.
Between You and Me
.
Main Cast :
- Jung Yunho
- Kim Jaejoong
- Park Yoochun
Supporting Cast :
- Park Sandara (Dara 2NE1
- Lee Sunho ( Andy SHINHWA)
- Lee Donghae ( Super Junior)
- Boa
- Victoria (Fx)
- Hyung Joon (SS501)
- Lee Yeon Hee (artis SM)
- Ok Taecyeon (2PM)
- Choi SeungHyun (T.O.P BIGBANG)
- Yoon DooJoon (Beast)
- Jung Jinwoon (2AM)
- Yoogeun (Hello Baby SHINee)
Warning :
Genderswitch! ( Just Jaejoong and Junsu), TYPO!
Disclaim :
Sudut pandang di cerita ini hanya memakai sudut pandang main cast. Namun, sewaktu-waktu bisa berubah memakai sudut pandang author, walau hanya sedikit.
Panjang atau tidaknya isi cerita disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada di cerita ini.
.
NOTE : hai, aku melanggar. tadinya aku nggak mau update chapter ini, tetapi berhubung seharian tadi aku nggak masuk kantor jadilah aku melanjutkan cerita ini. dan meng-updatenya hari ini.
sedangkan, untuk cerita-cerita saya lain, yang ada di akun ini, mungkin setelah lebaran akan di update. terutama untuk FF I'm Mama and You're Appa, untuk FF yang satu itu saya masih menunggu engsubnya.
terimakasih atas pengertiannya.
SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA
MOHON MAAF LAHIR & BATHIN
Chapter 4
.
Jaejoong.
"Mengapa kau tersenyum sendiri seperti itu?" Yoochun memandangku sekilas kemudian kembali fokus pada kemudinya.
Aku menatap wajah pria di sampingku ini dengan senyum yang terus merekah di bibirku. "Aku sudah tidak sabar bertemu dengan Dara unnie dan Sunho oppa."
"Sebentar lagi, kita akan bertemu dengan mereka."
Saat ini, aku dan Yoochun sedang menuju kerumah Ibu. Kami akan menjemput Ibu terlebih dahulu, baru menuju gereja—tempat pernikahan Sandara dan Sunho.
Sebenarnya Ibu tidak ingin datang, Ibu membenci pernikahan. Tetapi, aku memaksanya. Karena yang menikah adalah Sandara, seseorang yang telah kuanggap sebagai kakak. Ibu pun mengenal baik Sandara. Setelah aku menuturkan beberapa kata—yang intinya memaksa Ibu untuk datang. Dengan terpaksa, Ibu menyetujuinya. Tetapi dengan syarat, aku harus menjemputnya.
Ibu memang tidak tinggal bersamaku di apartemen, Ibu memilih tinggal bersama dengan adiknya, di Incheon. Dia sudah cukup muak dengan ibukota Korea Selatan ini, dia lebih memilih menjauhi kota itu. Ibu akan ke Seoul, jika terpaksa. Seperti kali ini.
Awalnya, aku ingin menjemput Ibu sendiri. Tetapi, Yoochun melarangku, dia meyuruhku untuk menunggunya dan menjemput Ibu bersama.
Seharusnya, sekarang Yoochun berada di Gereja, karena semua keluarganya berada di sana. Namun, dia bersikeras untuk mengantarku ke Incheon. Terkadang, cukup susah untuk membantahnya.
Tak berapa lama, kami telah sampai di kediaman adik Ibu.
Bibi dan Yoogeun—anaknya Bibi—menyambut kami dengan hangat. Bibi mempersilahkan kami masuk. Paman sedang asyik membaca koran di ruang keluarga.
"Apa eomma sudah siap, Imo?" tanyaku pada Bibi.
"Tadi sih belum, tapi sekarang aku tidak tahu. Coba saja kau lihat di kamarnya."
Aku pun segera menuju ke kamar Ibu, meninggalkan Yoochun yang sedang bermain dengan Yoogeun. Aku membuka pintu itu perlahan, terlihat Ibu yang sedang berdiri di depan cermin.
"Eomma…"
Dia terpekik. Kaget. Melihat kearahku. "Joongie, kau mengagetkanku."
Aku mendekatinya dan memeluknya dari belakang. "Maaf, Eomma." Aku tersenyum padanya kearah cermin. "Kau sangat cantik."
Dia melepaskan pelukannya dan berbalik arah. Merengkuh kedua pipiku. "Kau juga tak kalah cantik, sayang. Eomma mencintaimu." Dia mencium pipi kananku.
"Mari kita keluar, eomma. Yoochun sudah menunggu kita."
"Kau bersama Yoochun? Kau bilang, kau sendiri."
"Tadinya begitu, tetapi dia memaksaku untuk ikut menjemput eomma."
"Dia sangat perhatian padamu."
"Begitulah."
Kami berjalan beriringan keluar kamar. Yoochun berdiri seraya menundukkan badan saat bertemu dengan Ibu.
Setelah berpamitan pada Paman, Bibi dan Yoogeun, kami segera menuju ke Seoul. Beberapa jam lagi, acara pernikahan akan dimulai.
…
Aku menangkap raut kegembiraan di wajah mungil Sandara. Aku harap pernikahannya akan baik-baik saja, tidak akan terpisah oleh apapun kecuali maut. Aku tidak ingin melihat Sandara bersedih, karena lelaki. Aku percaya pada Sunho, jika lelaki itu akan menjaganya.
Proses pemberkatan telah usai. Kami melanjutkan pesta di sebuah taman dekat Gereja. Sandara dan Sunho terlihat berbincang dengan beberapa tamu. Ibu sedang asyik berbicara dengan Ibunya Yoochun. Sedangkan aku dan Yoochun memilih menikmati danau. Gereja ini memang terletak di dekat sebuah danau, suasana di sekitarnya benar-benar alami. Bahkan terlihat bukan seperti di Seoul.
"Sekarang, aku tidak memiliki teman berbincang kecuali kau. Dara noona tidak tinggal bersama kami lagi." Yoochun melempar batu-batu kecil ke dalam danau.
Aku memeluk punggung besar Yoochun, menumpukan daguku di bahunya. "Setidaknya kita masih bisa bertemu dengannya, kan?"
"Kau benar." Dia melepaskan pelukanku, dan mencium keningku sesaat. "Aku haus. Kita kesana, yuk?"
"Baiklah."
Aku mengikutinya dari belakang. Kami menuju ke area tempat minuman dan makanan kecil yang disediakan.
"Aku ke kamar mandi dulu, baby."
Aku mengangguk. Yoochun pun bergegas ke arah gereja.
Aku meneguk minuman yang sedang kupegang. Namun, gerakan itu terhenti ketika aku melihat dirinya yang mendekat kearahku.
"Hai, cutie pie!"
Sejenak, aku mematung. Kemudian mendengus kesal.
"Mengapa kau ada disini?"
Aku kira, hari minggu ini aku bisa bahagia. Terbebas dari gangguan Yunho, ternyata tidak. Bahkan, dihari bahagia Sandara pun, aku harus bertemu dengan dia.
"Kau mengenal mempelai pria?"
Aku mengernyit. "Tentu saja aku kenal. Dia Sunho."
Seringai muncul di bibirnya. "Dan dia adalah sepupuku."
"Bagimana mungkin?" teriakku tertahan.
"Eomma-nya adalah kakak dari eomma-ku. Jadi, kami bersaudara."
"Jadi, kau sepupunya Sunho hyung?" tanya Yoochun yang sudah kembali dari toilet, rupanya dia mendengar perkataan Yunho tadi.
"Ya, kami bersaudara. Berarti kau dan aku juga bersaudara." Dia menunjuk Yoochun dan dirinya sendiri.
"Aku tidak menyangkanya."
"Aku pun begitu, aku tidak mengira jika wanita yang dinikahi Sunho hyung adalah kakakmu."
"Sunho hyung tidak pernah bercerita apapun tentang dirimu."
"Dia pun tidak pernah menceritakan tentang dirimu, kecuali Dara noona." Dia tersenyum pada Yoochun. "Saudara, bisakah aku bertanya padamu?"
"Sure. Kau ingin bertanya apa, Yunho?"
"Apakah kalian berdua berpacaran?" Dia melirik kearahku.
Aku langsung memeluk lengan Yoochun. Aku harap jika dia akan berkata…
"Tidak. Kami hanya bersahabat."
Bukan kata-kata itu yang aku inginkan keluar dari bibir Yoochun. Yunho menatapku dengan senyum mengejek. Aku semakin erat memeluk lengan Yoochun.
Yoochun mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Maafkan aku, jika berkata seperti ini. Tapi, kurasa Yunho harus mengetahuinya. Kami sekarang bersaudara," bisiknya.
Aku mengajaknya menjauh dari Yunho.
"Saudara? Kalian bukan saudara kandung, bukan juga sepupu dekat. Kalian hanyalah saudara jauh. Sangat jauh."
"Aku minta maaf, Jae."
"Kau tahu kan aku membencinya?"
"Aku tahu." Dia membawaku ke dalam pelukannya. Aku benar-benar kesal.
Mengapa Yoochun harus berterus terang pada Yunho?
Dia melepaskan pelukannya padaku saat sang Ibu memanggilnya. Dia mencium pipiku sekilas, kemudian meninggalkanku seorang diri, menuju ke tempat ibunya.
"Mengapa kau tiba-tiba membawa Yoochun menjauh dariku?"
Aku menoleh kesal kearahnya. "Bukan urusanmu, Tuan Jung."
Kami saling beradu mulut. Kekesalanku semakin bertambah saat bersamanya. Baru seminggu dia kembali ke Korea, tetapi sudah membuatku merasa terganggu.
"Yunho…" seorang wanita paruh baya merangkul lengannya. "Kau disini rupanya." Seorang pria paruh baya menyusul di belakang wanita itu.
"Ada apa?" tanyanya.
Wanita itu menelitiku dari atas sampai bawah, kemudian tersenyum ramah padaku. Aku membalas senyuman itu dengan ragu. Dia mendekati dan merangkulku.
"Apakah dia calon menantuku?"
Deg!
"Ya, eomma benar. Dia adalah calon menantu eomma. Apa eomma menyukainya?"
Apa-apaan pria ini? Rasanya aku ingin membunuh Yunho saat ini juga.
"Tentu saja eomma menyukainya. Dia cantik, sederhana. Siapa namamu, sayang?"
"Kim—"
"Namanya Kim Jaejoong eomma."
"Nama yang bagus." Dia merengkuh pipiku, meneliti wajahku. Senyum terukir di bibirnya. "Aku menyayangimu." Dia melepas tangannya dari wajahku.
Aku menatap Yunho dengan kesal.
.
.
Yunho.
Aku sangat puas melihat wajah keterkejutan Jaejoong. Dia menatapku kesal. Aku hanya membalas dengan seringai dibibir.
"Jadi, kapan kalian akan menikah?" tanya Ayah pada kami.
"Secepatnya, appa."
"Aku ingin bertemu dengan keluargamu, Jaejoongie."
Rupanya Ibu sudah sangat menyayangi Jaejoong. Daritadi dia terus memeluk wanita itu, tak pernah dilepas sekalipun. Jaejoong terlihat risih, tetapi dia hanya diam.
"Kapan-kapan aku akan mengajak eomma dan appa ke rumahnya."
"Aku akan terus menagih janjimu. Aku ingin kalian cepat menikah." Setelah berkata seperti itu, Ibu dan Ayah berlalu dari sini. Meninggalkan aku dan Jaejoong.
Dia menarik tanganku kasar menuju sebuah tempat duduk di dekat danau.
Dia menatapku nyalang. "Kau benar-benar gila, Jung Yunho!" Napasnya tak beraturan. "Apa maksud perkataanmu tadi? Siapa yang mau menikah denganmu?!"
"Kau!" jawabku santai. Aku tak ingin mengimbangi kemarahannya dengan kemarahan juga.
"Aku? Kau salah orang! Aku tidak pernah menyukaimu. Sedikitpun!"
"Aku tidak peduli. Aku akan tetap menikahimu."
"Aku tidak mau!"
"Eomma-ku sangat menyayangimu."
"Aku tidak peduli!"
Aku meraih kedua tangannya. Menggenggamnya. Dia mencoba melepaskan genggaman tanganku. Namun tidak berhasil dan akhirnya dia mengalah.
"Jaejoong, aku mohon—" Aku menatap dalam manik cokelat di mata bulatnya. "—menikahlah denganku. Demi eomma-ku."
Genggamanku tidak sekuat tadi. Dia melepaskan genggaman tanganku itu. "Aku tidak mau." Dia duduk di kursi.
Aku segera mendekatinya. "Aku mau, kau menikah denganku."
"Aku benci terikat!"
"Aku tidak akan mengikatmu. Setelah kita menikah kau bebas melakukan apapun sesukamu, kecuali di depan keluargaku. Aku hanya butuh status."
Dia menoleh kearahku. "Apapun itu, aku tidak peduli. Aku tidak mau menikah denganmu."
Aku segera berlutut padanya. "Aku mohon padamu, Jaejoong." Aku tidak tahu, mengapa aku harus melakukan ini. Memohon dan berlutut di hadapannya.
"Kau bisa menikah dengan yang lain. Dengan mantan-mantanmu itu! Kau tinggal pilih saja, dan kurasa mereka akan dengan senang hati menikah denganmu."
Aku duduk di rumput, berhadapan dengannya. Mnengadahkan kepala untuk melihat raut wajahnya. Tetapi dia membuang muka, tak mau sedikitpun melihatku. Aku tidak peduli, dan terus menatapnya.
"Aku pernah mengajak beberapa teman bercintaku untuk menemui eomma. Tetapi, tidak satupun yang bisa merebut hati eomma. Aku lelah, jika eomma mulai bertanya kapan aku akan menikah." Aku sedikit memberi jeda. "Sebenarnya tadi aku hanya mengerjaimu, tetapi aku tidak tahu jika reaksi eomma seperti itu. Dia benar-benar menyayangimu. Aku dapat melihatnya saat menatapmu," lanjutku.
Dia terdiam. Menghela napas. "Aku tidak ingin menikah. Jika pun aku harus menikah, aku ingin dengan seseorang yang benar-benar mencintaiku dan yang aku cintai. Pernikahan bukanlah permainan," lirihnya. "Dan aku tidak butuh status."
"Aku tidak akan mempermainkanmu, Jae. Walau aku memberimu kebebasan, aku akan tetap akan menjagamu."
Kini dia berani menatapku. "Walau kau berbicara seperti itu, tidak akan mengubah semuanya. Aku tidak mau menikah denganmu."
Aku menggenggam kedua tangannya. Setidaknya, hari ini dia melembut, tidak galak seperti biasanya. "Kita jalani saja, jika kau ingin bercerai dariku. Aku akan mengabulkannya, tapi biarkan pernikahan itu berjalan selama 6 bulan."
Dia menatap danau dengan pandangan kosong. "Aku juga dapat melihat wajah Ibumu yang bahagia ketika melihatku." Kini dia alihkan pandangannya padaku. "Baiklah, aku menerimamu. Sesuai dengan syarat, kau harus memberiku kebebasan sesuai dengan keinginanku. Kita akan bercerai setelah 6 bulan pernikahan. Dan satu lagi—"
"Apa?" aku memotong pembicarannya.
"Tidak ada malam pertama! Tidak ada sentuhan! Tidak ada ciuman! Pernikahan ini hanya kontrak. Dan…" Dia menyeringai padaku. "Jangan pernah berharap aku mencintaimu."
Aku tertegun mendengar perkataannya. Bagaimana mungkin dalam sebuah pernikahan tidak ada ciuman, sentuhan dan malam pertama? Aku bisa gila.
Aku menyesal telah mengerjainya, dan malah membuat Ibu semakin berharap padanya. Aku tidak menyangka jika tanggapan Ibu seperti itu, aku mengira jika dia akan tak acuh pada Jaejoong, seperti para wanita yang sering aku bawa untuk berjumpa dengannya. Diluar dugaan, Ibu malah sangat menyayangi Jaejoong.
"Baiklah. Aku setuju."
"Joongie…" sebuah suara menghampiri kami.
Kami segera menoleh kearah sumber suara itu. Seorang wanita paruh baya, dia menggunakan gaun panjang yang pas di tubuhnya. Dia masih terlihat cantik di usianya yang mulai menua. Jaejoong segera berdiri, begitupun denganku.
Dia berjalan kearah wanita itu, memeluknya erat. "Eomma…" lirihnya. "Kau ingin balik sekarang?"
"Tidak." Mereka berjalan kearah bangku dan duduk disana. "Eomma merasa iri pada mereka," lirih wanita itu—ibunya Jaejoong.
"Mengapa?"
"Sunho benar-benar menyayangi Sandara."
"Kau benar, Eomma."
Wanita itu membelai lembut pipi Jaejoong. "Apa kau tidak ingin menikah?"
"Mengapa eomma bertanya seperti itu?"
"Maafkan eomma, karena—"
"Ehem." Aku berdehem, menghentikan pembicaraan ibunya Jaejoong itu. Mereka berdua melihat kearahku. Sepertinya wanita ini tidak menyadari keberadaanku. Padahal tadi dia melihatku.
"Siapa dia?" tanyanya pada Jaejoong.
"Dia—"
"Aku kekasih putri Anda, Nyonya."
Wanita paruh baya itu membelalakkan matanya, menatapku tak percaya. Kini pandangannya beralih pada Jaejoong. "Mengapa kau tidak menceritakannya padaku? Eomma kira kau berpacaran dengan Yoochun."
"Maaf, eomma. Aku memang merahasiakan hal ini. Aku tidak ingin eomma merasa marah."
Wanita itu tersenyum samar. "Eomma tidak akan marah, apabila dia benar-benar bisa menjagamu. Tetapi, jika aku mendengar dia menyakitimu, aku tidak akan segan-segan menghancurkannya." Dia melirik sinis kearahku.
Aku menelan ludah. "Aku tidak akan menyakitinya," kataku mantap. Setidaknya aku tidak ingin dipandang sebagai lelaki tidak bertanggung jawab, terutama di depan wanita ini—wanita yang akan menjadi Ibu mertuaku, walau hanya sesaat.
"Apa kau mencintai anakku?"
Sejenak, aku menoleh pada Jaejoong. Dia menggigit-gigit bibirnya. "Ya, aku sangat mencintainya."
"Apa kau mencintai pria itu, Joongie."
Jaejoong terlihat ragu. "Ya, aku juga mencintainya eomma."
"Siapa namamu?" tanya wanita itu ketus.
Aku mengulurkan tanganku, tetapi wanita itu tidak menyambutnya. Tingkahnya sangat mirip dengan Jaejoong. Aku menarik uluran tanganku.
"Aku Jung Yunho."
Dia berdiri dari duduknya, menatapku. Meneliti dari atas ke bawah. "Aku tidak yakin, kau adalah pria yang tepat untuk anakku." Manik cokelatnya menatapku sinis. "Sekali lagi, aku bertanya padamu, apa kau benar mencintai anakku?"
Aku mengangguk.
"Ingat, jika kau membuat anakku menderita, aku tidak akan tinggal diam. Kau juga akan kubuat menderita. Satu lagi, tidak ada perceraian dalam pernikahan. Apa kau tahu itu?"
Jaejoong menatapku gusar. Kami sudah sepakat akan bercerai jika hubungan pernikahan kami—nantinya—beranjak enam bulan. Aku menelan ludah.
"Iya, aku… berjanji tidak… akan menceraikannya." Ada jeda di tiap perkataanku.
"Jika sampai hal itu terjadi, aku tidak segan untuk menghancurkan kehidupanmu, anak muda." Senyum sinis terukir di wajah putihnya.
Aku mengangguk, lagi.
Dia bersidekap. "Ah! Namaku Kim Tae Hee. Kau bisa memanggilku Tae Hee, tidak dengan panggilan 'eomma' sebelum kau menikah dengan anakku."
"Baik, Tae… Tae Hee," ucapku gugup.
Aku meneliti wajah Tae Hee, wajahnya putih pucat—sama seperti Jaejoong. Matanya agak sipit, bibirnya tipis, rambutnya sebahu, tingginya hampir menyamai Jaejoong, dia pun memiliki tubuh yang indah—namun tidak seindah Jaejoong. Setidaknya, untuk ukuran seorang Ibu dia terlihat sangat muda. Bahkan, dia seperti kakak bagi Jaejoong, bukan sosok seorang Ibu.
Dia menggandeng tangan Jaejoong, dan melangkah menuju ke tempat pesta. Meninggalkanku sendirian. Aku berdecak kesal melihat tingkah Ibu dan anak itu.
Dengan langkah kesal, aku mengikuti mereka.
Beberapa tamu masih menikmati pesta, ada yang terlihat asyik berbincang dengan sang pengantin, ada juga yang sedang makan dan minum.
Dan aku, masih setia berdiri di dekat Jaejoong dan Tae Hee. Mereka sama sekali tidak memedulikanku, aku pun tidak mau ambil pusing dan tidak juga pergi dari sisi mereka. Tiba-tiba Ibu berjalan kearah kami, dia tersenyum kearah Jaejoong. Menatap sekilas kearah Tae Hee.
"Apa kau eomma-nya Jaejoong?" tanya Ibu sopan.
"Ya, Anda siapa?" Terlihat kecurigaan di wajah Tae Hee.
"Dia—" Aku ingin menjelaskan pada Tae Hee perihal Ibu, tetapi Ibu langsung memotong pembicaraanku. Dia tersenyum manis pada Tae Hee, tapi tidak dengan Tae Hee. Dia hanya diam. Wajahnya terlihat sinis.
"Aku Shin Min Ah, eomma-nya Yunho."
Seulas senyum tipis terukir di bibir tipis Tae Hee. "Ah, jadi dia anak Anda. Ah! Nama saya Kim Tae Hee."
"Ya. Apa kau sudah tahu tentang hubungan mereka?" Ibu menunjukku dan Jaejoong.
Tae Hee mengangguk. "Aku baru saja tahu hari ini."
Ibu terlihat kaget. "Aku juga baru mendengar hubungan mereka hari ini."
Tae Hee memandang curiga padaku. "Apa kalian benar-benar berpacaran? Mengapa kalian baru memberitahu hal ini pada kami?"
"Kami belum siap untuk mengakui hubungan yang tengah kami jalin ini," ucapku santai. Aku berusaha setenang mungkin, walau sedikit ada rasa gugup saat mata Tae Hee memicingkan matanya padaku.
"Sudahlah, Tae Hee-ssi. Mungkin mereka memang belum ingin jika keluarga mengetahui hubungan mereka ini." Ibu diam sejenak sebelum melanjutkan perkataannya. "Bagaimana jika kita membicarakan perihal mereka saja? Aku rasa mereka harus segera menikah."
Tae Hee menatapku berapi-api, seolah ingin membakarku. "Kau menghamili anakku?" ucapnya tertahan. Dia hampir saja mendorongku, jika saja Jaejoong tidak menahannya. Dia menarik ibunya agar menjauh dariku.
"Eomma, aku tidak hamil. Sungguh," lirihnya.
"Terus mengapa dia ingin cepat-cepat menikah denganmu?"
"Itu karena mereka saling mencintai, Tae Hee-ssi. Lagipula di keluargaku hanya Yunho yang belum menikah, jadi aku ingin dia menikah sesegera mungkin," ucap Ibu santai.
Namun, ucapannya serasa menohokku. Mengapa Ibu harus bercerita blak-blakan mengenai diriku yang belum menikah di keluarga kami? Oke, aku merasa kini aku benar-benar kesal. Sial.
"Maaf, Min Ah-ssi. Tetapi saya belum sepenuhnya percaya pada anak Anda. Saya tidak akan segampang itu menyerahkan putri saya padanya."
Ibu terkekeh, ada seulas senyum disana. "Kau tenang saja, Yunho bukanlah seseorang yang bisa menyakiti hati wanita. Aku rasa, dia akan selalu menjaga putri Anda. Iya kan, Yunho?"
"Ah, ya," jawabku terbata.
Ibu berbohong! Dia sangat tahu jika aku seringkali bergonta-ganti kekasih, tetapi untuk satu hal dia tidak tahu—bahwa aku sering meniduri beberapa wanita.
Aku tidak mengerti mengapa Ibu harus berbohong seperti itu, ada seulas senyum di bibirnya ketika menatapku.
"Apa kau yakin akan menikah dengannya, Joongie?" Tae Hee pun menanyakan hal itu pada Jaejoong.
Dia hanya mengangguk pelan. "Ya, eomma."
"Baiklah, bagaimana jika besok kita membicarakan perihal ini?" tanya Ibu. Tae Hee hanya mengiyakan.
…
"Mengapa eomma berbohong?" tanyaku pada Ibu saat dia memasuki kamarku.
"Tentang?" Dia duduk di sofa minimalis hitam.
Aku mendekatinya dan duduk disampingnya. "Tentang aku yang tidak pernah menyakiti wanita, padahal eomma tahu aku suka berganti kekasih. Bahkan eomma tidak setuju pada mereka, ketika aku mengenalkan mereka padamu."
Aku meletakkan kepalaku di bahu Ibu dan memeluknya lembut. Ibu hanya mengelus rambutku dengan sayang.
"Karena eomma sangat sayang dengan Jaejoong."
"Secepat itu?" Aku melepaskan pelukanku padanya, beralih menatap bingung kearahnya.
"Ya, aku pun tak tahu mengapa aku secepat ini merasa sayang padanya. Aku rasa hanya dia yang terbaik untukmu." Tangan kanannya membelai pipiku. "Kapan kalian mulai berpacaran? Mengapa kau tidak memberitahuku?"
"Ah itu, sudah hampir satu tahun eomma." Aku berbohong.
Ibu tersenyum senang. "Apa kau menyayanginya?"
Aku mengangguk.
"Mungkin karena kau menyayanginya, jadi aku pun langsung merasakan rasa sayang padanya seperti kau yang menyayanginya," lirihnya.
"Hmm... mungkin," ucapku terbata. Apakah aku sayang pada Jaejoong?
"Jangan pernah kau menyakitinya! Jika itu sampai terjadi, aku tidak akan menganggapmu seperti anakku."
Heh? Mengapa Ibu seperti Tae Hee saja? Ancaman mereka sangat mengerikan.
"Aku mengerti, eomma."
Ibu memelukku, membelai rambutku. "Kau harus menyayanginya."
.
.
.
to be continued ~
review?
.
note : saya sangat menghargai komentar Anda, tetapi saya mohon jangan hanya sekedar menulis, 'lanjut', 'panjangin', 'update kilat'. saya harap Anda mengomentari cerita ini, entah kalian suka ataupun tidak dengan cerita ini. saya menghargai apapun yang ada komentari. karena dari komentar Anda saya bisa tahu kekurangan dari cerita ini.
terimakasih atas pengertiannya.
thank you for your review, favorite and follow this story. :D
.
nabratz : saya update lagi, tidak lama kan? hehe.
RedTiger : flashback? ada tapi dengan alur saat ini, dimana si cast utama yang bercerita. akhirnya saya update lagi, saat ramadhan. iya, sama-sama. selamat berpuasa.
ajid yunjae : teman baik disini, bukan berarti bersahabat. tetapi, teman lama karena mereka pernah berada dalam sekolah yang sama. *maaf, penjelasannya ribet.
Zhie Hikaru : hehe, iya. hari-harinya jadi terganggu karena yunho
Park FaRo : iya, mereka akan menikah
essy : begitulah, yunho playboy. selamat berpuasa. saya update sekarang, nih. selanjutnya mungkin setelah lebaran.
azahra88 : akan terlihat seiring berjalannya cerita. hehe
.
.
