setelah sekian lama akhirnya bisa lanjutin nih FF :'v
WARNING: OOC, TYPO(maybe), AU
KuroFEM!aka/FEM!akakuro
Chapter 4
Entah mengapa udara pagi ini begitu sejuk dan menyegarkan hati. Meskipun hari ini adalah hari senin, tapi semua murid yang bersekolah tetap terlihat ceria ketika sedang berangkat menuju tempat belajar mereka masing-masing. Tapi di pagi yang cerah ini ada pula murid yang sudah memulai konfliknya di halaman belakang sekolah. Tempat yang tepat untuk bertemu empat mata tanpa diganggu siapapun.
"Jadi, kau ingin bicara apa, Akashi-san?"
Oh, ternyata itu adalah kedua heroine kita hari ini. Kuroko Tetsuya dan gadisnya bernama Akashi seijurou.
.
.
Battle Begin!
.
.
"Eh, Akashi-san... sebentar upacara senin akan dimulai. Sebaiknya kau cepat mengatakan apa yang ingin kau katakan padaku," ucap Kuroko pada gadis bersurai merah panjang itu dengan sedikit cemas.
"Eng, yah, ini bukan hal yang penting, tapi aku akan tetap mengatakannya padamu agar kau lega," jawab Akashi dengan seformal-formalnya. Kuroko hanya dapat bertanya-tanya di dalam hatinya. Dia juga sedikit terkejut mendengar Akashi berbicara formal padanya. Dan entah mengapa Akashi pagi ini cukup pendiam dan tidak terlihat mengerikan. "Aku akan berhenti mengejarmu," Akashi langsung masuk pada intinya. Membuat Kuroko melebarkan matanya, tidak percaya.
"Tung... kau kenapa, Akashi-san?"
"Seperti yang kukatakan aku akan berhenti mengejarmu, jadi mulai sekarang kau bisa bebas berpacaran dengan siapapun, kencan dengan siapapun. Aku tidak akan mengganggu," oke, Kuroko cukup tidak mengerti arah pembicaraan ini. Kenapa Akashi jadi begini? Pertanyaan itu benar-benar tidak dapat Kuroko jawab.
"Akashi—
"SEI-chan!" telinga Kuroko tiba-tiba saja memanas begitu ada suara seorang lelaki yang memanggil Akashi dengan nama kecilnya. Mata biru milik Kuroko ia lirikkan pada sumber suara. Ternyata benar itu adalah suara seorang lelaki. "Ayo kita pergi! Sebentar lagi upacara akan dimulai,"
"Kau berisik, Reo,"
"Eh? Akashi-san! Siapa orang itu?" tanya Kuroko sebelum Akashi dan Reo sempat pergi. Akashi dan Reo sempat beradu pandang. Dan setelah itu Reo merangkul Akashi sungguh lengket.
"Mulai kemarin, Sei-chan sudah menjadi tunanganku ~" Kuroko jelas terkuejut bukan main. Tunangan Akashi adalah seorang lelaki yang hampir melenceng dan memiliki bulu mata yang panjang. "Ayo, Sei-chan," Reo mengajak Akashi pergi dari sana. Sebelum sempat pergi Akashi sempat menatap Kuroko dengan tatapan mata yang terlihat muram, dan Kuroko langsung menyadari itu.
Kedua orang ini berjalan membelakangi Kuroko yang saat ini tengah terpaku di tempat. Mengantarkan kepergian sepasang couple itu dengan aura yang tidak mengenakkan. Setelah sosok pasangan menjengkelkan itu benar-benar menghilang, spontan Kuroko memukul salah satu pohon dengan sekuat tenaga. Oke, saat ini Kuroko terlihat seperti lelaki yang sedang patah hati pada umumnya.
Memukul pohon ketika dicampakkan itu klise banget.
.
.
.
"Hei, Tetsu, hari ini kau kenapa, sih? nggak enak dilihat tahu tampang seremmu itu,"
"Hah! Memangnya kenapa dengan wajahku, Aomine-kun?" mungkin Kuroko tidak menyadarinya, kalau saat ini ia tengah mengerutkan alisnya. Persis seperti seorang yanke yang hendak mengajak berkelahi. Aomine yang pengertian menggeleng dan menutup mulutnya serapat mungkin agar tidak dapat mengatakan apa-apa lagi. Sahabatnya yang gelap ini tahu kalau Kuroko dalam mood yang tidak baik.
"Kurokocchi! Aku kangen, deh!" Kise muncul di hadapan Kuroko dan hendak memeluk pemuda kecil ini. Seperti biasa tingkahnya layaknya anjing yang bertemu majikannnya.
BUAK! Tapi, sayang, Kuroko tidak ingin dipeluk saat ini. Makanya, barusan Kise menerima pukulan keras di perutnya dari Kuroko. Dan itu cukup membuat lelaki kuning ini tergeletak tak berdaya di lantai. Dan keringat mengucur deras di tubuh gelap Aomine.
.
.
.
.
"Aku masih bingung..." Kuroko bergumam untuk yang kesekian kalinya.
"Eh? apa? Barusan aku bilang apa, Tetsu?" Aomine hanya merespon setiap gumaman Kuroko apa adanya.
"Tidak, hanya saja... tunangan Akashi-san itu. Dia memang lelaki, tapi sekilas dia mirip perempuan, bulu matanya pun panjang, rambutnya juga. Suaranya sangat lembut seperti perempuan lalu yang paling penting sifatnya. Dia hampir melenceng, tapi kenapa orang seperti itu menjadi tunangan Akashi-san yang sudah galak, egois, lalu... AH! Singkat kata, kenapa dia tidak melawan pertunangan itu?"
Aomine hanya dapat mengelap keringatnya yang mengucur sedari tadi. Ini jelas moment yang langkah. Melihat Kuroko yang sedang kesal dan galau itu rasanya membuat Aomine tidak dapat berucap apa-apa. Wajah Kuroko yang semula manis menjadi seperti om-om kecil yang habis diputusin pacar. "Ah, kalau kau memang bingung, kenapa tidak bertanya langsung pada cewek merah itu?" Aomine akhirnya memberanikan diri memberi pendapat padanya.
"Eh? benar juga," sepertinya Kuroko setuju dengan pendapat sahabatnya ini. Ekspresi seram Kuroko pun hilang dalam sekejap dan kembali datar. Ia mengambil buku novelnya dan berjalan keluar kelas "Aomine-kun, terimakasih,"
"Ooo..."
Dengan tergesa-gesa Kuroko berjalan menuju kelas Akashi. Entah untuk apa buku novelnya ia bawa, tapi yang jelas itu tidak ada hubungannya dengan ini sekarang. Setelah beberapa langkah, barulah ia sampai pada kelas yang tidak jauh dari kelas Kuroko. Di sini terdapat seorang gadis bersurai merah di dalamnya. Kuroko mengintip sedikit ke dalam dan bingo, ternyata Akashi ada.
"Akashi-sa—
"Eh~ Tetsu-chan!" niat Kuroko yang hendak memanggil Akashi terhenti, begitu ia mendengar seseorang memanggilnya. Kuroko memutar kepalanya ke belakang dan mendapati seorang lelaki yang sepertinya ia kenal.
"Eh..."
"Aku Mibuchi Reo. Kau Ingat? Aku tunangan Sei-chan,"
"Ah..." Kuroko bertemu musuh alaminya sekarang. "Halo, Mibuchi-san,"
"Oh, kau terlalu kaku. Nah, mau apa ke sini?"
"Ah... aku hanya..."
"Kau ingin bicara dengan Sei-chan? Maaf saja, dia sudah menjadi tunanganku. Kau lelaki yang selalu menolaknya lebih baik menyingkir,"
"Ap—
"Reo sedang apa kau?" dan dengan kebetulan Akashi muncul dari balik pintu kelas. Membuat Kuroko terkejut bukan main. "Kuroko? Ada perlu apa?" tanya Akashi sambil menatap heran pemuda surai babyblue itu. Dan yang ditanya hanya menggeleng lalu pergi begitu saja dari hadapan Akashi. "Reo... barusan kau bicara apa dengannya?" Akashi berpaling menanyai Reo dengan tatapan mata yang tajam.
"Tidak ada, kok, Sei-chan~"
"Oh," mata Akashi masih menatap sosok lelaki kecil bersurai biru langit itu berjalan menjauh darinya. Ia baru berhenti memandang begitu Reo mengajaknya masuk ke dalam kelas.
.
.
.
.
"Apa-apaan? Kenapa banci itu mengatakan seperti aku tidak rela dengan pertunangan mereka? Ah... karena perkataannya aku tidak bisa konsentrasi membaca..." sudah kurang lebih 30 menit Kuroko mengeluh sendirian di bawah pohon rindang di belakang sekolah. Mungkin saat ini Kuroko sudah tidak seperti dirinya yang biasa. Dia benar-benar dibuat resah oleh salah seorang gadis yang egois dan suka memaksa. "Ah~ aku jadi aneh..." setelah capek mengeluh ia menunmbangkan diri ke rumput-rumput yang lebat dan tentunya berwarna hijau.
Dengan wajah yang muram, iris birunya menatap langit yang memiliki warna yang sama dengan dirinya. "Langitnya juga jadi terlihat menyedihkan, ya?" gumamnya sembari menaruh bukunya di atas wajahnya untuk mencegah sinar matahari masuk ke matanya.
"Tetsu-kun," terdengar suara seorang gadis memanggilnya. Kuroko bisa langsung mengenali suara yang lembut ini. kuroko kembali menyingkirkan novelnya dari arah pandangnya. Ternyata memang benar, ia Momoi.
"Momoi-san? Ada apa?" Kuroko segera membenarkan posisi duduknya. Dan tidak lupa memperbaiki raut wajahnya yang sedari tadi terlihat galau.
"Begini... aku dengar dari Dai-chan. Tetsu-kun dicampakkan Akashi-san?" Kuroko tidak menjawab dan itu Momoi anggap sebagai jawaban 'ya'. "Kan, bagus," Momoi ikut serta duduk dengan Kuroko di atas rerumputan hijau.
"Apanya?"
"Kau sudah tidak perlu merasa was-was lagi, kan? Kau juga tidak perlu merasa terbebani karena gadis itu, kan? Mungkin sekarang Tetsu-kun sudah dibebaskan,"
~Kuroko Pov~
Di bebaskan, kah? Aku tidak tahu itu. Mungkin memang benar. Seharusnya aku lega karena Akashi sudah memiliki tunangan. Aku tidak perlu merasa terbebani lagi. Benar juga, aku ini sudah bebas, bukan? Aku dapat merasakan kehidupan sekolah yang damai seperti dulu. Aku dapat santai membaca buku tanpa gangguan apapun. Tapi kenapa ketika Akashi menghilang dari sisiku, aku merasa ada yang kurang?
"Tetsu-kun... apa kau mau berakhir begini saja? Apa kau senang? Lega? ataukah merasa kecewa? Bukankah kau menolakku karena Akashi-san?"
"Eh? Apa maksudmu, Momoi-san? Aku tidak masalah dengan itu. Karena akhirnya aku dapat terbebas, bukan?"
Aku belum dapat menemukan potongan puzzle terakhir. Aku adalah Kuroko Tetsuya. Aku akan menemukan potongan puzzle terakhir dengan pelan.
~Normal POV~
Satu hari yang terasa begitu panjang. Padahal Kuroko tidak begitu banyak beraktifitas hari ini, tapi dia letih sekali. Saking lelahnya, ia terpaksa membolos latihan basket sore ini. Saat ini tubuh dan hatinya sedang tidak menginginkan ia banyak bergerak. Seperti biasa Kuroko berjalan pulang sembari membaca buku novelnya. Dan seperti biasa ia mampir ke Maji Burger untuk membeli minuman favoritnya. Setelah itu melanjutkan lagi perjalanan pulangnya.
Di setiap tegukkan susu vanilla itu, ia melamunkan akan sesuatu. Entah kenapa ia terus memikirkan wajah Akashi pagi tadi. Wajah yang terlihat muram meskipun hanya terlihat sekilas, tapi cukup untuk membuat Kuroko terus kepikiran. Bagi Kuroko, satu hari ini terasa sangat membosankan.
.
.
.
Esoknya.
"Kuroko... tampangmu kucel sekali, ya?" Aomine sudah melihat hal ini sejak kemarin, tetapi tetap saja lelaki tan ini masih belum terbiasa melihat pemandangan yang tidak biasa ini.
"Sudah semalaman aku berusaha menemukan potongan puzzle yang hilang di pikiranku, tapi tetap saja tidak kunjung kutemukan. Aku harus apa? Rasanya pikiranku terbebani sejak kemarin. Mungkin aku sedang sakit, ya? Novel yang baru saja kubeli itu, pun, belum dapat kubaca dengan santai karena terus memikirkan hal yang tidak berguna—
"YAK! STOP! CUKUP SAMPAI DI SITU, KUROKOCCHI!" Kise menghentikan keluhan Kuroko yang sangat panjang dan membebani Aomine sedari tadi, sang pendengar. "Kemana Kurokocchiku yang selalu santai dan beremosi datar pergi? Mencurahkan seluruh keputusasaanmu, itu seperti bukan dirimu, tahu! Kau sekarang terlihat menyeramkan!"
"Hah? Apa maksudmu, Kise-kun? Aku sudah seperti biasa,"
"Bohong sekali, kau terlihat seperti Sparta," Kuroko terdiam. Memandang buku novel barunya yang belum sempat ia baca di atas meja. "Hei, Kurokocchi," Kise memanggil temannya yang sedang berbengong ria itu "Kau pasti pernah membaca novel percintaan remaja, kan?"
"Tidak. Tidak pernah," dengan tegas Kuroko menjawab pertanyaan si kuning Kise. Jujur saja, Kise sudah tidak dapat berucap lagi untuk menyadarkan Kuroko. Dan Kise sangat lupa kalau Kuroko bukanlah seorang lelaki yang romantis.
"Eh... Tetsu, kemarin kau jadi bertanya pada Akashi?" Kuroko menggeleng pelan. "Kenapa?" Aomine bertanya lagi, dan yang ditanyai hanya menundukan kepalanya.
"Karena Mibuchi-san mengatakan padaku untuk pergi dari hadapan Akashi-san,"
"Oh," ketiga lelaki ini saling berdiam. Kise yang sedang memikirkan kalimat yang baik untuk membuat Kuroko tersadar. Aomine terlihat sedang menahan atmosfer yang terus membebaninya sedari tadi. Dan Kuroko yang sedang menundukkan kepalanya memikirkan hal yang sama berulang kali. Baru kali ini mereka bertiga terlihat begitu canggung satu sama lain. Membuat semua orang di sekitar turut merasa terbebani.
"AH! Itu namanya cemburu, kan?" Kise yang sepertinya baru kepikiran itu langsung berteriak keras sembari mengacungkan jari telunjuknya pada Kuroko.
"Eh? Jangan bercanda. Aku tidak pernah cemburu pada orang, dan tidak akan pernah selamanya. Itu hanya akan membuatku terlihat menyedihkan, Kise-kun," satu kalimat yang pedas dan mematahkan semangat Kise. Tanpa rasa bersalah, Kuroko beranjak pergi dari tempat perkumpulan mereka sedari tadi untuk mencari udara segar.
"Kurokocchi di luar dugaan keras kepala sekali, ya? Gengsinya terlalu tinggi," Kise menghela nafas panjang, prihatin dengan sikap Kuroko yang ternyata kekanakan itu. Aomine pun ikut menghela nafas panjang, lega karena terbebas dari suasana yang menegangkan barusan.
:v :v
Di sisi lain, terlihat Akashi sedang berjalan berdampingan dengan Reo. Mereka terlihat mesra seperti biasa. Tidak begitu mesra, sih. Tapi itu cukup untuk membuat Kuroko yang melihatnya merasa panas. "Hei, Sei-chan... sampai kapan kau ingin begini? Tetsu-chan, jadi terlihat menyeramkan, tuh?" ujar Reo sembari memancarkan senyumnya yang dipaksa. Tentu dia ngeri setelah melihat Kuroko yang mondar-mandir sedari tadi sembari memancarkan aura ganasnya.
"Hem, entahlah. Tapi kurasa begini juga bagus," Akashi mengatakan itu sambil tersenyum licik. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini, tapi yang jelas dia terlihat menikmati hal ini. Dimana Kuroko telihat seperti binatang buas yang hendak menerkam mangsanya. Walau Cuma segitu, tapi cukup untuk membuat Akashi menahan tawanya berulang kali.
"Yah, pada dasarnya kau memang licik, ya, Sei-chan,"
"Hmp, bicara apa kau ini, Reo,"
.
.
.
.
Kali ini terlihat seorang lelaki bersurai biru langit sedang berbaring santai di ranjang UKS yang serba putih. Dilihat juga tahu, dia sedang tertidur pulas di atas ranjang itu. Mungkin saja ia ketiduran karena angin semilir yang menembus masuk dari jendela ruang UKS ini. Hembusan angin yang sejuk ini memang sangat nyaman dan dapat menidurkan semua orang yang merasakannya.
GREK.
Pintu UKS terbuka secara perlahan. Dan manampilkan sosok yang tidak asing , Akashi Seijurou. Dan bisa ditebak, Akashi langsung menghampiri lelaki yang sedang terlelap itu. Mata heterochromnya terus memandangi Kuroko tanpa kedip sekalipun. Sudah lama rasanya ia tidak memandangi sosok Kuroko yang sedang tertidur. Tidak begitu lama, sih, tapi terasa lama untuk Akashi. "Menyerah mendapatkan dirimu?" Akashi bergumam pelan pada Kuroko yang sedang tertidur sembari membelai surai biru muda Kuroko yang terasa begitu lembut "Hmp, jangan bercanda. Selamanya aku akan terus mengejarmu, bodoh," lanjut Akashi semakin dramatis(?).
"Benarkah itu?" Akashi terbelangak ketika ia mendengar suara yang sepertinya tidak asing melintas di telinganya. "Benarkah begitu, Akashi-san?" bingo. Ternyata memang benar suara Kuroko. Akashi sebenarnya cukup terkejut, tapi tidak ia perlihatkan.
"Kuroko, ternyata kau bangun,"
"Ya, barusan saja sih, setelah kau berkata 'jangan bercanda' itu," tamat untuk Akashi. Jujur saja ia bingung hendak mengatakan apa pada lelaki biru ini.
"Kau salah dengar, mungkin,"
"Tidak mungkin. Semua kalimatmu itu terdengar jelas melintas di telingaku," oke, sekarang Akashi harus berkata apa lagi? Baru kali ini dia terdesak seperti ini. Hal seceroboh ini bukanlah sifat Akashi.
"Ah, sudahlah, aku akan telat ke pelajaran selanjutnya," Akashi yang mulai panic itu beranjak pergi dari sana.
"Tunggu, Akashi-san!" spontan Kuroko menarik tangan Akashi dan membantingnya ke tempat tidur dengan keras dan tanpa ampun.
"Kh! Laki-laki macam apa yang berani membanting perempuan, hah?" Akashi marah? Jelas saja ia marah setelah dibanting dengan keras begitu. Dengan galaknya ia bangkit dari tempat tidur setelah menepis tangan Kuroko.
"Tung... Akashi-san! Apa kau benar-benar setuju bertunangan dengan Mibuchi-san?"
"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Soalnya... kau barusan bilang tidak akan pernah berhenti untuk mendapatkanku! Tapi kau masih saja setuju dan sama sekali tidak melawan bertunangan dengan Mibuchi-san. Aku tidak mengerti jalan pikiranmu," Kuroko mengusap surai birunya sembari menundukkan kepala. Merasa canggung dengan Akashi karena mengingat ia telah berkata kasar saat hari minggu itu.
"Kalau aku bilang serius, kau mau apa? Bukannya sejak awal kita tidak pernah peduli satu sama lain?"
"Tidak. Aku baru saja menyelesaikan potongan puzzle terakhir,"
"Pu... zzle?" Akashi jadi semakin bingung dengan tingkah Kuroko. Tapi meskipun membingungkan ini juga terlihat menarik.
"Aku merasa kesal setelah mendengar kau akan berhenti mengejarku. Dan sekarang aku sadar, perasaan kesal itu timbul karena aku selalu ingin dikejar olehmu, Akashi-san!" Akashi melebarkan matanya, setelah itu ia kembali memancarkan seringainya yang mengerikan. Hal itu membuat Kuroko bergidik ketakutan. Dan ia mulai merasa ada yang janggal dari semua ini.
"Yah, ini memang tidak seperti harapanku, tapi mungkin sudah cukup,"
"Eh?"
"Reo sepertinya sudah cukup,"
GRek! "Benarkah!" betapa terkejutnya Kuroko melihat sosok Reo yang muncul dari balik pintu UKS itu. Dan saat ini Kuroko benar-benar merasa ada yang aneh dengan ini semua.
"Tunggu, ada apa ini?"
"Hmp, ini lebih mudah dibanding berburu seekor kelinci,"
"Akashi-san?"
"Begini, ya Tetsu-chan~ sebenarnya semua ini adalah acting kami berdua agar kau terpancing dalam jebakan yang dibuat Sei-chan," jelas saja Kuroko terkejut bukan main. Ternyata semua itu adalah permainan yang dibuat Akashi untuk menjebak Kuroko.
"Jangan main-main,"
"Hmp. Jangan main-main? Kau yang bodoh, kan? Larut dalam emosi sendiri,"
"Nah, aku pergi dulu, ya~" Reo memutuskan pergi agar tidak mengganggu konflik kedua orang ini. Meskipun ia tidak benar-benar pergi. Sebenarnya Reo menguping dari balik pintu UKS.
"Nah, Kuroko, kau bilang ingin terus berada dalam kejaranku , bukan?"
"Tidak. Aku tidak bilang begitu, dasar licik,"
Cring!
Akashi mengacungkan guntingnya dan menggores sedikit wajah Kuroko. Dengan pancaran mata yang bagai binatang buas, Akashi menatap mata Kuroko. "Ini pembalasan dendam karena telah merusak harga diriku kemarin lusa. Jangan pernah membantahku, bodoh," Kuroko tidak dapat berkutik sedikitpun. Kali ini Akashi terlihat sangat marah besar dan terlihat sangat menyeramkan dari sebelumnya. "Camkan perkataanmu tadi. Kau sudah tidak dapat lepas dariku mulai saat ini dan seterusnya," Akashi menarik kembali guntingnya dan menaruhnya kembali ke dalam saku.
Kuroko tumbang seketika karena kakinya yang sudah begitu lemas dan tidak sanggup berdiri lagi. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Bulu kuduknya berdiri dan keringat dingin bercucuran di sekujur tubuh Kuroko. Ia menatap Akashi dengan tatapan mata yang seperti habis melihat hantu dan berkata pada gadis merah itu "Kau iblis," dan yang dikatai seperti itu hanya menyeringai puas. Setelah itu pergi meninggalkan Kuroko sendirian di UKS itu.
BUK!
"Sialan!" Kuroko jelas kesal karena telah direndahkan oleh tuan putri itu untuk yang kesekian kalinya "Kalau memang begitu caramu bermain, aku juga bisa, Akashi-san," Kuroko benar-benar kesal saat ini. Hingga usai sekolah pun ia masih merasa kesal ketika mengingat bagaimana dia dibodohi oleh pasangan bodoh itu.
Ini merupakan hari yang melelahkan bagi Kuroko dan juga merupakan hari tersial sepanjang masa. Jadi pertarungan untuk hari ini, Kuroko dinyatakan kalah telak?
.
.
.
.
TBC
