Bertemu lagi dengan author gaje di chapter 4 ini *jrengjreng*. Judul chapter 4 adalah 'Finally, the confession! But. . .'. Bocoran sebelum membaca, ini bukan adegan klimaks, ini hanya awalan dari sebuah permasalahan. Nee kamisama, izinkan aku meluangkan waktu ku untuk melanjutkan chapter 5 T^T Gomen kalau gaje, gak-nyam, dan juga gak seru. Now, hope you enjoy it! RnR minna?


#Miki POV

Kami pun berjalan ke atap. Entah kenapa aku merasa atmosphere disekitar ku mulai kurang tenang. Akankah sesuatu terjadi?

Saat pintu atap terlihat, tiba-tiba kaki ku sangat sulit untuk melangkah. Mengapa rasanya aku tidak ingin sekali untuk melakukannya hari ini? Sesulit inikah menyatakan cinta kepada orangnya yang kita sayang?

Piko berjalan menghampiri pagar atap sekolah dan mulai menikmati hembusan angin. Tenanglah Miki, kau hanya perlu mengatakan isi hati mu.

"Nah, kita sudah sampai. Oh iya aku kelupaan, aku ambil bekal untuk kalian ya!" Kata Zunko beralasan dan pergi meninggalkan atap.

Kini hanya aku dan Piko-kun. Aduh, di atap bersama seorang bishounen itu sesuatu! Ah sudahlah. Ku lihat Piko yang sedari tadi berdiri di samping ku. Ia mulai berjalan mendekati pagar penjaga atap dan bertopang dagu disana. Sambil memejamkan mata ia menghembuskan nafasnya dan mulai membuka mulutnya.

"Hey, Miki! Apa kau ingat kali pertama kita berbincang-bincang? Di taman seberang sekolah ini bukan?" Tanya-nya. Seketika itu juga, aku langsung mengingat masa-masa dimana aku masih berada di sekolah dasar.

"Ya, disaat kau sedang menghafal teks drama kelas mu. Saat pementasan, aku kagum kau bisa menguasai keahlian berakting hanya dalam 2 minggu. Aku bahkan tidak dapat secepat itu mendalami karakter yang akan ku mainkan." Jawabku sambil berjalan mendekati Piko-kun walau tidak sampai berada disampingnya.

"Kau menontoni ku? Mengapa aku tidak melihat mu?" Tanya-nya lagi.

"Karena aku duduk di bangku belakang dan yang duduk di depan ku adalah seorang om-om tinggi. Untung aku tukeran tempat sama ibu ku." Jawab ku lagi.

"Seharusnya aku mengatakan ini lebih awal, tapi terimakasih sudah mengajarkan ku berakting. Oh iya, pementasan drama mu untuk perpisahan juga. Pendalaman setiap karakternya sungguh luar biasa. Seperti menonton sebuah theater cerita rakyat."

"Heh? Kau memuji ku? Terimakasih kembali karena sudah menonton drama ku." Balas ku.

Seketika suasana hening kembali. Apa yang harus ku katakan supaya suasana tidak hening seperti ini? Ayolah, katakan sesuatu Miki!, batin ku.

"Ada satu hal yang ingin ku katakan pada mu." Kata ku berbarengan dengan apa yang dikatakan Piko.

"Eh kau dulu deh." Kata ku.

"Tidak tidak, lelaki harus mengalah." Ucap Piko.

"Begini . . ." Kata ku nervous.

"Aishiteru yo" Kata kami berbarengan lagi.

Dengan serentak, mata kami membelalak kaget dengan apa yang dikatakan tadi. Piko langsung memutarkan kepalanya dan menatap mataku lekat-lekat seakan tidak percaya dengan apa yang ku katakan tadi. Aku pun membalas tatapannya dengan kekosongan.

"Maji de?" Tanya Piko-kun.

"Ma-maji dayo" Jawab ku sambil memalingkan pandangan ku ke kanan dengan menundukkan kepala ku.

"Sejak kapan?" Tanya-nya lagi tambah penasaran.

"Se-sejak kelas 7 dan itu . . . alasannya kenapa waktu itu aku menghindari mu." Jawabku. Mungkin sekarang pipi ku sudah memerah seperti buah ceri kesukaan ku.

"Maji de?"

"Maji dayo"

"Maji de"

"Piko-kun ini sudah yang ketiga kalinya kau bertanya. Ya, aku serius." Jawabku sambil menatapnya.

Tiba-tiba saja, dia memeluk ku dengan erat seperti tidak ingin melepaskan ku dari genggamannya. Kini perasaan ku bercampur aduk antara senang, kaget, malu, dan gugup. Aku tak sanggup mengatakan kata-kata lagi. Sekarang pasti seluruh wajah ku memerah padam. Entah mengapa air mata ku mulai menitik satu persatu.

"Eh, Miki-chan? Daijoubu ka? Maaf tiba-tiba memeluk mu." Tanya Piko.

"Daijoubu dayo. Aku hanya tidak tau harus berkata apa." Isak ku. Padahal ia ada di samping ku. Tapi mengapa aku merasa ini semua asing?

"Yokatta. Maaf aku baru menyadarinya sekarang dan maukah kau menjadi pendamping ku? Aku benar-benar berharap tentang hal itu." Tanya Piko. Ini sudah seperti lamaran.

"Eh? Um, ano. . .apa aku tidak menyusahkan mu?" Tanya ku balik.

"Aku tak pernah berfikir begitu. Yang ada akulah yang menyusahkan mu." Balasnya dengan senyuman.

Aku mengangguk setuju. Bel masuk berbunyi. Kami pun kembali ke kelas masing-masing.


Senja pun tiba. Para murid sekolahan mulai berhamburan keluar sekolah untuk kembali kerumah mereka. Begitu juga dengan murid sekolahan ku. Mereka mulai berlari menjauhi sekolah. Dari kelas ku dapat kulihat Zunko sedang asik berbincang dengan Luna.

Aku baru tersadar ternyata kelas ku sudah kosong. Iroha ada urusan, Piko-kun? Bukankah tadi Zunko bilang dia akan menghampiri ku sepulang sekolah?, tanya ku dalam hati.

Aku mulai beranjak jalan keluar dari kelas ku. Aku berjalan kearah kelas Piko dan kudapati kehampaan kelas. Dia tidak dikelas? Mungkinkah bertemu dengan Kiyo-sensei?, tanya ku lagi. Akhirnya aku berjalan menuruni tangga dan ku masuki ruang guru.

"Piko? Dia tidak menemui ku. Hari ini sensei lembur jadi dia mungkin pulang duluan. Tumben kau menanyai-nya. Ada apa ini?" Jelasnya lalu bertanya sambil sedikit menggodaku.

"I-ie. Na-nandemonai yo. Aku hanya ingin bertanya itu saja. Terimakasih, sensei." Jawabku panik lalu membalikkan badan ku dan pergi menjauh dari meja Kiyo-sensei.

Pada akhirnya aku tidak menemukan Piko-kun dimana-mana. Ku putuskan untuk pulang sendiri.

"Kemana kau, Piko-kun?" Tanya ku.

Tiba-tiba saja, saat ku lewati pintu sekolah, mata ku tertuju pada sebuah pohon ceri. Bukan buah ceri-nya yang ku perhatikan melainkan 2 orang murid yang sedang berbincang dibalik pohon ceri. 2 orang yang ku kenal. .


Jujur saja, author mulai kecewa dan sedikit nge-down untuk meneruskan ceritanya =.=" Yah, akan diusahkan sampai selesai. Mohon perhatiannya atas chapter selanjutnya ya~! ^^