.
.
.
Legend Of Erathia
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Final Fantasy Series © Square Enix
.
.
.
Chapter 3: There is fire inside every single of us.
Nona Anko benar-benar membuktikan perkataannya. Ia benar-benar memulai kelas siang itu layaknya tak pernah terjadi apa-apa. Ia berdiri di podium dan menerangkan pelajaran hari itu seperti biasanya. Jika bukan patahan-patahan meja yang hancur berkeping-keping di sudut kanan depan kelas yang menjadi bukti amarahnya, mereka semua nyaris saja lupa akan amukan ganas wanita sadis tersebut. Juga hukuman yang akan mereka terima.
Gadis itu tau ada yang tak beres di kelas tersebut sebelum kedatangannya. Ia menatap teman-temannya yang duduk diam tak berkutik dengan was-was. Sesekali matanya melirik kepingan serta patahan sisa-sisa meja yang berserakan di depan kelas. Sesuatu pasti terjadi sebelum kedatangannya, dan ia yakin sesuatu tersebut pasti sangat buruk.
Ia tau Nona Anko adalah guru yang sadis dan sulit ditebak, tapi hingga membuatnya mengamuk seperti itu...
Iris hijaunya kembali mencuri pandang ke meja yang hancur di depan kelas, melihat bagaimana kepingannya berserakan hingga beberapa meter ke podium, juga di bawah bangku siswa—membuatnya meringis ngeri. Apapun yang membuat wanita itu menghancurkan meja tersebut pastilah benar-benar serius.
Membuatnya berharap apapun itu, tak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya.
"Kali ini kita akan membicarakan anugerah." Suara tinggi wanita tersebut terdengar tenang dari depan kelas, ia berdiri dengan mantap di podium sambil mengepalkan kedua tangannya bersamaan. Sakura langsung mengalihkan perhatiannya ke wanita tersebut. "Katakan padaku anugerah apa saja yang diberikan oleh para dewa kepada Erathia."
Kata-kata tersebut menggunakan kalimat pertanyaan, namun nada yang wanita itu gunakan sama sekali tak terdengar seperti pertanyaan, melainkan perintah. Sakura mengira Uchiha Sasuke akan berdiri dan menjawab dengan nada datar sebelum murid lain bisa mengangkat tangan, seperti biasanya, lalu murid-murid perempuan—termasuk dirinya—akan memberinya tepuk tangan yang meriah seraya mengaguminya. Namun tidak siang itu, tak seorangpun mengangkat tangan ataupun berdiri untuk menjawab pertanyaan mudah tersebut. Gadis itu memutar kepalanya ke belakang, semua murid hanya tertunduk dengan sebagian rambut yang menutupi kening mereka. Bahkan Naruto yang sering memberikan komentar-komentar konyol untuk mencairkan suasana tak melakukan apa-apa.
"Tch." Wanita itu menyilangkan tangannya sambil berdecih. "Tidak adakah seorangpun dari kalian yang mengetahui jawaban dari pertanyaanku?"
Murid-murid tersebut masih diam, menghindari tatapan matanya yang meremehkan. Sakura memutar kembali tubuhnya menghadap depan, dengan agak takut menatap wanita tersebut seraya mengangkat tangan perlahan. Mata wanita tersebut mencerah menatapnya, senyum menggantung di bibirnya saat ia mempersilahkan gadis tersebut untuk berdiri. "Baik, Nona Haruno."
Gadis itu berdiri perlahan dan semua mata kembali tertuju padanya. Ia bisa merasakan tatapan-tatapan mereka seakan menusuk tubuhnya seperti jarum, membuatnya ingin kembali duduk dan menyembunyikan wajahnya dengan buku. Ia tak mengerti kenapa orang-orang menatapinya seperti itu, seakan menginginkan sesuatu, nyaris menghakimi, membuatnya ingin berteriak menanyakan apa yang mereka inginkan darinya. Namun senyum yang masih menggantung di sudut bibir Nona Anko membuatnya membeku di tempat, memaksanya untuk berdiri dengan canggung.
"Um, Api yang diberikan Rito pada Arion, naga yang diberikan Train pada Seiryu, Eidolon pemberian Eren pada summoner di Vyn." Gadis itu menjawab dengan suara tertahan, merasakan perihnya tatapan rekan-rekannya pada tubuhnya. "Dan pengetahuan yang dibisikkan Ectra pada Norad."
"Bagus sekali, silahkan duduk kembali." Ucap Anko bertepuk tangan, seraya mempersilahkan gadis itu untuk duduk dengan senyuman. Sakura langsung menjatuhkan dirinya di bangku dan menutupi wajahnya dengana buku.
"Seiryu dengan anugerah mereka, menguasai angkasa di bawah cakar para naga, mengalahkan kapal terbang tercepat Norad sekalipun dan menjatuhkannya begitu saja ke tanah." Anko mulai berbicara lagi di podium, melangkahkan kakinya mengitari depan kelas. "Naga yang kalian lihat di buku pelajaran sama sekali bukan tandingan makhluk luar biasa yang kelak akan kalian lihat dengan mata kepala kalian sendiri."
"Begitu besar, begitu buas. Taring demi taring yang mencuat layaknya pedang tertajam, terpampang di depan wajah kalian layaknya baris-baris gergaji. Membuat kalian tau betul apa yang terjadi jika makhluk itu menangkap tubuh kalian dengan mulutnya" Wanita tersebut menatap wajah pucat muridnya, ketika mendeskripsikan naga kepada mereka, membuat siswa-siswa tersebut menelan ludah seraya membayangkan. "Kulit keras layaknya perisai besi terkokoh berkilauan di bawah terik matahari, cakar yang tajam dan kuat, dapat menghancurkan apapun dalam sekali serangan."
"Juga sepasang iris yang besar, begitu indah, begitu angkuh. Begitu percaya diri, dengan jernih memantulkan kembali rasa takut yang terpaku di wajah kalian layaknya cermin kematian." Ia menyeringai. "Makhluk yang begitu buas, begitu liar, begitu indah, namun begitu loyal. Membuat kalian bertanya-tanya bagaimana bisa makhluk seperti itu bisa patuh pada seorang manusia yang berdiri congkak di atas pundaknya."
"Tak semua orang-orang Seiryu bisa mengendalikan naga." Wanita tersebut melanjutkan kembali penjelasannya, berjalan mengitari kelas. "Ada dua cara untuk menjadi pengendali naga. Yang pertama adalah membiarkan telur naga jinak yang belum menetas untuk memilihmu." Lanjut Anko sebelum berhenti sejenak. "Dan yang kedua adalah dengan menakhlukan naga liar."
Murid-murid yang tadinya hanya bisa menunduk takut kini mulai berani untuk menatap wanita tersebut, mendengarkan penjelasannya dengan ketertarikan di mata mereka. "Seperti orang-orang Seiryu, para naga adalah makhluk yang congkak. Mereka tak akan tunduk pada manusia lemah, mereka membutuhkan pembuktian."
"Dan caranya adalah dengan mengalahkan mereka." Anko berdecih seraya mengangkat bahunya. "Mereka bilang bahwa orang-orang Arion adalah para pemberani yang tolol dan tak berpikir panjang. Tapi sepertinya Seiryu lah yang lebih gila."
"Kenapa bisa begitu...Sensei?" ucap seorang murid perempuan yang berada di duduk di meja tempat Anko menyandarkan tangannya.
"Karena untuk mendapatkan naga tersebut kau harus mengalahkannya sendirian." Jawab Anko dengan serius, sedetik kemudian ia kembali mengangkat bahu dan menggeleng pelan. "Pikir saja sendiri, kau masuk ke sarang penuh makhluk mengerikan yang memaparkan deretan gigi tajam ke wajahmu, berharap untuk mengalahkan salah satu dari mereka sebelum makhluk itu bisa mengunyahmu."
Murid perempuan tersebut menelan ludah, membuat Anko kembali menyeringai. "Naga liar jauh lebih kuat dari naga jinak yang diternakkan di kerajaan." Ucap wanita itu dengan santai. "Juga jauh lebih buas, jadi ingat kata-kataku ini jika kalian mendapat misi ke Seiryu kelak. Jangan berjalan sembarangan di lembah mereka, seberapa indahpun lembah juga gua tersebut, naga liar bisa saja bersembunyi di balik semak untuk menyergap kalian. Selalu awasi bagian belakang, jangan terlena dengan keindahan alam mereka. Jangan pedulikan bunga-bunga, ataupun kolam-kolam jernih mereka. Jika ada setitik riak saja di kolam itu, ataupun gemerisik di semak-semak, larilah sekencang yang kalian bisa, jika kalian tak mau dikunyah oleh naga tentunya."
"Oh, dan jangan coba-coba untuk menyakiti naga-naga tersebut, atau kepala kalian yang akan menjadi taruhannya. Karena menyakiti naga, bahkan naga yang berniat menjadikan kalian makan siang sekalipun, merupakan kejahatan berat di Seiryu. Kejahatan yang pantas dibayar dengan nyawa. Tempat yang menyenangkan untuk liburan bukan?"
Wanita tersebut tertawa riang sementara murid-murid yang mendengarkan membuat catatan mental untuk jangan pernah pergi ke Seiryu. Naruto mengerucutkan bibirnya tak percaya, berpikir bahwa naga tak mungkin seburuk itu. Ia yakin Anko hanya melebih-lebihkan naga untuk membuat mereka takut. Kalau naga memang semengerikan itu, tak mungkin mereka mengikuti semua perintah orang Seiryu seperti anak anjing yang dirantai.
"Sedikit yang mencoba untuk masuk ke sarang naga liar, namun lebih sedikit lagi yang kembali dengan nyawa." Anko menghentikan tawanya, nada biacaranya yang tadinya main-main kembali berubah serius. "Namun mereka yang kembali mendapat balasan yang setimpal. Naga yang jauh lebih perkasa dari naga milik prajurit pengendali naga lainnya, juga penghargaan tertinggi dari kerajaan Seiryu, menjadi para Dragoon—para kesatria Train."
Murid-murid di kelas tersebut mendengarkan penjelasan wanita itu dengan ketertarikan, menunggu wanita tersebut melanjutkan pelajaran yang ia terangkan. "Masih banyak hal menarik sekaligus mengerikan tentang orang Seiryu serta naga mereka, namun mari kita tinggalkan mereka sejenak."
"Coba lihat apa yang kita punya selanjutnya..." Wanita itu berhenti sejenak seolah berpikir lalu melanjutkan lagi. "Kita punya Vyn." Wanita tersebut berkata dengan senyum di bibirnya. "Kerajaan Vyn, sama halnya dengan Arion, di ambli dari nama Champion mereka yang pertama, Queen Vyn of North—Ratu Vyn dari utara. Seorang perempuan yang mendirikan kerajaan pertama di wilayah utara ribuan tahun yang lalu, atas bisikan dari kristal kuning."
"Kerajaan Vyn yang sekarang sama sekali berbeda dengan kerajaan Vyn yang dibangun oleh ratu pertama mereka." Wanita tersebut berdecih, dan murid-murid itu tau alasannya.
Kerajaan Vyn telah lama rusak dari dalam akibat perang saudara merebut tahta. Kearajaan Vyn ribuan tahun yang lalu hanya memperbolehkan wanita sebagai pemimpin. Kerajaan mereka hanya memiliki seorang Ratu dan tanpa raja. Dalam cerita dikisahkan, di suatu masa seorang pangeran yang terlahir di keluarga kerajaan terhanyut dalam rasa iri, membuat persekongkolan untuk merebut tahta dari saudari kembarnya yang akan dinobatkan menjadi ratu selanjutnya. Pangeran tersebut membunuh sang putri mahkota dan mengkudeta tahta dari ibunya sendiri—sang ratu yang memimpin. Ratu tersebut, murka atas penghianatan putranya, meninggalkan kerajaan bersama para pengikut setianya. Mereka tiba di suatu pulau di utara Vyn, memasuki hutan di mana sang ratu menggunakan seluruh kekuatannya untuk menutup rapat pohon-pohon menjadi benteng, menarik kabut di angkasa untuk melindungi mereka. Bersumpah tak akan berurusan dengan dunia luar kecuali atas perintah kristal. Mengutuk setiap tetes darah yang mengalir pada putra penghianatnya. Membawa anugerah dari Eren ke dalam hutan di mana tak pernah ditemukan lagi.
Legenda para summoner dari Vyn. Dongeng pengantar tidur anak-anak Erathia. Tidak ada yang tidak mengetahui cerita tersebut. Namun akan keaslian dari cerita tersebut, tidak ada yang benar-benar mengetahuinya—bahkan orang Vyn sendiri. Mungkin saja cerita tersebut sengaja dikarang untuk menjelaskan bagaimana orang-orang di Vyn kehilangan anugerah mereka. Cerita tersebut tak memiliki fakta yang jelas, tidak ada yang benar-benar mempercayainya.
Tentu saja, kecuali kekaisaran Norad yang repot-repot meluluh lantahkan pulau-pulau di utara Vyn, karena saking takutnya pada klan summoner dalam dongeng pengantar tidur.
"Anugerah yang diberikan oleh Eren kepada Vyn adalah mengendalikan summon beast." Lanjut Anko dengan nada santai, ia merenggangkan kedua tangannya sebelum berkata lagi. "Ketika aku mengatakan summon beast, jangan pikirkan ifrit atau shiva dalam batu esper mahal yang digunakan oleh Phoenix Squad."
"Summon beast mereka sama sekali berbeda dengan batu mahal yang menghabiskan dana Arion lebih besar dari dana persediaan makanan setiap tahunnya." Kata-kata wanita tersebut membuat murid-muridnya tertawa, namun tawa Naruto adalah yang paling keras di antaranya. Seakan-akan lupa bahwa wanita tersebut baru saja mengancam untuk tidak meluluskannya tahun ini. "Summon beast mereka disebut eidolon, ketika kalian membayangkan eidolon, bayangkanlah seekor naga Seiryu, dengan tubuh yang lebih besar. Kekuatan dua kali lipat golem, menyemburkan api lima kali lipat lebih kuat dari ifrit. Itulah bahamut, salah satu eidolon orang-orang Vyn."
"Tapi kalian tak perlu takut, Erathia tidak pernah melihat satu eidolon pun semenjak ribuan tahun yang lalu. Dan mungkin tak akan pernah melihatnya lagi." Murid-murid tersebut menghela napas yang tak tau entah sejak kapan mereka tahan. Anko melihat tampang pucat mereka dengan seringai. "Orang-orang di Vyn telah lama kehilangan bakat mereka sebagai summoner, kalian bisa mempercayai dongeng omong kosong itu sebagai penjelasan. Tapi tak ada yang tau pasti kebenarannya."
"Satu-satunya bakat tersisa yang dimiliki oleh orang Vyn sekarang adalah menakhlukan hewan buas. Beastmaster, itulah sebutan mereka." Anko mengerutkan hidungnya. "Memang terdengar remeh, tapi orang-orang di Vyn cukup gila untuk menakhlukan behemoth dan menjadikan makhluk mengerikan itu sebagai tunggangan."
Siswa-siswa di kelas tersebut berbisik satu sama lain, sedangkan Naruto hanya menyilangkan tangannya tak terkesan. Beastmaster? Menakhlukan hewan? Apa hebatnya mereka? Bagaimana bisa bangsa summoner yang begitu hebat bisa berubah menjadi penakhluk hewan dalam beberapa ribu tahun saja? Sekarang apa bedanya mereka dengan para penggembala. Tch!
Anko melirik ekspresi tak terkesan anak itu dengan mata coklatnya, ia menyeringai. Coba saja kau lihat bagaimana bentuk behemoth itu, bocah.
"Vyn yang sekarang sangat membosankan, begitu juga Norad." Anko berkata seraya mengibas-ngibaskan tangan kanannya. "Ectra membisikkan pengetahuan pada mereka, itu saja. Ada yang bilang pengetahuan adalah kekuatan, tapi aku tak mengerti apa gunanya pengetahuan jika kau akan dikunyah naga, atau diinjak golem, atau gosong di bakar api." Mendengar hal itu membuat siswa kelas tersebut tertawa, Anko mengangkat bahu. "Ada yang bilang kulit mereka tahan terhadap dinginnya badai salju, tapi bagiku itu hanya mitos. Orang-orang Norad tetap saja manusia biasa."
"Lagi pula apa gunanya kulit yang kebal es ketika melawan api panas milik Arion?" murid-murid tersebut tertawa lebih keras, dan Anko tersenyum puas. "Baiklah, selanjutnya mari kita membicarakan Arion."
Setiap siswa di kelas tersebut menghentikan tawanya. Mereka membetulkan posisi duduk mereka senyaman yang mereka bisa, mata menatap wanita tersebut dengan kilauan penasaran layaknya anak-anak yang sedang dibacakan dongeng sebelum tidur. Membuat Anko tertawa kecil, ia benar-benar tak mengerti anak-anak ini, baru beberapa menit yang lalu mereka menunduk takut layaknya menghindari mata kematian, tapi lihatlah sekarang. Mata mereka tak berhenti menatap matanya dengan kilau brilian. Tch, bocah.
"Ketika wilayah lain memiliki anugerah mereka masing-masing, Arion memiliki ini." Ucap Nona Anko serya membuka telapak tangannya yang terkepal, menunjukkan bola api kecil yang mengambang di atas telapak tangannya. Seperti murid-murid lain, Naruto menyondongkan tubuhnya beberapa inchi, berusaha melihat lebih jelas. Mata birunya yang memantulkan sinar oranye kemerahan api tersebut berkilau dengan ketertarikan. Anko mengayunkan tangannya sedikit dan bola api kecil tersebut menjadi bola api yang semakin besar.
"Api..." bisik Naruto di bawah napasnya dengan bangga.
"Para ilmuan Norad menyebutnya energi, hmm, terserah. Sedangkan Seiryu dan Vyn menyebutnya sihir, tch, betapa polosnya." Anko berjalan mengitari depan kelas, sambil memain-mainkan api di tangannya seakan sedang memainkan bola. "Semua itu tak benar. Karena ini, adalah bakat kita."
"Walaupun mirip dengan sihir. Api kita tidaklah sama seperti ilmu sihir yang telah lama hilang dari Erathia, api kita tidak bersumber dari ilmu terlarang yang menggunakan pengorbanan life force—sumber kehidupan kita untuk mengendalikannya." Wanita tersebut berhenti di depan kelas, menatap lekat-lekat wajah semua murid yang tengah melihat api di tangannya dengan takjub. Seringai jahil mulai bermain di sudut bibirnya.
"Karena sumber api kita adalah kemauan."
Jeritan terdengar di kelas itu ketika tiba-tiba saja Anko mengibaskan tangannya ke arah mereka, mengirimkan kobaran api yang begitu besar menyebar hingga kebelakang kelas. Api tersebut lenyap begitu saja, secepat kedatangannya. Tawa riang terdengar dari depan kelas, wanita tersebut tengah tertawa keras seraya memegangi perutnya. Namun tak satupun dari siswa tersebut berpikir apa yang baru saja dilakukannya itu lucu, terlebih siswa perempuan yang memegangi rambut mereka, takut tersambar api. Bahkan Sasuke yang duduk tenang di bangkunya berkedip beberapa kali, saking terkejutnya. Sedangkan Naruto yang duduk di sampingnya bersembunyi di bawah meja.
Inilah yang mereka tak suka dari Nona Anko—wali kelas mereka, dia adalah guru yang sadis, jahil dan senang pamer. Memang terkadang dia bisa menjadi guru yang menyenangkan, seperti yang baru saja di lakukannnya. Namun dalam seketika wanita itu bisa langsung berubah menjadi guru yang sangat menyebalkan. Sungguh wanita mengerikan yang tak bisa ditebak.
"Seharusnya kalian melihat wajah kalian sendiri, haha. Manis sekali." Kata perempuan tersebut, masih tertawa di depan kelas. Murid-murid tersebut, terlebih Sakura, hanya mengomel dalam hati seraya mendengus kesal. Wanita tersebut berhenti tertawa, ia sekarang tengah nyengir lebar dengan bola api baru di tangannya. Murid-murid tersebut masih melindungi kepala mereka dengan tangan, membuat wanita tersebut nyengir semakin lebar.
"Sumber api kita adalah kemauan." Ulang wanita tersebut sekali lagi, memain-mainkan api tersebut dengan mudahnya. Membuatnya menyala lebih besar, mengayunkan tangannya dengan lembut, membuat api tersebut menari berputar-putar di atas mereka—layaknya ular merah yang anggun.
Ia berjalan ke tengah-tengah kelas, masih mengendalikan api itu dengan mudahnya, membuatnya berkeliling ke sana sini. Mata murid-murid tersebut terpaku pada cahayanya yang merah menyala yang sesekali melewati kepala mereka satu persatu, tidak merasakan panas namun kehangatan. Mengagumi keahlian wanita tersebut, yang dengan mudah mengendalikan api itu nyaris sempurna. Bertanya-tanya kapan mereka bisa melakukan hal yang sama seperti yang sedang dilakukannya.
Mungkin tak akan pernah.
Nona Anko bukanlah wanita sembarangan, dia salah satu pengendali api terbaik di Arion. Tak banyak yang memiliki kemampuan mengendalikan api sesempurna dirinya, yang dengan mudah merubah bentuk api serta mengatur panasnya. Ada yang bilang keterampilannya sebanding dengan para kesatria Rito, namun sebagian lagi percaya kemampuannya melebihi mereka.
"Rito meniupkan api ke dalam darah Arion ribuan tahun yang lalu sebagai anugerahnya dari surga. Dan sekarang mereka percaya bahwa ada api di setiap orang Arion." Lanjut wanita tersebut menjelaskan pelajarannya. "Namun tak semua orang bisa menggunakannya. Ada yang hanya bisa membuat percikan, ada yang bisa membuat bola api besar. Namun ada juga yang bisa membuat api yang begitu dahsyat sehingga merubah daratan menjadi lautan api."
"Kalian bisa membuatnya melakukan apa pun yang kalian mau, membentuknya seperti yang kalian suka." Api itu kini melayang melewati meja Naruto, membuat mata birunya berkilau dengan cahaya merah api yang membara. "Namun api tetaplah api."
Api tersebut berhenti di hadapan lelaki pirang tersebut, cahaya merahnya nyaris merubah rambut pirang kekuningannya menjadi oranye. Api yang tadinya berbentuk seperti ular itu telah kembali menjadi bentu bola, mengambang beberapa inchi dari wajahnya. Namun Naruto tak merasakan panas seperti api pada umumnya, namun kehangatan layaknya sinar matahari yang menerpa kulitnya. Ia nyaris saja mengulurkan tangannya untuk menyentuh cahaya tersebut saat api itu padam seketika. Ia mengedipkan matanya beberapa kali dan menatap mata coklat Anko.
"Jika kau tidak bisa mengendalikannya, kau akan terbakar." Wanita tersebut menyeringai padanya. Naruto hanya diam, seraya menutup mulutnya yang entah sejak kapan menganga.
"Baiklah, karena aku sudah bosan memarahi kalian hari ini, mari kita melakukan hal yang menyenangkan." Anko kembali berjalan ke depan podium, dan murid-murid kelas itu langsung berbisik satu sama lain. Bertanya-tanya apa yang akan dilakukan wanita tersebut kali ini. Wanita berambut hitam kebiruan itu berbalik, menatap mereka yang tengah sibuk berbisik dengan kilau kesenangan di mata coklatnya. Heh. "Ayo kita mempelajari sesuatu yang pasti kalian sukai, sesuatu yang kalian tunggu-tunggu selama ini. Ayo kita mempelajari..."
Wanita tersebut menghentikan kata-katanya dengan dramatis, melirik anak-anak itu yang dengan antusias menunggunya melanjutkan kalimatnya. Ia mengayunkan telapak tangannya, membuat bola api kecil yang mewarnai mata coklat terangnya dengan kilau kemerahan. "Api."
Murid-murid tersebut langsung bersorak gembira, sebagian mengangkat tangannya ke atas, dan sebagian lagi bertepuk tangan. Naruto bahkan berani untuk berdiri dari kursinya dan berteriak senang, sedangkan Sasuke hanya memasang seringai di sudut bibirnya. Wanita tersebut hanya melihat tingkah murid-muridnya sambil menggeleng pelan. Ia bukanlah wanita yang kejam, ia tak benar-benar berniat untuk menghukum anak-anak ini. Ketika ia mengancam mereka beberap jam yang lalu—yang dilakukannya hanyalah sakadar ingin menguji mereka. Dan anak-anak ini lulus dengan sempurna. Ia sudah tau dua berandal pembuat onar tersebut, ia juga sudah mengerti apa alasan mereka memulai perkelahian. Kalau boleh dibilang, ia cukup bangga dengan anak-anaknya itu, mereka menjaga nama baik kelas mereka dari tuduhan-tuduhan dengan berani. Ia yakin anak-anaknya tak mungkin lari dari misi.
Walau ia mungkin akan merasa lebih bangga lagi jika mereka menghabisi bocah-bocah bermulut besar itu sampai babak belur. Atau mungkin mendapatkan penilaian yang lebih baik pada misi beberapa hari yang lalu. Atau lebih baik lagi, membuktikan bahwa mereka tak benar-benar lari dari misi.
Tapi, tch! Ia adalah seorang guru, jika ia tak memarahi anak-anaknya, maka dirinya lah yang akan di marahi oleh kepala sekolah.
Pelajaran ini adalah yang bisa ia berikan pada mereka sebagai hadiah.
Namun seharusnya mereka belum diperbolehkan mempelajari teknik mengendalikan api setidaknya sampai tingkat tiga. Tapi jika tidak ada yang mengetahui, itu bukan masalah kan? Ia harus ingat untuk mengancam mereka untuk tidak meberitahu kelas lain nanti. "Oi, kalian! Mau sampai kapan kalian mau bergembira? Ayo mulai sekarang."
Ia tersenyum. "Tunjukkan padaku apa yang kalian bisa."
Anak-anak itu kembali bersorak, mereka mendengar penjelasan dari wanita tersebut dengan hati-hati. Mencatat jelas-jelas perkataan wanita tersebut akan teknik mengendalikan api dalam otak mereka. Memperhatikan detil-detil yang tak dijelaskan dalam buku pelajaran mereka dan langsung mempraktikannya sendiri. Membuat dan memunculkan api kecil di telapak tangan mereka bukanlah hal yang sulit bagi sebagian besar dari mereka. Bahkan mereka sering memainkan permainan 'Siapa yang paling lama mempertahankan api' sejak kecil, namun untuk menjaganya tetap stabil dalam waktu yang lama adalah hal yang sulit. Mereka tau betul apa konsekuensinya jika memaksa api tersebut untuk tetap menyala, mereka akan kehilangan kendali dan membakar tubuh mereka sendiri. Pengalaman masa kecil mengingatkan mereka akan rasa sakitnya.
Mempertahankannya untuk tetap stabil memang sulit, tapi untuk membuatnya menjadi lebih besar tanpa lepas kendali merupakah hal yang lebih sulit lagi.
"Lakukan selama yang kalian bisa, tapi jangan di paksa!" teriak Anko seraya berjalan melihat kemampuan muridnya satu per satu. Matanya melihat sudah banyak dari murid-murid tersebut yang bisa mempertahankan api dalam waktu yang cukup lama dengan sempurna. Membuat rasa bangga menyesapi dadanya, anak-anaknya akan menjadi calon-calon prajurit yang handal.
Seorang murid perempuan berambut coklat di meja seberang berhasil membuat apinya melayang dengan stabil di udara, dan beberapa murid lelaki bisa membuat api yang terlalu besar untuk ukuran pemula. Jika anak-anak tersebut bisa melakukan teknik sebaik itu saat ia baru mengajarkannya, mereka pastilah sering melanggar peraturan dengan berlatih teknik sendirian. Heh, berandal... Namun di antara mereka semua tak ada yang lebih sempurna mengendalikan apinya dari pada Uchiha Sasuke. Anak itu membuat bola api berukuran sedang di telapak tangannya dengan wajah yang datar—nyaris terlihat bosan malah. Memecah bola api tersebut menjadi lima bagian bola api kecil lain yang mengambang di atas jari-jarinya dengan mudah, membuat murid-murid lain di sekitarnya menatap kagum api di tangannya. Tch, tukang pamer.
Naruto yang duduk di sebelahnya menatap lelaki berambut hitam itu, yang tengah menyeringai angkuh dengan jengkel. Ia melihat api di tangan Sasuke dan membandingkan percikan api kecil di tangannya, ia menunduk muram. Telinganya menangkap tawa kecil dari gadis-gadis yang mengagumi api di tangan Sasuke, lelaki itu meliriknya, lalu berani menyeringai padanya, ia menggeram jengkel. Ia memaksa kepalanya untuk berkonsentrasi lebih keras, memusatkan pikirannya pada api tersebut.
Setelah beberapa menit, api di tangannya berubah ukuran drastis, sekarang besaranya sudah menyampai bola meriam, jauh lebih besar dari pada milik Sasuke. Murid-murid lain di sekitarnya mulai beralih dari Sasuke ke Naruto, mengagumi serta memuji keterampilan. Lelaki pirang itu balas menyeringai pada Sasuke, hanya untuk lepas kendali dan membiarkan api tersebut semakin membesar dan menyala hingga atap ruangan. Membuat Anko langsung berlari ke arahnya dan memarahinya, mendapatkan tawa dari murid-murid lain.
Sakura menatap mereka dengan kedua iris hijaunya, senyum kecil melengkung di sudut bibirnya. Namun kesedihan bermain di ujung matanya. Kedua iris hijaunya menatap cahaya merah oranye itu, pada Naruto, Sasuke, pada semua teman-teman sekelasnya. Ia menatap tangannya sendiri, tak satupun percikan api keluar dari telapak tangannya, sebesar apapun ia berkonsentrasi. Gadis yang duduk di sampingnya menangkap kegelisahan Sakura.
"Tak apa, tak jarang ada orang Arion yang tak bisa menggunakan api." Gadis itu tersenyum ramah kepadanya, berusaha menenangkannya. "Sakura-san adalah salah satu murid terbaik di sini, aku yakin kau akan baik-baik saja."
Sakura membalas senyum gadis itu dengan senyumannya sendiri, menyingkirkan perasaannya jauh-jauh. "Terima kasih."
Gadis itu tersenyum lagi sebelum kembali berkonsentrasi pada percikan api di tangannya. Sakura juga kembali menatap tangannya, berhenti berusaha untuk memunculkan api dari telapak tangannya.
Ada api di dalam semua orang Arion...tch...
Ia memejamkan matanya seraya menghela napas pelan.
"Hei, kalian! Membuat api bukanlah ajang untuk pamer, bukan untuk membuktikan siapa yang bisa membuat api lebih besar! Tapi siapa yang bisa mengendalikannya dengan baik." Wanita itu bertertiak geram, tangannya bersandar di atas kepala pirang Naruto yang tengah dimarahi. "Jika tujuan kalian adalah membuat api paling besar untuk pamer, kalian tak akan pernah maju! Kalian tak pantas menjadi kesatria terbaik Arion, kalian tak akan berhak menjadi kesatria Rito."
Pada akhrinya baik orang-orang di Arion, orang Seiryu, Vyn, bahkan Norad sekalipun. Setiap anak yang lahir dan tumbuh di bagian manapun di Erathia memiliki mimpi untuk menjadi kesatria bagi dewa dan dewi mereka masing-masing. Rito di dalam jiwa orang Arion, Train yang melindungi penduduk Seiryu, Eren yang mengasihi keturunan Vyn, juga Ectra di balik pengetahuan orang-orang Norad. Walaupun mereka memiliki banyak sekali perbedaan, mereka memiliki persamaan yang lebih banyak dari yang mereka pikirkan.
Termasuk murid-murid tersebut, yang tengah duduk mendengarkan pelajaran dari guru mereka, menatap wanita tersebut dengan mata yang berbinar-binar. Bahkan Sasuke, yang tadinya hanya duduk diam tanpa emosi, mengepalkan tangannya erat-erat. Ia memicingkan matanya mendengar kata itu, julukan para kesatria utama Arion. Prajurit-prajurit terbaik dari seluruh penjuru Arion, memiliki api dalam jiwa mereka yang berkobar lebih hebat dari prajurit manapun. Berpedang terbakar layaknya bara, berperisai baja yang dilindungi api. Diberkati oleh burung abadi dewi Rito sendiri—Suzaku. Para kesatria Rito.
Suatu hari nanti, ia bersumpah ia akan menjadi salah satu dari mereka. Ia bersumpah akan berdiri di pijakan yang sama dengan lelaki itu. Ia bersumpah akan melampauinya. Bukan hanya menjadi prajurit terbaik dari seluruh penjuru Arion, tapi menjadi kesatria terbaik di seluruh Erathia. Bahkan ia bersumpah untuk menjadi kesatria terbaik yang dikenang sepanjang masa—seorang Champion, seorang pemenang yang di pilih oleh kristal sendiri.
Ia telah bersumpah atas nama ibunya, di depan tumpukan mayat serta debu dari sisa reruntuhan desa yang hancur malam itu. Ia telah bersumpah akan menjadi semua itu, dia akan meluluh lantahkan Norad dengan kekuatannya, merubahnya menjadi debu—seperti yang mereka lakukan pada desanya malam itu.
Ia akan membalaskan kematian ibunya, juga setiap orang yang mati di tangan keji pasukan Norad malam itu. Dan ia bersumpah ia akan melakukannya.
Hatinya penuh dendam, rasa marah, dan ambisi. Hatinya penuh dengan kemauan. Seketika saja percikan api kecil yang muncul di ujung-ujung jarinya menyala besar, semakin besar, semakin panas, warnah oranye kekuningannya berubah pekat menjadi merah gelap, terpantul dengan marah di iris hitamnya yang penuh kesungguhan. Api tersebut semakin besar, dan semakin besar setiap tarikan napasnya yang memburu, hingga akhirnya menyebar begitu saja di udara melingkupi bagian atap kelas tersebut menjadi merah.
Teriakan serta jeritan dari murid-murid di sekitarnya menyadarkannya, matanya menatap api besar yang melingkar di atas kepala mereka dengan tak percaya. Murid-murid mulai panik, berteriak dan berlarian ke depan kelas. Dengan tangan di atas kepala mereka untuk melindungi rambut mereka tersambar api. Namun ia tetap duduk di sana, menatap ke atap tempat api tersebut berputar-putar berbahaya, nyaris memakan atap putih ruangan tinggi tersebut dengan tak berkutik.
Sakura bersama beberapa murid lainnya memanggil lelaki berambut hitam tersebut dari depan kelas. Mata hijaunya tak berhenti menatap iris hitam Sasuke yang berkilau cahaya merah seakan terhipnotis dengan api tersebut. Mulutnya terus memanggil nama murid yang merupakan satu-satunya siswa yang masih duduk di bangku.
Sasuke tak menghiraukan mereka. Matanya terpaku pada api tersebut, yang melingkar marah di atas kepalanya. Ia bisa merasakan panasnya, keringat yang menetes deras dari tubuhnya menjadi buktinya. Api ini berbeda dari sebelumnya, dari percikan kecil yang dikeluarkannya sebelumnya ataupun yang dikeluarkan oleh murid-murid lain. Berbeda dari sulutan api besar berwarna kuning yang dikeluarkan Naruto tadi, ataupun api yang dikeluarkan oleh prajurit Arion saat mereka melawan Norad. Api ini bahkan berbeda dengan api merah menyala Anko ketika wanita itu mempraktikan di depan kelas. Berbeda, jauh berbeda. Ia bisa merasakannnya, rasa panasnya yang luar biasa, juga warnanya yang berbahaya. Ia benar-benar bisa merasakannya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman senang—kekuatannya.
Kekuatannya yang luar biasa. Kekuatan yang akan membawanya melampaui lelaki itu. Kekuatan yang akan ia gunakan untuk membalaskan dendamnya. Kekuatan yang akan ia gunakan untuk menghancurkan Norad.
Kekuatan yang akan digunakannya untuk menakhlukan dunia.
Mata hitamnya berkilau dengan kesenangan bercampur dengan kilatan merah api di atasnya, ketika tiba-tiba saja api merah menyala menyambar api gelap tersebut, meresap ke dalamnya seolah-olah memakannya habis sebelum merubahnya menjadi merah menyala.
Sasuke langsung menatap ke ke depan, ke kerumunan murid-murid yang memanggilnya. Matanya langsung bertemu dengan iris hijau di tengah orang-orang tersebut. Memanggilnya dan menatapnya dengan cemas. Ia baru akan membuka mulutnya ketika wanita berambut hitam berada di hadapannya dengan sekejap. Mata coklatnya menatap iris gelap Sasuke dengan tajam lekat-lekat, ia menduga wanita tersebut akan memasang tampang murka sebelum menghajarnya. Namun senyuman justru mulai terbentuk di bibir berlipsticknya. Matanya tetap menatap lurus Sasuke, dingin, walaupun senyum manis terpaku di bibirnya.
"Uchiha, apa yang aku katakan tentang bermain dengan api." Wanita tersebut membungkuk, mendekatkan wajahnya dengan Sasuke. Kata-katanya tersebut tak terdengar seperti pertanyaan, namun lebih seperti peringatan. "Jika kau tak bisa mengendalikannya..."
Senyum itu menghilang, raut wajahnya berubah serius, matanya berkilat berbahaya. "Kau akan terbakar."
Sekejap api merah tersebut menyebar ke segala arah, membuat murid-murid yang berkumpul di depan kelas berteriak dan menunduk melindungi diri, sebelum tiba-tiba padam begitu saja. Seolah-olah lenyap ditelan udara. Wanita itu bangkit dan berbalik, meninggalkan lelaki tersebut yang duduk membeku, bercucuran keringat di bangkunya.
"Kelas selesai, bubar." Ucap wanita tersebut seraya berjalan ke pintu. Sebelum berbalik, kepalanya tertuju pada murid-murid di belakangnya, namun matanya jelas terpaku pada Naruto. "Dan jangan buat masalah."
"Buat esai minimal lima puluh lembar tentang anugerah yang diberikan para dewa kepada Erathia, anggap itu sebagai hukuman. Kalau ada satu saja di antara kalian yang berani untuk tidak mengumpulkannya minggu depan, aku benar-benar akan tidak meluluskan kalian." Wanita itu berkata lagi. "Jangan lupa siapkan dango untuk minggu depan jika kalian tak menginginkan aku marah-marah lagi."
"Juga Namikaze Naruto dan Uchiha Sasuke, aku akan menunggu kalian di ruang guru sore ini." Anko melanjutkan sebelum membanting pintu di belakangnya.
Naruto nyaris tersedak mendengarnya, sementara murid-murid itu mulai bubar dari depan kelas, sebagian kembali duduk dan sisanya keluar kelas untuk menghindari hawa panas. Namun gadis berambut merah muda itu tetap berdiri di sana, dengan mata hijau besar yang terpaku pada iris hitam lelaki tersebut, yang menatapnya balik dengan tatapan yang tak bisa diartikannya.
Ia membawa tangan kanan gemetarannya ke dadanya, seolah-olah meremas jantungnya yang tak mau berhenti berdetak kencang.
"Sasuke-kun..."
Lelaki itu menghela napas seraya memejamkan mata, menghalangi pandangannya dari sosok gadis tersebut Bertanya-tanya apa yang baru saja merasukinya hingga mengeluarkan api mengerikan seperti itu. Tak habis pikir bagaimana bisa ia merasa begitu senang dengan kekuatannya selama beberapa detik, hanya untuk menjadi ketakutan dengan hal itu dalam detik berikutnya.
Tapi mata itu...
Ia membuka matanya setelah merasa bisa mengendalikan dirinya, mengira bahwa gadis tersebut telah pergi dari hadapannya. Namun ketika Sasuke membuka kelopak matanya, iris hitamnya kembali bertemu dengan mata hijau gadis itu. Tapi bedanya, mata hijau yang tadi menatapnya dengan cemas, sekarang tengah menatapnya dengan rasa takut.
Ia hanya terdiam.
Ooo00ooO
"Lima puluh lembar esai ditambah lagi dengan ini! Nona Anko berniat untuk membuatku sekarat!" Naruto berteriak seraya menjatuhkan dirinya ke tanah berumput. Makhluk berbentuk seperti anak ayam kuning raksasa di hadapannya berkedip beberapa kali sebelum mematuk *curiel root yang ada di kantung Naruto dan mengunyahnya, membuat lelaki pirang itu mengusirnya dengan kesal. "Belum lagi tubuhku yang remuk karena misi sialan itu."
Sasuke mendengus untuk kesekian kalinya sore itu. Ia kembali melanjutkan tugasnya untuk mencabuti rumput-rumput di lahan sekitar kandang chocobo. "Jika kau punya tenaga untuk mengeluh, kenapa tidak lakukan saja tugasmu?"
"Aku sudah melakukannya!" bantah Naruto seraya kembali mengusir paruh Chocobo yang terus mengincar curiel root di kantungnya. "Aku hanya beristirahat sejenak."
Sasuke mendengus lagi. Mereka memang telah membersihkan kandang Chocobo, menyapu, juga menyikatnya hingga mengkilat. Memberi pakan burung-burung itu, mengganti air minumnya, juga membiarkan mereka jalan-jalan. Mereka juga harus mencabuti rumput, tapi ia tak mendengar Sasuke mengeluh bukan?
Lagi pula lima puluh lembar esai bukanlah tugas yang sulit bagi Sasuke. Jangankan satu minggu, ia bisa menuntaskan tugas itu dalam satu malam dan percaya diri untuk mendapatkan nilai yang sempurna. Tugas seperti itu hanyalah tugas remeh baginya. Namun berbeda dengan Naruto, lelaki pirang itu bereaksi seakan-akan dunia esok kiamat ketika diberi tugas seperti itu. Ia bersumpah akan membunuh Naruto—atau siapapun yang berani untuk tidak menyelesaikan tugas itu minggu depan. Ia tak akan membiarkan kelulusannya menjadi taruhan lagi.
Sudah cukup buruk ia akan gagal dalam rekomendasi prajurit trainee. Tapi akan lebih memalukan lagi jika ia tak naik kelas.
Tak peduli kalau ia harus membersihkan kandang serta mengurus chocobo selama sebulan kedepan, mengerjakan lima puluh lembar esai, membantu Naruto—atau seluruh rekan sekelasnya mengerjakan tugas mereka sekalipun. Asalkan ia bisa naik kelas tahun ini, ia akan melakukannya.
"Bagaimana caranya aku bisa mengerjakan esai itu dalam seminggu, maksudku jumlahnya lima puluh lembar! Ditulis tangan! Arrgh!" Naruto berteriak frustasi, menjatuhkan tangannya ke tanah, membiarkan Chocobo itu kembali mematuk pakan yang ada di kantungnya. "Belum lagi harus mengurus kandang chocobo, maksudku lihat para prajurit trainee itu. Mereka dengan seenaknya melemparkan kewajiban mereka pada kita! Kapan aku bisa menyelesaikannya?!"
"Aku tak punya waktu untuk ini." Ucapnya menyerah, mata birunya memandang langit oranye kemerahan dengan semburat awan merah muda di angkasa. "Waktu ku seharusnya digunakan untuk berlatih."
"Tentu saja jika aku ingin menjadi kesatria terkuat di Arion, aku tak punya waktu untuk mengerjakan tugas menyebalkan itu, kan?" Ia mengangkat tangan kanannya dan mengepalakannya, sebelum membuka telapak tangannya. Cahaya merah terpantul di irisnya, dari bola api kecil yang melayang di atas telapak tangannya, cengiran lebar bermain-main di bibirnya.
Sasuke melirik cahaya merah itu dari sudut matanya, ia melemparkan rumput serta tanah ke wajah lelaki pirang tersebut. Membuat Naruto tersedak rumput, dan berguling sambil terbatuk-batuk. Mematikan api di telapak tangannya.
"Kau ini apa-apaan—"
"Siswa tingkat satu dan dua tidak diperbolehkan menggunakan api." Ujar Sasuke sambil mencabuti rumput dengan tenang. "Jika kau ingin mencari masalah lagi, lakukanlah sendiri. Jauh-jauh dariku."
Naruto menjulurkan lidahnya pada punggung lelaki berambut hitam tersebut. Ia duduk dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada, memasang tampang jengkel di wajahnya. "Dasar menyebalkan." Ia berkata pada dirinya sendiri, dengan suara keras membiarkan Sasuke mendengarkan perkataannya dengan sengaja.
Lelaki berambut hitam itu terus melanjutkan tugasnya mencabuti rumput dengan tenang, tak menanggapi omelan si pirang itu. Sedangkan Naruto terus mengoceh memarahi Chocobo yang sibuk mematuk-matuk kantungnya untuk mengambil makanan.
Mata birunya menangkap sosok gadis berambut berjalan jauh di seberang pagar lahan tempat kandang chocobo berada. Menggunakan seragam berlatih, lengkap dengan dua rapier twin blade dalam scabbards yang berada di kedua sisi tubuhnya. Juga beberapa pasang pisau tergantung rapi di ikat pinggangnya. Dengan rambut merah mudanya yang dikuncir kuda, serta botol air minum di tangannya. Ia bisa mengetahui gadis itu baru selesai berlatih dari kulitnya yang mengkilap karena keringat, juga pakaiannya yang kusam karena debu.
"Sakura-chan!" Ia berteriak dari tempatnya seraya melambai-lambaikan tangannya di udara untuk menarik perhatian gadis itu.
Sasuke yang tengah mencabuti rumput beberapa meter darinya, langsung menghentikan kegiatannya sejenak. Ia mengangkat kepalanya dan mengikuti arah pandangan Naruto. Sepasang irisnya langsung bertemu dengan sosok gadis itu. Menatapnya dengan sorot mata yang mempertanyakan, seolah menimbang-nimbang sesuatu.
Sakura melirik sebelah kanannya. Iris hijaunya menangkap sosok Naruto yang tengah melambai-lambaikan tangan padanya dengan cengiran lebar di bibirnya. Ia menghentikan langkahnya untuk balas melambai pada lelaki pirang itu dengan senyum di bibirnya, namun ketika matanya bertemu dengan iris hitam milik seseorang yang berada di samping Naruto, senyuman ramahnya berubah agak canggung. Gadis itu melambaikan tangan sekali lagi sebelum kembali melangkah menjauhi lahan tersebut, sebelum menghilang di balik bangunan.
"Hei, Teme." Ucap Naruto untuk menarik perhatiannya. "Apa kau pikir Sakura-chan menyukaiku? Maksudku dia terlihat malu-malu ketika melihatku tadi."
"Dan dia juga tidak menghajarku seperti biasanya, ketika tau kita membuat masalah."
Sasuke hanya berdecih dan tak menanggapi perkataan bodoh lelaki pirang tersebut, ia lanjut mengerjakan pekerjaannya. Membuat Naruto meringis geram padanya. "Kau cemburu atau apa? Kasihan sekali, tidak ada gadis yang menyukaimu."
Lelaki itu masih tak menanggapinya, ia hanya memberikan punggungnya pada lelaki pirang tersebut. Membuat Naruto mendengus seraya menyilangkan tangannya di depan dada. "Tidakkah kau pikir ini aneh, semenjak tiga hari yang lalu, aku baru melihat Sakura-chan hari ini."
Sasuke terdiam sebentar, ternyata bukan hanya dirinya yang juga memiliki pemikiran seperti itu. Bahkan seorang dobe seperti Naruto merasakan keganjilan yang sama. "Bahkan Sakura-chan dapat D."
Sasuke tak terlalu terkejut mendengarnya, bukan hanya gadis itu saja yang mendapat 'D', ia yakin semua murid kelas tersebut mendapat 'D', bahkan dirinya sendiri mendapat 'D'. Betapa memalukannya.
"Padahal Sakura-chan salah satu yang terbaik di kelas." Lanjut Naruto, sambil mulai mencabuti rumput seperti yang Sasuke lakukan. "Maksudku selain aku tentu saja."
Heh, Sasuke berdecih. Dalam mimpimu dobe...
"Dan yang dikatakan Nona Anko, apa benar parlemen hanya memerintahkan untuk mencabut Sakura-chan dari misi?" Perkataannya yang satu itu berhasil menarik perhatian Sasuke. Lelaki berambut hitam itu menghentikan kegiatannya beberapa detik, sebelum kembali lanjut mencabuti rumput. "Tapi kenapa gulungan yang dibawa duta itu malah menyuruh kita semua pulang? Bahkan Iruka-sensei yang memeriksa gulungan itu juga mengatakan hal yang sama."
Sejujurnya ia sama sekali tak tau jawabannya. Bahkan ia sendiri bertanya-tanya akan hal tersebut. Ia benar-benar tak tau apa yang terjadi. Seorang squad leader tak mungkin memutuskan sesuatu tanpa perintah dari atasannya. Ia tak yakin Iruka-sensei dengan gegabah mengirimkan mereka pulang tanpa ada intruksi dari parlemen. Jika apa yang dikatakan oleh Anko memang benar, bahwa hanya Sakura Haruno yang diperintahkan untuk mundur dari misi, lalu pertanyaannya adalah kenapa?
Memangnya apa yang lebih istimewa dari siswa biasa seperti Sakura Haruno dibandingkan murid-murid lainnya di kelas itu?
Ada banyak keanehan pada misi tersebut. Dari tidak jelasnya intruksi yang diberikan pada gulungan keterangan misi mereka, sedikitnya jumlah pasukan yang dikirim, tingkat kesulitan yang mencurigakan, serangan mendadak dari Norad, hingga gulungan misterius yang memerintahkan mereka untuk kembali ke Kardia. Bahkan sang duta yang dikirim ke Seiryu itu sendiri diselubungi oleh misteri.
Yang ia dengar dari rekan-rekannya adalah lelaki tersebut datang tiba-tiba menyelamatkan mereka di saat genting dengan kekuatan yang luar biasa. Mengenakan seragam lengkap, juga jubah merah berlambangkan burung api—menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang kesatria utama. Membawa gulungan dengan segel resmi milik parlemen Arion, memerintahkan semua siswa juga prajurat yang terluka untuk kembali ke Kardia. Tak ada siswa yang tau siapa dirinya, separuh wajahnya ditutupi dengan syal merah. Yang mereka lihat hanyalah mata hitamnya yang datar, serta rambutnya yang berwarna senada.
Tak ada yang tau pasti identitasnya.
Hanya itulah yang ia dengar dari teman-teman sekelasnya mengenai sang duta, ia sendiri tak bertemu dengannya dikarenakan insiden memalukan bersama Naruto.
"Satu-satunya yang aku sesali dari misi itu adalah melewatkan kekuatan luar biasa salah satu kesatria Rito." Naruto mendengus, ia melemparkan rumput-rumput yang dicabutinya ke dalam kantung. "Aku juga ingin menyaksikan kekuatannya dengan mataku sendiri."
"Lagi pula aku akan menjadi salah satu dari mereka kelak." Ia mengangkat dagunya dengan angkuh pada Sasuke, membuat lelaki berambut hitam tersebut menyeringai mengejek. "Heh, kau lihat saja nanti!" Lelaki pirang itu bangkit dan berdiri di hadapan Sasuke, ia memasang cengiran lebar yang lebih terang dari matahari. Mengacungkan jempolnya ke arah lelaki berambut hitam tersebut. "Aku akan menjadi kesatria terbaik yang dimiliki Arion!"
Ia menatap cengiran lelaki pirang tersebut beberapa detik, sebelum kembali menyeringai angkuh. Naruto bisa bermimpi untuk menjadi kesatria terbaik Arion sesukannya, namun posisi tersebut sudah ia klaim sebagai miliknya. Dan ia tak akan menyerahkannya begitu saja. Tak mungkin ia membiarkan dirinya dikalahkan oleh seorang Dobe seperti Naruto.
"Terserah." Ucap lelaki itu dengan congkak. "Tapi sebelum itu—" Naruto manatap lelaki itu mengangkat tangannya untuk melemparkan rumput ke wajahnya. "—selesaikan dulu tugasmu."
Lelaki itu mengangkat kantungnya yang penuh berisi rumput untuk membuangnya ke tempat sampah—menyelesaikan tugasnya hari itu. Meninggalkan rekan pirangnya yang tersedak rumput, yang kini tengah menghujaninya dengan berbagai macam sumpah serapah.
Year 1247, Wind month (3th), Day 18
Atmosfer tegang menggantung di ruangan tersebut, begitu pekat hingga nyaris mencekik mereka yang berada di dalamnya. Dari delapan kursi yang tersedia, hanya lima kursi yang terisi. Mereka duduk dengan serius mengitari sebuah meja persegi panjang dengan wajah yang menyembunyikan emosi dari balik topeng datar yang mereka tampakkan.
"Kemenangan besar Arion merebut Jora memberi semangat baru bagi para prajurit. Kita harus memanfaatkan hal ini sebanyak yang kita bisa." Ucap salah satu dari mereka, seorang lelaki tua berambut hitam dengan satu mata yang diperban. "Kita bisa merebut dua kota yang masih dijajah oleh Norad di Doria, mengembalikan seluruh wilayah Doria sebagai milik Arion seutuhnya."
"Atau kita bisa menambahkan satu kota lagi dalam daftar, dan mulai merebut wilayah Mako."
Kata-kata lelaki tersebut membuat yang lainnya terdiam. Mereka mulai mengalihkan perhatian kepada lelaki tersebut, yang terlihat berusia jauh lebih muda dari mereka. Dengan rambut hitam yang panjang, juga mata yang berkilau dengan kecerdasan—atau kelicikan. Seringai percaya diri bermain di sudut bibirnya ketika ia melanjutkan. "Pikirkan seberapa cepat kita akan mengambil kembali seluruh wilayah yang direbut Norad jika kita bertindak dengan cekatan."
Lelaki dengan mata yang diperban, serta lelaki tua lainnya yang mengenakan kacamata mengangguk-angguk setuju. Sedangkan wanita renta dengan rambut memutihnya yang disanggul di atas kepalanya menatap lelaki muda itu menimbang-nimbang.
"Pikirkan juga seberapa banyak kerugian yang akan kita derita jika misi-misi itu gagal." Sangkal seorang lelaki tua yang duduk tenang di ujung meja. Ia menatap iris keemasan lelaki itu yang memancarkan keangkuhan dengan tajam. "Akan ada banyak prajurit yang terluka dan kehilangan nyawa."
"Tak akan ada kemenangan tanpa pengorbanan."
Lelaki itu membuka mulutnya sebelum anggota lainnya sempat berpikir untuk setuju dengan perkataan lelaki renta tersebut. Memilih kata-katanya dengan tepat, dan memainkannya dengan terampil untuk menjerat mereka ke pihaknya tanpa mereka sadari. Anggukan serta gumaman setuju dari mereka adalah bukti keahliannya, membuat seringai di bibirnya semakin lebar. "Kesempatan seperti ini tak datang satu kali, jika kita ingin bergerak atau mengorbankan sesuatu. Lakukanlah sekarang."
"Pengorbanan yang besar juga membawa kemenangan yang besar." Tambahnya dengan percaya diri, kata-katanya tertuju pada semua yang mendengarkannya. Namun iris keemasannya tertuju pada lelaki berambut memutih yang duduk di seberangnya—di kursi pemimpin. Seolah mengejek dan mencemooh lelaki tersebut.
"Ingatlah, prajurit-prajurit itu tidak sama seperti senjata yang bisa kita gunakan, lalu kita ganti dengan yang baru setelah mereka rusak." Balas lelaki tersebut pada pemuda berambut hitam itu. "Mereka manusia."
"Tapi mereka rela menjadi senjata untuk kita mainkan, jika untuk melindungi negara mereka." Sanggahnya dengan cerdas. Sekali lagi menguntai kata-katanya dengan terampil. "Dan memang itulah tujuan kita, melindungi Arion."
Kata-kata lelaki tersebut berhasil memantapkan keputusan anggota council lainnya untuk berpihak kepada lelaki tersebut. Mereka mulai menyerukan kesetujuan mereka satu sama lain bahkan tanpa persetujuan pemimpin mereka. Lelaki berambut hitam panjang tersebut kembali menyeringai padanya, sedangkan lelaki tua di seberangnya hanya duduk dengan topeng datar di wajahnya. Sadar, sedetik setelah lelaki muda itu membawa kata-kata 'demi Arion' dalam diskusi mereka, ia akan kalah.
"Hiruzen, aku setuju dengan yang diucapkan olehnya. Sekarang adalah kesempatan yang tepat bagi kita untuk menggertak kembali Norad." Ucap lelaki berambut memutih dan mengenakan kacamata—Homura Mitokado.
"Kita hanya akan membuang-buang waktu jika harus menunggu bantuan dari orang-orang congkak Seiryu." Danzo Shimura, lelaki lain berambut hitam dengan perban di salah satu matanya, ikut mengangguk setuju. "Jika kita tidak ingin terdesak seperti Vyn, kita harus mengambil keputusan sekarang."
Hiruzen Sarutobi hanya diam mendengar desakan-desakan dari mereka berdua, sedangkan matanya hanya tertuju pada satu-satunya anggota perempuan yang menghadiri pertemuan hari itu, Utatane Koharu. Satu-satunya anggota yang masih menimbang-nimbang keputusan yang tepat untuk di ambil. Ruangan megah tersebut hening beberapa saat, menunggu keputusan dari pertemuan hari itu.
Wanita berambut abu-abu tersebut memantapkan pilihannya. Ia mengangkat kepalanya untuk menatap pemimpin mereka, ekspresi serius terpampang di wajahnya yang mengeriput. "Maafkan aku Hiruzen, tapi kali ini aku setuju dengan apa yang mereka katakan."
Hiruzen Sarutobi sama sekali tak terkejut ketika mendengar kata-kata wanita tersebut. Ia telah menduga bahwa Koharu akan memiliki pemikiran yang sama seperti yang dimiliki oleh tiga anggota parlemen lainnya. Lelaki berambut hitam tersebut kembali menyeringai penuh kemenangan, sementara Hiruzen Sarutobi dengan berat hati harus menelan kekalahannya kali ini.
Seberapa besarpun keinginannya untuk tidak mempertaruhkan banyak nyawa prajurit, gagasan yang diusulkan oleh salah satu anggota council termuda tersebut ada benarnya. Dan seperti yang ke tiga anggota parlemen lain katakan, pantas untuk dicoba.
Tak akan ada kemenangan tanpa pengorbanan...
Ia menghela napas sejenak. Dengan memberikan iming-iming kemenangan di depan mata, lelaki itu benar-benar pintar memainkan kata-kata.
Bahkan ia mulai terbujuk untuk mengikuti apa yang ia kehendaki.
Ia membuka matanya, dan mengutarakan keputusannya dengan serius. "Baiklah, aku akan mengikuti idemu kali ini. Kita akan mengambil alih tiga kota sekaligus dalam waktu dekat. Lenz dan Rydia di wilayah Doria. Serta Kors di wilayah Mako."
"Tapi jika misi ini gagal, ini adalah kali terakhirnya aku mengikuti gagasanmu." Sarutobi Hiruzen menatap tajam lelaki berambut hitam itu sejenak, sebelum kembali melanjutkan. "Orochimaru."
Lelaki berambut hitam panjang, kulit putih pucat, juga mata keemasan yang berkilau dengan kecerdasaan itu membalas tatapan tajam tetuanya itu dengan sorot mata angkuh dan percaya diri yang tinggi. Seringai licik kembali bermain-main di bibir pucatnya.
"Khukhukhu, kita lihat saja."
TBC
Author's Note: Halo semuanya! Terima kasih bagi teman-teman yang telah meluangkan waktu untuk membaca dan review chapter sebelumnya. Maaf jika saya nggak sempat untuk bales-bales review seperti biasanya, dua minggu terakhir saya benar-benar sibuk. Sekali lagi maaf ^^
Dan juga, selamat Idul Fitri bagi yang merayakan—telat. Haha.
Sampai ketemu lagi di chapter depan :D
*curiel root: makanan chocobo di Final Fantasy XIV yang meningkatkan EXP.
