Chapter 3
"Hallo, aku ingin memesan bunga." ucapnya pada seseorang di seberang sana.
.
.
"Belum apa-apa kau sudah berhutang padaku, Min Yoongi."
Mata Yoongi membola sesaat, "Itu semua ulahmu?"
Kekehan manis Jimin terdengar dari speaker ponsel, "Mau bagaimana lagi? Aku merindukanmu." suaranya manja mendayu.
Yoongi ikut terkekeh. Sungguh pandai wanita ini memanipulasi, pikirnya. Berbahaya, tapi menarik.
"Katakan padaku Min Yoongi, apa mereka menyulitkanmu?"
"Begitulah."
"Kalau begitu, Tunggu apa lagi? Segeralah datang padaku, sayang. Bawa aku ke sisimu." ucap Park Jimin bernada lirih, nakal menggoda. Tanpa sadar Yoongi menggigit pipi dalamnya. Sial, pengaruh wanita ini kuat sekali. Bahkan hanya dari melalui sambungan telepon, dia berhasil menggelitik keinginan Yoongi sebagai lelaki. Benar-benar pemikat ulung.
Yoongi terpaksa berdehem sekali untuk menyadarkan diri. Mengingat kembali, apa tujuan dari hubungan ini. "Baiklah. Kirimkan bunga malam ini, di King Hotel."
"Hei, tidak bisa semudah itu, sayang. Bukankah kita butuh kontrak? Jangan memperlakukanku seperti amatir, Min Yoongi."
Kini wanita itu berdesis. Penekanan katanya keras pada beberapa makna tertentu. Yoongi meremang. Astaga, dia baru saja mencari masalah. Luar biasa, hanya dalam beberapa detik dia seberbahaya kobra sekarang.
Yoongi tahu, Park Jimin terbiasa mendominasi. "Aku tahu, tolong jangan salah paham. Tapi, saat ini tak ada kesempatan bagiku untuk bahkan untuk sekedar menulis diary. Jadi aku pikir, perjalanan ini harus dipangkas dengan jalan pintas. Kau mengerti maksudku."
Jeda. Park Jimin yang diseberang sana tak terdengar menjawab. Yoongi waswas mengunggu cukup lama hingga Park Jimin pun akhirnya kembali berkata.
"Baiklah. Malam ini, King Hotel." Yoongi bernafas lega.
"Dan... Bisakah kau mengirimkan White Rose saja?" Jimin terdengar menggeram.
"Kau terlalu banyak meminta, Min Yoongi. Padahal kau belum mempersembahkan apapun. Aku tak suka itu." Oh, Tidak. Mengusik amarah Dewi Kematian bukanlah hal yang bagus.
"Hanya untuk berjaga, ratuku. Percayalah, aku akan memberikan segalanya padamu."
Didengarnya Jimin tertawa, "Baiklah. Kau menang, sayang." gumamnya. Dan sambungan telepon mereka terputus sepihak oleh Jimin.
Yoongi tertawa miris, wanita itu benar-benar menguras perhatian dan pikirannya. Namun kemudian tertawa senang sambil bermonolog.
"Jadi, begitu caranya menghadapimu Park Jimin?" kedua bahunya terangkat seperti berkata terserah.
Tak terasa minuman di mejanya telah habis. Yoongi masih tersenyum bahkan ketika dia beranjak pergi kembali ke hidup menyebalkan miliknya. Sang bodyguard siaga membukakannya pintu mobil menatapnya heran saat Yoongi malah tiba-tiba tertawa. Seakan ada hal lucu yang baru saja terjadi.
Sudah Yoongi duga, Soo Young pasti sangat menanti kedatangannya malam ini. Diantara barisan orang yang menyambutnya di pintu Hotel, gadis itu terlihat paling mencolok dengan gaun merah panjangnya.
Ketika satu persatu para pengusaha mencoba menarik perhatian sang Ketua Min Group. Gadis itu malah seperti mencoba jual mahal darinya. Mendekat, tapi menunggu dihampiri.
Wah, sayang sekali. Yoongi bahkan tak tertarik untuk membeli.
"Ketua Min. Suatu kehormatan kau bisa datang langsung ke acara ini." Park Seojong CEO King Hotel maju pertama untuk menyambutnya.
Yoongi memberi senyum diplomatis, topengnya kembali terpasang secara otomatis. "Jangan begitu, paman. King Hotel adalah bagian inti dari keluarga besar kita. Mana mungkin aku menolak hadir. Lagipula aku ingin banyak belajar dari paman. King Hotel jadi sebesar ini, pasti tak lepas dari tangan dingin seorang Park Seojong yang hebat." tangan Yoongi menjabat erat tangan CEO itu.
Park Seojong tampak terbahak senang, diikuti tawa tamu lainnya. Pria tua seumur ayahnya itu menepuk bahunya seperti seorang bapak. Dibelakang sang CEO, putrinya sedang mengulum senyum tersipu dan bangga bak seorang calon istri yang mendengar calon suaminya berhasil menarik hati ayahnya.
"Mari masuk." ucap Seojong mempersilahkan. Yoongi mengangguk dan memimpin rombongan. Ekor matanya sempat menangkap wajah putri sang CEO yang berharap disapa. Dia pilih mengabaikannya. Malas untuk membuat drama yang lebih menguras tenaga.
Seorang pelayan memandu jalan mereka menuju sebuah auditorium yang besar dan megah. Ada ratusan tamu di sana yang terdiri dari orang-orang kalangan atas. Pengusaha, artis papan atas, dan beberapa pejabat penting negara yang duduk melingkar pada puluhan meja bundar yang tersebar di berbagai penjuru ruang. Di bagian dekat panggung juga sisi ruangan, kamera media berdiri mengisi beberapa spot. Wah, King Hotel ternyata tak main-main dalam perhelatan hari jadinya.
Saat Yoongi memasuki ruangan. Orang-orang serentak berdiri menghormati kedatangannya. Mereka baru duduk saat Yoongi duduk dengan aman dikursi khusus yang disediakan untuknya. Satu meja dengan sang CEO berserta keluarganya dan beberapa petinggi Hotel. Meja mereka paling besar di sana. Dan Yoongi sama sekali tak terkejut ketika Park Soo Young mengambil tempat duduk tepat disisinya. Sudah terbaca. Hal yang sama juga pernah terjadi pada kakaknya Seokjin dulu untuk Hyosang.
Hal itu membuatnya sedih. Status wanita dalam kehidupan seperti ini digunakan sebagai batu loncatan. Melakukan pernikahan dengan pria lebih kepada hubungan bisnis semata. Sedang para pria bisa berbuat semaunya. Yoongi telah melihat, bagaimana ayah dan kakak iparnya biasa berpesta dengan para jalang lalu pulang pada istrinya dalam kondisi sempoyongan. Dan tak bisa terkatakan betapa Yoongi membenci semua itu.
Dia benci ketika seorang wanita baik yang mengabdikan diri untuk keluarga diperlakukan hanya seperti barang. Diperalat untuk sebuah keperluan. Lalu dihias sebagai pajangan mahal yang dipamerkan. Yoongi bersumpah, selama dia hidup adik bungsunya tidak akan pernah dia biarkan mengalami hal yang sama. Kelak jika tiba saatnya, Jungkook hanya akan dia serahkan pada sosok tulus yang tahu bagaimana seharusnya memuliakan seorang wanita. Cukuplah kesedihan itu hanya dialami ibu dan kakaknya.
.
.
Acara peringatan hari jadi King Hotel dikemas dengan susunan hiburan yang menarik. Setelah dibuka oleh sang CEO, dan beberapa pertunjukan berlalu. Tibalah giliran Yoongi sebagai Ketua Min Group untuk memberikan beberapa patah kata. Tepuk tangan bergemuruh ketika namanya disebut. Sambil berdiri diatas podium, Yoongi berisyarat agar hadirin yang akan menyimak pidatonya berhenti bertepuk tangan.
"Pertama-tama. Izinkan aku menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam tehadap pihak-pihak yang telah berpartisipasi dalam acara ini. Seperti namanya, King Hotel. Maka aku pikir ini adalah tempat hebat bagi para raja, dan orang-orang hebat. Dan dalam hal ini, aku ingin kalian bertepuk tangan untuk seorang raja hebat yang bisa mengolola dengan baik tempat ini. Tuan Park Seojon. Ah, sejujurnya aku sangat mengidolakan beliau." ucapnya sambil tersenyum jenaka pada hadirin.
Tepuk tangan kembali membahana. Park Seojong tampak bangkit dan tertawa pongah. Merasa sangat bangga pada sanjungan yang dilayangkan Yoongi padanya. Sebelum kembali duduk pria tua itu membuat isyarat dengan telunjuk seperti menembak ke arah Yoongi. Lengkap dengan kedipan ramah dan tawa senangnya.
"Aku percaya. Orang-orang dengan nama Park terlahir dengan takdir yang luar biasa. Di sini, kita punya tuan Park Hyungsik sang politikus yang dicintai rakyat Korea. Aktor Hollywood Park Chanyeol yang tampan. Dan tentu saja, sang bunga King Hotel Park Soo Young kita."
Putri sang CEO itu merona di tempat duduknya. Memberi Yoongi senyum terima kasih bersama raut tersipu.
"Soo Young-ah, aku rasa Song Hye Kyo dan Kim Tae Hae patut merasa terintimidasi oleh kecantikanmu. Bukan begitu?" kelakar Yoongi. Park Soo Yoong semakin tersipu. Sedang ayahnya terbahak pongah.
Tawa riuh hadirin menggema. Dua aktris yang disebut kebetulan hadir disana. Kim Tae Hae hanya menggeleng maklum, sedang Song Hye Kyo pura-pura cemberut tidak terima. Makin riuhlah orang-orang mentertawakan kejadian konyol itu.
"Jika saja aku bisa mengubah namaku, aku tidak keberatan menjadi Park Yoongi. Tapi, yah... anda sekalian tahu bahwa takdirku adalah mengubah marga seorang gadis kelak." Yoongi berhenti lagi dari pidatonya.
Ruangan mendadak senyap. Yoongi sengaja menggantung kalimatnya untuk melihat reaksi orang-orang. Dan rata-rata semua menunjukkan raut penasaran. Sang CEO sendiri terlihat sedang menatapnya tajam. Mencoba menduga apa yang ingin Yoongi sampaikan. Dan kenapa semendadak ini?
"Aku adalah MinYoongi, seorang pemuda berusia 29 tahun biasa yang kesepian. Marga Min adalah sebuah tanggung jawab yang besar bagiku, demikian pula Min Group. Nasib jutaan kehidupan anggota keluarga besar Min Group terlalu berat untuk kupikul sendiri. Untuk itu, malam ini aku perkenalkan pada kalian semua. Seorang gadis Park luar biasa yang bersedia mendampingiku mengemban tanggung jawab ini."
Park Soo Young tegang, demikian pula ayahnya. Tentu saja, harapan kedua orang itu adalah Soo Young gadis yang dimaksudkan. Bahkan tuan Seojong mengikat perjanjian dengan Kim Hyosang, kakak ipar Min Yoongi agar putrinya lah yang kelak menjadi nyonya Min selanjutnya. Harus. Tidak boleh tidak. Apalagi tadi Yoongi telah menyanjung putrinya. Dia akan malu besar jika ini tidak sesuai harapan.
Tapi, mengapa selama ini Yoongi tak terlihat mendekati putrinya? Ataukah...
"Gadis itu bernama..." suasana menjadi hening. Semua orang menunggu, siapakah gerangan gadis beruntung yang dimaksud.
Dalam senyap itu tiba-tiba terdengar derap langkah membelah keheningan. Seorang gadis cantik bersurai merah, dengan gaun putih indah panjang menjuntai memeluk tubuh mungilnya berjalan tenang menyeberangi ruangan.
"PARK JIMIN."
Semua orang terkesiap dan seakan kehilangan udara untuk bernafas. Beberapa lainnya yang merasa pernah berurusan dengan bisnis bawah tanah menganga tak percaya. Sedangkan si gadis, yang namanya telah disebut oleh lisan pewaris muda Min melangkah pasti ke depan panggung. Menghampiri seseorang di podium sana yang saat ini mengulurkan tangan padanya.
Dan bertemulah mereka. Sang Min muda dan gadis Park-nya. Tangan mereka saling menggenggam. Bersisian mereka menghadap para hadirin, membungkuk satu kali sebagai bentuk penghormatan. Ruangan masih saja senyap. Terdapat begitu banyak wajah bingung. Bahkan para wartawan lupa bergerak untuk mengambil gambar layaknya orang linglung.
Hingga akhirnya, seorang hadirin berdiri dari tempat duduknya dan memberikan tepuk tangan yang meriah. Satu persatu orang-orang mulai tersadar dan mulai ikut memberi tepuk tangan meski ekspresi mereka semua sama-sama terlihat bingung.
Yoongi tersenyum sambil mengedarkan pandangan menyapu seluruh ruangan. Sementara itu, Park Jimin yang bergenggaman tangan dengannya menatap lurus pada satu arah. Pada seorang pemuda tinggi dengan lesung pipit di kedua pipinya. Orang pertama yang bangkit memberikan tepuk tangan serta satu-satunya hadirin yang tak menampakkan wajah kebingungan.
Jimin terlihat sedikit terkesiap, merasa seperti ada yang meremas tangannya, perhatiannya langsung terlalih menuju Yoongi. Mereka saling bertemu pandang dan kemudian... saling bertukar senyuman.
Tiba-tiba sorang ajudan mendekat dan berbisik.
"Ketua. Nyonya besar meminta anda segera ke Rumah Sakit. Sesuatu yang buruk telah terjadi." mata Yoongi terbelalak. Tanpa sadar tangannya meremas tangan Park Jimin lebih keras.
Pasangan yang baru mengikarkan hubungan itu terpaksa harus berpisah. Yoongi bilang dia harus kerumah sakit karena ayahnya tiba-tiba tak sadarkan diri. Maka Jimin membiarkannya pergi, sementara dia sendiri juga memilih pergi dari pesta itu. Urusannya sudah selesai di sini.
Mereka keluar bersama. Berjalan beriringan sambil Yoongi merangkul pinggulnya. Semua mata terpana menatap mereka.
Yoongi mengantarnya hingga membukakan pintu mobil.
Mereka saling tersenyum satu kali sebelum mobil Jimin melaju membawanya pergi.
"Pemuda yang pertama kali bertepuk tangan, kau sudah mendapatkan informasinya tentangnya?"
"Sudah, direktur. Namanya Kim Namjoon putra dari Kim Junmyeon dari Big Market. Baru kembali dari menamatkan S2 nya di Amerika."
"Hmmm, Kim Namjoon."
"Kita memiliki beberapa gambar kegiatannya selama di Amerika, direktur. Anda akan terkejut melihat ini."
"Berikan padaku."
Sebuah tablet diberikan pada Park Jimin. Dan bibirnya langsung menyunggingkan senyum. Jemarinya terus menggulir gambar-gambar di tablet. Semakin banyak gambar yang dilihat, semakin besar pula lengkunagan senyumnya.
"Menarik. Kerja bagus Taehyung-ah. Tapi, pastikan dipihak mana orang ini berpijak."
"Baik, direktur. Tapi menurut informan kita Kim Namjoon tak pernah beranjak dari masa lalunya."
Jimin tiba-tiba terbahak meremehkan, "Maksudmu dia masih mengharapkannya? Yang benar saja. Apa dia lupa sebanyak apa Tuhan menciptakan mahluk bumi?"
"Anda tau direktur. Kim Hyosang bermain curang."
Mata Jimin memicing, berfikir. "Ahh, jadi ternyata seperti itu?" kepalanya mengangguk samar.
Tablet itu diletakkan jok penumpang disampingnya. Park Jimin kemudian menatap keluar jendela mobil. Membiarkan tabletnya tetap menyala, menampilkan gambar seorang sepasang kekasih yang berangkulan mesra. Tampak saling jatuh cinta dan bahagia.
"Direktur, tidakkah anda ingin mengunjungi nona kecil? Besok adalah ulang tahunnya."
"Tanggal berapa hari ini?" ucap Jimin cepat.
"15"
Jimin meringis samar. Ah, dia melupakan hal sepenting ini.
"Cari tahu apa yang dia inginkan. Dan kirimkan yang paling mahal dan terbaik ke asramanya."
"Apakah anda ingin saya menyertakan kartu ucapan selamat?"
"Terserah padamu. Lakukan saja yang terbaik."
"Baik."
.
.
Kim Taehyung melirik sekilas pada kaca spion atas mobil.
Hanya beberapa detik, namun itu cukup untuk menangkap moment ketika seorang Dewi Kematian menjelma menjadi sosok ibu yang penyayang. Dia pun menyembunyikan senyum senang.
Setidaknya dia tahu, sekejam apapun Rose bagi orang-orang wanita itu tetaplah wanita rapuh yang harus dilindungi. Andai saja mereka tahu, bahwa Red Rose sebenarnya berbayang White Rose.
TBC
A/N : Aku kurang puas dengan chapter sebelumnya. Makanya chapter ini dibuat sesegera mungkin sebagai pelengkap.
Inget ya, ini GS. Jadi Jimin, Jungkook, dan Jin adalah cewek. Eh? 3J. Wkwkwk (Maafkan kegajeanku)
Wah, followernya ternyata lumayan. Tapi kok yang review sedikit ya?
Tadinya aku gak mau terlalu mikirin soal review sih, tapi lama-lama kesel juga. Sekarang aku ngerti kenapa banyak Author yg berhenti nulis gara gara silent reader. Ternyata agak nyebelin yah? Hehe...
Klo reviewnya masih sedikit aku gak mau lanjut ah. Gak seru. 🙁🙁
So, review juseyo...
