Chapter 3: Min Yoongi
Pukul 18:00, alarm ponsel Yoongi berbunyi nyaring, menyebar ke seluruh sudut apartemen, memekakkan telinga. Dengan enggan, ia meraih ponselnya lalu mematikan alarm itu, yang sialnya hanya akan berhenti jika Yoongi berhasil menyusun delapan angka acak dari urutan terkecil ke terbesar. Rasanya Yoongi ingin mengganti ponsel saja dengan yang tidak terlalu canggih. Omong-omong, ia tidak ingat kapan ia membeli ponsel secanggih itu. Bahkan ia tidak mengerti untuk apa ia memiliki ponsel, toh tidak ada orang yang akan menghubunginya atau yang akan ia hubungi. Yoongi mengabaikan pemikiran itu dan berjalan dengan gontai menuju kamar mandi. Ia akan bekerja pukul tujuh nanti di klub yang dapat ditempuh dengan 20 menit menggunakan bus dan kakinya sendiri. Tempat ia mencari nafkah untuk menyambung hidup.
Memento Club, hanya sebuah klub sederhana di ujung gang pengap yang jarang dipadati pengunjung. Haha, bercanda. Memento adalah klub terbesar se-kota Seoul dan tidak pernah kekurangan pengunjung, bahkan orang-orang rela menunggu waiting list untuk bisa masuk ke klub ini.
Lihat pria tampan yang tidak memancarkan kehidupan di sinar matanya? Itu Yoongi. Ia sedang meracik minuman pesanan pelanggan yang sibuk mematai dirinya. Sungguh, sebenarnya orang itu berniat membeli minuman apa membeli Yoongi?
"Pelan-pelan saja bikinnya, aku suka melihatmu bergerak. Seksi.", ucap pembeli minuman itu dengan nada menggoda. Sayangnya, Yoongi tidak termakan godaan itu sama sekali. Yoongi tidak suka wanita yang hobinya nongkrong di klub malam, pasti wanita itu bukan wanita baik-baik, pikir Yoongi.
"Selamat menikmati, nona."
Wanita itu mengambil gelas minumannya, tapi saat Yoongi hendak menarik tangannya, wanita itu menahannya.
"Tak bisakah aku menikmatimu saja, hm?", alisnya terangkat dan matanya mengerling nakal.
"Maaf, nona. Saya bekerja sebagai bartender, bukan sebagai teman di ranjang."
Wanita itu berdecih lalu menghempaskan tangan Yoongi dengan kasar. Yoongi mengurut tangannya yang terhentak ke meja bar. Lumayan juga wanita itu, tangan Yoongi sampai ngilu.
Sebenarnya Yoongi ingin bekerja di tempat yang lebih baik, jauh dari hingar bingar dunia malam penuh gemerlap ibukota negeri ginseng ini. Tapi, ia yang hanya lulusan SMA dapat berharap apa? Untung saja Kim Namjoon, pemilik klub ini mau menerima siapapun yang berbakat dan cepat belajar. Yoongi tidak berbakat dalam hal per-klub-an. Ia tidak bisa meracik minuman, apalagi menjadi DJ. Tapi, ia cepat belajar, dan ia masuk di kategori kedua. So, Namjoon menerimanya dan mengajari Yoongi bagaimana cara menyajikan minuman yang enak. Namjoon sangat baik padanya. Bahkan ia tidak memiliki jadwal tetap karena ia pasti akan bolos di hari-hari yang tidak menentu. Jadi, Namjoon memberi ketentuan khusus untuknya, yaitu ia boleh datang hari apa saja, asal dari pukul tujuh malam hingga pukul 2 dini hari.
Kenapa Yoongi meminta keringanan seperti itu pada Namjoon? Karena Yoongi merasa sering kehilangan waktu. Ia bisa tiba-tiba saja terbangun di gang sempit, di kamar mandi hotel, di taman belakang suatu sekolah, dan di tempat-tempat aneh lainnya, tanpa mengetahui kenapa ia bisa ketiduran di sana. Saking seringnya kehilangan waktu, ia tidak pernah mau repot-repot memikirkan alasannya lagi. Hidupnya saja sudah sulit, ditambah dengan waktunya yang berjalan pergi. Hidup ini keras, bung.
Yoongi sedang mengelap meja bar ketika ada seorang wanita yang datang menghampirinya.
"Hai.", sapa wanita itu, agak grogi.
Yoongi menyimpan lapnya dan menatap wanita itu. "Ya, nona? Ada yang bisa saya bantu?"
"Hm.. Aku mau tanya. Apa di sini ada susu?", tanya wanita itu ragu-ragu. Ia langsung meralat ucapannya saat wajah Yoongi berubah heran. "Atau orange juice, atau jus apapun itu? Sungguh, aku tidak bisa minum alkohol."
Yoongi heran. Wanita yang datang ke klub mengaku tidak bisa minum alkohol? Baru pertama kali Yoongi menemukan kasus seperti ini.
"Di sini tidak ada susu, nona. Kalau orange juice, ada. Tapi itu juga untuk diracik menjadi minuman."
"Tak bisakah aku pesan segelas orange juice saja", wanita itu memohon. "Please?"
Yoongi menyerah, wanita itu sepertinya tidak sadar sedang melakukan aegyo pada Yoongi.
"Baiklah, nona. Silakan tunggu, akan saya buatkan."
"Trims!", wanita itu melirik name tag yang tercetak di saku kemeja Yoongi. "Min-Yoon-Gi."
"Ya, nona, kembali. Silakan duduk dulu, nona. Orange juice-nya ada di lemari pendingin, saya ambilkan dulu."
"Ne, gomawopta..!", teriak wanita itu karena Yoongi sudah berjalan ke dalam dapur.
Yoongi kembali ke wanita itu dengan satu gelas tinggi berisi cairan berwarna oranye. "Silakan dinikmati, nona."
"Thanks berat, Yoon Gi!", wanita itu langsung menyambar jus di genggaman Yoongi dan menenggaknya hingga separuh gelas. "Aku haus sekali.", katanya, menjelaskan tatapan kaget Yoongi.
"Terlihat jelas, nona.", ucap Yoongi sambil sedikit terkekeh.
"Haha. Gila memang, teman-temanku cuma memesan alkohol. Padahal mereka tahu kalau aku seorang teetootaller—anti alkohol. Jadi, selama tiga jam kami di sini, aku tidak minum apa-apa sama sekali. You are my savior."
"Anda berlebihan, nona. Saya hanya menjalankan tugas saya. Anda memesan, saya layani."
Wanita itu tersenyum ramah lalu menjulurkan tangannya ke depan, "Namaku Jimin."
Yoongi menaikkan alisnya. Wanita itu semakin memajukan uluran tangannya, mau tidak mau Yoongi salami tangan indah itu.
"Just in case we meet again.", lanjut Jimin. "Anyway, sekali lagi terimakasih, ya, Min Yoon Gi!"
"Yoongi saja, nona."
"Oh, oke. Seperti Yunggi, ya? Ya sudah, sampai nanti, Yoongi..!"
Jimin berjalan meninggalkan bar sambil mendadahi Yoongi, kembali ke meja yang sudah dipesan teman-temannya untuk merayakan kembalinya salah satu teman mereka, Kim Taehyung, dari Inggris.
Yoongi menatap punggung Jimin hingga tidak terlihat lagi. Ia mengangkat tangannya lalu mematainya selama beberapa saat. Baru kali ini ada seorang wanita yang mengajaknya berkenalan dengan cara yang 'normal'. Biasanya wanita-wanita (dan tidak jarang juga, pria-pria) yang datang ke klub akan langsung menawarnya atau menggodanya. Jimin sangat unik. Ia bahkan tidak minum alkohol.
Yoongi merasakan darahnya berdesir kencang, memacu jantungnya untuk berdetak lebih cepat dari ritme yang biasanya. Ada apa dengan hatinya? Kenapa rasanya tubuhnya menghangat hanya karena percakapan singkat dengan seorang wanita yang mungkin saja tidak akan pernah ditemuinya lagi?
.
.
TBC
.
.
ORUL2 says:
AKU BACA REVIEW KOK PADA NGAKAK? TERUS AKU BACA ULANG PROLOG SAMPE CHAPTER 2 KEMAREN, DAN IYA IH AKU JUGA NGAKAK :(
Baru ngeh, kenapa ff ini kok jadi kesannya jadi komedi? Padahal aku niatnya bikin angst tragedi drama mencekam hitam gelap horor kayak 7 deadly sins alias WINGS-nya abang abang bangtan :( aku bilang wings sebagai 7 deadly sins karena mereka bertujuh berdosa telah membuat otakku lelah :( kalian juga pusing kan? (please bilang iya, aku pengen ada temen pusing, haha)
Aku minta maaf nih karena udah ga bisa fast update. Dunia perkuliahan itu keras, ya? Huks huks
Preview chapter 2, pada jatuh cinta nih yeee sama abang Gasu? Sampe minta dinikahin dan rela jadi lesbi demi Gasu? Wkwkwk. Aku juga salah satu yang fallen so deep nih :( mau sih laki kek begitu.. Gasu ai lop yuhhh!
Di chap ini yang muncul adalah pribadi inti alias suami aku, Min Yoongi. Dia mah cowo baek-baek yang lugu and polos. Aungggg jadi pengen peyuk abang yoongs :3
Kemungkinan di next chap yang jadi center adalah...
Mint / Louis / Agust / D-boy / Sir Gloss (dia mah sombong dih kudu pake SIR di depan namanya kalo ngga pundung) / atau Park Jimin? Khihihi
Pada kesel ya si 'wanita itu' bukan nchim? Pada nungguin nchim yaaaa /cieeee nungguin/ /apa atuh/ /ditabok readernim/
Maapin aku yang tidak tega menjadikan nchim wanita yang mau dengan mudah dienaena /?
Di sini nchim bakal jadi perempuan berkelas gitu /cieee/
Ah jadi spoiler kan :(
tapi ini kan udah muncul yah nchimnya. jangan marah lagi karena nchimnya ga ada di dua chap kemaren ya :( /sesungguhnya hatiku begitu rapuh/ /apa sih/
Yaudah ah mo cabs dulu bhaaaay si yu neks capter unch
