Chapter Sebelumnya...

"Ngomong-ngomong lusa Hinata ada ujian di Universitas, aku tidak bisa mengantarnya kesana karena ada pertemuan pemegang saham di Suna. Aku ingin kau mengantarnya, menggantikanku, Sasuke." Ujar Hiashi sambil berjalan menuju meja kerjanya.

"Yes my dad."Sasuke membungkukan badannya sedikit lalu memandang Hinata sejenak.

.

.

.

Hinata sedang memandangi cincin perak dengan permata berwarna biru di jari manisnya* dadanya terasa sesak saat mengingat ayahnya memberikan cincin tersebut kepadanya. Cincin itu adalah cincin istimewa yang membawa takdir tersendiri bagi pemiliknya.

Apakah ayahnya sudah tidak tidak mencintai ibunya ?? apakah ayahnya ingin melupakan ibunya ?? hingga dia memberikan cincin istimewa yang selalu dia pakai dahulu. Dan sekarang ayahnya memakai cincin pernikahanya dengan Kushina dengan permata merah.

Untuk pertama kalinya Hinata tidak diantar oleh ayahnya saat ujian, sejak sekolah dasar dan saat masuk SMA hingga kuliahnya. Ayahnya selalu mengantarnya saat ujian, hingga di meluangkan waktu seharian untuk menunggu Hinata selesai mengerjakan ujian.

Tidak, Hinata bukan ingin menjadi anak manja tetapi dia merasa ingin lebih diperhatikan oleh ayahnya yang sudah menikah lagi.

"Hinata-chan, ayo kita sarapan." Suara Kushina muncul dari balik pintu dan mengalihkan perhatiannya dari cincin dijarinya.

"Ha'i baa-san." jawab Hinata datar.

HER DEVIL HUSBAND

Warning: OOC, TYPOS, CRACKED- PAIR, etc

Rate: M

Disclaimer: Naruto Belonging Masashi Kishimoto

DON'T LIKE DON'T FLAME

DON'T LIKE DON'T FLAME

DON'T LIKE DON'T FLAME

READ AND REVIEW PLEASE (0.0)

Coba baca lagi deh siapa tau jadi suka . *author maksa*

3

Sasuke baru saja selesai memarkirkan mobilnya di halaman mansion Hyuuga, ketika dia akan masuk kedalam rumah tiba-tiba saja siluet sosok berambut hitam panjang melintas dihadapannya. Dia langsung memasang sikap waspada, tidak Sasuke tidak takut dengan hantu karena dia sendiri adalah iblis. Makhluk yang lebih menyeramkan dan menakutkan dari pada hantu.

Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang, Sasuke refleks membalikan badanya sambil mengepalkan tanganya.

"Hey apa kau tidak bisa lebih tenang, kawan lama ??" ujar si penepuk.

Sasuke menaikan sebelah alisnya, "Kau... kenapa kau berada disini ??"

"Apa kau lupa ?? aku kakak sepupu calon istrimu, jadi wajar jika aku berkeliaran disini." Ah sepertinya berita pernikahannya dengan Hinata sudah mulai menyebar.

Sasuke mendengus pelan lalu menurunkan tanganya dan merapikan jasnya, "Terserah."

Sasuke melanjutkan langkahnya menuju pintu mansion Hyuuga. Namun tiba-tiba si penepuk menghalanginya dan membukakan pintu untuk Sasuke.

"Kau masih suka menjadi penjilat, Neji ??" Sasuke menyeringai.

"Keh, aku bukan penjilat, hanya saja aku tahu kapan aku harus menjadi kucing dan kapan aku harus menjadi singa." Neji pun mengeluarkan seringaian lalu berjalan beriringan menuju ruang makan keluarga Hyuuga.

Disana ada Kushina dan Naruto duduk berhadapan dengan Hinata. Sasuke menaikan alisnya hingga hampir menyatu saat merasakan suasana hati Hinata yang sedang tidak baik.

'Ada apa ??' tanya Sasuke.

Hinata menaikan kepalanya saat mendengar telepati dari Sasuke, 'Tidak ada apa-apa.'

Kushina dan Naruto membalikan badanya mengikuti arah pandangan Hinata. "Ohayou baa-san." ujar Neji dan Sasuke bersamaan dengan nada yang sama.

Kushina tersenyum lalu bangkit dari kursinya, "Mari bergabung, Neji-san, Sasuke-san."

Sasuke berjalan lebih dahulu dan di ikuti oleh Neji di belakangnya, Sasuke menepuk pelan puncak kepala Hinata lalu duduk disampingnya. "Kau terlihat pucat, sayang. Apa kau terlalu keras belajar tadi malam ??" tanya Sasuke dengan lembut.

Hinata menggeleng lalu tersenyum, "Aku baik-baik saja, jangan terlalu khawatir."

Naruto menggenggam garpunya erat, entah mengapa hatinya merasa panas melihat rivalnya bermesraan dengan adik tirinya. "Aku selesai, terima kasih untuk sarapannya. Aku berangkat kaa-san, Hinata, Neji..." Naruto memandang tajam pada Sasuke, "Dan Sasuke. Semoga hari kalian menyenangkan."

Sasuke menyeringai lalu melihat seporsi pancake dengan madu dan tomat cherry yang baru saja disajikan oleh Hinata. "Kau selalu tahu seleraku."Sasuke tersenyum pada Hinata.

"Ohayou minna-san." Karin tiba-tiba saja muncul di belakang Kushina. "Ohayou Sasuke-kun."

Sasuke sedikit bergidik mendengar panggilan Karin yang terdengar seperti panggilan dari Shinigami yang siap mengambil nyawanya, meskipun mustahil Shinigami berani mencabut nyawanya.

"Berhenti menggoda calon adik iparku, rambut api." Ujar Neji sambil menikmati pancake di hadapannya.

Karin mengernyitkan alisnya lalu duduk dengan kesal dan memulai sarapannya.

"Nii-san, bagaimana keadaan kehamilan Tenten-nee ??"tanya Hinata yang telah menghabiskan sarapanya.

"Kandunganya sudah menginjak bulan ke tiga, hari ini aku akan mengantarnya ke rumah sakit untuk mengecek kandunganya." Ujar Neji sambil tersenyum pada Hinata.

"Apa kau ingin memiliki bayi juga di perut mu ??" tanya Sasuke sambil memandang Hinata lembut.

Hinata mengangguk, "Tapi sepertinya terlalu cepat untuk memiliki bayi, kita belum menikah."

Sasuke tersenyum lalu mengusap pelan perut Hinata, "Jika kita sudah menikah, disini akan tumbuh anak kita. Mereka akan menjadi anak yang cantik seperti mu dan tampan sepertiku." Sasuke mengecup pelan pelipis Hinata yang terhalang poni.

Karin menggeram tidak suka melihat adegan penuh cinta yang dilakukan Sasuke pada Hinata. 'Tidak, Hinata hanya mencintai Naruto. Dia tidak mencintai Sasuke dan Sasuke tidak mencitai Hinata, dia mencintai wanita lain.'

Sedangkan Neji dan Kushina tersenyum melihat adegan romantisme dihadapan mereka. Kushina dan Neji teringat pada saat awal mereka menikah.

"Aku sudah selesai, apa kita akan berangkat sekarang ?? atau kau ingin melakukan sesuatu terlebih dahulu ??" tanya Sasuke.

Hinata menggeleng, "Aku akan mengambil tas ku di kamar, setelah itu kita pergi." Hinata bangkit namun Sasuke menahan tanganya.

"Aku yang akan mengambilnya, kau tunggu saja di taman." Ujar Sasuke lalu melesat dalam sekejap mata.

"Dia cepat sekali." ujar Kushina.

HER DEVIL HUSBAND

Naruto membawa mobil Lamborgini kuningnya dengan kecepatan diatas normal. Amarah sudah memenuhi pikiran dan hatinya, dia bahkan mengabaikan umpatan dari pengguna jalan yang hampir celaka karena ulahnya.

Naruto mengerem mobilnya mendadak saat sampai di depan rumah Sakura, kemudian dia memukul stirnya dengan cukup keras.

"Sialan !!" Naruto menengok ke rumah Sakura yang berdiri disampingnya lalu kembali mengumpat karena Sakura tidak kunjung keluar. Naruto pun membunyikan klakson yang cukup untuk membangunkan satu komplek perumahan.

Lima menit kemudian Sakura keluar dari dalam rumah dengan menggunakan rok hitam ketat diatas lutut, kemeja berwarna merah darah dan jas praktek berwarna putih. "Gomen, lama menunggu. Kau datang lebih pagi, Naruto." Ujar Sakura setelah mendudukan dirinya di samping Naruto.

Naruto langsung memacu mobilnya tanpa menghiraukan pertanyaan Sakura. "Ada apa Naruto ??" Sakura mengusap pelan lengan Naruto.

Naruto menghembuskan napas berat lalu sedikit menurunkan kecepatan mobilnya, "Tidak ada apa-apa."

Sakura tersenyum, "Aku ada ujian hari ini, apa kau mau menjemputku nanti sore ??"

Naruto menggeleng, "Aku akan lembur hari ini, maaf aku tidak bisa menjemputmu."

Sakura mengangguk maklum dengan kesibukan kekasihnya, kemudian tertunduk sedih. "Naruto, apa kau sudah meminta maaf pada Hinata ??"

Naruto seketika menghentikan mobilnya yang kebetulan sudah sampai di depan kampus Sakura. "A-aku tidak bisa meminta maaf padanya, entah mengapa setiap aku bertemu denganya aku lupa tentang hal itu."

Sakura masih menunduk, "A-aku tidak ingin terus seperti ini, aku ingin kembali berteman dengan Hinata."

Naruto menghela napas berat, lagi. "Sebaiknya besok kau berkunjung ke mansion Hinata, kita meminta maaf padanya dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi." Naruto menutui kenyataan bahwa dia juga tinggal serumah dengan Hinata.

Sakura mengangguk lalu membuka pintu mobil, "Semoga harimu menyenangkan." Sakura mengecup pipi Naruto lalu keluar dari dalam mobil.

Sedangkan Naruto mengusap pelan bekas kecupan Sakura. "Aku tidak siap melihat air matanya saat aku meminta maaf , dan aku tidak ingin melihat air mata Sakura terus menerus."

HER DEVIL HUSBAND

Jam menunjukan pukul tiga sore, Hinata baru saja menyelesaikan semua ujiannya. Ketika keluar dari kelas dia mendapat pesan dari Sasuke.

From : Sasuke-kun

Subject : Wait me...

Aku masih ada urusan, kau tunggu saja di kantin. Aku akan menjemputmu sebentar lagi, jangan kemana-mana dan jangan berbicara dengan pria lain.

Hinata mengerutkan alisnya membaca kalimat terakhir pesan Sasuke lalu menggeleng pelan. "Dasar Possesif." Hinata tidak menyangka jika Sasuke akan posesif padanya, padahal dia baru bertemu tiga kali dengan Sasuke setelah Sasuke dan Naruto lulus dari senior high.

"Siapa yang possesif, Hi-na-ta-chan ??" tanya Ino sambil menepuk punggungnya.

"I-Ino-chan ?!! se-sejak kapan kau berada disini ??" Hinata terkejut.

"Aku sejak tadi memanggilmu, tetapi kau malah fokus pada ponselmu." Ino memberengut lucu.

"Gomen, ada apa kau kemari, Ino-chan ??"

"Apa aku tidak boleh kemari ?? aku sedang mencari Temari tetapi aku tidak menemukanya dan aku malah menemukanmu, bagaimana kalau kita ke kantin ?? kau tidak buru-buru pulang kan ??" berondong Ino.

Hinata mengangguk, "Aku memang akan pergi ke kantin."

Mata Ino berbinar, "Baiklah ayo kita pergi !!" ini merangkul Hinata dan membawanya ke kantin.

HER DEVIL HUSBAND

Suasana kantin tidak terlalu ramai di sore hari, disana hanya ada beberapa mahasiswa yang sedang makan dan berinteraksi dengan mahasiswa lain. Dan disalah satu meja ada sekelompok pemuda yang ingin Hinata hindari.

Hinata menghela napas dan merapalkan doa agar dia selamat hingga Sasuke menjemputnya. Hinata dan Ino duduk terhalang tiga meja dari kelompok pemuda itu.

"Hey itu bukannya Hinata ??" celetuk Kimimaro.

Sasori memandang melalui sudut matanya, "Cih, dia bersama si ratu gosip."

"Tenang sedikit mate, kau bisa mendapatkan yang lebih baik dari dia. Banyak wanita yang mengantri padamu." Timpal Utakata.

"Aku heran kenapa dia lebih memilih si Namikaze yang bodoh itu dibandingkan kau," ujar Pein.

"Karena dia mencari laki-laki yang dapat memuaskannya di ranjang." Jawab Sasori. Mereka pun tertawa terbahak-bahak.

Sasori dan Pein merupakan senpai Hinata saat di Senior High, Sasori sudah akrab dengan Hinata sejak kecil dan perasaanya semakin tumbuh. Tetapi pada saat dia mengutarakan perasaanya pada Hinata, dia malah di tolak oleh Hinata. Karena Hinata sudah menyukai Naruto.

Sedangkan Pein adalah musuh Naruto, entah mengapa dia membenci Naruto. Saat dia tahu kekasih Naruto membuat sahabatnya –Sasori patah hati dan hampir bunuh diri. Dia menjadi begitu membenci Hinata dan Naruto. Dan yang lebih parah mereka tidak tahu bahwa hubungan Naruto dan Hinata sudah kandas sejak lama.

Hinata hanya menunduk menyadari bahwa dirinya menjadi bahan pembicaraan kotor pemuda yang dahulu begitu mencintainya. Ino mendengus pelan dan mengepalkan tanganya. "Sialan !! mereka laki-laki bermulut perempuan !! aku akan menghajar mereka untukmu." Ino bangkit dan siap menghajar keempat laki-laki tersebut namun tangan Hinata mencegahnya.

"Tunggu Ino-chan." Hinata memandang Ino dengan mata berkaca-kaca.

"Ada ap-..."

Bruk...bruk...brak...

Ino menghentikan ucapanya saat mendengar suara orang terjatuh dan benda yang rusak. Hinata dan Ino pun membelalakan matanya melihat kondisi keempat laki-laki yang tadi membicarakan Hinata.

Mereka sudah terjatuh dengan luka pukulan di wajahnya dan meja di tengah mereka rusak parah.

"Apa yang terjadi ??" tanya Hinata.

"Lain kali jika ingin membicarakan calon istri orang lain kau harus melihat situasi, sebelum kau berakhir di neraka dengan tangan calon suaminya." Ujar Sasuke yang entah sejak kapan berdiri di belakang Hinata.

"U-Uchiha senpai !!" pekik Ino sambil menunjuk Sasuke.

Hinata menengokan kepalanya, lalu melotot pada Sasuke yang terseyum padanya. "Apa aku terlalu lama meninggalkanmu, sayang ?? ah sepertinya mereka mengganggumu, apa aku perlu mengirim mereka ke neraka sekarang juga ??" tanya Sasuke sambil merangkul pinggang Hinata dengan sebelah tangan dan sebelah tanganya yang lain tersampir jas hitam yang dia gunakan tadi pagi.

Sasori dan Pein pun bangkit dan menatap Hinata dengan tatapan merendahkan.

Sasuke memandang mereka sekilas, "Sebaiknya kita pulang, sayang." Sasuke lalu membawa Hinata keluar dari kantin, baru saja tiga langkah menjauh, Sasuke menghentikan langkahnya dan menengokan kepalanya pada Ino. "Dan nona Yamanaka, terima kasih sudah menemani calon istriku. Sepupuku sebentar lagi akan menjemputmu." Sasuke dan Hinata melanjutkan kembali langkahnya.

"Cih kau mendapatkan mangsa baru rupanya." Ujar Pein.

"Semoga kau dipuaskan di atas ranjang." Timpal Sasori.

Entah sejak kapan Sasuke meninggalkan Hinata dan berdiri dibelakang Pein dan Sasori. Kemudian Sasuke melayangkan tendanganya ke atas kepala Sasori hingga membuatnya kembali tersungkur*. Belum sempat mengatakan apapun, kaki Sasuke yang masih berada di udara melayangkan tendangan ke samping tepat mengenai wajah Pein.

Sasuke menutup wajahnya dengan sebelah tangan sambil menggelengkan kepalanya. "Sudah ku bilang jaga ucapan kalian tentang calon istriku !! atau kalian akan menanggung akibatnya." Mata Sasuke berubah menjadi merah dan itu disadari oleh Hinata.

Aura demon Sasuke berpendar kuat seisi kantin, Hinata tahu jika Sasuke tidak di hentikan dia akan memakan jiwa Pein dan Sasori.

"Sasuke-kun !! hentikan !! kita pulang sekarang !!" teriak Hinata dengan tegas.

Sasuke memandang Hinata dengan mata merahnya lalu menyeringai, "Aku hanya ingin memberi sedikit pelajaran pada mereka."

Hinata melihat sekelilingnya, orang-orang di kantin seperti boneka kosong yang tidak bernyawa termasuk Ino. "Apa yang akan kau lakukan ??" tanya Hinata.

"Memberikan siksaan ringan pada mereka yang sudah merendahkan calon istriku. Tenang saja aku akan mengembalikan yang lain seperti semula, kecuali dua orang ini. Aku tidak akan memakan jiwa mereka, aku sedang tidak lapar." Pein dan Sasori tiba-tiba saja menjerit dan berguling-guling diatas lantai dengan mata yang mengeluarkan darah.

Hinata membulatkan matanya, namun tiba-tiba Sasuke sudah berdiri di belakangnya dan menutup mata Hinata dengan sapu tangan, kemudian menutup telinga Hinata dengan tanganya. "Kau tidak boleh melihat hal yang menakutkan, kau hanya boleh melihat keindahan dan kesempurnaan. Dan aku akan memberikanya untuk mu." Bisik Sasuke. Lalu Hinata jatuh pingsan dalam pelukanya.

TBC

Cincin yang di kasih sama Lady Elizabeth buat Ciel tapi engga jadi –kuroshitsuji 1 episode 10-

Kuroshitsuji season 2 episode 3 pas adegan Sebastian mendaratkan kakinya di wajah Grell –rambutnya merah, pake kacamata pula, bener-bener mirip Karin.- tapi ini posisi nya dari belakang

Oh iya aku mau ngingetin, di fict ini Sasuke itu iblis ya. Jangan terlalu baper dengan hal-hal romantis yang dia lakukan ke Hinata. Aku takut ditimpuk atau di kejar-kejar reader kalo imajinasi kalian sudah tinggi mengenai romantisme sasuhina tapi yang aku suguhkan malah tidak pantas. Dan aku mau minta maaf kalo Hinata disini keliatan engga konsisten, karena Hinata masih belum terbiasa dengan kehadiran iblis disisinya.

LOL, beberapa hari kemarin ada PM yang masuk nanyain tentang Japan Matsuri Grup, aku mau minta maaf sebelumnya karena engga semua PM aku jawab, soalnya kuota aku seret, uang buat beli kuotanya aku pake buat beli wig sama softlens buat cosplay. Tapi softlensnya silindris sih bukan buat gaya-gayaan. Balik lagi ke topik, JM belum buka cabang selain di Jabodetabek, Bandung Semarang. Maaf banget kita di Bandung masih merintis, bahkan di Semarang kita baru punya 1 admin.

Besok aku ulangan matematika, minna-san doakan semoga aku engga di remedial, kkm nya 78,5 huaaaaa berat banget

Mind to read and review ??