Perjalanan ke jeju...
Hari ini Jongin akan pergi ke Jeju untuk pekerjaannya. Mengurus Musik Video salah satu talenta di agency PCY entertainment, bersama Chanyeol selaku orang nomor satu di agency milik keluarga Park itu.
Haowen sama sekali tidak manja, dia masih terlihat pucat meskipun demamnya sudah mereda dua hari yang lalu.
Mereka menunggu keberangkatan dengan makan siang di sebuah resto keluarga yang masih berada di kawasan bandara.
Aura tak mengenakan terasa begitu Chanyeol tiba dan bertingkah jika ia adalah ayahnya Haowen, dan suaminya Jongin. Ini terlalu menyebalkan bagi Sehun, seolah kehadirannya tak ada gunanya sama sekali diantara mereka.
"Daddy"
Chanyeol dan Sehun menyahut bersamaan. Jongin menahan tawa, Haowen mengerucutkan bibirnya dengan mulut penuh nasi. "Daddy Hunnie"
"Oh, iya" Chanyeol menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ok, ia sama sekali tidak menyukai kehadiran Sehun yang seolah menggeser statusnya sebagai ayah untuk Haowen.
Apa Sehun senang?
Bukan main! Mungkin rasanya seolah meluncur menggunakan paus akrobatik. Ia mengulum senyum di wajah tampannya itu.
"Ada apa?" Tanya Sehun.
"Pulang nanti kita ke game center ya"
Jongin menoleh ke arah Haowen. "Baby, kau baru sembuh sakit" katanya, menatap cemas sang anak.
Haowen menggeleng. "Ani, Hao sudah sembuh kok" sahutnya. "Lagipula Hao mau menghabiskan waktu bersama daddy"
"Mommy saja boleh ke Jeju, masak Hao tidak boleh"
"Hao, mommy pergi ke Jeju untuk bekerja" Jongin terlihat jengkel. "Kita sudah pernah membicarakan hal ini"
Haowen melempar garpu ke atas piring. Jongin melotot kesal, ia pikir Haowen sudah mulai mengerti dengan kesibukannya,Tapi selama di Seoul, Haowen jadi sering menyindir jam kerja sang ibu yang mulai tak terkendali.
"Haowen" Seru Jongin
Chanyeol mengusap lembut tangan Jongin. Sehun yang melihat itu nampak kesal, ia bahkan tidak menyentuh makanan yang dipesankan Jongin untuknya.
Haowen beranjak dari kursinya. Jongin hendak mengejarnya, namun suara keberangkatannya sudah terdengar dan tidak mungkin ia membuat perjalanan tertunda hanya karena tingkah putranya yang ngambek itu.
"Hao" Sehun mengejarnya. Tidak sulit karena langkah kakinya yang panjang dan lari Haowen yang tidak terlalu cepat. Dengan mudah ia menarik Haowen dan menggendongnya.
"Mommy selalu sibuk, daddy" ia mengadu. Tak lama kemudian ia menangis dan bercerita jika Jongin selalu meminta Haowen untuk mengerti dirinya. Namun mommy nya itu sama sekali tak pernah mengerti tentangnya.
...
*Meanwhile on Airplane*
Jongin hanya terdiam. Di samping kanannya ada Chanyeol yang tengah berbicara dengan seorang pramugari untuk membawakan menu selain seafood.
Pikirannya tertuju pada Haowen kecil yang ngambek padanya. Dalam hati ia bertanya, sudahkah aku menjadi seorang ibu yang baik?
Haowen putranya sudah banyak mengalah soal perasaannya. Ia tak pernah menuntut Jongin, bahkan berusaha untuk tidak bertanya siapa ayahnya karena Jongin pasti akan marah jika putranya bertanya mengenai sosok ayah.
Apa yang harus ia lakukan?
Bagaimana jika nantinya ia mengatakan hal yang sebenarnya. Apakah Haowen akan membenci dirinya? Lalu memilih tinggal bersama Sehun, ayah kandung yang selama ini dicarinya. Ia menutup kedua matanya, membiarkan linangan airmata membasahi pipinya.
Chanyeol meliriknya. Sedari tadi memang Jongin lebih memilih kumpulan awan putih dibandingkan membuka suara dan mengobrol mengenai pekerjaan.
Ini semua memang keinginan Chanyeol. Seharusnya Jongin tak ikut ke Jeju pun juga tak apa. Namun ia ingin menikmati waktu berdua saja bersama Jongin tanpa siapapun yang menganggu moment berdua mereka. Bukannya ia tak menyukai keberadaan Haowen, ia bahkan sudah memesan tiket pesawat untuk anak itu. Hanya saja Haowen lebih memilih stay di Seoul bersama seorang namja yang ia panggil daddy Hunnie.
"Hey"
Jongin menoleh,Chanyeol langsung menghapus airmata di pipinya, memberinya sedikit elusan di sana.
"A..aku ibu yang buruk" ia berkata pelan.
Chanyeol lantas saja tersenyum mendengarnya. "Kau tidak begitu. Kau telah berusaha maksimal"
Namja Kim itu menggeleng. "Aku tidak pernah memikirkan perasaannya. Pikiranku selama ini hanya terpaku pada masa depannya tanpa ku sadari jika ia terluka"
"Apa maksudmu, Jongin?"
"Dia menginginkan seorang ayah" Jongin berbisik lemah.
"Aku sudah seperti ayah untuknya kan?"
Jongin menggelengkan kepala pelan.
"Dia menginginkan ayah yang sebenarnya, hyung"
.
.
.
.
.
.
Kebahagiannya adalah anak kecil. Kyungsoo suka anak-anak. Dunia polos yang tak pernah ia dapatkan saat ia masih kecil dulu.
Sebisa mungkin ia menciptakan dunia yang penuh tawa untuk pasien-pasien ciliknya.
Usianya sudah 33 tahun. Cukup ideal untuk berumah tangga. Namun ia lebih memilih mengabdi sebagai seorang dokter anak.
Keluarganya sangat mengharapkan putra bungsu mereka itu berumah tangga. Kenapa? Karena semua kakak Kyungsoo sudah menikah dan mempunyai beberapa orang anak diusia 25-28an. Sementara Kyungsoo? Diusia segitu saja dia belum pernah memperkenalkan seorang pun pada keluarganya.
"Daniel" Ia menyapa seorang anak kecil yang tengah duduk di kursi roda sambil mengunyah sebuah jeruk.
Balita itu bersorak senang. Ia menyuapi Kyungsoo dengan jeruk di tangannya. "Hmmm..Manisnya" Kata Kyungsoo. Ia mengusap lembut kepala Daniel.
"Mama Kyung" bibir mungil Daniel menyebut dirinya. "Apa Haowen hyung akan ke Palis lagi?"
Iba rasanya mendengar pertanyaan balita yatim piatu itu. "Apa Daniel rindu Hao hyung?"
Daniel mengangguk pelan.
Cklek..
Pintu ruangan dimana Daniel di rawat terbuka. Jisoo, paman Daniel tiba dengan sebuah boneka dan sebuket bunga.
Daniel senang saat pamannya memberikan boneka itu padanya.
"Eh, Untukku?" Tanya Kyungsoo saat Jisoo memberikan buket bunga bakung itu padanya. Ia mengambilnya dan tersenyum manis. "Terimakasih"
Hong Jisoo balas tersenyum. Ia tahu jika ada banyak fans fans Kyungsoo dari kalangan anak kecil yang tak pernah absen memberikan bunga untuknya.
"Terimakasih karena telah merawat Daniel, hyung"
Namja mungil itu menautkan alisnya. Jisoo tak seharusnya mengucap kata terimakasih karena menurut Kyungsoo merawat seorang pasien adalah tugasnya.
"Itu sudah tugasku, Jisoo" sahutnya.
Daniel menarik ujung jas hitam Jisoo dengan tatapan polosnya. Seolah mengerti, Jisoo segera mendekatkan telinganya di bibir Daniel.
"Papa, ayo bilang saranghae" bisiknya
Kening Jisoo mengkerut, kemudian ia tertawa salah tingkah. "Kau ini" katanya, seraya mengusap sayang kepala Daniel.
.
.
.
.
Jongin tidak akan menyangka jika Chanyeol akan membawanya ke pinggir pantai setelah pengambilan scene pertama tadi.
Malam hari dan ia membiarkan tubuhnya terkena angin laut yang cukup membuat tubuhnya terasa menggigil.
"Kenapa hyung membawaku kemari? Hyung belum makan malam tadi" Jongin berkata.
Disampingnya Chanyeol merebahkan diri tanpa peduli pasir mengotori sweaternya.
"Aku tidak lapar"sahutnya, ia menatap bulan sabit di atas langit.
"Bulannya cantik ya" Chanyeol mencoba meminta pendapat Jongin.
Namja berkukit tan itu mendongak ke langit. Sepintas ia merasa deja vu dan pernah merasakan hal seperti ini sewaktu ia remaja dulu.
'Bulannya cantik ya, Hun'
'Kau lebih cantik'
Ia tersenyum diam-diam. Chanyeol melihat itu pun bangkit dari posisi tidurnya. Ia menyentuh wajah Jongin yang selalu terlihat menawan di matanya.
Jongin terkejut saat mendapati wajah Chanyeol yang begitu dekat dengan wajahnya. Ia tak bisa memberontak, karena Chanyeol menarik tengkuknya dan mengulum bibirnya. membawanya ke dalam ciuman yang memabukan di pinggir pantai.
Chanyeol terus mencium bibirnya rakus. Mengabsen apa saja yang ada di dalamnya dengan tangan kirinya yang nakal dan bergeriliya. Tangan kanannya menekan tengkuk Jongin, agar memperdalam ciuman mereka.
Ini sangat menghipnotis. Jongin bahkan sudah tidak mendengar suara deburan ombak yang datang menerjang ketepian.
Tubuhnya sudah merebah di bawah tubuh Chanyeol yang lebih tegap darinya.
Chanyeol menyudahi ciuman mereka dan menghapus sisa saliva di bibir Plum Jongin yang sedikit membengkak.
"May I?" Tanya Chanyeol, seperti bisikan yang mengundang. Ia hendak mencium Jongin lagi.
Namun Jongin menoleh ke arah lain saat matanya berjumpa dengan wajah Chanyeol. Seolah ia melihat tatapan Sehun yang memandangnya penuh kekecewaan.
"Jongin, kau bisa percaya padaku" ujar Chanyeol.
Jongin kembali menoleh. Menatap Chanyeol dengan keraguan yang luar biasa.
Siapa yang hendak ia pilih?
Cinta pertamanya?
Atau
Orang yang mencintai dirinya.
Ia percaya Chanyeol mencintainya. Tapi saat ia melihat ke dalam mata Chanyeol, hatinya tidak berdegup seperti ia melihat Sehun.
Ia percaya ia mencintai Sehun. Tapi saat melihat ke dalam mata Sehun. Jongin seolah melihat keraguan, rasa duka, dan kekecewaan di sana.
Ia dilemma berkepanjangan hingga ia membiarkan Chanyeol membopong tubuhnya ke bungalow yang Chanyeol beli selama mereka berada di Jeju.
Ia membiarkan Chanyeol membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk. Dan ia biarkan pula saat Chanyeol menelanjangi tubuhnya.
Penyatuan mereka berdua di bawah sana. Membuat Jongin mendesah nikmat. Jongin tak peduli jika ia terlihat jalang. Sudah 6 tahun lamanya sejak ia berpisah dari Oh Sehun, tak satu pun namja yang berkencan dengannya. mengingat dirinya yang tak pernah tersentuh atau pun beronani selama 5 tahun menjadi seorang ibu. Sudah dipastikan tubuhnya sangat sensitif dengan sentuhan-sentuhan Chanyeol.
"K..Keluarkanh di luar, hyung" Jongin bersuara saat merasakan kesejatian Chanyeol mulai berkedut di dalamnya.
Kecewa? Tentu saja! Namun Chanyeol tetap menghargai Jongin dan menyemburkan benihnya di luar. Jongin tanpa diminta segera mengubah posisi seperti bayi yang merangkak untuk membersihkan benda itu, menjilatnya seperti lollipop kesukaannya saat masih kanak-kanak. Bayaran yang sepadan untuk Chanyeol yang sudah berbaik hati mengalah padanya selama ini.
...
Malam semakin larut, Namun Chanyeol tidak bisa tidur. Ia merasa seperti melukai seseorang yang ia sendiri pun tidak tahu siapa.
Disampingnya Jongin berbaring dalam keadaan naked dan hanya terlapisi selimut putih bersih yang baru Chanyeol ganti seusai sesi penyatuan mereka.
Namja tampan itu mencuri kecupan di bibir Jongin yang manis dan menjadi suatu adiksi yang membuatnya seolah candu.
Ia membuka sedikit selimut yang menutupi tubuh Jongin sebatas perutnya. Ia kecup juga perut datar itu, seolah ada sesuatu yang hidup di sana.
Tapi ia harus tersenyum kecut. Begitu mengingat 2 ronde yang mereka lalui, Jongin sama sekali tidak mengizinkannya keluar di dalam.
.
.
.
.
"Haowen tidak suka mommy sibuk" kata Haowen.
Sehun memeluknya dengan kasih sayang, seolah ia memeluk putra kandungnya sendiri.
Ia sadar jika ia bukan tipe penyuka anak-anak. Tapi bersama Haowen ia merasakan jiwa seorang ayah dalam dirinya seolah mengalir begitu saja.
Haowen kembali demam pukul 8 malam tadi.
"Kenapa kau tidak mau ikut mommy-mu?" Sehun bertanya, perlahan-lahan.
Ia merasakan bocah 5 tahun itu menggeleng. Rambutnya sedikit menggelitik dada Sehun. "Hao tidak mau daddy Yeol bertingkah romantis di depan mommy"
Sehun pikir anak ini anak yang dewasa. Ia bahkan tidak menyukai hal-hal picisan seperti yang dilakukan orang bernama Park Chanyeol itu di hadapan mommy-nya.
"Darimana kata-kata itu, hm?"
Haowen menggembungkan pipinya. Ia anak yang manja meskipun terlihat dewasa. Seperti ia dituntut oleh kehidupan yang kejam agar ia menjadi dewasa sebelum waktunya.
"Hao nonton drama saat main dengan nenek Yesungie"
Sehun berdecak pelan. Siapa yang menyangka jika anak ini mengutip kata-kata dewasa dari sebuah tontonan drama sabun kodian yang sering ditonton oleh ibunya?
"Aku kan juga mau bersama daddyku"
Sehun mengernyit. Hah? Apa? Ia seperti mendengar Haowen mengatakan sesuatu sebelum pada akhirnya ia terisak pelan.
Siapa yang tidak merasa iba? Meski Sehun orang yang kaku, dia tidak akan pernah untuk tidak merasa iba jika dihadapkan oleh anak kecil menangis di hadapannya. Terlebih Haowen adalah bocah spesial yang telah mengajarkan dirinya untuk menjadi sosok ayah yang baik yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Tak apa, Hao. Daddy di sini..Bersama Haowen, selamanya" bisiknya, menenangkan.
.
.
.
*Pinggir Pantai, Pukul 4 Sore..
Jongin tahu, jika tak seharusnya ia membiarkan Chanyeol menyetubuhinya 2 malam yang lalu. Karena itu adalah malam pertamanya sejak terakhir kali ia berhubungan intim dengan Sehun, sahabat sekaligus cinta pertamanya itu.
Hatinya masih terlalu labil. Bertemu Sehun lagu membuatnya kembali membuka lembaran lama yang telah ia tutup selama di Paris. Masalah begitu berat menempa hidupnya. Jika ia memang tidak ditakdirkan hidup bersama Sehun, seharusnya Tuhan hapuskan rasa cintanya itu. Namun kehadiran Haowen yang tak terduga membuat ia yakin jika memang masih ada suratan takdir yang tak terlihat telah menuliskan kehidupannya yang tidak akan pernah bisa jauh dari seorang Oh Sehun.
Tapi kehadiran Chanyeol sebagai pihak ketiga pun juga membuatnya semakin bingung. Kenapa ia musti dijebak lagi oleh permainan cinta segitiga yang memuakan seperti ini? Rasanya ia semakin lelah untuk mencintai ataupun dicintai.
"Aku ingin hyung bertingkah sewajarnya saja" Jongin mencoba menjelaskan sekali lagi.
"Apa? Sewajarnya itu seperti apa?" Dengan wajah bingung Chanyeol bertanya.
"Anggap kejadian waktu itu hanya sebatas one night stand, hyung"
Chanyeol tak bisa seperti itu. Ia benar-benar mencintai Jongin. Menginginkan namja berparas manis itu menjadi ibu dari anak-anaknya kelak.
Namun melihat penolakan Jongin, membuatnya merasa useless.
"Jika ada apa-apa aku bisa bertanggung jawab" Chanyeol mencoba melembut dengan menyentuh tangan Jongin.
Kim Jongin mengulas senyum. "Terimakasih, hyung" ucapnya. Melihat ketulusan di hati Chanyeol membuat hatinya agak tergugah. Mungkin ia bisa mempercayai Chanyeol untuk hatinya. Namun tidak sekarang, karena ia masih mencoba melupakan Sehun dan mengobati perasaannya.
.
.
.
*Festival Ayah Dan Anak*
Semua anak-anak kecil berkumpul dengan ayah mereka. Dan Sehun bisa melihat kesiapan Haowen untuk hal ini. Meskipun ia sempat demam, anak itu terlihat senang dan antusias sekali mengikuti festival pertamanya selama di Seoul.
"Apa kau senang?"
Haowen kecil mengangguk pelan. Tubuhnya di balut seragam olahraga biru dan sebuah name tag bertuliskan namanya dan juga tanggal lahirnya.
Ia (Sehun) mencoba fokus menghitung mundur kelahiran Haowen. Kebetulan ia masih ingat, hari terakhir ia menemui Jongin-beberapa hari sebelum keberangkatan namja itu ke Paris.
Otaknya yang pintar itu segera menemukan jawabannya. Sebuah fakta baru dimana baru saja terkuak. Apakah ini nyata? Ia mencoba bertanya pada dirinya sendiri.
Ia mencoba melirik Haowen yang duduk di sampingnya. Namun ia terperengah saat tidak mendapati bocah manis itu di sana.
Ia bangkit dari bangku penonton dan berjalan mencari-cari Haowen. Wajahnya terlihat bingung dan kalut, beberapa stand pendagang yang ia tanyai pun hanya memberikan intruksi dimana terakhir kali ia melihat si kecil Haowen.
Hingga di lorong yang sepi ia mendapati beberapa orang anak berkumpul, salah satunya ada anak yang terus menunduk dengan seragam olahraganya yang berlumuran saus dan...
"Hey"
Sehun berseru saat melihat seorang anak maju hendak menyiram segelas bubble tea di kepala anak itu. Anak yang sama sekali tidak asing di matanya.
"Hiks, Daddy" Haowen berlari ke arahnya. Sehun bahkan tidak peduli sekalipun Haowen mengotori kaos polo putih yang membalut tubuh atletisnya.
"Apa yang kau lakukan pada putraku?" tanyanya.
Anak-anak di sana kelabakan. Hingga muncul anak yang lebih besar dari arah lain.
"Paman jangan bohong ya! Anak itu tidak punya ayah"
"Darimana kalian tahu? Aku ayahnya!"
"Haowen sendiri yang bercerita saat ibu guru bertanya"
Oh, Haowen...Jujur sekali dirimu, nak..
Sehun menutup kedua matanya. memarahi anak-anak ini pun juga tidak akan ada gunanya.
"Aku bisa menunjukan tes dna pada kalian. Jadi pergi dari sini sebelum aku melaporkan hal ini pada kepala sekolah" ancam Sehun.
Anak-anak itu segera kabur-kalang kabut, menghindari ancaman Sehun agar tidak terjadi dan membuat mereka bertemu ibu kepala sekolah yang gendut dan sangar.
"Hao"
"Daddy, hiks.."
Sehun mengangkat tubuh mungil Haowen dan membiarkan anak itu menangis. "Maafin Hao, dad. Hiks, Hao pergi tanpa izin daddy"
"ssstt, kau tidak salah! maafkan daddy juga, karena daddy terlalu banyak melamun tadi"
"Hao tadi beli corndog dan bubble tea untuk daddy, tapi-"
"Dasar anak-anak nakal! Kalian pasti mem-bully Haowen lagi" Seorang yeoja gendut mengomel sambil menjewer seorang anak yang beberapa lalu mengatai Sehun telah berbohong.
"Eoh" Yeoja itu terkejut. di depannya ada namja tampan yang memperkenalkan diri sebagai ayahnya Haowen.
Ia terlihat salah tingkah. Tapi kemudian ia meminta maaf atas kenakalan anak-anak yang telah mem-bully Haowen. Bahkan Yeoja itu memberikan sebuah kaos berwarna biru supaya Haowen mengganti kaos olahraganya yang kotor.
"Terimakasih, Nyonya Kang"ucap Sehun, tulus.
Digendongannya Haowen tertidur pulas. Sepertinya anak ini sama sekali belum begitu pulih dari sakitnya. Buktinya Sehun mulai merasa Haowen panas lagi.
.
.
From : Oh Sehun
Aku hanya ingin mengatakan jika Haowen terkena demam infeksi saluran pernapasan. Ku harap pekerjaanmu segera selesai dan kita bisa bertemu lagi. Ada yang ingin ku bicarakan padamu.
From : Mommy Jae
Apa kau masih marah padaku? Jongin, aku tahu aku bukan ibu yang baik. Selama ini yang kau tahu aku seperti pelacur yang menyukai berondong-berondong kaya. Tapi ketahuilah Jongin. Selama ini aku melakukannya untuk dirimu. Tapi aku mencintai Yunho. meskipun dulu aku mencintai ayahmu. Dan bagiku, Yunho adalah yang terakhir. Aku mencintainya, seperti saat kau bilang kau mencintai Sehun. Kau harus tahu, jika cinta itu sama sekali tak bisa dipaksakan..
(Hubungi aku jika kau sempat)
Jongin baru saja mandi di pagi hari. Semalaman ia tak sempat memeriksa ponselnya karena harus membantu Chanyeol mengerjakan pekerjaannya yang luar biasa menumpuk.
Ia hanya membalas pesan singkat untuk sang ibu dan berjanji akan kembali berkunjung ke sana. Mengingat permusuhan keduanya setelah Jongin merasa jika ibunya yang pecinta berondong itu memutuskan untuk menikahi kekasih mudanya itu.
Haowen memang masih sering mengunjungi sang nenek. Namun Jongin sama sekali tidak, malahan ia sangat bersyukur saat tahu Haowen sangat lengket dengan Sehun. dengan begitu ia bisa menjemput Haowen di rumah bibi Yesung tanpa perlu bertemu dengan suami baru ibunya.
Greb...
Ia merasakan lengan kokoh seseorang melingkari pinggangnya. Hembus napas itu menggelitik tengkuknya.
Ia tak perlu menoleh. Itu Chanyeol yang melakukannya. Jongin sudah terlalu lelah meminta Chanyeol untuk menjauh. Jadi sekarang, biarkan Chanyeol melakukan hal yang ia inginkan selama itu bukan penyatuan yang intim.
"Kau bangun pagi sekali" bisik Chanyeol. suaranya masih serak. Rambutnya pun juga acak-acakan. Di ufuk timur mentari mulai menunjukan dirinya meskipun masih malu-malu.
"Aku tidur terlalu sore kemarin"
Chanyeol mengecup tengkuk Jongin. "Ya, kau bahkan menolak ku ajak makan malam di luar"
"Aku sedang tidak mood"
Chanyeol membalik tubuh ramping yang hanya di balut bathrobe itu.
"Kau tampak tidak baik. Apa kau sudah menghubungi Haowen?"
Namja berkulit tan eksotis itu menggeleng. Awalnya ia hanya mencoba memberi pelajaran pada putranya. Namun selama 5 hari sibuk bekerja ia sama sekali tidak menyentuh gadgetnya, lupa untuk menghubungi putra kecilnya di Seoul.
"Kau harus menghubunginya!"
Jongin menggigit bibir bawahnya. "Bisakah hyung keluar sebentar? Aku ingin ganti baju"
Chanyeol mengangguk dan segera keluar dari kamar Jongin.
Alih-alih mengambil pakaiannya. Jongin malah menangis dalam keheningan. Berulang kali ia mengucapkan kata maaf yang tertuju pada putra kecilnya itu.
...
Di Seoul (Pukul 10 pagi)
Haowen duduk di meja makan dengan plester penurun demam di kepalanya. Sementara Sehun menyuapinya bubur oat gurih buatan sang nenek.
"Sehun, Jongin ingin video calling" Yesung berseru dari ruang keluarga.
Sehun menautkan alisnya. Ia melirik Haowen yang menggelengkan kepalanya, supaya Sehun menghentikan suapan itu.
Ia meminta Haowen untuk tetap di meja makan sementara ia mengambil tabnya di ruang kerja.
Ia segera memilih opsi terima panggilan video. dan nampaklah wajah manis Jongin yang tengah bersandar di headbed.
'Hallo, Sehun'
Suaranya terdengar seperti bisikan lemah.
"Hey"
'Aku minta maaf karena aku sibuk beberapa hari yang lalu'
"Tidak apa-apa" Sehun menuruni anak tangga satu persatu.
'Aku membuatmu repot'
"Tidak sama sekali"
'Bagaimana keadaan Haowen?'
"Dia baik, Tunggu sebentar!" Sehun meletakan tabnya dengan posisi bersandar pada penyanga frame kain kulit yang sengaja ia pakaikan untuk tab pribadinya itu.
Haowen menggeleng, ia tidak mau berbicara dengan ibunya. Dan Jongin yang mendengar itu berusaha untuk menahan kesedihannya. Sehun terdengar menasihati Haowen, dan terdengar juga ucapan 'I hate mom' dari bibir itu.
Jongin merasa buruk. Ia baru saja ingin mengakhiri video calling-nya jika tidak melihat Haowen dan Sehun di layar tabnya.
Sepertinya Haowen duduk di pangkuan Sehun. Anak itu masih memakai piyama dan mantel tidurnya dengan plester penurun demam menempel di kening.
Wajah putranya terlihat merah dan sembab.
'Hey, Baby'
Haowen diam..
"Hey, mom" Sehun menggerakan tangan kanan Haowen. Namun Haowen malah menangis dan menyembunyikan wajahnya di dada Sehun.
'Aku ibu yang buruk'
Sehun jadi merasa bersalah melihat ekpresi itu.
"Kau harus cepat pulang! Haowen tidak membencimu, ia terlalu merindukan dirimu"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Hao"
"No!" Haowen bersembunyi di belakang tubuh Sehun dan memeluk namja itu-seolah meminta perlindungan darinya.
Jongin masih setia berdiri di depan rumah keluarga Oh-mencoba untuk meminta maaf pada putranya.
"I hate you, mom" Bibir mungilnya berucap.
Namja itu menjadi sangat sedih. Penolakan seperti ini adalah yang pertama kali baginya.
Ia memutuskan untuk pulang setelah mendengar Haowen tak mau berbicara dengannya lagi. Ia kira semua bisa beres dengan kedatangannya dan berbagai macam hadiah untuk sang buah hati.
Namun Haowen tidak seperti Haowen yang ia kenal. Haowen kecilnya yang akan menyambut dirinya sepulang kerja dengan senyuman dan berseru 'Mommy, mana mainan untuk Haowen'. Tetapi sekarang yang ia dapati adalah tingkah Haowen yang lain.
Jongin masih mencoba sekali lagi.
"Mommy pergi saja dengan daddy yeol! Haowen mau disini sama daddy Hunnie"
Sehun menghela napas pelan. "Hey, kau bilang kau merindukan mommy-mu"
Haowen mencebikan bibirnya dengan ekpresi ngambek. Kalau boleh jujur, Haowen jadi merasa sedikit terganggu dengan keberadaan Chanyeol di samping mommy-nya. Dia tidak tahu kenapa, otaknya masih terlalu polos dan naive.
Tapi saat di pesawat-perjalanan Paris-Seoul. Ia melihat daddy Yeol mengecup bibir mommynya ketika semua orang tertidur. Haowen yang pura-pura tidur melihat hal itu, entah mengapa timbul jiwa posesif seorang anak kepada mommy-nya yang seorang single parent itu.
"Hao" Jongin menyamakan tubuhnya dengan tinggi badan Haowen. "Mommy minta maaf"
Airmata membasahi wajah cantik namja itu. "Mommy tidak akan sibuk lagi demi Haowen"
Melihat mommy-nya menangis, membuat hati anak kecil itu luluh. Ia paling tidak bisa melihat mommy-nya menangis.
Haowen menoleh ke arah Sehun. Namja jangkung itu mengangguk, meminta Haowen untuk percaya pada sang ibu.
"Mommy janji?"
Jongin mengangguk pelan. Haowen tersenyum dan memeluk tubuh namja yang sangat ia rindukan itu. Selama 6 hari Haowen tidak bisa memeluk mommy-nya. Untunglah ada daddy Hunnie yang begitu menyayanginya dan selalu menemaninya sepanjang waktu selama ibunya pergi.
Jongin menangis haru. Ia menoleh ke arah Sehun yang tengah menatap ke arah mereka dengan seulas senyum. Dia sangat tampan dan dewasa. Tidak heran jika kelak ia punya seorang istri yang cantik sebagaimana mendiang istri pertamanya.
...
Jongin duduk di ruang keluarga rumah besar keluarga Oh. Mungkin ia akan menginap di sini mengingat hujan cukup lebat di luar sana.
Yesung melarangnya pulang. Well, yeoja itu sudah menganggapnya sebagai putra kandungnya sendiri kalau ingat dirinya yang sudah bersahabat sejak masih kecil dengan putra bungsu keluarga Oh itu.
Yeoja itu terus bercerita. Tentang putranya yang berubah menjadi sosok seorang ayah selama Haowen dekat dengan Sehun.
Memang benar Sehun tidak terlalu menyukai anak-anak. Jongin pun tahu itu. Ia akan berkata jika anak-anak itu merepotkan. Sehun orang yang tenang, dia tak suka dengan kebisingan.
Tapi saat bersama Haowen, jiwa seorang ayah dalam diri Sehun tersalurkan sepenuhnya untuk anak itu. Seperti sebuah chemistry kata Yesung.
Chemistry...
Benar...
Chemistry antara anak dengan ayah kandungnya yang tak disadari.
"Bajunya agak kelonggaran ya?"
Jongin mengangguk. Yang ia kenakan adalah baju Sehun yang menurut Yesung sudah yang paling kecil dari yang dimiliki oleh putra bungsunya itu.
"Tak apa. Kau tampak manis dengan kemeja itu" Puji Yesung tulus. Ia hendak berkata lagi, namun panggilan Kyuhyun yang memanggil namanya membuat yeoja itu pamit undur diri untuk menemui sang suami.
Maniks hitamnya tertuju pada album pernikahan keluarga yang Yesung perlihatkan padanya. Mulai dari pernikahan Kyuhyun dan Yesung, Luhan dan Xiumin, kemudian ada Sehun dan Baekhyun.
Ia mengusap lembut gambar Sehun di dalam foto itu. Sehun terlihat tampan, persis sama seperti seorang pangeran dengan tuxedo hitamnya.
Dia terlihat tak sebahagia Baekhyun di hari pernikahan mereka. Sehun tetap kalem, tidak tersenyum, tidak pula tertarik saat kamera tertuju padanya.
Apa yang namja itu pikirkan? Batin Jongin. Seharusnya Sehun bisa bahagia saat pernikahannya dengan orang yang sangat ia cintai itu.
"Ibu memintaku untuk menemanimu di sini" Sehun tiba di ruang keluarga. Tubuhnya yang jangkung itu dibalut piyama tidur berwarna biru dongker.
Jongin menoleh. "Apa Haowen sudah tidur?"
"Sudah" sahutnya. Ia duduk di sofa yang sama dengan Jongin.
Ibu satu orang anak itu menggigit bibir bawahnya, sedikit gerogi saat Sehun duduk di sampingnya.
"Itu pernikahanku bersama Baekhyun"
"Aku tahu"
Namja itu mengulas senyum tampannya. "Kau tidak hadir saat itu"
"Aku sudah minta maaf" ujar Jongin."Tapi kau tidak membalas pesanku"
"Seharusnya aku yang minta maaf" sahutnya.
Rasanya waktu berhenti berjalan. Mereka saling bertatapan dalam keheningan yang akrab. Mata keduanya seolah saling berkata rindu ketika bibir mereka terlalu takut untuk mengatakannya.
Jongin bahkan selalu bertanya, sudahkah ia jujur pada hatinya? Orang keras kepala seperti dirinya terlalu sulit untuk di pahami.
Sehun tetap diam. Menatap pantulan dirinya di mata Jongin. Mata yang telah menyeretnya ke sebuah dunia yang tak berujung itu kini tengah mencoba menariknya semakin dalam.
Seharusnya Sehun sadar. Jika sejak mereka kecil, ada suatu hal yang sulit dimengerti dalam diri Jongin. Namun ketika ia mencoba untuk mengerti, ia seolah terperosok semakin dalam tanpa ada celah untuk kembali naik.
"Aku mencoba untuk melupakan segalanya" bibir tipis itu berkata-kata. "Tapi tidak bisa"
"Kita hanya seorang sahabat dan partner sex" Jongin menyahut.
Sehun menutup kedua matanya. Ia tak mau Jongin melihatnya dalam keadaan sedih dan payah.
Ia harus menjadi Oh Sehun yang kuat dan tak gentar. Oh Sehun yang pernah memukul seorang senior di SMP hanya karena membela sahabatnya yang dilecehkan.
"Kita Soulmate" Sehun berbisik pelan. "Tidakah kau ingat itu?"
Jongin menganggukan kepala.
"Kau lebih dari sekedar partner sex, Jongin"
"Apa kau pernah memikirkan perasaanku?" Jongin bertanya. Tubuhnya sudah berada di bawah kungkungan Sehun yang sedikit menindihnya di atas sofa.
"Kita tak pernah memikirkan perasaan satu sama lain, Kim Jongin"
Jongin menoleh ke arah lain, ia tak mau Sehun melihatnya menitikan air mata.
"Aku pernah memikirkan perasaanmu" Jongin bercicit pelan. "Saat aku menyatakan cinta yang telah ku pendam sejak kau membelaku di kelas 1 SMP"
Sehun tersentak mendengarnya.
"Kau tertawa dan memintaku untuk berhenti bermain-main. Lalu kau pergi dan beberapa hari kemudian kau menjalin hubungan dengan Baekhyun. Apa saat itu kau memikirkan perasaanku, Oh Sehun?"
"Jongin"
"Lalu saat kau mengajak ku menonton film porno. Kau berkata jika kau penasaran bagaimana rasanya sex"
Sehun masih sangat mengingat itu. saat dimana ia dan Jongin melakukan sex untuk yang pertama kalinya di kamar Jongin di kelas 3 SMA.
"Kau tak mau melakukannya bersama Baekhyun karena kau tak mau merusak orang yang kau cintai"
Jongin terlihat tak mau berhenti untuk berbicara.
"Tapi kau juga pernah berkata padaku di libur musim panas saat kita kelas 2 SMP. Kau hanya akan melakukan sex dengan orang yang kau cintai"
Sehun bahkan sudah lupa dengan kata-katanya belasan tahun silam.
"Kau tahu alasan mengapa aku mau melakukannya denganmu?"
Sehun menggeleng pelan.
"Karena aku berharap akulah yang kau cintai" jawabnya. "Tapi kau tidak menganggap aku seperti itu. Kita terus melakukannya. Hingga kita menjadi seorang mahasiswa di negeri orang"
"Kau butuh aku untuk hasratmu, dan aku butuh kau untuk tetap di sampingku. kau tahu apa yang selalu aku khayalkan saat kita menyatu?"
Namja tampan itu hanya diam.
"Menjadi keluarga kecil yang bahagia dengan anak-anak yang lucu. Namun saat melihatmu bersama Baekhyun, aku dipaksa untuk terbangun dari mimpi indahku bahwa kenyataannya kau bukan milikku"
Sehun tidak tahu harus berkata apa. Ia terlalu terkejut dengan perkataan Jongin mengenai perasannya selama ini. Ia merasa bodoh, brengsek, dan bajingan.
Ia bahkan tak pernah tahu jika Jongin terlalu mengharapkan dirinya saat dimana Sehun terlalu menyukai fantasi liarnya bersama Jongin.
"Kau tersadar saat kau kehilangan aku dan Baekhyun"
Sehun menggeleng pelan. "Jika kau boleh mengungkapkan semua perasaanmu padaku, maka izinkan aku mengatakan semua yang ku rasakan padamu"
Jongin menatap maniks obsidian namja yang tengah mengukungnya di bawah tubuh tegapnya itu.
"Aku tak pernah tahu bagaimana perasaanmu padaku" Sehun membuka suara dan mulai bercerita.
"Jantungku berdegup cepat saat melihat dirimu. Aku mencoba menyembunyikan itu dengan lelucon yang mungkin saja telah menyakitimu"
Ada jeda dalam kalimatnya itu.
"Aku pergi kencan dengan Baekhyun karena tantangan dari teman-temanku. Aku tahu aku bodoh, aku hanya mencoba menghindari ejekan mereka yang mengatakan jika Oh Sehun dan Kim Jongin berpacaran"
Oh Sehun yang dulu adalah anak tenar. Sementara Kim Jongin-sahabatnya, hanya anak yang selalu dibully karena tingkahnya yang aneh. Ia selalu menceritakan keinginannya untuk memiliki keluarga yang lengkap. Tidak seperti keluarganya, dimana ayahnya harus bercerai dengan ibunya dan mati tertembak oleh perampok 2 tahun setelah sidang perceraian itu.
"Tapi kau tetap bertahan di sampingku. Kau selalu memberikan banyak saran untuk hubungan kami. Hingga aku berpikir, apa pernyataanmu itu hanya omong kosong? Kau pergi dengan Choi Minho, dan membuatku memutuskan untuk tetap menjadi pacar Baekhyun"
Sehun menutup matanya dan membukanya kembali. "Di kelas tiga SMA, kita melakukannya. Aku berbohong padamu karena aku memang ingin melakukannya denganmu"
"Kau seperti candu bagiku. Membuatku semakin mabuk akan pesonamu. Aku pernah berpikir, Apakah hanya aku atau memang ada yang lain" ujarnya. "Aku tak bisa bermain-main dengan suatu hubungan. Aku merasa sangat brengsek hingga akhirnya aku memutuskan untuk memilih Baekhyun"
"Aku memilihnya karena aku merasa bersalah telah menghianatinya. Tapi setiap ada dua opsi, kita memang harus memilih satu"
Keheningan melanda mereka sejenak.
"Dan saat kau mengungkit hubungan kita, aku tak tahu harus mengatakan apa selain We Better Be Soulmate. Karena aku ingin kau tahu, bahwa kau tidak akan pernah terlupakan seumur hidupku"
Sehun tertawa ada nada sedih di dalam tawanya.
"Tapi saat itu kau pergi, dan tak mau mendengarkan perkatakaanku" ujarnya. "Pada akhirnya Baekhyun curiga bahwa ada hubungan yang lebih diantara kita. Dia marah, dia mengendarai mobil di tengah hujan dalam kemarahan di hatinya. saat itulah kecelakaan merenggut nyawanya"
Jongin membulatkan kedua matanya. Ia tak pernah menyangka jika Sehun juga menahan diri selama ini seperti dirinya.
"Setiap hari aku merenung tentang siapa yang aku cintai" Sehun menatap Jongin begitu dalam. "Bertahun-tahun terlewati dan aku dapatkan jawabannya"
Ia usap lembut pipi Jongin.
"Kau datang kembali dengan seorang anak berwajah tampan yang begitu familiar dimata keluargaku"
"Sehun"
Namja itu meletakan jari telunjuknya di bibir Jongin.
"Aku sudah tahu semuanya" Sehun berkata.
"Is it right? He's my son?"
Jongin hendak menjawab, namun Sehun membungkam bibir plum itu dan bibirnya. Ia hendak memberontak, namun tiba-tiba saja petir menggelegar dan listrik padam.
.
.
.
Malam dimana mereka saling mengungkapkan perasaan. Sehun tak lagi menunjukan batang hidungnya di hadapan Jongin. Ia pernah bertemu bibi Yesung saat yeoja cantik itu mengunjungi rumah ibunya. Yeoja itu berkata jika Sehun jadi semakin sibuk menyiapkan berbagai macam hal demi karirnya di kedokteran.
Ia juga bertanya, mengapa Jongin jarang sekali mengunjungi rumah? Apakah ia dan Sehun baik-baik saja? Tentu saja Jongin akan menjawab jika mereka baik-baik saja. Hanya kesibukan mereka yang membuat keduanya jarang bertemu.
1 minggu yang lalu Jongin resign dari pekerjaannya. Ia benar-benar menepati janjinya pada sang buah hati. Namja manis itu pun akhirnya memutuskan untuk membuka sebuah minimarket.
Ia jadi punya banyak waktu untuk mengurus putra kecilnya itu. Haowen kecil sangat senang melihat mommy-nya selalu membuatkan dirinya sarapan dan makan siang untuk di sekolah.
"Daniel akan kemari?" Haowen terlihat senang saat mendengar mommy-nya bercerita perihal niat balita Hong itu berlibur ke Seoul.
Jongin menganggukan kepalanya.
"Apa mama Kyung ikut juga?"
"Tentu saja, baby" jawabnya. "Tapi Daniel masih belum bisa bermain hide and seek dulu kata mama Kyung"
Haowen menatap sang ibu sambil mengerucutkan bibirnya. Tapi kemudian ia berjanji akan menjadi kakak yang baik selama Daniel di Seoul.
Ting..Tong..
"Hao, bisa tolong bukakan pintu, baby?"
Haowen yang sedang menonton acara kartun favoritnya di hari Sabtu pun segera berjalan ke arah pintu. Wajahnya sumringah, karena ia berharap itu Daddy Hunnie-nya yang hendak mengajaknya jalan-jalan.
Cklek..
"Hey, Haowen"
Wajahnya cemberut saat melihat Chanyeol berdiri di depan pintu dengan sebuket bunga yang pastinya akan diberikan untuk mommy-nya.
Haowen tidak membenci Daddy Yeolie. Biar bagaimana pun ia pernah diasuh oleh daddy Yeolie sebelum ia mengenal daddy Hunnie. Ia hanya tidak suka saat melihat daddy Yeolie bermesraan dengan mommy-nya. Entah kenapa ia malah lebih suka menyandingkan mommy dengan Daddy Hunnie dibandingkan Daddy Yeolie.
"Siapa yang datang, Baby?" Jongin berseru.
Haowen menjadi acuh dan berjalan kembali ke ruang tamu. Jongin melihat ke arah pintu dimana Chanyeol terlihat tengah menutup pintu apartmentnya.
Namja manis itu menghela napas pelan. Entah kenapa putranya jadi seperti ini pada Chanyeol. Awal mulanya hanya sedikit menjauh. Namun jadi benar-benar bersikap cuek pada orang lain. Mirip sekali dengan sikap Oh Sehun saat namja itu berhadapan dengan orang yang ia benci.
Ia dan Chanyeol pernah membicarakan ini. Namun keduanya hanya berpikir jika Haowen sudah agak dewasa dan membutuhkan waktu luangnya sendiri.
Tapi ketika Sehun menceritakan pem-bully'an yang diterima Haowen di sekolah membuatnya berpikir jika hal itulah yang telah merubah psikis putra semata wayangnya itu.
"Hey, Haowen"
Haowen menoleh ke arah Chanyeol.
"Bagaimana dengan Lego yang daddy berikan? Kau suka?"
"Iya, terimakasih, dad"
Chanyeol tersenyum tipis. Meskipun dalam hati ia merindukan kemanjaan Haowen padanya.
"Apa kau ingin daddy berikan mainan lagi?"
"Tidak, dad" jawabnya. "Aku sudah besar"
Jongin tiba dengan sebuah nampan. Haowen memperhatikan kesibukan mommy-nya menata secangkir kopi dan beberapa camilan di atas meja.
Nyanyian Ending kartun favoritnya sudah habis. Haowen pun berlalu begitu saja menuju kamarnya.
"Ada apa dengannya?" Chanyeol bertanya.
"Maafkan Haowen, hyung. Dia hanya merasa sedikit trauma paska pembully'an itu"
Chanyeol mendesah pelan. "Aku hanya merasa Haowen tidak menyukai kedatanganku kemari"
Jongin lantas tertawa. "Tidak,Haowen sama sekali tidak membencimu, hyung"
"Oh, Jongin"
"Iya?"
"Kyungsoo katanya akan datang ya kemari"
"Iyaa..Dia hanya menjadi dokter pengasuh untuk Daniel selama Hong Jisoo mengurus perusahaannya"
"Hong Jisoo?"
Jongin mengangguk pelan. "Dia pamannya Daniel. Kau ingatkan? Orang yang naksir Kyungsoo?"
.
.
.
.
Oh Ziyu...
Putra kecil sulung Oh dan istrinya yang cantik dan bertubuh mungil.
Namanya Kim Minseok-berganti Oh setelah ia menikahi Oh Luhan, dokter spesialis kandungan yang memutuskan untuk tinggal di Beijing.
Ziyu berusia 4 tahunan. Lahir setelah 2 tahun pernikahan kedua orangtuanya berlangsung. Anak itu sangat manis dan menggemaskan dengan pipi gembil turunan sang ibu.
"Nenek"
Yesung memeluk cucunya dengan penuh kerinduan. Ia kecupi wajah Ziyu yang harum bedak bayi yang selalu dibubuhkan sang ibu di wajahnya.
Kyuhyun mempersilahkan suami istri muda itu untuk masuk. Perjalanan Beijing ke Seoul itu memang lumayan memakan waktu yang tak sedikit.
"Sudah berapa bulan sih?" Tanya Yesung, seraya mengusap perut Minseok yang sudah mulai membuncit.
"4 bulan, bu"
Yesung tersenyum mendengarnya. "Wah, tak sabar menyambut cucu ketiga"
"Cucu ketiga?" Luhan membeo.
Sang ibu menunjukan foto Haowen dan Sehun di ponselnya.
"Itu siapa, bu? kok mirip Sehun" Tanya Luhan.
Yesung terkikik pelan. "Dia anak adikmu" Dia berkata ngawur.
"Apa? Jadi selama ini Sehun menghamili anak orang? Wah, brengsek sekali si tembok berjalan itu"
"Tentu saja tidak! Dia anaknya Jongin, tapi lengket sekali dengan Sehun" Jelas sang ibu.
Luhan menautkan kedua alisnya, menatap curiga. "Aku kok malah merasa Sehun itu ayahnya ya"
Yesung terdiam-berpikir. Mengapa firasatnya juga berkata sama ya? Apa ada sesuatu yang sedang disembunyikan Sehun dan Jongin? Nalurinya sebagai seorang ibu pun berkata jika ada sesuatu yang tidak beres dengan keduanya.
.
.
.
.
"Ayahmu suka sekali sup ayam gingseng" Celetuk Jaejoong sembari mengaduk-aduk masakannya untuk makan malam nanti.
"Ayah?"
Jaejoong terdiam, dalam hati ia merutuki kebodohannya dengan membahasakan Yunho ayah di depan putranya itu. Seolah Jongin sudah bisa menerima jika sekarang Yunho adalah ayahnya.
"Ah, maksud ibu-"
"Ku rasa dia akan suka sekali ayam gingseng buatan ibu" Jongin menyahut. Ia tersenyum tulus. Meskipun sebenarnya ia masih belum bisa menerima kenyataan jika ibunya menikahi seorang namja yang lebih muda darinya.
Jaejoong balas tersenyum. Ia tahu jika Jongin hanya mencoba untuk menerima-dan belum sepenuhnya putra tunggalnya itu menerima suami barunya.
"Apa kau akan menginap?" tanya Jaejoong.
Ia harap Jongin mau menginap di rumah masa kecilnya dan membiarkan Haowen berada di rumah ini-karena Jaejoong yang amat sangat merindukan cucu semata wayangnya itu.
"Jika Haowen mau menginap aku akan menginap"
"Oh, apa ibu perlu merapihkan kamarmu?"
Jongin menggeleng. "Tidak perlu, bu" tolaknya. "Aku dan Haowen bisa beres-beres bersama"
...
From : Jongin Kim
Haowen merengek ingin bertemu denganmu. Apa kau benar-benar sibuk? Jika iya juga tidak apa-apa. Mungkin lain kali.
Sehun hanya membaca pesan singkat yang dikirimkan Jongin padanya tanpa ada niat untuk membalasnya.
Ia hanya mencoba mengikhlaskan apa yang ia rasakan pada namja itu. Sama sekali tak berniat untuk memaksakan kehendaknya seperti dulu. Dimana ia selalu melakukan apa yang ia sukai tanpa pernah memikirkan perasaan orang lain.
32 tahun usianya, ia sadar jika ia sudah tidak muda lagi. Ia sudah pernah gagal berumah tangga dan kehilangan sosok-sosok penting dalam hidupnya.
Terutama sosok namja berwajah manis dengan kulit tannya yang selalu berkilau di terpa sinar matahari bagaikan nektar. Semua senyum dan tawa renyah Jongin masih saja terngiang dalam kepalanya seperti kaset rusak.
Ia mulai memikirkan bagaimana cara Jongin hidup selama di Paris. Selama ia kuliah di sana, bekerja part time, dan mengasuh seorang bayi tanpa seorang kekasih.
Kau brengsek sekali, Oh Sehun! Ia merutuk. Ia ingin memperbaiki semuanya dan bertanggung jawab. Namun itu sama sekali tak mudah baginya, mengingat Jongin yang tampak tidak mempedulikan semua sikapnya terhadap putra kecil mereka. Bahkan Jongin sempat meminta agar Sehun tutup mulut selama namja itu masih ingin bertemu dengan Haowen-yang notabene adalah putra kandungnya sendiri.
Alasan mengapa ia sedikit menjauh, karena ia sadar betul posisinya di mata Jongin. Apalagi kalau dibandingkan dengan namja bernama Park Chanyeol yang waktu itu memperlakukan Jongin dengan sangat gentle dan bertanggung jawab.
Sehun pikir, Jongin akan merasa sangat bahagia jika ia bersama Chanyeol. Apa dia harus berjuang sekarang? Berjuang untuk apa? Ia tidak bisa mendeskripsikan secara hipotesis mengenai hubungan yang nyata diantara mereka. Baginya, yang terpenting adalah Haowen. Sehun akan merasa bersyukur sekali bila kelak Jongin menikah, ia masih diperbolehkan bertemu dengan putranya.
Cklek..
"Daddy~"
Matanya terbelakak saat mendapati Haowen masih mengenakan seragam sekolah berjalan memasuki ruang kerjanya.
"Hao" Ia memangku tubuh Haowen dan bertanya dengan siapa bocah itu kemari.
Haowen dengan santai menjawab jika ia naik taxi sendirian dari sekolahnya.
Sehun segera mendial nomor Jongin. Ia tidak akan mengganggu Jongin dengan menghubunginya, tapi ini soal Haowen. Jongin harus tahu jika putra mereka ada bersama Sehun.
'Hallo'
"Hallo, Jongin"
Suara Jongin terdengar serak.
"Haowen ada di klinikku. Kau bisa menjemputnya di sini"
'Oh, Sehun..Apa kau-'
*Pip.
Sehun tak membiarkan Jongin berbicara banyak. Karena itu hanya akan membuatnya semakin sulit melupakan masa lalu mereka.
.
.
.
.
*Skip Time*
"Dia tak bisa menjemput kalian di sini" Chanyeol berkata saat melihat wajah bingung Kyungsoo maupun Jisoo.
Kyungsoo ber oh pelan. Ia mendorong kursi roda Daniel yang terlihat agak kelelahan setelah perjalanan panjang mereka.
"Ku dengar ia Resign dari Agency ya?" Tanya Kyungsoo.
Chanyeol mengangguk pelan. Melihat Chanyeol yang tidak berbicara lagi, akhirnya Kyungsoo memutuskan untuk berbicara dengan Jisoo dan Daniel. Mereka nampak seperti keluarga kecil.
Walau kenyataannya Jisoo 4 tahun lebih muda dari Kyungsoo. Jisoo tampak bisa menyeimbangi namja berperawakan mungil itu. Wajah Kyungsoo yang manis sama sekali tidak memperlihatkan usia 33 tahun.
"Mama Kyung, apa nanti kita akan ke Namsan Towel?" Suara cadel Daniel bertanya.
Mereka sudah ada di dalam mobil, dengan Kyungsoo yang memangku Daniel di jok depan. Sementara Jisoo, ia nampak sibuk dengan ponselnya. Ia tidak terlalu mengenal Chanyeol, jadi ia lebih memilih diam seolah tak ada di sana.
"Coba tanya papamu!" Kyungsoo mengecup pipi Daniel.
Daniel menoleh ke arah sang paman di jok belakang. "Papa"
"Hm?"
"Apa kita akan pelgi ke Namsan Towel?"
"Kita akan pergi setelah kau beristirahat yang cukup" jawabnya. Ia usap sayang rambut Daniel.
Ada yang berbeda. Chanyeol merasa ada yang lain dalam diri Kyungsoo. Namja manis itu terlihat lebih ceria bersama orang-orang Hong ini dibandingkan saat bersama dirinya.
"Ekhem" Chanyeol berdehem pelan.
Kyungsoo menoleh. Ia jadi tidak enak hati telah menganggurkan namja tampan di sampingnya itu.
Awalnya ia meminta Jongin untuk menjemputnya. Tapi Jongin harus mengurus masalah penting dan jadilah Chanyeol yang menjemput mereka di bandara.
Kyungsoo tidak menyuruh Chanyeol karena ia tahu Jisoo tidak akrab dengan Chanyeol. dan kedua, sejak kejadian Chanyeol yang mencibirnya bahwa ia tak tahu tentang cinta membuat Kyungsoo enggan berada di dekat Chanyeol dalam waktu yang lama.
Ia bisa saja menelpon taxi. Tapi Chanyeol sudah menjemputnya dan ia tidak mau membuat namja itu kecewa akan tingkahnya yang memperlihatkan jika ia benar-benar ingin menjauhi namja Park itu.
"Mau ku antar ke rumah Jongin?"
"Antar ke apartmentku saja,Yeol. Aku ingin Daniel istirahat dulu di sana. Jisoo juga tampak lelah" jawab Kyungsoo.
Hey, Kyungsoo! Mengapa kau bisa peduli pada orang lain? Sementara denganku saja tidak begitu, pikir Chanyeol.
"Kalian akan tinggal di apartmentmu?"
Kyungsoo mengangguk pelan.
"Jisoo tadinya ingin memesan kamar, tapi aku melarangnya. buat apa? hanya buang-buang uang saja. Aku kan punya apartment di sini"
"Oh"
"Jisoo, apa kau lapar?" Tanya Kyungsoo.
"Sedikit"
"Well, kita bisa makan pasta nanti"
.
.
.
.
END For This Chapter
.
.
.
.
A/n :
Cuma sekedar koreksian typos yg udah Joy buat ya:
Chapter 1 : Sehun dan Jongin bercinta pas waktu kuliah (False/Typo)
True : Mereka enaena itu pertama kali pas SMA kelas 3. (sempat di koreksi, tapi gataunya malah gak ke save. Mau di rombak lagi, magerlaah)
Chapter 1 : Kyungsoo dokter kandungan (False/Typo)
True: Dia dokter spesialis anak. yg dokter kandungan itu keluarganya. (Ini juga sempat di rombak, tapi kayaknya lupa ngesave)
Usia Daniel 3 atau 4 tahun? Anggap aja 3,5 tahun aja ya..
oh..yang kalimat : Detik berganti menit and bla..bla..bla di chapter sebelumnya itu perumpaan kata ya, bukan alur yg berubah jadi 6 tahun kemudian. Alurnya tetap di tempat..Dimana Jongin dan Haowen masih beberapa bulan di Seoul.
(Maaf ya, Joy manusia biasa..gak luput dari kesalahan, huehehehe)
