Disclaimer : Naruto bukan milik saya

Don't like don't read

Tidak suka, jangan baca

Warning : Bahasa tidak baku, EYD tidak sempurna, karakter OOC

.

.

CHAPTER 4

.

Setting cerita : Ame

.

.

Melihat Sasuke yang mengernyitkan dahinya dan memasang ekspresi penuh kekhawatiran, Kakashi bertanya padanya. "Ada apa Sasuke? Kau terlihat khawatir."

"Mm. Aku memang sedang khawatir."

"Oh, tentang apa? Grafik penjualan kita di Ame menunjukkan peningkatan-"

"Bukan tentang itu." Potong Sasuke. "Tapi tentang Hinata."

Untuk sesaat Kakashi mematung. "Um, apa yang kau khawatirkan?"

"Aku khawatir dia akan melakukan hal-hal aneh selama aku pergi." Jawab Sasuke.

"Eh?! Dia tidak terlihat seperti orang yang suka melakukan tindakan ceroboh."

Sasuke menghela nafas, Kakashi benar-benar tidak memahami seperti apa sosok Hinata. "Kau tidak tahu Kakashi, ketika aku pulang dari Suna dulu ia merubah total interior rumah. interior yang dulunya elegan dan berkelas berubah menjadi aneh dan benar-benar tidak sedap dipandang."

"Ah… mungkin ia ingin mengubah rumah kalian menjadi lebih nyaman dengan tambahan sentuhan pribadi."

Kini Sasuke terlihat jengkel. "Kakashi… dia menurunkan lukisan karya seniman terkenal yang ada di dinding dan menggantinya dengan foto-foto yang ia pilih. Ia memberikan taplak pada meja kaca ruang tamu dan membuat meja itu terlihat konyol. Ia juga memasang pernak-pernik aneh di seluruh penjuru rumah yang sangat kontras dengan desain interior asli."

Kakashi justru tampak tertarik. "Ah, sudah lama aku tidak masuk ke rumahmu. Kini menjadi seaneh apa?"

"Pokoknya sangat aneh. Ia meletakkan bola kristal warna-warni, snow globe, dan patung kelinci mini diantara vas-vas antik dan mahal yang ada di rak, benar-benar mengurangi nilai estetikanya. Ia juga menaruh bantal sofa warna-warni dan dua buah bantal berbentuk kepala kucing di ruang tamu. Ia juga menempelkan berbagai sticker berbentuk aneh di pintu, ah… juga sticker glowing in the dark di dinding lantai dua. Ugh, aku tidak ingin membahas sisanya."

Kakashi tertawa . "Apakah juga ada sesuatu yang menarik di dapur rumahmu?"

"Tidak begitu banyak. Hinata mengoleksi toples berbentuk hewan. Kau tahu, toples dengan tutup berbentuk wajah-wajah hewan yang ia anggap 'imut, lucu, dan menggemaskan' entah darimana ia membeli toples-toples semacam itu. Ah, ia juga menempelkan berbagai hal di kulkas mulai dari resep makanan, pengingat, hingga jadwal TV favoritnya."

Tawa Kakashi semakin keras.

Sasuke masih melanjutkan perkataannya. "Kemudian tanpa sepengetahuanku ia menggantung foto pengantin super besar di dinding. Ia juga mengisi teras depan dengan berbagai macam pot bunga. Ah, juga ada pot gantung dengan tumbuhan yang menjuntai ke bawah. Kemudian ia menggantungkan lampion warna-warni di pohon yang berada di halaman. Ia juga menaruh beberapa patung kurcaci berwajah jelek di taman yang merusak pemandangan. Lalu ia mengubah halaman belakang rumah menjadi ladang pertanian yang ia tanami berbagai jenis sayuran."

"Bukankah menanam bunga di pot adalah sesuatu yang bagus? Membuat rumah menjadi asri."

"Mungkin memang begitu jika hanya ada dua, tiga, atau lima pot. Tapi Hinata membuat 14 pot bunga berjajar di teras dan ada 6 tanaman gantung yang menghalangi pemandangan!"

"Jika dipikir-pikir memang sedikit berlebihan…" Komentar Kakashi. "Apa kau sudah membicarakan ini semua dengan Hinata?"

"Tidak. Belum. Entahlah. Aku tidak ingin merusak kesenangannya." Jawab Sasuke.

Entah kenapa Sasuke tidak ingin melihat Hinata bersedih dan kecewa dengan penolakannya. Ugh, terutama foto raksasa itu. Setiap kali melihatnya Hinata selalu memasang ekspresi bangga, puas, dam senang. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Yang jelas Sasuke tidak tega jika harus menurunkan foto itu.

Meski begitu bukan berarti Sasuke akan diam saja melihat rumahnya dipenuhi keanehan seperti itu. Sasuke akan berniat 'tidak sengaja' menyiramkan air panas di pot-pot itu sehingga tanamannya akan langsung mati. Mungkin ia akan berjalan-jalan di taman dan 'tidak sengaja' menghancurkan patung kurcaci berwajah jelek. Lalu ia akan merusak lampion-lampion itu dan mengatakan jika itu adalah salah angin yang bertiup terlalu kencang. Kemudian ia juga akan 'tidak sengaja' menyenggol patung kelinci yang ada di pajangan. Sampai saat ini Hinata masih tidak menyadari jika sticker yang ia tempel di pintu kamar Sasuke 'tidak sengaja' dilepasnya.

Mungkin untuk kebun di belakang rumah ia akan membiarkannya.

Toh, apa salahnya dengan memetik sayuran segar yang kau tanam sendiri.

Sasuke kembali berbicara. "Yang jelas saat ini aku menitipkannya di kediaman Hyuuga sebelum ia melakukan hal-hal gila seperti mengubah cat tembok menjadi warna hijau lumut, atau ungu cerah, atau bahkan warna pelangi. Ah… atau membuat graffiti di dinding. Atau mengadopsi sepuluh ekor kucing jalanan."

Apapun bisa terjadi.

"Kurasa kau sedikit berlebihan, Hinata tidak mungkin segila itu."

"Aku tidak berlebihan. Seseorang seperti Hinata selalu melakukan hal-hal yang tidak terduga." Gumam Sasuke.

Istrinya itu sangat suka menonton drama di TV. Setelah menonton itu Hinata selalu mendapatkan hal-hal gila. Mungkin ia harus membuat Hinata mengurangi tontonannya itu dan mulai mengisi kepalanya dengan hal-hal yang bermanfaat.

"Hey Kakashi… mengapa aku semakin lunak setiap kali menghadapi Hinata?"

Kakashi tersenyum penuh arti. "Mungkin kau sedang jatuh cinta."

Sasuke langsung membeku. "Jangan mengatakan hal-hal yang bodoh."

"Hey, itu bukanlah hal yang mustahil. Kalian adalah suami istri yang tinggal seatap dan selalu berinteraksi setiap hari. Terlebih lagi Hinata adalah wanita cantik. Jatuh cinta adalah hal yang wajar."

Jatuh cinta?

Dengan Hinata?

Itu tidak mungkin… kan?

Sejujurnya ia tidak pernah memikirkan mengenai hal ini sebelumnya.

Sasuke memijit dahinya. "Dia adalah wanita yang aneh, menyebalkan, dan banyak kekurangan. Ia juga sangat cengeng, bodoh, lugu dan naif. Ia sangat membingungkan dan jalan pikirannya sangat sulit ditebak meski ia memiliki wajah dengan ekspresi yang mudah dibaca."

Bayangkan saja, istrinya itu sangat terkagum-kagum ketika dulu ia memberikan oleh-oleh pasir. PASIR! Sasuke rasa itu bukanlah respon manusia normal pada umumnya. Bahkan Hinata memanfaatkan pasir itu untuk menanam kaktus. Ia benar-benar tidak mampu memahami jalan pikiran istrinya itu.

Sejujurnya ia lupa membeli oleh-oleh untuk Hinata. Saat ia mengingatnya, Sasuke sudah berada di mobil dalam perjalanan menuju bandara. Di luar mobil, yang ada hanyalah padang pasir membentang luas. Tanpa banyak pikir lagi ia menghentikan mobilnya dan turun untuk mengambil beberapa genggam pasir.

Saat sampai di Konoha, awalnya ia tidak berniat memberikan pasir itu. Namun ketika ia melihat keadaan rumahnya yang berubah dan Hinata yang membuatnya kesal karena menyembunyikan kopi kesukaannya, ia berubah pikiran dan memberikan pasir itu untuk membuat Hinata marah. Tapi siapa sangka…

Hah… entah kenapa ia jadi sedikit merasa bersalah.

"Nah, menurutku dia manis." Komentar Kakashi.

"Mm. Yah… dia memang manis." Kata Sasuke sambil tersenyum.

Dia adalah Hinata… dia adalah seseorang yang istimewa dan tidak ada duanya…

.

.

Please review

Oh Sasuke… Hinata melakukan itu semua karena ingin membuat rumahmu menjadi rumah yang hangat dan istimewa bagimu.