Disclaimer: Detective Conan punya Aoyama Gosho, Black Bulter punya Yana Toboso, yang punya saya cuma ide sinting bikin ini fic. Ide sintingnya juga masih terinspirasi dari game Criminal Case, bukunya S. Marga GD dan terutama novel-novelnya Agatha Christie (pada dasarnya, datang ide pas baca Evil Under The Sun – Pembunuhan di Teluk Pixy). Gambar cover bukan punya saya juga, saya cuma nyolong di Abah Google XD
Warning: spoiler alert bagi kedua manga, AU, OOC, mungkin kata-kata kasar, fic eksperimen (?)
.
.
.
Bot cokelat dengan hak lima senti itu melangkah satu langkah ke depan, membuat pemiliknya berada tepat di depan perbatasan kamar dengan lorong. Kepalanya terangkat ke atas, mencoba menepis kegugupannya. Shinichi masih memperhatikannya. Gadis itu mendadak melepaskan kacamata tebalnya, memperlihatkan wajah aslinya yang manis, perpaduan yang tepat dengan rambut pinknya.
"Baiklah, Nona Maylene." Shinichi meraih pergelangan tangan Rachel, "kapan Anda menemukan korban dalam keadaan seperti ini?"
"Sekitar... sekitar jam tujuh lebih dua puluh." Wanita itu mencoba menenangkan dirinya, "sebenarnya, Tuan Muda Ciel yang menemukannya terlebih dahulu."
Shinichi mengerutkan kening, "apa maksudnya?"
"Ia benar." Vincent menoleh pada putranya, "apakah putraku harus ikut menjadi saksi?"
Shinichi menimbang. "Nona Maylene, tolong lanjutkan ceritanya."
"Tuan Muda mengetahui ibunya sedang bersedih, dan bertekad untuk menghiburnya. Tuan Muda memiliki hobi menggambar dan ibunya menyukai lukisannya. Ia membawa salah satu hasil lukisannya untuk diperlihatkan pada Nyonya. Tuan Muda menemui Nyonya sedang terlelap dalam tidurnya. Tadinya, Tuan Muda tidak ingin membangunkannya, namun ia melihat tangan kanan Nyonya terjulur begitu saja. Ia kaget melihat guratan pada pergelangan tangan Nyonya, lalu mencoba membangunkannya. Tentu saja Nyonya tidak bangun, padahal Nyonya bukanlah tipikal orang yang dapat tertidur begitu lelap. Tuan Muda menjadi panik karenanya, lalu ia berteriak memanggil Nyonya. Kebetulan saya sedang melintas di depan kamar dan mendengar jeritan Tuan Muda. Saya menengok ke dalam kamar yang terbuka lebar, dan segera saya melihat pisau berlumuran darah –ya, pisau yang sama dengan yang sekarang sedang dipegang oleh Tuan Kudo– tergeletak begitu saja di lantai."
"Apa yang kau lakukan selanjutnya?"
"Secara refleks saya meminta Tuan Muda untuk keluar kamar, dan Tuan Muda tidak menurutinya. Ia malah naik ke atas ranjang, terus memanggil Nyonya. Akhirnya, saya berinisiatif untuk menarik paksa Tuan Muda keluar kamar sebelum menghubungi polisi."
"Terdengar seperti Anda telah mengira bahwa Nyonya Phantomhive memang dibunuh."
"Saya… memang memiliki pemikiran seperti itu." Suara Mey-Rin kembali bergetar, "menurut saya, hal yang paling mustahil terjadi di rumah ini adalah melihat Nyonya memegang pisau."
Shinichi menoleh pada Vincent yang mengangguk kecil kepadanya. "Apakah Anda mengetahui Nyonya Phantomhive memiliki fobia pada pisau?"
"Saya pernah menduganya." Mey-Rin mengenakan kembali kacamatanya, "menyiapkan meja makan adalah salah satu tugas saya selama enam tahun ini, dan dari awal Nyonya sudah memberi peringatan pada saya agar jangan pernah menyiapkan pisau untuknya. Saya pernah lalai dan menyiapkan pisau di samping piringnya, dan saya segera diomeli Nyonya dengan wajah pucat pasi, ketakutannya bak saya menghadapkan seekor Singa Afrika di depan wajahnya..."
"Nyonya pernah bercerita pada Anda tentang fobianya?"
"Tidak. Nyonya tidak akan menceritakan hal konyol seperti itu pada seorang pelayan."
"Menurut Anda, tipikal seperti apa Nyonya Phantomhive ini?"
"Nyonya adalah seorang wanita yang anggun dan sayang keluarga. Nyonya juga ramah terhadap setiap tamu yang datang, namun tidak dengan cara yang berlebihan. Nyonya tipikal wanita yang berhati-hati bila berbicara, terutama terhadap pria. Nyonya sangat membanggakan kemampuan melukis Tuan Muda. Nyonya juga memperlakukan kami dengan baik. Ia akan menegur kami secara baik-baik bila kami salah, terkecuali bila berhubungan dengan pisau atau kami lalai berkali-kali."
"Apakah Anda sempat melihat lukisan apa yang hendak diperlihatkan pada korban?"
Mey-Rin mengerutkan dahinya, "saya sempat melihatnya sepintas. Tuan Muda melukiskan empat buah bunga tulip dengan empat warna yang berbeda – saya kurang ingat warna apa saja itu. Oh ya, Tuan Muda memakai buku gambar A4 sebagai wahana melukisnya."
Shinichi mencoba mencari buku gambar yang dimaksud, namun ia tidak berhasil menemukannya.
"Sebelum saya datang, selain Anda dan Ciel, adakah orang lain yang sempat memasuki kamar ini?"
Responnya adalah gelengan kepala Mey-Rin, "tidak. Saya melarang seorang pun masuk ke dalam, saya bilang pada semua orang bahwa saya telah menemui Nyonya dalam kondisi seperti ini."
"Ma–maaf, apakah ini yang Anda cari, Tuan Kudo?"
Shinichi berpaling pada arah suara. Ciel berdiri di belakang Mey-Rin sambil memegang sebuah buku gambar ukuran A4. Buku gambar itu jelas menarik perhatian Shinichi yang perlahan mendekati anak itu. Ia diam saja ketika melihat Ciel enggan menyerahkan buku gambarnya sebelum ayahnya angkat bicara.
"Maaf, saya harus meminjam bukumu agak lama. Tidak apa, 'kan? Nanti pasti saya kembalikan."
Shinichi sebenarnya sedikit menyesal melihat ekspresi pada wajah Ciel. Pertama, ini pasti akan membuat Ciel ketakutan. Kedua, buku gambar itu tidak berarti banyak. Tidak ada indikasi yang menunjukkan buku ini pernah terjatuh mengenai pisau atau lantai dengan bercak darah. Namun, Shinichi memilih untuk membungkus buku itu.
"Maafkan saya, tetapi bolehkah saya tahu di mana buku ini berada ketika kau menyadari… mamamu tidak merespon panggilanmu?"
"Di atas dadanya! Aku ingat, aku mengguncang tubuh Mama yang tidak bangun-bangun, baru setelahnya aku melihat ada luka mengerikan pada tangannya!"
"Baiklah, terima kasih atas kesaksiannya, Ciel." Shinichi menoleh pada Vincent, "dapatkah saya meminjam semua alas kaki yang dikenakan orang dalam rumah untuk diambil print-nya?"
"Silakan – katakan saja barang apa yang Anda perlukan untuk penyelidikan ini, Tuan Kudo."
"Tuan Phantomhive, saya merasakan hal yang ganjil. Maafkan saya bila pertanyaan ini kurang etis – apakah semalam Anda tidak tidur dengan istri Anda?"
"Saya memang tidak di rumah tadi malam. Saya pergi rapat bersama Diederich sekitar jam setengah tiga sore dan menginap di Hotel Victoria –tempat rapat diadakan– di kamar 432. Anda dapat menghubungi Tuan Dave Lecture atau Hotel Victoria untuk memastikan hal ini. Tuan Lecture adalah developer yang bekerja sama dengan kami untuk proyek pembangunan kompleks di daerah pantai." Vincent memberikan kartu nama Dave Lecture pada Shinichi.
"Dan Anda baru pulang setelah Nona Maylene menghubungi Anda atas terjadinya kasus ini?"
"Tidak, Mey-Rin belum sempat menghubungi saya. Saya dan Diederich memang berniat kembali pagi-pagi, karena saya memikirkan Rachel –sebenarnya saya berniat tidak datang meeting, namun rapat kemarin membahas hal yang urgent dan tidak dapat ditunda– dan meeting-nya memang telah tuntas saat malam kemarin. Saya berangkat dari hotel sekitar pukul enam lebih empat puluh menit – saya ingat persis karena hotel itu bersebrangan dengan sebuah sekolah yang membunyikan belnya lebih cepat lima menit dari biasa."
Diederich ikut angkat bicara, "kami sampai rumah jam setengah delapan pas, bertepatan dengan waktu sarapan pagi dibersihkan. Baru saja melepas lelah, kami dikejutkan dengan kedatangan Ciel yang langsung memeluk Vincent erat-erat. Aku merasa ada yang janggal di rumah. Aku masuk ke dalam dan menemui seluruh pekerja dalam keadaan gugup. Mereka semua memilih bungkam, terkecuali Sebastian yang memberitahuku tentang semua ini. Lalu, aku memberitahu Vincent yang memutuskan untuk mengikuti saranku agar melapor pada polisi. Dan akan lebih baik kalau aku bilang bahwa aku mengetahui tentang fobia yang diderita Rachel sebelum kau bertanya soal itu padaku."
Shinichi mengangguk sebagai respon. Ia kembali mempelajari guratan pada pergelangan tangan Rachel. Guratan itu berbentuk luka horizontal, dengan panjang sejauh jarak dari jari telunjuk menuju pertengahan antara jari manis dan kelingking.
"Ka–kakak?!"
Suara jeritan seorang wanita membuyarkan fokus Shinichi. Ia mengarahkan matanya pada arah suara dan menemukan seorang wanita sedang menutupi mulut dengan wajah kagetnya. Shinichi berdiri dari posisinya, mengamati wanita tersebut. Rambut merahnya dipotong dengan gaya pendek pada tengah belakang, memperlihatkan jelas kulitnya yang berwarna putih kepucatan. Kedua bola matanya pun berwarna kemerahan, begitu juga dengan pakaian dan sepatunya, terkecuali jas dokternya yang berwarna putih.
"Selamat pagi. Apakah benar Anda adalah adik dari Nyonya Rachel Durless-Phantomhive?"
"Ya, saya orang yang Anda cari." Angelina memelankan suaranya, "kenapa bisa... astaga Tuhan–"
"Nyonya Angelina Bernett, apakah Anda memiliki kesibukan hari ini?"
"Bisa dikatakan begitu, tetapi saya telah menghubungi rekan-rekan saya tentang kemungkinan saya tidak hadir hari ini."
"Baiklah, mari kita langsung menuju intinya. Tuan Phantomhive berkata bahwa Anda datang berkunjung kemari sekitar jam setengah tiga sore. Apakah itu benar?"
"Tentu saja itu benar. Saya sempat berpapasan dengan Vincent dan rekannya –ya, orangnya sama dengan pria yang berada di sampingnya kini– yang sedang terburu-buru hendak pergi menghadiri rapat. Menurut Kakak, rapat itu amat penting hingga dia menghubungi saya untuk menemaninya."
"Apakah korban pernah mengisyaratkan bahwa ia berkeinginan untuk bunuh diri?"
"–bunuh diri? Bagaimana yah… tentu saja dia sangat terpukul mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. Ia memang menjadikan aborsi sebagai topik pembicaraan utama. Ia sungguh tidak ingin melakukan hal itu. Saya memang sempat berkata bahwa konon ada kehamilan ektopik yang berhasil selamat dengan operasi caesar, namun kemungkinan untuk ini terlalu kecil dan saya sendiri belum pernah melakukan operasi terhadap kasus semacam itu. Dan Anda dapat menebak bahwa ia sebenarnya ketakutan menghadapi operasi – meskipun dibius, ia tahu kalau operasi itu tentu saja menggunakan pisau. Mungkin terdengar konyol, tetapi semuanya akan lain bagi pengidap fobia."
"Apakah Anda ingat, jam berapa Anda meninggalkan rumah ini?"
Angelina mengingat-ingat, "sekitar jam setengah sebelas malam."
Shinichi memfokuskan penglihatannya pada Angelina, "malam sekali. Apakah korban tidak meminta Anda untuk menginap saja menemani dirinya – mengingat kondisi korban yang sedang begitu tertekan?"
"Pada saat saya sampai, Kakak memang memintaku untuk menginap. Tetapi, pada malam hari kami beradu pendapat dan tak terselesaikan… kami sama-sama lelah menghadapi perdebatan itu. Akhirnya, saya memilih untuk mengundurkan diri dan memutuskan untuk mencoba membicarakannya hari ini sepulang kerja. Saya tidak menyangka perdebatan itu adalah pembicaraan terakhir kami…"
"Apakah Anda sempat bertemu dengan seseorang saat Anda hendak pulang?"
"Tentu saja. Saya bertemu dengan Sebastian, dia yang membukakan pintu dan menguncinya saat saya pulang."
"Di mana Anda bertemu dengan Sebastian?"
"Di ruang tamu."
"Anda tidak bertemu dengan siapapun sebelum dengan Sebastian menjelang Anda pulang?"
"Tidak. Sepertinya pelayan yang lain sudah tertidur terlebih dahulu."
Terjadi keheningan sampai Takagi mendekati Shinichi dan memperhatikan Rachel yang terbujur kaku.
"Tuan Phantomhive," Takagi memecahkan keheningan, "izinkan kami membawa korban untuk diotopsi."
Senyap.
"Silakan."
Raut keberatan lah yang diterima oleh sersan itu.
.
.
.
TBC
–
Keterangan:
Hotel Victoria: tempat ini namanya saya ngarang sendiri. Jadi kalau ada hotel yang namanya sama dan tempatnya ternyata nggak sama dengan yang dideskripsikan (sebrang sekolah dan ada kamar 432) saya minta maaf. Mungkin namanya memang terlalu umum. #okelahapaini
–
Author Notes:
Sorry part ini lebih pendek dari yang sebelumnya ._.v
Saya mendadak mati ide nih ngetiknya. Mana besok saya pergi retreat, jadi gak bisa begadang ria deh segini aja udah kena ceramahan. Ceramahannya lumayan buat ide saya keluyuran lagi #okedehalibimacamapaini
Makasih yang udah baca. Monggo segala macam review disampaikan pada kotak di bawah ini:
I
I
I
V
