Chapter 4

.

.

.

Luhan Pov

Tatapan itu kembali. Tatapan yang telah lama hilang dan digantikan dengan tatapan lembut bersahabat itu akhirnya kembali. Menamparku dengan telak dan kalimat singkat yang meluncur dari bibirnya itu membuatku tersentak dan membatu. Seketika pikiranku kosong dan merasa bagaikan tersiram air dingin.

Sikap dingin dan tidak pedulinya seakan menamparku kembali pada kenyataan bahwa ia bukan milikku dan selamanya akan seperti itu. Katakan aku gila tapi aku melihat tatapan itu. Tatapan penuh kekecewaan dan rasa sakit.

"Lu, sampai kapan kau akan diam di sana" suara lembut itu menyadarkan ku dari keterpakuan dan tanpa pikir panjang memacu langkahku menuju lift yang mulai tertutup.

Lift tidak tahu diuntung. Seenaknya saja tertutup sebelum aku masuk. Dengan emosi kulampiaskan kemarahanku kepada pintu besi laknat itu. Menendang pintu lift itu dengan berutal dan mengumpat pelan. Mengacuhkan teriakan tertahan teman kencanku dan berderap masuk kearah lift kiri yang mendadak terbuka. Peduli setan dengan orang-orang yang masih berada di dalamnya. Yang ada di otakku saat ini yaitu mengejar Minseok dan memastikan apa yang ku lihat tadi nyata. Bukan khayalanku saja.

Suara pecahan kaca yang terdengar hingga koridor apartemen membuatku bergegas memasukkan kode kunci apartemen Minseok. Entah bagai mana lagi caranya menyampaikan rasa legaku saat kulihat ia balas menatapku dari arah sofa. Ia baik-baik saja dan itu cukup membuat energiku terkuras habis karena lega melihatnya tetap aman dan tidak terluka sedikitpun.

Kuputuskan untuk mendekatinya saat ku dapati ia kembali mengacuhkan keberadaanku. Lebih memilih memejamkan matanya, menyembunyikan onix kelam yang amat kusukai itu. Hanya erangan pelan yang ia keluarkan saat aku mulai membelai rambutnya lembut dan membuatnya semakin bergelung nyaman dalam tidurnya.

Tubuh kecilnya bergelung nyaman layaknye seekor kucing kecil dan membuatku ingin selalu melindunginya. Melihatnya tertidur entah mengapa membuatku ikut-ikutan merasa ngantuk sehingga ku putuskan untuk memindahkannya ke dalam kamar dan ikut berbaring di sampingnya. Memastikan ia aman dan terlindungi. Secara otomatis membuatku merengkuhnya dalam pelukan ku. Memastikannya ada dalam jangkauan dan tatapanku.

Luhan Pov end

.

.

.

Kamar bernuansa biru laut itu nampak temaram dengan penerangan yang minim. Sesosok tubuh berselubung selimut berwarna pastel itu mulai menggeliat malas dan terhenti ketika ia merasakan nafas hangat yang membelai lehernya lembut. Dengan malas ia melirik pria di sampingnya dan meringis kecil melihat wajah damai bagai bayi yang nampak nyaman dalam tidurnya.

"andai sikap aslimu serupa dengan wajah tidurmu Lu" gumamnya pelan sembari beranjak turun dari kasur nyamannya. Menuju pintu di pojok ruangan yang merupakan kamar mandi yang amat sangat ia puja keberadaannya selain sofa nyaman di ruang home teaternya.

Suara klik pelan tanda kamar mandi terkunci membuat pria yang masih tertidur tadi membuka matanya, menatap pintu yang tertutup itu dengan emosi berkecamuk. Entah mengepa ia merasa sosok mungil itu akan kembali jauh darinya. Akan menjadi hal tak tersentuh dan sangat sulit untuk di dekati kembali. Dan pemikirannya itu membuatnya kesal. Entah mengapa seorang Kim Minseok selalu berhasil membuat moodnya naik turun.

Memikirkan akan di jauhi oleh sosok mungil itu saja membuatnya ingin mengamuk. Suara pintu kamar mandi yang di buka membuat Luhan secara otomatis kembali memejamkan matanya seolah-olah ia masih terlelap dalam dunia mimpi yang ia buat. Biasanya Minseok akan menghampirinya dan membangunkannya dengan mengacak rambutnya dengan lembut sembari memanggil namanya. Sayangnya kali ini harapan tinggal harapan karena yang Luhan dengar selanjutnya adalah suara pintu kamar yang di tutup dan langkah kecil Minseok yang makin menjauh.

Serta merta Luhan menegakkan tubuhnya dan melempar bantal dengan kesal ke arah pintu yang tertutup. Peduli setan dengan Minseok yang akan marah-marah dengannya dan mengetahui kenyataan bahwa Luhan sebenarnya telah terjaga. Matanya menatap pintu itu nyalang, seolah-olah pintu itu telah melakukan kesalahan besar padanya karena telah membuat Minseok menghilang dari sisinya.

Katakan Luhan berlebihan tapi itulah kenyataannya. Ia benci diacuhkan oleh Minseok. Membuatnya terseret pada kenangan lama yang menjengkelkan, masa di mana Minseok menganggapnya virus mengganggu yang harus diberantas dari kehidupannya yang damai. Masa penuh pengorbanan yang harus Luhan lakukan untuk memperoleh perhatian seorang Kim Minseok yang dingin dan jelas sekali tidak tertarik padanya.

.

.

.

Luhan Pov

Apa-apaan sikapnya tadi. Yang benar saja marah hanya karena melihatku sedang bercumbu dengan seorang yeojya di lift. Marah hingga tidak menganggapku ada. Kelakuannya itu seperti remaja sedang datang bulan saja. Kenapa juga dia harus marah., bukankah itu hakku? Toh selama ini ia tidak pernah marah dengan kebiasaanku itu. Membuat kesal saja. Baiklah jika itu maunya. Aku akan ikuti permainannya.

Luhan Pov end

.

.

.

Sura pintu kamar yang terbuka membuat Minseok mengangkat kepalanya dari Koran pagi yang sedang ia baca. Di depan sana, di dekat pintu kamarnya. Luhan berdiri dengan penampilan acak-acakan yang sialnya justru membuat pria itu telihat menawan. Seksi sekaligus menggemaskan. Sayang mood Minseok sedang jelek pagi ini jadi ia hanya mengacuhkan ke adaan Luhan dan kembali sibuk dengan Koran paginya sembari menyeruput kopinya. Mengacuhkan keberadaan Luhan sepenuhnya.

Luhan yang terbiasa diperhatikan oleh orang sekitarnya mendengus kesal sembari melangkah ke arah meja makan tempat dimana Minseok duduk santai sembari menikmati kopi hangat dan sepiring pancake berlapis madu dan sirup maple yang terlihat menggiurkan jika saja Luhan sedang tidak kesal.

"sarapanmu ada di konter Luhan. Dan tolong basuh wajahmu terlebih dahulu." Ujar Minseok dari balik Koran paginya yang nampak lebih menarik minatnya dari pada keberadaan Adonis tampan jelmaan Lucifer di depannya saat ini.

Tidak ada tanggapan dari Luhan, yang terdengar hanya lah suara kursi yang di tarik keluar dan hening. Membuat Minseok menurunkan bacaannya sejenak untuk melihat apa yang Luhan lakukan lantas mendesah pelan ketika mendapati pria itu kembali merebahkan kepalanya di atas meja makan.

"aku akan keluar sepuluh menit lagi. Kalau kau mau tetap di sini tak apa tapi tolong jangan mengacak-acak apartemenku" Minseok mulai melipat korannya dan beranjak ke arah wastafel dengan piring sarapan yang masih tersisa setengah dan kembali mengayunkan langkahnya ke arah kamar untuk bersiap-siap.

Kembali mengacuhkan Luhan yang meliriknya kesal dari balik lipatan tangannya. Miseok tahu Luhan terus memperhatikannya sedari tadi. Bersikap seolah-olah tertidur saat Minseok memerhatikannya dan kembali terjaga saat Minseok sibuk dengan kegiatannya membaca Koran. Tapi hari ini Minseok malas berdebat dengan Luhan, terlebih lagi ia harus pergi sebentar lagi. Jadi ia jelas tidak memiliki cukup waktu untuk mendengar keluhan Luhan untuk hari ini.

Suara bel membuat Minseok bergegas keluar dari kamarnya dan kembali mendapati Luhan bersandar malas pada konter dapur dengan segelas kopi di tangannya. Nampak tampan dan enak untuk di santap andaikan Minseok dalam mood yang baik dan sedang tidak sedang terburu-buru.

"aku berangkat Lu, jangan acak-acak apartemenku dan hati-hati dengan pecahan vasnya. Aku belum sempat membereskannya." Pesan Minseok sebelum membuka pintu dan mendapatkan pria jangkung dengan rambut blonde yang tersenyum charming ke arahnya

"uh… oh… ada apa dengamu Mr. Wu?" goda Minseok dengan tawa kecilnya yang mampu membuat Luhan membatu

"dengan sitonggos ia tertawa. Denganku ia bagaikan Baozi yang siap meledak kapan saja. Tidak adil" gerutu Luhan kesal dan makin kesal ketika melihat Kris merangkul Minseok dengan santai tanpa penolakan sama sekali dari yang dirangkul.

"ingat pesanku Lu" teriak Minseok dari arah pintu sebelum menutup pintu, kembali membuat ia menghilang dari pandangan Luhan dan itu jelas membuat sang rusa gusar.

"ku bunuh naga tonggos itu kalau berani macam-macam dengan Minseokku"

Oh. Sepertinya ada yang sedang cemburu sehingga sifat posessivenya keluar. Sayangnya orang tersebut jelas tidak sadar dengan apa yang terjadi dengan perasaannya saat ini. Salahkan pemikirannya yang selalu terikat dengan kata "cinta itu bulshit" sehingga ia nyaris mati rasa dan tidak mengenal arti dari kata "CINTA" yang sangat ia kutuk itu.

.

.

.

Suara bentakan kembali terdengar dari arah ruangan tertutup berpintu mahogany bercat coklat tua yang berada di sayap kiri gedung perhotelan Xi hotel and resort lantai 20 itu. Membuah Chanyeol dan Sehun yang baru keluar dari lift membeku sejenak dan saling pandang. Ragu untuk masuk.

"kau yakin akan masuk?" nada ragu terdengar jelas pada suara seorang Oh Sehun dan dibalas dengan ringisan oleh Chanyeol yang melangkah ragu ke arah pintu pojok bangunan itu

"tolong pikirkan ulang Park, aku tidak pernah berniat menyerahkan nyawaku pada rusa gila yang sedang dalam mood buruk" Sehun kembali bersuara dan menatap pintu ber tuliskan presiden directur itu bagaikan seekor ular berbisa yang akan mematuknya sampai mati.

Berlebihan memang, tapi siapa yang mau berurusan dengan Xi Luhan yang dalam mode hulknya. Salah-salah kau justru mengantarkan nyawamu ke pria kelewat tampan sehingga terlihat cantik itu. Chanyeol meringis kecil saat pintu berpelitur coklat tua itu terbuka dari dalam dan sekertaris Xi Luhan keluar dari ruangan itu dengan tubuh menggigil dan pipi basah.

"ayolah Yeol, besok saja kita menemui rusa liar itu. Entah mengapa firasatku buruk." Sehun kembali menahan Chanyeol yang akan melangkahkan kakinya masuk. Hilang sudah sifat dinginnya. Peduli iblis dengan image jika nyawa yang menjadi taruhannya.

"itu jika moodnya kembali membaik besok. Bagai mana jika makin memburuk. Kau yang menumuinya dan aku menunggu hasilnya" tukas Chanyeol sakartik dan membuat Sehun menelan ludahnya kelu.

Yang benar saja, berdua dengan Chanyeol saja ia malas berurusan dengan rusa marah itu apa lagi sendirian jadi mau tidak mau Sehun ikut masuk.

"kamchagya!" pekik Sehun ngeri dan langsung meloncat horror ke arah kiri saat sebuah pena melayang ke arah mereka.

Chanyeol bahkan berdiri kaku di tempatnya saat pena itu melayang ke arah mereka. Sehun menelan ludahnya takut dan kembali mengerut takut di pojok ruangan, berdiri sejauh mungkin dari seorang Xi Luhan yang mengeluarkan aura-aura mengerikan di sekitarnya. Bahkan Sehun yakin ia melihat asap hitam beserta sekumpulan iblis kejam di sekitar Xi Luhan.

"aku sedang tidak menerima tamu tuan-tuan" desis Luhan berbahaya dan berhasil membuat Sehun melesat ke arah pintu, bersiap untuk kabur jika saja Chanyeol tidak menarik kerah jas kerjanya dan menarik Magnae mereka itu ke arah sofa di pojok ruangan.

"berhenti bersikap mengerikan dan duduklah dengan benar Xi" ucap Chanyeol tenang, berbanding terbalik dengan hatinya yang mencebik takut. Sehun bahkan menatapnya dengan mulut terbuka lebar seolah mengatakan ia tak berotak dan bernyali besar berani berkata seperti itu kepada seorang Xi Luhan yang sedang kesal.

Bahkan Sehun kembali meloncat berdiri mendengar geraman seorang Xi Luhan yang menatap mereka nyalang.

"aku serius, kau harus duduk dan mendengarkan perkataan kami untuk kali ini."

Luhan yang akan membentak Chanyeol kembali melirik kesal ke arah pintu ketika pintu itu kembali terbuka dan menampakkan sosok anggun seorang wanita jangkung yang sedang bersedekap kesal.

"penyelamat datang…" desah Sehun berlebihan dan membuat Chanyeol meliriknya dengan kesal. Menyesal mengajak pria es yang mendadak OOC ini.

"pulang sana" sosok itu membentak Luhan sembari melempar tas kerja Luhan ke arah sang pria yang menatapnya jengkel.

"seharusnya kau tidak usah masuk kerja jika seharian ini kau hanya membentak dan terus memaki pegawaimu." Ucapan bernada pedas itu kembali membuat Luhan melotot kesal

"dan kalin berdua, sedang apa di sana?" Tanya wanita yang tak lain tak bukan adalah Choi Sooyoung, kakak sepupu Luhan. Wanita inilah yang bertengkar dengan Minseok di lobi apartemen mereka saat itu.

Sedetik kemudian wanita itu meringis geli melihat posisi duduk Chanyeol dan Sehun yang berdempetan sembari berpegangan tangan.

"Ya Tuhan, menggemaskan sekali wajah ketakutan mereka itu" batin Sooyoung geli.

Chanyeol yang melihat senyum geli di wajah Sooyoung segera melirik Sehun dan detik berikutnya tubuh keduanya melompat menjauhi satu sama lain dan saling menatap horror.

"menjauh dariku Oh" teriak Chanyeol heboh dan di balas caci maki oleh Sehun, lupa sejenak dengan seorang Xi Luhan yang masih mengeluarkan aura-aura kelam yang membuat atmosfir ruangan itu menjadi gelap

"sebaiknya kau cepat pulang dan perbaiki emosimu itu. Jika perlu temui Minseok dan minta penjelasaan padanya mengapa ia menjauhi atau kembali mengacuhkanmu" ucapan santai sang sepupu membuat Luhan tersentak pelan dan membuat dua penghuni lainnya menatap Luhan dengan ekspresi menggelikan.

"berhenti menatapku dengan tatapan itu Xi Luhan. Semua yang terjadi denganmu selama hampir beberapa bulan ini selalu berhubungan dengan namja mungil itu. Moodmu selalu naik turun. Entah apa yang dilakukan si mungil itu hingga membuatmu menjadi semenyedihkan ini." Decak Sooyoung malas sembari menghepaskan bokongnya pada sofa di seberang Chanyeol dan Sehun yang masih menatap Luhan seolah pria itu alien nyasar.

"oh waw, harus ku akui itu suatu kejadian langka ada yang bisa membuat rusa ini menjadi mengerikan separti ini" Sehun akhirnya buka suara, lupa dengan rasa takutnya dan menatap Luhan miris.

"berhenti mengoceh dan katakan apa keperluan kalian di sini. Aku capek dan kalian jelas menggangguku"

"hanya ingin memberi tahumu jika Kris akhirnya memutuskan untuk menikah" jawab Chanyeol santai dan itu sukses membuat Luhan tersedak minumannya.

"kau bohongkan?" Luhan menatap Chanyeol ngeri

"sayangnya dia benar Lu, Kris memang memutuskan untuk menikah. Kau harus lihat calonnya. Pria mungil dengan pipi berisi yang cukup menggemaskan" Sooyoung ikut menimpali sembari menatap Luhan tajam.

Ingin tahu reaksi Luhan akan kabar mengejutkan itu. Bukan kabarnya tapi reaksi Luhan akan kata mungil dan pipi bersisi yang ia nantikan dan benar saja. Detik berikutnya rusa itu membeku dengan mata terbelalak kaget. Seringai kecil nampak di bibir sewarna darah itu. Sooyoung amat sangat teramat sangat menyukai ekspresi luhan yang seakan dipaksa menelan kotoran itu.

"baiklah, aku rasa kau memang harus menenangkan diri dan pulanglah. Wajahmu sangat menyedihkan Lu" ejek Sooyoung sadis sembari membenahi pakaian kantornya yang bahkan tidak kusut sedikitpun, melangkah anggun keluar ruangan yang nampak mecekam itu

"yeojya itu bagai iblis" cicit Sehun takut saat melihat Luhan kembali mengeluarkan aura-aura membunuh, bahkan ia telah kembali beranjak berdiri dan siap berlari ke arah mobilnya di basemant kantor Luhan.

Ia masih sayang nyawa dan ada panda manis yang menunggunya saat ini jika saja Chanyeol tidak menariknya pergi saat jam makan siang tiba.

"pernikahanya masih sekitar empat bulan lagi dan Kris berharap kita semua hadir. Dengan atau tanpa pasangan." Chanyeol kembali bersuara dan berjalan santai ke arah pintu keluar di ikuti Sehun dengan semangat.

"ah, hampir lupa. Kris juga akan mengadakan pesta bujang dekat-dekat ini. Karena ia akan sibuk menyiapkan pernikahanya sehingga tidak akan sempat melakukan pesta bujang jika terlalu dekat dengan pesta pernikahannya. Salahkan calon istrinya yang menginginkan sebuah rumah mungil dengan taman yang indah sebagai kado pernikahan mereka." Chanyeol melirik Luhan dari balik punggungnya sebelum menutup pintu ruangan Luhan dengan seringai yang terparti di bibirnya. Lupa akan rasa takutnya tadi.

Bahkan ia tertawa dengan keras saat ia mendengar suara pecahan gelas dari dalam ruangan Luhan. Membuat Sehun meloncat ngeri dan menatap Chanyeol seolah Chanyeol kehilangan otak warasnya karena mengkonfrontasi otak psikopat Luhan.

.

.

.

TBC