Pairing : SasuHina slight ShikaTema
Disclaimer : Masashi Kishimoto
"Temari..." Panggil Shikamaru dengan wajah cemas memanggil Temari yang saat ini sedang menahan rasa sakit akibat tusukan diperutnya.
"Kurasa aku akan game over dulu" Kata Temari dengan seulas senyum lemah di bibirnya.
"Kenapa kau melindungku ?" Tanya Shikamaru dengan wajah cukup penasaran. Temari tersenyum mendengar ucapan Shikamaru.
"Aku yakin kau akan menyelesaikan game ini dengan baik. Aku masih perlu banyak latihan untuk mengunggulimu dalam game strategi seperti ini" Kata Temari.
"Uhuk... Uhuk..." Temari terbatuk mengeluarkan darah.
"Baiklah. Tunggu saja. Akan kukalahkan game ini untuk menyelamatkanmu" Kata Shikamaru sambil mengacungkan jempolnya. Temari tersenyum melihat tingkah Shikamaru yang masih saja kekanak-kanakan.
Badan Temari mulai kehilangan wujudnya. Cahaya lampu sore perlahan mulai menembus tubuhnya. Shikamaru pun tersenyum dan berdiri hendak meninggalkan Temari.
"Shikamaru..."
"Ap...?" Ucapan Shikamaru terhentik karena sebuah benda lembut mendarat dibibirnya.
"Aishiteru" Ucap Temari sesaat sebelum dirinya benar-benar menghilang meninggalkan Shikamaru yang masih terbengong-bengong dengan apa yang diucapkan Temari.
Sedetik kemudian dia tersenyum dan memasukkan tangannya kedalam saku celananya. Wajahnya menengadah keatas, menerawang senja yang sudah menggantung di ufuk barat.
"Akan kukalahkan game ini apapun yang terjadi" Gumam Shikamaru.
"Meskipun ini sangat merepotkan"
-0-
"Aduh...!" Pekik Kiba yang saat itu sedang melindungi Hinata yang sedang berdiri ketakutan.
"Kau tak apa-apa, Kiba-kun ?" Tanya Hinata. Kiba hanya tersenyum menenangkan Hinata yang terlihat cemas itu.
"Jangan meleng Kiba" Omel Naruto sambil menendang seseorang yang hendak menyerang Kiba. Kiba hanya nyengir innocent kearah teman masa kecilnya itu.
"Shino, Chouji, kalian berdua kejarlah Sasuke. Aku khawatir dengannya yang mengejar pembunuh itu sendirian" Perintah Kankurou. Shino dan Chouji langsung berlari keluar ruangan tersebut.
"Hinata..."
"Kyaaa" Jerit Hinata tertahan. Kiba berusaha melindungi Hinata yang diseraang dari belakang, akibatnya Kiba yang belum sempat mengantisipasi serangan tersebut harus terkena serangan tersebut.
"Hinata, cepat bawa Kiba keluar dari sini" Hinata dengan cekatan menggendong Kiba dan berlari dengan kecepatan tinggi (Kenapa gak dari tadi, Hinata ?)
Pertarungan antara NaruGaaKurou terus berlanjut sehingga mereka semua berdiri berhadap-hadapan dengan nafas terengah-engah.
Pihak preman bar juga sedang berdiri dan beberapa dari mereka sudah ada yang pingsan.
"Tak kusangka mereka sekuat ini" Kata Naruto.
"Ini pasti kebohongan. Didalam game mereka tidak sekuat ini" Keluh Kankurou sambil mengatur nafasnya. Penampilan mereka bertiga terlihat sangat acak-acakan sekali, mulai dari Naruto yang sukses menambah jumlah kumisnya menjadi lima buah dengan darah merembes dari pipinya.
Kankurou yang tato ungunya kini telah berganti dengan luka memar dan beberapa luka sayatan. Gaara yang lumayan jago bela diri, wajah stoic miliknya tidak ternoda oleh darah dan luka. Hanya saja eyelinernya luntur karena banyaknya peluh mengalir dari dahinya dan menyebabkan dia terus mengedipkan mata untuk mengurangi kepedihannya (salahnya sendiri gak punya alis)
"Kalian hebat juga" Puji Naruto yang sepertinya telah berpengalaman sekali dengan apa yang disebut tawuran.
-0-
"Kiba-kun, bertahanlah" Gumam Hinata sambil terengah-engah menggendong Kiba yang sepertinya sudah pingsan.
"Sudahlah Hinata. Aku sudah mau game over" Kata Kiba yang sepertinya sudah putus asa melihat cahaya senja menembus tubuhnya seperti tanpa raga.
"Sebelum aku game over, aku ingin katakan kalau..."
"Aishiteru, Hinata-chan"
-0-
"Kau tidak apa-apa ?" Tanya Chouji sambil menghampiri Sasuke yang sedang berjalan dengan sangat santainya.
"Tidak. Ayo, kita harus pergi menuju rumah sakit. Tapi sebelum itu kita akan pergi menuju menara london" Kata Sasuke.
"Kau berhasil ?" Shikamaru berjalan menghampiri Sasuke dengan raut wajah santai. Sasuke mengangguk dan mulai berjalan menuju bar tempat Naruto dan yang lainnya bertarung.
"Temari mana ?" Tanya Shino yang sepertinya meripakan satu-satunya orang yang sadar dengan ketidakadaan teman pirangnya. Wajah Shikamaru langsung berubah menjadi sendu mengingat kejadian Temaari.
"Dia game over"
-0-
"Kita harus cepat, korban ketiga dibunuh satu jam lagi" Kata Sasuke sambil ngedupak NaruGaaKurou dengan sangat kejamnya.
"Apaan sih, Teme" Sungut Naruto yang tidak terima muka kucing nan imutnya didupak oleh Sasuke.
"Kita harus cepat ke menara london" Kata Sasuke sambil mengabsen pengikutnya.
"Hinata mana ?" Tanya Sasuke begitu sadar ketidakadaan gadis imut berambut indigo tersebut.
"Aku disini" Sahut Hinata yang baru saja masuk melalui pintu belakang dengan wajah sedih plus bingung.
"Ada apa, Hinata ?" Tanya Sasuke sambil menepuk pundak Hinata pelan.
"Kiba-kun, gameover" Bibirnya bergetar ketika mengucapkan hal tersebut mengingat beberapa ucapan terakhir dari Kiba.
"Sudahlah, kita akan memenangkan game ini" Kata Sasuke memberi semangat pada teman-temannya. Semua temannya mengangguk secara bersamaan minus Shikamaru yang masih menggaruk-garuk belakang kepalanya.
"Merepotkan"
-0-
"Kita harus sampai disana sekitar lima menit setelah kejadian" Nasehat Sasuke yang disambut dengan desahan kesal dari teman-temannya.
"Kenapa tidak kita keroyok saja pembunuhnya" Insting preman Naruto mulai mengambil alih raganya.
"Misi kita bukan untuk membunuh pembunuhnya disini" Ketus Sasuke tanpa memaklumi kebodohan Naruto beserta insting preman yang mulai mengambil alih.
-0-
"Baiklah. Kita menuju pojok kanan bawah dan akan menemukan mayat wanita lalu setelah itu kita akan lari dari kejaran polisi. Beberapa dari kita akan menjelaskan duduk perkaranya pada polisi dan yang lain akan ke rumah sakit" Kata Sasuke memulai strateginya. Naruto dan yang lainnya mengangguk mengerti.
"Shikamaru, Kankurou, Gaara dan Dobe akan menuju kantor polisi untuk menjelaskannya, sisanya harus berlari menuju rumah sakit" Jelas Sasuke.
"Kenapa harus aku, Teme ?" Protes Naruto yang sepertinya gak mau liat kantor polisi lagi.
"Wajahmu sudah tampak sangat kriminal" Jelas Sasuke dengan sangat cueknya.
-0-
"Siap...! Yak...!" Sasuke, Hinata, Shino dan Chouji berlari dengan kecepatan eyeshield. Tanpa terduga Naruto yang tugasnya sebagai tersangka ikut berlari menyusul Sasuke.
"Jangan...! Dobe" Teriak Sasuke, tapi itu sudah terlambat.
Dorr...!
Naruto langsung tergeletak pasrah dan hilang ditelan asap tipis. Sasuke mendesis kesal melihat sahabat kecilnya itu game over.
'Akan aku selesaikan game bodoh ini'
-0-
"Kami hanya sebagai saksi. Ini adalah bukti yang berhasil kami jaring" Jelas Shikamaru sambil meyerahkan sesobek kain yang berhasil di raih oleh Sasuke dari topeng jack.
"Teman-teman kami sedang menuju rumah sakit untuk memeriksa DNA darah yang telah tertangkap bersama dengan kain topeng ini" Lanjut Shikamaru. Polisi tersebut manggut-manggut sambil memperhatikan sobekan kain warna hitam tersebut.
"Maaf, sudah menyangka buruk pada kalian. Kami akan mengantar kalian bertiga menuju rumah sakit sekaligus mengambil hasil tes DNA" Kata Polisi tersebut sambil mengambil sepedanya.
-0-
"Ada perlu apa ?" Tanya seseorang berambut pirang pasir dengan ramah kepada Sasuke yang datang kerumah sakit dengan terengah-engah bersama dengan Shino, Hinata, dan Chouji.
"Kami mau tes DNA" Ucap Sasuke dengan tergesa-gesa. Gadis bermata biru itu mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Sasuke.
"Kau terlihat begitu tergesa-gesa" Ucap gadis tersebut sambil menyentuh dahi Sasuke dengan punggung-tangannya.
"Tenangkanlah dirimu dikamar ini dulu" Kata gadis tersebut sambil mempersilahkan Sasuke memasuki kamar rumah sakit dengan meja bundar disamping ranjangnya. Sepertinya itu merupakan ruang VIP, terlihat dari buah-buahan segar yang ada di atas meja tersebut.
Mata Chouji langsung membelalak melihat makanan yang dibagikan secara cuma-cuma tersebut. Dia pun langsung makan buah tersebut dengan sangat rakusnya.
"Khukhukhukhu" Suara gadis tersebut berubah seram. Sasuke yang merasa aneh pun langsung mengalihkan perhatian pada sang gadis yang telah melompat tinggi melewati gerbang rumah sakit.
"Uggghhhh.!"
TBC
Gak ada yang perlu author omongin.
Revieeewww...!
