Title: Help me!
Main cast: Chanyeol & Baekhyun
Other Cast: just find it ha ha
Genre: Romance/Humor.
Rating: T
Pairing: Chanbaek (Akan bertambah seiring berjalannya waktu)
Desclaimer: semua cast adalah milik tuhan yang maha kuasa. Saya hanya meminjam mereka sebentar disini/? Wakakak. cerita ini hanyalah fiksi! Tidak benar adanya di kehidupan nyata. Thanks *wink*
Summary: Byun baekhyun baru saja pindah dari London. Apa jadinya jika seorang pria jangkung yang gila dan tidak jelas tiba-tiba memintanya untuk menjadi kekasihnya? /"begini, kau harus mengaku bahwa kau adalah kekasihku, okay?"/"APA?KEKASIH? KAU GILA! AKU BAHKAN TIDAK MENGENALMU!"/ CHANBAEK!YAOI!Romance/Humor! Mind to RnR?
*cerita asli milik saya!*
.
.
.
.
.
.
THANKS TO:
Dhea485, N-Yera48, Jung Eunhee, Special Bubble, Mr. KHC, reiasia95, Guest, Youngnachoi, 14nindyehet, parklili, alightphoenix, DiraLeeXiOh, Mela querer chanBaekYeol, ChanBaekLuv, Park Shita, Shouda Shikaku, Neng, L.A, deeryeosin, KimChanBaek, Rina97, kacangpolongman, 90Rahmayani, dayeol182
.
.
.
.
.
HAPPY READING!
.
.
.
.
.
.
.
.
"Baek."panggil jongdae.
Baekhyun menoleh dengan mulut yang penuh dengan makanan. Ia menatap jongdae dengan tatapan yang seoalh berkata 'ada apa?'
"Apa kau menyukai chanyeol?"
UHUKKKKKKKK
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
CHAP 4!
baekhyun tersedak. Ia meraih minuman yang entah milik siapa lalu meneguknya hingga habis. Chanyeol juga hampir menyemburkan isi mulutnya pada jongdae jika saja dia tidak langsung menelannya. Tapi yang kalian harus tau, baekhyun adalah orang yang paling berlebihan disini. Setelah merasa baikan, baekhyun menghembuskan nafas pelan dan menatap jongdae yang sepertinya masih penasaran dengan jawaban dari pertanyaan yang ia ajukan tadi.
"pertanyaan macam apa itu."kata baekhyun.
"Tapi reaksimu berlebihan sekali bung."
Baekhyun terdiam. Tak lama, dia membuka suara."b-berlebihan a-apanya…"
"hey, kau gugup? Suaramu bergetar."
Baekhyun semakin terpojok. Untuk yang pertama kalinya, chanyeol menatapnya. Lalu tersenyum kecil. Dan jongin berdehem agak keras.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, bung"
"hhh, aku permisi."baekhyun langsung berdiri dan meninggalkan mereka. Jongdae tertawa kecil, begitupun dengan jongin. Sedangkan chanyeol? Tanpa ada yang menyadari, dia tersenyum kecil.
"Hey bung, kurasa dia mulai menyukaimu…"kata jongdae dengan suara yang dikecilkan. Jongin mengangguk setuju. Rupanya mereka sudah selesai dengan acara 'tertawa bersama' mereka.
Semoga saja.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"CHANYEOL!"panggil jongdae. Chanyeol menoleh. Ia menatap sahabatnya itu dengan tatapan penuh tanya. Jarang sekali dia terlihat panik seperti ini. Biasanya jika ada sesuatu yang terjadi, dia akan tetap tenang dan menjelaskan semuanya dengan baik. Kecuali insiden yang mungkin merenggut nyawa orang lain, baru itu dia tidak bisa tenang dan bertingkah seperti orang kesetanan.
"Ada apa?"tanya chanyeol. Jongdae menahan tangannya.
"B-ba-aekhyun…"kata jongdae dengan nafas yang terengah-engah. Ia menunjuk ke sembarang arah. Chanyeol semakin bingung. Perasaannya tidak enak tentang baekhyun kali ini. Dia berani sumpah. dia tidak berbohong kalau dia berkata bahwa dia khawatir pada pria itu.
"tenang dulu, jongdae. Tenang…"jongdae melepaskan genggamannya di lengan chanyeol. menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan.
"Dia…dia…"
"DIA KENAPA?"tanya chanyeol dengan nada tinggi. Kekhawatirannya semakin menjadi-jadi. Dia juga tidak tau mengapa dia bisa menjadi emosi seperti ini. Oke, abaikan pernyataan yang terakhir.
"Kamar mandi… baekhyun… dia… Lihat saja sendiri!"
Tanpa mengucapkan selamat tinggal ataupun terima kasih, chanyeol langsung berlari seperti orang kesetanan. Tak jarang dia juga menabrak orang yang ada di koridor atau yang tengah menuruni tangga, Mengingat keadaan sekolah yang belum terlalu sepi. Tak sedikit orang yang menatapnya tajam, mengutuknya, dan bahkan hampir melemparnya dengan sepatu yang harganya tidak sedikit. Kalian tau kan kalau ini sekolah orang kalangan atas?
BRAAAKKKKKK
Chanyeol menendang pintu dengan keras. Dia tidak peduli jika pintu itu terlepas atau apapun. Dia hanya ingin melihat baekhyun. Memastikan apa anak itu baik-baik saja atau sesuatu sedang menimpanya. Karena jujur saja, perasaannya tidak enak sejak tadi. Dan sekali lagi, dia tidak berbohong kalau dia bilang bahwa dia khawatir.
Emosi chanyeol semakin menjadi-jadi saat mendapati baekhyun tengah memeluk lututnya sendiri di sebelah bilik paling ujung. Tanpa basa-basi, dia langsung menghampiri baekhyun yang terlihat kedinginan. Tubuhnya seperti bergetar-getar. See? Perkiraan chanyeol tidak pernah salah. Seseorang—dengan tega—telah melakukan hal buruk padanya. Dan demi tuhan, siapapun itu, dia tidak akan selamat begitu saja dari tangan park chanyeol.
"BAEKHYUN! Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini pa—"belum sempat chanyeol menyelesaikan kalimatnya, baekhyun langsung memeluknya dengan erat. Ia bisa merasakan seragamnya yang mulai basah. Baekhyun menangis dipelukannya. Dia terisak pelan. Meskipun begitu, chanyeol bisa mendengarnya. Tentu saja karena dia memiliki telinga super lebar yang dapat bekerja full 1x24 jam.
"Uljima…"chanyeol menggerakkan tangannya untuk mengelus punggung baekhyun pelan. Baekhyun masih terisak. Chanyeol juga tidak mengerti mengapa pria yang ada di dalam pelukannya ini menangis hanya karena hal sepeleh seperti ini. yeah, mungkin baginya ini hanyalah hal sepeleh. Tapi untuk baekhyun tidak.
"siapa yang melakukan ini padamu?"kata chanyeol. suaranya melembut. Setidaknya, dia hanya ingin membuat baekhyun tenang dan tidak menangis lagi. Karena jujur saja, dia tidak tega melhat pria bertubuh mungil ini menangis. Entahlah, dia juga tidak tau kenapa.
"Hiks…Hiks…Hiks…"isakan baekhyun semakin keras. Chanyeol tidak tau mesti berbuat apa.
"Uljima… kau sangat jelek jika menangis kau tau."chanyeol tidak tau apakah kata-katanya ini membuat baekhyun semakin bersedih atau tidak. Yang pasti, kata-katanya barusan itu hanya untuk menghibur pria ini.
Baekhyun melepaskan pelukannya dengan chanyeol. setidaknya, tubuhnya merasa lebih hangat di banding yang tadi.
"Ini. pakailah. Kau kedinginan, kan? Setelah itu ceritakan kepadaku apa yang terjadi."chanyeol melepaskan blazer yang membalut tubuhnya dan memakaikannya pada baekhyun. Baekhyun mengangguk.
"Kemarilah…"chanyeol menarik tubuh baekhyun ke pelukannya. ia hanya ingin membagi kehangatan, tidak lebih. Walaupun—yeah, jantungnya tengah berdegup kencang saat ini. sekali lagi, jangan tanyakan chanyeol kenapa ia bisa melakukan ini semua karena diapun tak tau. Keinginan untuk memeluk baekhyun sangat besar. Rasanya dia ingin mati melihat baekhyun menggigil seperti ini. well, lupakan pernyataan terakhir. Terlalu berlebihan.
Baekhyun melingkarkan kedua tangannya di pinggang chanyeol. ia memejamkan matanya perlahan. Menikmati sensasi 'sengatan listrik' yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia merasa sangat nyaman. Dia tidak pernah tau kalau berada di dalam dekapan chanyeol akan sehangat ini. Ah, kalian harus berterima kasih karena keadaan toilet ini sangat bersih. hey, jangan bilang kalian lupa kalau ini sekolah elit. Kalian mengingatnya, kan? Dan kalian juga harus berterima kasih karena keadaan sudah sepi. Dan hanya mereka berdua yang ada di toilet utama ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Aku di serang oleh sasaeng fans mu itu."kata baekhyun tiba-tiba. Chanyeol mengernyit. Sasaeng? sasaeng yang mana?
Dan disinilah mereka sekarang. Toko es krim dekat sekolah yang menjadi tempat favorite baekhyun setelah kamarnya—di seoul. Well, chanyeol tidak pernah tau kalau baekhyun adalah pencinta es krim stroberi. Lihat saja, dia seperti punya dunia sendiri ketika memakan es krimnya. Bahkan saat chanyeol mengajaknya bicara, dia tidak mengubris dan memfokuskan hidupnya pada semangkuk es krim stroberi yang terlihat lezat—bagi baekhyun—.
Chanyeol terpaksa mengikuti keinginan baekhyun untuk kemari karena sejak insiden baekhyun-basah-kuyup-di-toilet-sekolah tadi membuat pria itu diam seribu bahasa. Dan saat chanyeol bertanya apa yang paling diinginkannya saat ini, dia menjawab dengan cepat "Es krim stroberi!". Seolah mendapatkan semangat hidupnya kembali, baekhyun langsung ceria dan berlari-lari seperti anak anjing yang diajak bermain oleh majikannya. Dia bahkan tersenyum dari telinga ke telinga. Well, mungkin chanyeol harus lebih banyak mengetahui tentang baekhyun mulai hari ini.
"Sasaeng yang mana?"tanya chanyeol.
"Haish. Sasaeng fans mu yang bernama Choi Sulli itu."jawab baekhyun ketus.
UHUK.
Chanyeol tersedak es krim pisangnya sendiri. dia tidak tau kalau sulli akan benar-benar menyiksa baekhyun. Walaupun ini tidak terlalu parah dan sudah sering terjadi di sekolah mereka, Tapi tetap saja tidak bisa di biarkan karena gadis gila itu berusaha untuk mencelakai 'kekasih' nya.—yeah, mungkin chanyeol memang harus berhenti untuk memanggil baekhyun dengan sebutan 'kekasih' sekarang.
"Ceritakan kepadaku bagaimana dia bisa menyiksamu."kata chanyeol dengan santai.
"Shireo. Asalkan kau mau mentraktirku satu mangkuk es krim lagi."
"Mwo? Ya!—"
"Apa? Kau tidak mampu membayar?"
"apa maksudmu? Aku bahkan bisa membeli toko ini dengan tunai!"
"Lalu mengapa kau tidak mau?"
"Kau gila? Lihat. Sudah 4 mangkuk es krim di atas meja dan kau masih ingin menambah lagi?"chanyeol menunjuk-nujuk 4 buah mangkuk yang sudah bersih tak tersisa. Itu semua milik baekhyun.
Baekhyun mengangguk cepat sambil tersenyum dari telinga ke telinga. Benar-benar menggemaskan, seperti anak anjing.
"Hhhh baiklah. Tapi kau harus bercerita dulu! Baru itu aku tambah satu lagi."
"baiklah."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"gadis itu benar-benar menyebalkan! Hah! Aku akan membunuhnya."gerutu chanyeol setelah baekhyun menceritakan semuanya. Dia benar-benar kesal pada sulli yang menyiram baekhyun dengan air kotor bekas untuk mengepel lantai. Benar-benar tidak tau diri. Rasanya dia ingin membakar gadis itu hingga menjadi debu kalau ia bisa.
Dan satu lagi yang dia ketahui tentang baekhyun adalah pria itu benci dingin dan tidak suka sendirian.
"Chanyeol…"
"apa?"
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"
Chanyeol terdiam sebentar. Mengapa baekhyun tiba-tiba mengubah topik pembicaraan?
"Ya. Selama itu bukanlah pertanyaan yang macam-macam."
"Em..Um…"
Chanyeol mengernyit. ia berusaha menerka-nerka pertanyaan yang akan dilontarkan baekhyun. Mungkinkah dia akan bertanya siapa cinta pertamamu? Atau apa kau pernah berciuman? Atau mungkin juga apa kau pernah berkencan sebelumnya? Chanyeol tersenyum kecil membayangkan isi pikirannya yang sudah mulai tidak beres.
"jadi begini, soal jongin…"
Kerutan di dahi chanyeol semakin menjadi-jadi. Untuk apa pria ini bertanya tentang jongin? Yeah, jujur saja chanyeol merasa sedikit tidak nyaman. Bukan apa-apa, tapi—ah entahlah. Dia juga tidak tau kenapa dia bisa merasa tidak nyaman seperti ini.
"Apa dia memang pendiam seperti itu?—maksudnya, apa dia memang lebih suka diam?"
Chanyeol menghembuskan nafas pelan. Dia menatap kosong ke arah jendela. Seperti mengenang sesuatu yang tak sepantasnya untuk dikenang.
"C-chanyeol? apa kau merasa terganggu dengan pertanyaanku?—maaf. Aku tidak bermaksud."baekhyun menunduk. Ia merasa tidak enak pada chanyeol yang tiba-tiba menjadi sedih karena pertanyaannya. Chanyeol tidak mengubris. Dia tetap memfokuskan matanya pada pemandangan yang tidak ada bagus-bagusnya sama sekali. Hanya trotoar yang dipenuhi orang yang sedang berlalu lalang dan mobil-mobil yang datang dan pergi dari segala arah.
"Tidak apa-apa."kata chanyeol setelah beberapa lama terdiam.
"Tapi maaf aku tidak bisa memberitahukan hal itu kepadamu saat ini."sambungnya. baekhyun mengangguk pelan. Sepertinya chanyeol marah dengan pertanyaannya tadi. Tapi dia tidak ingin menunjukkan kemarahannya. Well, suara chanyeol yang datar seperti tadi itu benar-benar tidak lucu. Sangat menakutkan.
"Tak apa. Aku minta maaf atas pertanyaanku tadi."
"ayo pulang."chanyeol tidak mengindahkan perkataan baekhyun dan langsung berdiri.
Baekhyun mengangguk pelan. Ia tahu chanyeol masih marah padanya. Mungkin pertanyaannya tadi menyinggung perasaan pemuda itu.
Baekhyun berpikir keras. Selagi chanyeol membayar semua pesanan mereka tadi, ia berusaha mencari cara agar chanyeol tidak marah lagi padanya. Karena akan sangat berbahaya jika chanyeol mendiamkannya hingga esok hari. Bisa bisa saat gadis gila itu menyiksanya lagi, chanyeol tidak akan peduli padanya. Geez, dan itu sangat mengerikan. Membayangkan saja membuat baekhyun ingin pingsan.
Karena terlalu lama berpikir, baekhyun bahkan tidak sadar kalau chanyeol sudah meninggalkannya duluan. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat. Beruntung chanyeol belum terlalu jauh sehingga ia masih bisa menyusulnya. Baekhyun berjalan di belakang chanyeol. Ia terlalu takut untuk menyamakan langkahnya dengan pria itu. Toh chanyeol juga sepertinya baik-baik saja dengan posisi seperti ini.
Baekhyun menghentak-hentakkan kakinya dengan kasar. Mulutnya bergerak-gerak. Seperti menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Seperti sebuah…. Umpatan? Yeah. Baekhyun tengah mengumpat hebat ke arah chanyeol. ia kesal karena chanyeol memarkirkan mobil di sudut jalan. Membuat tubuhnya yang kelelahan ini semakin lelah.
"kau masih marah padaku?"
Chanyeol tak bergeming. Baekhyun menghembuskan nafas kasar.
"Ayolah chanyeol… Jangan marah, oke?"
Chanyeol tidak menjawab. Sebenarnya dia tidak betul-betul marah pada baekhyun. Dia hanya ingin mengerjai anak itu. Hahaha. Sepertinya chanyeol harus benar-benar mengurangi kadar kejahilan dalam jiwanya.
"Park chanyeol…"
"Jawab aku…"
Baekhyun menghembuskan nafas kasar lagi. Dia sudah lelah. Dia ingin menyudahi semua ini.
"PARK CHANYEOL!"
"Ap—"
CUP.
DEG
DEG
DEG
Baekhyun melepaskan tautan bibirnya dengan chanyeol. dia tidak ingin lepas kontrol jika terus berlama-lama mencium raksasa bodoh yang masih saja tak bergeming dari tempatnya itu. Baekhyun menelan salivanya dengan susah payah. Bermacam-macam pernyataan terlintas di pikirannya. Dia hanya berharap semoga keputusannya untuk mencium chanyeol tidak salah.
"Park chanyeol… hey…"baekhyun melambai-lambaikan tangannya di depan wajah chanyeol. pria itu tetap tidak bergeming.
"YA!"teriak baekhyun.
"Uh?"chanyeol memasang wajah tololnya. Dia masih berusaha untuk mencerna apa yang baru saja terjadi. Baekhyun menciumku?...
Setelah berhasil menjalankan otaknya yang tadi sempat berhenti, ia menyeringai kecil.
"Jangan marah lagi, okay?"
"Lain kali kalau menciumku harus pakai aba-aba dulu! Aku jadi tidak bisa membalas ciumanmu kan!"gerutu chanyeol. perkataannya barusan sukses membuat wajah baekhyun memerah sempurna. Ada perasaan menggelitik menjalar di sekujur tubuh pria itu. Termasuk di tubuh chanyeol juga.
"Dasar bodoh."
"Hei. Aku tidak bodoh."
"terserah padamu, bodoh."baekhyun berjalan mendahului chanyeol. chanyeol tertawa kecil lalu menyusulnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Baekhyun, apa kau lelah?"chanyeol menyandarkan punggungnya di jok mobil. Baekhyun mengangguk pelan. Antara sadar dan tidak sadar. Ia sudah terlalu lelah. Kekuatannya terkuras habis seharian ini.
"Apa aku membuatmu lelah?"tanya chanyeol lagi. Baekhyun menggeleng. Chanyeol tersenyum kecil. dia teringat akan perkataan kakak sepupunya yang ada di china, "kau tau? Perkataan di malam hari itu biasanya jujur. Apalagi jika sudah berada di ambang batas antara sadar dan tidak sadar, kau benar-benar bisa menggunakan waktu itu untuk menanyakan hal-hal yang lebih 'mendalam'"
"Apa kau menyukaiku?"oke, mungkin ini memang terdengar aneh dan sedikit gila. Tapi dia benar-benar ingin mendengar jawaban dari baekhyun. Walaupun—yeah, lebih kepada membuktikan ucapan jongdae saat di kantin tadi. Ingat saat jongdae berkata bahwa baekhyun mulai menyukainya? Nah, dia ingin membuktikan itu. Jujur saja, dia juga sangat penasaran. Apa baekhyun benar-benar mulai menyukainya?
Baekhyun mengindikkan bahu. Seketika senyum menawan di wajah chanyeol langsung memudar. Ternyata baekhyun belum menyadari perasaannya sendiri. chanyeol menatapnya sendu. Terbesit rasa kekecewaan dalam hatinya, mengetahui baekhyun tidak memberi anggukan untuk pertanyaannya tadi. well, Sebenarnya, dia menginginkan anggukan.
"Oh baiklah. Kau hanya perlu tidur dan jangan memikirkan apapun, termasuk pertanyaanku tadi, mengerti?"baekhyun mengangguk. Chanyeol mendekatkan wajahnya ke kepala baekhyun. Mengecupnya perlahan dan lembut. Oh seriously, chanyeol benar-benar harus berhenti bersikap seolah mereka benar-benar sepasang kekasih. Toh dia juga tidak menolak saat aku menciumnya kan? Apa salahnya?
Drtt drtt
Bunyi ponsel baekhyun sukses mengintrupsi pikiran chanyeol yang mulai tidak beres alias sedikit bermasalah. Ia mengerutkan keningnya saat membaca nama penelfon yang tertera disana. 'Ibu'? tanpa berpikir panjang, chanyeol segera mengangkatnya. Dengan sedikit ragu-ragu.
"Baekhyun, kau dimana?"suara diseberang sana sukses membuat nafas chanyeol tercekat.
"Maaf nyonya, baekhyun sudah tidur. Aku temannya. Dia terlihat sangat lelah. Aku baru saja akan mengantarnya pulang. Jadi kuharap nyonya tak perlu khawatir."
"Oh begitu. Baiklah. Aku lega sekarang."
Chanyeol tersenyum kecil. setelah berbicara sebentar dengan nyonya byun, dia mengucapkan sampai jumpa dan menutup telefon. Dia terkekeh pelan menatap baekhyun yang terngah tertidur pulas di sampingnya. Ia menutup sebagian tubuh baekhyun dengan blazer nya. Baekhyun benci dingin dan dia tidak ingin 'kekasihnya' ini kedinginan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Annyeong haseyo, aku park chanyeol nyonya. yang tadi berbicara dengan anda di telefon."
"Oh, begitu kah? Baiklah. Masuklah dulu. Baekhyun pasti berat, kan?"chanyeol terkikik pelan lalu membawa masuk baekhyun yang masih tertidur pulas di gendongannya.
"Nyonya, boleh aku tau dimana kamar baekhyun?"tanya chanyeol.
"ada di atas. Kamar yang paling ujung."
Chanyeol mengangguk dan melangkahkan kakinya ke arah tangga. Ia menatap baekhyun sejenak. Wajahnya yang tertidur seperti ini benar-benar sangat menggemaskan. Chanyeol mendekatkan wajahnya ke arah baekhyun. Mempersempit jarak di antara mereka. Hidung merekapun bersentuhan.
"kenapa kau sangat menggemaskan, hm?"tanya chanyeol. ia menjauhkan wajahnya dari wajah baekhyun. Sebenarnya dia sama sekali tidak berniat untuk mencium baekhyun. Dia hanya ingin menggesekkan hidung itu dengan hidungnya. Simple, itu saja. Chanyeol terkikik geli melihat baekhyun yang menggeliat kecil dalam gendongannya. Pria itu mengeratkan lingkaran tangannya pada lehernya. Tanpa sadar, mereka sudah sampai di kamar paling ujung yang dikatakan nyonya byun tadi. Chanyeol membuka pintu dan merebahkan tubuh baekhyun di ranjang king size yang ada disana.
"bermimpi yang indah baekhyun, selamat malam."chanyeol mengangkat selimut hingga di dagu baekhyun.
"Aku mencintaimu…park…chanyeol…."chanyeol terkikik. Ia tidak peduli apa baekhyun tengah mengigau atau apa, tapi yang pasti, dia sangat senang. Setidaknya, baekhyun menggumamkan namanya meskipun dalam keadaan tidak sadar, kan? Dan itu membuatnya bahagia.
"Aku juga mencintaimu, baekhyun…"chanyeol mengecup puncak kepala baekhyun sebentar. Lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.
Setelah sampai di lantai bawah, chanyeol langsung disambut oleh nyonya byun yang terlihat menghampirinya.
"Kau ingin minum apa, chanyeol?"
"Tidak usah nyonya."
"Oh begitu… tapi sepertinya baekhyun nyaman saat bersamamu."
Chanyeol mengernyitkan keningnya.
"Dia tidak pernah bertingkah semanja itu pada orang lain. Selain padaku, ayahnya, dan juga… a-ah bukan siapa-siapa"
Chanyeol semakin bingung. Bermacam-macam pertanyaan bermunculan di pikirannya. Mulai dari siapa yang bisa membuat baekhyun nyaman selain orang tuanya? Dan juga apa baekhyun semanja itu pada teman-temannya? Bahkan yang lebih ekstrim, apa baekhyun pernah memiliki kekasih sebelumnya?
"O-oh begitu…"katanya kemudian.
"Kau membuatnya jatuh cinta. Jangan sia-siakan dia chanyeol. aku bergantung padamu."
"Tentu, nyonya. Aku tidak akan menyianyiakannya."
Well, Kalian harus tau bahwa tidak ada kebohongan sama sekali pada kalimatnya barusan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
A/N:
HI!saya kembali dengan chapter 4~~~~~~
sorry updatenya lama. soalnya kemaren sempet ngedrop dan gaada mood buat nulis.
MAKASIH BUAT SEMUA YANG UDAH BACA,REVIEW, FAV,FOLLOW,DAN SIDERS JUGA HHEHE
maaf kalo chapter ini mengecewakan, gaje, gadapet feel, KGBCJKMDBVHCMFD
Buat siders, gak marah kok hehe. cuma, Mind to RnR? ga maksa juga sih sebenernya hehehehe-
Thanks buat semua yang udah ngelirik ff abal2 ini ugh.
BYE!
