Saat ini aku keluar dari minimarket yang berbeda dua blok dari apartement kami. Aku baru saja membeli paracetamol, alka-seltzer dan dua bungkus besar cokelat putih. Jongin mabuk parah tadi malam. Bisa dibilang tidak ada yang menang ataupun kalah dalam taruhan semalam karena keadaan Kris hyung pun tidak lebih baik dari keadaan Jongin. Setelah gelas kelima mereka mulai meracau tak jelas.

Diawali dari Kris hyung yang berkata, "Jjong bodoh. Apa susahnya memaafkanku?"

"Kau lebih bodoh karena masih mengharapkan maaf dari orang bodoh Yi Fan hyung." Diselingi dengan cegukan saat berbicara Jongin meneruskan, "Haah si bodoh ini sebenarnya sudah memaafkanmu dari dulu, tapi kenapa melihat muka bodohmu itu aku selalu marah lagi?"

Kris hyung menenggak gelas ke enamnya sebelum dia menjawab, "Tidak usah khawatir, bulan depan aku dan Jongdae-ku akan menetap di China. Kau tidak akan melihat muka bodohku lagi."

"Sudahlah baby, kau sudah terlalu banyak minum." Chen hyung menghentikan Kris hyung sebelum menenggak gelasnya yang ke tujuh.

"Baguslah jadi aku tidak harus repot-repot kesal lagi karena muka bodohmu." Jongin berucap dengan tidak jelas.

"Ya! Dasar kalian orang-orang bodoh kenapa harus melakukan taruhan seperti ini jika hanya ingin membicarakan hal bodoh seperti tadi?" Jongin dan Kris hyung mulai tak sadar saat Chen hyung berkata begitu. Mereka hanya bergumam tidak jelas dengan mata yang tidak terbuka sepenuhnya sedangkan kepala sudah menempel dengan meja bar.

"Ah percuma bicara pada orang bodoh seperti kalian!" Chen hyung sudah benar-benar kehilangan kesabarannya. Dia menghela nafas lalu bicara padaku, "Sehunna, sebenarnya Kris dan aku ingin pamitan pada kalian. Tapi dia terlalu pengecut untuk mengucapkannya dalam keadaan sadar, yaah beginilah jadinya."

"Kalian akan benar-benar menetap di China hyung?" Tanyaku penasaran.

"Begitulah, aku dan Kris mendapatkan pekerjaan yang cukup bagus disana, lagi pula ibunya Kris juga menginginkan kami tinggal di China saja." Chen hyung menjelaskan. "Sewalah kamar yang kosong Sehunna. Sepertinya Jongin benar-benar parah." Chen hyung meneruskan.

Setelah itu pun aku harus memapah Jongin ke mobil. Jongin jika sudah mabuk akan parah sekali. Maka dari itu aku lebih memilih memapahnya dan menyetir sendiri kembali ke apartement.

Jongin sedang muntah-muntah saat aku memasuki apartement kami. Aku pun bergegas ke kamar mandi, tidak lupa membawa segelas air agar Jongin bisa langsung meminum paracetamolnya. Aku masih menunggu Jongin selesai dengan muntahnya sambil sesekali memijat tengkuknya. Efek setelah mabuk itu layaknya kepalamu berubah menjadi bola yang bisa memantul ke mana saja dan sakitnya seperti kepalamu sedang dijerat oleh kawat, sakit sekali, saking sakitnya itu membuatmu mual dan mengeluarkan semua isi perutmu. Aku sebenarnya sangat suka minum, tapi efek setelahnya mebuatku berpikir dua kali untuk minum sampai mabuk, maka dari itu jika ingin, aku hanya meminum Muscat seperti semalam.

Setelah Jongin selesai dengan muntahnya aku langsung memberikan dua buah paracetamol untuk diminumnya, satu tidak akan cukup untuknya. Setelah itu aku memapahnya ke sofa di depan tv kami.

"Tunggu sebentar, aku akan menyeduh alka-seltzer untukmu dulu." Dia hanya mengangguk.

Aku bergegas ke dapur untuk menyeduhkan minuman itu untuknya lalu kembali ke tempat Jongin duduk untuk memberikan minumannya. Selagi dia meminum alka-seltzernya aku membukakan bungkus cokelat putih yang tadi ku beli, dan dia langsung memakan cokelat itu setelah selesai dengan alka-seltzernya.

"Sudah baikan?" Tanyaku.

"Lebih baik dari pada tadi." Lalu menggigit lagi cokelat putihnya. "Temani aku berenang Sehunna." Pintanya kemudian.

"Tunggulah disini, akan kuambilkan celana renangmu." Dia hanya mengangguk sambil mengunyah cokelatnya.


Berenang memang hal yang biasa kami lakukan setelah mabuk malamnya, entah kenapa bau kaporit dan riak air yang kami sebabkan saat berenang dapat membantu mengembalikan kesadaran kami. Aku hanya berenang sebentar menemani Jongin. Sementara Jongin masih berenang aku memilih untuk berjemur karena mataharinya cukup hangat. Kolam renang apartement kami terletak di lantai paling atas, hanya ada tiga orang di kolam renang, mungkin karena ini hari kerja dan masih jam satu siang jadi kolam ini sepi.

Menemani Jongin berenang jadi mengingatkanku pada pertemuan pertama kami. Aku adalah siswa pindahan saat itu, sifatku yang pendiam membuatku tidak mempunyai banyak teman, aku juga sempat beberapa kali di bully oleh siswa yang lain, tubuhku yang kurus dan berkulit pucat membuat mereka menganggapku lemah dan mudah di bully. Sampai suatu saat setelah selesai test renang dan sedang berjalan untuk membilas badanku siswa-siswa itu menggendongku dan menjatuhkanku di kolam sedalam tiga meter yang biasanya digunakan oleh orang dewasa. Bisa ku dengar tawa mereka semakin menjauh, aku yang tidak siap dan kemampuan renangku juga di bawah rata-rata hanya bisa pasrah saja, lalu, seperti dalam drama-drama picisan yang sering ditonton Minseok hyung Jongin datang menyelamatkanku, sejak itu pula Jongin berteman denganku dan menjagaku agar tidak di bully lagi.

Aku rasa aku tertidur saat merasa tetesan air jatuh ke mukaku, setelah membuka mata aku langsung melihat Jongin diatasku dengan senyum konyolnya, Jongin menciumku cepat lalu berkata, "Sudah bangun snow white?" Menjauhkan badannya dan duduk disebelahku.

Aku hanya mendengus, "Sepertinya paracetamol dan cokelat putih sudah menjalankan tugasnya huh?" Tanyaku.

"Hmmm. Pikiranku sejernih air kolam." Katanya sambil memakai kacamata hitamnya, dia ikut berjemur juga. "Apakah tadi malam aku menang Sehunna?"

"Tidak ada yang menang semalam. Kau tidak ingat apa yang dikatakan Kris hyung semalam?" kataku sambil kembali memejamkan mata menikmati hangatnya sinar matahari.

"Tidak, aku kan mabuk semalam."

"Kris dan Chen hyung akan menetap di China, kemarin itu dia ingin pamit pada kita tapi Kris hyung tidak berani mengatakan langsung padamu, jadilah kalian bertaruh seperti orang bodoh semalam."

"Ck dia yang bodoh. Apa masalahnya sampai tidak berani menyampaikan langsung?" Jongin menggerutu.

"Mereka akan pindah bulan depan." Kataku lagi dan Jongin tidak memberikan respon apa pun, entahlah dia mendengarkan atau tidak.


Saat ini aku baru saja melakukan terapiku dengan Minseok hyung, karena agoraphobiaku sudah tidak pernah kambuh lagi aku pun hanya melaporkan sakit kepala yang menyerangku setelah bangun tidur dan juga tentang mimpi buruk yang masih sering kualami. Minseok hyung meminta terapi di apartementku dan Jongin untuk mengganti suasana katanya.

Aku sedang membantu Minseok hyung menyiapkan makan malam untuk kami sekarang, Jongin masih ada urusan dengan club dancenya, dia akan datang saat jam makan malam nanti katanya. Minseok hyung sedang memanggang sirloin sementara aku membantu membuat mashed potatoes.

"Ku dengar Jongin mabuk parah saat acara Kyungsoo dan Baekhyun, tidak biasanya dia sampai mabuk Sehunna. Ada apa memangnya?" Tanya Minseok hyung.

"Kris hyung mengajaknya taruhan, siapa yang mabuk duluan harus mengikuti permintaan yang menang, Kris hyung minta dimaafkan oleh Jongin, sedangkan Jongin meminta Kris hyung menjauhi kami. Jongin itu berlebihan sekali, padahal apa susahnya memaafkan?" Jelasku.

"Kau seperti tidak tahu Jongin saja." Minseok hyung menanggapi.

"Siapa yang tidak tahu aku?" Jongin menyahut dari meja makan.

Aku hanya mendengus melihatnya yang tiba-tiba muncul. Jongin itu suka sekali mengendap-ngendap untuk mengejutkanku atau siapa pun yang ada di apartement.

"Setidaknya katakanlah 'Aku pulang' Jongin." Kata Minseok hyung dengan sabar.

"Aku pulang." Kata Jongin dengan suara yang dibuat-buat seperti anak kecil.

"Telat." Kataku menanggapi Jongin.

"Mandilah dulu Jongin, sebentar lagi makan malam siap." Kata Minseok hyung saat melihat Jongin berjalan ke arahku.

"Malas hyung. Aku sudah wangi." Katanya sambil memelukku dari belakang.

"Lepaskan Jongin, kau bau. Lagipula aku sedang membantu Minseok hyung, nanti masakan kami tidak selesai-selesai jika kau mengganggu terus. Minseok hyung akan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Jongin. Sedangkan Jongin hanya mendengus lalu berjalan ke kamar mandi.


Kami baru saja selesai makan malam, aku sedang mengupas beberapa buah untuk pencuci mulut kami. Jongin dan Minseok hyung sedang mengobrol di ruang TV. Aku langsung menyusul ke ruang TV setelah selesai mengupas buah.

"Jadi Sehunna bisa dibilang sudah sembuh kan hyung?" Kudengar Jongin sedang bertanya pada Minseok hyung saat aku memasuki ruang tamu.

"Sembuh yang ku maksud itu Sehunna tidak akan 'hilang' lagi selama dia bisa mengendalikan diri dari phobianya terhadap keramaian," aku mendudukan diriku disebelah Jongin saat Minseok hyung menjelaskan pada Jongin, "jika nanti ada keadaan dimana dia tidak dapat mengendalikan dirinya terhadap phobia tersebut dia bisa saja 'hilang' lagi." Jongin menghadap ke arahku dan tersenyum senang.

"Ah iya Sehunna, Zoloft yang kuberikan sudah habis kan?" Tanya Minseok hyung.

"Masih tersisa beberapa buah kurasa hyung, aku meminum satu buah tadi pagi, seperti yang sudah kuceritakan tadi malam aku mimpi buruk lagi dan begitu terbangun kepalaku sakit sekali." Jawabku.

"Aku baru diberi tahu oleh temanku kemarin, kalau olahraga dan yoga bisa membantu mengurangi sakit kepalamu. Untuk masalah mimpi buruk berhentilah cemas memikirkan apa yang akan terjadi besok Sehunna." Minseok hyung menatapku dengan senyumnya yang menyejukkan dan melanjutkan, "Zoloftmu akan kuambil ya. Kau harus terbiasa tanpa obat itu mulai dari sekarang."

Aku mengangguk ragu."Kau harus terbiasa Sehunna!" Jongin memandangku seperti seorang ayah yang sedang memarahi anaknya. Aku segera mengambil obatku di kamar dan kembali ke ruang TV.

"Besok Kris dan Chen akan berangkat ke China, kalian datanglah." Minseok hyung memberi tahu kami.

"Malas hyung." Kata Jongin sambil memindah-mindahkan channel TV yang dari tadi tidak kami tonton.

"Jangan keras kepala begitu Jongin, mereka kan belum tentu kembali kesini lagi." Minseok hyung menasehati.

"Kami akan datang hyung. Jam berapa kami harus disana?" Kataku memotong protes dari Jongin sebelum dia sempat mengeluarkannya. Jongin terlihat kesal dan langsung memasuki kamar kami.


Aku sedang menyetir menuju bandara sekarang. Sebenarnya aku terpaksa menyetir karena Jongin benar-benar tidak mau ke bandara untuk mengantar Kris dan Chen hyung, dia bahkan mengajakku menonton film sampai jam empat pagi agar aku bangun kesiangan dan tidak ke bandara. Aku sampai harus menyeret Jongin ke mobil agar dia mau ikut ke bandara, tidak peduli dia meminta untuk mandi atau berganti baju dulu, itu hanya alasannya saja untuk mengulur waktu agar kami terlambat.

"Sekarang yang bodoh kau atau Kris hyung? Apa susahnya memaafkan orang yang tidak akan kau lihat lagi mukanya?" Aku memecah keheningan diantara kami. Sebentar lagi kami sampai dan aku mulai jengah dengan sikap kekanakan Jongin kalau sudah menyangkut masalah Kris hyung, belum lagi kepalaku sakit sekali karena kurang tidur, karena obatku diambil Minseok hyung saat terapi kemarin, aku pun tidak bisa menghilangkan sakitnya.

"Kau bahkan tidak mengizinkanku ganti baju atau sekedar cuci muka Sehunna. Kekasihmu yang tampan ini akan berjalan dengan baju tidurnya di bandara. Aisssh untung aku memakai kaosku saat tidur tadi." Terdengar sekali kegusaran dari nada bicaranya, Jongin hanya beralasan.

Aku segera memarkirkan mobil begitu kami sampai. Jongin masih terdiam ditempatnya.

"Turun atau ku seret kau ke dalam?" Kataku dingin.

Jongin hanya mendengus dan turun dari mobil. Diam-diam aku tersenyum melihat kelakuannya, Jongin yang penurut.

Setelah mengunci mobil kami pun jalan beriringan ke bandara, Jongin jalan dengan ogah-ogahan tanpa menggenggam tanganku seperti biasanya sehingga memperlambat langkah kami, aku benar-benar hilang kesabaran sehingga harus menyeretnya lagi. Saat kami sampai di dalam terlihat Minseok hyung sedang mengobrol dengan Chen hyung. Kris hyung menyadari kedatangan kami hanya menatap kami sambil mengerutkan dahinya, sepertinya dia heran kenapa kami kesini.

"Hyungdeul, berapa lama lagi pesawat kalian akan berangkat?" Tanyaku saat sampai dihadapan mereka. Minseok hyung juga akan ke China, sementara saja. Ada beberapa teman yang ingin dikunjungi katanya.

"Masih satu jam lagi Sehunna." Jawab Chen hyung. "Well, aku senang kalian datang. Aku pikir Jongin tidak akan mau menemui kami lagi." Chen hyung meneruskan.

"Memang tidak." Jongin melepaskan pegangan tanganku padanya dan duduk di sebelah Minseok hyung. Chen hyung mendelik mendengarnya, dia bukan tipe orang yang suka berbasa-basi sebenarnya. Pasti Chen hyung sangat sebal sekarang.

"Ah jangan dengarkan dia hyung, dia kalau belum mandi memang suka begitu." Kataku agar Chen hyung tidak marah, kepalaku benar-benar sangat sakit sekarang. "Ah iya, aku pinjam Minseok hyung dulu ya." Aku pun langsung menarik Minseok hyung sebelum orang yang kumintai persetujuan menjawab pertanyaanku.

"Ada apa Sehunna?" Tanya Minseok hyung heran setelah kami berada agak jauh dari ketiga orang tadi.

"Apakah kau bawa obat yang kemarin kau ambilhyung? Aku baru tidur jam empat dan harus bangun sepagi ini, ditambah lagi kekasih hitamku yang sangat keras kepala itu membuat kepalaku mau pecah rasanya."

"Aku membawa beberapa Sehunna, tapi kau harus menghindari minum obat terus Sehunna. Ingat janjimu pada Jongin?"

"Kumohon hyung, satu saja. Aku janji setelah ini aku tidak akan meminta atau membeli obat itu lagi. Tolong lah hyung, aku tidak bisa membuat Jongin memaafkan Kris hyung jika sakit kepala seperti ini." Minseok hyung tampak berpikir, aku pun tetap menunjukkan tampang memelasku dihadapannya.

"Baiklah, hanya satu dan ini yang terakhir." Kata Minseok hyung akhirnya sambil mengambil obat yang ada di dalam tasnya lalu memberikannya padaku.

"Terima kasih Umin hyung! Kau memang yang terbaik!" Kataku sambil memeluknya singkat.

"Aku mau beli air dulu ya hyung, tolong jaga kekasih hitamku." Kataku sambil berjalan kearah mini market.

"Tidak mau kutemani?" Teriak Minseok hyung.

"Tidak usah." Balasku berteriak juga.

Mini market yang letaknya lumayan jauh dari terminal keberangkatan hyung-hyungku dan keadaan bandara yang sangat ramai pagi ini entah karena apa, membuatku kewalahan. Sakit kepala ini benar-benar menyiksa. Aku mulai susah memfokuskan penglihatanku, bandara ini sangat sesak sekali rasanya, banyak gadis-gadis yang meneriakan satu nama, sepertinya akan ada artis yang datang. Setelah itu suasana benar-benar tidak terkendali, mereka saling dorong dan itu menyebabkan aku terdorong juga, kepalaku yang sakit membuatku susah untuk memfokuskan penglihatanku sehingga habis itu aku tidak ingat lagi apa yang terjadi.


Terima kasih karena sudah mau membaca dan me-review fiction ini, review kalian benar-benar membantuku memberi inspirasi untuk meneruskan fiction ini :)