Taeyong mendengus, menatap sekitar melalui jendela mobilnya dengan gusar. Pria itu nampak kelelahan dan kurang tidur. Hei, bayangkan saja, dia sudah berkendara dari kemarin malam sampai sekarang, tanpa istirahat sejenak, hanya berhenti disebuah pom untuk mengisi bahan bakar dan buang air. Tapi beginilah pekerjaannya sekarang, dia harus mencari nona majikannya jika dia ingin pulang ke mansion dengan selamat.

Dia membuang puntung rokok terakhir, merogoh sakunya dan mendesis karna tak mendapat satu batang rokokpun disana, dia kehabisan. Pria dengan wajah garang itu lantas melihat keluar. Berfikir dimanakah keberadaannya saat ini karna dia terus berkendara tanpa tahu arah, hanya mengikuti naluri hatinya, tapi pastinya ini sangat jauh dari Seoul karna dia sudah berkendara cukup lama. Taeyong lantas mencari-cari sebuah supermarket terdekat, namun dia baru sadar jika berada di pinggiran kota. Sial! Dia kembali berkendara dan akhirnya menemukan sebuah kota kecil, ada sebuah pasar besar dan supermarket. Taeyong lantas memarkirkan mobilnya, berjalan menuju supermarket kecil tersebut dan mengambil rokok serta bir. Hell, dia butuh istirahat. Saat pria itu selesai membayar tagihan, tanpa sengaja dia menabrak bahu seseorang dibelakangnya.

"Oh maaf." Taeyong berucap, mendongak menatap siapa yang dia tabrak dan seketika dia membelalakkan mata. Wanita itu mengangguk lalu tersenyum.

"Tidak apa." Sahutnya pelan.

"Kyungsoo, kau tidak apa?" Seorang pria berwajah seram yang bersamanya lalu memegang kedua bahunya dengan possesif lalu menatap Taeyong tajam.

"Tidak Oppa. Aku baik-baik saja."

Oh! Itu nona Kyungsoo yang boss cari. Keberuntungan macam apa ini Tuhan?

Taeyong menutup mulutnya yang mendadak terbuka. Setelah menormalkan kembali ekspresi wajahnya dan mengamati wanita tersebut lekat-lekat, dia menyeringai. Lantas keluar dari sana, menuju kearah mobilnya dan menunggu. Tak lama, sosok Kyungsoo dan dua pria yang entah siapa itu keluar dengan belanjaan mereka, memasuki sebuah mobil dan pergi dari sana. Dengan waspada, Taeyong mengikuti mereka sampai disebuah kedai ramen yang tutup. Dia memarkirkan mobilnya cukup jauh, mengamati mereka yang masuk bersama-sama kedalam kedai yang tutup. Taeyong terkekeh, dia lantas meraih ponselnya dan mengutak-atik benda tersebut dengan senyum kemenangan.

Terimakasih telah membawaku kemari Tuhan!


Ini adalah tahun kedua Kai berada di universitas, tinggal melanjutkan setahun lagi untuknya lulus dan bekerja ditempat Ayahnya. Ya, Kai yang pintar memang mendapat keberuntungan untuk menyelesaikan studynya lebih cepat. Sebenarnya hal itu cukup membuatnya merasa lelah dan pusing, namun dia punya seseorang yang selalu membuatnya kembali bersemangat. Menjadi obat untuknya.

Namanya Jennie.

Dia adalah pacarnya. Gadis manis dengan senyum cantik itu adalah pacarnya setahun belakangan ini. Jennie berada di falkutas kesehatan, berbeda dengan Kai yang berada di falkutas bisnis. Definisi Kai untuknya, Jennie itu gadis sederhana yang apa adanya, meski sudah tak memiliki orang tua dan tinggal sebatang kara didunia ini, dia tetap tegar. Jennie itu mentari baginya, karna senyumnya selalu menyebarkan kehangatan yang menyenangkan, salah satu alasan Kai memacarinya tanpa memandang status Jennie ataupun status dirinya sendiri yang merupakan anak seseorang yang terhormat.

Mereka menjalani hari-hari dengan baik dan menyenangkan. Kai yang selalu mencintai gadis itu dan Jennie yang dengan setia selalu menemani Kai. Termasuk saat Ibunya meninggal dunia karna sakit, Jennie adalah orang terdepan yang menghibur Kai dan memberikan pundaknya untuk lelaki itu menangis. Kai sangat terpukul, tentu saja. Park Bom, ibunya adalah segala-galanya untuk Kai, dan wanita itu kini sudah meninggalkannya. Belum reda atas keterpurukannya, Kai harus dibuat marah karna –bahkan tanah makam Ibunya belum mengering, Ayahnya dengan bejat sudah menikah kembali dengan seorang gadis yang bahkan seusia dengannya. Betapa Kai sangat membenci Ayahnya saat itu. Hingga mulai detik itu juga, dia pergi dari rumah dan tinggal sendiri, tanpa sepeser uang dari Ayahnya. Lalu untuk menghidupi dirinya, dia bekerja sampingan disela fokus studynya, mengacuhkan Ayahnya dan menganggap bahwa dia sudah tak memiliki orang tua lagi. Meski hidupnya susah dan berbeda jauh seperti dulu, itu tak masalah baginya karna dia sudah punya Jennie, itu lebih dari cukup. Dia akan belajar dengan giat dan menyelesaikan studynya lebih cepat lagi agar dia bisa segera lulus dan mencari pekerjaan, namun tujuannya bukan ditempat Ayahnya lagi. Tidak! Kai sudah sangat kecewa. Jika menyangkut tentang Ayahnya, maka Kai akan menanggapinya dengan dingin.

Kai selalu membayangkan angannya, merencanakan bahwa suatu saat nanti dia akan menikahi Jennie dan membawanya tinggal disebuah rumah yang dia beli dengan hasil kerjanya sendiri, memiliki anak dan hidup berbahagia selamanya, persis seperti dongeng yang sering Ibunya ceritakan saat dia masih kecil dulu.

Semua kembali normal sampai Tuan Kim, Ayah Kai mengetahui hubungan putranya dengan Jennie, si gadis miskin baginya. Meski Kai sudah pergi dari rumah, namun Kai tetaplah putranya, hubungan itu membuat Tuan Kim sangat marah, tentu karna hal itu akan membuat nama baiknya tercoreng. Dia adalah orang terhormat, bagaimana bisa dia memiliki menantu yang tak jelas asal-usulnya dan...miskin? Jadi pria itu diam-diam, tanpa sepengetahuan Kai, mendatangi Jennie dan mengancam akan mengahancurkannya jika dia tak sesegera mungkin meninggalkan Kai. Jennie awalnya mengabaikan hal tersebut, namun akhirnya dia menyerah saat tiba-tiba pihak Universitas mengeluarkannya dengan alasan tidak logis serta satu-satunya teman baiknya, Jisoo, mengalami tabrak lari yang membuatnya harus dirawat serius dirumah sakit. Jennie tak bisa berfikir banyak, dia akhirnya menyetujui permintaan Tuan Kim dan mendapatkan kembali pendidikan serta uang yang sangat banyak dari pria itu. Tapi apa itu membuatnya bahagia? Tidak. Jennie merasa frustasi, dengan hati hancur dia memutuskan hubungan mereka dan mulai mengencani pria lain dengan kepura-puraannya.

Kai marah, sangat marah. Tanpa alasan jelas, gadis itu memutuskannya? Memang, dia saat ini sedang sangat sibuk dan tak memiliki waktu banyak untuk Jennie, tapi itu semua juga untuknya, agar dia cepat lulus, bekerja dan menikahinya. Mengeluarkannya dari flat kumuh tempatnya tinggal dan memberikan hal yang lebih layak padanya. Apa salahnya? Apa karna dia sekarang jatuh miskin? Kai yang marah lantas mendatangi Jennie dan dia terkejut saat mengetahui gadis itu sudah pindah kesebuah apartement yang mewah. Dari mana gadis itu mendapat uang? Kai mendadak jadi khawatir. Apa Jennie memutuskannya dan memilih bersama pria lain yang memberinya banyak uang?

"Aku sudah lelah hidup susah. Jadi aku memilih meninggalkanmu dan memacari Mino yang memberiku tempat ini dan uang yang banyak. Bukankah ini menyenangkan?"

"Jadi, kau lebih memilih uang daripada aku?" Kai menatapnya penuh amarah, tangannya dibawah sana sudah mengepal sampai buku tangannya memutih. Emosinya meledak, memenuhi kepalanya yang mendidih. Jadi, Jennie meninggalkannya hanya karna uang hah? Lalu apa artinya hubungan mereka selama ini? Hanya dihargai sebatas apartement dan sejumlah uang? Tidak bisakan dia menunggu sebentar lagi? Hati Kai hancur berkeping-keping menerima kenyataan ini, sangat. Bahkan saking hancur perasaannya, dia merasa hampa dan kosong. Dia fikir Jennie mencintainya dengan tulus, tapi apa? Dia hanya dimanfaatkan.

Menyakitkan.

"Pergilah, lupakan aku dan anggap saja kita tak pernah berhubungan. Lagipula aku sudah pacaran dengan Mino." Jennie berucap cuek. Gadis itu sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Dia bukanlah Jennie yang Kai kenal, Jennie matahari cerahnya. Atau, apakah ini sifat aslinya?

Kai yang marah, lalu mendekati Jennie dan tanpa sadar meraih leher gadis itu, mendorongnya mundur hingga tubuhnya menabrak jendela yang terbuka lebar, membuat pemandangan malam kota Seoul yang indah tercetak jelas, namun mereka tak bisa menikmatinya. Kai kalap, hatinya sakit, perasaannya hancur, fikirannya kacau hingga tanpa sadar dia semakin mendorong Jennie yang sudah menangis. Menangis karna dia harus menyakiti orang yang dia cintai.

"Kau! Berani..berani sekali kau," Kai sangat marah, marah karna dia mencintai Jennie hingga rasanya dia tidak akan pernah rela jika gadis itu menjadi milik orang lain. Jennie tidak berucap apapun, namun dengan sengaja dia mendorong punggungnya kebelakang hingga tanpa disadari tubuhnya melewati jendela dan cekikan Kai dilehernya terlepas, membuat tubuhnya terjun bebas dari lantai sepuluh membentur aspal.

Duag!

Tangannya kosong. Kai mematung, tubuhnya membeku, matanya terbelalak dengan kaget. Beberapa detik dia habiskan untuk terdiam sebelum akhirnya dia berlari menuju ketempat Jennie jatuh, dan dia baru menyadari dia kembali menangis menemukan gadis itu sudah pergi, meninggalkannya seperti ibunya.

Kai hancur, dia berdiri disisi pemakaman Jennie tanpa ekspresi diwajahnya, jiwanya kosong, namun pancaran matanya penuh dengan sorot yang jahat. Seperti ada sebuah jiwa baru yang membentenginya.

"Dia tidak pernah mau menghianatimu. Semua ini karna Ayahmu." Kai mendongak, menatap Jisoo tak mengerti.

"Apa maksudmu?"

Jisoo lalu menceritakan semuanya, sesuai apa yang Jennie ceritakan padanya. Awalnya dia sudah berjanji pada sahabatnya itu bahwa dia tak akan memberitahu siapapun termasuk Kai, namun dia tak bisa menahannya lagi. Setidaknya Jennie harus tenang di alam sana.

"Brengsek!" Kai mengepalkan tangannya kuat saat Jisoo selesai bercerita, dia merasa sangat marah. Jadi, ini semua ulah Ayahnya? Kai kembali merasakan rasa sakit dihatinya, hingga rasanya sangat kebas, sampai dia tak merasakan apapun lagi. Dia sangat marah, dinding kokoh yang dingin terbangun membatasi hatinya, membuat dirinya berubah menjadi seseorang yang menakutkan dengan tatapan mata jahatnya.

Dia tak mau jatuh cinta lagi, dia tak mau mencintai seseorang lagi.

Hati dan perasaanya mulai membeku.

Lagipula, dia sudah membuat Jennie pergi dengan tangannya sendiri. Hati kecilnya mencatat trauma tersebut, membuatnya selalu takut apabila dia mencintai seseorang, maka dia akan kembali mengulang kesalahannya dengan membuatnya pergi oleh tangannya sendiri.


"Kau sudah banyak minum Kai."

Jisoo memperingati, menahan botol kelima yang akan Kai tuangkan kegelasnya. Wanita cantik itu berdecak, meminta bartender menyingkirkan semua gelas-gelas dimeja mereka. Kai mendesis, menatap tajam wanita disampingnya tersebut, namun seolah sudah terbiasa, Jisoo hanya cuek.

"Kau tidak akan menemukan Kyungsoo jika kau hanya menghabiskan waktumu untuk mabuk disini." Ucapnya, menatap Kai sejenak. Suasana club sedang ramai, namun keduanya tengah berada diruangan kedap suara yang privasi, membuat keduanya tak akan terganggu oleh kebisingan diluar sana.

"Ini sudah seminggu, mau sampai kapan kau membiarkannya pergi hm?"

"Dia yang pergi dariku." Desis Kai dengan suara serak.

"Kau harus mencarinya."

"Tapi bagaimana jika dia tak ingin kembali?" Jisoo menatapnya, tatapannya penuh arti.

"Kalau begitu nikahi dia agar dia mau kembali." Kai terdiam, tubuhnya seketika menegang ditempat. Menikahinya? Memory lama seketika seolah terbuka, berputar diotaknya dan membuatnya merasa mual.

"Dia itu Kyungsoo, bukan Jennie. Ingat itu." Perkataan Jisoo mengenai hatinya, meremasnya kuat dan kembali membuatnya kesakitan. Kai memijat pelipisnya, bayangan masa lalu kembali menghantuinya, mengetuk dinding hatinya yang membeku dan membuatnya kembali merasakan kehancuran di masa lalu tersebut. Kai menyerah, dia lalu bersandar pada sandaran sofa sambil memejamkan mata.

"Jisoo, aku harus bagaimana?" Lirihnya.

"Sekarang aku bertanya, apa kau mencintai Kyungsoo?" Kai terdiam, tak lantas menjawab. Pikirannya kembali berkelana pada kejadian satu tahun yang lalu. Saat pertama kali dia melihat Kyungsoo dan terketuk untuk membelinya dari madam Chaerin, lalu membawanya pulang kerumahnya.

Kyungsoo tidak punya orang tua, hidup sebatang kara didunia ini. Namun begitu, dia tetap tersenyum. Senyum hangat yang mengalahkan hangatnya sinar matahari, sosok yang apa adanya dan menyenangkan.

Persis seperti sosok mendiang Jennie.

Alasan dia membelinya.

Namun empat bulan tinggal dengannya, membuat perasaannya berubah. Senyum Kyungsoo serta sifatnya yang polos seolah mengetuk hatinya, merobohkan dinginnya dinding pertahan diri dan mengisi kembali perasaannya yang kosong. Kyungsoo kembali membawa jiwanya pulang dan saat itu juga Kai jatuh cinta, dia mencintai Kyungsoo.

Sangat mencintainya sampai-sampai dia merasa takut akan kehilangan gadis itu jika dia mengungkapkan perasaannya. Sama seperti Jennie! Baginya, Kyungsoo adalah poros yang mengatur seluruh kerja tubuhnya, dia membutuhkan Kyungsoo dan itu membuatnya frustasi.

"Aku sangat mencintainya." Kai berucap dengan lirih, namun Jisoo masih bisa mendengarnya.

"Kalau begitu berikan dia sebuah kepastian, sebuah status, nikahi dia secepat mungkin. Dia sudah mengatakan jika dia mencintaimu kan? Hal bodoh jika kau terus menggantungnya meski jelas-jelas kau sangat mencintainya."

"Tapi..aku–"

"Kau takut dan trauma. Aku paham itu. Tapi itu sudah sangat lama Kai. Lagipula, kematian Jennie bukan karna dirimu, dia murni ingin bunuh diri saat itu. Aku sahabatnya dan aku mengetahui segalanya." Wanita itu menarik nafas panjang, mencoba menakan rasa sakit jika kembali teringat mendiang sahabatnya tersebut.

"Buang rasa takutmu itu. Kau mencintainya, jadi tak akan mungkin kau menyakitinya. Kau sudah dewasa dan memiliki segalanya, berbeda dengan saat itu. Kau bisa mengendalikan apapun dan menjamin keselamatan Kyungsoo bukan?"

"Ya." Jisoo meraih tasnya, gadis itu lantas bangkit.

"Rasa takut dan trauma itu hanya perasaan semu. Kau sudah kehilangan Jennie, jangan sampai kau kehilangan Kyungsoo. Aku pergi." Jisoo tersenyum kecil, lalu melangkah dengan anggun meninggalkan Kai sendiri diruangan tersebut, merenung.

Buang semua rasa takut dan trauma.

Kai membuka matanya, menghela nafas. Dia lalu bangkit, meraih jasnya dan pergi dari sana dengan langkah sempoyongan meski kesadaran masih cukup penuh. Taeyong sudah menunggu dan sesuai informasi pria tersebut, dia akan pergi menjemput Kyungsoo di kota kecil tersebut.

.

.

.

I remember it faintly

I can't feel you

I miss your body

Oh! God.

So, where are you?

(Mino: Body)

.

.

.

"Aku MENCINTAIMU! Tapi aku takut, takut..kau akan menghianatiku dan aku takut, takut kau pergi dariku. Tahukah kau bahwa aku kembali terpuruk saat kau meninggalkanku? Itu membuatku kembali takut Kyungsoo, kau tak pernah mengerti.."

Kyungsoo terisak kecil, mata bulatnya mengintip nama yang tertulis cantik dibatu nisan beserta lukisan wajah seseorang disana. Ya, ini adalah tempat istirahat Jennie, seseorang yang membuat Kai takut untuk jatuh cinta. Kyungsoo menekuk kedua kakinya, menyembunyikan wajahnya disana. Perasaannya seolah ikut merasakan apa yang gadis itu rasakan, sangat menyakitkan. Kyungsoo tak menyangka jika Kai memiliki masa lalu yang kelam. Tapi satu hal yang Kyungsoo mengerti, Kai sangat mencintai gadis itu. Rasanya sakit sekali saat mengetahui Kai membelinya dari madam Chaerin hanya karna dia mengingatkannya dengan Jennie.

Kyungsoo sedih.

"Kau sudah tau alasannya. Sekarang apa lagi?" Suara Kai dibelakangnya terdengar serak, seolah mencoba menahan kesakitannya sendiri. Kyungsoo mengangkat kepalanya, menatap peristirahatan Jennie sejenak, dengan susah payah dia lalu bangkit, mengabaikan baju serta wajahnya yang kotor, dia menunduk dan tak berani menatap pria tersebut.

Alasan macam apa ini? Kenapa Kai tak pecaya padanya, Kyungsoo tak mungkin bisa menghianatinya. Seharusnya Kai tahu itu.

"Aku mau pulang." Bisiknya, kepalanya sangat pening dan perutnya melilit dengan cepat, dia belum makan apapun. Namun dia mencoba menahannya, Kyungsoo lalu berjalan terlebih dahulu menuju mobil dimana Taeyong tanpa banyak bicara membukakannya pintu. Tak lama, Kai juga datang dan duduk tepat disebelahnya. Mereka diam dalam keheningan sampai akhirnya mobil mencapai mansion. Kyungsoo menghela nafas sejenak, menelan ludahnya saat bangunan mewah itu berdiri kokoh didepannya, dia kembali kesini. Kyungsoo membuka pintu mobil dengan cepat, berharap agar dia segera mencapai kamar dan bisa beristirahat dengan–

Bruk!

Tapi mendadak tubuh Kyungsoo melemah, dia terjatuh dan pingsan tepat saat dia keluar dari mobil. Membuat Kai terbelalak dan dengan cemas menghampiri Kyungsoo.

"Soo. Kyungsoo sayang, kau kenapa?" Kai menepuk pipinya pelan, namun gadis itu hanya membalas dengan ringisan kecil sambil meremas perutnya sendiri. Kai mendesis, menyadari kebodohannya jika Kyungsoo belum memakan apapun karna dia tidur terlalu lama saat diperjalanan. Pria itu lantas mengangkat tubuh Kyungsoo masuk kedalam, menaiki tangga dan menuju kamarnya.

"Taeyong, cepat panggil dokter!"

.

.

.

"Dia baik-baik saja, hanya terlambat makan hingga membuat maagnya kambuh." Dokter itu menulis resep disebuah note dan memberikannya pada Kai.

"Tolong perhatikan pola makannya tuan Kim."

"Baik. Terimakasih dokter." Kai mengangguk kecil, membiarkan dokter pribadinya itu meninggalkan kamar dimana Kyungsoo tengah beristirahat. Pria itu lantas mendekati Kyungsoo dengan wajah pucatnya yang tengah bersandar dikepala ranjang, menatap senja diluar jendela.

"Merasa baik?" Kai duduk disisi ranjang, mengusap pipinya. Kyungsoo bergeming, mengangguk kecil meski itu lemah. Apa yang harus dia lakukan? Setelah mengetahui alasan Kai tak membalas perasaannya, dia harus bereaksi seperti apa? Kyungsoo berfikir lama, namun akhirnya dia memutuskan untuk menjadi dirinya sendiri seperti biasa, seperti tak ada masalah apapun.

"Kau harus istirahat sayang."

"Tapi aku sudah banyak tidur, aku lelah jika harus kembali tidur." Bibirnya maju sementara matanya memancarkan cahaya seperti anak kecil yang menolak untuk minum obat. Kai terkekeh, merasa bahwa Kyungsoo-nya sudah kembali lagi.

"Lalu kau mau apa hm?"

"Aku bosan."

"Mau berjalan-jalan ke taman?"

Kyungsoo menatapnya, dengan binar kesenangan sebelum mengangguk semangat. Kai melepas jasnya, membuangnya kesembarang arah sebelum berjongkok disisi ranjang, memberikan punggungnya dengan suka rela pada gadis tersebut. Kyungsoo yang mungil terasa ringan sekali.

"Bibi Jeon selalu merawatnya bahkan saat kau dengan tega meninggalkan mereka." Kai membawa Kyungsoo yang ada dipunggungnya melewati jembatan, menuju ayunan favoritnya sebelum mendudukkan gadis itu disana. Suasana menjadi canggung sejenak sampai Kai berjongkok didepan Kyungsoo dan meraih kedua tangannya untuk digenggam.

"Maafkan aku," Bisiknya pelan. Kyungsoo menatapnya sejenak, sebelum menunduk. Tapi jemari panjang itu kembali mengangkat dagunya, membuat matanya menabrak tepat ke obsidian yang jahat itu.

"Kau percaya kan, jika aku sangat mencintaimu?" Kyungsoo tak menjawab, bahkan saat bibir panas pria tersebut mengecup punggung tangannya yang dingin. Dia menatap kembali si mata jahat, dan Kyungsoo tak bisa berbohong jika dia menemukan tatapan cinta disana. Kyungsoo membuang muka.

"You just want my body?"

Kai tersenyum, menatap Kyungsoo penuh rasa bersalah. "Kuharap kau memahami situasiku saat itu Soo. Aku tidak hanya membutuhkan tubuhmu, tapi semuanya. Aku membutuhkan dirimu." Kyungsoo diam, namun jawaban Kai sudah cukup baginya.

"Aku turut bersedih tentang apa yang terjadi pada Jennie. Ayahmu, tak kusangka dia akan sekejam itu." Kai memilih diam tak menanggapi, karna baginya, itu adalah hal menyakitkan jika mengingat apa yang sudah Ayahnya lakukan. Sampai sekarang, diapun masih membenci Ayahnya.

"Andai Jennie masih hidup, kau pasti tak akan pernah bertemu denganku ya."

"Kyungsoo."

"Apa aku sebegitu miripnya dengan Jennie?"

"Hm, tidak juga. Dia tidak cerewet dan manja sepertimu."

"Benarkah?"

"Ya."

"Apa dia cantik?"

Kai menaikkan sebelah alisnya, mengusap punggung tangan Kyungsoo dengan lembut.

"Dia cantik, tapi kaulah wanita paling cantik saat ini."

"Kau berkata jujur?"

"Iya sayang."

"Tapi kau belum bisa melupakannya."

Checkmate.

Kai terdiam, kehabisan kata-katanya.

"Kau bilang kau mencintaiku kan? Aku percaya. Tapi sepertinya kau masih butuh waktu, waktu untuk meyakinkan dirimu sendiri. Dan aku tidak akan memaksakan dirimu untuk mencintaiku lagi. Yakinkan dirimu sendiri Kai.."

Kyungsoo menarik tangannya, lalu berdiri dan beranjak pergi meninggalkan Kai yang masih membisu bersama keheningan malam. Gadis itu melangkah dengan perlahan kembali kedalam rumah. Perkataan Kyungsoo seolah menghantamnya telak, membuatnya merasa menyesal telah menyakiti gadis itu. Kai lalu berdiri, menarik nafas sekali sebelum beranjak menyusul Kyungsoo.

Ternyata dia kedatangan tamu. Chanyeol datang bersama istrinya yang langsung memeluk Kyungsoo erat, tak melepasnya seinci pun seolah mereka tak pernah bertemu puluhan tahun lamanya. Namun Kai maklum, Baekhyun pasti merindukan Kyungsoo. Da lalu menyapa Chanyeol dan mengajaknya minum kopi sementara para gadis menikmati waktu berdua mereka.

"Baek bukan maksudku mengusir, tapi kau itu sudah punya suami. Aku baik-baik saja, kau tak perlu menginap."

"Tapi–"

"Kau mau membiarkan Chanyeol tidur sendiri? Apa kau tidak takut tiba-tiba dia mencari gadis lain untuk tidur bersama karna kesepian?"

"YA! Kyungie!" Kyungsoo terkikik, menikmati wajah cemberut Baekhyun yang manis tersebut. ini sudah malam dan Baekhyun bilang dia akan menginap menemani Kyungsoo yang tentu saja ditolak. Hei, Baekhyun sudah bersuami, dan dia tak mungkin membiarkan Chanyeol tidur sendiri bukan?

"Baiklah, aku akan pulang. Tapi besok aku berkunjung kembali."

"Tentu saja."

Baekhyun tersenyum, memeluk Kyungsoo sejenak sebelum dia berpamitan untuk pulang. Kyungsoo melambai dari atas ranjang, karna Baekhyun tak mengijinkannya turun dan menyuruhnya istirahat saja. Em, sedikit berlebihan sih. Tapi itu adalah perhatian yang manis.

Baekhyun pergi dan Kai datang dengan segelas susu kesukaannya.

"Minum ini dan pergilah tidur." Kyungsoo menerima gelas tersebut, meneguk habis isinya lalu mengembalikannya sebagai gelas kosong. Tanpa bicara apapun, dia lalu berbaring, menarik selimut dan memejamkan matanya, membuat Kai menghela nafas dalam. Pria itu lalu membungkuk, mengecup dahinya lembut.

"Selamat malam sayang." Bisiknya lalu beranjak dan menutup pintu, meninggalkan Kyungsoo yang diam-diam terisak kecil.

Kai ternyata mencintainya.

Tapi dia juga masih mencintai mendiang Jennie.

.

.

.

Hari-hari berlalu begitu saja dengan cepat, namun hubungan antara Kai dan Kyungsoo seolah berjalan dengan lambat dan hanya berada dititik semu. Kyungsoo yang tak banyak bicara dan selalu menghindar sementara Kai terus mencoba untuk mencuri hatinya kembali.

Tapi seperti yang Kyungsoo katakan, Kai membutuhkan waktu untuk meyakinkan diri sendiri, dan Kyungsoo akan tetap menunggu diantara langkah harinya yang semakin hari semakin membosankan baginya.

"Aku berangkat." Kai mengecup pelipisnya singkat, lalu meninggalkan meja makan sambil menjinjing jas hitamnya. Kyungsoo tak memberikan respon lebih seperti biasanya, dia hanya diam dan kembali menikmati susu serta bacon paginya dengan lambat. Beberapa saat kemudian Kyungsoo menyelesaikan makannya, dia meninggalkan meja makan dan menuju ruang tengah untuk bersantai, namun betapa terkejutnya karna dia mendapati sosok Jisoo sudah duduk disalah satu sofa dengan majalahnya. Kyungsoo berdiam diri, tak tahu harus melakukan apa sampai gadis cantik itu mendongak dan menemukannya yang masih mematung seperti orang bodoh.

"Hai Kyungsoo.." Sapanya dengan begitu manis.


.

.

.

.

Tbc.