This life is like a game sometimes

Sepanjang hari, Woojin sama sekali tidak menemukan keberadaan Jihoon. Anak itu seperti hilang ditelan bumi. Woojin memang tidak dengan sengaja mencarinya, namun ia berharap bisa sekedar berpapasan dengannya hanya untuk memastikan orang yang dicintainya itu dalam keadaan baik-baik saja. Woojin memang agak khawatir sejak tadi malam. Saat ia pamit untuk pulang, Jihoon kelihatan begitu rapuh.

Alhasil, Woojin sama sekali tidak bisa tidur tadi malam. Banyak hal yang berkecamuk dalam pikirannya, dan semuanya tentang Jihoon.

itulah sebabnya mengapa hari ini Woojin harus menjaga perpustakaan sepulang sekolah. Ia dihukum oleh guru mata pelajaran bahasa Korea-nya karena tertidur di tengah penjelasan materi.

Makanya siang ini, alih-alih pergi ke ruang klubnya seperti biasa, ia malah berakhir di meja petugas perpustakaan.

Perpustakaan tutup pukul 18.00, yang artinya masih ada sekitar satu jam lagi dari sekarang. Woojin sudah hampir mati bosan. Sekarang belum masuk dalam masa-masa ujian, perpustakaan masih belum banyak yang mengunjungi. Mungkin hanya sekitar satu-dua kutu buku di sekolahnya yang datang. Itupun tidak lama, karena mereka hanya meminjam buku lalu pergi.

Woojin memperhatikan arah pintu masuk, koridor sudah mulai sepi sepertinya tidak ada tanda-tanda seseorang akan berkunjung lagi, apalagi sekarang langit mulai gelap karena mendung. Sepertinya akan ada hujan badai sebentar lagi. Woojin menghela nafasnya karena kesal, mana ia tidak bawa payung lagi, bisa-bisa ia malah terjebak di sekolah. Mengapa hari ini begitu sial baginya?

Woojin akhirnya memutuskan untuk mulai berbenah sehingga ia bisa langsung meninggalkan tempat ini tepat pada saat jam tutup. Woojin beranjak dari tempatnya untuk mengembalikan buku yang telah dibaca pada rak asalnya. Ia menyusun kembali buku-buku di rak sesuai dengan abjad sambil merutuk dalam hati pada petugas perpustakaan hari sebelumnya yang tidak melakukan tugasnya dengan benar.

"Permisi.."

Woojin hampir saja terjatuh dari bangku yang sedang ia naiki karena begitu terkejut saat tiba-tiba ada suara di sampingnya. Sang pelaku yang mengagetinya itu sekarang tertawa terbahak-bahak melihatnya memegangi jantungnya sambil melontarkan kata sumpah serapah.

"kaget ya?"

Woojin turun dari bangku dan mengetuk pelan kening anak itu. "Sial, kau mengagetkanku saja Jihoon.."

"Kau saja yang melamun, tadi aku masuk kesini sambil teriak permisi kok.." Ia menggembungkan pipinya karena protes.

Woojin pastinya akan luluh setiap melihat Jihoon yang berpura-pura ngambek seperti itu. Bagaimana pun ia tidak akan pernah menang menghadapi sifat manjanya. "Iya, iya deh. Maaf, aku yang melamun.."

Jihoon seketika langsung melemparkan senyuman manisnya dan Woojin benar-benar tidak tidak bisa menolak pesonanya. Apalagi hari ini, remaja itu terlihat begitu manis dengan sweater oversized berwarna biru muda yang ia pakai diluar seragam sekolahnya. Dan Woojin benar-benar gemas melihat sweater paw itu. "Tadi aku mencarimu di ruang klub, tapi kata temanmu kau dihukum menjaga perpustakaan, makanya aku susulin ke sini.."

Jihoon mendudukkan dirinya di atas meja sambil memperhatikan Woojin yang kembali menaiki bangku untuk menyelesaikan pekerjaannya. "Masih lama ya?"

Woojin menggeleng. "Bentar lagi sih, kau tidak pulang?"

"..bisa tolong ambilkan buku yang ada di bawah?"

Jihoon turun dari meja dan mengambil buku yang tergeletak di lantai untuk diberikan pada Woojin. "Aku malas pulang, hari ini juga gak ada les.."

"Kau kemana saja? Kok siang ini aku tidak melihatmu sama sekali.." Woojin akhirnya menanyakan hal yang sejak tadi menganggu pikirannya.

"Kenapa memangnya?" Jihoon menjawabnya dengan pertanyaan.

Woojin akhirnya selesai menyusun buku di rak itu, ia pun turun dari bangku dan melihat Jihoon memandanginya sambil tersenyum usil. Ia pun mengendikkan bahunya. "tidak ada.."

"Kau mencariku ya?"

Woojin sudah tertangkap basah, bagaimanapun ia sudah tidak bisa berbohong lagi. "tentu saja."

Jihoon terkekeh. "Aku senang deh kau mencariku, kau pasti kangen padaku ya?"

Jihoon menarik tangan Woojin dan membawanya menuju rak paling pojok di ruangan. Ia kemudian memposisikan kedua lengan Woojin mengelilingi pinggang mungilnya, sebelum ia mengalungkan lengannya sendiri di sekeliling leher remaja bergingsul itu. Ia menatap Woojin lekat dan berbisik di sudut bibirnya "aku juga kangen.."

"denganmu.."

Eh, apa ini? Jihoon lagi-lagi memulai untuk menciumnya. Woojin tahu ini salah, bagaimanapun mereka masih di sekolah dan sedang berada di perpustakaan yang tidak terkuci, dimana semua orang bisa saja masuk dan memergoki mereka. Namun Woojin tidak bisa menolak godaan itu, hatinya begitu lemah jika itu berkaitan dengan apapun tentang Jihoon. Apalagi jika ia sudah memberikan dirinya pada Woojin begitu saja seperti ini.

Woojin akhirnya membalas ciuman itu. Ia hanya ingin melakukannya dengan manis dan perlahan, namun sepertinya Jihoon tidak menyukai ide itu. Ia mulai bertindak agresif dengan tangan dibelakang kepala Woojin, menariknya lebih dalam pada ciumannya. Woojin berusaha untuk mengimbangi setiap gerakannya. Makanya, saat Jihoon mulai oleng dan hampir terjatuh, Woojin menahan punggungnya, dan mengangkat tubuhnya, mendudukkannya di atas meja.

Ciuman Jihoon itu seperti racun yang Woojin tahu ia bisa mati karenanya. Walaupun ia sudah dalam keadaan yang lumpuh, Woojin tetap tidak bisa menghentikan dirinya. Tangan mungil Jihoon sekarang bergerak mengenggam tangannya, menyatukan jemari mereka bersama. Tidak ada satu pun suara orang yang melewati koridor luar perpustakaan, memang hanya tinggal mereka di sini. Woojin bisa mendengar suara angin yang mulai berhembus kencang di luar jendela. Udaranya sudah mulai mendingin, namun bagi keduanya rasanya malah semakin panas dan sesak seiring dengan ciuman mereka yang semakin memanas.

Woojin mungkin mulai bertindak agak kelewatan karena ia memanfaatkan Jihoon yang sedang mengambil nafasnya untuk mulai bergerak ke selatan dan menciumi lehernya. Woojin memulai dengan memberikan beberapa kecupan pada bawah rahang Jihoon. Woojin belum pernah menyentuh bagian itu sebelumnya dan ia sangat menyukai wangi yang menguar darinya, wanginya lembut dan sangat adiktif membuatnya menginginkan yang lebih dari ini. Jihoon pun mendongakkan kepalanya, seakan memberikan akses bagi Woojin untuk mengeksplor lehernya lebih jauh lagi.

Ini salah.

Woojin tahu yang dilakukannya sekarang itu malah semakin memperburuk keadaan. Yang ada ia malah akan semakin jauh masuk ke dalam suatu hubungan yang ia sendiri tidak tahu kemana arah dan tujuannya akan berakhir. Yang pasti status Woojin sekarang tidak jelas bagi Jihoon. siapakah dia? Teman? Sahabat? Kekasih? Selingkuhan?

Tidak, masih terllau dini baginya untuk bisa disebut sebagai salah satu dari itu.

Tapi, Woojin benar-benar tidak bisa lagi menahan dirinya. Sentuhan itu, lembut bibirnya, wangi tubuhnya, membuat Woojin menginginkan remaja itu sepenuhnya untuknya. Woojin memang sedikit tamak, seharusnya ia sudah bersyukur Jihoon memberikannya sesuatu yang selama ini hanya ada dalam mimpinya saja. Otaknya semenjak tadi merutukinya, menyuruhnya untuk menghentikan apa yang sedang ia lakukan, tapi Woojin tidak bisa. Rasanya seperti ada dorongan lain dari dalam tubuhnya yang membuatnya terus melakukan hal yang terlarang ini.

Jihoon terlihat begitu menikmati ciuman dari Woojin, ia terus memanggil namanya dengan suara yang membuat Woojin semakin lupa diri.

'Woojin.. Woojin.. Woojin..'

Woojin pernah bilang kan kalau ia menyukai cara Jihoon menyebut namanya, sekarang Woojin bisa bilang ia lebih suka mendengar Jihoon menyebut namanya disetiap kecupan yang diberikan Woojin di lehernya.

Woojin memang kurang ajar, karena sekarang tangannya dengan tanpa bersalah mulai bergerak masuk ke dalam sweater Jihoon dan membelai kulit halus itu.

Tiba-tiba Jihoon tersentak dan mendorong dada Woojin, membuatnya mundur sekitar beberapa langkah ke belakang. Jihoon menatapnya dengan raut wajah yang terlihat kaget dan kebingungan. Woojin tidak bisa berkata-kata, ia hanya kembali menatap Jihoon yang terlihat seperti akan menangis sekarang.

Woojin benar-benar merasa bersalah, ia akui sikapnya tadi memang kelewatan. Sungguh ia benar-benar tidak bermaksud untuk mencari kesempatan dari kekhilafan Jihoon, ia hanya terbawa suasana.

"Maaf.." tidak ada kata lain yang bisa diucapkannya sekarang selain permohonan maaf.

Jihoon menggelengkan kepalanya. "tidak.."

"Aku yang harusnya minta maaf padamu Woojin.." Jihoon menundukkan kepalanya.

"Maafkan aku.."

Seharusnya Jihoon tidak meminta maaf, apa yang ia lakukan sekarang malah membuat hati Woojin lebih sakit. Dengan ia meminta maaf seperti ini, kesannya memang seperti Jihoon melakukannya semua itu di luar kesadarannya.

He was never meant it.

Woojin tertawa getir. "Sudahlah, lupakan saja.."

"di luar sudah gelap, ayo kita pulang.."

Woojin berjalan melewati Jihoon, ia tidak mau melihat ekpresi wajahnya yang penuh dengan penyesalan.

Rasanya begitu menyesakkan baginya.

Mereka akhirnya keluar dari perpustakaan. Di luar masih belum hujan, tapi langitnya sudah benar-benar gelap tertutup oleh awan mendung. Woojin dan Jihoon jalan berdampingan, namun tidak ada satu pun dari mereka yang memulai pembicaraan. Sekarang Woojin mulai menyesali perbuatannya, andai saja ia bisa lebih mengontrol dirinya, mungkin ia tidak akan kelewatan dan berbuat hal yang tidak pantas pada Jihoon.

Bisa jadi karena hal itu, hari ini menjadi saat terakhir mereka saling berhubungan.

Jihoon jalan beberapa langkah di depan Woojin, langkahnya terlihat gontai, seperti kehilangan arah. Mungkin saja banyak yang sedang dipikirkannya, sama seperti Woojin.

Sampai di luar gerbang sekolah, tiba-tiba Jihoon berhenti dan terdiam. Woojin menghentikan langkahnya dan mengikuti arah pandangan remaja itu.

Rasanya seperti seseorang memukulnya dengan kencang pada bagian belakang kepalanya, dan membangunkannya dari mimpi.

Woojin hanya bisa ikut terdiam saat ia harus menghadapi kenyataan bahwa sekarang dihadapan mereka, berdiri kekasih dari Jihoon, Kim Jonghyun.

Ia berdiri dengan setelan kerjanya yang membuatnya ribuan kali lebih tampan dari biasanya. Ia menatap Jihoon dengan tatapan bersalah, dan Woojin bisa melihat ada harapan di matanya.

Sepertinya ia datang untuk meminta maaf pada Jihoon. Jika dilihat dari rambutnya yang berantakan dan bagaimana ia berkali-kali mengusap telapak tangannya karena kedinginan, Woojin bisa lihat kalau ia sudah lama menunggu disana. Woojin mengalihkan pandangannya pada Jihoon yang sekarang masih terpaku menatap Jonghyun, seakan tidak tahu apakah ia harus pergi padanya atau tidak.

Jangan pergi, aku mohon.. ikutlah denganku, lupakanlah dia..

Woojin berharap dalam hatinya agar Jihoon tidak kembali pada Jonghyun. Rasanya ia ingin sekali menahan tubuh Jihoon, bahkan membawanya menjauh dari situ, tapi ia tidak bisa. Bukan haknya untuk melakukan hal seperti itu. Siapa Woojin? Ia memang bukan siapa-siapa bagi Jihoon.

Woojin akhirnya hanya bisa tersenyum getir saat Jihoon berlari ke arah Jonghyun dan memeluknya. Saat ini rasanya seluruh dunianya runtuh, seiring dengan harapannya yang hancur lebur.

Sakit sekali rasanya, hatinya serasa teriris saat ia melihat kedua pasangan itu berpelukan erat, saling memandang dengan tatapan penuh cinta. Harus diakui oleh Woojin kalau mereka berdua memang benar-benar cocok.

Woojin seharusnya tidak pernah berharap pada Jihoon sejak awal. Woojin itu memang tidak pantas untuknya, ia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Jonghyun.

Jonghyun itu benar-benar sempurna, begitupun Jihoon.

Ia memang bodoh, pernah berpikir bahwa Jihoon akan memilihnya.

Memang benar dugaannya selama ini. Woojin memang hanya sebuah pemberhentian sesaat bagi Jihoon—ketika ia butuh seseorang untuk mengisi kekosongan hatinya untuk sementara. Tidak mungkin ada tempat untuk seseorang seperti Woojin. Seharusnya ia bersyukur dengan Jihoon yang sempat meluangkan sedikit waktunya hanya untuk melihat kearahnya.

Jihoon itu jelas bukan levelnya. He's out of his league.

-0-

What the hell am I doing here, I don't belong here

Woojin memang sering patah hati karena Jihoon, tapi ia tidak pernah menyangka kalau patah hatinya yang sekarang terasa begitu menyakitkan baginya.

Mungkin saat ini ia sedang berada pada puncak patah hatinya.

Walapun ia sempat bilang kalau ia tidak ingin berharap, ia tidak bisa bohong kalau hatinya tetap menginginkan Jihoon. Seberapa kuat egonya untuk bertahan, hatinya tetap lemah. Ia sudah mencintai Jihoon begitu lama, tentu saja ketika orang yang dicintainya itu datang padanya, semua harapan itu pun tumbuh kembali.

Hatinya memang terlalu innocent, bukan salah siapa-siapa jika sekarang ia lah yang bertanggung jawab untuk dilimpahi semua rasa sakit ini.

Jihoon sekarang kembali pada kekasihnya yang sempurna itu. Memang lebih baik sejak awal Woojin tidak usah berhubungan dengannya, sehingga ia tidak perlu merasakan betapa bahagianya menghabiskan waktu dengannya, mendengar suaranya merdunya, dan merasakan lembut sentuhan bibirnya.

Rasanya seperti Woojin sudah diterbangkan tinggi dan dihempaskan begitu saja dari langit.

Seluruh tubuhnya hancur dan rasa sakitnya sudah tidak dapat digambarkan lagi, benar-benar menyiksanya sampai-sampai ia tidak bisa menjalani hidupnya seperti biasa.

Woojin pun berubah.

Semua orang di klubnya merasakannya. Apalagi Donghyun, yang memang sudah seperti kakaknya sendiri. Seniornya itu sudah memperhatikannya sejak Woojin muncul beberapa hari yang lalu dengan wajah yang pucat dan mata yang menghitam seperti tidak tidur sama sekali. Woojin orang yang santai, hidupnya jauh dari masalah. Ia tidak pernah terlihat begitu terbebani seperti ini. Awalnya Donghyun tidak begitu khawatir, ia berpikir Woojin kurang tidur karena terlalu asyik membuat rancangan robot terbaru, seperti biasanya.

Namun, di hari berikutnya, keadaannya menjadi lebih parah lagi. Ia benar-benar berantakan. Bukan hanya penampilannya, tapi juga sikapnya. Woojin jadi jarang berbicara dan terlihat tidak fokus. Ia bahkan melamun pada saat rapat, bahasan tentang rancangan proyek terbaru mereka saja seperti tidak menarik lagi baginya.

Donghyun melihat Woojin seperti orang yang enggan hidup, seakan-akan ia telah kehilangan sesuatu yang begitu berharga di dunianya.

"Woojin. "

Donghyun hanya bisa menghela nafasnya, saat orang yang dipanggilnya tidak menyahut panggilannya sama sekali.

Donghyun memegang bahunya sampai akhirnya juniornya itu tersadar dan menoleh padanya.

"Woojin, ada apa denganmu?"

Anak itu hanya tersenyum dan terlihat begitu dipaksakan di mata Donghyun. "gak ada apa-apa kok hyung."

Donghyun tidak tahu harus berbuat apa-apa lagi menanggapi respon Woojin. Woojin memang bukan tipe orang yang terbuka akan masalahnya. Walaupun mereka sangat dekat, selama ini Donghyun tidak pernah berhasil untuk menjadi seseorang yang bisa dipercayai sepenuhnya oleh Woojin untuk menceritakan semua yang ada di pikirannya.

"Kau aneh belakangan ini, jika ada apa-apa kau bisa katakan padaku.."

Woojin tersenyum, tapi Donghyun bisa merasakan ada rasa sakit yang disembunyikannya.

"Aku tidak apa-apa kok hyung, tenang saja.."

-0-

Selama beberapa hari ini Woojin benar-benar tidak mendengar apapun tentang Jihoon. Yang jelas sumber patah hatinya itu tidak mungkin menghampirinya lagi setelah apa yang terjadi. Selain itu, seakan tahu dengan apa yang terjadi pada Woojin, tidak ada satupun dari anggota klubnya yang membawa topik mengenai Jihoon di setiap pembicaraan mereka, sekalipun Daehwi dan Seonho yang biasanya selalu bergosip tentangnya.

Woojin sedikit bersyukur, setidaknya ia tidak harus menahan rasa sakit di hatinya setiap mendengar nama itu.

"Hyung.."

Woojin mendongak dari rancangan robot yang sedang ia kerjakan dan menemukan juniornya, Daehwi, Seonho dan Euiwoong berdiri berjejer di depan mejanya.

"Kau sedang apa?"

Woojin mengendikkan bahunya dan menunjukkan desain robot yang masih terlihat abstrak, seakan menggambarkan pikirannya yang sedang berantakan sekarang.

Daehwi duduk di samping Woojin dan memeluk lengannya. "Kita makan teokpokki yuk hyung!"

Woojin tersenyum getir mendengar nama makanan itu. Teokpokki? Makanan itu mengingatkannya lagi pada Jihoon. Jihoon yang tidak suka pedas, namun masih memaksakan dirinya untuk tetap memakannya. Jihoon yang terlihat lucu saat kepedasan, Jihoon yang ia antar pulang setelah makan teokpokki itu, Jihoon yang ia berikan ciuman di sore itu, Jihoon yang diam-diam menciumnya di pojok perpustakaan.

Jihoon yang membuatnya patah hati.

"Hyung, kau tidak apa-apa? Kalau kau tidak mau kita tidak usah makan teokpokki.."

Daehwi terlihat tidak enak pada Woojin. Mereka pun lalu terdiam memandangi Woojin yang terlihat kembali tidak fokus.

"Kalau gitu kita makan pasta saja, ada restoran dekat toko ibuku yang baru saja buka. Katanya disana tempatnya bagus dan rasanya pun enak, walaupun harganya gak murah-murah amat sih, tapi worth it kok.." Euiwoong yang melihat suasananya menjadi canggung pun segera mengganti pilihan makanan mereka.

"Kami yang traktir hyung.." Seonho menambahkan.

Woojin tersenyum, ia tahu kalau junior-juniornya ini sepertinya berusaha menghiburnya. Mungkin Woojin memang terlihat begitu miserable sampai-sampai mereka merasa kasihan padanya.

"Baiklah ayo kita makan pasta.."

Anak-anak itu langsung bersorak ketika Woojin menerima ajakan mereka, mereka bertiga langsung memeluknya dan sambil menepuk-nepuk punggungnya.

"Syukurlah kau mau ikut hyung, kami khawatir padamu beberapa hari ini, makanya kami mau traktir supaya hyung semangat lagi.."

"Hyung senyum dong, pokoknya apa aja yang kau pesan kami yang bayar hari ini!"

Woojin tertawa. Ketiga juniornya itu pun langsung tersenyum lega mendengar tawa Woojin yang memang sudah lama sekali tidak mereka dengar belakangan ini. Daehwi merangkul lengan Woojin dan menariknya untuk beranjak dari kursi sementara Seonho dan euiwoong denagn semangat membantunya untuk membereskan barang-barangnya yang berantakkan di atas meja dan memasukkannya ke dalam tasnya.

"Ayo kita pergi!"

Woojin merasa ada sedikit kehangatan di hatinya sekarang yang disebabkan oleh perlakuan manis mereka. Setidaknya ia sedikit bisa melupakan sakit hatinya itu.

Sepanjang jalan mereka selalu berusaha untuk membuat Woojin tertawa. Ada saja tingkah mereka yang bisa menghiburnya, tingkah manja Daehwi, gurauan Seonho ataupun kepolosan Euiwoong yang membuatnya menjadi bahan bully-an kedua kawannya itu. Woojin memang harus bersyukur ia mempunyai orang-orang sebaik mereka dalam hidupnya.

"Iya Hyung, kan kita bilang kalau di dalam Boneka besar maskot tim basket itu robot, masa Euiwoong kemarin beneran datengin itu maskot terus dengan polosnya dia raba-raba dalamnya, mastiin isinya mesin atau bukan.."

"Padahal kan dalamnya orang, senior kita si Ahn Hyungseob. Jadi kena tampar deh dia, disangka mau macam-macam.."

Seonho tertawa dengan suara yang kencang, ia memukul-mukul bahu Euiwoong yang sekarang cemberut karena kesal, kesal setelah kena tipu ditambah dipermalukan di depan Woojin seperti ini.

Woojin terkekeh, ia menggelengkan kepalanya karena geli dengan tingkah polos juniornya itu. "Euiwoong, Euiwoong, mana mungkin sekolah kita mampu buat beli robot macam gitu.."

Euiwoong menggembungkan pipinya. "Habis mereka berdua ngeyakinin banget ngomongnya!"

Mereka malah semakin tertawa terbahak-bahak melihat Euiwoong yang semakin kesal. Namun ujung-ujungnya Euiwoong pun ikut tertawa setelah Seonho dan Daehwi mempraktekan adegan saat Euiwoong kena tampar Hyungseob.

Mereka akhirnya sampai di restoran yang di tuju saat tiba-tiba Euiwoong yang sudah masuk terlebih dulu berbalik arah dan menarik tangan Woojin mencegahnnya untuk masuk ke dalam. Woojin yang tidak mengerti dengan tingkah anehnya itu, berhenti untuk melepas genggaman tangan juniornya dan tetap masuk ke dalam restoran itu.

Dan Woojin menyesal telah melakukan hal itu.

Sekarang yang dilihatnya adalah full display Jihoon yang sedang bermesraan dengan kekasihnya. Mereka berdua sedang duduk berhadapan di meja dekat jendela. Jihoon terlalu sibuk menyuapi kekasih tampannya itu sampai-sampai ia tidak begitu sadar dengan keberadaannya di sana. Woojin tertawa dalam hatinya melihat pasangan itu yang saling memandang dengan penuh cinta di matanya.

Jihoon terlihat begitu bahagia.

Setelah apa yang ia perbuat pada Woojin, setelah ia tinggalkan Woojin dengan hati yang hancur..

Jihoon seakan-akan lupa pada Woojin yang beberapa hari terakhir selalu ada untuknya. Ia benar-benar melupakan semua momen yang mereka lewati bersama. Sekarang Woojin benar-benar yakin kalau Jihoon cuma mau mempermainkannya saja.

Mungkin memang Woojin harus sadar dan berhenti meratapi nasibnya. Untuk apa ia terus berduka akan seseorang yang bahkan tidak pernah memikirkannya.

Sampai kapanpun Jihoon itu adalah seseorang yang tidak akan bisa Woojin raih.

Lebih baik ia lupakan semua yang telah terjadi dan mulai dari awal. Kembali menjalani kehidupannya yang dulu, ketika seseorang bernama Park Jihoon belum ada di hidupnya.

Semuanya akan baik-baik saja, anggap saja ini adalah proses pembelajaran baginya.

Pelajaran agar ia lebih tahu diri akan posisinya yang memanglah bukan siapa-siapa.

-0-

Melupakan itu memang sulit, apalagi jika semua yang ada disekitarnya mengingatkannya pada Jihoon. itulah sebabnya Woojin hampir tidak pernah keluar dari ruang kelasnya, kecuali saat jam pulang sekolah, dan itupun ia langsung pergi ke ruang klubnya.

Woojin tidak mengerti, mungkin ia saja yang terlalu sensitif. Namun ia tidak tahan dengan tatapan yang diberikan oleh orang-orang yang ada disekitarnya. Bukan anggota klubnya, tapi orang-orang di sekolahnya yang bahkan ia sendiri tidak tahu namanya.

Walaupun sudah tidak ada Park Jihoon di dekatnya, orang-orang itu masih memberikan perhatian padanya. Mereka selalu memberikan pandangan yang mengejek padanya, tidak jarang juga Woojin mendengar cibiran yang ditujukan padanya dilontarkan dari bibir mereka.

'orang seperti itu mana pantas dengan Jihoon'

'lihatlah, aku saja jauh lebih tampan dari dia'

'dasar tidak tahu malu'

Woojin hanya bisa tertawa dalam hatinya. Karena semua yang mereka katakan tidak salah. Woojin memang tidak tahu diri, ia juga sudah sadar kok akan hal itu.

Sekarang Woojin memilih untuk lebih berfokus dengan hobinya mengutak-atik robot rancangannya. Setidaknya dengan melakukan hal yang ia sukai ia bisa melupakan sisa-sisa rasa sakit yang masih tertinggal di hatinya.

"Woojin.."

Donghyun datang menghampirinya yang sedang sibuk membuat desain baru robot ciptaannya.

"Ada Jihoon di luar, dia mencarimu.."

Donghyun seketika tidak tega melihat raut wajah Woojin yang langsung berubah setelah ia menyebut nama orang itu. Ia terlihat terluka.

"Aku bisa bilang kau tidak ada, jika kau tidak mau menemuinya.."

Woojin terdiam untuk sesaat sampai akhirnya ia menganggukkan kepalanya. "Terima kasih hyung.."

Donghyun menghela nafasnya lega, ia memegang bahunya sambil tersenyum. "Sama-sama.."

"dan Kau juga berhak untuk bahagia Woojin.."

-end of ch 4-

.

.

Akhirnya selesai juga chapter ini :')

Ya, seperti yang aku udah bilang kalau kedepannya bakalan lebih angsty lagi. Dan mungkin bakal dimulai dari chapter ini .

Semoga kalian gak kesel pas bacanya ya hahaha

Happy reading, guys!