Uhuuyy!! Fourth Couplet!!! Dan saya masih bisa melanjutkannya!! Kereenn!!

Boleh, dong saya bangga sedikit? Karena saya bisa bertahan sampai sini. Hiks. Mengharukan. (lebay)

Terima kasih buat yang sudah mendukung saya sampai sini *bergaya bak penerima Academy Award*. Semua yang udah baca, ngereview, bahkan ngeflame (yap, flame yang bikin sakit hati itu), percayalah, kalianlah penyemangatku!!

-to cutie apple a.k.a zee : Thx, Zee!! Aku baru nyadar, loh!! Baru aja kubenerin tadi. Editin, lg, ya!! ^^-

-to red hoover males login XD : jadi malu dibilang kerenn... *tersipu malu*-

-to kuro-unagi : cute? serius? thx, kuro-chan!!-

Disclaimer:

Punya saya, dong!!

SNAP. WOOSH

Kyaa!! Apiii!!

Ya!! Gak sabaran amat, sih, Roy?!

Fullmetal Alchemist dan semua karakter di dalamnya adalah hak milik Hiromu Arakawa.

Summary:

Aku tak pernah menduga. Sama sekali tak pernah menyangka.

Cerita sebelumnya :

Ugh...

Ed terdesak. Mana bisa menolak kalau semua orang mendesaknya? Dia menghela nafas panjang. Mengalah tak ada dalam kamusnya. Oke, ini agak hiperbolis. Tapi dia memang tak suka kalah.

Okelah...

Tak ada salahnya juga rehat sejenak. Al, yang biasanya kalem-kalem saja, juga sudah menyuruhnya...

"Aku butuh kaki palsu sementara. Baru setelah mendapatkannya, aku bisa pindahan ke rumah Anda. Anda tak mau kerepotan mendorong kursi rodaku terus-terusan di rumah Anda kan, Pak Hughes?"

Fourth Couplet

Fate Serenade

Unpredictably Unpredictable

She's unusually unusual

Absolutely unpredictable

She's so different and that's what's wonderful

She's unusually unusual

And that's beautiful to me

( Second couplet of "Unusually Unusual" by Lonestar)

"Hebat. Baru aku bilang ingin kaki palsu sementara, langsung datang..." ujar Ed ketika melihat kaki palsu sementaranya yang dibawa Roy dan Riza sore harinya.

Jelas berbeda dari kaki automailnya, kaki itu lebih ramping, terbuat dari campuran fiber dan semacam plastik yang kuat, dengan lekuk yang amat feminin. Benar-benar kaki palsu yang diperuntukkan untuk wanita.

"Tentu saja, kau kira aku tak bisa mengusahakan ini?" tanggap Roy.

"Tapi apa tidak terlalu... ramping?" komentar Ed lagi.

Terbiasa dengan automail yang 'maskulin' membuatnya agak malas memakai kaki palsu yang girly begitu.

"Memangnya Kakak mau apa? Kan Kakak mau istirahat total di rumah Pak Hughes. Bukan mau bertarung" komentar Al.

Well. Memang Ed akan istirahat total di rumah Maes, tapi bukan berarti dia harus di rumah seharian kan? Bisa mati bosan dia. Seorang Ed mendekam di dalam rumah seharian? Kedengaran sama mustahilnya dengan matahari terbit di barat. Ah, kecuali kalau disediakan buku-buku satu perpustakaan penuh. Kalau begitu, sih, dia pasti akan mau duduk diam dan membaca seharian.

"Ed mana cocok dengan kaki palsu model begitu, Al" kali ini ganti Winry yang menanggapi.

"Tumben pendapatmu sama denganku, Winry" Ed menyeringai karena sudah menemukan sekutu.

"Baru sejam dipakai bisa-bisa kaki palsu itu sudah tak berbentuk lagi" terusnya, dengan suksesnya membuat Ed cemberut.

Roy tersenyum simpul melihatnya. Gadis itu akhir-akhir ini selalu memenuhi pikirannya. Apalagi setelah dia menyelamatkan nyawanya.

Jujur, Roy masih tak menyangka Ed bisa melakukan hal itu. Dia bukannya tak tahu bahwa Ed orang yang tulus dan senang membantu orang lain. Dia sudah berkali-kali melihat Ed menyelamatkan orang lain dengan alchemy-nya. Tapi menyelamatkan seseorang dengan mengorbankan lengannya, dan hampir mengorbankan nyawanya? Roy tak pernah membayangkan Ed akan melakukan itu untuknya, atasan yang selalu Ed anggap menyebalkan, dan selalu menyindirnya serta mempermainkannya setiap ada kesempatan.

Ed memang orang yang paling tak bisa diduga.

Ed menyadari senyum simpul Roy dan tatapan matanya pada dirinya. Tatapan mata yang membuat Ed merasa wajahnya mendadak jadi terasa panas. Dan menyadari ia sering menatapnya dengan tatapan seperti itu akhir-akhir ini membuat wajahnya terasa lebih panas.

"Oya, nanti Hughes akan membawa Gracia kemari, sekalian nanti kita jelaskan padanya tentang rencanamu tinggal di rumah mereka" kata Roy tiba-tiba.

"Tunggu, kau belum memberitahunya?" tanya Ed heran.

"Belum. Kan kita harus memberitahunya tentang segalanya dulu" katanya dengan mudahnya.

"Maksudnya, aku harus memberitahukan fakta tentang genderku padanya juga?" tebak Ed, agak ngeri membayangkan kemungkinan orang yang mengetahui kisahnya makin banyak.

Bukannya dia tak percaya Gracia atau bagaimana. Tapi dia tahu bagaimana Gracia itu. Gracia orang yang baik dan dia pasti tidak bisa tidak merasa kasihan mendengar kisah masa lalu Ed.

Dan Ed benci dikasihani.

"Ya, kau tak bisa tinggal di rumah mereka, melepas samaranmu begitu saja, dan mengaku sebagai sepupunya tanpa memberitahunya motivasinya kan?" jawab Roy, walau pada akhirnya ia malah balik bertanya pada Ed.

"Well, ini kan rencana kalian, bukan rencanaku" kata Ed masa bodoh.

Matahari sudah terbenam dari tadi. Langit sudah bertabur bintang dan sang purnama sudah menggantung dengan manis di langit barat. Jam kerja sudah lama berlalu. Maes sudah menjemput istri dan anaknya, membawanya menjenguk Ed sekalian akan menjelaskan rencana mereka padanya. Roy masih memakai seragamnya. Dia tidak pulang walau Riza sudah pulang dari tadi. Riza pulang karena dia ada kencan dengan Jean malam ini. Hitung-hitung sebagai ganti dinner yang tertunda malam itu. Sedang Roy, dia merasa berkewajiban ikut menjelaskan kondisi Ed pada Gracia. Yah, tanggung jawab atasan begitu.

Walau pada dasarnya dia juga heran kenapa dia sampai mau merelakan malam harinya yang berharga, yang sering dia gunakan untuk keluar masuk dari satu pub ke pub lain, dengan berada di sini.

Gracia hanya terdiam mendengar penuturan Ed, Al dan Roy. Dia tahu, secara instingtif dia sudah menyadarinya. Bahwa Ed bukan bocah laki-laki biasa, terlepas dari semua fakta bahwa dia jenius luar biasa dan juga alchemist negara termuda sepanjang sejarah, tapi ternyata dia itu seorang gadis?

Wow.

Dan mengetahui motivasinya menyamar selama 5 tahun ini, membuat Gracia bersimpati padanya.

"Begitulah, Gracia. Dia boleh tinggal di rumah kalian kan?" tanya Roy, setelah dia menjelaskan pada Gracia tentang rencananya 'menitipkan' Ed di kediaman mereka.

"Tentu saja boleh, Roy. Kenapa tidak? Aku malah senang punya teman di rumah dan Elysia juga pasti senang mendapat teman bermain" jawabnya sambil tersenyum manis.

"Tuh, kan?," Maes menepuk bahu istrinya sayang, "Gracia pasti takkan menolak."

"Aku tahu, makanya aku menceritakan ini semua padanya" sahut Roy.

"Heh, yang rahasianya baru saja kau bongkar itu aku. Harusnya aku yang bicara begitu, Brengsek" ujar Ed tidak terima.

"Sudah, sudah..." lagi-lagi Al jadi penengah.

"Tapi kau tampaknya tidak begitu kaget, ya, Gracia?" tanya Winry, yang sedang memangku si kecil Elysia, agak heran.

"Yah... mungkin karena secara tak sadar aku sudah menyadari bahwa Ed bukan bocah biasa..." jawabnya, tetap dengan senyumnya.

"Bocah?!" Ed tak terima.

"Tunggu! Menyadari? Secara tak sadar?" tanya Al, tak mengacuhkan kakaknya yang sedang sebal.

"Lho, aku belum pernah cerita pada kalian kalau Gracia ini punya indera keenam lebih tajam dari orang kebanyakan, ya?" ujar Maes dengan begonya.

"Belum!!" kompak, Al, Winry, dan Ed berteriak.

"Yah... firasatku memang tajam...," ujar Gracia santai sambil tertawa.

"Dia sering melihat hantu juga, lho" tambah Maes tidak penting.

Ed jadi makin heran. Penasaran lebih tepatnya. Bagaimana bisa mayor yang kadang-kadang bego dan daughter complex stadium 4 ini bisa menikah dengan Gracia yang tenang, kalem, dan... err... punya indera keenam lebih tajam dari orang kebanyakan?

"Lalu kapan kau akan pulang, Ed?" tanya Gracia.

"Kurasa besok aku sudah bisa pulang" jawab Ed.

Dia memang belum sembuh benar. Tapi luka-lukanya sebenarnya sudah sembuh. Dia cuma tinggal memulihkan stamina dan daya tahan tubuhnya. Dan itu yang akan dilakukannya di rumah Maes. Ed tidak mau mendekam di rumah sakit lama-lama. Apalagi sekedar untuk memulihkan stamina.

Tidak.

Begitu dia merasa baikan, takkan ada seorang pun yang bisa memaksanya untuk tetap di rumah sakit. Sekalipun itu dokter yang merawatnya.

"Kalau begitu, besok siang aku akan menjemputmu. Kurasa bisa saat jam makan siang" sahut Maes.

"Baguslah, karena aku tak bisa menjemputnya besok" ujar Roy tiba-tiba.

"Aku tak memintamu, Kolonel Brengsek" sahut Ed.

"Setidaknya aku ingin membalas hutang budiku padamu. Aku ini orangnya tahu diri, kok, Fullmetal" jawab Roy enteng.

Entah kenapa Roy bisa bicara dengan mudah di depan gadis itu. Rasanya malah semakin mudah sekarang. Semudah bila ia berbicara dengan Maes.

"Heh, gampang. Kau wariskan saja seluruh hartamu padaku" kata Ed dengan nada serius.

"Fullmetal yang mata duitan, aku tak mau ambil resiko dibunuh olehmu karena kau akan mewarisi hartaku kalau aku mati. Tidak" tanggap Roy tak kalah serius.

"Kalian ini... bercandanya jangan keterlaluan," tegur Maes, "Anakku dengar, nih."

"Eh, maaf," Ed cengengesan, "Dia yang mulai duluan, tuh!"

"Kekanak-kanakan" ujar Roy singkat, padat, dan tajam.

"Kau minta ditendang, ya, Brengsek?!"

"Well, kurasa kau takkan bisa menendangku dengan kaki satu begitu."

Roy memang tak tertawa tapi Ed bisa mendengar tawa dalam nada suaranya, juga sindiran yang tak pernah absen ia dapat.

"Winry, cepat selesaikan kakiku. Rasanya aku sudah tak sabar ingin menendang si Brengsek ini."


Roy mengerjakan paperworknya dengan serius hari itu. Dia sama sekali tak menyia-nyiakan waktunya dengan membuat origami atau bermain-main dengan paperclip seperti biasanya. Dia mengerjakannya tanpa mengeluh, tanpa mengomel dan meracau betapa tak bergunanya mengerjakan paperwork seperti ini. Dia sama sekali tak menyinggung rencana kencannya yang gagal gara-gara semua paperwork itu. Sama sekali. Sampai-sampai semua anak buahnya, termasuk sang ajudan takjub.

Breda dan Jean, bahkan Falman pun berpartisipasi, bertaruh Roy sedang kerasukan jin penunggu toilet wanita di dekat kantor mereka.

"Heh, kalian! Aku dengar itu, tahu!!" semprot Roy saat dia yang hendak ke toilet, dan secara tak sengaja mendengar taruhan tak masuk akal anak buahnya itu.

Ketiganya cengengesan tak jelas.

"Habis Anda aneh sekali, sih, Chief" ujar Jean jujur.

Seperti biasa, rokok terselip di bibirnya. Dia memang perokok berat. Sekarang sudah mendingan karena dia mulai menuruti kekasihnya tercinta, yang tak lain tak bukan adalah ajudan kolonelnya, untuk mengurangi konsumsi rokoknya. Dari 20 batang menjadi 10 batang sehari. Yah, lumayanlah. Setidaknya itu bisa menambah jatah hidupnya 2-3 tahun lebih lama.

"Tumben-tumbennya mau mengerjakan paperwork dengan serius tanpa ancaman tembakan Ma'am" ujar Breda sambil melirik kursi Riza yang kosong.

Riza sedang pergi ke bagian administrasi, mengurus ini-itu untuk sang kolonel. Dia kan merangkap sebagai sekretaris selain sebagai ajudan Roy. Walau faktanya, dia kadang-kadang lebih seperti babysitter Roy.

"Aku malas, salah. Rajin, juga salah. Kalian maunya aku bagaimana?"

"Tidak salah, kok, Sir. Cuma rasanya aneh. Seperti... seperti melihat anak umur 5 tahun yang sudah bisa alchemy!!" celetuk Fuery tidak jelas.

"Itu tidak aneh, Sersan. Edward sudah bisa alchemy waktu umur 5 tahun" sahut Falman, sang database berjalan yang bisa mengingat semuanya tanpa melupakan sesuatu, dengan nada serius.

Begitu nama Ed disebut, Roy tersenyum tipis. Saking tipisnya, hingga semua anak buahnya tak ada yang sadar. Bahkan dirinya sendiri tak menyadarinya.

Pintu terbuka, dan Riza muncul, lengkap dengan setumpuk dokumen, yang pasti harus ditandatangani atau setidaknya dibaca Roy. Roy mengumpat dalam hati.

"Dokumen ini benar-benar bisa beranak pinak, ya?" tanya Roy retoris, mengingat dia baru saja menyelesaikan setumpuk dokumen, dan kini datang lagi setumpuk yang baru.

Riza hanya tersenyum tipis.

"Setelah Anda menyelesaikan ini, Anda bisa pulang, Sir" kata Riza tenang, menyerahkan 15 lembar dokumen ke tangan Roy.

Roy ternganga sejenak. Serius?

Ini baru jam 3 siang, dan hanya 15 lembar dokumen lagi yang perlu dia urus? Wow, Riza benar-benar sedang dalam mood yang amat baik hari ini.

"Anda izin pulang lebih cepat hari ini kan, Sir?," ujar Riza seolah bukan hal yang besar dia memberi Roy hanya sedikit dokumen, "Melihat Anda benar-benar serius mengerjakan semua paperwork itu, saya rasa Anda bisa pulang satu setengah jam lagi."

Riza tahu kenapa Roy begitu serius mengerjakan paperworknya hari ini. Itu karena dia penasaran dengan penampilan baru Ed. Mengingat mulai hari ini Ed tinggal di rumah Maes Hughes sebagai saudara sepupu Gracia, Gracia yang seorang desainer itu tentu takkan tinggal diam melihat sang saudara sepupu tampil berantakan. Dan Riza tahu, Roy penasaran melihat bagaimana Ed yang tampil sebagai seorang gadis.

Selama ini ia selalu melihatnya sebagai bocah nakal yang terus mengusilinya, dan Roy yang sifat kekanak-kanakannya suka kumat kalau sudah berhadapan dengan Ed akan mengerjainya balik. Kali ini, Roy penasaran, ingin melihat bagaimana jadinya Ed sebagai 'sepupu Gracia'. Ed yang begitu tomboinya sampai tak perlu bekerja keras untuk menyamar menjadi pria selama ini akan memakai pakaian wanita setelah sekian lama. Pasti lucu sekali. Roy takkan melepaskan kesempatan untuk mengejek Ed begitu saja.

Dan untuk itu dia rela mengerjakan paperworknya dengan serius.

Roy tersenyum. Dia membawa dokumen itu ke kantornya.

Sebelum ia masuk dan menutup pintu kantornya, ia berkata kepada Jean, "Sering-sering ajak dia keluar, Havoc. Moodnya jadi bagus."

Baik Jean maupun Riza mematung di tempat. Tak seorang pun di kantor ini tahu tentang fakta bahwa mereka mulai berkencan. Well, mungkin semuanya menggosipkan mereka. Tapi tak seorang pun yang mendapatkan bukti bahwa mereka telah berkencan beberapa kali sebelumnya. Dan Roy baru saja mengatakannya.

Sekarang, Falman, Breda dan Fuery menanti tanggapan mereka.

"Hoo..." Breda tersenyum penuh arti.

"Begitu, ya?" Fuery menyeringai.

"Sejak kapan, Letnan Dua?" tanya Falman, tetap formal seperti biasa.

Jean dan Riza saling lirik. Masing-masing merutuk meski hanya dalam hati. Dan juga mengutuk atasan mereka yang tak bisa jaga mulut itu.

"Pastikan tutup mulutnya sebelum memberinya dokumen lain kali" bisik Jean.

"Lain kali."

Riza mengangguk. Lain kali, dia akan menempelkan pistol di kening atasannya itu saat dia menyerahkan dokumen padanya.


"Wah, tidak lembur, Roy?" tanya Maes saat Roy datang sorenya.

Pukul 16.30.

Maes mengenal Roy dengan baik. Dia tahu pasti Roy jarang pulang kantor kurang dari pukul 17.00 gara-gara kemalasannya mengerjakan paperwork. Dan melihatnya berdiri di depan pintu rumahnya jam segini termasuk hal yang patut disyukuri. Roy pasti bekerja dengan serius hari ini.

"Tidak. Aku tak mau terlambat menyindirnya" ujar Roy penuh arti.

Maes tersenyum. Dia tahu apa yang Roy maksud. Dia tahu Roy menikmati tiap saat adu mulutnya dengan Ed. Dia tahu Roy pasti berharap bisa menyindir Ed dengan pakaian wanita karena memang sulit membayangkan Ed, yang tomboi setengah mati itu, memakai pakaian wanita.

Maes tidak heran.

Tapi kali ini Maes tahu Roy akan terkejut. Karena tadi dia sudah melihat bagaimana Ed yang menjadi 'korban' Gracia sang desainer.

"Mana Al dan Nona Rockbell?" tanya Roy sembari menyampirkan mantelnya ke gantungan.

"Oh, mereka baru saja berangkat ke Liesenburgh tadi. Setengah jam yang lalu aku mengantar mereka ke stasiun" jawab Maes.

"Eh? Kenapa mereka tak memberitahuku dulu?"

Roy terperanjat. Tak biasanya...

"Entah. Tapi mereka bilang tak baik menyia-nyiakan waktu begini. Jadi mereka langsung berangkat setelah mengantar Ed kemari. Awalnya aku menyuruh mereka tinggal sedikit lebih lama lagi, tapi karena mereka bersikeras, ya, sudah. Aku mengalah."

"Kadang-kadang, Al memang lebih keras kepala daripada Ed" komentar Roy.

"Setuju."

"Sepertinya itu memang sifat Elric."

"Mungkin" Maes mengangguk, mengiyakan Roy.

"Elysia?" tanya Roy lagi.

Tumben si kecil Elysia tidak kelihatan. Padahal biasanya tiap kali datang ke rumah Hughes, sahabatnya itu sedang bermain-main dengan putrinya.

"Sedang diajak neneknya jalan-jalan..." jawabnya dengan nada tak rela.

Roy hanya bisa tersenyum mendengarnya. Nenek Elysia, Nyonya Mary Hughes, memang nenek yang baik dan sangat sayang cucu. Dia juga baik pada Roy yang yatim piatu. Dan meski banyak orang yang pada awalnya menentang hubungan Maes dan Gracia, beliau tak pernah menentang hubungan mereka. Beliau adalah orang kedua yang merestui hubungan Maes dan Gracia setelah Roy.

"Tuh kan, kau manis sekali, Ed."

Roy bisa mendengar suara Gracia dari lantai atas. Dia mendongak, mencari sosoknya dan orang yang diajaknya bicara.

"Ini... ini tidak cocok untukku, Gracia!"

Terdengar suara Ed yang kedengarannya amat sangat tidak nyaman dengan apapun yang dipakaikan Gracia padanya sekarang.

Roy sudah mendengar suaranya. Namun Ed belum menampakkan sosoknya.

"Maes, tidakkah menurutmu Ethel tampak manis?"

Tampak Gracia, tetap modis seperti biasanya, menyeret seseorang ke depan tangga.

Ethel?

Roy mengernyitkan alis mendengarnya. Namun sepersekian detik kemudian ia ingat.

Oya, itu nama aslinya.

Nama asli Ed memang Ethel Elric. Edward Elric hanyalah nama samarannya. Konon kata Nenek Pinako Rockbell di Liesenburgh sana, dulu Trisha dan Hohenheim berencana menamai anak pertama mereka 'Edward' bila laki-laki dan 'Ethel' bila perempuan. Nah, karena yang lahir perempuan, maka namanya Ethel.

Makanya Ed memakai nama Edward sebagai nama samarannya. Karena itu adalah nama yang juga diberikan orangtuanya padanya, bila ia laki-laki. Nah, karena sekarang ia laki-laki, kenapa tidak?

Omong-omong, Ed itu nama panggilan Ethel sejak kecil. Ed yang memang pada dasarnya tomboi sejak kecil itu merasa nama panggilan Ethel kurasa cocok dengan pribadinya, selain menurutnya nama panggilan 'Ethel' itu kepanjangan. Karenanya ia bersikeras mau dipanggil Ed.

Maes mendongak dan tersenyum.

"Tentu, Sayang."

Roy ikut mendongak. Dan terpaku menatap pemandangan di depannya.

Keinginannya untuk menyindir apalagi meledek sirna begitu saja. Sosok di hadapannya itu tak bisa disindir. Malah rasanya begitu wajar bila ia mengaguminya dan takjub menatapnya.

Sosok di depannya tampak amat berbeda dengan sosok Ed yang ia kenal selama ini. Sama sekali berbeda.

Cantik.

Kata itu sama sekali tak pernah terlintas dalam benak Roy dalam hal apapun yang menyangkut Ed. Proses transmutasi yang dilakukan Ed memang mengagumkan tapi tidak cocok disebut 'cantik'. Terkadang dia memang tampil rapi tapi tetap saja lebih cocok disebut 'gagah' daripada 'cantik'. Tapi kali ini...

Kali ini dia tampak sangat cantik.

Rambutnya yang biasanya asal dikepang begitu saja, kini digerai dan hanya dikepang separuh. Kemeja hitam, celana hitam dan mantel merahnya kini digantikan T-shirt baby pink berleher rendah, torso abu-abu panjang berlengan panjang, dan celana putih yang panjangnya sedikit di bawah lutut. Wajahnya bersemu merah, membuatnya makin manis.

Roy tak berkedip menatapnya.

Terpukau. Takjub.

Sosok di depannya itu bukan bocah yang sekian tahun lalu dilihatnya di suatu malam berbadai di desa kecil Liesenburgh. Dia bukan bocah yang putus asa dengan mata hampa, kosong, tanpa gairah hidup lagi. Juga bukan bocah yang dengan teguhnya kemudian memutuskan untuk mengambil kembali semua kehilangan yang ia dan saudara laki-lakinya dapat, tak peduli walau harus menyamar dan merendahkan dirinya jadi anjing militer. Apalagi bocah yang mengusilinya dan selalu mengajaknya bertengkar tiap kali ada kesempatan dan selalu ia layani dengan senang hati.

Sosok itu sosok seorang wanita. Gadis paling manis yang pernah Roy lihat. Sosok ramping itu...

Itu tak mungkin Ed.

Ed memang berbeda dengan gadis kebanyakan yang Roy kenal. Dia tomboi, keras kepala, dan sangat sulit dibayangkan bisa tampak seperti gadis biasa. Karenanya rasanya sangat aneh melihat Ed berdiri di sana, tampak begitu... feminin dalam balutan baju yang sebenarnya sederhana saja dan sering dilihatnya dipakai gadis-gadis yang dia kencani. Aneh sekali, melihat Ed tampak berkali-kali lipat lebih cantik dari gadis-gadis yang ia kencani selama ini.

Sangat aneh.

Maes mengulum senyum melihat ketakjuban sahabatnya itu.

Gracia tersenyum bangga melihat ekspresi Roy.

Ed? Awalnya wajahnya sudah memerah karena dia merasa sangat aneh memakai baju seperti ini. Kini, wajahnya merah padam begitu menyadari Roy ada di bawah tangga, menatapnya tanpa berkedip.

Kenapa dia menatapku seperti itu?

"Kehilangan kata-kata, Brengsek?" ucap Ed setelah rona merah di wajahnya sedikit mereda.

Roy, yang tersadar dari ketakjubannya, menyeringai.

"Hanya terkejut melihatmu tampak seperti wanita."

"Aku memang wanita, tahu!" ujar Ed sebal.

"Selama ini sulit untuk menyadarinya," seringai Roy melebar," Ethel."

"Kau..."

Ed mencoba melangkah, namun sayangnya ia kehilangan keseimbangan karena kaki palsu yang tak biasa ia pakai. Ia terjun bebas dari atas tangga.

"Ed!!"

Untungnya, Roy punya refleks yang cukup bagus. Dia langsung maju untuk menangkap Ed. Dan...

SET.

Eh?

Eh?

Roy berhasil menangkap Ed. Posisi mereka sekarang bisa sangat mengundang kesalahpahaman. Mengingat Roy lebih tampak seperti memeluk Ed dari depan daripada baru saja menyelamatkan Ed dari menghantam lantai dari ketinggian 3,5 meter.

Gracia memekik gembira melihat Roy berhasil menangkap Ed.

Maes menghembuskan nafas lega karena ternyata Roy masih secekatan yang ia ingat dulu.

Roy dan Ed masih membeku dalam posisi mereka. Terkejut.

Tadi itu...

Ed merasa, dalam kecelakaan kecil dan adegan heroik yang baru saja terjadi tadi, ada sesuatu yang lembut berpapasan dengan bibirnya.

Roy juga. Dia merasa bibirnya tadi menyentuh bibir seseorang.

...apa?

Bersambung...

Akhirnya sampai juga ke bagian ini!! Senang rasanya akhirnya bisa mulai menggulirkan roda cerita.

Sebenarnya saya sudah mulai hang gara-gara syok melihat nilai-nilai UTS saya yang membara. Untungnya sakit hati saya pada nilai-nilai itu bisa sedikit terobati karena ide saya di fict ini masih terus mengalir dengan amat lancar.

Karenanya, fict ini masih akan berlanjut sampai couplet yang tidak ditentukan.

Wuahahaha. XD

So...

Read and review.

Luv,

sherry