ON RAINY DAY
Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae
Genre: Romance, Family
WARNING!
BOYS LOVE
DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!
THE STORY IS MINE
Typo may applied, don't be silent reader please.
NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION ^^
TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.
THANKYOU ^^
.
.
If this heart of mine was yours and yours was mine, this rainy day would be just fine...
.
.
Heningnya malam menjadi saksi bisu percintaan Donghae dan Eunhyuk malam itu. Dengan sedikit menahan rasa sakit di selangkangannya, Donghae mengajak Eunhyuk pulang ke rumahnya. Alih-alih pulang untuk mengambil pakaian ganti untuk Haru, nyatanya mereka malah bercinta dengan ribut. Eunhyuk mendesah, mengerang, dan melenguh leluasa karena tidak ada orang di rumah. Dan desahan Eunhyuk yang kencang itu, justru membakar gairah Donghae untuk terus memompa miliknya di dalam lubang hangat milik Eunhyuk.
Jam sudah menunjukan pukul sembilan malam, percintaan mereka sudah selesai sejak sejam yang lalu. Eunhyuk kini sedang duduk di tempat tidur sambil melamun, merenungkan apa yang telah diperbuatnya bersama Donghae hari ini. Sementara Donghae berbaring disampingnya dengan mata terbuka. Memang melelahkan, tapi kantuk sama sekali tidak menghampiri mereka. Selain karena harus kembali lagi ke rumah sakit, dalam hati mereka masing-masing ada sesuatu yang mengganjal sehingga mereka tidak bisa memejamkan matan setelah sesi bercinta mereka yang melelahkan.
"Kenapa kau tidak menolakku?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Donghae, matanya masih menerawang ke langit-langit kamarnya. Sisa sensasi yang baru pertama kali Donghae rasakan, masih menggelitik perutnya. Rasanya hebat sekali, bagaimana miliknya menghentak kuat titik terdalam Eunhyuk, lalu Eunhyuk akan membalasnya dengan lenguhan manja yang membuat Donghae semakin ingin menyentuhnya lebih jauh lagi.
"Aku sendiri tidak tahu. Sejujurnya aku ingin menolakmu, tapi sentuhanmu membuatku lupa segalanya."
"Jadi, sekarang kau sedang menyesalinya?"
"Tidak. Aku sedang berpikir, kenapa kita melakukan hal menyimpang ini? Maksudku, kita tidak boleh melakukan hal ini, tapi aku malah menikmatinya dan mengerang terus-menerus untukmu."
Donghae beringsut mendekati Eunhyuk, kemudian memeluknya dari belakang. Tanpa penolakan yang berarti dari Eunhyuk, Donghae menjadi lebih berani untuk menggerayangi tubuh telanjang Eunhyuk. Bibirnya tidak bisa diam, Donghae terus mengecupi bahu telanjang Eunhyuk, bahkan sesekali menggigitnya gemas.
"Kalau aku bilang, aku menyukaimu dan bahkan mencintaimu di hari pertama kali kita bertemu, apakah kau akan percaya?"
Mungkin hari ini sudah seharusnya Donghae berkata jujur, mengungkapkan isi hatinya yang selama ini ia pendam. Kalau ingin Eunhyuk menjadi miliknya, maka Donghae harus membuang ketakutannya dan mulai memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hati yang sesungguhnya. Urusan Eunhyuk akan menerimanya atau tidak itu belakangan, yang penting Eunhyuk tahu isi hatinya.
"Jangan membual, Hyung. Kita bertemu pertama kali sekitar dua minggu yang lalu. Bagaimana bisa kau jatuh cinta secepat itu?"
Kegiatan Donghae yang sedang mencumbu bahu Eunhyuk berhenti, ia memusatkan perhatiannya pada wajah Eunhyuk. Meski hanya melihat sebagian wajahnya, tapi Donghae bisa melihat dengan jelas keraguan itu.
"Ternyata kau benar-benar tidak mengingatnya."
Kini giliran Eunhyuk yang melirik Donghae. Arah pembicaraan Donghae tidak bisa di tebak, membuat Eunhyuk harus mengerutkan dahinya karena bingung.
"Apa maksudmu?"
"Tiga tahun yang lalu, aku datang ke sebuah café untuk menemui istriku yang mengajakku bertemu di sana. Hari itu hujan lebat, tapi aku tidak membawa payung. Namun, karena aku takut istriku sudah menunggu di café, makanya aku nekat menerobos hujan dan membiarkan seluruh tubuhku basah kuyup. Saat aku datang ke café, ternyata istriku belum datang. Dia bilang, masih sibuk di kantor sehingga tidak bisa pulang cepat dan menemuiku di café tempat kami janjian. Aku ingin pulang saat itu juga, tapi karena terlanjur sudah ada di café dan kedinginan akibat hujan-hujanan, akhirnya aku memutuskan untuk masuk dan memesan secangkir kopi panas."
"Tunggu sebentar. Kau sedang membuat naskah drama atau apa?"
Ada nada kecemburuan saat Eunhyuk bertanya seperti itu. Entah perasaannya saja atau bukan, tapi Donghae merasa senang dengan nada bertanya Eunhyuk yang seperti itu. Donghae mengecup singkat bibir Eunhyuk, memintanya untuk diam dan mendengarkan ceritanya sampai selesai. Eunhyuk mengalah, ia hanya mendengus sebal, tapi tetap mendengarkan cerita Donghae. Entah apa yang terjadi tiga tahun yang lalu, sehingga Donghae bercerita panjang lebar seperti itu.
"Kau tahu apa? Pegawai café yang melayaniku saat itu sangat manis. Senyumnya begitu tulus dan sulit untuk dilupakan. Dia tersenyum bukan hanya sebagai formalitas kerja, tapi senyum itu memang benar-benar datang dari hatinya. Jujur saja, aku langsung jatuh hati pada senyumnya. Aku tidak bisa melupakan senyumnya yang begitu manis dan tulus."
"Tunggu, kau sedang membicarakan aku?"
Donghae tidak menjawab pertanyaan Eunhyuk, ia hanya tersenyum tipis sebelum melanjutkan kembali kenangan terindahnya yang sampai saat ini tidak pernah ia lupakan.
"Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam di café, aku memutuskan pulang. Hari sudah sore, tapi hujan masih saja lebat. Inginnya, aku terus berada di sana agar bisa melihat senyummu. Tapi mau bagaimana lagi? Aku harus pulang karena anakku pasti sedang menungguku datang menjemputnya. Kau tahu apa yang membuat aku semakin jatuh hati pada pemuda pelayan café itu?"
"Apa?"
"Saat di pintu keluar, dia menyusulku dan meminjamkan mantelnya padaku. Dia bilang, hujannya masih lebat dan menyuruhku untuk menunggu di café sampai hujannya reda. Aku ingin mengikuti sarannya, tapi aku teringat pada Haru yang sedang menunggu di jemput di rumah ibuku. Meski berat, aku harus menolak sarannya. Sebelum aku benar-benar keluar dari café, dia kembali memanggilku dan menyerahkan mantelnya padaku. Dia tersenyum begitu tulus saat memberikan mantel itu padaku, aku benar-benar merasa jatuh hati padanya."
Ada jeda sebelum Donghae melanjutkan kalimatnya. Jemarinya mengelus lembut wajah Eunhyuk, lalu membuat pandangan mereka bertemu.
"Aku jatuh hati padamu. Sejak saat itu aku tidak bisa berhenti memikirkanmu, untuk pertama kalinya aku merasa berdebar, dan untuk pertama kalinya aku merasa begitu bersemangat. Aku tahu ini salah, tapi aku tidak bisa mengendalikan perasaanku sendiri."
"Ah, aku ingat. Jadi, ahjussi yang aku kira sedang patah hati itu, kau?"
"Apa maksudmu?"
.
.
ooODEOoo
TIGA TAHUN YANG LALU...
Hujan begitu lebat, Eunhyuk mengelap meja dan kaca jendela dengan semangat sambil melihat hujan turun. Hari ini tidak banyak pengunjung yang datang ke café, mungkin karena hujan yang lebat ini. Tapi ini satu keuntungan bagi Eunhyuk, karena dengan begini ia bisa bersantai sebentar dan membaca materi kuliahnya di belakang. Di tahun pertama kuliah, Eunhyuk tidak mau mendapat nilai rendah. Jadi, mau tidak mau Eunhyuk harus pintar membagi waktu antara kerja paruh waktu dan belajar.
"Selamat datang."
Baru saja Eunhyuk akan ke dapur, tiba-tiba suara bel di pintu berbunyi, menandakan seseorang datang. Eunhyuk mengurungkan niatnya untuk belajar, ia kembali ke meja kasir untuk menerima pesanan pelanggan. Seorang laki-laki dengan setelan kantor yang basah kuyup karena hujan. Wajahnya cukup tampan, sorot matanya begitu lembut, dan yang paling penting senyumnya seperti anak kecil. Kalau bukan karena setelan kantornya, Eunhyuk mungkin sudah mengiranya mahasiswa tingkat awal. Sama sepertinya.
"Aku pesan Americano panas."
"Baik, tuan. Semuanya jadi 4.100 Won."
Sambil membuat pesanan laki-laki itu, mata Eunhyuk terus mengawasi gerak-geriknya. Dia tertunduk lesu sambil menggosok-gosokan kedua telapak tangannya, sesekali dia melihat ponselnya tapi tidak melakukan apapun. Dalam hati Eunhyuk bertanya-tanya, apa dia baru saja dicampakan kekasihnya? kasihan sekali, padahal wajahnya cukup tampan.
"Silahkan, tuan."
"Terima kasih."
Setelah mengantarkan pesanannya pada laki-laki itu, Eunhyuk kembali ke meja kasir. Tangannya mengelap meja yang tidak kotor, tapi matanya tertuju pada sosok si pelanggan yang entah kenapa menarik perhatian Eunhyuk. Dia tidak banyak bicara, matanya fokus menatap hujan dari balik jendela, dan sesekali dia membuang nafas lesu. Mungkin hampir sejam laki-laki itu menghembuskan nafas sia-sia seperti itu. Setelah kopinya habis, dia beranjak dari tempat duduknya dan bersiap pergi meskipun hujan di luar masih lebat.
"Maaf, kau sudah mau pulang? Hujannya masih lebat, kau bisa menunggu di sini sampai hujannya reda."
Biasanya Eunhyuk tidak begitu peduli dengan pelanggannya, tapi kali ini ia merasa harus melakukan sesuatu untuk laki-laki yang tampak kesepian itu.
"Aku harus pulang."
Sebelum laki-laki itu benar-benar pergi, Eunhyuk mengambil mantelnya di belakang. Setengah berlari, Eunhyuk menghampiri laki-laki itu sebelum pergi meninggalkan café. Eunhyuk memberikan mantelnya tanpa memikirkan dirinya sendiri. Bagaimana kalau hujan berlangsung sampai malam? Apa Eunhyuk akan membiarkan dirinya basah kuyup demi laki-laki asing yang baru pertama kali ia temui?
"Pakailah, setidaknya kau tidak akan terlalu basah."
"T—tapi—"
"Kau bisa mengembalikannya kapan-kapan."
"Terima kasih."
.
.
ooODEOoo
"Kau masih menyimpan mantelku?"
"Menurutmu?
Saat pandangan mereka bertemu, Eunhyuk tak lagi membutuhkan jawaban untuk pertanyaannya. Ia tersenyum sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang Donghae yang sedang memeluknya. Rasanya nyaman sekali, berbaring saling berhadapan seperti ini sambil membicarakan saat pertama kali mereka bertemu. Eunhyuk tidak tahu, pelukan Donghae bisa membuatnya senyaman ini. Padahal, Kyuhyun sering sekali memeluknya, tapi Eunhyuk tidak pernah merasa senyaman dan sehangat ini.
"Kenapa masih di simpan?"
"Setiap kali aku merindukanmu, aku melihat mantel itu. Memeluknya seperti aku memelukmu."
"Itu menggelikan! Jangan pernah melakukannya lagi."
"Tentu saja tidak akan. Sekarang, aku bisa memelukmu secara langsung."
"Kenapa kau meminjamkan mantelmu padaku?"
Satu lagi pertanyaan yang selalu mengganggu Donghae. Selama ini Donghae selalu bertanya-tanya, kenapa Eunhyuk mau meminjamkan mantelnya pada orang asing?
"Karena kau terlihat sangat kesepian. Aku sendiri tidak mengerti, kenapa aku meminjamkannya padamu? Entahlah, mungkin karena aku merasa kasihan? Saat itu aku merasa kau terlihat menyedihkan. Aku sempat berpikir, kau baru saja di campakan oleh kekasihmu. Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak pernah datang lagi ke café setelah itu?"
Sorot mata Donghae berubah, pelukannya pada Eunhyuk tidak lagi erat. Kejadian dua tahun yang lalu kembali berputar dikepalanya. Rasa bersalah yang selama ini membebani Donghae kembali membuatnya tertekan.
"Kali ini saja, jangan buat aku mengingatnya."
Donghae memeluk Eunhyuk, menyembunyikan airmatanya di ceruk leher Eunhyuk. Sudah lama sekali Donghae tidak menangisi masa lalu, dan kini ia kembali menangis dipelukan orang yang sangat dicintainya.
"Kalau begitu jangan diingat."
Eunhyuk melepaskan pelukan Donghae, jemarinya menghapus jejak airmata di pipi Donghae. Perlahan Eunhyuk mendekatkan wajah mereka, bibirnya berinisiatif untuk memagut bibir tipis Donghae. Ciuman yang awalnya ringan itu menjadi semakin dalam. Donghae menahan tengkuk Eunhyuk agar ciuman mereka semakin dalam lagi, sementara tangan yang lainnya tidak bisa diam dan terus menggerayangi pinggul Eunhyuk yang sensual.
"Ngh—Hyung."
"Kau suka saat aku mengelus pinggulmu?"
"Hm."
Bibir mereka kembali berpagut setelah jeda beberapa saat karena lenguhan Eunhyuk tadi, Donghae kembali mendominasi Eunhyuk dengan cara menindihnya. Well, sepertinya sesi percintaan mereka akan kembali lagi. Lihat saja Eunhyuk yang begitu pasrah, terlebih mereka belum memakai pakian mereka sehingga akan lebih mudah untuk mereka memulainya lagi.
"S—sudah, Hyung. Ah—ngh."
Pekikan Eunhyuk menandakan bahwa Donghae sedang menyentuh titik sensitifnya. Saat ini jari telunjuk Donghae sedang bermain-main di kerutan lubang senggama Eunhyuk yang baru saja ia gagahi beberapa saat yang lalu. Ciuman Donghae tidak lagi di bibir Eunhyuk, kini ia sedang sibuk mencumbu puting Eunhyuk yang selalu mencuat dan menggoda. Jika saat pertama kali mereka bertu hanya bisa melihatnya, kini Donghae bisa menyentuhnya dengan leluasa.
"Let me in, sweetheart."
"Hyung. Uh—ngh!"
Pinggul Donghae bergerak dengan perlahan, mencoba mencari titik terdalam Eunhyuk. Untungnya di dalam sana masih basah karena sisa sperma yang Donghae tumpahkan beberapa saat yang lalu, jadi tidak perlu lagi pemanasan atau lube untuk mempenetrasi ulang kekasihnya. Well, meskipun Eunhyuk belum memberikan jawaban atas pernyataan cintanya, tapi Donghae tetap akan menyebut Eunhyuk sebagai kekasihnya.
"Kau basah sekali di dalam. Basah karena aku. Sekarang, aku akan membuatnya lebih basah lagi."
Dirty talk Donghae tidak membantu sama sekali, Eunhyuk hanya bisa meringis menahan gairahnya. Demi Tuhan, Donghae menjadi sosok yang berbeda saat di ranjang. Jika saat di luar dia begitu tenang, berkharisma, dan bahkan terlihat pendiam, tapi saat di ranjang dia adalah sosok penggoda dan dominan yang super sexy. Eunhyuk selalu di buat tidak berdaya oleh tatapan tajam nan sendu itu.
"Lihat, milikmu langsung tegang hanya karena mendengar dirty talk yang tidak seberapa. Such a naughty penis."
"S—stop, Hyung. Ah—please. Jangan menggodaku."
"Kau tergoda? Itu memang tujuanku."
Donghae menggeram setelah hentakan terakhir, ia mencapai puncaknya hampir bersamaan dengan Eunhyuk yang sudah lebih dulu sampai. Nafas mereka kembali terengah, Donghae menyingkir dari atas tubuh Eunhyuk, lalu berbaring di sampingnya. Setelah bertahun-tahun bermain sendiri di kamar mandi, akhirnya Donghae bisa menuntaskan hasratnya dengan objek yang selalu ia bayangkan.
"Ponselmu bergetar."
Eunhyuk melihat ponsel Donghae menyala di meja nakas samping tempat tidur, suara getaran ponsel Donghae berisik dan menganggu ketenangan Eunhyuk. Saat ini, Eunhyuk benar-benar ingin beristirahat tanpa gangguan suara apapun. Sungguh, bercinta dengan Donghae jauh lebih melelahkan dari pada olahragi di tempat fitness.
"Ya, Park Seonsaeng?"
"Kau sudah gila? Kenapa mengambil pakaian saja begitu lama? Haru terbangun dan tiba-tiba menangis karena tidak melihat siapapun di kamarnya! Sekarang para suster kelabakan menenangkannya. Dia tidak mau berhenti menangis dan terus memanggilmu, cepat datang!"
Mendengar kata Haru menangis, Donghae langsung kalang-kabut tidak jelas. Setelah menutup sambungan teleponnya, Donghae kembali memakai pakaiannya yang berserakan dilantai. Sial! terlalu asyik bercinta, anak di rumah sakit sampai dilupakan. Ayah macam apa?
"Sayang, Haru menangis. Kita harus kembali ke rumah sakit. Ah, sial! Kenapa aku sampai lupa?"
Sementara Donghae menggerutu pelan sambil memakai pakaiannya, Eunhyuk menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mendengar Donghae memanggilnya dengan sebutan sayang, membuat Eunhyuk merasa canggung dan salah tingkah. Tiba-tiba wajahnya terasa panas. Sungguh, Eunhyuk tidak mengerti dengan rasa menggelitik dihatinya.
Apa ini?
Ada apa denganku?
.
.
ooODEOoo
Seminggu berlalu sejak kejadian Donghae menyentuh Eunhyuk dengan intim. Seminggu itu pula Donghae dan Eunhyuk jarang bertemu, mereka kadang bertemu pagi-pagi, namun tidak berani saling menyapa atau saling memandang. Donghae merasa luar biasa canggung dan tidak tahu harus berkata apa tiap kali mereka bertemu, terlebih karena Eunhyuk terlihat menghindarinya. Padahal, mereka melakukannya dengan penuh kesadaran, tapi entah kenapa jadi ada batas di antara mereka berdua setelah kejadian itu. Donghae ingin sekali menyapa Eunhyuk duluan, tapi laki-laki manis itu selalu menghindari tatapannya dan berlari menjauh ketika Donghae mencoba mendekat. Karena tak kunjung mendapat kesempatan bicara di rumah, Donghae terpaksa menadatangi tempat kerja Eunhyuk dan mengajaknya bicara serius soal hubungan mereka.
"Soal pernyataanku waktu itu—"
"Aku tahu kau tidak serius."
Belum selesai Donghae dengan kalimatnya, tapi Eunhyuk sudah memotongnya. Donghae berdecih sepelan mungkin, ia sudah mempersiapkan diri bila Eunhyuk menolaknya. Masalahnya, ini bukan penolakan tapi lebih kepada menghindari obrolan serius. Obrolan yang diawali dengan sikap dingin masing-masing itu, membuat seolah ada tembok besar yang membatasi mereka. Mereka bahkan tidak saling memandang dan bicara dengan perhatian yang entah kemana. Sulit bagi Donghae untuk mengungkapkan perasaannya seperti di ranjang waktu itu, kepercayaan dirinya turun drastis saat melihat Eunhyuk di luar seperti ini. Terlebih ketika ada banyak mata yang memperhatikan mereka dengan tatapan intimidasi.
"Bagaimana kabar Haru?"
"Baik. Dia sekolah dengan baik, dia juga banyak teman di sana."
"Sepulang sekolah apa dia ikut denganmu ke kantor?"
"I—tu, pamannya yang dari Paris datang. Jadi, selama aku bekerja Haru di jaga oleh pamannya."
"Baguslah."
Suasana kembali hening. Baik Donghae maupun Eunhyuk tidak ada yang angkat bicara dan sibuk dengan minuman masing-masing. Sebenarnya mereka begini bukannya tidak saling menyukai, hanya saja mereka tiba-tiba kikuk setelah hampir seminggu lamanya tidak bertemu dan tidak saling menyapa. Terutama Eunhyuk yang merasa perbuatannya dengan Donghae adalah kesalahan yang besar. Kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari.
"Sebenarnya aku berpikir untuk mengambil babysitter, tapi masih ragu-ragu."
"Oh."
"Aku ingin kau yang menjadi babysitternya."
Mata Eunhyuk membola, cukup terkejut dengan permintaan Donghae yang terlalu tiba-tiba. Donghae yang biasanya malu-malu dan kikuk saat bicara, kini menyuarakan keinginannya dengan lantang. Bahkan sorot matanya terlihat yakin.
"A—ku? Kenapa?"
"Pernyataanku yang waktu itu sungguh-sungguh. Aku tahu kau butuh waktu, itu sebabnya aku ingin membuatmu lebih dekat denganku melalui Haru. Kalau kau mau menolak perasaanku itu bukan masalah bagiku, tapi kuharap kau menolaknya setelah melihat seberapa serius aku padamu."
Kata-kata Donghae membuat Eunhyuk bungkam sepenuhnya, baru pertama kali Eunhyuk melihat Donghae setegas itu. Sorot matanya terlihat sangat yakin dan penuh percaya diri, tidak seperti biasanya. Dan anehnya, ketika Donghae menatapnya dengan tajam seperti itu, Eunhyuk merasa ada yang tidak beres dengan hatinya.
"Aku akan membayarmu lebih besar dari bayaranmu di sini, asalkan kau menjaga Haru dengan sungguh-sungguh. Urusan hatiku dan pekerjaan babysitter adalah dua hal yang berbeda, aku tidak akan mencampuraduk kedua urusan itu. Bagaimana?"
Eunhyuk masih saja diam, tidak bisa menjawab Donghae. Dalam hati Eunhyuk bertanya-tanya, apa ada yang terjadi pada Donghae? Donghae yang biasa tenang dan kikuk, kini begitu tegas dan berkaharisma, sorot matanya lebih tajam ketika dia bicara. Eunhyuk hampir tidak bisa menatap matanya terlalu lama, karena semakin di tatap semakin Eunhyuk merasa tidak karuan.
"Aku tahu ini menyebalkan dan egois, tapi kau sendiri tahu Haru sangat menyukai dan selalu mencarimu. Kuharap kau bersedia datang besok ke rumahku sebelum Haru berangkat sekolah."
Setelah berkata demikian, Donghae berlalu begitu saja. Jika biasanya dia tersenyum sebelum berpisah dari Eunhyuk, hari ini Donghae tidak melakukannya dan pergi begitu saja tanpa menoleh lagi. Eunhyuk kesal melihat raut wajahnya yang terkesan dingin itu, tapi dia juga suka dengan cara Donghae bersikap hari ini.
He look more handsome and sexy...
"Air liurmu hampir menetes, Hyuk."
"Sialan!"
Kebiasaan buruk Kyuhyun yang selalu muncul tiba-tiba itu tidak bisa hilang sama sekali. Eunhyuk memukul wajah Kyuhyun dengan lap yang ia pakai untuk mengelap meja, lalu memakinya dengan pelan. Tentu saja pelan, karena kalau berteriak seluruh pengunjung akan terkejut.
"Apa yang kau bicarakan dengan dia?"
"Hanya hal sepele."
"Apa itu? Aku tidak suka melihat sorot matamu yang begitu hangat padanya."
Bola mata Eunhyuk berputar malas, Kyuhyun memang selalu membuatnya kesal kapanpun dan dimanapun.
"Sejak kapan kau mengurusi sorot mata orang lain, huh? Menyebalkan, kau setan menyebalkan!"
Eunhyuk memukuli Kyuhyun dengan lap yang ada di tangannya, tidak peduli dengan Kyuhyun yang sudah mengaduh minta ampun dan minta maaf. Sebenarnya memang tidak ada yang salah dengan kata-kata Kyuhyun, hanya saja Eunhyuk sedang ingin memukuli orang hari ini dan kebetulan Kyuhyun muncul dihadapannya.
Kesempatan baik mana boleh disia-siakan, benarkan?
.
.
Suasana kantor saat Donghae kembai dari jam istirahatnya, begitu ramai dan penuh dengan bisik-bisik tidak jelas. Terutama karyawan wanita yang berkerumun, lalu berbisik dengan keras dan kadang-kadang memekik tidak jelas.
"Hyung?"
Jelas saja suasana kantor berubah, rupanya mantan kakak ipar Donghae ada di ruangan kerjanya. Laki-laki tampan itu menyilangkan kakinya, matanya sibuk melihat-lihat majalan bisnis, dan sesekali ia meneguk teh dari cangkirnya. Dia memang benar-benar suka cari perhatian. Donghae sudah memberitahunya agar menunggu di rumah dan tidak menyusulnya ke kantor. Bukan apa-apa, tapi Donghae tahu akan ada keributan jika dia datang ke kantor.
"Kenapa kemari?"
Laki-laki gagah itu mengangkat bahu, dagunya menunjuk ke arah Haru yang sedang duduk di kursi kerja Donghae dengan tablet ditangannya. Pasti pemberian pamannya. Siapa lagi? Satu-satunya orang yang akan memanjakan Haru sedemikian rupa hanyalah pamannya seorang. Choi Siwon.
"Dia menangis ingin menemuimu sepulang sekolah tadi. Dan lagi, ayolah bung! Kita sudah lama sekali tidak bertemu, apa salahnya jika kita menghabiskan banyak waktu. Coba aku ingat-ingat, sepertinya terakhir kita bertemu dipemakaman adikku, benarkan?"
Donghae menghela nafas panjang. Haru menangis karena merindukannya? Omong kosong macam apa itu? Jelas-jelas Siwon datang untuk mensensus pegawai perempuan di sini, memeriksa ada berapa banyak perempuan sexy yang bisa dia incar. Haru hanya alasan untuknya. Buktinya, gadis kecil itu tampak tenang dengan tabletnya, bahkan saat Donghae masuk tadi Haru mengabaikannya dan sibuk dengan tablet barunya.
"Seharusnya kau cari babysitter atau semacamnya untuk menemani Haru, atau kalau perlu kau menikah lagi."
Laki-laki gagah berlesung pipi itu kembali menyinggung soal pernikahan. Meskipun tahu Donghae tidak akan banyak menanggapi, tapi Siwon tidak akan menyerah. Melihat mantan adik iparnya begitu kesepian dan sibuk sendiri mengurus Haru, Siwon ingin dia menikah lagi dan membina lagi keluarga kecil yang bahagia. Siwon yakin, Donghae akan lebih bahagia jika menikah dengan orang yang dicintainya.
"Sudahlah, Hyung."
"Aku serius. Lagi pula, aku tahu cintamu pada adikku tidak sedalam itu. Sebenarnya, apa alasanmu tidak mau menikah lagi?"
"Aku menyukai seseorang."
"Lalu?"
"Aku belum bisa mendapatkannya."
"Tapi kau sudah mengikuti saran dariku, kan?"
Dari pada di sebut saran, Donghae lebih suka menyebutnya doktrin yang menyesatkan. Well, menyesatkan tapi memang berguna. Buktinya, Donghae bisa membuat Eunhyuk tidak bisa berkata-kata saat bertemu siang tadi. Bagaimanapun Siwon benar, sebagai laki-laki dia tidak bisa bersikap lembek. Sesekali harus bersikap tegas dan dingin.
"Dia tidak bisa berkata-kata, 'kan?"
"Begitulah."
"Apa aku bilang? Kau pikir apa saja yang aku lakukan di Paris? Secara formal aku memang bekerja, menjalankan perusahaan ayahku, tapi setelah itu aku bersenang-senang dengan para gadis. Entah sudah berapa gadis yang terjerat oleh pesonaku. Cara yang aku ajarkan padamu itu sungguh efektif, sepertinya aku akan membuat buku tentang itu."
Donghae tersenyum samar, meskipun cara yang diajarkan Siwon efektif, tapi Donghae tidak mempraktekannya pada perempuan. Bagaimana kalau seandainya Siwon tahu? Akankah dia tetap mendukung Donghae seperti hari ini? Kakak iparnya ini memang baik, meskipun tahu bagaimana keadaan rumahtangganya dengan Choi Jiwon adiknya, tapi Siwon tidak pernah banyak ikut campur. Dia selalu menasihati Donghae dan mendukung apapun keputusan Donghae. Lalu, jika Donghae mengaku bahwa dia menyukai sesama jenis, masihkah perlakuan Siwon akan sama padanya?
"Kenapa melamun?"
"Bukan apa-apa. Mengenai babysitter, apa kau tidak keberatan jika dia laki-laki?"
"Laki-laki? Donghae, kau tahu aku tidak bisa membiarkan keponakanku di asuh sembarangan orang. Kenapa laki-laki?
"Dia tetangga kami, baru pindah sekitar sebulan yang lalu. Dia masih muda dan sedang kuliah di jurusan musik. Hm, Haru sangat menyukainya. Hanya dia yang bisa mengontrol dan menenangkan Haru saat menangis."
Siwon berpikir sejenak, matanya melirik Haru sekilas. Sebagai pamannya Haru, Siwon tidak bisa membiarkan sembarang orang mengasuh Haru, apa lagi Siwon sangat menyayangi Haru. Gadis kecil itu adalah satu-satunya kenangan nyata yang ditinggalkan adiknya, tidak heran jika Siwon sangat memanjakannya dan akan memberikan apapun untuknya.
"Biarkan aku bertemu dengannya dulu."
.
.
ooODEOoo
Tepat pukul tujuh pagi, Eunhyuk sudah berdiri di depan pintu pagar rumah Donghae. Awalnya, Eunhyuk ingin menolak tawaran Donghae untuk menjadi babysitter Haru, tapi kemudian Eunhyuk teringat ketika Haru sakit dan menangis sambil memeluknya. Jika hal itu terulang dan Eunhyuk tidak ada di samping Haru, apa yang akan terjadi? Di samping itu, Eunhyuk penasaran dengan sikap Donghae tiba-tiba berubah jadi sok acuh. Menyebalkan sekali. Tapi jika menerima tawaran itu, maka Eunhyuk akan bertemu setiap hari dengan sosok yang menidurinya tempo hari. Bukannya tidak suka, tapi Eunhyuk jadi merasa aneh dan canggung saat mereka berduaan. Hatinya benar-benar tidak beres setelah di sentuh Donghae. Ah, sialan! Gara-gara seorang ahjussi beranak satu, kenapa Eunhyuk jadi seperti anak gadis yang baru jatuh cinta? Perasaan ini begitu menyebalkan!
"Kenapa berdiri di situ dan bukannya masuk? Masuklah."
"Oh, baiklah."
Eunhyuk terkesiap, ia kemudian masuk dengan pandangan yang tidak fokus. Jas Donghae hari ini berwarna abu-abu, di padu dengan kemeja putih, dan dasi hitam. Penampilanya hari ini tampak segar, selain karena jas yang pas di tubuhnya itu, Donghae nampak memotong rambutnya lebih pendek lagi. Tatanan rambutnya juga berubah, dia menaikan rambutnya ke atas sehingga dahinya terlihat.
Totally hot Daddy...
"Jadi, bagaimana keputusanmu?"
"A—ku menerimanya. Aku akan menjaga Haru hanya selama kau bekerja, mengantarkannya ke sekolah, dan menjemputnya. Jika kau ada di rumah, maka aku tidak akan datang. Mengenai bayarannya—"
"Beri aku nomor rekeningmu lewat pesan singkat, aku akan mengirimnya hari ini juga. Kau menyimpan nomor teleponku, 'kan? Aku ada rapat pagi ini, tolong jaga Haru. Terima kasih."
Lagi-lagi Donghae bicara dengan singkat, membuat Eunhyuk naik darah karenanya. Dia mengecup singkat puncak kepala Haru, lalu pergi begitu saja tanpa melirik Eunhyuk sedikitpun. Jika tidak ingat di sini ada Haru, sudah dari tadi Eunhyuk ingin mengumpat dan memaki Donghae. Sayangnya, Eunhyuk tidak bisa melakukannya dihadapan anak lima tahun yang selalu ingin tahu ini.
"Hari ini Haru di antar Oppa?"
"Mulai hari ini Haru akan di antar Oppa, setelah pulang sekolah kita akan main bersama."
"Sungguh?"
"Hm, sungguh!"
"Kenapa? Kalian pacaran?"
"B—bukan, itu—hm, Oppa bekerja menjaga Haru, lalu Daddy akan membayar Oppa."
Tidak sampai di situ, Haru terus menanyakan hal-hal yang membuat Eunhyuk kelimpungan untuk menjawabnya. Ada beberapa pertanyaan yang tidak bisa Eunhyuk jawab, lalu Haru akan mengarang jawabannya sendiri, membuat supir taksi yang mengantar mereka terkekeh karenanya.
"Hari ini Daddy atau Oppa yang jemput?"
"Oppa."
"Kalau begitu Haru ingin main dulu, tidak mau langsung ke rumah."
Eunhyuk berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Haru. Pandangannya lurus menatap mata bulat Haru yang bersinar, mata yang Eunhyuk yakini duplikat dari mata ayahnya. Sinar mata mereka sama, hangat dan sendu, membuat siapapun yang menatapnya akan merasa nyaman.
"Kemana? Haru mau kemana?"
"Ke kantor Daddy bertemu dengan paman."
"Paman?"
"Paman Siwon, dia berjanji akan membelikan Haru Ipad baru."
Eunhyuk tampak berpikir sebelum mengiyakan keinginan Haru, ia takut akan terjadi keributan atau bisik-bisik tidak enak jika datang kesana bersama Haru.
"Haru, ayo cepat masuk."
Guru sudah memanggil, tapi Haru belum juga mau beranjak dari tempatnya sebelum Eunhyuk memberikan jawaban untuknya.
"Oppa!"
"Oke, kita ke kantor Daddy. Sekarang, Haru masuk dulu. Bye-bye."
"Bye-bye."
Kita lihat, apa yang akan terjadi hari ini?
.
.
Entah sudah berapa kali Eunhyuk menghela nafas panjang sejak ia melangkah masuk ke gedung tempat Donghae bekerja. Pandangan orang-orang yang berpas-pasan dengannya seolah akan menerkam dan mengigit Eunhyuk kapan saja. Eunhyuk tidak mau kalah, dia balas menatap orang yang menatapnya dengan sinis. Ayolah, memangnya kenapa kalau Eunhyuk datang ke kantor sambil menggandeng tangan mungil Haru? Apa akan terjadi huru-hara? Atau apa? Kenapa pandangan orang di sini sama sekali tidak bersahabat?
"Dimana ruangan ayahmu?"
"Di atas. Lantai 21."
Eunhyuk menekan angka 21 di elevator, kemudian mengeluarkan ponselnya sambil menunggu elevator yang ia naiki sampai ke lantai yang di tuju. Ada tujuh pesan dari Kyuhyun, bertanya kenapa Eunhyuk berhenti bekerja di restoran. Dari pada berdebat di pesan singkat, Eunhyuk lebih suka bertemu dengannya secara langsung dan menjelaskannya agar dia mengerti. Jadi, Eunhyuk berencana menemuinya malam ini.
"Haru saying, mau menemui ayah?"
Seseorang bertanya dengan nada lembut pada Haru, tapi Haru malah menghindar dan memeluk tungkai kaki Eunhyuk. Eunhyuk tersenyum pada perempuan yang menyapa Haru tadi, berharap dia memaklumi sifat Haru. Yang sayangnya, senyum Eunhyuk di balas dengan tatapan sinis perempuan itu. Eunhyuk berdecih, jelas saja Haru menghindarinya. Sudah dandanannya menor, dia bermuka dua juga. Hanya baik dihadapan Haru saja. Motifnya sudah jelas, pasti ingin mendekati ayahnya Haru dengan cara merayu Haru terlebih dahulu.
Cara murahan…
"Haru, kenapa? Aku ini orang baik yang selalu membantu ayahmu."
Haru semakin menempel pada Eunhyuk, lama-lama gadis kecil itu merentangkan tangannya. Mengerti maksud Haru, Eunhyuk langsung mendekap Haru dalam pangkuannya. Mata perempuan itu semakin menatap Eunhyuk dengan tajam dan sinis, bahkan dia mulai berani melihat Eunhyuk dari bawah sampai atas. Eunhyuk tidak banyak menanggapi, dia hanya balas menatap perempuan itu dengan tatapan yang paling mengintimidasi.
"Sudah sampai, kita turun."
Pintu elevator terbuka, Eunhyuk menurunkan Haru dan membiarkannya berlari duluan ke ruangan Donghae. Sementara itu Eunhyuk masih berdiri di depan pintu elevator, memandang perempuan itu sambil tersenyum remeh.
"Benahi dulu lipstick dan dandananmu sebelum menggoda wakil direktur, nona. Permisi."
Eunhyuk menang telak, perempuan itu berteriak histeris di dalam elevator. Untungnya pintu elevator langsung tertutup, jadi Eunhyuk selamat dari lemparan sepatu hak tinggi berwarna merah terang itu.
"Haru? Dengan siapa kau datang?"
"Oppa."
Setelah melepaskan tas sekolahnya, Haru naik ke kursi kerja sang ayah, lalu memainkan tablet pemberian pamannya. Mengabaikan kecanggungan yang terjadi di antara ayahnya dan tetangga yang kini jadi pengasuhnya.
"Dad, paman datang hari ini?"
Gadis kecil itu bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari benda persegi panjang itu. Melihat kelakuan sang anak, Donghae menghampirinya. Dengan lembut, Donghae mengambil benda itu dari tangan Haru, lalu membuat Haru bertatapan dengannya.
"Saat bicara dengan orang yang lebih tua kau harus sopan. Pandang matanya dengan benar, jangan sambil bermain gadget. Oke? Kalau Haru tidak mengubah sikap, maka Daddy akan mengambil semua gadget Haru."
"Oke, maafkan Haru.
Donghae tersenyum sebelum mengembalikan tablet milik Haru, lalu memeluknya erat dan memberinya kecupan ringan di kedua pipinya.
"Pamanmu sibuk, sayang. Jadi beberapa hari ini tidak bisa datang ke rumah atau kemari untuk bermain dengan Haru."
Haru memberengut tidak suka, pamannya sudah berjanji akan bermain dan membelikannya iPad baru. Kini ia kembali memfokuskan pandangannya pada layar persegi yang ada dihadapannya. Mencoba melupakan janji pamannya yang tidak bisa ditepati dan akhirnya membuat hati Haru kesal.
"Maaf, mengganggumu."
"Duduklah."
Kini dua orang bodoh duduk saling berhadapan, namun tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. Tiap kali mereka saling berhadapan seperti ini, maka adegan panas mereka saat di ranjang akan terbayang di kepala mereka masing-masing. Donghae berdeham, ia mencuri pandang ke arah Eunhyuk yang sedang memperhatikan Haru di kursi kerja sang ayah. Ingin mengajaknya bicara, tapi Donghae tidak tahu akan memulainya dari mana.
"Itu—"
"Ya?"
"Besok pagi datang lebih awal ke rumah."
"Kenapa?"
"Mandikan Haru dan siapkan keperluan sekolahnya. Setiap hari aku melakukan itu dan berakhir dengan kesiangan."
Eunhyuk mengangguk pelan, lalu kemudian hening kembali menyelimuti ruangan yang sedikit dingin karena pendingin ruangan. Untuk meleburkan suasana, Donghae berinisiatif membawa teh untuk Eunhyuk. Baru ingat, ia tidak menyuguhkan apa-apa untuk tamunya. Sebenarnya Donghae bisa saja menyuruh sekretarisnya, tapi kali ini Donghae ingin memastikan Eunhyuk melihat usahanya.
"Aku akan membawakan teh."
"Oke, terima kasih."
Cukup lama Eunhyuk menunggu Donghae, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kerja Donghae. Ruangannya cukup mewah, tentu saja karena dia wakil direktur di sini. Meja kerja yang cukup luas itu sangat berantakan dengan kertas dan map yang entah apa isinya, di sisi kiri meja Eunhyuk melihat ada bingkai foto Haru bersama Donghae, sepertinya di ambil beberapa tahun yang lalu di taman bermain. Haru begitu kecil dalam pangkaun Donghae. Tapi lagi-lagi, Eunhyuk merasa heran dengan tidak adanya foto sang istri dimanapun. Di rumah maupun di kantornya, bahkan Eunhyuk pernah mengintip dompet Donghae dan tidak ada foto istrinya di sana.
Apa dia tidak mencintai istirnya?
"Maaf lama."
"Tidak apa-apa. Maaf merepotkan."
Donghae kembali dengan dua cangkir teh, kali ini ia mengambil tempat duduk di samping Eunhyuk. Sambil meneguk tehnya, Donghae kembli mencuri pandang ke arah Eunhyuk. Ingin menahannya seperti apa kata Siwon, tapi debaran di jantungnya menggila saat melihat Eunhyuk meneguk tehnya. Persetan dengan metode tarik-ulur, Donghae menarik pergelangan tangan Eunhyuk, lalu mengarahkannya ke dada sebelah kirinya, membiarkan pujaan hatinya itu merasakan detak jantung Donghae yang bergemuruh.
"Apa yang kau lakukan?"
"Kau dengar itu?"
"A—apa?"
Bola mata Eunhyuk bergerak liar, menghindari tatapan Donghae yang begitu intens. Hell, ini masih di kantor dan Haru ada di sekitar mereka. Kalau sampai Donghae mengulai perbuatannya tempo hari, maka habislah mereka. Haru mungkin akan berteriak dan mengundang semua orang untuk melihat adegan yang tidak perlu di tonton.
"H—hyung, jangan begitu."
"Aku sungguh-sungguh padamu, tidak bisakah kau membuka hatimu untukku?"
"A—ku."
"Donghae?"
Seseorang masuk dan melihat Donghae sedang memagang tangan seorang laki-laki manis. Siwon, mantan kakak iparnya itu melihat apa yang sedang dilakukan Donghae pada Eunhyuk, ia mengerutkan keningnya melihat adegan itu.
"Aku permisi, Hyung. Haru, ayo pulang sayang."
.
.
TBC
Hai, akhirnya bisa update... sebenernya ini udah beres di ketik pas hari terakhir di kantor... tapi baru bisa di post sekarang krn baru nemu warnet yg bukan untuk game...jadi koneksi cepet dan fasilitas komputernya enak untuk ngetik...
Untuk chapter depan mungkin lama... lama banget krn gak mungkin saya ngetik beginian di warnet, saya berusaha memperbaiki laptop saya, tapi memang sudah gak bisa berjalan normal... jadi terpaksa saya berhenti nulis untuk sementara krn gak ada laptop atau komputer dan gak mungkin juga ngetik di warnet. saya butuh tempat tenang kalau nulis, lagi pula ini rate M gak mungkin saya tulis di tempat umum...
Mohon pengertiannya...
Saya bener-bener ngerasa bersalah dan gak mau berhenti nulis, tapi keadaannya memaksa... tapi saya gak akan nyerah gitu aja, saya akan cari cara untuk tetap nulis sementara saya belum dapat pekerjaan yg baru. inginnya saya cepat menyelesaikan fic yg belum selesai, tapi saya gak bisa krn memang saya blm mampu beli laptop baru sementara saya blm kerja lagi...
Maaf dan terima kasih ^^
Last, Review please?
.
.
With Love,
Milkyta Lee
