Title : He's Mine, not Yours
Fandom: Infinite.
Pairing : All x Woohyun like always~. But you know me so well(?) that it's gonna be WooYa and MyungHyun. And this fic had WooGyu friendship by the way.
Rating : T+ (maybe?)
Warning : Sho ai, OOC, crack pair, harem(?)
.
..
...
15022015
"Kalian berdua, berhentilah bersikap seperti patung!" Gusar Kyoungjae. Namja berambut pirang terang tersebut dengan jengkel memperhatikan dua sahabatnya yang bermain Playstation tanpa menunjukkan emosi masing-masing meskipun salah satu karakter telah kalah.
"Kami hanya sedang berkonsentrasi hyung."
Mata Eli menatap tajam L yang tadi menjawab dengan kalem, "Huh, berkonsentrasi melupakan Nam Woohyun kah maksudmu? Argh! Kalian sudah hampir empat tahun seperti ini! Kapan kalian menjadi manusia biasa lagi?!"
Karena kedua temannya tidak menjawab Eli melihat jam tangannya lalu pergi ke kamarnya yang ia bagi dengan L.
Hoya yang mendengar suara gesekkan antar kain menoleh ke arah Eli yang memasukkan bajunya ke koper.
"Kau mau kemana hyung?"
"Aku tidak betah tinggal bersama dua patung dan aku menerima ajakkan Kiseop dan Kevin untuk tinggal di apartemen mereka. Uang sewa bulan ini sudah kubayar, jadi kalian tidak perlu khawatir. Aku pergi dulu."
"Yah!"
"Yah!"
L dan Hoya berpandangan, "YAH! Eli hyung!"
"Kalian menemukannya?"
Sungjong dan Sungyeol menggeleng bersamaan mendengar pertanyaan Dongwoo. Sunggyu yang tadi mencari bersama Dongwoo terbatuk kehabisan nafas karena berlari dan berteriak, kemudian ia merasakan sesuatu yang dingin dipipinya. Begitu ia menoleh, senyuman cerah Kiseop menyambutnya.
"Yah kalian terlihat sibuk sekali. Mencari apa?" Tanyanya lalu mebagikan minuman kaleng yang dibawanya ke namja-namja tersebut.
"Woah hyung, kau penyelamatku." Desah Sungjong dramatis.
Dongwoo mengehela nafas, "Kami bukan mencari 'apa', seharusnya kau tadi bertanya 'mencari siapa'."
"Lho, aku 'kan memang tidak tahu yang kalian cari," pemuda berambut merah gelap itu memajukan bibir bawahnya, "Baiklah aku ralat. Kalian mencari siapa?"
"Kami mencari orang bernama Woohyun. Kau mengenalnya?" Tanya Sungyeol setelah menghabiskan minumannya sekali teguk.
Kiseop berpikir, mata besarnya mengerjap-ngerjap, "Sepertinya aku melihatnya. Dia ditaman bersama Eli. Aku mengenalnya karena dia teman kalian dan karena Kevin mengenalkannya padaku."
Semuanya tersenyum lebar mendengar ucapan Kiseop. Tak lama kemudian mereka menoleh kebelakang karena mendengar derap orang yang sedang berlari.
Mereka melihat Woohyun berlari dengan gadis yang lebih banyak dari sebelumnya.
"Whoa minna! Tasukette!" Teriaknya, bersembunyi dibelakang tubuh DongGyu yang langsung memasang ekspresi sangar mereka.
"Noonadeul, dongsaengdeul, apakah kalian tahu kami dimarahi Profesor kami karena beliau tidak menemukan Woohyun ssi?" Geram Sunggyu datar. Mata sipitnya semakin sipit dan itu membuat sebagian besar yeojya tadi berpikir dia sangat creepy.
"Tapi Gyu oppa!" Salah satu yeojya yang dikenal Sunggyu cemberut, "Temanmu sangat adorable~ Can we keep it?"
Para pemuda disana berpandangan horor mendengar ucapan yeojya barusan.
Sementara DongGyu dan YeolJong berbantah-bantahan dengan para yeojya disana, tanpa Kiseop sadari, seseorang membekap mulut Woohyun lalu menariknya keluar dari kerumunan.
"Kiseop ah, bawa Woohyun pergi!" Perintah Dongwoo karena mereka semakin terdesak.
"Kenapa aku harus membawa Woohyun pergi? Kenapa kita tidak kabur saja jika disini ada celah."
Kepala empat pemuda lain melihat 'celah' dibelakang Kiseop lalu mendeathglarenya. Tatapan bilang-dong-dari-tadi yang mereka lemparkan malah membuat pemuda manis itu menjulurkan lidah mengejek lalu kabur duluan sampai kemudian menyadari sesuatu.
Kemana perginya Woohyun?
"Hei kalian, aku membawanya."
Hoya yang sedang mengobati luka Eli mendongak, mendeathglare Woohyun yang langsung menghambur ke Kyoungjae.
"Gomawo Kevin ah."
"No problem. Aku mau mencari Kiseop hyung dulu."
Setelah namja cantik bermata sipit tadi pergi, L mengangkat sebelah alisnya, "Kau akrab dengan Eli hyung?"
"Dia sangat adorable, bagaimana mungkin aku tidak akrab dengannya?" Eli terkekeh kecil, "Kukira kalian sudah melupakan peristiwa lima tahun lalu eh? Saat kita dipanggil ke ruang OSIS karena seseorang."
Wajah Hoya memerah mendengar nada jahil sahabat mereka. Woohyun sendiri tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
Keempatnya sekarang berada di taman tempat Sunggyu dan teman-temannya biasa berkumpul dengan Eli yang berbaring diobati tiga namja lain karena para fangirl Woohyun menyerangnya dengan brutal.
"Aigooo! Kami berkeliling mencarimu dan ternyata kau disini?" Seru Sunggyu jengkel. Ia menghentakkan kaki lalu mencubit kedua pipi Woohyun.
"Atatatatata! Aku tadi diculik Kevin kesini hyung."
"Kenapa dia menculikmu? Toh tidak ada untungnya."
"Aku meminta Kevin untuk menculiknya karena terlalu berbahaya membiarkannya sendirian." Cengir Eli memberi alasan.
"Jinjja? Akh... Aku lelah!" Sungyeol berbaring dipangkuan Woohyun seperti tadi pagi. Beberapa pasang mata menatap posisinya tersebut dengan tajam.
Dongwoo melihat Rolex miliknya yang kemarin tidak jadi dibanting, "Bagaimana kalau kita pulang sekarang. Aku tidak yakin Profesor kita masing-masing akan membiarkan kita masuk sekarang."
"Setuju!" Seru Myungsoo dan Sunggyu bersamaan. Hoya mengangguk karena bagaimanapun juga dirinya dan Dongwoo sekelas sedangkan Woohyun menghela nafas. Dirinya baru masuk kemarin dan sudah berani membolos? Ia yakin jika sepupunya disana, ia akan menceramahinya habis-habisan.
"Err, mianhae hyungdeul," Sungjong menggaruk kepalanya, "Aku tidak bisa ikut membolos. Sekyung ssi akan masuk di jam ini."
Semua mahasiswa terkecuali Woohyun bergidik. Shin Sekyung memang seorang dosen yang sexy dan sangat cantik, tidak ada namja di Universitas yang tidak akan memandangnya melewati mereka. Tapi ia juga terkenal dengan sikap galaknya yang tersembunyi dibalik wajah anggun tersebut.
"Woah, Hwaiting Jongie."
Sungjong mencibir dalam hati karena ledekkan Sungyeol barusan. Dia tidak butuh disemangati, dia perlu bantuan untuk kabur dari dosen itu jika ketahuan membolos.
"Aku pergi dulu hyung!"
"Ayo kita pul-"
"Lee Sungyeol!"
"Errrr..." Dengan perlahan Sungyeol membalikkan badannya dan menahan nafas melihat seseorang dibelakangnya, "Ji-Jinyoung ssi..?"
Dosen tersebut tersenyum killer begitu melihat wajah Sungyeol menjadi pucat pasi.
"Chi-chingudeul, aku masuk dulu ya, bye!"
Seandainya Sungjong masih berada disana, mahasiswa Fashion itu akan balik meneriakkan 'Woah, Hwaiting Yeollie.' keras-keras. Sayangnya namja dengan poni yang menutupi mata kanannya tersebut telah pergi, tidak sempat melihat sang Choding yang berlari tunggang langgang dikejar dosen playful tapi garang dari fakultasnya.
"Kajja kita pulang." Ajak Sunggyu. Dongwoo, Hoya, Myungsoo dan Woohyun –yang sweatdrop karena kejadian epik barusan- mengangguk lalu melambai pada Eli dan Kiseop yang masih disana.
Begitu tiba ditempat parkir, Hoya menahan Woohyun yang akan memasuki mobil Sunggyu. "Kau naik mobil Dongwoo hyung. Dongwoo hyung, kau ikut Gyu hyung saja, biar mobilmu Myungsoo yang menyetir."
Tiga pemuda yang disebut mengerutkan kening dengan heran dan Dongwoo merasa rasa cemburunya muncul melihat Hoya yang dengan intens menatap Woohyun. Brunet tersebut mengalihkan pandangannya dari Howon.
"Aniya, kau dan L masuk ke mobil Sunggyu. Biar aku dan Woohyun semobil." Dongwoo dan Hoya beradu deathglare.
"Kalian-"
"Stop," Woohyun menyeringai melihat sesuatu dibelakang teman-temannya, "Daripada kalian berkelahi aku pulang bersama mereka saja."
Keempatnya terkejut ketika Woohyun berlari menghampiri dua orang yang masih duduk diatas motor sport masing-masing.
"Daeryong hyuuuung! Bogoshippoyo~" Teriaknya kekanakkan dengan wajah ceria. Namja yang dipanggil Daeryong tersenyum lalu mengacak rambut namja brunet tersebut sebelum mencium keningnya. Hal tersebut sukses mendapatkan deathglare dari kembarannya.
"Yah, apa kau hanya merindukan Daeryong hyung, Woohyunnie? Kau tidak merindukanku?"
"Ne hyung, tapi aku lebih merindukan Daeryong hyung."
Jawaban Woohyun malah membuat Soryong cemberut karena itu bukan jawaban yang ia inginkan.
"Kenapa kalian disini?" Tanya Woohyun antusias, menatap Soryong dengan tatapan berbinar.
Soryong tersenyum playful, "Karena aku merindukan Kecebong didepanku~"
"Hyung, sekali lagi kau memanggilku kecebong akan kugigit tanganmu."
"Ouw, Kecebongku yang penurut sekarang bermetamorfosis menjadi anjing, bagaimana bisa?"
"Hyung!"
Deryong membiarkan kembarannya dan Woohyun saling cubit disampingnya,"Mereka teman-temanmu?" Tanyanya kemudian, kepalanya menggidik ke Hamster, Dino, Kucing dan Harimau dibelakang dongsaeng mereka.
"Ne. Bolehkah aku minta tolong mengantarku pulang?"
"Aniya!" Hoya mendekati ketiganya, "Kau harus pulang bersama kami!" Ujarnya ngotot. Ia menarik Woohyun yang menghela nafas pasrah kembali ke teman-temannya.
"Apa-apaan kau? Kau bisa menyakiti Woohyun!" Sergah Dongwoo yang langsung melepaskan cengkraman Howon di tangan Woohyun.
Namja jabrik tersebut terkejut karena ingatannya kembali ke kejadian kemarin.
"Jaa, aku tidak mau berpisah dengan Sunggyu hyung."
"Kalau begitu aku ikut mobil Sunggyu hyung."
Dongwoo mengangkat alis dengan jealous mendengar ucapan kompak dua namja yang lahir di bulan Maret disana.
"Hei," Soryong mendekati mereka dengan ekspresi wajah yang sangat bosan, "Kau dan kau," tunjuknya ke Hoya dan L, "Ikut Woohyunnie. Biar aku saja yang ikut Dino tampan ini."
Dahi Daeryong berkedut marah, 'Dino tampan katanya?!' "Soryong, kau tidak perlu-"
"Kajja cepat masuk." Soryong tidak memperdulikan kembarannya dan malah menggamit lengan Dongwoo.
Di mobil Sunggyu..
"Rasanya aku pernah mendengar nama mereka."
Woohyun tertawa, "Tentu saja. Mereka Zheng DaLong dan Zheng XiaoLong. Kalian mengenalnya?"
"Oh! Mereka Tasty Twins?" Tanya Hoya semangat.
"Wow, dimana kau mengenal mereka?"
"Jangan bilang salah satu dari mereka itu tun-"
"Bukan!" Teriak Woohyun malu. "Aku hanya membantu Soryong hyung."
"Maksudmu dengan membantu? Mereka tidak terlihat kesusahan, tidak seperti anak kucing dan anak harimau dibelakang kita."
"Aish hyung, bisa berhenti memanggil kami seperti itu tidak?!"
"Sayangnya tidak Howonnie~ Kalian bertiga terlalu adorable untuk melepaskan pet name kalian. Oh ya Hyunnie, lanjutkan ceritamu."
"Aku membantu Soryong hyung karena.."
"Ne?"
"Ka-karena... SoryonghyungmenyukaiDaeryonghyung."
Sunggyu menghentikan mobilnya secara dadakkan dan menoleh kesahabatnya, "Mereka incest?"
"Cinta Soryong hyung bertepuk sebelah tangan. Daeryong hyung mempunyai pacar yang sangat cantik dan bulan depan mereka akan bertunangan."
"Duh," Decak ketiganya prihatin. Sunggyu kembali menjalankan mobilnya dan sunyi menyelimuti mobil tersebut.
Daehyun memiringkan kepalanya sedikit lalu segera berlari melihat jam, menyadari jam baru saja menunjukkan sekitar jam empat sore.
"Kau bolos hyung?" Tanyanya ketika Woohyun dan Sunggyu langsung menghantamkan wajah mereka di karpet tebal nan lembut disana. Mendengar gumaman pelan 'Mian' dari mulut Woohyun, mata almond miliknya berkedip kemudian melihat dua pemuda yang masih terdiam dipintu depan,.
"Hei masuklah, mulai sekarang 'kan kalian akan tinggal disini. Jangan sungkan meminta apapun, ara?"
Keduanya mengangguk grogi lalu mendudukkan diri didekat Sunggyu. Dongwoo masuk tak lama kemudian.
"Hyaaah! Aku lelah!" Raungnya.
Hoya mengangkat kepala, memandang prihatin sahabat dekatnya selain Myungsoo tersebut, "Ada apa hyung?"
"Soryong ssi tidak berhenti menangis di mobil. Dia menyuruhku mempercepat mobil karena motor Daeryong ssi tepat dibelakang mobilku. Ketika keluar- well, aku malah harus menonton adegan telenovela." Terangnya diakhiri oleh putaran bola matanya.
"Jangan bilang Daeryong hyung menarik tangan Soryong hyung, lalu mereka berkelahi, lalu Soryong hyung menangis dan memukuli Daeryong hyung lalu akhirnya Daeryong hyung memeluk Soryong hyung?"
Dongwoo nampak memikirkan penjelasan datar Woohyun yang agak membingungkan, "Itu benar, adegan seperti itulah yang kulihat tadi. Kau begitu mengenal mereka eh?"
"Mereka seniorku ketika aku bersekolah di Jepang. Daeryong hyung tukang flirting, dan Soryong yang selalu memendam apa yang ia rasakan. Dan hubungan mereka ternyata masih sama seperti dulu."
Sunyi...
Daehyun menggeram pelan seraya menyeka keringatnya melihat atmosfir dingin disana. Namja tersebut bersender di dekat TV sementara para pemuda seumurannya berguling nyaman di karpet.
Sebuah ide kemudian melintasi otaknya dan ia segera berlari kedapur, berharap rencana ini mencairkan tensi tidak enak tersebut.
"Hyungdeul," Sapanya riang, membawa sesuatu dinampan, "Hari ini panas ne? Ini kubawakan es krim."
Mata Sunggyu, Dongwoo dan Woohyun langsung berbinar seperti anak kecil begitu kata 'es krim' meluncur dengan inosen dari bibir namja tan dari Busan.
Namja tertua membuka bungkus es krim strawberry dan langsung mengulumnya. Erangan puas tanpa sadar keluar dari mulutnya dan membuat beberapa temannya membeku.
Woohyun tertawa kecil. Jika Sunggyu mengambil rasa strawberry, pilihannya jatuh pada vanilla karena ia menyukai rasa itu sejak kecil.
Kedua sahabat itu masih sibuk dengan es krim mereka yang meleleh dengan cepat karena suhu panas ketika Daehyun menyadari tiga namja lain tidak ada yang berkedip memandang keduanya. Apalagi dengan berisik Woohyun menjilati telunjuknya yang terkena lelehan.
"Woohyun hyung," Panggilnya dengan cengiran evil.
Sang pemuda Nam mengeluarkan es krimnya, cairan berwarna putih mengaliri sudut bibirnya ketika ia bertanya "Apa?"
"Es krimmu cepat habis, mau kuambilkan lagi? Yang vanilla 'kan?"
"Bol-"
"No!" Jerit Myungsoo frustasi kemudian berlari naik.
Tak menghiraukan namja berambut coklat muda yang wajahnya menunjukkan ekspresi tersiksa, Woohyun tersenyum lebar, "Boleh. Apakah masih ada Daehyunnie?"
"Ne, biar aku ambilkan dulu. Gyu hyung?"
Namja foxy tersebut hampir menjawab, tapi Dongwoo segera memotongnya, "Jangan hyung, kau bisa sakit nanti dan flu pasti akan mempengaruhi suaramu."
Bisa saja Sunggyu itu clueless atau hanya reflek. Tapi apapun itu, ketika sang leader mempoutkan bibir merahnya yang semakin merah karena sirup strawberry, Dongwoo merasa pikirannya blank seketika.
Sementara Dongwoo masih bengong menatap Sunggyu, di lain pihak teman sesama dancernya merasa wajahnya semakin panas karena saat ini Woohyun sedang menjilati stick es krim yang dimatanya terlihat sangat sensual.
Dengan bibir merah serta cairan putih disekitar bibirnya, Woohyun mengerling ke Hoya dan-
"Yah! Lee Howon!"
Mata Daehyun melebar. Dia sama sekali tak menyangka reaksi yang ia dapatkan akan seperti ini. Menghela nafas pelan, Daehyun membalikkan badannya dan menuju kolam renang.
Berharap Woohyun dan DongGyu bisa membawa Hoya yang pingsan ke kamarnya, kekeke...
'Byuuuurrr'
Hoya terbangun, mendeathglare siapapun yang membangunkannya.
Oh, itu Baekhyun. Diva tersebut berkacak pinggang dengan gelas kosong ditangan kiri.
"Satu, kenapa kau tidur dilantai? Dua, apa ini caramu menyelesaikan 'masalahmu'?"
Namja dengan mata paling gelap yang masih terduduk dilantai basah mengangkat alis kirinya. Baekhyun menyeringai dan menunjuk selangkangannya.
Blush..
"Argh! Keluar kau pabboya!"
Bantal yang ia lemparkan bukannya mengenai Baekhyun, melainkan mengenai Daehyun yang masuk dengan membawa obat yang mungkin saja bisa membantu.
"Geez kalian ini.. Baek ah turunlah, Woohyunnie dan Myungsoo sedang memasak, kau bisa membantu mereka."
Howon juga ingin ikut turun begitu membayangkan MyungHyun memasak. Siapa yang tahu jika tiba-tiba mereka berciuman?
"Kau cemburu?"
"Hah?" Tanyanya meskipun ia mendengar apa yang Daehyun katakan.
"Kau terlihat membenci Woohyun tapi kau juga membenci orang yang mendekatinya. Sebenarnya bagaimana perasaanmu?"
Dancer tersebut membeku. Bagaimana mungkin namja yang baru ia temui tadi pagi sudah bisa 'membaca' dirinya lebih baik dari temannya yang lain bahkan dari Myungsoo sekalipun?
"Sebenarnya kau siapa?"
"Haish, kau tidak perlu tahu. Yang jelas aku disini hanya untuk menjaga Woohyun, sama seperti Baekhyun yang berusaha membahagiakannya."
"M-maksudmu?"
"Sudahlah, aku tidak mau berbicara lebih panjang lagi. Lebih baik selesaikan urusanmu lalu turun untuk makan malam. Woohyun sangat panik ketika kau pingsan didepannya tahu. Dan oh, Myungsoo bahkan hampir memarahi kami."
Menghela nafas berat, Hoya berdiri dan menuruti perkataan Daehyun sementara namja Busan yang lain membersihkan kamarnya karena ulah usil Baekhyun yang membangunkan Hoya tadi.
"Ummm.." Hoya bersuara dari kamar mandi, "Daehyun ssi, bisa tolong ambilkan satu set baju?"
Daehyun menurut dan membuka koper ungu milik Hoya. Ketika tangannya menarik celana bermuda dari tumpukkan paling bawah, selembar foto terjatuh dalam keadaan tertutup.
Tak mau ambil pusing dia membiarkan foto itu dan memberikannya pada Hoya.
"Ne, aku turun dulu ara? Aku takut Sunggyu hyung marah seperti tadi pagi."
"Hn."
Meskipun Daehyun merasa itu bukan jawaban, toh ia juga melangkahkan kaki keluar.
Beberapa menit kemudian Hoya keluar dengan ekspresi wajah lebih fresh dari sebelumnya. Ia melihat foto yang tadi terjatuh lalu mengambilnya.
Ia tersenyum sebentar, mencium foto itu, menyimpannya kembali lalu keluar.
Foto itu adalah foto yang juga dimiliki Myungsoo. Foto remaja yang tersenyum cerah dan menunjukkan eye smile manisnya.
Setelah keluar, ia memandang koridor lantai dua dengan bingung karena sejauh matanya memandang, tak terlihat ada tangga.
"Howon hyung."
Pemuda itu menoleh ke belakang dan Woohyun yang memakai tank top hitam terlihat melambaikan tangan.
"Tangganya disini."
'Oh,' Batin Hoya, menyengir, 'Apakah terlihat sekali aku mencarinya?'
Setelah mengikuti Woohyun turun dan menuju dapur, Myungsoo nampak bersedekap lalu memandang keduanya bergantian.
"Apa yang kau lihat?"
Pemuda Pisces itu menggeleng dan mengalihkan perhatiannya dari WooYa ke 2Hyun yang suap-suapan.
"Kalian seperti couple," Kikik Sunggyu. Baekhyun langsung melotot sementara Daehyun terkekeh.
"Mereka berdua juga."
Myungsoo menoleh dan disambut sesendok nasi. Ia memperhatikan senyum Woohyun yang akan menyuapnya.
Di seberang meja, Hoya hampir mematahkan sumpitnya saat itu juga karena Myungsoo menerima suapan Woohyun. Tanpa sengaja mata Baekhyun melihatnya dan ia…
…menyeringai.
"Hei kau yang melamun disana, kau mau makan atau hanya mau menonton?"
"H-huh?"
Para pemuda seumurannya menoleh ke Hoya yang ditegur Baekhyun barusan dan mereka bisa melihat jika Hoya memendam amarah sebisanya –meskipun gagal karena Baekhyun menyadarinya.
"Kau baik-baik saja Hoya?" Tanya Sunggyu prihatin.
"Aku baik-baik saja."
"Kau mau disuapi juga eoh?"
Jleb
"Ah begitu. Kau bisa minta Myungsoo menyuapimu 'kan? Kalian toh teman sejak lahir."
Hoya tidak menggubris Dongwoo dan memilih mengaduk-aduk minumannya sementara 2Hyun masih suap-suapan dengan sesekali memperhatikannya dan Myungsoo.
Setelah selesai makan, Hoya menarik Myungsoo menjauh dari yang lainnya keluar, ke taman.
"Ck ada apa? Kau tidak perlu menarikku sekasar itu 'kan."
"Harusnya aku yang bertanya padamu. Ada apa denganmu? Bisa-bisanya kau dan dia seakrab itu."
"Bukannya sudah kubilang aku tidak mau menyakitinya lagi?"
Detik itu juga tatapan Myungsoo menjadi dingin dan Howon menepuk dahinya karena lupa pada ucapan Myungsoo waktu itu.
"Kau boleh saja tidak menyakitinya, tapi jangan flirting dengannya! Kau mau-"
"Kau cemburu?"
Mata Hoya membelalak, ia mengatupkan bibir dengan rapat selama beberapa detik.
'Apakah perasaanku terlihat jelas?' Batinnya. Ia sudah ditanyai seperti itu oleh Daehyun sebelumnya dan sekarang Myungsoo juga curiga. Mungkin jika ia berada di dekat Woohyun ia tidak akan bisa menahan perasaannya lebih lama.
"Aku cemburu? Pada musuh abadiku?"
"You're in denial Hoya."
"Humph!" Howon tersenyum masam lalu berbalik meninggalkan Myungsoo sendirian.
Myungsoo menghela nafas di taman tersebut kemudian bersandar didinding.
"Mau sampai kapan kau menguping terus?"
Terdengar suara langkah kaki dibelakangnya dan surai pirang kecoklatan tertiup angin.
"Sebenarnya aku mau menguping lebih lama. Paling tidak sampai salah satu dari kalian mengaku kalau kalian menyukai Woohyun tapi ternyata Hoya kalah argumen denganmu."
"Apa itu ada untungnya untukmu jika mengetahuinya Jung Daehyun?"
Daehyun tersenyum tipis, "Tentu saja. Woohyun hyung itu teman terbaikku. Saat aku di bully, ia menolongku."
Dada Myungsoo terasa dingin mendengarnya. Secara tidak langsung ucapan Daehyun mengingatkannya pada waktu ia dan Hoya membully Woohyun dulu.
"Saat aku diusir dari tempat tinggalku dia yang menolongku. Bahkan ketika aku sakit dan harus menjalani operasi berkali-kali, ia dan Boohyun hyung yang membayari pengobatanku. Sayang sekali Boohyun hyung sudah tidak disini lagi."
"Kau sakit apa?"
"Oh itu rahasia~ Yang mengetahui hal ini hanya Tuhan dan Woohyun hyung saja." Daehyun terkekeh sendiri lalu menggamit lengan L, "Ayo masuk, disini panas lho. Dan aku akan menyiapkan es untuk kalian."
Menyadari sinar jahil dimata Daehyun, Myungsoo rasanya ingin langsung berlari kekamar sampai para namja itu selesai memakan es krim mereka. Atau paling tidak sampai Woohyun selesai berseduktif ria.
"Kau mau Hoya pingsan lagi?"
"Mungkin? Rasanya menyenangkan sekali mengerjai kalian."
L nyengir dan membiarkan Daehyun menariknya, "Sepertinya kau lebih menyenangkan daripada Baekhyun."
"Memang," Jawab Daehyun seolah itu memang sudah seharusnya, "Kau juga lebih baik daripada Hoya dan.. unik. Pantas saja Sunggyu hyung lebih sering memujimu daripada dia."
"Kakek itu memujiku? Kau tidak bercanda 'kan?"
"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda? Jika aku bercanda seharusnya kau tertawa 'kan?"
"Memangnya dia memujiku apa?"
"Umm~ yah dia bilang kau itu.. Pangeran Es terbaik yang pernah ada!"
"…"
"…"
"…"
"Well? Bukannya begitu?"
"Aku.. Pangeran Es terbaik? Ahaha.."
"Ya, 'Ahaha' adalah respon yang lumayan unik. Aku sendiri tidak tahu jika dia sebenarnya menyindirmu atau memujimu."
Myungsoo menggaruk kepalanya dengan awkward dan seseorang menepuk bahu mereka.
"Hei Woohyun hyung, kenapa kau disini?"
"Karena aku mencari kalian Daehyunnie, Myungie~"
Blush
Daehyun menggeram gemas melihat rona merah di pipi L karena panggilan manis dari Woohyun barusan. "Apa Baek mencariku?"
"Tentu saja! Kau itu seperti kembarannya, sana temui dia, dia ada di lantai tiga."
"Untuk apa dia dilantai tiga?"
Sahabatnya mengangkat bahu dan Daehyun langsung meluncur pergi.
"Woo..Woohyun." Panggil Myungsoo pelan dan kata-katanya tersangkut di tenggorokkannya ketika Woohyun menoleh dengan gerakan yang –dimatanya- terlihat slow motion.
"Ne?"
"Aku.. er—"
"Kau mau mengatakan apa pada Hyunnie-Ku?"
Keduanya menoleh ke pintu, baru menyadari jika Sungyeol dan Sungjong berada disana. Sungjong tersenyum jahil sementara Sungyeol merengut tidak suka. Apalagi jika melihat Myungsoo menggamit lengan Woohyun.
"Aku.."
"Ya? Kau kenapa?"
"Aku.."
Tiga orang disana menatap L dengan tidak sabar.
"Aku.. baru ingat kalau Daehyun bilang dia menyiapkan es krim."
"Hah? Es krim? Yay! Hari ini panas sekali dan Daehyun hyungie bagai oasis ku." Sungjong menangkupkan dua tangannya dengan dramatis lalu menarik tangan Sungyeol dan Woohyun, "Ayo masuk hyungdeul. Oh ya, ada es krim rasa pisang tidak?"
L memperhatikan punggung ketiganya lalu tanpa sengaja matanya bertemu dengan mata 2Hyun yang menyeringai dari balkon lantai dua.
Shit.
Dua 'kembar' itu menjadi seperti stalker baginya. Dan ia sekarang bertanya-tanya apa yang keduanya inginkan. Apa mereka ingin membuka hatinya yang sudah tertutup bertahun-tahun dan melihat apa isinya atau melihat siapa pemilik hati Pangeran Es tersebut?
Hooo~ Dirinya tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Paling tidak dua pemuda itu tidak boleh mengetahuinya atau mereka akan bertaruh 'Siapa yang akan Woohyun pilih: L atau Hoya'.
"Oi Pangeran Es, masuklah, matahari sudah tinggi atau kau akan meleleh disana."
Gyut
Rasanya Myungsoo ingin sekali melemparkan sesuatu pada Baekhyun hingga seringai menjengkelkannya hilang dan jika itu bisa membuat Baekhyun hilang ingatan, itu lebih baik.
Dengan wajah kusut L menendang batu kerikil lalu masuk.
…
"Bagaimana menurutmu? Aku yakin L yang akan memenangkan hati Woohyun hyung."
"Oh ya? Heh, dia memang terlihat tangguh dan Hoya sangat keras kepala. Kurasa harimau itu orang kedua yang tidak takut padaku selain dirimu."
"Hmh~ tapi kau tidak akan memberikan hatimu padanya juga 'kan?"
"Apa ini? Apa aku mendengar nada cemburu darimu?"
"Siapa yang cemburu disini? Aku? Lalu siapa kemarin yang memukul kepala Sungyeol dengan gagang sapu karena dia terpeleset dan tidak sengaja memelukku?"
Baekhyun bersedekap. Ia terlihat cuek tapi rona pink terlihat di pipi tirusnya, "Aku tidak sengaja melakukannya, bukan karena aku cemburu padamu."
Hyun satunya menahan diri untuk tidak mencubit pipi Baekhyun hingga melar. Masih dengan senyuman jahil khasnya, pemuda bersurai coklat kepirangan itu berpura-pura akan pergi, "Kau tidak cemburu ya? What a pity. Kalau begitu sekarang aku akan mencium Sungyeol saja. Siapa tahu kau akan cemburu."
Mata sipit Baekhyun melebar dalam sepersekian detik dan langsung menarik tangan Daehyun lalu mendorongnya ke dinding.
"Aku tidak suka kau dekat-dekat dengan tiang mesum itu, jadi jauhi dia sebelum dia kutendang keluar dari rumah ini."
"Ah aku takut~ Tapi kau begitu sexy jika sisi posessive-mu kambuh, Baekkie." Daehyun memainkan rambut tengkuk Baekhyun dan berbisik, "Apalagi yang kau tunggu?"
Baekhyun menyeringai lalu merendahkan wajahnya dan… well, silahkan bayangkan kelanjutannya.
.
Ok ng… yeorobeun maaf ya udah hiatus lama huahahaha(?) Fu yakin ini ending yang absurd dan Fu jg sebenarnya gx yakin ada apa enggak yg suka sama 2Hyun couple ini -_-
Ok, tungguin lanjutannya ya~ ^_~
