SachiMalff proudly present

hunhan month

unattainable reverie

oh sehun – lu han

warning : it may contain a not-so-hot-and-so-short sex scene, manxman, not a story you'll love lol, unbeta-ed (anyone?)
...

...

...

I loved him once and I love you too but don't make me choose one that will make you hurt.

.

.

.

Lu Han tahu hubungan mereka sudah berada di titik jenuh dan ia sebenarnya tahu jika keduanya sudah sama-sama lelah. Bosan. Mungkin dulu, dulu sekali, mereka pernah berada di inti cerita di mana mereka akan selalu berjanji dan mengumbar kata selamanya. Mereka ada di masa dimana mereka pikir mereka akan selalu baik-baik saja dan kisah mereka akan semanis awalnya. Mereka ada di masa dimana mereka tak perlu khawatir karena mereka pikir, cinta mereka terlalu besar untuk ditinggalkan begitu saja.

Namun rupanya takdir sedang senang bercanda dengan mereka.

Mungkin benar kata orang; janji akan segera pupus melawan waktu—begitu juga cinta. Janji yang mereka ikat dan mereka simpan di lubuk hati dan pikiran itu kini mengarat hingga sekarat. Cinta yang mereka agung-agungkan bak dewa itu kini melayu terkikis waktu.

Sembilan tahun bukan waktu yang singkat, sayang.

Waktu yang membawa kita antara mencintai semakin dalam atau merasa bosan.

Mungkin, delapan tahun yang lalu keduanya akan merasa sombong dan berpikir bahwa cinta mereka takkan habis dimakan usia.

Namun kini lihatlah mereka.

Jika tidak karena cincin yang tersemat di jari keduanya, mungkin mereka akan segera angkat kaki dari apartemen itu dan lari dengan orang lain.

Tapi kau tahu apa yang paling menyedihkan dari cerita mereka?

Ah—bukan. Bukan lamanya waktu yang membuat mereka akhirnya bosan. Bukan minimnya sentuhan penuh hasrat di tiap harinya. Bukan candaan romantis di tiap katanya. Bukan ucapan kasih sayang di tiap pelukan mereka.

Adalah karena mereka sudah sama-sama terikat dalam sebuah hubungan bernama pernikahan, sayang, yang membuat semuanya sungguh menyedihkan.

Jika tidak karena cincin yang tersemat di jari keduanya, mungkin ceritanya akan berbeda.

Dan mungkin Sehun akan menjadi tokoh utama.

o—o—o—o—o

Bahagia, menurut Oh Sehun, adalah saat di mana kau hanya tahu bagaimana caranya tersenyum dengan pelukan mesra orang yang kaucintai di tiap esoknya. Adalah saat di mana hanya akan kaupandang orang tersebut, tersenyum kearahmu dan bam! kau merasa hari-harimu takkan ada yang sesempurna itu. Adalah saat di mana hanya akan ada kau dan dia dan kicauan burung di luar sana.

Namun sepertinya bahagia hanya terjadi di dunia mimpi.

Buktinya, pagi itu ia harus menelan pil pahit bernama kekecewaan tatkala ia menemukan dirinya berbaring telanjang seorang diri.

Sehun tak pernah merasa sesepi dan sedingin ini namun apa boleh buat?

Toh ia bukan pemeran utama di cerita ini.

.

.

Sakit, menurut Oh Sehun, adalah saat di mana kau tahu, namun kau berusaha menutup mata—menjadi buta. Adalah saat di mana kau sadar akan kenyataan yang ada namun kau terlalu naif untuk berkata bahwa sebenarnya kau bukan siapa-siapa. Adalah saat di mana seharusnya kau bangun dari semua mimpi yang takkan pernah tergapai namun kau memilih tinggal. Padahal hal itu akan membuatmu seribu kali lebih sakit.

Namun sepertinya sakit adalah pilihan Sehun.

Buktinya, setiap hari ia menemukan dirinya menangis dalam diam dalam selimut berwarna putih yang membungkus tubuh telanjangnya.

Sehun tak pernah merasa begitu bodoh dan tolol namun apa boleh buat?

Toh ia bukan siapa-siapa.

.

.

Oh Sehun hidup dalam angan-angan yang terlihat sangat, sangat jauh. Terlalu jauh untuk digapai, terlalu jauh untuk menjadi kenyataan, terlalu jauh untuk ia miliki.

Oh Sehun tidak menginginkan apa-apa karena ia adalah segalanya. Ia memiliki milyaran uang di akun bank-nya, ia memiliki rumah mewah yang ditinggalinya, ia memiliki semuanya. Ia memiliki apa yang semua orang inginkan. Ia memiliki postur tubuh yang sempurna, wajah yang rupawan, senyum yang menawan, dan hidup yang mapan.

Namun apa gunanya memiliki semuanya jika ia masih berharap pada sebuah angan?

Jauh, Sehun. Sungguh jauh.

Jangan, Sehun. Jangan berusaha terbang menggapainya.

Karena semuanya tahu, begitu juga dirimu yang mencoba abai, jika sosoknya takkan pernah kaugapai.

.

.

Katakanlah Oh Sehun itu orang yang munafik, ia takkan peduli. Katakanlah ia orang yang terlalu naif dan ia tak keberatan. Katakanlah ia bodoh, tolol, idiot, pemimpi—

Ya, Sehun adalah seorang pemimpi ulung yang terlalu berharap walau ia sendiri tahu jika pada akhirnya ia hanya akan jatuh.

Sakit, bukankah begitu, Sehun? Jatuh dari impianmu sendiri?

Impian seorang Oh Sehun bukanlah dunia dan seisinya. Bukan juga hidup immortal dan kaya raya. Bukan juga pangkat yang lebih tinggi dari apa yang ia punya. Bukan hidup sempurna.

Bahkan jika ia bisa hidup terluka dengan satu cinta, ia akan melakukannya.

Oh Sehun hanya butuh cinta, sayang. Sesuatu yang tak pernah ia dapat selama ini. Sesuatu yang terdengar sangat mewah baginya—namun sulit ia gapai.

Cinta.

Sehun menyebutnya seperti ia sedang menjual jiwanya—begitu hati-hati dan penuh ketakutan seakan cinta adalah hal yang akan membuatnya mati suatu saat nanti.

Cinta.

Sehun begitu memujanya, begitu menjunjungnya, begitu mengharapkannya.

Tak apa jika ia hanya mengharapkan cinta—namun jangan dia, Sehun. Jangan dia.

.

.

Sehun tak tahu apa yang sedang ia perbuat namun ia merasa ada sesuatu dalam dirinya yang membuatnya mempercepat gerakannya. Ia terus menyongsong tubuh lelaki di bawahnya dengan irama konstan, tak memedulikan peluh yang membasahi keduanya. Suara teriakan namanya yang begitu indah mengalun dari bibir Lu Han—pemuda yang ia setubuhi—dan geraman yang datang darinya bersatu memenuhi ruangan bercat abu-abu tersebut. Punggungnya terasa sakit karena Lu Han mencakarnya terlalu kuat namun ia tak peduli.

Ia terus menusuk dengan keras, kuat dan dalam tempo yang cepat seakan ia sedang menyalurkan apa yang ada di dalam hatinya—dalam pikirannya.

Ia menggeram rendah, memejamkan matanya saat ia mendengar Lu Han meminta dan memohon padanya untuk mempercepat gerakannya di dalam tubuhnya dan Sehun dengan senang hati menurutinya. Ia membuka matanya, memandang lelaki yang sedang merintih nikmat di bawahnya.

Tangannya terjulur pelan untuk menyibak rambut cokelat madu yang telah basah karena keringat yang menutupi dahinya. Dalam tempo yang coba ia pertahankan, di antara deru napas keduanya dan diikuti dengan suara gemericik air hujan di luar sana, Sehun memandangnya.

Mungkin ia rela menghabiskan waktu seribu tahun hanya untuk memandangi sosoknya dan Sehun tak peduli.

Kemudian ia bergerak lebih cepat, lebih cepat, lebih cepat seakan mencoba membuktikan pada Lu Han bahwa Sehun adalah pemeran utama.

Ia memandangi Lu Han yang masih memejamkan matanya, menggigit bibir bawahnya untuk menghalau lenguhan yang ia keluarkan. Wajahnya yang memerah dan keringat yang membasahi tubuhnya membuat Sehun mendekatkan wajahnya, mencium bibir Lu Han dengan sensual seakan sedang menyalurkan perasaannya.

"Se-Sehun..."

Sehun tahu yang membuatnya jatuh cinta bukan hanya suara Lu Han saat mereka bercinta, namun juga karena suara tawanya yang semerdu nyanyian dewa. Juga karena senyumnya yang terlihat begitu murni hingga Sehun pikir ia takkan berani menghapusnya dari wajahnya. Juga karena tatapannya yang selembut kapas dan penuh kasih sayang. Juga karena hatinya yang sesuci melati hingga Sehun terkadang merasa kasihan atas apa yang Lu Han alami.

Namun di atas itu semua, Sehun harusnya mengasihani dirinya sendiri.

Sehun tak tahu apa yang membuatnya berlaku demikian namun saat ia dan Lu Han sama-sama mencapai puncak kenikmatan mereka malam itu, ia mendesahkan nama Lu Han dengan keras, diikuti satu kalimat yang membuatnya merasa sempurna.

I love you.

.

.

Sehun tahu jika ia harusnya tidur karena hari ini ia akan ada rapat besar di kantor yang ia pimpin namun ia takkan tidur. Ia takkan tidur.

Ia terjaga dengan memandang wajah Lu Han yang tertidur lelap, tenang dan terlihat sangat cantik seperti bayi yang baru lahir. Begitu indah.

Di luar sana, hujan sudah mulai berhenti dan hari beranjak datang dengan sang mentari yang keluar dari peraduannya. Sehun membawa tangannya untuk mengusap sayang rambut cokelat madu Lu Han, menyalurkan segenap perasaan yang ada dan tersisa.

"Mo'ning."

Sehun tersenyum. "Morning."

"Jam berapa ini?"

Sehun menyukai saat-saat di mana Lu Han akan mendekat kearahnya, memeluknya seakan mencari kehangatan dan Sehun akan melingkarkan lengannya pada pinggang kecil Lu Han.

"Jam tujuh," jawab Sehun ringan, mencoba memejamkan matanya dan ia rasa ia bisa tidur hanya dengan menghirup aroma rambut Lu Han yang seperti perpaduan cherry dan mint.

Ia bisa merasakan Lu Han menggeliat dalam pelukannya dan Sehun mengernyit tak suka.

"Lu Ha—"

"Aku harus pulang."

Bak dipukul palu godam sampai ia terlempar kembali ke dunia nyata, Sehun membatu. Ia bahkan tak sanggup mengeratkan pelukannya pada sosok Lu Han hingga akhirnya sang pemuda China bisa terlepas dari rengkuhannya.

Sehun terdiam membisu, lidahnya kelu dan ia bisa mendengar suara retakan dalam hatinya sendiri yang semakin tak terobati. Ia tahu ia semakin melukai dirinya sendiri tiap detiknya saat ia semakin mencintai Lu Han namun ia tak bisa berhenti.

Oh Sehun takkan bisa berhenti mencintai.

Karena cintanya pada Lu Han terlalu adiktif dan menakutkan.

"Lu Han, tinggallah."

Sehun tak tahu jika suaranya bisa selirih dan semenyedihkan itu namun ia tak peduli. Apa salah baginya jika ia ingin mendapatkan kebahagiaan yang menurutnya benar?

Lu Han, di sisi lain, mendesah, menjatuhkan dirinya untuk duduk di pinggir tempat tidur Sehun saat ia sudah berpakaian komplit. Ia memandang Sehun dengan tatapan sayu dan penuh cinta namun Sehun tak ingin membiarkannya.

"Tinggallah," bisiknya lagi.

"Sehun, kau tahu aku tak bisa."

Sehun tak tahu jika ia bisa menangis namun ia takkan berhenti meminta.

"Lu Han, sekali ini saja."

Lu Han memejamkan matanya, mencoba menghalau air mata yang telah sampai ke ujung matanya dan ia menggeleng kecil.

"Maaf, Sehun..."

Sehun menggeleng keras-keras. Ia ingin berteriak, memaki, menyumpah namun lidahnya sungguh kelu. Ia ingin membenci Lu Han namun hatinya sungguh lemah. Ia ingin berhenti namun ia tak bisa.

"...aku harus pulang kepada Yifan."

Sehun tak tahu jika suara debaman pintu yang tertutup oleh Lu Han akan terngiang di ujung hatinya dan menambah goresan luka baru yang semakin membuatnya pilu. Ia tak tahu jika kenyataan akan sekejam ini. Ia tak tahu jika mencintai akan sesulit dan sehina ini.

the end