TITLE : This Kind Of Love
GENRE : Romance, Humour
LENGTH : 4 of (..)
RATE : M
CAST : Wonwoo (GS), Mingyu,
DISCLAIMER : semua tokoh punya YME, yang saya punya Cuma plot dan typo yang bertebaran di ff gaje ini. Jika ada kesamaan plot, nama tempat, dll. Itu semua murni Cuma kebetulan.
SYNOPSIS : Keponakan baru Mingyu yang dibawa oleh istri muda kakaknya sangatlah menggoda! ia bahkan sudah bertekuk lutut hanya dalam beberapa saat. Tapi, perasaan ini.. tidak benar. Sedangkan sesuatu dibagian bawah milik Mingyu sudah mengeras. Tolong! Bagaimana ini? GS. MEANIE. Ni(e)CE ganti judul. chap UP!
This is a Genderswith. Please just close the tabs if you don't like any of 'genderswitch'. Please do not bash. I was just write my wild imagination into this absurd ff please enjoy
.
Aku berjalan memasuki rumahku dengan dipapah oleh Wonwoo. Tak kusangka, tubuh kurus gadis itu kuat juga menanggung beban berat tubuhku.
Aku masih bisa mengingat dengan jelas Wonwoo yang membuka sepatuku. Ia bahkan jengkel padaku karena pulang sangat larut, terlebih dalam keadaan mabuk.
Malam itu, yang kurasakan adalah bibir gadis dihadapanku ini, Wonwoo, adalah bibir paling cantik yang pernah kulihat.
Sehingga aku secara tidak sadar menggerakan tubuhku, mendekati tubuhnya, dan kemudian mengecup bibirnya.
Ah, bibirnya manis.
Aku yang dalam keadaan setengah mabuk tidak bisa menahan diriku untuk berbuat lebih. Tidak hanya mengecup, bibir Wonwoo yang tipis itupun kulumat.
Bahkan aku dengan berani mulai melesakkan lidahku kedalam mulutnya, mencoba meraba seluruh dinding mulutnya, menyesapi saliva yang keluar dari sela-sela celah bibir kami.
Kubuka mataku, meski bibirku masih bertautan dengan miliknya. Dan kalian tahu apa?
Ia bahkan memejamkan matanya!
Well, katakan aku terlalu percaya diri, namun bukankah itu berarti ia menikmati ciumanku ini?
Merasakan bahwa Wonwoo tidak melakukan perlawanan berarti, aku terus saja melakukan lebih jauh. Ciuman kami bahkan menimbulkan suata decakan khas.
Entah saliva siapa yang menetes pada dagu gadis itu, dan saat kurasakan ia menepuk bahuku keras, disana aku tahu bahwa ia mulai kehabisan nafas.
Aku akhirnya melepaskan tautan bibir kami meski merasa tidak rela. Kupandangi wajahnya yang memerah. Nafasnya terengah-engah. Pandangan matanya sayu, serta bibirnya sedikit bengkak.
Ugh. Aku bahkan kesulitan meneguk ludahku saat melihat pemandangan indah didepanku ini.
Jujur saja, sebagai gadis berusia sembilan belas tahun, aku merasa ia kelebihan hormon.
She's so damn sexy! Shit!
Entah setan apa yang merasuki diriku, tanpa pikir panjang lagi kutarik tangan Wonwoo agar memasuki sebuah ruangan dengan pintu kayu jati coklat, kamarku.
Aku menghempaskan tubuhnya keatas ranjang, dan kemudian seolah dirasuki setan biadab, aku mulai menerjang bibirnya lagi.
Namun aku mulai merasa bosan dengan bibirnya, sehingga ciumanku kuturunkan menuju rahangnya, dan kemudian leher jenjangnya yang terekspos jelas karena kerah piyamanya yang rendah.
Disana aku mengecup, mencium, menjilat, hingga menghisap. Lidahku kugerakkan kesana kemari, mencoba menyesapi rasa kulitnya, dan membuat beberapa tanda kemerahan disana.
Ciumanku kemudian turun menuju tulang selangkanya, namun tidak lama hingga turun lagi menuju dadanya.
Sesungguhnya saat aku sedang memberikan tanda pada lehernya, aku bisa merasakan pukulan-pukulan yang sama sekali tidak membuatku kesakitan yang dilakukan Wonwoo.
Namun hingga akhirnya aku mendengar isakan tangisnya dan suaranya yang terdengar pilu, memintaku untuk berhenti, barulah aku tersadar.
"Hiks.. samchon, jebal.. geumanhae."
"Samchon.. hiks, jebal.. andwaeyo.."
Aku mengangkat tubuhku yang sedari tadi menindih tubuhnya, mengukung tubuh ramping Wonwoo dengan kedua lenganku, dan kemudian bangun untuk segera melihat keadaan gadis yang merupakan keponakanku itu dalam keadaan kacau.
Meskipun ditutupi oleh kedua tangannya, aku tahu ia menangis. Wajah merahnya menjelaskan semuanya padaku.
Bibirnya bengkak, lehernya penuh dengan tanda kemerahan dariku, dan satu kancing teratas piyamanya sudah terbuka.
Rasa mabukku seolah menguar entah kemana, aku sudah benar-benar sadar sekarang. Cukup sadar untuk mengetahui bahwa aku sudah melakukan hal fatal.
Aku menggaruk kepalaku kasar, merasa bingung akan langkah yang harus kulakukan selanjutnya. Aku tidak bicara apa-apa, dan yang bisa kudengar dari kamar ini adalah isakan tangis Wonwoo.
Akhirnya kudekati kembali tubuh Wonwoo yang masih terbaring di ranjangku, dan mendudukan tubuhku disebelahnya.
"Won-wonwoo ya..." panggilku pelan, namun tanpa jawaban. Ia masih terus saja terisak.
Mungkin jika gadis di hadapanku ini adalah gadis biasa, ia pasti tidak akan bertingkah seberlebihan ini. Mereka bahkan akan menyambut kedatanganku dengan paha terbuka lebar.
Namun yang membuat ini tidak biasa adalah, gadis ini adalah keponakanku sendiri! Terlebih ia baru sembilan belas tahun! Dan yang paling parah adalah, aku bahkan belum genap seminggu mengenalnya!
Aku memaklumi tingkahnya yang seperti ini. Itu wajar. Aku malah akan merasa aneh kalau ia tidak merasa shock sama sekali. Ia pasti kaget dan takut.
Akhirnya aku kembali membuka suaraku untuk memanggilnya,
"Wonwoo-ya.. mianhae. Samchon minta maaf, ne?"
" a-aku khilaf. Tadi aku mabuk, sehingga tidak sengaja melakukannya padamu."
"Jebal mianhae, Wonwoo-ya..."
Merasa tidak juga ditanggapi, aku akhirnya menyerah. Aku mengusap pelan kepalanya dan membiarkan ia tetap berada di ranjangku. Aku yang memutuskan untuk pergi dari sana. Aku ingin ia menjadi lebih tenang dengan sendirian.
"Wonwoo-ya. Samchon benar-benar minta maaf. Samchon menyesal." Masih tanpa tanggapan, dan kemudian kuhela nafasku pelan.
"Baiklah kalau begitu. Samchon mengerti kau pasti kaget. Kalau begitu malam ini kau tidurlah disini, biar samchon yang pergi. Samchon akan tidur di kamar tamu."
"Jaljja.." ucapku sebelum benar-benar meninggalkan kamar.
Aku beranjak untuk keluar dari kamar dan mulai berjalan menuju kamar tamu di lantai dua rumah ini.
Kamar tamu ini cukup besar meskipun tidak semegah kamarku. Kuhempaskan tubuhku diatas ranjang yang cukup empuk disana.
Kuhela nafasku keras-keras, dan kemudian menutup kedua mataku menggunakan telapak tangan.
Haaaah... apa yang telah kulakukan?
Kesalahan yang kulakukan sangatlah fatal, aku tahu itu. Bukannya berlebihan, namun hal yang kulakukan sudah bisa disebut sebagai percobaan pemerkosaan.
Itu bahkan bisa menyebabkan trauma pada mental Wonwoo. Ia bisa membenciku. Ia bisa saja melaporkan hal ini pada Seuncheol hyung, dan aku bisa saja diusir dari rumah.
Akhirnya demi menyegarkan tubuhku yang penat, akupun memilih untuk mandi dengan air dingin, sekaligus untuk merelaksasi sesuatu dibawah sana yang ternyata sudah agak tegang.
.
.
.
Aku tidur dengan perasaan gelisah. Sudah kubalikan tubuhku kekanan dan kiri berkali-kali, namun tetap saja, kualitas tidurku malam ini sangat rendah. Untung saja besok adalah hari libur, sehingga aku setidaknya bisa bangun hingga siang hari.
Namun angan-angan ingin bangun siang tetaplah angan-angan, karena belum genap lima jam aku tertidur, aku sudah kembali terjaga dan langsung segar meskipun masih dini hari.
Bingung akan apa yang harus kulakukan, akhirnya aku mendapatkan sebuah ide.
Aku segera beranjak dari kasurku dan pergi menuju sebuah pasar tradisional yang terletak memang agak jauh dari kediaman rumahku.
Sekaligus berolahraga pagi, aku mengayuh sepeda gunungku demi menuju ke pasar tersebut.
Hanya dengan berbekal sebuah hoodie hitam, celana training, sepatu keds, snapback, dan sebuah dompet, kukayuh sepedaku.
Sesampainya disana, aku merasa agak takjub. Pasalnya, ini adalah kali pertama dalam beberapa tahun terakhir aku pergi kesini.
Dulu sekali, saat aku masih remaja, aku seringkali mengantarkan eomma pergi kesini untuk berbelanja.
Ia selalu lebih suka berbelanja di pasar tradisional. Lebih segar, katanya.
Keadaan sudah berbeda jauh. Meskipun terbilang tradisional, namun ini cukup modern menurutku. Ku gerakkan kekanan dan kiri kepalaku, berusaha mencari ide tentang apa yang akan kumasak hari ini.
"Aigoo.. anak muda! Apa yang sedang kau cari? Kenapa berbelanja di hari sepagi ini? Dimana istrimu?" Tegur seorang ahjumma penjual ikan segar padaku yang kelihatan sedang kebingungan.
"A-aniyo, ahjumma. Aku belum menikah."
"Ah, geurae? Kalau begitu kau pasti masih bujangan, ya? Memang susah jika masih sendiri. Kau harus melakukannya seorang diri. Ah! Kau sedang mencari bahan makanan? Bagaimana dengan seafood milik ahjumma ini? Ini sangat segar!" Ahjumma tersebut menunjuk-nunjuk barang dagangannya, yang kemudian membuatku turut tertarik.
Kutepikan sepedaku, kemudian menghampiri ahjumma tersebut.
"Apa yang ahjumma punya?"
"Ah! Hari ini spesial! Bagaimana dengan ikan besar ini? Kau bisa memasaknya dengan jahe! Rasanya sangat segar!"
Kusunggingkan senyumku. Kurasa sarapan bersama ikan tidak buruk.
Meskipun aku tidak tahu apakah Wonwoo akan suka atau tidak.
Setelah membeli ikan, kuputuskan agar turut membeli ayam serta daging sapi. Aku takut ia tidak suka masakanku, sehingga aku menyediakan banyak pilihan untuknya.
Yah, kalian benar. Kuakui, aku sengaja melakukan ini agar Wonwoo memaafkanku. Aku sengaja menyogoknya dengan memasakannya sarapan. Semoga ia suka.
Setelah selesai berbelanja, aku pulang ke rumah yang mana masih sepi dan gelap. Sepertinya Wonwoo belum bangun.
Itu bagus. Sehingga aku bisa menjalankan misiku dengan lebih leluasa.
Saat aku melangkah menuju dapur, kulihat beberapa pelayan memberikan salam padaku.
Mereka terkejut melihatku membawa begitu banyak barang belanjaan dari pasar, dan mereka segera bersiap untuk merebut kantung belanjaan tersebut dari tanganku.
"Ani. Biarkan aku yang melakukan ini. Anggaplah ini hadiah dariku, tapi kalian bisa berlibur hari ini. Cha! Kha!" Usirku pada para pelayan tersebut.
Setelah mereka semua pergi dan aku benar-benar sendiri, segera kupasangkan sebuah apron hitam pada tubuhku dan memulai aksiku dengan pisau dan penggorengan.
Aku mengukus ikan yang tadi kubeli dengan jahe dan cabai, sedangkan ayamnya kugoreng dengan tepung, dan daging sapinya kubuat menjadi sup kimchi.
Juga beberapa makanan tambahan seperti telur dadar dan salad buah, karena kupikir Wonwoo pasti akan suka.
Saat semua masakanku sudah selesai, dapat kulihat siluet seseorang dibelakang sana, dan itu adalah Wonwoo.
Ia sudah rapi, dalam artian sudah mandi, segar, dan wangi.
Namun penampilannya kali ini terlihat berbeda. Ia mengenakan sebuah hoodie kebesaran berwarna hitam dan celana panjangnya.
Ia juga menutupi lehernya dengan rambutnya yang sangat panjang itu.
Ia bergerak mendekati dapur, dan saat kupikir ia akan menghampiriku, ternyata dugaanku salah.
Ia ternyata hanya ingin mengambil segelas minuman dari kulkas.
"Good morning, Wonwoo-ya." Sapaku dengan suara ceria.
Ia tidak memberikan reaksi sama sekali. Ia terus saja menyesap minuman dari dalam gelasnya. Dan hanya sedikit menganggukan kepalanya saat minuman dalam gelasnya sudah habis.
Ia juga segera beranjak untuk meninggalkanku, namum segera kutahan lengannya.
"Wonwoo-ya, mau kemana? Aku sudah membuatkanmu sarapan. Mau makan bersama?" Tanyaku padanya.
Ia terlihat takut untuk menatapku. Ia terus saja menundukkan kepalanya. Meskipun aku tahu kenapa alasannya.
Tentu saja, gadis normal mana yang masih bisa bersikap biasa saja bahkan setelah hampir diperkosa oleh keluargamu sendiri?
Ia akhirnya menghempaskan tanganku dari lengannya dan menatapku nyalang.
"Ani." Ucapnya singkat, kemudian kembali beranjak pergi.
Namun segera kucegat langkahnya. Aku segera berdiri dihadapannua dan merentangkan kedua tanganku lebar.
"Aku tahu aku salah, aku minta maaf."
"Semalam, itu semua terjadi diluar kendaliku. Aku mabuk. Kau juga tahu itu, kan?"
Tidak ada suara apapun diantara kami. Hanya ada keheningan yang menyesakkan dada.
"Aku tidak berani berharap bahwa kau akan memaafkanku, hanya saja aku ingin menjelaskan padamu bahwa aku benar-benar menyesal telah melakukannya semalam. Aku berani bersumpah, aku melakukannya tanpa sengaja."
"Kau tahu, saat kau mabuk? Semua terlihat samar dan pikiran tidak bisa berjalan dengan benar. Itulah yang terjadi padaku semalam. Kau boleh membenciku, kau boleh mengadukannya pada ibumu, atau bahkan pada Seungcheol hyung sekalipun, aku tidak akan marah. Aku akan bertanggung jawab, aku akan menerima apapun konsekuensinya." Ucapku padanya.
Saat ini aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Aku memang tidak mengharapkan maaf dari Wonwoo, hanya saja setidaknya aku ingin ia tahu bahwa aku menyesal sudah membuatnya jadi merasa takut padaku.
Ia masih saja tidak memberikan reaksinya. Meskipun tatapannya yang tadi nyalang sudah berubah sedikit melembut.
Ia menggigit bibirnya, kemudian mengedarkan pandangan keseluruh penjuru ruangan. Ia menatap keatas seolah menahan sesuatu yang akan terjatuh dari matanya.
Hingga akhirnya pertahanannya runtuh, ia menutupi seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan, dan kemudian membalikan tubuhnya membelakangiku.
Sesungguhnya aku bingung akan reaksinya, namun hingga kudengar suara isakan kecil yang lolos dari bibirnya, maka aku tahu ia sedang menangis.
Bahunya terlihat sedikit bergetar. Suara isakannya terdengar menyesakkan. Akupun membalik kembali tubuhnya, dan berusaha menyingkirkan kedua tangannya yang menutupi wajah.
"Hajima.." ucapnya padaku saat aku berusaha menyingkirkan tangannya.
Namun aku terus berusaha hingga tangannya terlepas. Dan dapat kusaksikan wajahnya yang memerah, serta matanya yang basah.
Wonwoo benar-benar menangis.
Jujur, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku ingin memeluknya, namun aku tahu hal itu juga bisa turut memberikan dampak buruk. Ia sedang trauma, ingat?
Akhirnya kusentuh pipinya, dan kuhapus air mata yang menetes disana menggunakan ibu jariku.
"Kenapa kau malah menangis?" Tanyaku dengan suara serak.
Ia menggelengkan kepalanya pelan. Ia mengusap dengan kasar matanya yang basah.
Kutangkap dagunya agar ia mau menatap mataku. Ia mengerjapkan matanya pelan, berusaha menghilangkan sisa air yang masih berada di matanya.
"Wae? Apa kau takut padaku?" Tanyaku dengan suara selembut mungkin.
Lagi-lagi ia menggigit bibirnya gugup, namun akhirnya dengan berani ia sedikit menganggukkan kepalanya.
Dengan suara yang bergetar ia berkata,
"Eum. Aku takut.."
"Samchon, jebal jangan lakukan lagi..." pintanya padaku seolah ia sedang meminta permohonan pengampunan hukuman mati.
Seketika aku merasa dadaku berdenyut nyeri. Kukepalkan tanganku berusaha menahan segala emosi yang bergejolak.
Sefatal itukah akibat dari perbuatanku?
SHIT!
What have i done?!
Tanpa ba-bi-bu lagi, segera saja kubungkukkan tubuhku sembilan puluh derajat dan meminta maaf padanya.
Dengan kepala tertunduk dalam, aku menyesali perbuatanku.
"Mian. Jeongmal mianhae. Neomu neomu mianhe. Aku adalah pria brengsek. Pria jahat. Kau pantas membenciku." Ucapku dengan suara serak.
Wonwoo tidak juga membalas ucapanku, membuatku semakin merasa bersalah.
Aku tidak juga mengangkat kepalaku hampir selama tiga menit, hingga akhirnya kurasakan belaian lembut dari tangan Wonwoo menyentuh pundakku.
"Ne samchon baiklah. Aku memaafkanmu."
Aku mulai mengangkat kepalaku sedikit demi sedikit saat mendengar kata-kata tersebut.
Seolah beban berat di pundakku sedikit terangkat, aku menatap matanya dalam, dan ia juga membalas tatapanku sama dalamnya.
"Baiklah, aku memaafkan samchon. Tapi itu adalah untuk pertama dan terakhir kalinya aku melihat samchon mabuk dihadapanku. Jika lain kali aku melihat samchon mabuk, aku bersumpah aku akan kabur dari rumah ini dan tidak akan mau lagi menganggapmu keluargaku." Ucap Wonwoo padaku, membuatku sedikit tersenyum pada akhirnya.
"Ne! Yagsoghe!" Ucapku mantap sambil menyerahkan jari kelingkingku untuk ditautkan dengan miliknya.
Ia mengangkat sebelah alisnya, seolah bingung dengan kelakuanku.
"Sebagai jaminan! Kau boleh memangkas habis rambutku jika aku melakukan hak seperti itu lagi padamu!" Kataku lagi masih tetap dengan menjejalkan jari kelingkingku dihadapannya.
Ia sedikit tersenyum mendengar ucapanku, yang entah mengapa membuatku merasa sangat senang pagi ini.
"Gaurae. Samchon sudah berjanji, ya! Dan aku paling benci dengan pria yang suka ingkar janji"
"Ya, aku berjanji."
Kami menautkan jari kelingking kami, melakukam pinky promise yang manis di pagi hari disertai dengan senyum dan tawa Wonwoo yang percayalah, membuat hariku benar-benar penuh euforia.
Akhirnya kuajak Wonwoo untuk mencicipi sarapan buatanku. Kutarik kursi untuknya dan dibalas dengan senyum malu-malunya.
"Cha! Manhi mogo!" Ucapku padanya sambil merentangkan tanganku, sengaja memamerkan kebolehanku memasak.
"Whoaa... ini semua samchon yang membuatnya?" Tanya Wonwoo takjub padaku.
Ia memperhatikan seluruh makanan yang tersedia disana, matanya kelihatan berbinar. Senyumnya merekah. Well, aku cukup berhasil membuatnya takjub, bukan?
"eum. Ini semua aku yang membuatnya. Ayo, makanlah!" ucapku padanya sambil menyendokan semangkuk nasi dan memberikannya pada gadis kurus itu.
Setelah memberikan mangkuk nasi tersebut pada Wonwoo, aku pun turut duduk dan menyendokkan nasi kedalam mangkukku sendiri.
Wonwoo dengan bersemangat memilih semua lauk yang kuhidangkan disana, terkecuali satu hal.
"Wonwoo-ya, kau tidak ambil ikannya?" tanyaku heran melihat Wonwoo yang sedari tadi hanya memakan daging ayam dan sapinya.
"heum. Mianhae samchon, tapi aku alergi dengan seafood." Ucap Wonwoo dan disertai dengan senyum canggungnya. Sepertinya ia merasa sungkan dan tidak enak padaku.
Ah, ternyata ia alergi seafood. Akan ku ingat-ingat.
"apa lagi?" tanyaku.
Wonwoo mengerjapkan matanya imut saat mendengar pertanyaanku yang ambigu itu.
"apanya?"
"apa ada makanan lainnya yang membuatmu alergi, atau mungkin tidak kau sukai?" tanyaku lebih jelas padanya.
Aku terus menatap penuh minat pada Wonwoo yang mengedarkan bola matanya ke sekeliling saat ia sedang berpikir. Ia terlihat sangat imut saat itu.
"eum… selain seafood, sepertinya tidak ada yang membuatku alergi. Ah, dan aku tidak terlalu menyukai makanan manis." Ucap Wonwoo disertai cengiran gadis itu.
Aku menganggukkan kepalaku ringan.
"lalu makanan yang kau sukai?"
Wonwoo menyendokan sesuap nasi kedalam mulutnya, membuat pipinya menggembung lucu.
ah, rasanya aku tidak kuat lagi. Meskipun gadis ini tidak sedang ber-aegyo, kenapa ia selalu terlihat imut dimataku?
"tidak ada yang terlalu spesifik. Aku bukan orang yang pemilih. Ah! Tapi aku suka makanan pedas. Hehehe.."
Jeon Wonwoo. Alergi seafood, tidak suka manis, dan suka makanan pedas. Akan kuingat baik-baik itu.
Lalu kami menyelesaikan sarapan kami sambil diselingi beberapa obrolan ringan serta tawa Wonwoo yang benar-benar membuat hariku secerah matahari.
.
.
.
Kulihat Wonwoo sedang membuka halaman novel miliknya di ruang tamu dengan bosan. Ia bahkan hanya membolak-balikkan halaman tersebut tanpa ada niatan untuk membacanya.
Akhirnya aku yang baru saja selesai mengerjakan beberapa laporan pekerjaanku, menghampirinya dan duduk di sebelah gadis itu.
"Wonwoo-ya. Waeyo? Kau terlihat bosan?" tanyaku sambil memandang gadis itu yang sedang meniup poninya, bosan.
"eum. Samchon aku sangat bosan."
"memangnya kau tidak sedang membaca novelmu?" tanyaku sambil melirik sebuah buku dengan ketebalan kurang lebih enam ratus lembar.
"buku ini sudah kubaca lebih dari tiga kali. Aku meninggalkan koleksi novelku di rumah yang lama. Aku menyesal sekali." Jawabnya pelan. Ia akhirnya menutup buku tersebut dan mengelus covernya.
Aku sejujurnya sedikit kasihan melihat gadis ini. sehingga aku terpikirkan sebuah ide untuk membuatnya kembali ceria.
"kalau begitu, bagaimana kalu hari ini kita pergi? Ke toko buku, mungkin?" tawarku padanya.
Dan setelah mendengar kata 'toko buku' ia segera memandangku dengan tatapan berminatnya.
"benarkah? Samchon mau?" tanyanya padaku.
"geureom. Kenapa tidak? Lagipula ini hari sabtu, dan kebetulan aku sudah menyelesaikan semua pekerjaanku. Jadi bagaimana? Kau mau?" tawarku sekali lagi padanya.
Wonwoo segera menganggukkan kepalanya bersemangat. Aku tertawa pelan, kemudian mengelus kepalanya lembut.
"kalau begitu, bersiaplah. Kutunggu setengah jam lagi."
"assa! Chakkaman!" dan Wonwoo segera berlari kecil menuju kamarnya.
Namun tidak sampai sepuluh menit kemudian, ia kembali berjalan mendekatiku, masih dengan pakaiannya yang sama dengan yang tadi.
"kenapa?" tanyaku heran.
Wonwoo menggaruk tengkuknya malu-malu. Bisa kulihat dengan jelas rona merah wajahnya, saat ia berusaha memberitahu sesuatu hal padaku, namun ia ragu.
"bolehkah aku pergi dengan hoodie ini saja?" tanyanya ragu. Suaranya lirih, membuatku menaikkan sebelah alisku.
Jalan-jalan kami yang sebelumnya, ia bahkan berdandan sangat cantik. Tapi sekarang, ia ingin pergi keluar dengan hoodie kebesaran begitu?
"memangnya kenapa? bajumu belum kering dicuci?" tanyaku sambil meletakkan majalah yang sedari tadi masih kupegang.
"a-aninde."
"geundae wae?"
Wonwoo menggigit bibirnya ragu, ia menutup wajahnya sesaat, namun kemudian ia segera menyingkap rambut panjangnya kebelakang, dan menurunkan kerah hoodienya.
"keugo.." tunjuk Wonwoo pada sesuatu di lehernya yang berwarna merah sampai kebiruan.
Aku menjatuhkan rahangku saat melihat sesuatu yang merah dilehernya. Ya! Itu adalah kissmark yang kemarin aku tinggalkan pada lehernya.
Aku bahkan tidak percaya bahwa bekasnya akan menjadi sejelas itu sekarang.
Aku menggaruk kepalaku kasar. Perasaan bersalah kembali menyeruak kedalam sanubari.
"ah, Wonwoo-ya, mianhe. Jeongmal mianhe." Ucapku pelan.
"a-aniya! Aku sudah memaafkan samchon, sungguh! Hanya saja masalahnya sekarang, aku tidak memiliki baju yang bisa menutupi tanda ini dengan baik. aku jadi… bingung." Ucapnya malu-malu pada bagian terakhir.
Ah, jadi itu masalahnya. Aku kini mengerti.
Segera saja kugandengan tangannya menuju kamarku setelah mendapat sebuah ide.
"tunggulah sebentar disini, oke?" ucapku pada Wonwoo didepan pintu kamarku.
Tidak lama kemudian aku kembali keluar dengan membawa selembar baju untuk Wonwoo.
Wonwoo mengernyitkan dahinya. Ia merasa heran dengan apa yang baru saja kuberikan padanya.
"sweater turtleneck?" tanyanya ragu.
Aku menganggukkan kepalaku, kemudian tersenyum. Ya, aku memberikan sweater turtleneck kesayanganku sejak aku masih kuliah dulu. Sekarang baju itu sudah tidak muat lagi untukku, namun baju itu masih dalam kondisi yang benar-benar bagus. Terlebih warnanya yang hitam tidak membuat itu terlihat kusam.
"sebenarnya itu bajuku, tapi sudah tidak muat lagi. Yah, meskipun pasti kebesaran saat kau mengenakannya. Tapi setidaknya itu lebih baik daripada hoodie. Kau bisa memasangkannya dengan sebuah coat atau jaket yang manis."
Wonwoo kelihatan ragu, meskipun akhirnya ia menerimanya dengan senyuman geli di wajahnya.
.
.
.
Akhirnya Wonwoo mengenakan turtleneck milikku yang ia pasangkan dengan sebuah blazer berwarna tosca dan celana skinny jeans panjang. Ah, ia kelihatan benar-benar manis.
dan kalian tahu apa? Kali ini aku juga sengaja mengenakan kemeja berwarna hitam. Kalian tahu kenapa? tentu saja karena aku ingin kembaran dengan Wonwoo.
Aku mengajaknya ke sebuah mall yang terdapat toko buku yang cukup besar di Seoul. Dan ia kelihatan sangat excited. Ia segera saja melangkahkan kakinya menuju rak buku fiksi dan novel.
Aku yang tidak terlalu suka membaca buku kecuali laporan keuangan, hanya bisa mengekori gadis ini kemanapun ia pergi.
Matanya berbinar saat melihat barisan novel yang tertera best seller disana. Ia kemudian menatapku dengan pandangan malu-malunya, yang entah mengapa aku mengerti maksudnya. Dan aku suka.
"ya, ya. Ambil saja, Wonwoo-ya."
"kyaa..! jeongmal?! Gomawoyo samchon!" pekik Wonwoo girang, ia kemudian mengambil keranjang buku dan mengambil beberapa novel yang sekiranya menyita perhatiannya.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala merasa heran dengan gadis ini. aku yang membawa keranjang bukunya merasa ia sudah memilih lebih dari cukup buku untuk ia baca selama sebulan. Jika dihitung, ada tujuh novel yang memiliki halaman kurang lebih lima ratus lembar. Empat komik, dua buku biografi, serta sebuah essay tentang sastra.
Namun senyum tidak juga luntur sejak Wonwoo memasuki tempat ini dua jam yang lalu hingga sekarang, membuatku tidak tega menghilangkan kesenangannya.
"baiklah samchon, sudah cukup." Ucapnya saat ia merasa sudah bosan didalam toko buku tersebut.
"yakin? Tidak ada lagi yang ingin kau beli? Alat tulis, mungkin?" tanyaku padanya. Sejujurnya, aku sudah kesulitan membawa keranjang buku yang sangat berat ini, namun sekali lagi, ini adalah hal yang membuat Wonwoo senang, sehingga aku tidak sampai hati melarangnya.
"aninde. Aku masih belum perlu alat tulis. Sudah samchon, ini saja. Lagipula aku tahu, sedari tadi samchon sudah keberatan bukan, membawa keranjang buku yang sangat berat ini?" tanya Wonwoo menggodaku, membuat wajahku memerah malu.
Akhirnya kami membayar buku-buku pilihan Wonwoo dan meninggalkan toko buku tersebut.
Namun seketika mataku menangkap sesuatu diseberang sana, dan segera saja kugandeng tangan Wonwoo menuju tempat tersebut.
"selamat datang, tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pegawai di toko tersebut.
"samchon, kenapa kita kemari?" tanya Wonwoo heran.
"ah, ya. Tolong periksa mata gadis ini." ucapku pada pegawai tersebut.
"mari ikut saya, nona."
"samchon, wae?!" tanya Wonwoo lagi setelah pertanyaannya sebelumnya tidak kugubris.
"sudah sana cepat ikuti pegawainya." Usirku.
Satu hal lagi yang kuketahui dari Wonwoo. Yaitu kondisi matanya yang kurang bagus. Karena terus mengekori gadis itu selama dua jam di toko buku, aku sudah bisa lebih dari tahu bahwa Wonwoo harus memicingkan matanya saat melihat sesuatu di kejauhan. Dan sekarang aku bertekad untuk membelikannya sebuah kacamata, dan beberapa pasang softlens, mungkin.
"sudah selesai, tuan. Nona ini memiliki minus di mata kiri dan silinder di mata kanannya." Ucap sang pegawai setelah selesai memeriksa mata Wonwoo.
"apakah parah?"
"tidak terlalu. Masih bisa diatasi dengan rutin mengenakan kacamata."
"baiklah, aku mau satu. Wonwoo-ya. Coba kau pilih model frame yang kau sukai." Ucapku sambil menatap Wonwoo yang sedari tadi hanya diam mendengarkan percakapanku dengan pegawai itu.
Wonwoo menghela nafasnya.
"tidak perlu, samchon. Aku masih bisa melihat, yah meskipun sedikit buram. Tapi aku baik-baik saja." Kilah Wonwoo.
Aku berdecak kesal. Selalu saja seperti ini saat aku ingin memberikan gadis itu sesuatu.
"cepat, Jeon Wonwoo. Atau akan kubuang semua bukumu ini." ancamku padanya.
Wonwoo hanya mendengus pelan, kemudian memilih fram di kotak kaca didepannya. Dan ia segera memiih sebuah frame berwarna perak berbentuk bulat.
"yang ini." tunjuk Wonwoo.
Gadis itu segera mencoba framenya, dan aku hampir mimisan dibuatnya.
She's freaking cute! God damn it!
Dulu aku selalu beranggapan bahwa gadis nerd itu sama sekali tidak terlihat menarik. Namun sekarang, melihat Wonwoo dengan kacamatanya, aku merubah pikiranku.
Wonwoo adalah satu-satunya gadis nerd yang hot.
"bagaimana? Bagus tidak?" tanyanya padaku sambil tersenyum lebar.
Aku segera mencubit pipinya gemas.
"cocok denganmu. bulat."
"hey! Aku tidak bulat!" protes Wonwoo padaku.
"aku ambil yang ini." ucapku pada pegawai tersebut dan menyelesaikan proses pembayaran.
Akhirnya karena sudah merasa lelah, kami memutuskan untuk makan di sebuah restaurant pasta. Kami selalu mengiringi acara makan kami sambil diselingi obrolan ringan. Dimulai dari Wonwoo yang bertanya kabar padaku selama seminggu kemarin sempat menghilang, hingga aku yang bertukar nomor ponsel dengannya karena belum sempat sejak seminggu yang lalu.
Kami pulang kerumah dan aku segera mengangkat kantung berisi buku belanjaan Wonwoo kedalam kamarnya.
Karena berat, ia pasti tidak akan kuat membawa itu sendiri, jadi sekalian saja kubawakan sampai ke kamar.
Aku memperhatikan sekeliling kamar tamu yang selalu kosong itu kini sudah berganti menjadi milik Wonwoo. Kamarnya khas milik anak gadis.
Dengan seprei ranjang berwarna pink, serta meja rias yang penuh dengan botol-botol diatasnya, aku tahu ini kamar milik seorang perempuan.
Dan satu hal yang kusukai dari kamar ini sekarang, setelah dulu aku begitu membenci kamar ini karena menurutku kamar ini dulu agak menyeramkan.
Kamar ini menguarkan harum Wonwoo yang sangat kuat, membuatku merasa nyaman. Dan tanpa sadar akupun tersenyum.
"samchon, waeyo? Kenapa tersenyum? Ada yang lucu?" tanya Wonwoo setelah keluar dari kamar mandi. Ia baru saja mengganti pakaiannya dengan piyama.
"aninde." Ucapku setelah mengembalikan raut wajahku seperti biasa.
Kulirik kain berwarna hitam yang ada di genggaman tangannya, kemudian menengadahkan tanganku kearahnya.
"heum?" tanyanya heran.
"bajuku. Sudah selesai, kan?"
"tapi aku belum sempat mencucinya. Setidaknya biarkan aku mencucinya." Wonwoo bersikeras, namun aku tetap kukuh pada pendirianku.
"tidak perlu, Wonwoo. Biar para maid saja yang mengerjakannya."
"aniya! Aku mau mencucinya sendiri!" pekik Wonwoo
"gadis keras kepala." Aku akhirnya mengalah dan membiarkan gadis itu berbuat sesukanya.
Karena gemas, sekali lagi kucubit pipinya hingga memerah. Ia merintih kesakitan sambil mengelus pelan pipi putihnya.
"ah, mian. Mian.." ucapku sambil tertawa. Ia hanya bersungut-sungut sambil memajukan bibirnya.
Dan tinggi badanku yang terpaut lima belas centi darinya bisa membuatku dengan jelas ekspresi wajahnya dari atas sini. Dan lagi-lagi fokusku selalu mengarah ke bibirnya yang selalu berwarna pink dan terlihat mengkilap itu.
Namun aku segera tersadar, hingga akhirnya kuusap lembut pucuk kepalanya dan mengucapkan selamat malam.
Namun aku tidak tahu kenapa, wajah Wonwoo malah memerah saat itu.
TBC
