Aye-aye, Minna-camaaa~

maap Zena baru bisa nongol dan apdet setelah sebulan lebih dari waktu yang dijanjikan. *dilemparkelaut**baliklagi* ano, tadinya mau apdet kilat. Bener deh! Tapi, ga ada angin, ga ada duit *?* tiba-tiba aja saya kena diare selama seminggu minna-cama. Kasiyan kan saya.. ,"

Tpi gara2 molor seminggu, saya jadi kehilangan mood buat ngetik. hiks. Dan hal itu berlanjut sampai sekarang sebenernya.. tpi saya ga tenang Karena terus dibayang-bayangi sama ni fic dan muka nagih apdetan fic dari kalian semua *emang ada?*. Akhirnya, dengan mengumpulkan segala puing-puing mood ngetik saya yang masih tersisa, jadilah apdet juga fic ini. Alhamdulillah ya.. hehe

Oh ya, meskipun udah telat, ijinin Zena ngucapin Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H.. Minal 'Aidin Wal Faizin, mohon maap lahir dan bathin kalo selama ini saya banyak ngelakuin kesalahan baik yang saya sadari ataupun enggak.. termasuk soal keterlambatan apdet fic.. *sembunyi di balik udang, eh?*

Oh ya, makasih banyak buat :

Namikaze Nada :: Hyou Hyouichiffer :: Mamoka :: Lily Purple Lily :: Rosecchi :: Neerval-Li :: gui gui M.I.T :: Yuri-ah :: :: Uchiha Tava The Best Master :: Reina Murayama :: n

buat reviewer yg log-in, silakan dibuka inbox PM-nya, dan yg non log-in, ini dia balesannya..

Mamoka :: iya, chap kmaren emang sengaja dominan NS dulu, tpi chap ini (dan mgkin chap depan jga) dominan SH-nya.. sipp, makasih dah RnR, mampir lagi ya~

Yuri-ah :: soal naru jatuh cinta pd pandangan pertama, tanya aja sama si naru-nya, saya ga ikutan.. #pletakk# oke2, soal itu liat aja nanti jawabannya.. hehe.. iya, Sasu emang dah naksir duluan ma Hina.. yosh, makasih dah RnR, mampir lagi ya~

n :: hai, makasiiiihh dah mau RnR di tiap chapnya.. #peluk2n# oke, maap kalo ternyata kamu kegnggu dgn kberadaan Shion, tpi dia dah ga nongol lagi kok. udah saya usir.. hoho.. #dikutuk# yosh, ni dah apdet.. maap lamaa.. hehe.. mampir lagi, ya~

Yasudah, saya nggak mau banyak cincong lagi, entar malah dilempar ke laut lagi, langsung aja deh ya..

Here we go!

.

.

v

No Yuri!

.

Disclaimer :: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Pairings :: SakuHina! #plak! Katanya No Yuri? Iye-iye, XD maksudnya NaruSaku dan SasuHina

Rated :: T

Genre :: Romance

Warnings :: AU, OoC, typo/misstypo (s), gaje, abal, garing, EYD ancur, cerita pasaran, slight humor dikiiiit, dan sederet kekurangan lainnya.

Summary :: Sama seperti judulnya, ini bukanlah cerita percintaan 'antara' Haruno Sakura dan Hyuuga Hinata. Tetapi, ini adalah cerita percintaan 'tentang' Haruno Sakura dan Hyuuga Hinata. Bersahabat sejak duduk di bangku sekolah dasar dan menjomblo sampai saat ini membuat keduanya digosipkan sedang menjalin hubungan 'gelap'. What the—?!

.

.

.

.

:: Four ::

Malam itu, di kediaman Uchiha, lebih tepatnya di ruang keluarga, Itachi yang sedang asyik menonton pertandingan olahraga kesukaannya langsung menoleh ketika telinganya mendengar suara langkah kaki beberapa orang. Pria yang memiliki rambut hitam panjang itu kemudian mendapati adik satu-satunya, Sasuke dan Sepupu mereka, Sai yang baru pulang entah darimana.

"Kalian dari mana saja?"

Sasuke dan Sai berhenti sebentar kemudian menoleh kearah Itachi. Itachi mengernyit karena mendapatkan tatapan yang berbeda dari Sasuke dan Sai.

Tidak ada suara apapun yang keluar dari mulut Sasuke, akhirnya membuat Sai memutuskan untuk menjawabnya. "Kami dari—"

"Ehm," namun, suara deheman dari Sasuke membuat Sai menghentikan kata-katanya.

Pemuda yang memiliki kulit pucat seperti mayat hidup itu menoleh kearah Sasuke yang ternyata sedang mengalihkan wajahnya kearah lain. Sai langsung memasang senyum andalannya. Ia jelas tau alasan Sasuke tidak mau kalau acara 'mengikuti-kemanapun-Hinata-pergi' tadi ketahuan oleh sang kakak. Bisa habis harga diri pemuda jaim itu sebagai seorang Uchiha. Yah, meskipun ia dan Itachi juga seorang Uchiha. Tetap saja, kalau Itachi mengetahui hal tersebut, itu pasti akan sangat menyebalkan karena Itachi —dan ia sendiri- akan menjadikannya sebagai bahan olokan selama berminggu-minggu. Jarang-jarang 'kan mereka bisa menjadikan Sasuke sebagai Trending Topic di kediaman Uchiha.

Merasa suasana hening, Sasuke menoleh. "Apa?" Tanyanya saat dilihatnya Itachi, bahkan Sai juga ikut-ikutan memandangnya dengan tatapan yang menurutnya menyebalkan.

"Kau, Baka-Otouto."

"Heh, terserah." Sasuke mendengus dengan wajah merona. Tidak mau ketahuan kalau wajahnya sedang memerah, akhirnya pemuda itupun langsung pergi dari sana menuju ke kamarnya sendiri.

Itachi mengernyit bingung melihat tingkah adiknya yang menurutnya ajaib itu. Sejak kecil, Sasuke memang sering bertingkah aneh. Onyx Itachi tiba-tiba beralih kearah Sai yang tersenyum geli sambil menatap kearah kamar Sasuke. Itachi tahu, pasti ada sesuatu yang tidak ia ketahui dan sebentar lagi, ia akan tahu apa alasan dibalik tingkah 'ajaib' Sasuke.

.

.

.

.

"Sakura-chan?"

Sakura menoleh kaget ketika dirasakannya tepukan pelan dibahunya yang disertai dengan suara merdu dan lembut khas Hinata. Dan memang benar, yang tadi memanggilnya adalah gadis keturunan Hyuuga itu.

Hinata menaruh beberapa buku sejarah yang baru saja diambilnya dari rak buku di perpustakaan di atas meja sebelum akhirnya menarik kursi di sebelah Sakura dan duduk di sana. Wajah cantiknya terlihat bingung sekaligus khawatir karena melihat Sakura yang tadi terlihat melamun. "Kau kenapa?"

Sakura tersenyum kikuk. "T-tidak apa-apa. A-aku hanya…" Sakura memberi jeda sejenak seraya berpikir keras untuk mencari alasan yang tepat. Ia tidak mau kepergok sedang melamun. Apalagi melamun karena kejadian kemarin. "Ah, ya, aku hanya memikirkan tentang pertandinganku nanti. Ya, itu.. haha.."

Hinata hanya ber-ohh ria mendengarnya. Ia tidak terlalu mau mencampuri urusan pribadi orang lain. Kecuali kalau Sakura dengan senang hati mau menceritakannya sendiri.

"Benar juga, Sakura-chan sebentar lagi akan bertanding. Lalu, dua minggu lagi sudah akan ujian kenaikan kelas. A-apa Sakura-chan mau kubantu belajar?"

Sakura terdiam sesaat. Bukan karena melamun lagi, tapi karena gadis berambut pink itu baru menyadari kalau dua minggu lagi akan diadakan ujian kenaikan kelas. Astaga.

"Sakura-chan?"

"Ah, tidak usah repot-repot, Hinata. Aku sudah siap-siap kok. Kau tenang saja."

"Hmm, baiklah.."

"Lho, Sakura-chan, Hinata-chan."

Kedua gadis itu menoleh ke sumber suara. Satu keputusan yang salah bagi Sakura karena ternyata orang yang tadi memanggil mereka adalah Naruto.

"A-ah, N-naruto-kun,"

"Hai," Naruto memasang senyum lebarnya. "Kalian sedang apa?"

"K-Kami—" kata-kata Hinata terhenti karena dipotong oleh Sakura.

"Memangnya sedang apalagi kalau bukan belajar."

Naruto dan Hinata menoleh kearah Sakura yang masih —pura-pura—sibuk membaca buku yang sedari tadi ada di hadapannya. Naruto mengernyit sedangkan Hinata hanya tersenyum.

"N-naruto-kun sendiri.. s-sedang apa disini?"

"Aku?" Tanya pemuda itu balik, seolah bingung sendiri kenapa ia bisa ada di sini. "Ah, aku dan Sasuke diminta oleh Kakashi-sensei untuk membawakan buku dari kantor guru ke perpustakaan." Katanya seraya menoleh kebelakang—kearah dimana Sasuke yang sedang berdiri di depan meja pengawas perpustakaan.

Tiba-tiba saja mendengar nama Sasuke, di pikiran gadis berambut indigo itu langsung terbayang wajah Sasuke. Ah, wajah gadis itu pun merona dan tingkahnya berubah menjadi gelisah. "O-oh.." lantas hanya itu yang keuar dari bibir mungilnya.

Entah Naruto memang tidak peka dengan Hinata atau apa, tapi pemuda itu tidak menyadari sama sekali perubahan di wajah Hinata. Berbeda dengan Sasuke yang sebenarnya sudah menyadari perubahan tingkah Hinata meskipun hanya dari suara lembut gadis itu.

.

.

.

.

"Hinata, maaf, hari ini sepertinya aku tidak bisa pulang bersamamu." Kata Ino seraya mengatupkan kedua tangannya sambil memasang wajah memelas. "Ada keperluan mendadak,"

"Tumben sekali…" Sakura memasang wajah curiga.

Ino tersenyum kecut. "Yah, ada tempat yang harus kukunjungi nanti. Dan tempat itu jauh, aku tidak mau membuat Hinata yang baik hati ini menunggu." Safir biru itu kembali menatap Hinata. "Tidak apa 'kan, Hinata?"

Hinata mengangguk sambil tersenyum. "I-iya, Ino-chan. Aku bisa pulang sendiri kok. Jangan khawatir."

"Ah.. kau memang gadis yang baik Hinata!" ujar Ino seraya memeluk Hinata erat. " Aku akan selalu mendoakanmu supaya cepat dapat pacar. Aku janji. Jaa, ne!" lanjutnya seraya tersenyum bahagia. Tanpa menyadari wajah Hinata yang memerah karena mendengar isi doa yang akan Ino panjatkan untuknya.

Sakura menghela napas. ia sudah biasa melihat tingkah genit Ino. Gadis berambut pirang itu memang sudah genit sejak masuk sekolah dasar. Tidak seperti dirinya yang bisa dibilang cuek. Gadis berambut pink itu menoleh kearah Hinata yang ternyata masih sibuk memasukkan buku-bukunya ke dalam tasnya.

"Hinata, kau pulang sendiri, tidak apa 'kan?"

Gadis itu mengangguk seraya tersenyum manis. "Sakura-chan tenang saja, tidak perlu mengkhawatirkanku."

Sakura mengangguk. hari ini ia tidak bisa menemani Hinata pulang karena harus bertemu Gai-sensei untuk mendiskusikan pertandingan yang akan ia ikuti beberapa hari lagi. bukan tanpa alasan, Sakura khawatir kalau Hinata pulang sendirian, dulu, sekitar satu setengah tahun yang lalu saat ia membiarkan gadis itu pulang sendirian, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Hinata kesasar. Yah, maklum, waktu itu Hinata memang baru pindah rumah dan baru tiga hari menempati rumahnya yang baru. ponsel gadis itupun mati. Untung saja, saat itu ada Kiba yang tidak sengaja lewat di sana dan bertemu Hinata kemudian mengantarkan gadis itu pulang.

"Baiklah, aku duluan ya, Hinata. Jaa!"

Hinata mengangguk seraya tersenyum lembut. " Jaa, Sakura-chan." Lavendernya terus menatap Sakura sampai gadis berambut pink itu keluar dari kelas mereka. Tidak mau berlama-lama disana sendiri, akhirnya putri sulung Hiashi itu pun beranjak dari tempat duduknya dan bersiap untuk meninggalkan kelas.

.

.

.

.

Suasana di koridor utama sekolah saat Hinata pulang sudah lumayan sepi mengingat bel pulang sudah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu. Paling hanya ada beberapa orang yang ada di sekolah karena harus mengikuti kegiatan klub.

Hinata sedikit merutuki dirinya sendiri karena bisa-bisanya lupa untuk mengambil baju olahraganya yang masih ada di lokernya. Padahal tadi ia sudah hampir sampai di depan gerbnag sekolah dank arena itu, mau tidak mau karena takut semakin lupa, akhirnya Hinata kembali masuk dan berjalan menuju lokernya.

Cring.

Hinata berhenti melangkah ketika dirasakannya sepatunya menyentuh sesuatu. Gadis itupun berjongkok dan melihat sebuah kalung di dekat sepatunya. Tangannya kemudian terulur untuk mengambil kalung yang ternyata bermatakan sebuah cincin itu.

Eh, cincin?

Tiba-tiba saja, pikiran Hinata teringat dengan cincin pemberian Sasuke yang memang sangat mirip dengan cincin yang saat ini ada di genggamannya. Hinata jadi mengingat-ingat dimana ia meletakkan cincin itu. kalau tidak salah, cincinnya ada di atas meja belajarnya malam tadi. ia lupa menyimpannya ke dalam laci. Semoga saja tidak apa. Yah, semoga. Masalahnya, adiknya, Hanabi sering masuk-keluar kamarnya. Kalau sampai cincin itu tidak ada, ia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi padanya. Dan juga, Sasuke pasti akan marah padanya.

Tidak.

"Hei, itu milikku."

Suara maskulin khas laki-laki itu menyadarkan pikiran Hinata yang sepertinya lagi-lagi melayang kemana-mana. Gadis itu mendadak gugup karena kepergok melamun dan berjongkok. Dan lagi, kalung yang ia pegang ini adalah milik orang itu.

Hinata bangkit dari posisi jongkoknya kemudian berbalik menghadap orang itu dan langsung menundukkan kepalanya. "G-gomenasai.." ia malu dan gugup. Sungguh. "G-gomen, A-aku.. a-aku ti-tidak sengaja m-menemukannya—"

"Hinata,"

Bagai tersedak sesuatu, Hinata tiba-tiba saja tidak bisa melanjutkan kata-katanya setelah mendengar orang itu yang menyebut namanya. Suara itu yang akhir-akhir ini sering terngiang di pikirannya.

"Hinata," lagi, Sasuke menyebut namanya.

Hinata melirik Sekilas Sasuke yang saat ini berdiri di hadapannya, namun wajahnya tiba-tiba saja terasa panas saat ia melihat Sasuke menatapnya—meskipun hanya dengan pandangan datar. Ia alihkan wajahnya untuk memandang kearah lain—kemanapun itu, asala jangan kearah Sasuke. ia malu, sungguh.

"G-gomenasai, S-sa-sasuke-kun.. a-aku.. ah, i-ini milikmu.." dengan tangan gemetar, gadis berambut indigo itu menyerahkan kalung yang bermatakan cincin tersebut pada Sasuke.

"Hn, terimakasih." Kata pemuda itu seraya menerima kalung dari Hinata dan memasukkannya ke dalam saku celananya.

"S-sama-sama, S-sasuke-kun.."

Keadaan hening. Tidak ada lagi yang berbicara di antara sepasang muda-mudi itu. di sekitar mereka pun sudah tidak ada lagi murid yang berlalu-lalang. Tampaknya sekolah juga sudah mulai kosong.

Hinata bingung. Ia harus segera ke lokernya untuk mengambil baju olahraganya kemudian pulang ke rumah. tapi, bagaimana caranya ia bilang pada Sasuke?

Keadaan masih sama. Diantara mereka berdua masih belum ada satupun yang berbicara. Terkadang, Hinata ingin sekali tahu apa yang ada di pikiran Sasuke pada saat mereka diam seperti ini. apa.. Sasuke sedang menjelek-jelekkannya di dalam pikirannya?

Eh, eh.. hentikan, Hinata.

Hinata menghela napas diam-diam. Lebih baik ia bicara sekarang. "A-ano.."

"Hinata,"

"Eh, y-ya?"

"Kau bawa cincinmu?"

"E-eh?" Hinata cukup terkejut dengan pertanyaan Sasuke. ya, tiba-tiba saja, pemuda itu menanyakan tentang cincinnya. "A-aku.. a-aku me-menyimpannya di ru-rumah." pikiran gadis itu kembali teringat dengan kalung yang bermatakan cincin yang mirip dengan cincinnya. Jangan-jangan itu cincin milik Sasuke? kenapa dijadikan kalung?

Hening lagi.

"A-ano, S-sasuke-kun.. "

"Hn?"

Tadinya Hinata ingin bilang 'A-aku pulang duluan ya' tapi yang keluar malah.. "K-kenapa S-sasuke-kun belum p-pulang?"

"Hn, tadi ada pertemuan klub sebentar."

"O-oh.."

Hening lagi.

Oh, astaga.. kalau begini caranya, bagaimana ia bisa pulang? Terkadang, Hinata bingung kenapa ia bisa menjadi orang yang pemalu dan penakutnya seperti ini?

"Hinata? Uchiha-san?"

Hinata dan Sasuke menoleh ketika mendengar suara seseorang yang memanggil mereka. Hinata diam-diam tersenyum lega ketika melihat orang yang tadi memanggilnya dan Sasuke adalah Sakura. Sakura seperti menjadi penyelamatnya kali ini.

"Lho, Hinata, aku pikir kau sudah pulang. Kenapa masih di sini?"

"A-ada yang harus ku ambil d-di lokerku, S-sakura-chan."

"Oh, Kebetulan. Aku juga mau mengambil buku catatanku yang tertinggal di sana." Ujar gadis berambut pink itu.

Hinata melirik Sasuke yang masih memasang wajah datarnya. "A-ano, S-sasuke-kun. A-aku—"

"Hn, pergilah." Potong pemuda itu cepat. "Aku juga harus segera pulang."

"B-baik," Hinata terdiam sejenak. Gadis itu terlihat ingin mengatakan sesuatu. "H-hati-hati, J-jaa ne." lanjutnya setelah itu menyusul Sakura yang sudah berjalan duluan mendahuluinya. Sayang, kalau saja Hinata menoleh sekali lagi ke belakang, maka dapat di pastikan gadis itu akan melihat perubahan mimic di wajah datar seorang Uchiha Sasuke yang kini sedikit dihiasi rona tipis di kedua pipinya.

.

.

.

.

Suasana gedung olahraga pada pagi hari tersebut sangat ramai karena hari ini—lebih tepatnya tiga puluh menit lagi-akan diadakan turnamen karate tingkat nasional yang akan diikuti oleh pelajar tingkat sekolah menengah atas. Termasuk salah satu diantaranya adalah Sakura.

Gadis manis yang mempunyai warna rambut mencolok itu terlihat sangat bersemangat. Seperti tidak ada rasa beban dan ketakutan sama sekali yang terlihat di wajahnya. wajah itu justru terus tersenyum bahagia. Mengikuti turnamen ini memang impian sudah menjadi impian Sakura dari dulu. Apalagi kalau ia sampai berhasil menjadi juaranya. Bukankah itu sangat hebat?

"Sakura-chan, semangat ya! Aku pasti disini mendukungmu!" kata Naruto dengan semangat yang membara-bara. "Oh ya, Sakura-chan sudah pakai kalungnya kan?"

Wajah Sakura tiba-tiba memerah dan ia menjadi salah tingkah sendiri ketika mengingat kejadian hari minggu kemarin. Pada saat Naruto memberinya kalung. Hah, itu benar-benar membuatnya…err, entahlah.

"Sakura-chan? Kau mendengarku kan?"

Sakura mendengus. Saat ini ia hanya berdua saja, ah tidak, bertiga dengan Naruto dan Sasuke. Hanya saja, sedari tadi si pemuda raven bermarga Uchiha itu hanya diam seperti patung. Ino tadi pergi keluar dulu untuk membeli minuman, sedangkan Hinata pergi ke toilet sebentar.

"Sakura—"

"Iya, iya." Sela Sakura cepat sebelum pemuda itu semakin banyak bertanya.

Naruto tersenyum lebar. "Baguslah. Kalau ada itu, aku yakin kau pasti akan menang, Sakura-chan. Anggap saja itu jimat keberuntungan dariku."

"Hm," Sakura menggumam tidak jelas—seperti perasaannya saat ini. aneh. "Yah, terimakasih." Ada sesuatu di dalam dirinya yang bergetar dan ia tidak tahu apa itu.

Naruto tersenyum lagi. Tapi, saat melihat wajah Sakura yang memerah, entah kenapa wajahnya jadi ikut memerah juga. Hei, hei, ada apa ini?

"Hei, jangan pacaran terus! " Ino menyeringai saat melihat sejoli yang kini wajahnya sama-sama memerah itu. di tangannya kini ada sebuah kantong plastik yang berisi bermacam-macam minuman dari berbagai merek. ia sengaja beli banyak untuk yang lainnya juga. "Sakura, Sekarang sudah giliranmu yang bertanding. Ayo, cepat."

Sakura sedikit cemberut mendengar ledekan Ino, namun untuk kali ini ia lebih memilih berdamai saja dulu. Untuk urusan membalas Ino, itu bisa dilakukan lain kali. Ditariknya napas dalam-dalam kemudian dihembuskannya perlahan. Hal itu ia lakukan berkali-kali sampai akhirnya wajah cantiknya menatap semua teman-temannya, dan para guru di sekolahnya yang hari ini datang mendukungnya.

"Sakura-san, kau pasti bisa! Keluarkan kobaran api masa mudamu! yeah!" teriak Lee semangat.

"Sakura-chan, berjuanglah!" teriak Naruto tidak kalah semangat dari Lee.

Ino pun tidak mau ketinggalan. "Ayo, Forehead! Aku tau kau yang terhebat se-konoha! Kau pasti menang!"

Sakura tersenyum lebar. Ia senang mempunyai teman-teman seperti mereka. Dan ia yakin, hari ini, ia pasti akan menang.

Ya, itu pasti.

.

.

.

.

Hinata terpaksa harus melewatkan sedikit dari aksi Sakura karena harus pergi ke toilet. Ia hanya pergi sendiri. Tadinya, Ino mau menemaninya, tapi ia sendiri yang menolak karena tidak mau mengganggu Ino yang sedang semangat-semangatnya mendukung Sakura.

Gadis itu berjalan pelan. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri. Sudah beberapa hari ini, pikirannya mengalami gangguan. Bukan. Hinata bukan mengalami gangguan jiwa. Tapi, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini. satu nama.

Uchiha Sasuke.

Lagi-lagi.

Hinata menghela napas diam-diam. Sejak insiden menemukan kalung sasuke itu, pikirannya selalu dibayang-bayangi oleh Sasuke. hampir setiap waktu ia jadi memikirkan Sasuke. sebentar-sebentar Sasuke. apalagi kalau melamun sedikit saja, pasti wajah Sasuke sudah menguasai alam bawah sadarnya.

Bukan hanya pikirannya, setiap kali ia berpapasan dengan pemuda itu di sekolah, ada reaksi yang aneh dengan dirinya. Wajahnya akan memerah, ia juga jadi gugup sendiri. Bukan hanya itu, ia juga tidak pernah berani menatap secara langsung wajah Sasuke. entah kenapa, kalau menatap wajah Sasuke secara langsung, ia jadi malu sendiri.

Brukk.

Satu lagi akibat dari memikirkan pemuda itu, ia jadi kurang hati-hati saat berjalan karena lagi-lagi melamun. Oh, astaga…

Hinata lekas berdiri dan menundukkan badannya kearah orang yang baru saja ditabraknya. "G-gomenasai, s-saya t-tidak sengaja."

"Hn, tidak apa."

Mendengar nada suara yang dingin itu, pikiran Hinata lagi-lagi melayang kearah Sasuke. lantas Hinata mendongak untuk memastikan apakah orang itu benar Sasuke atau bukan.

Sayangnya bukan.

Sasuke mempunyai rambut raven, dan orang yang ia tabrak barusan mempunyai rambut berwarna merah.

Tunggu, kenapa ia jadi sedikit kecewa?

"Jangan menatapku seperti itu."

Wajah Hinata memerah karena malu kepergok sedang memperhatikan pemuda berambut merah itu meskipun tadi pikirannya juga ke Sasuke.

Ah, lagi-lagi…

"Hei, Kau baik-baik saja?"

"A-ahh, g-gomenasai."

Terdengar helaan napas dari pemuda berambut merah itu. "Sudah kubilang, tidak apa."

"B-baik,"

Satu hal yang baru disadari oleh Hinata kalau pemuda itu sekarang sedang berdiri di hadapannya dengan jarak hanya satu meter. Itu sangat cukup baginya untuk melihat bagaiman paras tampan pemuda itu. pemuda itu mempunyai wajah yang tampan dengan tattoo huruf kanji 'Ai' di dahinya, tubuh yang tinggi dan atletis, dan pemuda itu mengenakan seragam karate yang hampir sama seperti Sakura. Satu lagi, Aura pemuda berambut merah ini hampir sama seperti Sasuke.

"Lain kali berhati-hatilah, jangan melamun sambil berjalan."

Pemuda berambut merah itu berjalan melewati Hinata yang masih termangu di tempatnya dengan wajah yang memerah.

.

.

.

.

"Kyaa.. Sakura! Kau keren sekali tadi! sungguh!" pekik Ino kegirangan. "Kau seperti karateka pro, lho!"

"Iya, Sakura-chan. Kau keren sekali! Sakura-chan-ku memang yang paling hebaaat!" ujar Naruto tak kalah semangat dari Ino.

Mendengar itu, Sakura hanya bisa tersenyum malu-malu dan mengucapkan terimakasih. Ia bahagia. Akhirnya ia bisa memenangkan pertandingan yang selama ini menjadi impiannya dan menjadi juara pertamanya. Meskipun di babak final tadi ia nyaris kalah dari lawannya yang berasal dari Sunagakure High School. Tapi, berkat dukungan dari teman-temannya, akhirnya ia bisa bangkit dan menyerang balik lawannya.

"Terimakasih, teman-teman. Kalau bukan karena dukungan kalian, aku mungkin saja akan kalah. Ini semua berkat kalian semua. Terimakasih."

"Bicara apa kau, Forehead, kau menang Karena usahamu sendiri. Kami hanya bisa memberimu dukungan dari jauh. Menang atau kalah, itu kau yang tentukan."

"Tapi, tetap saja, kalian semua yang memberiku semangat saat aku hampir saja kalah. Dan gara-gara kalian, aku bangkit lagi. Terimakasih."

"Mereka benar, Sakura. Kau memang muridku yang hebat. Inilah hasil kerja kerasmu selama ini. kau memang mempunyai semangat masa muda yang luar biasa. Aku, sebagai pembimbingmu, bangga padamu!" ujar Gai-sensei seraya tersenyum lebar.

"Baiklah, pulang dari sini, kita rayakan di Ichiraku saja. Sakura-san yang traktir." Kata Chouji tiba-tiba.

Ino mendelik kearah Chouji. "heh, dasar kau ini! makanan terus yang ada di pikiranmu."

"Sudah, sudah, pulang dari sini, kalian semua akan kutraktir ramen di Ichiraku." Ujar Kakashi-sensei menengahi.

Wajah Naruto tiba-tiba saja semakin berbinar-binar. "Yeah! Ramen 'ttebayou!"

"Haruno-san,"

Sakura dan yang lainnya menoleh kearah sumber suara. Sakura sedikit terkejut ketika melihat gadis berambut coklat yang tadi menjadi lawan tandingnya di babak final tadi yang memanggilnya. tidak hanya sendirian, gadis itu berjalan bersama para rombongannya yang lain.

"Selamat atas kemenanganmu. Aku senang sudah pernah menjadi lawanmu. Di lain kesempatan, kalau kita bertemu lagi, akulah yang akan mengalahkanmu."

Sakura tersenyum. "Terimakasih. Dan aku janji, tidak akan pernah membiarkanmu mengalahkanku, Matsuri-san."

Gadis berambut coklat itu tersenyum. "Baiklah, kami duluan ya, semuanya."

Sakura dan yang lainnya mengangguk seraya tersenyum. "Baiklah, ayo, kita juga pergi." Teriak Chouji semangat. Soal makanan, pemuda yang memiliki berat badan diatas rata-rata itu memang selalu bersemangat.

"Semuanya, Ayo, kita berangkat!" teriak Naruto dan Chouji kompak dan bersemangat.

Melihat itu, semuanya tertawa. Kecuali Shikamaru dan Sasuke yang hanya diam saja. Mereka berdua memang bukan tipe orang konyol seperti Naruto ataupun Chouji.

"Hinata, ayo," ujar Ino saat menyadari Hinata yang berjalan sambil melamun sendiri. "Kalau tidak hati-hati, kau bisa jatuh."

"G-gomenasai.."

"Hei, kau."

Hinata dan Ino menoleh, kemudian diikuti yang lainnya. Kali ini, seorang pemuda berambut merah marun dengan tato di dahinya.

Hinata sedikit terkejut melihat orang yang tadi ditabraknya saat hendak ke toilet. "K-kau.."

Pemuda itu mengulurkan tangannya kearah Hinata. "Kenalkan, Sabaku Gaara."

Hinata berdiri dengan gelisah. Gadis itu ragu antara ingin menyambut uluran tangan pemuda itu atau tidak. tap, nyatanya, ia mengulurkan tangannya, dan menyambut uluran tangan pemuda bertato itu.

"Hy-hyuuga.. Hinata, s-salam kenal, S-sabaku-san.."

"Hn, salam kenal." Jeda sejenak. "Hyuuga,"

"Y-ya?"

"Kau menarik perhatianku sejak tadi, Hyuuga."

"E-ehh?" wajah Hinata memerah mendengar kata-kata Gaara. mereka baru saja berkenalan. tapi, kenapa dengan entengnya pemuda berambut merah itu mengatakan hal itu?

"Ano, A-aku.."

Srett.

"Maaf, Kami harus segera pulang." Ujar Sasuke tiba-tiba seraya menarik pergelangan tangan Hinata. "Ayo, Hinata." Kemudian membawanya pergi menjauh dari sana tanpa ada persetujuan dari yang bersangkutan.

Semua yang melihat itu hanya bisa menatap tidak percaya. Apalagi ketika mereka melihat ekspresi wajah Sasuke yang tiba-tiba saja menarik Hinata menjauh dari sana.

.

.

.

.

"Akh, t-tolong lepas, S-sasuke-kun.."

Hinata meringis kesakitan ketika pergelangan tangannya digenggam dan ditarik oleh Sasuke. ia bahkan sampai tidak memperhatikan kearah mana Sasuke membawanya. Yang jelas, tiba-tiba saja pemuda itu menariknya menjauh sesaat setelah ia berkenalan dengan Gaara tadi.

"Siapa dia?" Tanya Sasuke masih sambil berjalan.

"A-aku.. aku t-tidak tahu, S-sasuke-kun."

Sasuke berhenti berjalan, kemudian berbalik menghadap Hinata. "Kalau kau tidak tahu, kenapa ia berkata seperti itu padamu?"

"A-aku juga tidak tahu. S-sungguh."

Sasuke diam. Onyxnya memperhatikan si gadis berambut indigo yang masih memasang wajah kesakitan sambil mengusap-usap pergelangan tangannya.

Hinata yang masih bisa merasakan tatapan mengintimidasi dari Sasuke akhirnya membuka mulutnya.

"A-aku b-baru saja bertemu dengannya. D-dia o-orang yang kutabrak s-saat hendak ke toilet."

"…"

"H-hanya itu, S-sasuke-kun."

Selang beberapa menit kemudian, terdengar helaan napas dari Sasuke. "Maaf,"

tiba-tiba saja mendengar kata maaf keluar dari mulut Sasuke membuat Hinata mendongak dan gadis itu malah mendapati Sasuke yang sedang memandang kearah lain dengan tatapan yang tidak bisa ia artikan.

"T-tidak apa, S-sasuke-kun."

"Nanti," Sasuke kembali bersuara. "Hari minggu nanti, kita pergi berdua."

"Eh?"

Sasuke mengalihkan tatapannya kearah Hinata yang ternyata juga menatapnya dengan wajah memerah. ia sadae, wajahnya pun saat ini pasti sudah merah.

"..kita akan pergi kencan."

.

.

.

.

:: To Be Continued ::

Yosh,

yang mau memberikan uneg-unegnya tentang fic ini.. silakan review!

big hugs.

Zena Scarlet.