabku. "Jadi, ke mana kita akan pergi?"
"Ada tempat yang bagus di Seattle Center. Tidak jauh dan terlihat indah malam ini. Ayo jalan."
"Kedengarannya bagus." Aku melangkah di sampingnya saat kami melewati beberapa blok menuju Seattle Center, di mana Experience Music Project, Space Needle dan Key Arena berada. Tempat itu selalu ramai, ada banyak hal untuk dilihat.
"Bagaimana kau mendapatkan bangunan tempat tinggalmu?" Ia bertanya saat kami menunggu lampu lalu lintas berubah.
"Butuh waktu berbulan-bulan," aku mengatakan kepadanya. "Aku pikir makelarku sudah siap untuk mendengar teriakanku saat kami menemukan tempat itu. Aku memilihnya." Aku mengangkat bahu kemudian menggigil ketika dia meletakkan tangannya di punggungku, membawaku melintasi persimpangan yang ramai. "Ketika aku melihatnya, aku tahu bahwa aku menginginkan tempat itu."
"Itu lokasi yang sangat bagus."
"Itu benar. Plus, Choi Minho yang selalu datang. Itu salah satu pemandangan manis yang tidak akan pernah membosankan."
Chanyeol tertawa di sebelahu dan melangkah ke samping saat kami melewati sebatang pohon sehingga kami terpisah.
"Bread and butter," gumamku. (Roti dan mentega)
"Apa?" Dia bertanya dengan senyum.
"Saat kau bersama seseorang, dan kalian berdua berjalan di sisi yang berlawanan dari sesuatu, kalian seharusnya mengatakan 'bread and butter' supaya kalian tidak mendapat nasib buruk."
Aku tertawa dan melirik ke arahnya. "Setidaknya, itulah yang nenekku katakan. Tapi dia sangat percaya takhayul."
"Aku harus mengingatnya," jawabnya sambil tersenyum. "Jadi, kembali ke Minho, apakah kau bertemu dengannya di pesta pernikahan?"
"Tidak" Aku menggeleng. "Aku melihatnya di sana. Aku biasanya tidak berbicara dengan para tamu. Sebenarnya, aku tidak banyak membuat kue untuk acara pernikahan."
"Kenapa?"
"Karena para pengantin biasanya sangat stres dan kebanyakan dari mereka ingin semuanya tepat seperti keinginan mereka."
Chanyeol membawaku melewati EMP dan berhenti untuk menonton pesulap beberapa saat.
"Aku lebih suka berada di tokoku."
"Apakah musisi lain juga datang?"
"Iya. Aku sudah kedatangan Adam Levine. Aku pikir Jisoo akan mengencingi dirinya sendiri." Aku tertawa pada memori itu.
"Bruno Mars, Eddie Vedder, Blake Shelton... mereka semua sudah pernah datang."
"Itu keren. Tapi Minho adalah favoritmu? "
"Dia baik. Pacarnya juga selalu sangat baik. Taemin, kan?"
Dia mengangguk, memperhatikanku dan tiba-tiba aku merasa malu. "Maafkan aku. Mereka keluargamu dan aku berceloteh tentang mereka seperti seorang fan-girl."
"Tidak apa-apa. Mereka orang-orang yang normal. Kau menyukai mereka."
"Apakah kau membawaku ke Greek place?" aku bertanya dengan antusias.
"Tidak apa-apa? Mereka memiliki makanan yang menakjubkan."
"Aku tahu! Ini adalah favoritku." Aku tersenyum lebar padanya saat ia memegang pintu terbuka untukku. Kami duduk dengan cepat di samping jendela dengan pemandangan Space Needle.
"Ceritakan tentang tatomu." Dia melihatku dari atas buku menu, mata birunya tenang.
"Rebellious stage."
"Bisakah aku membawakan kalian minuman?" Pelayan bertanya di samping meja.
"Aku ingin Diet Coke, please."
"Air untukku," jawabnya. "Ceritakan lebih banyak."
"Beberapa tahun lalu aku membawa kabur uang orang tuaku. Aku mendapatkan ini." Aku menunjuk bunga-bunga yang cerah di bahu kananku "pada ulang tahun kedua puluhku."
"Cantik."
"Terima kasih. Aku senang aku tidak cukup bodoh untuk membuat sesuatu seperti Tweety Bird atau lainnya."
"Apakah bunga sakura berarti sesuatu untukmu?"
"Aku berpikir bunga itu cantik. Dan, percaya padaku, itu adalah waktu dalam hidupku ketika aku tidak berpikir banyak tentang kecantikan."
Dia memiringkan kepalanya ke samping dan menyempitkan mata birunya padaku, tapi aku melihat ke bawah buku menu untuk menghindari tatapannya.
Mengapa aku menceritakannya?
Daripada mendorongku bercerita lebih banyak, dia mengalihkan perhatiannya ke buku menu dan pelayan kembali dengan minuman yang kami pesan.
Senja baru saja akan turun dan lampu-lampu di Space Needle mulai bersinar.
"Aku suka Space Needle di malam hari," gumamku. "Pemandangan dari atas sangat menakjubkan," dia setuju. "Aku belum pernah ke atas."
Tatapannya beralih padaku. "Tidak pernah?"
"Tidak." Aku menggeleng dan menyesap minumanku. "Aku tinggal di sini baru sekitar lima tahun."
"Dari mana asalmu?"
"Sebuah kota kecil di Wyoming."
"Apakah keluargamu berada di sana?"
"Ya." Aku mengangguk pelan dan mengusap jariku pada titik air di luar gelas. "Orang tua dan saudara perempuanku semuanya ada di sana. Aku punya banyak keluarga juga."
"Lalu kenapa kau ada di sini?"
"Karena aku menyukai kota. Aku datang ke sini untuk sekolah kuliner dan tidak pernah kembali lagi."
"Apakah kau sering berkunjung?"
"Tentu, sekitar sekali setahun. Ibuku menghabiskan seluruh minggu selama aku di sana untuk memohon padaku untuk kembali ke sana yang mana memberiku rasa bersalah sudah pergi begitu jauh."
"Jadi dia melakukan hal yang selalu dilakukan oleh seorang ibu," dia menjawab dengan mengedipkan mata.
"Sepanjang waktu." Aku mengangguk. "Aku mencintai mereka tapi hanya ada sekitar dua ratus orang di kota itu. Apa yang akan aku lakukan di sana sepanjang hidupku? Aku suka disini. Ini rumahku. Aku masih dapat mengunjungi mereka."
Matanya menjadi hangat saat ia melihatku. "Aku senang kau datang ke sini."
Suaranya lembut dan pelan dan seperti kekasih yang hangat. Dia seorang pria yang baik. Dia tidak memaksa atau menuntut.
Apakah ini benar-benar pria dominan yang aku kenal beberapa minggu yang lalu?
Makanan kami diantarkan dan kami melanjutkan obrolan ringan sepanjang makan dan ketika kami selesai dan melangkah keluar ke malam Seattle yang hangat, aku mengambil napas dalam-dalam dan menggosok perutku.
"Astaga, aku sangat kenyang."
"Kau makan seperti juara," jawabnya dengan senyum lebar.
"Aku tahu." Aku mengernyitkan hidung. "Aku akan membutuhkan latihan ekstra di atas treadmill besok."
"Mari kita cari makanan penutup sekarang." Ia menuntunku menuju pusat kota. Seluruh sudut kota terang dan orang-orang berseliweran. Anak-anak melompat-lompat, berteriak, menangis. Stand permen kapas, stand es krim dan permen kacang ada di sekitar sini.
"Bagaimana dengan es krim?" Ia bertanya.
"Kita seharusnya menghentikan kalori, bukan menambahnya," aku mengingatkan dia sambil tertawa. "Bagaimana dengan es teh?" aku menyarankan dan menunjuk ke sebuah kedai yang dekat.
"Ide bagus."
"Petugas Park!" Seorang wanita setengah baya berseru dari balik mesin espresso-nya. "Aku tidak melihatmu dalam waktu yang lama. Kau tidak pernah mengunjungiku lagi."
"Sekarang aku detektif, Mrs. Rhodes." Dia tersenyum lebar dan mengedipkan mata pada wanita yang lebih tua itu. Dia cukup tua untuk menjadi ibunya.
Dan wanita itu terlihat benar-benar kepincut padanya.
"Siapa teman wanitamu ini?" Dia bertanya dengan senyum lembut. "Ini adalah Baekhyun." Chanyeol meletakkan tangannya di punggungku, memperkenalkan aku kepada wanita baik ini. "Baekhyun, ini Mrs. Rhodes. Dia membuat kopi terbaik di sini."
"Tentu saja aku melakukannya," jawabnya. "Tapi kau tidak pernah datang untuk membeli apapun."
"Well, kau bilang kau akan meninggalkan Mr. Rhodes dan kabur denganku. Tapi kau tidak pernah melakukannya. Kau menghancurkan hatiku."
"Oh, sekarang hentikan itu, anak muda!" Dia menggerakkan jarinya pada Chanyeol, tapi matanya bersinar dengan humor. "Kau akan membuat orang-orang bergosip."
Aku tidak bisa tidak tertawa pada candaan mereka. Chanyeol menarik dan kemungkinan besar mengenal Mrs. Rhodes selama bertahun-tahun.
"Apa yang bisa aku buatkan untukmu, sayang?" Dia bertanya padaku dengan ramah.
"Cukup es teh."
"Kau mau yang manis?"
"Tidak, terima kasih," jawabku.
"Dan untukmu, sang pengacau?" Dia menanyai Chanyeol yang tertawa gembira.
"Aku mau yang sama."
Dia menuangkan minuman kami dan ketika dia mencoba untuk menyodorkannya di atas meja, Chanyeol melangkah ke belakang dan mengambil minuman itu darinya lalu mencondongkan tubuhnya dan mencium pipinya.
"Jika kau membutuhkan sesuatu, kau memiliki nomorku."
"Kau anak yang baik, detektif."
Dia tersenyum lembut dan meletakkan minuman di tanganku, melambai pada Mrs. Rhodes dan kami kembali berjalan, berkeliaran di sekitar Seattle Center.
"Dia jatuh cinta padamu," aku memberitahunya.
"Cemburu?" Dia bertanya padaku dengan senyum miring.
"Tidak" Aku tertawa. "Aku menyukainya."
"Dia membuat kopi di tempat yang sama selama bertahun-tahun. Ini berguna saat aku berpatroli ketika aku masih seorang polisi patroli."
"Oh keren. Apakah kau merindukannya?"
"Hanya Mrs. Rhodes." Dia tertawa. "Dia dan suaminya adalah orang- orang yang baik."
Aku mengangguk, tidak tahu harus berkata apa. Aku belajar bahwa Chanyeol Park tidak hanya seks yang hebat, tapi dia jelas... baik. Aku berada dalam masalah.
"Kemana kita akan pergi?"
Kami berhenti di dasar Space Needle dan membuang cangkir kosong kami ke tempat sampah.
"Menaiki Needle," jawabnya dengan alis terangkat. "Kau tidak pernah melihatnya."
Mulutku menganga beberapa saat kemudian aku bertepuk tangan melompat di atas kakiku. "Hebat!"
"Ayo."
Dia membeli tiket dan membawaku ke dalam lift.
"Apakah aku sudah mengingatkanmu kalau aku takut ketinggian?" Tanyaku saat kami naik lebih tinggi dan lebih tinggi.
Chanyeol tertawa dan kemudian membungkus lengannya di bahuku, memelukku di sisinya. "Jangan khawatir, aku akan melindungimu."
Pintu terbuka dan aku melupakan ketakutanku pada ketinggian. "Oh, indah sekali."
Aku berjalan ke pagar dan menatap kota yang sangat aku cintai. Sekarang sudah gelap dan ada lautan lampu menyala di bawah kami. Udara masih hangat. Ada semilir angin yang membuat ujung rambutku menggelitik pipiku.
"Ke sini." Chanyeol menggenggam tanganku dan membawaku ke sisi yang berlawanan. Kami bisa melihat feri dan kapal yang mengapung di atas air.
"Cantik," bisikku. "Ya," bisiknya.
Aku melirik dan menemukannya yang sedang menatapku. "Kau seorang pemikat," aku memberitahunya sambil tertawa.
"Satu hal yang akan kau pelajari tentangku, little one, bahwa aku jarang mengatakan sesuatu yang tidak berarti."
Kami berdiri berdampingan, tidak menyentuh, menatap kota di sekitar kami. Sangat tenang di sini.
Damai.
Tiba-tiba, Chanyeol meraih dan menggenggam tanganku, menghubungkan jari-jari kami. Dia tidak menatapku, hanya memegang tanganku saat kami memperhatikan kota kami.
Aku mengambil napas dalam-dalam dan membiarkannya keluar perlahan.
Oke, mungkin Minseok benar. Aku harus memberikan satu kesempatan.
* Frost/Frosting = Hiasan atau menghiasi cupcakes, biasanya dengan krim atau mentega.
a/n
Abis ini mungkin bakal susah nyari waktu buat nge-post huhu
