"Aku tahu orangnya"

Hampir saja jantung Wonwoo copot, syukurnya bel masuk kelas berbunyi menandakan waktu istirahat berakhir, baru saja Wonwoo ingin bertanya lebih jauh tentang siapa yang ada dipikiran Jun. Tapi terpotong dengan suara bel masuk.

Walaupun begitu, Wonwoo sedikit bersyukur juga, karena kalau tebakan Jun benar, mungkin Jun akan tahu kalau temannya yang berwajah dingin itu sedang menyukai seorang laki-laki dari kelas 10-7 yang sebelumnya duduk berhadapan dengan Wonwoo saat jam makan siang lalu. Jujur saja, Wonwoo belum siap karena terlalu cepat jika mengatakan kebenarannya langsung pada Jun.

Tapi cepat atau lambat pasti Wonwoo akan menceritakan semuanya pada Jun, hanya saja tidak untuk sekarang. Karena waktunya masih belum tepat. Wonwoo juga tidak ingin membuat Jun syok atau yang lainnya atau bahkan lebih buruknya Jun akan menghindari Wonwoo dan tidak ingin berteman lagi dengan Wonwoo. Wonwoo tidak ingin itu terjadi. Wonwoo masih ingin merasakan rasanya pertemanan itu seperti apa.

"Ayo masuk, kalau Ibu Jung sudah datang dan melihat kita diluar kita tidak bisa masuk kelas, kau tahukan sekejam apa dia?"

Membayangkan saja sudah membuat bulu roma Wonwoo merinding. Wonwoo hanya membalas ucapan Jun dengan anggukan kecil dan mengikuti Jun dari belakang.

Waktu berlalu sampai akhirnya pelajaran Ibu Jung sang guru killer sudah berakhir. Sekarang adalah pelajaran salah satu guru yang membosankan, cara mengajarnya sangat tidak etis dan tidak mencerminkan sosok seorang guru. Wonwoo bahkan tidak ingat namanya siapa. Tapi Wonwoo sangat hafal wajahnya.

Guru itu datang, kemudian duduk di bangkunya. Menyuruh para murid membuka halaman sekian dan harus merangkum dari bab sekian sampai bab sekian.

Setelah dirangkum para murid harus mengerjakan sebuah tugas pada halaman sekian, jika tugas tersebut tidak selesai hari ini maka bisa dilanjut dirumah.

Itu simpel, tapi apakah dia digaji hanya untuk itu?

Setelahnya guru itu hanya memainkan laptop silver yang dimana logonya bisa menyala. Berkutik dengan papan ketiknya seperti dia adalah orang paling sibuk sejagad raya.

Wonwoo mengedarkan pandangannya, semua murid terlihat bosan, beberapa bahkan memainkan ponsel dibawah meja. Ada juga yang mulai merangkum. Dan ada pula yang tertidur dibalik buku yang ia tegakan.

Wonwoo mendengus kesal, sesekali ia melihat Jun yang sudah mulai merangkum. Lalu menggodanya dengan menekan-nekan pipi Jun dengan pulpen. Tapi Jun tidak bergerak barang seinci pun untuk sekedar merasa terusik dengan gangguan kecil yang Wonwoo buat.

Jun memang salah satu teman Wonwoo yang paling sabar setelah Soonyoung. Ah ngomong-ngomong tentang Soonyoung akhir-akhir ini Wonwoo jarang melihat laki-laki dengan mata segaris itu.

Selama pelajaran berlangsung Wonwoo hanya melihat kearah pintu, berharap ada pangerannya yang secara tiba-tiba lewat didepan kelasnya.

Wonwoo merebahkan kepalanya diatas meja beralaskan lengan yang menjadi bantalannya. Lagi-lagi dipikirannya hanya ada Mingyu. Mingyu. Mingyu. Mingyu. Seterusnya Mingyu.

Bahkan memikirkan laki-laki jangkung itu malah membuat kepala Wonwoo pusing. Masih tidak tahu apa yang membuatnya begitu tergila-gila dengan sosok Mingyu yang sebenarnya tampak biasa saja. Hanya saja Mingyu itu terkesan keren dan hangat. Berbeda dengan Wonwoo yang dingin.

Tampan? Sebenarnya itu relatif, menurut pandangan Wonwoo banyak sekali orang tampan di dunia ini. Seperti Jun, dia tampan. Soonyoung juga tampan, tapi mungkin agak meleset jadi lucu kalau diperhatikan. Wonwoo pikir-pikir lagi, bukan itu alasannya. Ada hal lain dari Mingyu yang membuatnya tergila-gila, tapi apa?

Wonwoo sangat yakin seiring berjalannya waktu Mingyu semakin terkenal seantero kelas, Wonwoo yakin itu. Hanya menunggu ada suatu gebrakan yang muncul dari Mingyu lambat laun namanya akan bertebaran dan menjadikan Mingyu sebuah topik hangat dikalangan para siswa. Tidak peduli apa yang Mingyu lakukan, hal negatif atau positif semua siswa tidak akan menghakiminya, karena ketampanan Mingyu seperti tamengnya.

Seperti wajah nya adalah salah satu yang akan menyelamatkannya, seperti apapun yang Mingyu lakukan, baik ataupun buruk. Dunia akan memaafkannya. Bukan begitu?

Apa yang membuat Mingyu begitu sempurna?

Benar. Wajahnya.

Lalu apakah Wonwoo sampai begitu gila karena wajah Mingyu? Awalnya mungkin Wonwoo akan menjawab iya, tapi lama kelamaan bukan itu jawabannya. Entahlah Wonwoo hanya ingin mencari tahu apa yang ada dibenaknya tentang Mingyu.

Lalu apa lagi? Kepribadiannya? Wonwoo bahkan belum mengenal begitu dalam tentang sosok Mingyu. Jadi untuk alasan ini masih rancu.

Kepala Wonwoo terasa begitu pusing, dia menegakkan kembali kepalanya seperti sedia kala. Dan menyadari kalau Jun sudah berada pada posisi yang sama seperti Wonwoo lakukan tadi, Jun juga manusia sama seperti Wonwoo.

Mudah bosan. Itu manusiawi.

Pandangan Wonwoo beralih kearah pintu, dua orang sedang bersusah payah membawa tumpukan buku. Yang satu laki-laki dan satunya adalah perempuan.

Laki-laki itu adalah orang yang sangat ingin Wonwoo lihat sekarang ini, tapi perempuannya tidak. Wonwoo memicingkan matanya melihat perempuan yang bersama Mingyu itu.

'Kyulkyung!' Batin nya berteriak.

Setelah yakin itu Kyulkyung, alisnya saling bertemu dan sepertinya tidak mau berpisah lagi.

'Kyulkyung? Mingyu? Apa mereka satu kelas?' Wonwoo hanya berani menebak dalam hati.

"Wonwoo? Kau melamun!" tangan Jun bergerak tidak karuan didepan wajah Wonwoo, syukurnya berhasil menyadarkan lamunan Wonwoo.

"Ah, kau menganggu saja!" Ujar Wonwoo sebal, volumenya cukup pelan karena suasana kelas sangat sunyi. Tapi tekanan pada nadanya bisa Jun dengar dengan jelas.

"Habisnya kau melihat Kyulkyung seperti melihat hantu, jangan-jangan Kyulkyung ya yang kau sukai?"

"Aku? Kyulkyung? No!" Wonwoo menggeleng cepat.

"Hmm bukan ya? Jangan-jangan laki-laki yang disamping Kyulkyung?" Seperti roket, jantung Wonwoo hampir meluncur dari tempatnya sekarang. Wonwoo mulai takut akan perkataannya yang sebelumnya, jangan-jangan Jun bisa membaca pikiran orang lain. Jujur Wonwoo paling takut dengan yang seperti itu, orang-orang dengan kemampuan seperti itu baginya adalah orang yang tidak sopan. Itu opininya.

Sama halnya seperti, dirinya sedang ditelanjangi oleh orang berkemampuan seperti itu—Ah coret itu—Ini seperti Wonwoo sudah memakai baju berlapis-lapis tapi Jun dengan leluasa bisa menerawang dibalik lapisan kain-kain itu. Semacam itulah yang ada dipikiran Wonwoo.

Mata Wonwoo melebar, dan dengan cepat menggeleng menolak pernyataan Jun tadi.

'Iya Jun, bagaimana kau tahu kalau Mingyu itu orang yang kusukai?' Tapi tertahan begitu saja, karena malah kalimat lain yang ia keluarkan.

"Hey! Aku bukan gay!"

"Hahaha, maaf aku kan hanya bercanda. Tapi Kyulkyung kalau dilihat-lihat menarik juga"

"Masa? Kau mengenal Kyulkyung? Tapi kulihat-lihat biasa saja wajahnya" ujar Wonwoo sebisa mungkin mengganti topik kearah Kyulkyung.

"Hmm ngomong-ngomong Kyulkyung itu teman sekolah dasar ku dulu waktu di Cina, dulu aku berteman baik dengannya tapi sekarang sepertinya tidak lagi, setelah lulus sekolah dasar aku hilang kontak dengannya dan juga keluarganya. Lalu begitu di SMA aku bertemu lagi." ujar Jun mulai sedikit bercerita.

"Benarkah? Aku tinggal bertetangga dengannya, wah dunia bahkan lebih sempit daripada pikiranmu ya Jun" Jun hanya memutar matanya malas ketika mendengar penuturan Wonwoo.

Sedetik kemudian kata-kata Jun membuat otak Wonwoo membeku. "Tapi, kenapa aku curiga ya? Jangan-jangan kau benar-benar gay lagi? Masa wajah secantik Kyulkyung kau bilang biasa saja?"

PLAKK

Buku sastra milik Wonwoo mendarat tepat dikepala Jun dan menciptakan sebuah bunyi yang cukup besar bahkan guru sampai melirik kearah Wonwoo dan Jun. Karena sumber suaranya dari sana.

Jeonghan dan Seungkwan yang duduk didepan mereka berdua hanya menoleh sebentar kebelakang memastikan tidak ada hal aneh yang Wonwoo dan Jun perbuat.

Wonwoo bahkan tidak berpikir kalau suaranya akan sekeras itu. Banyak pasang mata yang beralih pandang kearah Jun dan Wonwoo.

Sementara itu Jun dan Wonwoo hanya saling menunduk malu sambil menahan tawa. Wonwoo yang paling tidak tahan dengan tertawanya akhirnya tertawa tapi tidak bersuara hanya membuka mulutnya lebar dan ia menutupi wajahnya dengan buku yang sebelumnya ia gunakan untuk memukul Jun.

"Jeon Wonwoo! Kau tahu definisi rasa sakit tidak? Kalau tidak, lain kali kau harus mencicipi nya, padahal aku hanya bercanda" jawab Jun yang masih menunduk malu dan mengelus kepalanya yang terasa nyeri.

"Benarkah? Tapi cara bercanda mu tidak lucu, sudah ah aku mau ketoilet, gara-gara tertawa aku jadi ingin ketoilet" ujar Wonwoo.

"Sana pergilah! Oh iya nanti kalau kembali belikan aku keripik kentang ya"

"mau keripik kentang?"

Jun hanya mengangguk sambil menampilkan puppy eyes nya dibarengi oleh senyum yang terlihat bodoh.

"Nih keripik kentang!"

PLAKK

Sebuah sentilan mendarat di dahi Jun yang tertutupi rambut. Lagi-lagi Jun harus mencicipi rasa sakit yang disebabkan oleh teman sebangkunya.

"Dasar kejam! Sepertinya kau itu anaknya Ibu Jung!" Jun langsung kembali lagi berkutik dengan tugasnya.

Sementara Wonwoo sudah berlari keluar kelas setelah sebelumnya meminta izin dari guru yang hanya membalas dengan suara gemuruh abstrak yang Wonwoo anggap itu sebagai jawaban 'Iya, silahkan'.

Sampai didepan toilet, Wonwoo masuk dan sebelumnya ia melihat dua siswi yang masuk ke toilet khusus wanita.

"Kau tahu anak populer yang ada dikelas 10-7?"

"Iya! Laki-laki tinggi itu bukan?"

"Iya! namanya Kim Mingyu kalau aku tidak salah"

"Benar! Dia tampan sekali! Aku bahkan rela diduakan olehnya asalkan aku berpacaran dengannya."

"Aku bahkan rela jadi yang ketiga"

"Hahahaha"

Mereka ada disisi lain ruangan, tapi suaranya bahkan bisa Wonwoo dengar dari tempatnya berdiri. Agak samar, mungkin terdengar karena suasananya sedang sepi dan tidak ramai. Maka dari itu suara mereka berdua cukup mendominasi.

Apalagi yang menjadi topik pembicaraan itu adalah sesuatu yang Wonwoo pikirkan beberapa waktu lalu. Wonwoo mendengarnya antara senang dan mau muntah, senangnya karena ternyata apa yang Wonwoo prediksi benar-benar terjadi. Bahkan Mingyu belum melakukan apapun, yang Mingyu lakukan hanyalah menunjukkan pesonanya.

Dan yang membuatnya ingin muntah ternyata saingan Wonwoo akan terus bertambah seiring terkenalnya Mingyu, dan mereka semua adalah perempuan, sementara Wonwoo adalah laki-laki.

Mereka bergerombol, Wonwoo hanya seorang diri. Baiklah jika waktunya tiba dan Wonwoo kalah, ia siap mengibarkan bendera putih.

Gara-gara menguping sedikit pembicaraan dua perempuan tadi, Wonwoo tidak jadi untuk sekedar buang air kecil. Wonwoo hanya membasuh wajahnya yang tampak panas. Sedikit air yang membasahi wajahnya setidaknya bisa membuat kepalanya dingin, atau mungkin hatinya. Dan jangan lupakan pikirannya yang juga ikut terpanggang karena kepanasan.

Wonwoo melangkah menuju ruang kelasnya, dan seseorang memanggilnya dari salah satu kelas. Itu kelas Soonyoung dan itu suara Soonyoung.

Sepertinya apa yang Wonwoo pikirkan beberapa waktu ini selalu menjadi kenyataan. Aneh, Pikirnya.

"Wonwoo!" Ujar Soonyoung dari dalam, seraya berlari keluar dari kelasnya. Wonwoo menengok kearah depan dan tidak menemukan guru dikelas Soonyoung. Kelasnya sedang bebas dari guru.

"Nu~Nu~ Onyuu~ mau kemana dirimu?" tanyanya dengan sebuah nada yang aneh bahkan Wonwoo sampai meringis mendengarnya.

"Kelasmu sedang kosong ya? Aku habis dari toilet" Dan dibalas anggukan beberapa kali oleh Soonyoung, setelahnya ia meraih tangan Wonwoo dan mendekatkan pada dirinya.

"Mendekatkan sebentar" perintah Soonyoung, dan entah kenapa Wonwoo menurutinya.

"Kau tahu, kudengar anak-anak SMP angkatan kita akan mengadakan reuni, kau mau ikut?" Tanya Soonyoung dengan nada menawarkan.

"Bukankah kita baru saja lulus? Sudah mau reunian? Bukankah terlalu cepat?"

"Jangan tanya aku, aku bukan panitianya"

"Hmm sepertinya, aku tidak akan ikut"

"Aku juga sepertinya tidak, aku sibuk"

"Kalau begitu tidak perlu datang, bukan? Kenapa kau repot-repot memikirkannya"

"Aku tidak memikirkan, aku hanya ingin mengajakmu" ujar Soonyoung meyakinkan, tapi apa yang Soonyoung pikirkan tentang Wonwoo? Apa yang Soonyoung ekspektasi kan dari seorang Jeon Wonwoo?

Jangan pernah ajak Wonwoo ke acara-acara semacam itu, karena tanpa bertanya pun orang-orang bahkan sudah tahu jawabannya. Soonyoung memang terkadang terlalu peduli pada Wonwoo. Terlalu sabar juga, oh bukankah Wonwoo pernah bilang kalau sifat sabaran Soonyoung sekarang menurun pada Jun. Sebuah kebetulan.

Tiba-tiba jendela kelas Soonyoung terbuka, sesosok laki-laki dengan rambutnya lurus berponi dan senyumnya bisa dibilang seperti pohon beringin, Kenapa pohon beringin? Karena senyumnya meneduhkan, laki-laki itu mengeluarkan kepalanya dari jendela, dan langsung menyapa kearah Wonwoo dan Soonyoung.

"Hai, kalian sedang apa?" Sapanya ramah.

Soonyoung dengan sigap segera menutup jendela itu.

"Menganggu saja, untung kau tampan, kalau tidak aku bisa menjepit wajahmu dengan jendela ini!" Ujar Soonyoung kesal. Dan hanya dibalas sedikit kekehan dari Wonwoo.

Dan jendela terbuka lagi, kepala laki-laki itu muncul lagi.

"Hai Jeon Wonwoo, kau suka nonton Spongebob ya?" Sapa si pria dengan senyum meneduhkan tersebut.

'Hah? dia tau namaku? Lalu, kenapa dia tau acara tv yang sering aku tonton? Jangan jangan dia bisa membaca pikiranku??!!" Batin Wonwoo

Hoshi yang terlihat kesal mendorong kepala laki-laki itu masuk kedalam dan menuntup jendelanya dengan kesal dengan sedikit membanting jendelanya.

"Dasar manusia pengganggu!"

Wonwoo yang hanya tertawa pelan saat memperhatikan interaksi keduanya. Soonyoung memang mood booster nya, terkadang Soonyoung tahu kalau suasana hati Wonwoo sedang sedih atau kesepian. Maka dari itu, sejak SMP keduanya dekat. Syukurnya mereka dekat karena selalu duduk di satu meja yang sama. Dan Wonwoo tidak keberatan selama itu adalah Soonyoung yang duduk disampingnya.

"Aku kesal!" Ujar Soonyoung.

"Dia itu siapa? Temanmu?" Tanya Wonwoo sembari menepuk lengan atas Soonyoung pelan.

"Itu Hong Jisoo, semua teman sekelas ku terpanah pada ketampanannya, tapi menurutku masih tampan wajahku, benarkan?" Soonyoung bicara sambil merapikan kerah dan dasinya yang membuat Wonwoo memutar matanya jengkel.

"Hey Soonyoung! Kau tahu? Beberapa hari ini akan ada berita dikoran, diberitakan ada seorang pria tewas karena terlalu percaya diri, kau tau siapa yang membunuhnya?" Tanya Wonwoo dengan volume pelan. Soonyoung mendengarnya dengan begitu antusias tapi tidak tahu tentang hal itu jadi hanya menggeleng. "Aku yang membunuhnya, kau tahu siapa korbannya?" Tanya Wonwoo lagi. Dan dibalas gelengan kepala dari Soonyoung.

"Namanya Kwon Soonyoung" jelas Wonwoo.

"Hey! Dasar teman tidak berguna! Pergi sana, dasar sialan!" Wonwoo bergegas pergi dari hadapan Soonyoung sebelum kata-kata umpatan nya semakin parah.

"Dasar Emo!" Lanjut Soonyoung.

Wonwoo membalikan arah dan menatap Soonyoung dengan sepasang mata rubah nya "Kau bilang apa?" Tanya Wonwoo.

"Ah? Tidak. Aku sedang berbicara dengan orang dibalik jendela ini, sudah ya aku masuk dulu"

Wonwoo kembali menuju ruang kelasnya sembari menahan tawanya dan sesekali membayangkan wajah takut Soonyoung di kepalanya.

Bel sekolah sudah berbunyi dengan nyaring dan keras, waktunya untuk pulang untuk para siswa disekolah itu.

"Semakin hari kudengar bel sekolah kita seperti suara-suara pemberitahuan distasiun, eh—stasiun atau mall ya?" Tanya Jeonghan, matanya memperhatikan langit-langit ruangan membayangkan suara bel yang hampir mirip dengan suara-suara distasiun atau suara di mall.

"Anggap saja sekolah berkelas. Ya ... Sekolah elit, harap maklum" kata Seungkwan, menjawab sembari memasukkan buku-bukunya kedalam tasnya.

"Elit apanya? Lapangan olahraga kita tidak terlalu besar, lalu makan siang kita menunya itu lagi itu lagi" Jun mengeluh

"ELIT! MEMANG PELIT! Itu maksudku." Seru Seungkwan, seakan-akan dunia harus tahu betapa buruk sekolahnya.

Dan dibalas tertawaan dari beberapa orang yang mendengarkan singkatan yang Seungkwan buat.

Saat mereka sedang asik tertawa, Wonwoo adalah salah satu yang tidak tertawa. Wonwoo buru-buru membereskan buku-bukunya dan memasukkan semuanya kedalam tas, ia melangkah menuju luar dan bersandar di balkon yang ada didepan kelasnya. sambil melihat kearah bawah. Melihat beberapa siswa yang bergerak hampir seperti semut yang berkerumun mencari makanan.

Sangat ramai, pikirnya. Lalu matanya beralih pada kelas 10-7.

Wonwoo lihat kelas itu masih ada gurunya, dan semua murid dalam kelas itu masih duduk rapi dibangku nya masing-masing.

"Wonwoo, ayo pulang" ajak Jeonghan dan diikuti oleh Seungkwan dibelakang.

"Aku nanti saja, kalian duluan saja sana"

"Baiklah, kau hati-hati ya" ujar Jeonghan sambil melambaikan tangan, Seungkwan juga melambai dengan senyum ramahnya.

Jeonghan dan Seungkwan sudah pulang, tapi Jun belum. Laki-laki asal Cina itu juga sedang ikut bersandar pada balkon seperti yang Wonwoo lakukan saat ini.

"Kau tidak pulang Jun? Seungkwan dan Jeonghan baru saja pulang" tanya Wonwoo.

"Belum, aku menunggu sepi."

Wonwoo hanya mengangguk

"Oh iya, saat jam makan siang tadi. Kau bertanya siapa orang yang kusukai kan? Dia ada didalam sana" Wonwoo menunjuk udara yang mengarah pada kelas 10-7.

"Oh! disitu! Siapa? Siapa?" Tanya Jun penasaran.

'Kau mau tahu? Kim Mingyu, namanya' tapi lagi-lagi tertahan.

'Apa reaksi Jun jika tahu temannya menyukai sesama laki-laki' Wonwoo bergulat dengan batinnya sendiri. Masih belum ingin Wonwoo menunjukkan wajah dibalik topengnya. Yang ingin Wonwoo lakukan hanyalah menyimpan nya sendiri, hanya untuk saat ini. Tapi tidak tahu apakah kedepannya Wonwoo bisa jadi terbuka atau tidak. Hanya menunggu waktu yang tepat.

"Wonwoo! Hey! Kenapa melamun, siapa orangnya?"

"Hmm masih rahasia, aku akan beritahu dirimu kalau aku sudah siap" balas Wonwoo

"OK!! Aku menunggu jawabannya, aku sangat penasaran" dua kepalan tangan Jun dan juga mata berapi-api nya membuat Wonwoo semakin bingung, sebenarnya Jun tahu atau tidak tentang Wonwoo yang menyukai Mingyu. Ternyata Jun sulit ditebak.

"Tunggulah, ah iya—kenapa kelas 10-7 belum bubar juga? Padahal bel pulang sudah berbunyi tadi"

Jun sedikit memicingkan matanya, Ekspresi diwajahnya yang Wonwoo benci kembali lagi terlihat dihadapannya. Sepertinya belum ada yang memberitahukan Jun kalau ekspresi itu sangat tidak cocok dengan wajahnya.

"Berhentilah membuat ekspresi seperti itu, itu menggelikan" ujar Wonwoo akhirnya angkat suara perihal ekspresi Jun yang tidak sinkron dengan wajahnya.

"Aku hanya memikirkan satu hal, kau menunggunya ya? Haha sepertinya kelas itu ada pelajaran tambahan dari wali kelasnya"

Jawab Jun kemudian setelah ekspresi berubah jadi normal lagi.

"pelajaran tambahan? Kenapa kelas kita tidak ada pelajaran tambahan?" Tanya polos Wonwoo.

"Seharusnya kau bersyukur" hanya itu yang Jun keluarkan.

Wonwoo yang dengar penjelasan Jun hanya mengangguk mengerti, di satu sisi benar juga. Kalau begitu kan dia ia bisa pulang lebih awal dan nonton kartun favoritnya.

"Sepertinya sudah sepi, ayo pulang" ajak Jun

"Pulang saja sana, aku masih ingin disini"

Mata Jun merotasi pelan, "Jangan bilang kau menunggu nya?" Tanya Jun kemudian.

"Sudah sana, pulang!" Dan Jun akhirnya pergi meninggalkan Wonwoo yang masih bersandar pada balkon.

Seperti hilang ditelan angin Jun benar-benar sudah tidak ada, Wonwoo hanya mengira sepertinya Jun sudah berada dilantai bawah untuk segera pulang.

Dan saat itulah Wonwoo berdiri, di balkon seorang diri, hanya ditemani oleh semilir angin yang menerbangkan beberapa helai rambutnya.

Tiba-tiba muncul suara derit yang memecah keheningan. Beberapa anak sudah berhamburan keluar dari kelas. Asalnya dari kelas Mingyu.

"JUN TUNGGU!!" Wonwoo berlari menuruni anak tangga menuju Jun yang mungkin sudah berada di pintu gerbang sekolah sekarang.

TBC

Omaygat, Kamis lupa update wkwkw.

btw, Mingyu nya masih diumpetin.

btw(2) betapa senangnya, ketika baca review ternyata yang review adalah salah satu author favorit, waaa love yuu author-nim. Dear, hoshilhouette terima kasih telah berkenan untuk meninggalkan review dan juga sedikit kritik ditaman bermainku yang tandus ini:')))))

yang lainnya boleh meninggalkan kritik dan saran, aku terima dengan lapang dada kok. XD

Silahkan reviewnya. x