Mysterious One
.
.
.
Chapter 3—Home
.
.
.
Author: Kim Aluna
Main Casts: Oh Sehun, Lu Han
Other Casts: All Member EXO and other
Rate: T (dapat berubah, mungkin?)
Length: Chaptered
Genre: Romance, Mystery(?), Fantasy
.
.
.
Disclaimer:
All Casts belongs to God and theirselves
.
.
.
Summary:
Menjadi murid penerima beasiswa di sekolah yang lumayan bagus di kota kecil itu sangat sulit kan? Beradaptasi, menerima kebudayaan lokal, berinteraksi dengan cara mereka, belum lagi, bertemu seseorang misterius yang selalu memperhatikanmu setiap saat.
.
.
.
Warning:
Typo, alur berantakan, kemungkinan update ngaret, fanfiksi gajelas, patut ditanyakan kejelasannya/? All official pairing
.
.
.
Author's Note:
Astagaaaaaaaa~~ maafkan sayaaaaa TToTT ini lebih dari dua minggu saya gak update cerita ini ya? Maaf ya TTATT saya emang lagi sibuk banget, minggu kemarin ngurusin festival sekolah, trus mingu ini nyiapin upacara, mana trus lanjut les sampe jam stengah 9 malem :') maaf AN-nya banyak bgt waks
.
.
.
Rumah itu masih sama di mata Sehun. Tenang, hangat, menyenangkan, dan terasa... familiar. Tentu dia ingat dia pernah kesana—sering lebih tepatnya. Oh yeah, dia tidak mungkin melupakan seorang wanita paruh baya yang menolongnya kala itu. Sehun tersenyum ketika dia mendengar suara dentingan alat masak dapur dari sini.
Mempercepat langkahnya, senyum semakin terpantri di wajahnya ketika dia semakin dekat dengan rumah itu, rumah yang membawa banyak kenangan padanya. Oh—dan tentu saja pada seseorang dalam gendongannya juga.
Menatap ke arah rengkuhan hangat tangannya, dia melihat sosok cantik dengan wajah agak pucat itu tertidur—efek dari sihir kakak-kakaknya—dengan tenang. Oh, mungkin lebih tepatnya dia pingsan? Karena dia tak bergerak sedari tadi.
Beruntung Sehun dapat menahan dirinya sendiri dengan menggendong pria cantik ini. Setidaknya tangannya punya kesibukan dan tidak akan lepas kontrol. Lagipula pikirannya lebih fokus kepada berat badan Luhan.
"Ah, Lu, mengapa kau begitu ringan dalam rengkuhanku, hmm? Apa kau tidak makan dan tidur dengan baik? Mengapa rasanya sama seperti tujuh belas tahun lalu, Sayang?" gumam Sehun lirih di telinga Luhan sebelum terkekeh pelan, merasa geli dengan dirinya yang berbicara pada orang pingsan.
"Kau harus lebih berhati-hati sekarang, hmm? Bisa saja yang mengganggumu bukan dari keluargaku, Sayang. Tapi tenang, aku akan melindungimu." Sehun mengecup kecil puncak kepalanya. Dan sebelum membuat dirinya kehilangan kontrol, dia mengalihkan atensinya ke arah pintu kayu yang menampilkan serat-serat asli batang pohon.
Memencet bel dari beranda rumah, Sehun kemudian mendengar kesunyian, dentingan alat masak sudah menghilang, digantikan suara derap langkah cepat yang menuju ke pintu depan.
Pintu terbuka, menampilkan wajah ramah Mrs. Lu, yang kemudian dengan cepat berganti menjadi wajah panik dan khawatir.
"S-Sehunnie?" tanyanya gugup. "A-ah, ayo masuk. Kau langsung saja ke kamar Luhan. Ibu akan membuatkanmu minum."
Terkejut akan dua hal—kedatangan Sehun dan Luhan dalam rengkuhannya—Mrs. Lu memilih untuk membiarkan Sehun masuk ke dalam rumahnya, membuka pintu depan rumahnya selebar yang dia bisa.
Sehun berjalan ke arah kamar sederhana dengan gorden biru langit bergradasi hijau muda, dengan sprai beraroma Luhan. Melangkahkan kakinya kedalam dengan perlahan, Sehun menikmati tiap langkahnya yang membuat paru-parunya terisi penuh dengan aroma tubuh Luhan. Ini feromon khas Luhan-NYA.
Tubuh mungil itu dibaringkan dengan perlahan, ingin menghindari benturan sekecil mungkin. Dengan selimut yang dinaikkan sampai dada dan kecupan di puncak kepala, Sehun meninggalkan Luhan di kamar untuk kemudian berjalan ke arah ruang tamu.
.
.
"Ah, Jongin-ie, tapi kau tidak apa-apa, kan?" tanya Kyungsoo khawatir selepas mendengar laporan Jongin kepada Kris.
"Aku tidak apa-apa, Baby." Jongin tersenyum lalu mengacak rambut halus itu pelan.
"Kekuatannya bertambah kuat, Hyung, jika kau mau tau." Joonmyeon mengangkat bahunya acuh, masih tetap mempertahankan posisinya yang menyender pada bahu kekasihnya.
"Woah, menarik. Untungnya Sehun mendapat mate seperti dia. Aku tidak dapat membayangkan jika ternyata matenya adalah teman dekatnya saat kuliah empat tahun lalu. Itu akan memperburuk suasana." Kris menggeleng pelan mengingatnya.
"Lagipula Sehun tak menyukainya, Hyung." Chanyeol berucap malas, memilih memfokuskan pekerjaannya—menghisap bahu putih mulus kekasihnya.
"Yeol-ie, tadi kau bilang lelah, hmm? Mengapa masih mengerjakan pekerjaan melelahkan sih?" tanya Baekhyun sambil mengelus puncak kepala itu dengan sayang, tidak ada sedikitpun niatnya menjauhkan Chanyeol dari kegiatan favoritnya.
"Ugh. Baekkie, aku sangat menyukai bahu mulusmu." Dan biarkan Chanyeol tenggelam dalam dunianya.
"Uhm, boleh aku pulang sekarang?" tanya Jongdae, berusaha tidak melirik ChanBaek.
"Ah, ya, terima kasih, telah membantu kami, Hyung." Kris berucap sopan. Jongdae mengibaskan tangannya.
"Aku ini tetap kakak kalian, oke? Walau yeah, aku tinggal di tempat berbeda. Tapi ayolah, hanya beberapa belas mil dari sini." Jongdae tertawa.
"Terima kasih, Kakak tertua. Maaf jika waktumu mengurus bayi kecil kalian jadi tersita."
"Tidak, tidak, jangan merasa bersalah, Yixing." Jongdae menampilkan senyum lebar. "Kalau begitu, aku pamit ya."
"Hati-hati dijalan, Jongdae-hyung. Salam untuk Minseok-hyung dan Mindae, ya?" ucap Tao.
"Iya. Oh, dan Kris," Jongdae menjeda kalimatnya, membisikkan sesuatu di telinga Kris, "Cepatlah menikah dengan Tao sebelum kau tidak bisa mengontrol nafsumu ke anak panda itu, mengerti?"
Kris tertawa bersama Jongdae yang memukul-mukul pundaknya pelan.
"Doakan aku, Hyung." Kris tersenyum lebar.
.
.
"Sehun, sebenarnya, apa yang telah terjadi? Mengapa Luhan sampai tidak sadarkan diri?" Mrs. Lu mengusap lembut kepala Sehun yang berada di pangkuannya, meringkuk seperti bayi kucing yang mencari kehangatan ibunya.
"Maafkan aku, Bu." Gumamnya lirih. "Aku tidak menjaganya dengan baik. Maafkan aku, maafkan aku. Hyungdeul-ku sempat hampir mencelakakannya tadi." Sehun menatap Mrs. Lu dengan mata berkaca-kaca. Mrs. Lu tersenyum menenangkan.
"Tidak apa-apa, Hun-a. Ibu tau kau sudah berusaha melindunginya. Terima kasih karena sudah menjaganya. Ibu sangat berterima kasih padamu." Mrs. Lu masih mengusap lembut puncak kepala Sehun.
"Terima kasih sudah memberikanku kepercayaan atas Luhan, Ibu. Aku menyayagimu, sangat menyayangimu." Sehun berkata dengan lirih.
"Tidak, tidak. Seharusnya Ibu yang berterima kasih karena Tuan Muda Oh mau menjaga 'putri' kecil Lu. Ibu juga menyayangimu, Baby Hunhun." Mrs. Lu menjawil hidung Sehun, membuat Sehun tertawa kecil.
Ah, dan tentu saja Mrs. Lu tau semuanya. Termasuk, rencana itu. Mana mungkin Kris melakukan sesuatu tanpa pengetahuan Mrs. Lu, kan?
.
.
Kepala Luhan terasa berat. Berdenyut-denyut dengan hebat. Berputar dengan perlahan namun memusingkan. Dan akhirnya Luhan lebih memilih untuk memejamkan matanya lagi untuk beberapa saat, sampai semua pusing mengganggu itu hilang.
Ini menyebalkan. Rutuknya dalam hati.
Luhan tak mengingat apapun. Ingatan terakhirnya hanya sampai dia berbalik dan menemukan lima orang yang mengepungnya. Lalu, gelap.
Membuka matanya perlahan, Luhan merasa sekelilingnya sudah tidak berputar lagi. Mengerjapkan mata berkali-kali dengan lucu, akhirnya semua kembali normal dalam penglihatannya. Luhan membuka lebar lebar matanya, mencoba meneliti setiap sudut ruangan yang sedang dia tempati.
Ini kamarku, batinnya. Tapi, bagaimana bisa?
Luhan masih memandang sekelilingnya, kemudian atensinya berpusat pada salah satu sudut, dekat jendela kamar di pojok.
Seorang pria berambut hazel sedang duduk tenang di atas single couch. Di tangannya terdapat buku tebal. Cahaya langit sore yang kemerahan menyirami wajahnya, membuat wajah rupawan itu terasa semakin sempurna. Stand lamp disebelahnya sengaja tidak dinyalakan, entah karena apa.
Setelah berpuluh detik berlalu, atensi pria hazel itu kemudian beralih dengan cepat. Dia mendongak dan menatap Luhan tepat di maniknya, menyelam dalam, membuat Luhan seakan lupa dimana dia berada. Sangat sulit mengendalikan dirinya ketika menatap mata dalam dan teduh itu.
Bukunya ditutup setelah menyelipkan sebuah penanda buku disana dan menaruhnya di atas meja kecil di samping kursi. Dia bangkit berdiri dengan gerakan luwes. Berjalan dengan pelan bak model ke samping tempat tidur Luhan.
"Ternyata kau sudah bangun. Puas menatap wajahku, hmm?" gumamnya pelan, nyaris berbisik. Mata Luhan membelalak kaget. Tubuhnya membeku.
"A-ap-" suaranya sulit keluar. Ah, sial. Tenggorokannya kering sekali.
Tangan Sehun terulur dengan gerakan cepat dan tau-tau saja sudah berada di atas kening Luhan, membuat pria manis itu terkejut setengah mati, matanya terbuka lebar dan rona merah mulai menjalar di pipinya.
"Demammu sudah turun rupanya. Ibumu sudah pergi bekerja, jika itu yang ingin kau tanyakan." Sehun bergumam lalu berjalan menjauhi ranjang. Luhan masih membeku, otaknya masih mencoba mencerna apa yang terjadi. Namun dia tak menemukan apapun. Lebih tepatnya, otaknya terlalu penuh dengan sosok pria hazel itu.
Beberapa menit kemudian, Sehun datang—masih dengan wajah datarnya—sambil membawa sebuah nampan di kedua tangannya lalu meletakkannya di meja nakas.
Luhan menoleh untuk menatapnya. Dia—masih—tidak mengerti bagaimana Sehun bisa disini.
"Makanlah. Tadi ibumu sudah memasakkannya untukmu. Aku tau kau tidak merasa nyaman jika aku disini. Jadi, aku pulang." Senyum kecil terpantri sekilas di bibir itu, sebelum mengusak puncak kepala pria manis itu sekilas dan menghilang dibalik pintu.
.
.
Melaju kencang adalah kesukaannya. Apalagi, sekarang otaknya dipenuhi berbagai spekulasi, rutukan, dan pertanyaan yang menumpuk untuk ditanyakan.
Hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja, dan Sehun sudah sampai di rumahnya—atau villa keluarganya?
Pintunya terbuka ketika Sehun mendekat. Dan dia melihat semua kakaknya sedang berkumpul di ruang keluarga. Dengan melintasi ruang tamu yang sangat luas itu melalui sekat kaca yang memisahkan ruang tamu dan ruang keluarga, Sehun berdiri di depan televisi.
"Hey, ada yang mau menonton disini." Ucap Chanyeol malas, memutar bola matanya.
Sehun menatap datar hyung-deulnya, masih merasa marah karena mereka telah mencoba melukai Luhan-NYA. Mate-NYA. Tapi kemudian, ketika pandangannya jatuh ke sudut ruangan, matanya berbinar senang dan dia langsung menghambur ke hadapan dua sosok yang sedang berbincang.
Sehun mendudukkan diri diantara Yixing dan Kyungsoo. Membaringkan kepalanya di pangkuan Yixing dan memeluk tangan Kyungsoo.
"Eomma~~" rengek Sehun.
"Baby Hun, ada apa, Sayang?" tanya Yixing lembut, sambil mengelus lembut puncak kepalanya. Oh betapa Sehun menyukai belaian Yixing. Mirip belaian eommanya yang sedang mengurusi urusan bersama appanya.
"Eomma-Xing. Hunhun rindu eomma." Ucapnya manja.
"Denganku tidak rindu, hmm?" Kyungsoo, yang tangannya masih di peluk Sehun, mencoba menggerakkan tangannya dan mengelus pipi lembut itu dengan sayang.
"Hunhun rindu Eomma-Kyung juga!" ucapnya ceria, menatap Kyungsoo dengan matanya yang berbinar.
"Okay, Sehun cukup dan menjauhlah kau dari Baby-Soo-ku, mengerti?" Jongin memeluk Kyungsoo posesif.
"Pelit." Gumam Sehun pelan, membuat Yixing dan Kyungsoo tertawa kecil.
Ah ya, memang pada dasarnya Sehun masihlah seorang bayi. Dan inilah yang terjadi jika dua eomma—setidaknya dia menganggap mereka begitu—kesayangannya berkumpul bersama. Jaejoong—ibu Sehun memang sedang mengadakan jadwal panjang bersama suaminya untuk mengurusi banyak hal di luar negeri.
"Kau kekanakkan, Sehun. Hentikan itu." Tao mengerenyit, dalam hati bersyukur dia tidak menjadi salah satu korbannya. Sehun menjulurkan lidahnya tidak peduli.
"Biar saja aku kekanakkan." Sehun sewot sendiri.
"Aish, bisakah kalian diam?" Chanyeol berkata dengan kesal.
.
.
Suasana sudah agak tenang ketika makan malam tiba. Dan setelah makan malam, semua kakak Sehun rela berkumpul di ruang tengah karena Sehun bilang dia mau membicarakan sesuatu yang penting.
"Hyungdeul, aku belum pernah sangat serius seperti ini—oh well, pernah, sih, sering, ah lupakan. Tapi, sedari tadi jujur saja ada yang mengganjal." Ucap Sehun. Sifat kekanakkannya masih sedikit tertinggal.
"Ada apa, Sehun?" tanya Chanyeol, merangkul adiknya yang paling kecil.
"Mengapa kalian tadi ingin menyiksa Luhan? Kalian tau betapa jantungannya aku?" tanya Sehun.
"Menyiksa? Tidak, tidak. kami hanya sedang melakukan percobaan tadi. Dan tenang saja, Luhan baik-baik saja, kan? Kami tidak mengapa-apakannya. Tenang saja." Kris menjawab santai.
"Oh, dan Sehun, yeah, tentu kami tau bagaimana jantungmu berpacu dengan luar biasa cepat saat itu." Joonmyeon tertawa.
"Tunggu—percobaan?" tanya Sehun dengan mata membulat.
.
.
"Mom, bagaimana bisa tadi Sehun ada disini?" tanya Luhan.
"Tadi dia bilang dia menolongmu yang pingsan di tengah jalan dan mengantarmu ke rumah." Bohong. Tentu ibunya tau apa yang sebenarnya.
"Benarkah?" tanya Luhan. Matanya berbinar.
"Yap. Benar." ibunya menatap Luhan lalu mengangguk meyakinkan.
"Sebentar—dia tau rumah kita?" tanya Luhan bingung.
.
.
.
TBC
.
.
.
OKE PLIS JAN SALAHIN SAYA DI BAGIAN SEHUNNYA MANJA PLIS PLIS.
Ancur ya jadinya? Duh jadi sedi. Maaf ya, ini kayanya makin ancur aja.
Dan sekali lagi maaf banget ini updatenya telat BANGET.
Serius ini teh udah pen diketik dari kemarin, tapi tubuh udah tepar hiks
Moga suka ya sama chap ini :D
Terima kasih sudah membaca, review?
