"Iya, Sai-kun. Aku nggak pa-pa, kok."

"Iya—arigato sudah mengkhawatirkanku, tapi sungguh—aku nggak apa-apa."

"Ah, bukan. Itu sepedanya Sasuke-kun yang reot."

"Hmm mungkin besok bisa, entahlah."

"Untuk sementara ini memang belum, otoo-san sangat sibuk."

"Eh? Nanti Sasuke-kun malah sendirian."

"Benar juga, sih. Tapi aku kasihan juga, dia dimarahin habis-habisan."

"Itu karena tiba-tiba Temari-nee datang dan memaksa Gaara-kun pulang—penting katanya. Ahaha, aku sih, nggak masalah kok, Sai-kun."

"Iyaa..."

"Iya, baiklah. Nanti akan kusampaikan pada Sasuke-kun."

"He'em, arigatou gozaimashita ne, Sai-kun."

"Love you too~"


Little Brother vs Boyfriends

©Andromeda no Rei

.

Standard Desclaimer Applied

.

.

Kiroku 3 :

Muka Palsu—Stay Away!

.

.

.

"Ne, ne, Sasuke-kun~"

"Hn..."

Uchiha Sakura mengguling-gulingkan tubuhnya di atas single-bed Sasuke sambil sesekali memencet tombol-tombol oval pada ponsel flip-nya. "Cewek yang kemarin itu teman Sasuke-kun, ya?"

Sasuke menoleh, mengalihkan pandangannya dari setumpuk buku tebal dan kertas-kertas yang berserakan di meja belajarnya. "Cewek yang mana?" sebelah alis cowok berambut raven dan aksen pantat bebek itu menaikkan sebelah alisnya.

"Ck, itu lho yang pake kacamata," jawab Sakura seraya tengkurap dan sedikit mendongak menatap Sasuke yang masih duduk tak berkutik.

"Hn?" lagi-lagi hanya respon tidak berarti dari Sasuke.

"Yang kemarin hampir kau tabrak!" ucap Sakura sedikit frustasi. Astaga—Sasuke terlalu muda untuk pikun! "Yang pake kacamata—namanya siapa dah? Karin, ya? Karin, bukan?"

"Ohh~ namanya Karin, ya?"

GUBRAKK

Sakura jatuh terjungkang dari atas kasur empuk itu dengan sangat tidak elitnya. Si adik hanya memperhatikannya dengan sebelah alis terangkat. Mengapa juga kakak perempuannya itu harus jatuh segala?

Hening.

"Apa dia salah satu fangirl-mu?" suara Sakura yang melengking kembali mengusik telinga Sasuke.

"Hn, mana aku tahu," jawab Sasuke tanpa menoleh dan terus bergelut dengan pe-ernya. "Kenapa emangnya? Nee-san naksir dia?" tanya Sasuke dengan santainya.

Sakura mengerutkan dahinya, berpikir dalam. Sasuke serius tidak, sih? Ia 'kan sudah tujuh belas tahun! Dan Sakura yakin betul adik semata wayangnya itu masih normal, kok. Mengapa setiap kali diajak ngomong soal cewek atau fangirl-nya, Sasuke selalu saja mengaitkannya dengan Sakura sendiri. Memangnya Sakura itu yuri? Atau bisexual? Tidak tuh.

Ia kemudian bangkit dari posisi tidak elitnya saat jatuh tadi dan menghampiri Sasuke di meja belajar yang tidak terlalu besar itu.

"Ne," ujar Sakura sambil merangkul pundak sang adik dan melihat apa yang dikerjakan Sasuke dari balik punggung tegapnya. "Kau nggak mau nyari pacar emangnya? 'Kan tinggal milih saja dari daftar penggemarmu, trus ajak kencan. Gampang, 'kan?"

"Hn, aku gak minat." Sasuke tidak memedulikan kakaknya yang hanya mendesah kecewa mendengar jawabannya. Ia kembali membolak balik halaman buku History of Konoha-nya.

"Kau jangan-jangan yaoi, ya?"

Ucapan Sakura yang tepat ke arah telinga kiri Sasuke membuat cowok berwajah stoic itu menghentikan aktivitasnya. Ia menolehkan kepalanya ke arah kiri—yang kini berjarak beberapa senti dari wajah Sakura. "Nggak lucu, Nee-san," ujarnya dengan nada datar.

Sakura mengerucutkan bibirnya. "Habisnya, kau itu selalu—"

Ah, uruwashiki ai no uta~

Itsu no hi mo kawarazu ni

Atashi no mae de zutto utatte ite onegai~

"Ah, Neji-kun!" Sakura tersentak kaget mendengar ringtone untuk Neji berdering dari ponsel flip-nya di atas single-bed Sasuke. Ia melepas rangkulannya pada Sasuke dan berlari menerjang benda kotak kesayangannya itu.

Kono mune ga~ tomaru made—

"MOSHI-MOSHI?"

Bukan. Itu bukan suara cempreng Sakura yang mengangkat telpon. Itu jelas suara baritone laki-laki yang baru akil baliq.

Sial. Sakura menepuk dahi lebarnya—mengutuk dirinya sendiri yang terlalu lamban dan secara tidak langsung—membiarkan Sasuke mengangkat telpon dari Neji, sang pacar yang berambut bak bintang iklan shampoo.

"Mana Sakura?" —terdengar suara di seberang sana sedikit kesal.

Sasuke menyeringai dan melirik sang kakak yang hanya menatapnya dengan pandangan jangan-macam-macam-Sasuke-kun andalannya.

"Kau nggak diajarin sopan santun ya, Taichou?" ucap Sasuke dengan nada malas.

"Aku ingin bicara dengan Sakura, Sasuke." —suara Neji kembali terdengar.

"Hn, begitu."

"Dengar, Sasuke. Apa yang kau lakukan dengan ponsel Sakura?"

"Aa~ aku sedang nggak punya pulsa untuk ber-email dengan temanku, jadi—"

"Aku nggak suka kebodohan yang dibuat-buat, Sasuke. Nggak lucu."

"Begitukah?"

"Kau jelas bukan tipe yang suka berkirim e-mail untuk hal yang membosankan."

"Kalau begitu, boleh aku minta pulsa? Pulsaku benar-benar ha—AAAARRGGHH~! Sakit, Nee-san!" Sasuke menghentakkan lengannya dan mendorong sang kakak yang dengan begitu teganya menggigit lengan mulusnya. "Sakit, tahu!"

Sakura mencibir.

"Sakura—kau bisa dengar aku? Kuhubungi lagi nanti—jika Sasuke nggak ada. Jya na."

KLIK

TUT TUUT

Mata emerald Sakura membulat tak percaya. "Lihat apa yang kau lakukan!" serunya pada Sasuke sambil merampas ponsel putihnya dengan kasar.

"Kenapa aku? 'Kan dia duluan yang matiin sambungannya," ucap Sasuke sambil mengelus-elus lengannya yang kini memerah dengan bekas gigitan Sakura.

Sakura mendelik ke arahnya kemudian bergegas pergi meninggalkan kamar yang sedikit berantakan itu. Namun belum sempat jemari lentiknya meraih gagang pintu—

"Heh heh, mau ke mana?" suara datar Sasuke menggema. "Enak saja meninggalkan otouto-mu dengan keadaan begini."

"Obati saja pake obat merah. Selesai," ucap Sakura sewot.

"Kalau aku sampe rabies gimana?"

"Mana aku tahu, Sasu—"

"Ada apa sih ribut sekali?" ucap suara lembut agak kasar dari arah pintu kamar Sasuke yang tiba-tiba berdecit terbuka—Uchiha Mikoto. "Sasuke-kun kenapa? Tadi kaa-san dengar kau teriak-teriak," lanjutnya sambil memperhatikan Sasuke dari ujung kaki hingga ujung ekor—eh, ujung rambut teratasnya. Masih sama dan baik-baik saja kok. Kaus putih tanpa lengannya masih rapih. Celana pendeknya juga tidak melorot atau apa pun. Kecuali—

"Lenganmu kenapa, Sasuke-kun?" Mikoto menelengkan kepalanya, sedikit mengernyit memperhatikan lengan anak bungsunya yang sedikit memerah dengan bekas titik-titik berdarah.

Sontak telunjuk Sasuke dan Sakura serempak menunjuk satu sama lain. Mikoto sweatdrop. Mengapa untuk urusan tuduh-menuduh begini anak-anaknya begitu kompak? Gerakan mereka persis sama dan cepat. Hanya ekspresinya saja yang berbeda—Sakura dengan bola mata bulat dan pandangan itu-salah-Sasuke-kun-nya, sedangkan Sasuke dengan pandangan datar bukan-aku-tapi-nee-san-nya.

"Oh, lupakan saja," ucap Mikoto seraya membuka pintu kamar Sasuke lebih lebar. "Ayolah makan malam, Sakura-chan, Sasuke-kun. Too-san sudah menunggu di bawah."

.

.

.

Mulut Sakura ternganga lebar. Kedua bola mata emerald-nya mengerjap beberapa kali—memastikan pemandangan di hadapannya ini bukan sebuah jurus ilusi yang sering ia baca di komik-komik shounen. Dan ini, juga jelas-jelas bukan mimpi.

Baiklah, ini memang sudah waktunya berangkat sekolah—aktivitas hariannya. Tapi ini benar-benar seperti mimpi. Sebut saja mimpi indah.

Oh, lihat itu. Sesuatu yang dengan manisnya nangkring di depan pagar kayu halaman kediaman Uchiha—sebuah volvo hitam mengkilap dengan pemuda berseragam gakuran rapih—seragam yang sama dengan yang Sasuke kenakan setiap kali ke sekolah, kecuali saat musim panas.

Pemuda berambut hitam rapih itu tersenyum ketika Uchiha Sakura—putri jelita yang sedari tadi ditunggunya, akhirnya menampakkan batang hidungnya. "Ohayou, Sakura," sapanya dengan nada lemah lebut.

"Aa-a... o-ohayou, Sai-kun!" jawab Sakura sedikit terbata. Ia jelas merasa sangat teristimewa saat ini. Memang benar Sai—salah satu pacarnya—bilang akan menjemputnya untuk berangkat sekolah hari itu. Tapi cowok yang hobi melukis itu tidak pernah menyebutkan bahwa mereka akan naik mobil.

"Aa, aku lupa kau juga orang kaya." Suara itu lagi. Suara siluet bayangan hitam yang melewati Sakura dengan anggunnya menuju ke arah mobil sang pacar.

"Ohayou, Sasuke," sapa Sai disertai senyum palsunya.

"Hn, makasih ya, atas tumpangannya," ujar Sasuke sambil seenak jidat-lebar-Sakura membuka pintu belakang mobil Sai dan mendudukkan diri dengan rileks di jok belakang.

Sakura melongo. "Sa-Sasuke-kun!"

"Apa aku pernah mengatakan sesuatu tentang mengajakmu ikut serta, Sasuke?" tanya Sai yang masih berdiri bersandar pada pintu depan mobilnya—masih juga dengan senyum palsunya.

Sasuke meniru. Ia pun turut tersenyum dan memicingkan matanya ke arah pemuda pucat itu sambil berkata, "Nggak pernah. Tapi dengan senang hati aku bakal ikut."

Sai menepuk jidatnya sendiri—masih sambil memamerkan senyum palsunya. Apa-apaan itu?

"Sai-kun." Sakura menghampiri Sai sambil menunduk. Air mukanya kelihatan sekali kalau dia sangat merasa bersalah. "G-gomen-nasai ne... Sasuke—"

"Nggak apa-apa, Sakura," potong Sai sambil memainkan helai-helai rambut pendek Sakura, membuat gadis itu sedikit merona. "Anything for you."

PEEEEEEEEEESSSSSSHHHHHH

Muka Sakura sudah hampir menyamai warna dasi sailor yang dikenakannya. Cewek mana yang tahan dengan wajah ganteng nan pucat seorang Sai, yang saat itu sedang berjarak sangat dekat dengan wajahmu—sambil memain-mainkan rambut merah mudamu, dan mengatakan istilah yang oh-so-fluffy itu di dekat pipi yang merona? Sakura bisa saja klepek-klepek saat itu juga. Tapi walau bagaimana pun ia bukanlah seekor ikan.

Ini dia salah satu kelebihan—atau kekurangan?—punya pacar orang yang memiliki darah seni.

Apa... apa itu artinya sebentar lagi Sai akan...

Batin Sakura menjerit girang, membayangkan hal-hal yang bisa membuat pipi seorang penonton bersemu merah di saat scene romantis pada sebuah drama.

"OI, NGGAK PAKE LAMA." Suara menjengkelkan Sasuke kembali terdengar—mengusik suasana romantis yang selalu Sakura idam-idamkan.

Damn it! Mengapa Sasuke selalu saja berhasil merusak saat-saat fluffy Sakura, sih?

"Baiklah, kita berangkat sekarang," ujar Sai sambil membukakan pintu penumpang untuk Sakura dan berlari kecil mengelilingi mobil hitam itu untuk siap mengemudikannya.

Perjalanan berlangsung tanpa ocehan yang berarti. Hanya suara-suara riuh klakson mobil dan beberapa pejalan kaki yang saling bersautanlah yang memenuhi gendang telinga mereka. Sai diam—berkonsentrasi pada jalanan di hadapannya. Sedangkan Sakura—mungkin sedikit gugup, karena Sasuke mengawasinya dari belakang. Bukannya Sakura takut, sih. Hanya saja jika ada Sasuke, Sakura jadi tidak bebas ngobrol.

Namun diamnya Uchiha Sasuke kali ini bukan karena bosan, atau memang karakternya didesain untuk jadi pendiam—tidak.

Sasuke sedang memperhatikan sesuatu sambil berpikir keras. Tatapan mata onyx-nya terus tertuju pada tengkuk Sai—yang tidak tertutupi rambut kerah gakuran-nya yang terkancing rapih. Ada sesuatu pada tengkuk pucat itu yang sedikit menarik perhatian Sasuke.

Sebuah gambar yang meliuk-liuk.

Berwarna biru kehijauan.

Apa itu—tato?

Sasuke mengerutkan keningnya yang tertutup poni. Sai-senpai punya tato?, pikir Sasuke. Otak kritisnya sedang bekerja saat ini. Ia tahu, Sai itu hobi menggambar—dan sering memenangkan kejuaraan seni lukis seantero Konoha. Cowok pucat itu menjadi ketua klub seni rupa bukan tanpa alasan. Tapi bukan berarti ia suka menggambari tubuhnya sendiri, 'kan?

Premanisme?

Tidak—Sai bukan tipe yang seperti itu. Sasuke mengenalnya sudah dari setahun yang lalu. Ia tahu, Sai merupakan salah satu dari beberapa cowok elegan di sekolahnya—selain si ketua OSIS, Hyuuga Neji—dan aku sendiri, tambah Sasuke dalam hati.

Dan lagi-lagi, asal kau tahu saja—Uchiha Fugaku diangkat menjadi kepala kepolisian pusat di seluruh wilayah Konoha bukan tanpa alasan. DNA seorang Uchiha yang turun temurun diwariskan oleh nenek moyang mereka memang sangat mengerikan. Dan Sasuke merupakan seorang Uchiha karena talenta turunan itu mengalir dalam darahnya.

Ia sedang dalam periode keingintahuan tingkat dewa.

.

.

.

"Ah, Uchiha."

Seorang pria dengan rambut cokelat terkuncir tinggi serta bekas luka melintang pada hidungnya menoleh ketika Sasuke memasuki ruang kesiswaan. Ia tersenyum tipis pada Sasuke sebelum beranjak dari meja kerjanya dan menghampiri si bungsu Uchiha yang hanya celingukan tidak jelas. "Ada perlu apa, Uchiha?" tanyanya.

"Iruka-sensei," ucap Sasuke sambil sedikit membungkukkan badannya. "Boleh aku melihat data siswa kelas 3-2, Sensei?"

"Aa, kelas kakakmu itu, ya. Sebentar, ya," ujar Umino Iruka sambil menghampiri sebuah rak besar dan mengambil sebuah buku tebal yang sedikit kusam. "Ini dia," lanjut pria berkulit kecoklatan itu sambil membuka lembaran kertas kekuningan pada buku itu—menampilkan beberapa foto siswa kelas 3-2 beserta data-data mereka.

"Terima kasih." Sasuke meletakkan buku itu di atas sebuah meja kecil dan membolak-balik halamannya.

"Memangnya untuk apa, Uchiha?" tanya Iruka dari arah meja kerjanya.

"Nee-san minta tolong untuk mengecek datanya sebelum ia benar-benar mengikuti ujian akhir nanti," jawab Sasuke tanpa menoleh.

"Haa... persiapan anak-anak pintar memang berbeda sekali, ya." Iruka berujar sebelum menyeruput cappucino hangatnya.

Sasuke tidak merespon. Ia hanya memfokuskan diri pada lembaran-lembaran di hadapannya. Mata onyx-nya bergerak-gerak lincah membaca setiap tulisan pada kertas itu. Sampai ia akhirnya menemukan nama dan foto Sakura pada salah satu lembaran itu, namun tidak digubrisnya.

Jelas sekali. Bukan data Sakura yang ia cari.

Tapi—orang lain.

Yang juga sekelas dengan Sakura.

Ne, kau berbohong pada Iruka-sensei lho, Sasuke.

Sasuke tidak peduli. Ia hanya ingin memastikan sesuatu—mengobati rasa penasarannya. Hingga akhirnya jemari yang menyapu setiap foto dan huruf-huruf itu berhenti pada sebuah nama.

Fujiwara Sai

Di sebelah kiri nama itu terpampang foto empat-kali-enam seorang cowok berwajah pucat dengan senyum palsu andalannya. Sasuke mengerutkan keningnya. Dengan gesit ia membaca setiap data tentang pemuda itu—memprosesnya dalam otak kiri.

BRAKK

"Arigatou, Sensei."

Itulah suara terakhir dari seorang Uchiha Sasuke yang dengan tidak sopannya menutup buku data siswa kelas 3-2 tanpa merapihkannya kembali dan melesat keluar ruangan—membuat sang guru hanya bisa menatapnya cengo dan geleng-geleng kepala.

"Anak SMA zaman sekarang," desahnya pasrah.

.

.

.

TILUT TILUT TILUT TRALALALALALALAAA TRILILILILILILILIIII~

Bel aneh tanda pulang sekolah pun berbunyi—bersamaan dengan riuhnya sorakan-sorakan bahagia dari beberapa siswa dalam kelas atas berakhirnya sekolah hari ini. Beberapa siswa bahkan sudah berhamburan ke luar kelas bahkan sebelum guru mereka keluar dari kelas itu. Tampak sebagian dari mereka langsung menuju tempat parkir sepeda dan langsung bergegas pulang, serta sebagian lagi masih bergelut dengan entah-pekerjaan-apa yang mereka tulis di dalam kelas, atau ruang klub masing-masing. Tampak pula beberapa anak klub basket putra menyempatkan diri untuk sekedar main basket beberapa ronde di gedung olahraga.

Tak ubahnya anak SMA pada umumnya, Uchiha Sasuke—anak bungsu dari kepala kepolisian Konoha—tenggelam dalam suatu keributan kecil di dekat gerbang sekolah—dengan sahabat terbaiknya, siapa lagi kalau bukan Uzumaki Naruto.

"Kau pulang jalan kaki saja, Naruto!" ujar Sasuke sambil menarik paksa sepeda Naruto.

"Enak saja. Nggak mauuu~!" balas Naruto sambil mencibir. Ia terus mempertahankan sepeda kesayangannya itu. "Aku mau pulang bareng Hinata, tahu! Kami masih mau ke toko buku!"

"Sejak kapan kau ke toko buku, hah! Kau 'kan alergi buku!"

"Ini Hinata yang ada perlu! Aku sih tunggu di luar—lepasin sepedaku, Sasuke-temeeee~!"

"Nggak! Aku pinjem dulu! Sebentar!"

"Nggak bisa sekarang! Memangnya sepedamu mana, sih?"

"Rusak!"

"Salah sendiri!"

"DOBE!"

"TEME!"

"DOBE!"

"TEME!"

Hyuuga Hinata yang berdiri di sebelah mereka hanya bisa menganga tak percaya kini, ketika semua mata tertuju pada mereka. Pada Naruto dan Sasuke yang saling tarik-menarik sebuah sepeda sederhana sambil ngomel-ngomel tidak jelas.

"N-Na-Naruto-kun..." suara Hinata terdengar lirih.

"TEME!"

"Sa-Sasuke... –kun..." suara Hinata semakin tenggelam.

"DOBE!"

"A-ano..." Hinata mulai panik.

"TEME!"

"Ne, n-ne... minna—"

"DOBE!"

"TEM—"

"NARUTO-KUN, SASUKE-KUN—HENTIKAAANN—!"

"Apa sih teriak-teri—EEEHH~?" seketika bola mata saphire Naruto terbelalak ngeri ketika melihat orang yang dibentaknya barusan tak lain tak bukan adalah Hinata, pacarnya sendiri.

"N-Naruto-kun... kau me-membentakku..." ujar Hinata lirih. Mata lavender-nya terbelalak tak percaya. Padahal selama ini Naruto selalu berlaku ramah dan ceria pada Hinata. Tapi kali ini ia membentak gadis berambut indigo sepunggung itu padahal ia hanya ingin menengahi perkelahian tak pentingnya dengan Sasuke.

"Eh—eh, aduh, nggak Hinata... aku—a-aku nggak maksud..." Naruto terbata-bata. Ia bingung, panik, dan kesal pada saat yang bersamaan.

"Hiks... Naru-to... –kun..." air mata mulai menggenangi pelupuk mata Hinata.

"Yah yah dia nangis... aduh, Hi-Hinata gomen, aku nggak bermaksud memben—"

"NARUTO-KUN JAHAT!"

And with that, Hyuuga Hinata membalik tubuhnya dan berlari ke luar gerbang sekolah tanpa memedulikan orang-orang yang ditabraknya.

"Huaaaa Hinata nangis—SIAL!" Naruto mengacak-acak rambut pirangnya frustasi. Mata saphire-nya kemudian beralih pada Sasuke yang cuma adem-adem saja. "INI SEMUA SALAHMU, TEME—SALAHMU!" teriak Naruto sambil menepuk-nepuk kedua pipi Sasuke dengan kedua telapak tangannya yang mulai berkeringat—tidak memedulikan ekspresi aneh Sasuke yang mengerjapkan matanya berkali-kali ketika pipinya ditepuk-tepuk.

Belum sempat Sasuke protes, cowok blonde itu telah melesat pergi dengan kecepatan tinggi mengejar sang kekasih yang ngambek—mungkin karena lagi PMS.

"Sial," rutuk Sasuke sambil mengelus-elus kedua pipinya yang kini memerah. Naruto memang kurang ajar. Fans Sasuke saja belum pernah ada yang berani menggrepe-grepe pipi kesayangannya itu. Sekarang malah si cowok rubah itu seenaknya menabok—eh, menepuk pipinya dengan agak keras. Sasuke mendecih kesal.

Oke, Sasuke mungkin sedikit senang karena berhasil mendapatkan sepeda Naruto—meski hanya pinjam, sih. Tapi ia sedikit merasa tidak enak juga melihat Hinata ngambek pada Naruto. Mau gimana lagi? Memang salah Naruto kok, bela Sasuke dalam hati.

"Eh? Sasuke-kun?"

Sasuke menoleh malas ke arah asal suara cempreng yang sangat dikenalnya itu. Sakura—berdiri tak jauh dari tempat Sasuke berdiri sambil sedikit kesulitan membawa tumpukan buku tebal. Di belakangnya tampak si pemuda pucat—Sai—juga membawa beberapa buku yang lebih tebal.

"Itu sepeda Naruto, ya?" Sakura menelengkan kepala permen kapasnya.

"Hn, aku masih mau mampir ke rumah Akimichi." Sasuke melirik Sai yang hanya tersenyum ke arahnya. "Nee-san pulang bareng Sai-senpai?"

"Nggak, Sasuke," jawab Sai yang maju selangkah dan berdiri sejajar dengan Sakura. "Aku harus menjemput pamanku di bandara."

Sebelah alis Sasuke terangkat—sebuah bahasa isyarat yang hanya dimengerti oleh Sakura, yang artinya cowok berambut spiky duck-butt itu minta penjelasan lebih tentang 'terus-neesan-pulangnya-gimana?'.

"Gaara-kun yang jemput kok, tenang saja," jawab Sakura disertai senyum manisnya.

"Hn."

"Menunggu lama?" suara anak pejabat itu lagi.

Sasuke memutar bola matanya dan menoleh ke arah Gaara yang tiba-tiba muncul dengan pandangan bosan.

Sakura tersenyum girang. "Nggak kok, Gaara-kun," jawabnya antusias.

Sai menghampiri Gaara dan secara sepihak menyodorkan buku-buku tebal yang dibawanya langsung pada tangan bebas Gaara. "Nih. Aku masih ada perlu," ujarnya sambil tersenyum. Pemuda mayat itu kemudian berbalik dan mengecup bibir Sakura singkat—tepat di depan kedua mata Sasuke dan Gaara!

Sakura blusing berat, menundukkan wajahnya dalam-dalam.

Twitch.

Empat siku-siku merah muncul di dahi Sasuke dan Gaara secara bersamaan.

Sai masih tersenyum. Ia menoleh ke arah Gaara dan berkata, "Sakura harus selamat sampai rumah lho ya, Gaara-kun."

Setelah itu ia berlalu begitu saja.

Sasuke men-deathglare punggung Sai yang semakin menjauh sebelum akhirnya kembali menatap iris aquamarine Gaara dengan tajam—setajam silet—eh, sembilu. "Kau," ujarnya sambil menunjuk Gaara. "Berani grepe-grepe nee-san, harganya kunaikkan dua kali lipat dari yang kemarin-kemarin."

"Sasuke-kun!"

"Hn, aku duluan." Sasuke mengayuh sepedanya dan berlalu meninggalkan sepasang kekasih yang masih mematung dengan tumpukan buku-buku tebal mereka.

"G-gomen-nasai," ujar Sakura lirih.

"Nggak masalah," jawab Gaara dengan ekspresi datar. "Nanti aku juga dapat bagian."

Eh~? Maksud Gaara apa, sih?

.

.

.

Koakan gagak menggema di setiap sudut langit kota Konoha, menambah kesan suasana menjelang malam. Gemerlap lampu-lampu jalan yang sudah dihidupkan menambah kesan jingga indah kota itu.

Di sebuah kompleks perumahan yang sangat sepi, di dekat pintu gerbang bersimbol dua naga yang saling bertautan—terparkirlah dengan rapih sebuah sepeda berwarna dongker dengan seorang pemuda berambut raven yang berdiri di sebelahnya. Mata onyx pemuda itu menatap pintu pagar bersimbol naga dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Ah, Sasuke, ya."

Sasuke tidak terkejut. Ia tahu. Ia sudah tahu—bahwa mereka akan bertemu di sini. Dengan malas, Sasuke menolehkan kepalanya ke asal suara—mendapati Fujiwara Sai sedang berdiri tak jauh dari pintu gerbang naga tersebut. Masih dengan senyum palsunya.

"Hn, yakuza." Sasuke berujar datar. "Hiasan yang indah. Pantas saja kau punya tato di punggung."

"Kau terlalu memuji," lanjut Sai seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana hitamnya.

Tiba-tiba Sasuke merasakan getaran pada saku celananya. Ia merogoh ponsel flip hitam yang berada dalam sakunya dan melihat sebuah e-mail masuk.

KLIK

From : Nee-san

Subject : ne~

Ne, ne, Sasuke-kun! Coba tebak kejutan yang otoo-san siapkan di garasi! Cepat pulang, cepat pulang! \(^0^)/

サクラ

Sebelah alis Sasuke terangkat ketika membaca pesan dari kakak tersayangnya. Paling-paling sepeda baru, pikirnya. Sasuke menutup ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku celananya. "Baiklah, aku harus pulang sekarang. Kasus ditutup."

"Kau yakin nggak ingin mampir dulu untuk minum teh?"

"Lain kali saja—mungkin."

"Baiklah."

Sasuke menaiki sepedanya dan hendak mengayuhnya.

"Oh ya, Sasuke."

Sasuke menghentikan gerakannya. Ia mendengarkan Sai—tanpa menoleh.

"Kau jangan kesal," lanjut Sai dengan tenang. Ada nada geli dalam ucapannya. "Lagian Sakura sudah tahu dari awal, kok."

Kedua onyx Sasuke sedikit terbelalak, sedikit tidak percaya atas apa yang didengarnya. Seolah tidak menghiraukan apa yang diucapkan Sai, Sasuke mengayuh sepedanya dan bergegas pergi dari wilayah itu. "Hn, sampai nanti."

.

.

.

"Tadaimaaa~"

"Okaeri-nasai, Sasuke-kun," sahut Mikoto dari dalam rumah.

Sasuke menghela napas dan berjalan gontai memasuki ruangan utama rumah sederhana itu. Ia tidak melihat Sakura di ruang tengah, atau pun kedua orangtuanya. Sampai ia dengar suara air mengalir dari arah kamar mandi, ia tahu—ayahnya baru saja pulang dan sedang menikmati ritual mandi-sepulang-kerja-biar-segar yang biasa dilakukannya.

"Ne~ Sasuke-kun!" seru Mikoto dari arah dapur. Sasuke mengambil langkah, menghampiri sang ibu yang tengah sibuk menyiapkan makan malam.

"Ada apa?" Sasuke bersandar pada frame pintu—memperhatikan gerak-gerik Mikoto yang dengan cekatan memasak pada dua kompor sekaligus.

"Tebak siapa yang bakal datang berkunjung ke sini dalam waktu dekat ini!" seru Mikoto sambil menggoyang-goyangkan spatulanya. Sasuke mengangkat sebelah alisnya. "Sepupu kalian yang tinggal di Ame—Itachi-kun!"

"ITACHI-NIISAN?" Sasuke tidak bisa percaya atas apa yang ditangkap pendengarannya barusan.

"Iya, baru saja ia menelpon ke sini," jawab Mikoto sambil tersenyum senang. "Oh ya, dia titip salam buat Sasuke-kun lho. Itachi-kun bakal ada penelitian di Konoha, jadi dia akan menginap di sini sementara—sekaligus liburan juga."

Sasuke menepuk dahinya yang berponi. Bayangan sosok kakak sepupu yang sedang berpose hai-aku-orang-ganteng menari-nari dalam otaknya.

Kuso.

.

.

.

.

つづく

[to be continued]


Author's Note :

Hai, hai, semuanya~ rei balik lagi apdet cerita ke-3 dari fic penuh kenistaan ini! xD maaf ya kalo kelamaan (^^a) hehe... sudah apdet lama, abal pula #plakk

Dan ngomong-ngomong~ KARIN MANAAA~? Padahal rei niat masukin karin di chap ini tapi kok gak ada yaa (TT^TT) gak dapet bagian deh tu anak. Ck, dasar karin! Main ke mana aja sih? #abaikan

Oke oke, waktunya jawab pertanyaan dari reviewers kemareeenn (^0^)/

1. Siapa lagi pacar Sakura yang laen? Waa banyak! xD nih kali ini Sai-kun yang nongol ^^a

2. Apa di sini Sasuke bakal dipasangin sama Karin? Aa~ kayaknya gak bisa dibilang pasangan deh. Soalnya karin Cuma buat pelengkap Sasuke aja biar gak keliatan sendirian—sekedar nunjukin sasu juga punya fans gitu xD

3. Kenapa sakura punya banyak pacar? Eh—kenapa ya? *dihajar* soalnya rei emang bikinnya gitu *nyengir* yeah... i don't know either sih~

4. Sasori kapan muncul? Chap depan kayaknya deh—iya kan, Sas? *nyenggol-nyenggol Sasori* yup! Chap depan giliran sasori! xD

5. Kakashi bakal jadi pacar sakura gak? Wah, sayangnya nggak tuh. Kakashi bakal dapet scene fluffy dikit di fic ini, tapi bukan sebagai pacar kok :)

6. Karin nyengir cantik gak tuh? Ya cantik dong!—itu Karin sendiri yang jawab, bukan rei! Sungguh! #taboked

Yuhuuu SPECIAL THANKS buat :

NHL-chan, Rizuka Hanayuuki, Haza ShiRaifu, aya-na rifa'i, Devil's of Kunoichi, Yori Fujisaki, tiffany90, Hikaru Kin, , Lucy121, 4ntk4-ch4n, Soraka Menashi, Ricchu, and'z a.n, Midori Kumiko, wie yamada, Dhevitry 'The Tomato Knight, VIolet7orange, Zhie Hikaru-chan, ruki ruu mikan head, sheila, Uchiha Reiko Ichihara, dan juga buat para silent readers sekaliaaann~ ARIGATOU GOZAIMASHITA NEE~

chap ini rei buat demi kalian semua—meskipun jelek dan garing—tapi masihkah readers sekalian berkenan untuk membaca bahkan meninggalkan jejak REVIEW? Onegai? ^^

じゃな、みんな~

Salam,

Al-Shira Aohoshi

a.k.a Andromeda no Rei