Between You and Me

.

.

.

.

.

[HirumaYoichi, Haruno Sakura] Anezaki Mamori

.

.

.

.

.

©Aomine Sakura

.

.

.

.

Riichiro Inagaki, Yusuke Murata, Masashi Kishimoto

.

.

.

.

(Jika tidak suka dengan cerita yang dibuat Author atau adegan didalamnya, silahkan klik tombol 'BACK')

DLDR! DILARANG COPAS DAN PLAGIAT DALAM BENTUK APAPUN!

oOo Selamat Membaca! oOo

Suara alat makan terdengar di kediaman Haruno. Sakura makan dengan tenang, begitu pula dengan kedua orang tuanya yang sedang makan malam bersama. Ini adalah makan malam pertama baginya setelah melanjutkan sekolahnya di Perancis.

"Sakura, kamu masih berhubungan dengan Hiruma?"

Mengangkat kepalanya, Sakura memandang ibunya yang makan dengan tenang. Ayahnya yang biasanya banyak mengeluarkan lelucon garingnya, mendadak menjadi pendiam. Dia sudah hafal, bahwa ada sesuatu yang ingin dibicarakan.

"Iya."

"Kamu tahu bukan, jika kaa-san tidak setuju jika kamu bersama dengan Hiruma?"

Ah, inilah yang dia tidak suka dari orang tuanya. Orang tuanya selalu memaksakan kehendaknya dan membuatnya menjadi pemberontak. Orang tuanya menentang keinginannya untuk menjadi model dan desainer ternama, orang tuanya ingin dirinya menjadi dokter dan itu bertentangan dengan keinginannya.

Hingga akhirnya, dia mendaftarkan dirinya dan mendapatkan beasiswa di Perancis. Dia tidak peduli dengan orang tuanya yang menentang keinginannya. Dia dapat membuktikan jika dirinya bisa menjadi sukses.

"Tetapi Saku mencintainya."

"Sakura, dengarkan apa kata kaa-sanmu."

Dia sudah tidak tahan dengan semua ini. Bangkit dari posisi duduknya, dia berjalan menuju kamarnya dan mengunci pintu kamarnya. Mendudukan dirinya diatas lantai, dia menekuk kakinya dan tidak bisa menahan tangisannya.

Kenapa.. kenapa orang tuanya selalu memaksa keinginannya?

.

.

.

.

Mamori menarik napas panjang dan memandang wajahnya di cermin. Rambutnya setengah basah karena setelah Yamato mengantarkannya pulang, dia langsung masuk ke dalam kamar apartemennya dan mandi. Rasanya kepalanya terasa lebih ringan.

Ddrrrtt.. ddrrtt..

Memandang ponselnya yang menyala, Mamori mengambil ponselnya dan mengangkat telepon yang masuk.

"Yaa! Mamo-nee!"

Mamori tidak bisa menahan senyumnya dan mendudukan dirinya diatas ranjangnya. Mendengar suara Suzuna membuatnya rindu akan kampung halamannya. Entah apa yang dia pikirkan dulu, hingga mengikuti setan dari Neraka itu bahkan hingga ke Amerika dan meninggalkan orang-orang tersayangnya.

"Ada apa, Suzuna?"

"Aku merindukanmu, Mamo-nee! Kapan kalian akan kembali ke Jepang?"

"Entahlah, mungkin sebelum christmas Bowl dimulai."

"Kami akan menunggumu, Mamo-nee!" ucap Suzuna. "Ngomong-ngomong, bagaimana hubunganmu dengan Yo-nii? Apakah kalian akhirnya jadian? Nee, nee?"

Mendengar suara Suzuna yang begitu semangat membuat dadanya terasa sangat sesak. Dia tersenyum kecut dan memandang jendela kamarnya, hujan turun membasahi kota malam itu.

"Sudah ya, Suzuna. Aku mau tidur."

Mematikan sambungan telepon, Mamori mematikan ponselnya. Moodnya menjadi buruk ketika Suzuna mengungkit tentang perasaannya saat ini.

.

.

.

Suara ketikan laptop terdengar di sebuah ruangan. Seorang pria meniup permen karetnya, mengabaikan suara hujan yang turun selama satu jam lamanya. Matanya terfokus pada laptop yang ada dihadapannya.

Suara bel pintu apartemennya yang dibunyikan membuyarkan konsentrasinya. Kakinya yang panjang, berbalut celana hitam panjang miliknya, berjalan menuju pintu apartemennya dan membukakan pintu bagi tamu yang datang. Tidak biasanya ada yang bertamu ke kamar apartemennya.

Dia yakin, bukan timnya yang mengetuk pintu kamarnya. Apalagi sekarang pukul sebelas malam dan semua anggota timnya sedang sibuk dengan urusannya masing-masing.

Dan ketika pintunya terbuka, dia terkejut melihat siapa yang berdiri di depan pintu apartemennya dengan kondisi yang basah kuyup.

"Sakura, apa yang kamu-"

Kata-kata Hiruma tercekat di tenggorokannya ketika Sakura memeluknya dan menenggelamkan kepalanya di dadanya.

"Yo-kun, aku tidak mau berpisah darimu."

Dan Hiruma tahu apa yang menjadi masalah Sakura.

.

.

.

.

"Terima kasih dan maaf merepotkanmu."

Sakura menerima cangkir berisi coklat hangat. Dia mengenakan kemeja milik Hiruma. Dia tidak tahu apa yang dipikirkannya hingga kabur dari rumahnya dan menuju apartemen Hiruma. Yang ada dipikirannya adalah, bahwa dia tidak ingin dipisahkan dari pria itu.

"Kaa-sanmu?"

Hiruma menyandarkan tubuhnya pada dinding di belakangnya dan melirik Sakura yang menundukan kepalanya dengan rambut yang basah. Menganggukan kepalanya, Hiruma meniupkan permen karetnya. Dia sangat tenang. Tenang sekali. Tetapi, tidak ada yang tahu jika dirinya sangat gusar sekarang.

Orang tua Sakura memang tidak setuju dengan hubungan yang dijalin putri mereka. Dia bukannya tidak sadar, dia sangat sadar jika dirinya adalah setan dari Neraka dan tidak ada orang tua yang menginginkan putrinya bersamanya. Entah mengapa, hanya dihadapan Sakura dirinya dapat terlihat begitu rapuh.

Dirinya sudah meminta Sakura untuk mengakhiri hubungan mereka. Namun, Sakura tetap ingin mempertahankan hubungan mereka hingga saat ini. Dia tahu, jika Sakura bahkan akan melakukan hal yang nekat.

"Sakura-"

"Tidak. Aku sudah berkata berulang kali jika aku ingin bersamamu, Yo-kun."

Meletakan cangkirnya, Sakura bangkit dari duduknaya dan menghampiri Hiruma. Dia melingkarkan tangannya di belakang leher Hiruma dan mencium bibir pria itu dengan lembut. Dia bahkan bisa merasakan rasa mint dari permen karet yang biasa di makan Hiruma. Tidak. Dia tidak mau berpisah dari Hiruma, dia hanya ingin bersama dengan setan dari Neraka itu dan selalu berada di sisinya.

Entah sejak kapan, pakaiannya sudah tergeletak di lantai dan sekarang dirinya berada diatas ranjang Hiruma. Malam ini, dia akan memberikan apapun yang telah dijaganya.

oOo

Mamori terbangun bahkan sebelum matahari terbit. Dia sudah terbiasa bangun di pagi hari dan memasakan sarapan untuk anggota timnya. Mereka tinggal di satu lantai apartemen yang disewa oleh kapten mereka dan menjadikannya sebagai tempat berkumpul dan berlindung.

Memandang ponselnya, dia baru menyadari jika ponselnya mati semalaman setelah Suzuna menelponnya. Dia benar-benar kehilangan moodnya setelah perbincangan terakhir mereka. Rasanya jika dia teringat dengan Hiruma dan Sakura, membuat hatinya benar-benar sakit dan dadanya terasa sangat sesak.

Padahal dia kira, selama ini segala perhatian yang diberikan Hiruma adalah untuknya. Kaptennya itu selalu perhatian padanya dan begitu pula dengannya. Siapa yang menyangka jika ternyata Hiruma sudah memiliki seorang kekasih.

Mengikat rambutnya, Mamori berjalan menuju dapur. Dan betapa terkejutnya ia ketika menemukan Sakura berada di dapur dengan apron pink yang melekat di tubuhnya.

"Sakura-san?"

"Oh, Mamori-san. Maaf aku memakai dapurmu." Sakura tersenyum dan mengaduk masakannya. "Aku memasak apa yang ada di kulkas. Semalam aku mengunjungi Yo-kun dan menginap, jadi biar aku yang membuatkan sarapan untuk kalian, ne."

"Ah iya, terima kasih banyak. Biar aku bantu, Sakura-san."

Mamori membantu apa yang dia bisa. Melihat Sakura memasak dengan cekatan membuat sisi lain dari dirinya merasa minder. Dia merasa tidak pantas berada di sisi Hiruma, mengingat betapa sempurnanya Sakura. Wanita itu cantik, pintar bahkan manis. Wanita itu bisa membaur dengan sekelilingnya.

Apalagi, wanita itu yang selalu mendampingi kapten mereka. Dia bahkan merasa tidak tahu apapun mengenai Hiruma. Dilihat dari segi manapun, dia tidak akan bisa menang melawan Sakura.

Matanya tidak sengaja menangkap sebuah ruam merah di leher Sakura. Tanpa diberitahupun, dia tahu apa ruam merah di leher Sakura. Dia bukan anak kecil lagi, dia bisa membayangkan apa yang keduanya lakukan dan itu membuat dadanya terasa sangat sesak.

"Maaf Sakura-san, aku harus ke toilet sebentar."

Sakura menganggukan kepalanya dan membiarkan Mamori meninggalkannya. Mamori menuju balkon di lantai apartemen mereka dan menghirup dalam-dalam udara pagi hari. Dadanya terasa sangat sesak.

Jadi, selama ini dia hanyalah berharap pada bayangan? Sungguh sakit sekali rasanya. Dia tidak tahu, jika cinta bertepuk sebelah tangan akan sesakit ini.

"Mamori, apa yang kamu lakukan disini?"

Mamori buru-buru menghapus air matanya. Dia menolehkan kepalanya dan menemukan Yamato ada di belakangnya. Pria itu berdiri dengan pakaian tidur miliknya.

"Yamato-kun.."

Mamori membulatkan matanya ketika Yamato memeluknya begitu saja. Bahkan saat dia terpuruk seperti ini, kenapa Yamato yang ada di sampingnya?

.

.

.

"Masakanmu sangat lezat, Sakura-chan."

"Jangan menggodanya, gimbal sialan!"

Ruang makan sudah ramai ketika Mamori datang bersama dengan Yamato. Anggota Teikou Devil Bats sudah berkumpul dan mulai makan. Bahkan, Agon terlihat bersemangat menggoda Sakura yang sedang menyiapkan sarapan.

"Oh, kalian baru datang!" Ikkyu menyapa Mamori dan Yamato. "Cobalah masakan Sakura-san, masakannya lezat sekali."

"Kekekeke.. Tentu saja."

Mamori hanya tersenyum sumbang dan duduk di salah satu kursi yang telah disiapkan Yamato. Sedangkan pria berambut coklat itu duduk di sebelah Mamori.

Mamori tidak banyak bicara. Dadanya masih terasa sangat sesak ketika melihat interaksi antara Hiruma dan Sakura.

"Aku membuatkan kalian nasi goreng." Sakura berjalan mendekati mereka dan memberikan dua piring nasi goreng dihadapan mereka. "Kalian pasti kerepotan sekali mengatur tim seperti ini."

Yamato tersenyum manis dan menanggapi perkataan Sakura.

"Ya begitulah mereka, sangat ramai dan berisik."

Mamori tidak menanggapi. Dia hanya diam dan menundukan kepalanya. Dia bahkan tidak tahu bagaimana mengobati rasa sesak yang semakin menyeruak dan menyiksanya.

"Aku mau ke toilet."

.

.

.

Hiruma melangkahkan kakinya keluar kamarnya ketika meyakinkan jika Sakura sudah tidur. Entah mengapa, malam mulai larut namun rasa kantuk belum menyerangnya sama sekali dan dia merasa bosan.

Matanya menangkap seseorang yang berdiri di balkon apartemen dan membiarkan angin malam menerbangkan helaian rambutnya yang Indah.

"Kenapa belum tidur, manager sialan?"

Merasa nama panggilannya disebut, Mamori menolehkan kepalanya.

"Oh, Hiruma-kun." Memori tersenyum. "Aku belum mengantuk."

Hiruma tidak menanggapi, dia berjalan mendekat dan mengeluarkan permen karet dari saku celananya sebelum memakannya. Beberapa menit lamanya, tidak ada yang berbicara.

"Kenapa kamu malah disini, Hiruma-kun? Bagaimana dengan Sakura-san?"

"Dia sedang tertidur."

"Oh." entah mengapa, ada rasa kekecewaan di hatinya."Aku tahu kalian melakukan hal itu, Hiruma-kun."

Mengangkat satu alisnya, Hiruma memandang memori dengan pandangan tidak mengerti.

"Katakan dengan benar, manager sialan!"

"Aku tidak sengaja melihat bekas yang kamu tinggalkan di leher Sakura-san."

"Lalu,apa hubungannya denganmu?" tanya Hiruma.

Mamori menggigit bibirnya. Beberapa hari belakangan,Hiruma memang sudah tidak berkata kasar lagi. Sudah mengurangi kebiasaannya, hal itu terjadi karena Sakura yang berada disisi Hiruma. Tanpa diberitahupun, semua orang bisa melihat jika hanya Sakura yang dapat merubah Hiruma.

Memang semuanya tidak ada hubungannya dengan dirinya. Selama ini, dia hanya hidup dalam bayang-bayang semu milik Hiruma. Dia ingin cemburu,namun dia tidak memiliki hak apapun.

"Aku hanya ingin tahu, jika aku mencintaimu, Hiruma-kun."

Hiruma tidak bereaksi apapun dan membuat dadanya semakin sesak. Seharusnya dia tahu, jika Hiruma tidak memiliki perasaan apapun padanya.

"Aku tidak berharap kamu membalasnya, Hiruma-kun. Aku hanya ingin kamu tahu tentang perasaanku saja."

Setelahnya, dia berjalan meninggalkan Hiruma sendirian.

"Ck, dasar manager sialan bodoh."

oOo

Mamori membuka matanya ketika merasakan cahaya masuk ke dalam kamarnya. Kepalanya terasa sakit dan matanya bengkak juga merah. Semalam, dia menangis padahal dia tidak ingin mengeluarkan air matanya dengan sia-sia. Namun mau bagaimana lagi, air matanya mengalir begitu saja tanpa diminta.

Membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya, dia berjalan menuju ruang makan. Disana, dia menemukan Yamato sedang memasak sarapan dan seluruh anggota Teikou Devil Bats sudah berkumpul di meja makan. Termasuk kaptennya yang tidak ingin dia temui.

"Yamato-kun? Kenapa kamu yang memasaknya?" tanya Mamori.

"Iya, kamu tertidur dengan lelap sekali. Aku jadi tidak tega membangunkanmu." Yamato tersenyum.

"Hei, aku tidak melihat Sakura-san pagi ini." Ikkyu berbisik sembari melirik kaptennya yang sibuk dengan laptopnya.

"Aku rasa ini ada hubungannya dengan Hiruma." Banba angkat bicara.

"Fuh, aku rasa sebaiknya kita tidak mengganggu Hiruma."

Mamori menatap Hiruma dengan pandangan yang sulit diartikan. Apakah ini karena pernyataan cintanya semalam?

.

.

.

"Oi, Ikkyu! Pastikan tidak ada barangmu yang tertinggal!"

"Aku sudah memasukan semuanya, tenang saja."

"Fuh, aku tidak mau mengantarkanmu kembali jika ada barangmu yang tertinggal."

Mamori membawa beberapa koper miliknya dan melihat semua anggota timnya sudah berkumpul. Hari ini, mereka akan kembali ke Jepang, kembali ke kampung halaman mereka dan dia sudah merindukan Jepang. Selama tiga tahun ini, dia hanya bisa melihat Jepang melalui foto yang dikirimkan Suzuna untuknya.

"Mau aku bantu, Mamori-san?" Yamato mendekati Mamori dan membawakan beberapa barangnya.

"Terima kasih,Yamato-kun."

"Aku pasti akan merindukan Amerika." Yamato menerawang jauh. "Sudah banyak sekali kenangan yang ada disini, dan setelah ini. Kita harus kembali berlatih karena Christimas bowl sudah dekat."

"Aku rasa musuh kita akan semakin kuat." Mamori tersenyum.

"Tentu saja. Apakah kamu pernah mendengar, jika semakin tinggi tangga yang dinaiki, maka akan semakin kencang angin yang berhembus?"

Mamori tidak bisa menahan tawanya. Entah sejak kapan, dia mulai suka bercanda dan menceritakan apa yang mengganggunya pada Yamato.

"Ngomong-ngomong, dimana Hiruma-kun?"

.

.

.

"Apa yang kau lakukan disini, setan sialan?"

Agon membuang kaleng minumannya sembarangan dan memandang Hiruma yang duduk dengan tenang di kursi ruang tunggu bandara. Dia berjalan mendekat dan duduk di samping Hiruma.

"Melihatmu galau seperti ini, seperti bukan dirimu saja."

"Aku akan membunuhmu, gimbal sialan!"

Bangkit dari duduknya, Agon meregangkan tangannya sebelum memasukan tangannya ke dalam saku celananya. Matanya memandang Hiruma yang sekarang di matanya terlihat menyedihkan. Seumur hidupnya, selama dia berteman dengan Hiruma. Baru kali ini dia melihat Hiruma menyedihkan seperti ini, dia yakin jika Sakura sangat berarti untuk Hiruma.

"Cepatlah sebelum pesawat berangkat, sialan."

Hiruma mengunyah permen karetnya sebelum meniupnya hingga membentuk sebuah balon di mulutnya. Selama ini, dia selalu mendapatkan apa yang dia mau, selalu memprediksikan sesuatu dengan akurat dan benar, tetapi dia bahkan tidak bisa memprediksikan tentang Sakura.

Saat bertemu dengan Sakura, dia begitu membenci gadis berambut merah muda itu. Dia benci, karena dia tidak bisa mengendalikan Sakura, dia tidak bisa memprediksi segala tingkah laku yang akan dilakukan Sakura dan dia benci ketika Sakura dengan mudahnya merubahnya. Dia benci dengan segala yang ada pada Sakura.

Dia sangat benci hingga tidak sanggup untuk kehilangan Sakura.

Bangkit dari duduknya, Hiruma membalikan badannya. Jika Sakura tidak datang, maka pilihannya adalah Sakura akan bersama orang tuanya. Dia tidak bisa memaksa apa yang menjadi kehendak Sakura, jika ternyata orang tua Sakura tidak mengizinkan putri mereka untuk bersamanya.

Perjalanan hidupnya masih panjang. Dia harus memenangkan Christmas Bowl,itu prioritasnya saat ini.

Memasukan tangannya ke dalam saku celananya, dia berjalan masuk ke dalam untuk segera berangkat ke Jepang. Dia sudah tidak memiliki waktu lagi.

"Yo-kun!"

Menghentikan langkahnya, telinganya seperti menangkap suara yang memanggilnya. Tidak. Ini pasti halusinasinya.

"Yo-kun!"

Suara itu semakin jelas. Ketika dia membalikan tubuhnya, matanya memandang Sakura yang berdiri di belakangnya dengan napas yang tak beraturan.

"Sakura-"

"Aku memilihmu, Yo-kun. Aku memilihmu." Sakura memeluk pria dihadapannya dengan erat. "Aku akan ikut denganmu ke Jepang."

Hiruma tidak tahu bagaimana mendiskripsikan perasaan lega di dalam hatinya saat ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Happy New Year! *tiupterompet* *telat*

Hahaha.. maaf sekali karena baru bisa update, ini juga dikarenakan kuliah yang mulai sedikit tidak padat karena Senin sudah UAS. Harusnya persiapan UAS yaa.. tapi apalah daya pengen ngelanjutin fict yang sempet terbengkalai..

Terima kasih bagi yang sudah mendukung fict ini,maaf Saku Nggak bisa menyebutkan satu persatu..

Akhirkata,

Sampai ketemu di Chap selanjutnya!

-Aomine Sakura-