Hah.

Hah.

Suara deru napas itu terdengar begitu berat. Langkah kakinya yang berpacu cepat memenuhi keheningan malam di gang gelap itu. Gaun selutut berwarna merahnya terayun oleh angin malam. Ekspresi ketakutan terlihat kentara diwajah cantik wanita itu. Kepala dengan rambut hitamnya sering kali melihat kebelakang seolah ada sesuatu yang mengejarnya dibelakang sana.

Langkah demi langkah terus dipacunya. Mencoba mencari jalan keluar dari gang gelap itu juga dari rasa takut yang menguasai hati dan pikirannya.

Bias cahaya diujung sana membuahkan secercah harapan dihatinya. Tanpa peduli dengan rasa sakit akibat goresan dengan aspal keras dikaki telanjangnya, dia semakin memacu langkahnya. Karena semakin cepat dia berlari maka semakin cepat juga dia keluar dari ketakutan ini.

BUAGH!!

Namun saat tinggal sedikit lagi dia akan berhasil keluar, tubuh itu justru tersungkur ke tanah. Wanita cantik itu meringis kesakitan dengan mata terpejam, dan begitu dia membuka mata, yang pertama kali masuk ke penglihatannya adalah sepasang sepatu berwarna hitam berada tepat didepannya. Tatapan mata nya merangkak naik, terus naik hingga akhirnya mata itu membulat saat sepasang mata merah tajam bertatapan langsung dengan miliknya.

Tubuhnya membeku. Untuk sesaat perasaan takut kembali menghinggapinya. Ingin rasanya dia berlari dari sana tapi kakinya justru terlalu sulit untuk digerakkan. Dia merangkak mundur, menyeret tubuhnya sendiri dengan tatapan yang tak pernah lepas dari manik ruby yang menatapnya dengan tatapan yang –dia tidak tau cara menjelaskannya. Tapi yang pasti ada kegelapan yang begitu pekat diantara iris semerah darah itu, dan itu semakin membuat perasaannya tak enak.

Wanita cantik itu menoleh kebelang dan hanya kegelapan lah yang menyambutnya, bahkan sinar rembulan diatas sana terlalu enggan untuk menerangi gang gelap itu. Dia menatap sosok bertudung dengan pakaian hitam didepannya, kemudian kembali menatap kegelapan dibelakang sana.

Dengan kaki yang masih terasa lemas dia bangkit berdiri, bahkan getaran dikakinya masih kentara sekali. Tekatnya sudah bulat, dia lebih memilih berlari dikegelapan itu daripada harus berhadapan dengan sosok mengerikan yang tak dikenalnya ini.

Namun baru beberapa langkah berlari, dia kembali dihadapkan pada sosok lain yang tiba-tiba saja muncul dihadapannya. Terlalu cepat hingga dia tidak menyadarinya. Kakinya reflek bergerak mundur dengan perlahan dan matanya juga ikut bergerak liar menatap kesekeliling dengan tidak fokus.

Dia merasa seperti seekor rusa yang sedang dikepung oleh dua serigala kelapan. Tidak ada cara untuk bisa lari dari keduanya. Dia hanya bisa berharap akan ada seseorang yang datang untuk menolongnya.

Namun sepertinya itu hanya tinggal harapan ketika sosok didepannya ini bergerak cepat kearahnya untuk mencengkram lehernya. Rasa sakit menjalar ditubuh tak berdaya itu begitu sesuatu menusuk lehernya dari belakang, seolah darahnya terhisap olehnya. Mulutnya sudah membuka namun tidak ada satupun suara yang terdengar. Rasa sakit semakin bertambah karena jari dengan kuku-kuku panjang itu dengan begitu saja mengoyak dadanya, mencengkram tepat di jantungnya. Kemudian dengan mudahnya tangan itu menariknya keluar begitu saja dengan cepat, secepat nyawa wanita itu melayang.

Tubuh tak bernyawa itu dibiarkan begitu saja merosot menghantam tanah. Terlihat begitu mengenaskan dengan mata yang melotot menyiratkan rasa ketakutan dan rasa sakit yang luar biasa juga jangan lupakan besar menganga didadanya. Sedangkan jantung miliknya yang masih berdetak itu dimasukkan kedalam wadah.

"Sebaiknya kita pergi sekarang." Sosok berkuku panjang itu beralih menatap pada sosok lainnya. Mata merah yang sewarna dengan nya itu kini menatap sekeliling mereka dengan awas.

"Baiklah. Ayo pergi."

Selang beberapa menit setelah kedua sosok misterius itu berlalu, sosok lainnya muncul.

"Kita terlambat." Gumamnya pada dua sosok lain yang juga baru datang didekatnya. Sepasang mata hitam itu menatap datar pada tubuh bernyawa yang tergeletak mengenaskan dibawahnya.

Sial.

Soulmate

Romance, Fantasy

A Kihyun Fanfiction

By

Araelf Mizuchi Malter

"Hei. Kau sudah dengar berita tentang..."

Suara bisikan dari mulut ke mulut itu bagaikan dengungan lebah. Membicarakan hal yang sama, tentang penemuan mayat wanita di gang pagi ini. Tak seorang pun yang mau melewatkan berita-berita terkait masalah itu, hingga akhirnya muncul hipotesa-hipotesa yang belum tentu kebenarannya.

Kyuhyun mendengus, kesal karena suara berisik itu sangat mengganggu. Kedua tangannya digunakan untuk menutup telinga, berharap tidak mendengar apapun. Walaupun kenyataannya hanya sia-sia karena tetap saja suara-suara itu merangsek masuk ke telinganya.

"Ck! Tidak bisakah mereka diam."

"Sepertinya tidak." Ucap Eunhyuk cuek. Dia juga sama terganggunya tapi tidak separah Kyuhyun.

"Aku juga sudah membaca beritanya di internet." Ryeowook meletakkan nampan makanannya disamping Eunhyuk, kemudian mendudukkan dirinya disana. "Benar-benar mengerikan. Ada dua tusukan dilehernya dan dadanya berlubang dengan darah yang –."

"YA! Tidak bisakah kalian diam? Aku datang kesini untuk makan siang bukan untuk mendengarkan tentang cerita tidak bermutu itu."

"Bilang saja kau takut, Kyu."

Tatapan tajam Kyuhyun berikan pada Eunhyuk. Monyet satu ini sedari tadi selalu saja menjawab kata-katanya dengan tampang cuek. Bibir pink nya sudah membuka siap melontarkan kata-kata yang tidak sehat jika didengar telinga. Namun sebelum satu kata pun terucap, bibir itu kembali tertutup rapat saat sebuah nampan diletakkan begitu saja disampingnya. Caramel bening Kyuhyun mendongak hingga akhirnya berpapasan dengan iris sekelam malam milik Kibum.

"Boleh aku duduk disini?"

Itu hanya pertanyaan basa-basi karena nyatanya Kibum sudah lebih dulu mendudukkan dirinya disamping Kyuhyun tanpa menunggu jawaban darinya. Yesung yang sesari tadi berdiri didekat Kibum ikut mendudukkan diri disisi lain Kyuhyun. Sedang Donghae, namja tampan bermata sendu itu sudah terlebih dahulu mendudukkan dirinya disamping Eunhyuk tanpa permisi. Bahkan dengan sengaja mendekat dirinya pada Eunhyuk hingga bahu keduanya saling menempel, membuat namja dengan gummy smile nya yang manis itu merona merah dan Donghae menyeringai senang melihat hasil perbuatannya.

Hening.

Suasana kantin yang tadinya ramai kini menjadi tenang. Semua pasang mata kini mengarah pada enam namja yang beberapa hari ini menjadi cukup dekat. Masalah yang sedaritadi mereka bicarakan pun seolah terlupakan.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari Kibum untuk menatap pada sekitar. Seperti biasa, saat caramel nya menatap pada mereka, Kyuhyun dapat merasakan tatapan iri, cemburu dan benci yang diarahkan padanya.

Kyuhyun tersenyum maklum. Siapa yang suka jika idola mereka dekat dengan orang lain? Dia bahkan masih ingat bagaimana reaksi Eunhyuk dan Ryeowook saat melihat ada Kibum dirumahnya pagi itu. Mereka memang bersikap biasa saja didepan Kibum, tapi begitu senior tampan mereka itu pergi barulah keduanya membondong Kyuhyun dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Kyuhyun merasa seperti penjahat yang diintrogasi oleh polisi. Dan mereka baru bisa diam saat Kyuhyun sudah menjelaskannya, walaupun masih ada ekspresi tak percaya diwajah keduanya.

Tepukan di pahanya membuat Kyuhyun tersentak. Dia menoleh dan mendapati tatapan Kibum terarah padanya. Sadarlah Kyuhyun bahwa Kibum lah yang melakukannya, bahkan tangan namja itu masih berada di pahanya. Dan sentuhan sederhana itu sudah mampu membuat jantung Kyuhyun kembali berdetak kencang.

"Jangan pedulikan mereka."

Bisikan lembut Kibum ditelinganya malah membuat jantung Kyuhyun semakin menggila.

Hah. Ini tidak baik.

"Semua orang sibuk sekali bergosip." Gumam Donghae begitu telinganya mendengar beberapa mahasiswa kembali membicarakan hal yang sama.

"Begitulah mereka."

Donghae tersenyum senang karena Eunhyuk menanggapi gumammannya tadi. Suara itu terdengar begitu manis ditelinganya apalagi ditambah dengan gummy smile nya yang manis. Donghae merasa dia akan menderita diabetes sebentar lagi.

"Kyuhyun saja sudah seperti orang gila mendengar mereka selalu membicarakan hal itu." Ucap Ryeowook menimpali.

Kini semua pasang mata menatap pada si pemilik nama yang balik menatap melotot pada mereka. "Apa? Itu karena mereka terlalu berisik, aku jadi merasa terganggu."

Mereka mengangguk paham. Percuma jika melawan setan Cho yang satu ini.

"Jika melihat situasi sekarang ini, kurasa kalian harus lebih berhati-hati." Yesung berucap dengan pelan. Namja tampan dengan aura misterius itu seperti sedang berada di dunianya sendiri, mulutnya berbicara tetapi matanya menatap kosong kearah depan.

"Jangan hiraukan dia." Gurau Donghae yang melihat sifat aneh Yesung kembali muncul. Namun begitu mata tajam itu mengarah padanya, Donghae langsung mengalihkan pandang.

"Aku serius."

"Kurasa Yesung benar." Ucap Kibum menengahi. "Memangnya kalian tidak takut?"

"Katakan itu pada Kyuhyun. Mendengar ceritanya saja dia sudah ketakutan apalagi –OUCH!."

Belum selesai dia bicara, Eunhyuk sudah merasakan rasa sakit dikakinya, tepat ditulang keringnya. Tangan kirinya gerapan mencari sesuatu yang bisa dia genggam untuk melampiaskan rasa sakit, sedang tangan lainnya sibuk mengusap bagian yang kena tendangan dengan bibir bawah yang digigit.

Setelah dirasa sakitnya sudah berkurang, Eunhyuk menatap si tersangka dengan ekspresi yang dibuat menyeramkan –yang jujur saja tidak menakutkan sama sekali.

"Ya! Kenapa kau menendangku?" Tuding Eunhyuk pada Kyuhyun yang memasang wajah super polosnya.

"Kapan aku melakukannya?"

Eunhyuk mendengus. "Jangan memasang wajah innocent seperti itu, aku tidak akan tertipu."

Masih dengan wajah polos yang sama. "Wajahku memang seperti ini, Hyuk. Memang apa yang salah dengan wajahku."

"Masalahnya wajahmu itu tidak cocok dengan kelakuanmu." Ucap Eunhyuk tajam. "Wajahmu boleh innocent tapi kelakuanmu insolent. Kau pikir aku tidak tau kau yang tadi menendangku."

Wajah polos Kyuhyun langsung berubah 180 begitu seringaian tersungging dibibirnya. Tangannya bersedekap. "Bagus kalau kau tau."

"Kau ini benar-benar."

Dan akhirnya pertengkaran tak tau malu dan tempat itu kembali terjadi untuk kesekian kalinya. Mereka saling membalas dengan tajam tidak mempedulikan berpuluh pasang mata yang kini menjadikan mereka objek tontonan, bahkan Kibum dan Donghae yang ingin meleraipun tidak dihiraukan.

"Kau tidak ingin bergabung dengan dua teman aneh mu itu?" Yesung bertanya pada Ryeowook yang seolah tidak terganggu dengan pertengkaran kedua temannya. Namja imut itu bahkan dengan santai meminum orange jus miliknya.

"Kurasa dua orang aneh sudah cukup." Ryeowook tersenyum manis pada Yesung. "Aku tidak ingin menjadi orang aneh ketiga yang bergabung dengan pertengkaran aneh mereka."

Yesung mengangguk membenarkan perkataan Ryeowook. Dua orang aneh saja sudah cukup membuat telinganya sakit, bagaimana jika Ryeowook dengan suara cemprengnya ikut berteriak seperti mereka. Yesung tidak mau membayangkannya.

"Kau tidak ingin menghentikan mereka." Ujar Yesung lagi saat teriakan keduanya semakin keras terdengar.

"Kurasa aku memang harus melakukannya." Ucap Ryeowook seraya tangannya mengambil sendok dinampannya. Seperti sudah terbiasa, tangan mungil itu bergerak cepat memukul kepala Kyuhyun dan Eunhyuk.

Dugh! Dugh!

"Berhentilah bertengkar."

Bagaikan mantra sihir, Eunhyuk dan Kyuhyun langsung menghentikan pertengkaran mereka begitu saja. Keduanya terdiam tanpa berani bergerak, bahkan tiga namja tampan didekat mereka juga ikut terdiam menyaksikan kesadian seorang Kim Ryeowook.

"Sakit." Gumam Eunhyuk pelan, takut jika dia berbicara terlalu keras Ryeowook akan memukulnya lagi. Usapan lembut ditangannya Eunhyuk rasakan dan wajahnya langsung memerah begitu sadar sedari tadi dia menggenggam tangan Donghae. Belum hilang rona merah diwajahnya, tangan Donghae kini sudah berpindah mengusap kepalanya dengan tak kalah lembut.

"Sakit?" Eunhyuk mengangguk kaku tanpa berani sedikitpun menatap pada Donghae, dia lebih memilih menatap pada makanan miliknya yang belum tersentuh. Namun kecupan lembut dipucuk kepalanya membuat Eunhyuk tersentak. Namja manis itu mendongak dan dia menyesal setelahnya karena wajah Donghae terasa begitu dekat dengan wajahnya, ditambah lagi dengan senyum manis yang namja tampan itu berikan padanya. Eunhyuk tidak tau semerah apa wajahnya sekarang, tapi yang pasti terasa sangat panas.

"Ck! Menyebalkan." Kyuhyun bergumam kesal karena harus menyaksikan adegan lovey dovey didepannya ini secara langsung, salahkan posisinya yang berhadapan langsung dengan keduanya.

Mencoba tak peduli dengan rasa kesal dan sakit dikepalanya, Kyuhyun lebih memilih memakan makanannya. Dia tidak ingin merengek sakit seperti Eunhyuk, Kyuhyun itu laki-laki dan laki-laki tidak merengek seperti perempuan.

Ini masih belum seberapa, Ryeowook dulu pernah memukulnya dengan kamus tebal dan Heechul Eomma nya juga sering melemparnya dengan majalah fashion. Dan Kyuhyun tidak masalah dengan itu. Yang jadi masalahnya adalah kenapa Ryeowook harus memukulnya didepan Kibum? Didepan orang lain atau bahkan didepan umum pun boleh, asalkan tidak ada Kibum disana. Itu secara tidak langsung menghancurkan harga diri Kyuhyun didepan Hyung tampannya itu.

Kyuhyun tersentak kaget ditengah kegiatan menyuapnya saat tangan Kibum mengusap kepalanya dengan lembut seperti yang tadi Donghae lakukan pada Eunhyuk. Tapi bedanya tidak ada kata yang terucap dan juga tidak ada kecupan lembut di kepala, yang ada hanya tatapan dari mata hitam Kibum yang menyorot hangat padanya, membuat Kyuhyun merasa jantungnya berhenti berdetak dan pasokan udara di paru-parunya menghilang begitu saja.

Hingga saat senyum tipis tersungging dibibir Kibum, Kyuhyun langsung tersedak dengan tidak elitnya.

Araelf

Caramel Kyuhyun menatap keluar jendela, diluar sana cukup sepi. Sepanjang jalan yang mereka lalui dia hanya mendapati pepohonan yang berjejer rapi dikanan dan kirinya . Kyuhyun tidak tau dimana mereka sekarang, bahkan dia tidak pernah tau ada tempat seperti ini di Seoul. Padahal niat awalnya Kibum bilang ingin mengantarnya pulang, tapi jelas-jelas ini bukan jalan menuju rumahnya.

Tidak mau menebak-nebak yang justru akan membuat pikiran buruknya muncul, Kyuhyun akhirnya memilih bertanya pada Kibum. "Kita mau kemana Hyung?"

"Kesuatu tempat."

Kyuhyun memutar matanya, itu jelas-jelas bukan jawaban yang Kyuhyun butuhkan.

"Kau akan tau nanti."

Karena Kibum sudah bilang begitu Kyuhyun bisa apa selain menunggu. Percuma saja memaksa Kibum, namja tampan itu tidak akan mau memberitahunya jika memang tidak ingin.

Kyuhyun menguap. Suasana sepi dan tenang disekitarnya membuat Kyuhyun mengantuk walaupun matahari diatas sana bersinar terang. Setelah beberapa menit mencoba membuka matanya yang tiba-tiba saja terasa berat, Kyuhyun akhirnya menyerah dan membiarkan kantuk menenggelamkannya dalam lautan mimpi.

Kyuhyun tidak tau sudah berapa lama dia tertidur, tapi yang dia tau hari kini sudah beranjak sore dilihat dari sang senja yang sudah menampakkan diri. Kyuhyun menoleh kesamping hanya untuk mendapati Kibum tidak ada dibalik kemudi, hanya dia yang ada didalam mobil itu. Dengan tergesa-gesa Kyuhyun keluar dan hal pertama yang dilihatnya adalah hamparan hijau nan luas seperti padang rumput. Angin sore hari ikut berhembus menyapanya. Sepasang mata bulat itu mengedar berharap mememukan sosok Kibum disekitarnya tetapi nihil, lagi-lagi hanya ada dia disana.

Apa Kibum meninggalkannya sendiri disini?

Rasa panik melanda dan berbagai pikiran buruk mulai bermunculan dipikiran Kyuhyun tapi sebisa mungkin dia menampiknya. Kyuhyun melangkah cepat kedepan tanpa tujuan yang jelas, hanya membiarkan saja kemana kakinya melangkah. Hingga akhirnya Kyuhyun berhenti berjalan, mata caramel nya berbinar begitu terang dengan senyum penuh kekaguman, hilang sudah rasa khawatir nya begitu melihat pemandangan indah didepan sana. Hamparan bunga matahari ditengah luasnya padang rumput.

Kyuhyun mendekat, memperhatikan dari dekat betapa indah nya bunga matahari yang sedang bermekaran itu.

SRAK!

Suara dedaunan yang bergesekkan dengan sesuatu menarik perhatian Kyuhyun. Dan ketika dia menoleh, Kyuhyun mendapati Kibum berdiri ditengah hamparan bunga matahari itu.

Senyum lega muncul diwajahnya, ingin sekali rasanya berteriak agar Kibum menyadari keberadaannya. Namun saat melihat ekspresi Kibum, Kyuhyun mengurungkan niatnya.

Ekspresi diwajah tampan itu benar-benar asing, Kyuhyun baru pertama kali melihatnya. Dia bisa melihat berbagai macam rasa berkecamuk dalam mata kelam itu. Ada perasaan yang mendalam disana, tentang kerinduan, penyesalan dan kesedihan tetapi disaat bersamaan juga ada cinta yang begitu besar disana.

Deg!!

Tangan Kyuhyun memegang dadanya sendiri, dimana jantungnya kini berdetak keras. Tidak tau mengapa rasanya sangat menyesakkan hingga Kyuhyun harus mencengkramnya dengan erat.

Menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.

Kyuhyun terus melakukan itu hingga rasa sesaknya berangsur menghilang. Tapi dia tidak beranjak dari posisinya, tetap berdiri disana memandang Kibum dalam diam. Hingga akhirnya iris beda warna itu bertemu.

Kyuhyun memberikan senyum manisnya dan melangkah dijalan setapak kecil diantara bunga-bunga itu untuk mendekat begitu Kibum melambai padanya.

"Maaf meninggalkanmu sendiri. Kau tidur sangat nyenyak, aku jadi tidak tega membangunkamu."

Kyuhyun mengangguk. Kalau itu alasannya dia tidak akan marah, bahkan Kyuhyun tidak yakin apa dia bisa marah pada Kibum.

"Bagaimana menurutmu."

"Hm?"

"Tempat ini."

"Ah." Kyuhyun mengangguk. "Ini tempat yang indah. Aku tidak tau ada tempat seperti ini."

"Kau menyukainya?"

"Tentu saja."

"Aku juga."

Kyuhyun langsung menoleh saat kata-kata itu terucap. Dia menatap aneh pada Kibum. "Hyung suka bunga?"

"Hanya bunga matahari. Kenapa? Apakah itu aneh."

"Errr, tidak?"

"Tapi ekspresimu mengatakan iya."

Kibum terkekeh melihat ekspresi Kyuhyun yang tidak bisa membalas kata-katanya. Wajah manis itu terlihat begitu lucu saat menatapnya. Membuat Kibum jadi ingin menggodanya.

"Bagaimana jika kubilang aku yang menanam ini semua?"

Dan Kibum mendapatkan ekspresi seperti yang sudah diperkirakannya dari Kyuhyun. Mata bulat itu semakin membulat dengan ekspresi terkejut.

"Eh?? Hyung bercandakan?"

"Menurutmu?."

Ingin sekali rasanya Kyuhyun mengangguk mengatakan bahwa Kibum pasti sedang bercanda tapi melihat dari wajah Kibum yang serius Kyuhyun jadi ragu. Jika Kyuhyun bilang iya, ekspresi Kibum meragukan. Tapi jika Kyuhyun bilang tidak, ekspresi Kibum bahkan sangat meragukan. Wajah itu terlalu tampan untuk ukuran orang yang suka menanam bunga.

"Aku bercanda. Seseorang yang menanam semua ini, aku hanya membantu merawatnya."

Entah kenapa Kyuhyun menghembuskan napas lega mendengar itu. Jujur saja dia tidak bisa membayangkan Kibum dengan sekop ditangannya sedang menanam bunga. Itu sangat aneh, lebih aneh daripada saat mendengar Eomma nya akan membuang semua alat make up nya.

Kyuhyun menggeleng keras, mengusir bayangan-bayangan aneh dikepalanya. Dia kembali menatap Kibum. "Siapa yang menanam ini semua, Hyung?"

"Seseorang yang kukenal."

Untuk sesaat Kyuhyun kembali melihat ekspresi asing itu diwajah Kibum, tapi hanya sebentar karena setelahnya wajah itu kembali datar.

"Lalu kenapa Hyung menyukai bunga matahari."

Kibum tersenyum tipis. Pertanyaan itu juga pernah ditanyakannya pada seseorang. Dan Kibum masih ingat dengan jelas jawabannya hingga sekarang.

"Karena bunga matahari adalah lambang dari kesetiaan."Kibum memperhatikan bagaimana sosok itu tersenyum begitu manis saat mengucapkan kata-kata itu. Berbeda sekali dengan dirinya yang justru sama sekali tak mengerti.

"Darimana kau tau itu?"

Dia beralih menatap setangkai bunga matahari ditangannya, dan senyuman masih setia dibibir pink nya. "Bunga matahari selamanya hanya akan menatap pergerakan matahari. Saat matahari tidak ada, ia akan merunduk lesu. Bahkan tidak mau melirik bulan yang lebih cantik dari Matahari.""

Bunga matahari memang selalu melihat dan mengikuti kemanapun matahari pergi,tapi pernahkah matahari melihatnya? Mungkin matahari menganggapnya tak lebih dari bunga-bunga lainnya. Sama, tidak ada bedanya. Karena itulah dia membiarkannya layu dimalam hari."Kibum tidak mengerti defenisi kesetiaan itu apa. Dia juga tidak percaya akan ada seseorang yang akan tetap bertahan saat orang yang dipertahankan bahkan tidak menyadari keberadaannya. Lambat laun mereka akan menyerah dan pergi meninggalkan.

Sosok rupawan itu mendongak, mencoba menatap matahari diatas sana yang tentu saja tidak akan mungkin. Karena itulah setelahnya dia kembali menatap bunga mataharinya. "Mungkin matahari memang egois karena tidak sedikitpun menunjukkan rasa cintanya pada bunga matahari. Dia selalu datang dipagi hari hanya untuk menghilang dimalam hari, meninggalkannya layu dalam kedinginan malam. Tapi itu tidak masalah, karena bunga matahari tau seberapa kali pun matahari meninggalkannya, dia akan tetap kembali padanya."

Kibum mendengus. "Kenapa dia tidak lelah terus mengikuti dan melihat kemanapun matahari pergi. Kenapa dia tidak menyerah mengaguminya? Padahal dia tau matahari hanya bisa tetap berada jauh darinya. Seberapun dia ingin mendekat, dia takkan bisa. karena mereka hanya bisa ditakdirkan untuk saling melihat."

"Mereka memang tidak punya kesempatan untuk bicara karena jarak yang memisahkan. Tapi, mereka punya caranya sendiri untuk menyatakan rasa cinta mereka."

"Bagaimana caranya?"

"Lewat tatapan yang mereka bagi."

Lidah Kibum terasa kelu, matanya bahkan tak mampu beralih pandang dari mata yang menatap lurus padanya. Ada kehangatan dan ketulusan disana, yang mampu membuat Kibum tenggelam kedalamnya dan dia tidak tau bagaimana caranya untuk keluar dari sana.

Namja tampan itu tersenyum miris, menertawakan dirinya sendiri. Dulu dia yang begitu keukeuh membantah setiap perkataannya, tapi sekarang Kibum justru merasa dia seperti bunga matahari. Selalu setia menunggu hingga sang mentari kembali lagi kepadanya.

Dipetiknya setangkai bunga matahari untuk kemudian diberikannya pada Kyuhyun yang masih menunggu jawaban darinya.

"Karena bunga matahari adalah lambang dari kesetiaan."

Hanya kata itu yang bisa Kibum berikan sebagai jawaban. Dia berharap semoga Kyuhyun mengerti, karena tidak mungkin dia harus menjelaskannya seperti yang orang itu lakukan.

"Hyung menyukainya?"

"Siapa?"

"Seseorang yang menanam ini semua."

Tidak pernah sekalipun Kibum menyangka bahwa Kyuhyun akan bertanya seperti itu. Dia tidak siap untuk pertanyaan seperti ini, tapi yang pasti Kibum selalu punya jawabannya.

"Ya, aku mencintainya. Bahkan hingga sekarang." Ucap Kibum sambil menatap hamparan bunga matahari didepannya.

Tanpa mempedulikan Kyuhyun yang kini terdiam dengan jantung yang berdetak menyakitkan. Kibum bilang mencintainya, bukan hanya sekedar suka. Kyuhyun tidak tau rasanya akan sesakit ini. Ditolak bahkan sebelum perasaan itu terucap.

Araelf

Ruangan itu begitu hening, suasana didalamnya pun terasa begitu mencengkam. Tiga orang namja duduk saling berhadapan namun tak ada satupun yang berbicara untuk beberapa saat.

"Kurasa mereka sudah mulai bergerak." Suara berat nan dalam itu memecah keheningan diantara ketiganya.

"Apa maksudmu?" Namja kedua menatapnya dengan bingung. Berbagai macam pertanyaan bertumpuk dikelapanya

Namja pertama tidak menjawab. Dia menghela napas pelan kemudian bangkit berdiri dan berjalan masuk kesebuah ruangan. Beberapa saat kemudian dia kembali dengan secarik kertas ditangan kanan.

"Aku menemukan ini beberapa hari yang lalu."

Semua pasang mata kini menatap pada secarik kertas yang kini tergeletak diatas meja. Kertas itu bertuliskan kata 'Bersiaplah' dengan tinta merah darah. Hanya satu kata sederhana tapi mereka tau siapa yang mengirimkan ini dan apa maksudnya.

"Dimana kau menemukan ini?" Namja lainnya yang sedari tadi terdiam akhirnya buka suara. Mata tajamnya semakin terlihat tajam saat mendengar jawaban dari pertanyaannya. "Didepan pintu apartementku."

"Jika mereka sampai seberani itu meletakkan ini disini dan juga melihat dari kejadian yang terjadi malam itu, kurasa mereka benar-benar serius." Tak ada yang meragukan pengamatan namja itu. Dia punya intuisi yang tajam, kedua namja yang lainnya pun sudah mengakui itu.

"Jadi apa yang harus kita lakukan?"

TBC

Err, Hi??

Udah tiga tahun fanfic ini dianggurin XP

Tiba-tiba aja dapet ide yang cocok sama ide awal cerita ini.

Semoga ngga mengecewakan XD