Yami (The Darkness)

Disclaimer: Bleach© Tite Kubo

.

.

.

Saya hanya meminjam karakternya saja

.

.

.

Warning: Typo, OOC, AU, DLDR

.

.

Saya tidak mengharapkan keuntungan materil apapun dari FF ini

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Hei, kembalikan bentoku!"

"Ahh… sepertinya enak sekali ke Gonzo pada saat akhir pekan… "

"Sialan! Aku kalah telak!"

Seperti biasa. Kelas 2C nampak gaduh layaknya tempat bising di jalanan. Kegiatan mereka juga bermacam-macam setelah tidak ada guru. Saling canda mereka lakukan untuk menghibur diri. Dan ada yang tertidur juga. Sebagai contoh, lihatlah si sulung Kurosaki ini yang telah lama terlelap di mejanya.

"Apa? Ada murid baru di kelas ini?"

"Laki-laki atau perempuan?"

"Mana kutahu!"

"Aishh… berisik sekali!" Ichigo bangun dari tidurnya. Tubuhnya bergerak lemas. Murid di kelasnya itu nampak antusias dengan murid baru yang akan datang ke kelas.

"Itu… Ochii-sensei!"

"Apa?"

"Ah… ayo masuk kelas"

Lagi-lagi mereka tetap gaduh walaupun guru itu akan memasukki kelasnya. Ichigo dengan gontai, bangkit lalu duduk dengan normal di bangkunya. Kemudian secara serempak keadaan benar-benar hening begitu Ochii-sensei sudah berdiri tepat di podium kelas. Ia tak sendirian. Bersama seorang laki-laki yang pastinya adalah murid baru di kelas ini.

"Kirit― "

"Sudah, tak perlu", potong wanita itu saat ketua kelas hendak mengintrupsi teman-temannya untuk berdiri, menyambut sang guru, "Konnichiwa minna-san"

"Hai, konnichiwa"

"Pada hari ini kalian akan mendapat keluarga baru di kelas ini. Hai, perkenalkan dirimu," Ochii-sensei mempersilahkan murid barunya itu. Entah kenapa sepertinya gadis di kelas ini memberi kesan anti kepada sosok 'baru' itu.

"Watashi wa Renji Abarai desu. Yoroshiku onegaishimasu"

.

.

.

.

.

.

.

o)(o

.

.

.

.

.

.

.

Ulquiorra side

Aku merasa sendirian. Dikelilingi orang-orang yang tengah berkabung ini membuatku merasa berbeda. Di saat mereka sedang berduka, aku pun tak merasakannya. Tidak sekali pun. Walau Grimmjow terpukul atas kematian Nnoitra, tak mampu membuat kepala tertunduk dalam. Dia juga berbeda. Aku belum pernah melihatnya yang seperti ini.

Aku hanya bisa menampilkan emosiku yang datar. Aku tidak tahu harus bersikap apa?. Sedih? Marah?. Bahkan dari dua emosi tersebut tak satu pun aku pahami sekarang. Kematiannya yang begitu tiba-tiba, tak bisa kuperkirakan.

Otakku masih terus mencerna arti semua ini. Banyak pertanyaan yang aku miliki sekarang. Jika saja jasad Nnoitra itu bangkit lagi, aku pun tak segan untuk melemparinya semua pertayaan yang aku miliki. Ya, salah satunya jika ia bisa menjawab pertanyaanku ini. Mengapa kau melakukan semua ini?.

.

.

.

.

Tepatnya sudah 3 bulan paska tragedi itu. Semuanya kembali seperti biasa. Kembali pada kegelapan kami. Tidak ada yang berubah pada kehidupan kami. Semua terlihat seperti biasa. Seolah tragedi tersebut tidak pernah terjadi dan tidak ada kematian Nnoitra di dalamnya. Dan sepertinya semua orang di klan ini telah mengetahuinya termasuk ayahku.

Dan benar saja, setelah klan Sayuki-kai dibumi hanguskan kegiatan 'gelap' klan kami berjalan lancar.

Aku masih teringat, ledakan yang cukup besar itu. Aku tidak tahu bagaimana caranya, kami bisa selamat. Aku dan Szayel benar-benar beruntung pada malam itu. Meskipun kedua tanganku mendapat dampaknya. Kondisi ini pun terjadi pada Szayel, namun diperparah lagi dengan wajahnya yang sebagian ikut terbakar.

Kondisiku belum benar-benar pulih. Tapi si tua itu sudah menyibukkan diriku lagi. Apa ia tidak mempunyai mata untuk melihat keadaanku yang seperti ini?.

Sekarang pun, aku dan Gin melaksanakan perintahnya untuk bertemu salah satu mafia dari Spanyol yang sedang berkunjung ke Jepang. Di dalam kendaraan ini, sebenarnya aku tahu kalau Gin sedang memperhatikanku dari kaca mobil. Aku tak cukup bodoh untuk tidak mengetahui pergerakannya.

"Ada yang menganggu pikiranmu?," tanyanya.

"…" aku tak bergeming dan menyibukkan diriku sendiri.

"Aizen-sama berkata minggu depan, kau harus menemaninya makan malam. Sepertinya ada orang dari Italia ingin bertemu dengan ayahmu"

"Batalkan"

Tentu saja ia tak akan terkejut dengan keputusanku. Senyumannya samar samar membuatku tahu apa yang sedang ada dipikirannya.

"Kenapa?,"

"…"

"Terserah. Tetapi akan sangat menguntungkan bila kau datang. Lebih dekat dengan 'mereka', kau lebih bebas dari Aizen-sama," lanjutnya.

"Apa maksudmu?"

"Bukankah tawaran yang bagus, Ulquiorra?"

Sepertinya isi kepalaku pun sudah dikoreknya dari dalam sekarang. Kuakui ia makin lihai untuk membaca pikiranku, walau tidak sesering aku membaca pikirannya. Memang kebebasanlah selalu yang kunantikan. Aku tak mau dikekang dan dijadikan pion semata.Tapi mungkinkah ia tahu bagaimana caraku untuk 'bebas'?.

"Kita sudah sampai," kendaraan ini berhenti tepat di depan salah satu hotel ternama di Tokyo. Benar-benar merepotkan.

"Seperti kataku tak usah banyak bicara," pria ini seperti tak mengenalku saja.

"Misi?"

"Tidak tahu. Aizen-sama hanya ingin kau saja yang bertemu dengan para tetinggi mafia itu"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

o)(o

.

.

.

.

.

.

Flasback

"Maaf aku pinjam kamar mandimu"

"Daijobou"

Ichigo sekarang bisa bernapas lega. Akhirnya jiwanya tidak terancam lagi. Meski Ichigo tahu kalau orang itu akan terus mencarinya.

Apartemen Orihime, tempat bernaungnya sekarang. Terdengar seperti pengecut yang merepotkan orang lain, namun apa boleh buat Ichigo harus menelan kata itu untuk sementara.

"Ada apa denganmu?," tanya Orihime ragu. Melihatnya saja pasti Ichigo mempunyai masalah. Sebenarnya ia tak ingin ikut mencampuri. Tetapi ia perlu tahu, toh tindakan Ichigo yang tiba-tiba ini telah memancing keingintahuannya.

"…" Ichigo bukannya tak ingin menjawab. Pemuda bersurai jingga ini bingung bagaimana harus memulai ceritanya. Di samping itu, ia tidak mau Orihime tahu kalau dirinya menjadi anggota Yakuza meskipun belum secara resmi.

"Bukannya kau berjanji akan menceritakannya"

"Apa aku pernah bilang 'janji'?"

"T-tidak sih…Tapi― "

"Besok saja ceritanya ya… kau lihat kondisiku kan? Kacau," ujar Ichigo sedikit tersenyum kecut. Alasan karena keadaannya, mungkin bisa menutup keingintahuan Orihime. Dia tak boleh tahu.

"Kau… ingin tidur?"

"Ah… eto…"

"Tunggu― oh, iya kasur lipatnya," tanpa ia bisa hentikan, gadis itu gesit membawa perlengkapan tidurnya dari lemari.

"Tidak usah repot-repot"

"Tidak apa-apa…" Orihime menampik lembut tangan Ichigo yang hendak membantunya. Hah… Ichigo merasa sudah merepotkan temannya ini.

"… Lagipula Ulquiorra-kun sering kali menginap di sini. Jadi… aku sudah terbiasa untuk menyiapkan semuanya"

"Ah?," baik Ichigo dan Orihime bertukar pandang. Ichigo sangat terkejut dan Orihime juga terkejut dengan apa yang dikatakannya. Dengan cepat ia letakkan kasur lipatnya begitu saja. Dari gerak-geriknya, Ichigo bisa melihat Orihime yang 'kelepasan'.

'Berarti… itu…. Sudah sejauh mana hubungan mereka?' batin Ichigo. Ia benar-benar penasaran.

"Apa kemarin dia datang ke sini?," padahal Ichigo tak ingin membahasnya tentang hal ini, namun apa boleh buat hatinya yang memaksanya.

"A-ano… Kurang lebih sudah 3 bulan ia tidak kemari. Dia juga tak menghubungiku," ujar Orihime sedikit getir.

"Lalu kau tidak mencoba menghubunginya"

"Sudah… namun sepertinya sia-sia. Mungkin dia sibuk― eh, apakah kau telah mengetahuinya?"

"Semua orang sudah tahu. Lagipula kejadiannya sudah lama. Pasti sangatlah sulit menjadi anak seorang Yakuza seperti Ulquiorra"

"Ah… iya. Aku lupa,"

Sedikit sungkan Ichigo menarik selimutnya," Benarkah? Aku boleh tidur di sini?"

"Tentu saja,"jawab Orihime. Gadis ini langsung mengambil tempat di samping kasur Ichigo. Jangan lupa ada jarak antara mereka.

"Sudah jam 1 pagi, lebih baik kau tidur untuk memulihkan kondisimu" tanpa banyak kata lagi ia beralih memunggungi Ichigo yang jauh dari tempatnya.

Srakk

Tiba-tiba Orihime menarik sedikit selimutnya dan berbalik menghadap Ichigo yang masih belum beranjak tidur.

"Ada apa?," tanya Ichigo. Dia tahu ada yang mengganjal pada gadis ini.

"E-eto… kau t-tidak berbuat m-macam-macam 'kan?"

"N-nani?," ah iya lupa akan hal ini. Ichigo langsung memalingkan wajahnya ke samping, berharap Orihime tak melihat wajahnya yang kian memerah.

"T-tenang saja… A-aku bisa mengendalikan diri," jujur ia begitu gugup sekarang. Ia tak pernah sedekat ini dengan Orihime sampai-sampai bermalam berdua dengannya. Hanya dia dan Orihime.

"S-soudesuka?"

"Kau b-bisa pegang kata-kataku"

"Aa… kalau begitu tidurlah. Oyasuminasai, Kurosaki-kun," setelah itu Orihime langsung bergelung kembali dengan selimutnya. Rasa lega pun menghampiri dirinya.

Dan sekarang tinggalah Ichigo yang juga beranjak untuk tidur. Ia menarik selimutnya, lalu memejamkan matanya rapat namun tak membuahkan hasil. Ia tidak bisa menyelami alam tidurnya, seperti Orihime.

Beberapa kali mencoba berganti posisi tidur tidak kunjung membuat matanya berkompromi. Ayolah, ia sudah lelah. Ia tak ingin menghabiskan malam yang menjelang pagi ini dengan melamun karena tidak bisa tidur. Bisakah ia tidur dengan cepat?.

Alih-alih ia melirik Orihime yang sudah terlelap. Tanpa sadar, Ichigo mendekat ke arah kasur Orihime. Kemudian menundukkan kepalanya sedikit, memandang gadis itu yang tengah tidur dengan damai.

"Sepertinya aku memang tidak bisa tidur"

Flashback End

.

.

.

.

.

.

.

Langit sore memancarkan sinar kejingga-annya. Bel pulang sekolah sudah berdentang. Murid-murid Karakura koukou juga mulai meninggalkan sekolah.

"Ayo, kita karaoke"

"Aku ikut"

"Apa-apaan kau? aku hanya mengajak Abarai-san"

"Dasar kau ini!"

"Oh, iya kapan-kapan mampirlah ke rumahku. Kita bisa bermain game sampai pagi, Abarai-san"

Dari jarak dekat Ichigo bisa mendengar teman-teman sekelasnya mengajak murid baru itu untuk pergi ke karaoke. Hebat sekali. Hanya dalam sehari pemuda itu sudah mendapat teman akrab.

"Enak sekali dia…" cibir Ichigo. Entah mengapa ia tidak suka melihat murid baru itu.

"Oke. Mungkin hari ini saja aku bisa"

"Yosh… ikimashou!"

Sambil diiringi gurauan mereka berjalan. Ichigo akui kalau wajah bengal yang dimiliki murid baru itu tak memungkiri kalau ia akan bergaul dengan cepat. Abarai itu juga tak banyak tingkah. Ya, ia juga bukan tergolong pendiam, Ichigo tahu itu. Mungkin Renji adalah orang yang easy going jadi ia bisa beradaptasi dengan cepat di lingkungan yang baru.

"Renji Abarai… sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi dimana…? Ah― perasaanku saja"

"Hah… kenapa aku tak melihatnya," sekarang gelisah mulai menggelayuti dirinya. Kira-kira Ichigo telah lama bersandar di dekat gerbang sekolah. Ia bahkan mau menghilangkan waktu luangnya, saat Keigo dan ()mengajaknya untuk pergi ke bioskop. Hanya untuk menunggu seseorang, ia rela.

"Ichigo? Sedang apa kau di sini?," dia menoleh ke sumber suara. Rupanya Chizuru.

"Kau sendirian?"

"Ada yang bilang kau mencari Orihime. Ada apa?"

"Ahaha… b-bukan apa-ap― "

"Orihime pulang lebih cepat dariku. Ia bilang hari ini ada pesanan yang harus diantar di tempat kerja part timenya," potong Chizuru. Toh, ia tak mau bertanya banyak pada pemuda itu.

"Oh… begitu ya"

"Aku pulang duluan Ichigo. Jaa ne!"

Sia-sia saja ia menunggu di sini. Setelah lama menunggu sosok Orihime, ternyata gadis itu sudah lama pulang. Padahal niat Ichigo hanya hanya ingin berterima kasih langsung padanya. Ia jadi tidak enak hati, apalagi ketika mengendap-endap keluar dari apartemen Orihime tanpa pamit. Tentunya apa yang dilakukannya juga, tak mau mengusik si empu apartemen ini. Tempat persembunyiannya sementara.

Dan sialnya lagi Ichigo baru ingat kalau mereka sekelas. Oh, astaga mengapa ia bodoh sekali. Mungkin saja kalau ingat, ia sudah mengucapkan rasa terima kasihnya pada Orihime saat di sekolah. Hal yang sederhana menjadi tak sederhana seperti ini.

.

.

.

.

.

o)(o

.

.

.

.

.

"Akhirnya kau datang juga…"

Pemuda bermata zamrud ini disambut hangat. Raut wajah puas dipancarkan para petinggi mafia Spanyol itu. Seperti yang orang-orang katakan. Mereka tak salah dan tak sia-sia untuk mengundang anak dari klan Kyosei-kai ini.

"Silahkan duduk," dengan tenang Ulquiorra mendudukkan dirinya di sofa panjang itu. Dia tak peduli dengan keberadaannya di sini. Yang terpenting ia bisa menyelesaikan ini dengan cepat.

"Langsung ke inti permasalahannya," tanpa basa-basi lagi Ulquiorra melontarkan kalimatnya itu. Mereka menyukai ini. Para tetinggi tertarik dengan Ulquiorra yang tak banyak bicara. Bagus, makin sedikit kata yang keluar dari mulutnya, makin mudah untuk mereka dalam menyelesaikan masalah ini, pikir para petinggi.

"Sebenarnya kami sudah mengundang klan yang bersangkutan. Tetapi mereka enggan untuk bekerja sama, lantaran kami tidak ingin membayar tagihan yang sudah dikirim untuk barang-barang mereka yang ternyata tidak ada sama sekali. Kami saling menghubungi dan mendiskusikan masalah ini. Dan akhirnya mereka mau bekerja sama dengan kami. Tapi mereka bilang kalau dalam waktu dekat belum bisa mengirim orang-orang terpecaya mereka untuk menyelesaikan masalah. Kami juga tak bisa menunggu lama, mengingat banyak pesanan dari berbagai jaringan pasar gelap yang menanti barang-barang mereka. Ini juga…"

Sekarang bukan saatnya mendongeng. Ulquiorra sudah gerah melihat salah satu petinggi itu yang berbelit-belit. Ia yakin kehadirannya di sini akan memakan waktu yang lama.

"Maaf, waktuku terbatas"

"Hahaha… tenang saja"

Kepulan asap dari cerutunya itu menambah gaya tengik pada pria itu. Pantas saja, Ayahnya enggan untuk datang. Menghadapi mafia kelas atas namun mental dan kekuasaannya masih rendah, bahkan di negaranya sendiri. Apakah ia harus bertepuk tangan itu untuk kebanggaan mereka itu?.

"Barang kiriman kami sedang mengalami masalah. Kalau hal ini terus-menerus terjadi kami bisa rugi besar," sambil memantikkan Zipponya, pria berdarah Spanyol itu menatap Ulquiorra dalam.

"… Sebenarnya masalah ini sudah lama terjadi. Kami tidak bisa membiarkannya berlarut-larut. Tetapi kami juga tak punya kekuasaan di sini. Bisa-bisa urusannya akan panjang dan dibawa ke pihak polisi, jika salah bertindak" lanjutnya.

"Kalian ingin aku mencari orangnya?"

"Dengan senang hati," pria itu menyeringai.

.

.

.

.

o)(o

.

.

.

"Hei Ichigo, ada telepon," Keigo segera mengembalikan ponsel yang ia pinjam pada Ichigo. Panggilan itu masuk ketika ia sedang bermain game.

"Siapa?," tanya Ichigo. Aneh saja, jarang sekali ponselnya itu mendapat telepon. Yang juga membuat heran adalah nomor sang penelepon tidak tertera di sana. Private number?. Dahinya mengerut. Kira-kira siapa yang meneleponnya?.

"Moshi-moshi"

"Aku menunggu di atap sekolah, Kurosaki"

Kata-kata yang dingin itu saat familiar di telinganya. Ia tak kaget kalau seorang Ulquiorra menghubunginya. Walaupun perkelahian mereka sudah lama terjadi, namun riwayatnya itu sangat kental di sekolah ini, apalagi lawan duelnya sekarang masih bertempat di sekolah yang sama.

'Untuk apa ia kemari?'

Telepon singkat itu tak ayal membuat pemuda bersurai jingga ini bertanya-tanya.

"Sial," Ichigo langsung saja melesat ke tempat Ulquiorra berada.

"Oi! Ichigo! Mau kemana!?"

"Kenapa berlari seperti itu?"

.

.

.

.

.

o)(o

.

.

.

.

.

.

"Apa tidak ada tempat lain untuk bertemu?"

Ichigo terengah-engah sesampainya di atap sekolah. Setelah mengatur nafasnya kembali, ia berjalan ke arah sosok itu. Ulquiorra berdiri tegap menghadap langit lepas.

"Bagaimana kau bisa masuk? Apa orang-orang tidak mengenalimu? Mengapa kau ke sini?," pertanyaan beruntun langsung diarahkan pemuda ini.

"Perlu kujawab?," masih tetap angkuh. Benar-benar tidak ada yang berubah meskipun mereka pernah bertemu.

"Tidak perlu"

Terik matahari yang begitu menyengat membuat Ichigo tak mau berlama-lama. Suasana siang hari, tak kunjung mendorong Ulquiorra untuk berbicara.

"Ada apa?"

"Apakah kau sudah resmi menjadi anggota Yakuza?," dia tahu bukan saatnya untuk merasakan kesal pada hatinya. Terdengar remeh Ichigo di hadapan Ulquiorra.

"Sudah. Memangnya kenapa?," Ichigo bersyukur bisa membalas kata-kata Ulquiorra. Dia hanya bermodalkan bukti di tubuhnya saat melakukan irezumi.

"Bagus kalau begitu," ujar Ulquiorra yang masih tak melihat lawan bicaranya. Mata zamrudnya hanya menatap lurus ke depan.

Di lain pihak Ichigo tak mengerti maksud dari ucapannya Ulquiorra. Ia bahkan tak memberi alasan untuk ke sini sedari tadi.

"Kudengar kau selamat dari insiden itu"

"…"

Sekilas ia melihat kedua tangan pemuda itu tergelung perban yang rapat. Sungguh keajaiban. Tidak mungkin ada makhluk hidup yang selamat dari ledakan dengan jarak cukup dekat seperti itu. Tetapi Ulquiorra adalah bukti nyata yang tak bisa ia tampik dari penglihatannya.

"Ini berkaitan dengan klanmu. Barang kiriman mafia Spanyol itu beberapa tahun terakhir tak pernah sampai ke tangan. Mereka ingin aku bekerja sama dengan orang-orang terpecaya dari klan kalian untuk mencari apa yang menghambat kegiatan mereka. Di samping itu terkendala tak adanya wewenang sindikat mereka di negara ini," paparnya Ulquiorra. Kepala pemuda itu menengadah ke langit luas, sambil memejamkan matanya.

"Lalu?"

"Beruntunglah kau… jadi dengarkan ini…"

"… Aku ingin kau bekerja sama denganku untuk misi ini," sekejap otaknya Ichigo saling memutuskan sulur-sulur selnya. Dia tak percaya.

Sungguh ia manusia paling beruntung atau tak tahu diuntung. Ichigo hanya bisa menahan tawanya. Apa ini sebuah lelucon?. Ia masih tak percaya. Seorang Ulquiorra yang angkuh dan pongah itu meminta bantuannya. Demi apa pun, seseorang harus menendang bokong Ichigo, "Kau bergurau?," ucap Ichigo dengan nada geli.

"Kau mendengarnya?" seketika nada dingin itu menghapus semuda pikiran kacaunya tadi. Ichigo tersenyum miring mendengarnya.

Lalu… bukankah ini kesempatan emas bagi Ichigo?. Ia akan berguna bagi klannya.

"Zaraki-sama sudah tahu tentang hal ini. Namun, dia tak bisa memutuskan siapa orang-orang yang akan beliau kirim"

"Setuju!," ucap Ichigo mantap.

Betapa dadanya menggebu-gebu, ia sudah menantikan hal ini. Dimana dia akan membuktikan perubahannya yang sudah menjadi anggota Yakuza resmi.

Dan sepertinya semangat Ichigo, menimbulkan tanda tanya pada Ulquiorra. Padahal ia sudah memperkirakan kalau pemuda bermata hazel ini mundur dari misi yang ia ucapkan. Bahkan ia sudah mengetahui bagaimana cara bermain Ichigo. Tubuhnya gemetar kala menghadapinya. Hanya bermodal mulut besar saja dan emosi yang meluap-luap, seperti 2 tahun lalu. Tetapi kali ini berbeda. Ichigo seolah ingin mengeluarkan wujudnya di balik kepompong yang sudah menutup keberaniannya.

"Pastikan tidak ada yang tahu tentang ini," lagi-lagi Ulquiorra berbicara tanpa melihat Ichigo yang berada di sampingnya.

Kalau seperti ini apa guanya mereka bertemu. Melalui telepon mungkin percakapan ini bisa dilakukan. Mengapa seorang Ulquiorra mau repot-repot?.

"Hm… kalau begitu― "

"Aku tak melihatnya. Apa dia tidak masuk?," Entah ia masih belum mengerti kemana pertanyaan Ulquiorra itu tertuju. Ichigo menghela nafas. Penasaran. Sedari tadi saat mereka bicara apa yang menarik pemuda itu untuk menatap jauh ke depan. Begitu, Ichigo mengikuti arah pandangnya, ia berdecak pelan. Tidak lagi, objeknya adalah kelasnya sendiri.

"Orihime absen hari ini. Katanya ia harus menjaga bibinya yang sedang dirawat di rumah sakit."

"Aa" setelah itu Ulquiorra melenggang pergi begitu saja.

"Dasar sialan. Akuilah kau ke sini bukan hanya untuk menemuiku, namun ingin melihat gadis itu, 'kan?"

Langkah Ulquiorra terhenti, "Apa maksudmu?"

" Tidak ada hubungan antara kalian berdua selama beberapa bulan, membuatnya khawatir. Orihime sudah mencoba menghubungimu namun ia putus asa dan mengatakan 'mungkin dia sibuk'. Ah… kau seharusnya mengerti perasaannya? Dia pengertian denganmu, kau tahu itu?," ujar Ichigo sedikit menghakimi.

Namun Ichigo hanya mendapatkan reaksi Ulquiorra yang tak berarti. Datar saja. Padahal waktu itu Ulquiorra terpancing mengenai hal yang menyangkut Orihime.

Ulquiorra berbalik kembali dan melangkah menuju pintu atap sekolah, "Jangan campuri urusanku dengan gadis itu. Aku sudah paham," Ichigo harus mengakui ia tak bisa membalas ucapan Ulquiorra. Begitu mendengarnya tanpa sengaja tangannya mulai terkepal.

"Aku tahu kau mempunyai perasaan padanya dan sampai sekarang sepertinya perasaanmu itu belum berubah. Kalau kau tahu dimana tempatmu berada, sebaiknya bangun dari mimpimu sekarang juga"

Blamm

Ulquiorra pergi. Sekarang hanya ada Ichigo yang termangu di tempat. Ia cukup tertohok dengan kalimat terakhir pemuda itu. Cukup bisa membuat Ichigo mengerti bahwa tidak ada peluang untuknya. Seharusnya ia sudah tahu tentang ini, dan ia harus menerima konsekuesinya. Tangannya tak bisa menggapai apa yang dicintainya karena Orihime sudah mengetahui cintanya yang sebenarnya. Sungguh menyakitkan.

.

.

.

.

.

o)(o

.

.

.

.

.

Di ruangan dingin ini gadis senja itu duduk tertunduk. Dia tidak benar-benar tidur. Tangannya masih menggenggam jemari bibinya yang terbaring lemar di kasur inap itu. Dan tangan lainnya memegang ponsel yang sedari tadi membuat tak bisa tidur.

"Orihime?"

"Un?" gumam Orihime. Kepalanya terangkat, menatap langsung wanita paruh baya yang mengusap lembut rambutnya.

"Pulanglah…" ujar sang bibi dengan nada lemah.

"Aku tidak bisa pulang sekarang. Lagipula anakmu belum datang kemari," balas Orihime. Seulas senyuman ia ukir untuk mengikis kekhawatiran bibinya. Hampir seharian gadis itu di sini. Meninggalkan kegiatannya, sekolah maupun kerja part time. Setidaknya hanya ini yang bisa dilakukan Orihime untuk membalas kebaikan bibinya.

"Mau kuambilkan sesuatu?"

"Tidak usah…," jawab bibinya. Wanita itu berusaha untuk bangkit dari posisi tidurnya, "Biar aku bantu" Orihime seketika meletakkan ponselnya di nakas, dan menopang tubuh sang bibi untuk bersandar di tepian tempat tidur.

"Kemarin aku ke makam kakakmu…" kini seluruh perhatian gadis itu tertuju dengan topik yang dibuat bibinya.

"… Dan bertemu ibumu"

"Bagaimana keadaannya?," perasaannya sekarang membuncah. Mendengar nama pelita hidupnya itu disebut.

"Tubuhnya tak terawat. Kurus. Wajahnya terlihat kuyu"

Mendengarnya bukan saja rasa khawatir yang ada tetapi juga rasa penyelasan. Seharusnya Orihime ada di sampingnya. Menemani ibunya. Bersama orang tuanya. Namun, ia belum bisa. Ia belum sanggup. Sesuatu hal terjadi di masa lalu membuatnya enggan untuk kembali.

"Apakah aku bukan anak yang baik? Seharusnya aku bersama mereka…" lirih Orihime. Matanya mulai memanas. Detak jantungnya tertekan. Sesak.

"Setiap orang mempunyai masa, Orihime. Masalah itu sangatlah besar, apalagi mengancam masa depanmu. Mana ada orang tua yang tega berbuat seperti itu. Tetapi melihat orang tuamu… aku bahkan tak bisa membayankannya," bibinya tak tega melihat kehidupan keponakkannya ini. Masa-masa yang sulit itu dilewati tanpa orang tua, bahkan sepertinya mereka tak sudi merawat anaknya ini.

Cklek

"Kaa-san?" tiba-tiba munculah seorang laki-laki dari balik pintu. Lalu dengan senyuman tipis wanita itu menyambut putranya yang baru datang dari tempat kerjanya.

"Maaf… aku baru datang," ujar anaknya. Lalu tubuhnya mendekat ke arah sang ibu.

"Orihime-san, maaf merepotkanmu," ujar laki-laki itu. Dia tak enak dengan saudaranya itu yang telah merelakan sekuruh kegiatan pentingnya untuk menjaga ibunya.

"Daijobou. Lagipula― "

Drrt Drrt Drrtt

"Ponselmu Orihime?"

"Iya," gadis itu langsung meraih ponselnya. Ada pesan masuk.

From: Ulquiorra-kun

Aku sudah sampai di depan rumah sakit.

Netranya melebar. Ia tak mengira pemuda itu tiba-tiba menunggunya. Memang pesan-pesan sebelumnya, hanya menanyakan keberadaan Orihime. Dan terakhir gadis itu membalas pesan Ulquiorra namun tak ada tanggapan.

"Orihime?," panggilan itu segera menyandarkannya.

"Ada masalah?," kali ini anak bibi itu bertanya padanya, "T-tidak ada," jawab Orihime.

"Sudah jam 10 malam. Kau harus pulang, Orihime," bibinya menyapu rambut gadis itu sekali lagi, "Biar dia yang mengantarmu pulang," lantas Orihime mengerjapkan matanya beberapa kali.

"Terima kasih. A-aku pulang sendiri saja," tolak Orihime. Ia tak mungkin pulang bersama dengan saudaranya sendiri, sedangkan ada seseorang yang telah menunggunya.

"Benarkah?"

"Kau perempuan Orihime-san. Kalau pulang malam-malam sen― "

"Percaya padaku bibi. Aku yakin bisa menjaga diriku," ujar Orihime. Ia tahu kalau bibinya mengkhawatitkannya.

Orihime mengambil tasnya dan beralih ke arah pintu,"Lekas sembuh, bibi. Aku pulang. Oyasuminasai"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ah… dia jadi berpikir untuk menerima tawaran bibinya. Dibandingkan terjebak di situasi seperti ini. Semenjak tadi ia tak bisa menatap langsung pada pemuda yang kini bersamanya. Rasanya aneh. Entahlah, beberapa bulan tak bertemu membuatnya merasa kalau hubungan mereka merenggang.

Bicarapun sepertinya sulit. Orihime tak mau memulainya. Lalu… bagaimana dengan Ulquiorra?. Sepertinya juga pemuda ini tak mau repot menggerakan lidahnya untuk mengucap kata-kata.

Padahal banyak hal yang ingin Orihime tanyakan. Soal bagaimana Ulquiorra sampai ke rumah sakit tempat bibinya di rawat? Mengapa ia datang tiba-tiba seperti ini dan menjemputnya?. Ah― lupakan pertanyaan tersebut, intinya adalah kemana saja Ulquiorra selama ini?.

Ya, cukup lama bagi mereka tak bertemu. Tak ada komunikasi diantara mereka. sosok Ulquiorra benar-benar hilang dalam sekejap dalam kurun waktu tersebut. Dan secara tiba-tiba, sekarang Ulquiorra sudah berada di hadapannya. Di dekatnya. Dan ironisnya lagi, pemuda beriris emerald ini bertingkah seperti tak terjadi apa-apa. Sudah seperti hal biasa. Meninggalkan gadis ini dengan segala rasa yang tercampur aduk. Orihime khawatir. Sungguh, ia takut terjadi apa-apa pada Ulquiorra. Bahkan ia terus berpikir bila nanti ia tak sanggup mendapat kabar bahwa pemuda itu sudah meregang nyawa.

Semuanya kini harus dipertanyakan. Orihime terus menahan dirinya agar tidak menumpahkan semua rasa yang ada di benaknya. Perasaan yang mengganjalnya.

Banyak perubahan Ulquiorra yang di tankap oleh matanya. Tangan pemuda itu yang di balut perban serta wajahnya yang banyak dipenuhi plester. Untuk yang terakhir, peringainya juga lebih dingin dari biasanya.

Sekarang yang bisa Orihime lakukan adalah memandang jendela mobil di sampingnya. Pandangannya kini tak mau beralih. Sedangkan jari jemarinya saling bertaut. Ia benar-benar tak menyukai situasi canggung ini. Ia ingin mengakhirinya. Tapi ia tidak tahu bagaimana caranya.

Sesaat kemudian, matanya mengerjap beberapa kali. Iris keabuannya berkilat bingung. Paparan jalan yang mobil ini lintasi tepatnya, membuat Orihime bertanya-tanya. Ia yakin ini bukan arah jalan ke apartemennya. Ia bukan ke arah pulang. Mau dibawa kemana dirinya? "I-ini… bukan jalan ke apartemenku," tanyanya. Walau harus tersendat-sendat dan penuh ragu akhirnya Orihime berbicara juga.

"Memang bukan ke arah apartemenmu,"balas Ulquiorra yang masih fokus dengan kemudinya, "Temani aku makan"

Refleks kepala gadis ini mengarah pada Ulquiorra. Memandangnya tak percaya. Alisnya saling bertaut. Apa ia tak salah dengar. Kenapa tiba tiba begini?.

Cukup lama Orihime menimang-nimang ucapan Ulquiorra. Tapi… harus diingatkan, Orihime tidak bisa menolaknya, "H-hai"

Apakah ini awal yang baik?. Setelah sekian lama tak bertemu, Ulquiorra hanya mengatakan ia ingin ditemani makan. Apa-apaan itu?. Hei, adakah kalimat yang lebih bagus dari itu?. Bagaimana kalau tanyakan saja keadaan gadis ini?. Gadis yang terus menunggumu ini. Rasanya hati Orihime mencelos dalam sekejap ketika mendengarnya.

Ingin sekali Orihime menghela nafas di depan wajah Ulquiorra. Tidakah ada rasa gundah di hati Ulquiorra. Ia bahkan terlihat tenang-tenang saja. Apa Ulquiorra tak merasakan, tak melihat kekhawatiran dan perasaann yang tak menentu dari Orihime akan dirinya? . Siapapun tolong bukalah mata Ulquiorra lebar-lebar. Dan sadarkanlah dia.

.

.

.

.

.

o)(o

.

.

.

.

Flasback―

"Kerja yang bagus. Kalian memang dapat dipercayai oleh klan ini"

Mungkin seorang Gin juga tak percaya bahwa ia telah memuji kinerja para teri ini. Anggota baru di klannya. Mereka masih tergolong muda. Grimmjow Jeagerjaquez, Nnoitra Gilga dan Ggio Vega.

Yah, ia tak bisa menyangkal kalau perkiraannya salah. Walau sebagai kelinci percobaan dalam misi yang ia buat-buat, ternyata kegigihan mereka boleh diperhitungkan.

Bukan hanya upacara yang bisa membuat Nnoitra, Grimmjow dan Ggio masuk ke klan Kyosei-kai. Tapi mereka juga harus menjalani serangkaian aturan yang dimiliki klan itu sendiri, tak terkecuali bagi siapa saja yang ingin masuk.

Gin juga sebenarnya tak yakin, kalau ketua klan itu menyetujui pendapatnya. Barang sekalipun ia belum pernah mendengar kata 'ya' dari sosok Aizen mengenai perekrutan orang-orangnya melalui Gin. Meskipun telah lama berdiri di dekat Aizen sebagai orang terpercaya, sepertinya kepercayaan tersebut benar-benar belum sampai seutuhnya diberikan pada dirinya. Tapi, apa salahnya untuk mencoba lagi?.

.

.

.

"Bocah berambut biru itu, kau singkirkan saja"

"Aizen-sama"

"Intinya aku tidak menyutujui 3 orang ini mengambil peran penting di klan kita"

Setelah diskusi sengit antara Aizen dan Gin, akhirnya Aizen sendiri yang memberikan keputusannya sepihak. Lagipula siapa yang akan menentangnya. Ia punya pemikirannya sendiri yang tentunya berbeda dengan pria yang memiliki senyum rubah ini. Aizen akan melakukan apa yang dia inginkan, walaupun itu tanpa alasan.

"Aku lebih memilih orang-orang yang ditunjukkan Syazel"

Pilihannya ini tentu saja mengukir senyuman di bibir Szayel yang ada di ruangan besar itu. Ia juga tak mengira, bahwa Aizen akan membawa orang-orang yang dimilikinya ke dalam klannya ini.

"Bagaimana, Gin? Apa yang ingin kau katakan lagi?," tanya Aizen menyeringai. Matanya menyorot beberapa orang yang ada di balik punggung Gin. Nnoitra, Grimmjow, Ggio.

"Tidak, Aizen-sama"

Usahanya sia-sia. Tidak membuahkan hasil sama sekali. Mau membalikkan situasi ini juga tak mungkin bagi Gin. Ia sudah berusaha. Walau ia masih yakin 3 orang yang ada di hadapannya memiliki harapan untuk masuk ke klan ini, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.

"Aizen-sama!"

"Berikanlah kami kesempatan!"

Alis Gin sedikit terangkat begitu Ggio meminta perekrutannya kembali.

'Apa yang bocah ini lakukan?'

"Apa kau perlu memohon seperti itu, Ggio Vega?," suara lantang Aizen berhasil memberikan getaran hebat di tubuh kecil Ggio. Kharisma hitam sang ketua ini menguar.

Aizen pun akhirnya membalikkan tubuhnya lagi. Menampakkan air mukanya yang tak bersahabat, "Apa alasanmu untuk berada di sini?"

"…"

"Bodoh"

"…"

"Bahkan untuk pertanyaan seperti ini kau tidak bisa menjawabnya. Klan ku bukan taman bermain, jadi enyahlah dan bawa keluar teman-temanmu itu," jelas sekali apa yang dikatakan Aizen untuk mengusirnya dari sini. Bukan hanya Ggio, tapi Nnoitra dan Grimmjow. Kira-kira cara apa lagi yang membuat sosok Aizen memperhitungkan mereka untuk berada di sini, sedangkan usaha mereka untuk menerima misi dan menyelesaikannya dengan tuntas tak dilihat oleh ketika klan ini.

"Oi, kau mendengarkanku? Bawalah temanmu keluar," Aizen sudah memberikan peringatan jelas pada mereka. Ia juga tak mau melihat baik Ggio, Nnoita dan Grimmjow berlama-lama di sini.

Jadi… apa yang harus dipertahankan sekarang. Jika memang tetap berdiri di sini juga tak menuai apa-apa. Bahkan kalau mati di sini, jasad mereka pun akan dibiarkan membusuk. Mereka memang tidak diterima. Tapi… cara rendah Aizen itu yang menjadi masalah mereka sekarang. Apalah arti misi tersebut jika mereka ditolak bahkan direndahkan seperti ini.

Kemungkinan yang terjadi di sini adalah yang membuktikan bahwa memang Aizen memiliki banyak musuh, bukan?.

"Gin"

"Mereka tetap di sini"

Suara itu meluncur dingin di ruangan ini. Dan sekarang putra tunggal klan ini yang angkat bicara. Sosok Ulquiorra Schifer muncul dari tempat persembunyiannya.

"Mereka akan tetap di sini, akan kupastikan itu," kalimatnya berhasil memunculkan senyum miring milik ayahnya.

"Apa maksudmu?"

"Bukankah kau pernah berkata. Jika kita mempunyai dua pilihan, maka ambilah keduanya untuk dimanfaatkan. Bukan salah satu, tapi keduanya…" selama ini memang tak sia-sia 'kan, sosok ayah seperti Aizen memiliki anak sepertinya. Bahkan kini setiap ucapan yang keluar dari mulutnya akan diterapkan sekarang oleh putranya. Baik pernyataan yang disadari Aizen atau tidak. Well, jika Aizen lupa akan kalimatnya itu, maka Ulquiorra lah yang harus mengingatkannya. Kenyataan ini bisa saja menjatuhkan diri Aizen di hadapan orang-orang. Percayalah.

"… Sama halnya dengan apa yang terjadi sekarang"

Dan, hebat. Ulquiorra mampu membungkam Aizen.

"Orang-orang yang dimiliki Syazel dan Gin sama saja bagiku. Tak ada yang membedakannya. Mereka sudah berhasil menjalani sebuah misi. Jadi adakah alasan lain untuk membuat mereka pergi dari sini?," papar Ulquiorra jelas. Hentikan bicara soal selera atau apalah. Yang terpenting sekarang hasil kinerja mereka sudah terlihat.

"Soal kepercayaan itu lain hal, Otou-sama?"

Hanya memutar kembali ucapan ayahnya, bahkan sudah membuat Aizen kehabisan kata-kata. Sekarang di depan banyak orang, sosok Aizen yang angkuh tadi menghilang. Dan Aizen harus menelan fakta bahwa orang-orang baru ini memakimu dalam hati.

"Kuserahkan padamu," sederhana. Dalam sekali hembusan nafas Aizen mengakui kekalahannya. Sayangnya kali ini ia baru tahu bahwa kecerdikannya tak melebihi putanya untuk beberapa hal.

.

.

.

.

"Ayahmu brengsek!"

Coba lihat, anak mana yang bersikap geram mendengar ini, selain Ulquiorra. Setelah semua berhasil memuntahkan perasaan muaknya terhadap Aizen, Ulquiorra hanya diam tak bereaksi.

"Apa ayahmu tahu kalau kita hampir mati!? Apa dia tak mengirimkan orang-orangnya pada kita!?," Ggio memerah. Amarahnya benar-benar meluap. Matanya bahkan membelalak tak kuasa menahan gejolak emosinya.

"Lupakan tentang kami. Bagaimana dengan dirimu? Kau yang bersama kami untuk menjalani misi, apa tak sekali pun terbesit di bokongnya untuk memikirkan putranya? Bagaimana kalau kau tewas?," tukas Nnoitra. Ia memang benar. Tanggung jawab Aizen harus dipertanyakan sebagai Oyabun di sini.

Lamat-lamat keadaan di sebuah pub kecil ini tidak memungkinkan. Grimmjow yang sudah naik pitam tiba-tiba langsung menarik kerah kemeja Ulquiorra dan menyeret tubuhnya berdiri dari sofa pub itu.

"Brengsek! Katakan sesuatu!," geram Grimmjow. Mata birunya berkilat tajam memandang tatapan tenang dari Ulquiorra.

"Sudah?"

Kikikan kecil tercipta dari Grimmjow sebelum melayangkan tinjunya.

Buakh

"Hei, Ulquiorra… apa kau mau mati bersama ayahmu di tanganku?," desis Grimmjow.

"Katakan itu lelucon barumu, Grimmjow"

"K-kau!"

Buakh

Buakh

Tanpa ada yang menghentikkan Grimmjow, tubuh Ulquiorra sudah banyak dihadiahi beberapa pukulan kerasnya. Ia marah. Grimmjow marah. Mengapa bisa ada orang yang seperti Ulquiorra di dunia ini?.

"Sadarlah… "

Bakh

"… Bahwa ayahmu membencimu"

Bakh

Satu pukulan akhirnya dituntaskan Grimmjow. Tangannya masih mengepal kuat di samping tubuh Ulquiorra yang terkulai lemah. Nafasnya memburu dan tidak stabil. Kepalanya kemudian ditorehkan sesaat ke arah Nnoitra dan Ggio.

Irisnya lalu bertemu dengan bola mata Nnoitra. Mereka cukup lama melihat silih berganti seakan bicara lewat tatapan keduanya.

"Hah!," sentak Grimmjow. Pria itu bangkit sambil mengacak rambutnya frustasi dan pergi dari pub.

"Grimmjow!," seru Ggio. Tanpa banyak kata ia menyusul Grimmjow.

Sekarang hanya tersisa Nnoitra dan Ulquiorra. Singkat kata ini adalah salah satu malam terberat mereka.

"Bukankah sering kali kita seperti ini, Ulquiorra?"

"…"

"Dan sering juga kau berakhir seperti ini?"

"Mungkin"

Nnoita menghela nafasnya seraya mengambil gelas kecil yang berisi batu es. Ia berjalan menuju Ulquiorra yang terbaring di lantai pub dan memberi gelas itu.

"Ulquiorra, kau mau mendengar sebuah realita?"

"Hm?," gumam Ulquiorra yang tengah sibuk mendinginkan lukanya itu.

"Kami di sini karena hanya melihat dirimu dan Gin-san…"

"…"

Ulquiorra tak bergeming. Ia yakin apa yang didengarnya adalah nyata. Langsung dari mulut Nnoitra. Tapi…

"Apa maksudmu?"

"Kau memberikan kesempatan kami untuk berada di sini. Kami merasa mempunyai hutang budi terhadapmu. Lagipula kami sudah berjanji pada Gin-san untuk tetap berada di sini"

"Lalu?"

Agak lama pria dengan tinggi menjulang ini terdiam sambil memijat pangkal hidungnya, "Kurasa kami tak bisa menepati janji itu untuk waktu ke depan. Karena kami sudah muak. Ayahmu memuakkan," ujar Nnoitra penuh penekan di kalimat terakhir. Mengingatkan pada Ulquiorra betapa ia membenci Aizen.

"Maaf, kalau kami berkata seperti itu tentang ayahmu," sambil meregangkan tubuhnya Nnoitra pun akhirnya melangkah keluar juga dan meninggalkan Ulquiorra dalam keadaan menyedihkan.

"Tapi jika kau menahan kami. Kami akan tetap di sini"

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

A/N: Konnichiwa, minna-san! Tidak usah panjang lebar. Pasti updatenya kelamaan kan?. Maaf, saya juga menunda chapter ini. UN bener-bener membuat pikiran saya terkuras, bahkan sampai lupa ceritanya lagi karena udah gak lama update. Tapi, kembali lagi, berkat reader-san sebagai penyemangat saya, akhirnya chaper ini terselaikan #fufufu. Kayaknya chapter ini… entahlah, mungkin saya kurang ide atau gimana, jadi ceritanya tidak sesuai dengan reader-san harapkan. Dan terima kasih kalau masih ada yang mau mengikuti ceritanya. Reviewnya juga saya harapkan. Pokoknya semua apresiasi yang reader-san sampaikan saya hormati.

Arigatou― Gookein65