Disclaimer : Harry Potter is belong to J.K. Rowling.
A/N : Hai, Hai. saya kembali dengan fict aneh ini. Kali ini saya bawa chapter 4. semoga kalian suka ya dengan cerita selanjutnya. Awas, Typo(S), OOC, EYD berantakan, sedikit muggle world. jangan lupa Review ya!
Chapter 4
"Yeah. Sudah ditemukan. 550km. Kau mau menaiki mobil, menggunakan kereta, atau berjalan kaki Malfoy?" tanya Hermione kepada Draco dengan senyuman yang menawan. Draco menjawab pertanyaan Hermione tersebut dengan mantap dan menawan pula, "Berjalan Kaki."
Hermione melotot ke arah Draco, "Kau Gila! Hampir 90 jam untuk kesana. Memangnya kau mau berjalan kaki selama hampir 5 hari jika kita tidak berhenti, kalau kita beristirahat bisa seminggu untuk kita sampai kesana, Ferret."
Draco meringis mendengar luapan marah Hermione yang ditunjukan kepada dirinya. "Ferret itu panggilan kesayangan ya." ucapan polos Michelle menghancurkan semuanya. "lalu kenapa kau menawarkan berjalan kaki, Beaver." sembur Draco kepada Hermione. "Beaver itu panggilan kesayangan ya."
"Terima kasih Michelle. Semoga kita bisa bertemu kembali."ucap Hermione sembari berpelukan dengan Michelle, Gadis Polos yang sedikit aneh. "Tentu saja, Hermione. Semoga kau segera sampai di tujuan dengan ferret kesayanganmu itu." goda Michelle.
Hermione sedikit meringis, "Dia bukan kesayanganku, Michelle." ucap Hermione yang kemudian melepaskan pelukannya. Michelle sedikit meilirk kearah Draco. "Jaga Beavermu baik-baik, tuan es." ucap Michelle yang membuat ular yang ada di dalam tubuh draco mendesis.
"Ayo kita harus pergi, Granger." desis Draco agar segera pergi dari bocah-muggle-konyol ini. "Sampai jumpa lagi, Michelle." ujar Hermione yang kemudian pergi menjauh dari Michelle yang melambai-lambai kearahnya.
"Huh, akhirnya aku berpisah dari orang yang paling tolol yang pernah ku temui." oceh Draco membicarakan Michelle. "Walaupun seperti itu, dia yang sudah menolong kita Malfoy. Jadi, kita benar-benar akan berjalan kaki ya?"
"Tentu saja. Aku tak suka mengendarai kendaraan para muggle itu." Hermione memutar bola mata hazel miliknya. "Huh, kau itu sangat menyebalkan Malfoy. Lagipula jika kita menaiki kereta mungkin sore nanti kau sudah menemukan tas milikmu itu."
"Aku senang berpetualangan, Granger. Jadi diamlah dan nikmati petualangan kita." ujar Draco seperti pemimpin yang kemudian berjalan di hadapan Hermione. Hermione mendegus dan kemudian menjajarkan langkahnya dengan Draco.
Draco dan Hermione berjalan di atas trotoar. Mereka mengikuti saran Michelle, yaitu jalan lurus hingga menemukan sebuah pasar khusus sayuran. Mereka kira pasarnya dekat dengan bandara challes de Gaule. Namun, hampir setengah jam mereka berjalan mereka belum menemukan sebuah pasar khusus sayur tersebut.
Keringat mulai bermunculan di dahi Hermione dan Draco. Hermione juga mulai terengah-engah karena lelah. "Malfoy, bisakah kita beristirahat dahulu?" tanya Hermione kepada Draco. Draco yang berada di depan Hermione lalu menoleh.
"Ayolah Granger. Kita belum menemukan pasar." oceh Draco kepada Hermione. Hermione mendegus, "Kita sudah berjalan lebih dari 30 menit, Ferret." ujar Hermione sedikit kesal. Draco kemudian berjalan kearah Hermione yang berada di belakangnya.
"Lalu, apa maumu?" tanya Draco kepada Hermione. Hermione kemudian mengarahkan pandangannya kepada sebuah taman kota yang berada tak jauh dari tempat dirinya dan Draco berdiri. "Kita beristirahat di taman itu."
Jari telunjuk Hermione mengarah kepada sebuah taman yang tadi ia pandang. Arah pandang Draco mengikuti arah telunjuk Hermione yang menunjukan sebuah taman kota yang penuh dengan orang tua dan anak-anak, namun juga ada beberapa anak muda yang bersepeda di taman tersebut.
Draco akhirnya mengangguk menuruti kemauan Hermione. Mereka kemudian berjalan santai menuju taman itu, sebenarnya Draco sedikit malas berkumpul dengan para muggle tersebut. Namun, Draco hanya pasrah saat Hermione menatap dengan tatapan memohon kepadanya.
"Granger, apa kau tak ingin memasukan tas ini di tas manik-manikmu?" ucap Draco sembari menujukan tas yang dari tadi Draco jinjing. Hermione kemudian menghela nafas panjang, kemudian membuka tas manik maniknya lebar-lebar.
"Ini tidak akan muat jika dimasukan tas sebesar itu Draco. Jika kau bisa mengecilkan tas tersebut mungkin bisa di masukkan kedalam tas manik-manikku." oceh Hermione dalam satu tarikan nafas. Draco kemudian menyeritkan dahi.
"kenapa kau tidak lakukan itu? Aku tidak membawa tongkat, Beaver." ujar Draco sambil mendegus kesal kepada Hermione. "kau bisa menggunakan Engorgement charm. Kemudian kau kecilkan tas mu lagi." Hermione kemudian menghentakan kakinya.
"Baiklah. Aku akan melakukan itu di tempat yang sepi. Tidak mungkin aku melakukannya disini." ucap Hermione yang kemudian melangkah pergi sambil merebut tas yang Draco bawa. "Gadis bodoh.
Draco Kemudian mencari bangku taman yang kosong. Draco berkeliling di seluruh taman mencari bangku tersebut, ia kemudian menemukan sebuah bangku kosong yang di depannya banyak sekali anak-anak yang sedang bermain.
"Filthy Muggle." dengus Draco yang kemudian berjalan mendekati bangku kosong tersebut. Ia duduk dengan santainya sambil melihat anak-anak kecil yang sedang bermain di taman tersebut.
Taman tersebut cukup ramai, mungkin karena ini adalah akhir pekan, jadi semua orang berlibur dengan keluarga mereka masing-masing. Banyak juga para pedagang permen kapas, ice cream, minuman soda, dan yang lainnya.
Taman ini juga begitu menarik dengan jalan bebatuannya, jalan khusus sepeda, bunga-bunga berwarna-warni yang tumbuh subur, juga pepohonan yang tumbuh rindang yang membuat panas tidak begitu menusuk di taman tersebut.
Draco tanpa sadar tersenyum melihat anak-anak kecil yang sedang bermain di taman dengan hati gembira. Hati draco mencelos, mengingat masa kecil miliknya yang begitu kelam. Ia tertawa dalam hati mengingat masa kecilnya.
Seorang anak kecil berambut hitam bergelombang datang kearah Draco sambil membawa keranjang yang berisi penuh dengan bunga mawar berwana putih. Dia datang mendekati Draco dengan senyum paling menawan.
"Kakak." Draco menoleh ke arah anak kecil tersebut. Draco kemudian tersenyum menatap anak kecil tersebut. "Selamat pagi kakak. Namaku Stella. Dan aku sangat senang dengan bunga." oceh gadis kecil tersebut kemudian mengambil bunga mawar putih tersebut dan di berikan kepada Draco.
Entah kenapa Draco menerima bunga tersebut dari tangan mungil gadis tersebut. "ini adalah bunga mawar putih. Bunga mawar putih melambangkan rasa cinta yang sejati, persahabatan, pertemanan, kesucian, juga keanggunan." ucap gadis kecil tersebut sambil tersenyum.
"Karena hari ini adalah hari mawar sedunia. Aku akan memberikan kakak bunga ini sebagai tanda persahabatan kita. Maukah kakak berteman denganku?" tanya gadis tersebut dengan tatapan memohon yang sangat lucu.
"Tentu. Aku suka dengan bunganya. Terima kasih." ucap Draco memberikan senyuman yang manis kepada gadis mungil tersebut. Kemudian gadis tersebut tersenyum dan melangkah pergi. "Sahabat."
Draco menatap bunga mawar tersebut. Draco tahu jika mawar putih melambangkan rasa cinta sejati. Biasanya seorang pria akan memberikan mawar putih kepada gadis yang ia cintai. Sebuah pikiran lewat begitu saja, 'siapa gadis itu?'.
Draco segera melupakan pikirannya tentang itu, dan menggeleng. Draco kemudian melihat mawar putih itu kembali. Mawar yang cukup indah dengan duri yang sudah dihilangkan, mungkin gadis itu takut orang yang diberinya bunga terluka karena tertusuk.
Draco kemudian mengarahkan pandangannya kepada anak-anak yang sedang bermain. Tanpa Draco sadari Hermione datang menghampirinya sambil membawa dua gumpalan kapas berwarna merah muda.
"Malfoy." Draco kemudian mengarahkan pendangannya pada orang yang memanggil namanya. Draco terkejut dengan seseorang yang memanggil namanya tersebut. "Granger, kau mengagetkan aku saja." oceh Draco kepada Hermione yang memandangnya bingung.
Hermione kemudian duduk di samping Draco, kemudian Hermione memberikan Draco sebuah gumpalan kapas berwarna merah muda tersebut. "Ini untukmu malfoy." ucap Hermione sembari memberikan permen kapas tersebut kepada Draco.
Draco menerima gumpalan permen kapas tersebut dari Hermione, "Terima kasih." Hermione tersenyum menatap Draco yang ia beri permen kapas. Draco kemudian menatap mawar yang tadi diberi gadis mungil entah siapa namanya.
Draco tak berpikir begitu dalam sehingga kata-kata itu begitu saja meluncur dari mulutnya. "Ini untukmu, Granger." Draco menyerahkan bunga mawar putih itu kepada Hermione. Hermione speechless dengan kejadian yang tidak ia duga sebelumnya.
Hermione membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu, namun ia tutup kembali mulutnya. Hermione menatap bunga mawar tersebut dengan masih ekspresi yang sama. Hermione kembali membuka mulutnya, namun tak ada kata yang keluar dari bibirnya tersebut.
"Ini mawar untukmu, Granger." Draco masih berusaha membuat Hermione mengambil mawar tersebut dari tangannya. Namun, Hermione tak segera mengambil mawar tersebut. "Malfoy." akhirnya satu kata lolos dari mulut Hermione.
Draco menatap Hermione bingung. Apa salahnya memberi Hermione bunga? Hingga membuat Hermione seperti ikan yang membuka-menutup mulutnya. "Terima kasih malfoy." akhirnya tangan Hermione mengambil mawar tersebut sembari kata terlarang tersebut lolos dari mulutnya.
Hermione kemudian menatap Draco yang menatap permen kapas yang Hermione beri. "Benda muggle aneh apa ini, Granger?" tanya Draco dengan ekspresi yang membuat Hermione ingin tertawa. "Ini permen kapas Malfoy. Ini makanan."
Draco masoh menatap gumpalan merah muda yang ia pegang, "Jadi ini bisa dimakan?" sepertinya Draco telah berganti profesi menjadi seorang wartawan koran Daily Prophet yang mengganti Rita Skeeter yang menyebalkan itu.
"Tentu saja. Ini sangat manis." Ucap Hermione yang kemudian memakan permen kapas tersebut. Draco melihat hermione memakan permen kapas tersebut membuat Draco ingin juga menikmati gumpalan merah muda yang berada di tangannya.
Satu gigitan. "Ini sangat manis, Granger." ucap Draco yang kemudian mencoba gigitan kedua. "Tentu. Dulu aku, ibuku, dan ayahku sering datang ke taman kota yang berada di inggris. Kami menikmati akhir pekan dengan piknik keluarga."
"Aku selalu dibelikan permen kapas oleh Ayahku. Dan itu sangat manis. Aku selalu suka dengan permen kapas." oceh Hermione sambil menikmati permen kapas miliknya. "ku kira kau hanya suka dengan buku yang setinggi menara, Granger." goda Draco di sela-sela perbincangan mereka.
Hermione tertawa lepas. Draco tersenyum bisa membuat seorang Hermione Granger tertawa karena dirinya. "Tentu aku suka buku. Tapi tidak setinggi menara, Malfoy." ujar Hermione yang kemudian melanjutkan makan makanan yang ia sukai sejak kecil.
Draco tidak membalas perkataan Hermione. Ia melanjutkan makan makanan muggle tersebut yang sangat manis. "Bagaimana dengan akhir pekan mu dulu, Malfoy?" tanya Hermione polos. Draco terdiam tanpa menjawab pertanyaan Hermione.
Permen kapas itupun tak Draco lanjutkan makan. Hermione yang merasa aneh kemudian menoleh kearah Draco. Hermione melihat Draco terdiam dengan pikirannya sendiri. Disini, Hermione paham, Perkataan dirinya membuat Draco terdiam, dan membuat Draco membuka masa lalu.
Hermione merasa bersalah kemudian menggoyangkan tangannya di arah wajah Draco. Draco masih saja melamun. "Malfoy." ucap Hermione mencoba membuka percakapan mereka kembali, namun Draco masih saja melamun.
"Malfoy." untuk kedua kalinya Hermione memanggil Draco. Namun Draco masih saja terdiam dan melamun. Kemudian Hermione kembali mencoba memanggil Draco namun, dengan suara yang sedikit berteriak, "Malfoy!"
Draco tersadar dari lamunannya. Draco kemudian menatap Hermione, "Sampai dimana kita tadi?" tanya Draco melupakan pertanyaan Hermione. "Em.. Dari mana kau mendapatkan mawar ini?" tanya Hermione kepada Draco mencoba mengalihkan topik pembicaraan mereka.
Draco memandang mawar yang Hermione pegang. Draco tersenyum kemudian menatap Hermione, "Aku memetiknya." Hermione langsung tertawa renyah. Draco yang berbohong kembali memakan permen kapas yang sebentar lagi akan habis.
"Kenapa?" tanya Draco melihat Hermione tertawa lepas dengan santainya. Hermione berhenti tertawa dan menoleh ke arah Draco, "Aku tahu kau berbohong Malfoy." Draco menyeritkan dahi, "Aku tidak berbohong Granger. Aku serius."
"Itukan bunga dari seorang gadis kecil. Aku juga mendapatkannya tadi." tawa Hermione disertai ucapan mengejek Draco membuat Draco kesal. "Gadis kecil tadi mengatakan bahwa mawar putih itu melambangkan rasa cinta yang sejati, persahabatan, pertemanan, kesucian, juga keanggunan."
Hermione tersenyum tipis melihat Draco mengatakan hal tersebut. "karena aku seorang pria, aku akan memberikannya kepada seorang wanita. Dan karena Astoria tidak disini, dan hanya kau yang ku kenal disini, maka aku memberikannya kepada mu."
Setelah mengucapkan itu, Draco kembali memakan permen kapas tersebut. "lalu kau lambangkan apa jika kau memberikanya kepadaku?" tanya Hermione dengan suara sedikit tipis. Draco berhenti makan, dan menoleh ke arah Hermione.
"Kau adalah seorang wanita, Granger. Pasti seorang wanita akan senang jika diberi bunga." jawab Draco asal, dan itu membuat tawa Hermione meledak. "Kenapa tertawa?" tanya Draco geli melihat tawa Hermione, memang ada yang salah?.
"Bukan itu yang aku maksudkan. Kau itu memberiku bunga sebagai tanda apa, teman atau mungkin sahabat?" pertanyaan Hermione membuat Draco menampilkan ekspresi pemikir. Hermione melihat Draco dengan wajah seperti itu tak tahan untuk tertawa kembali.
"Aku memberimu bunga itu karena kau adalah wanita yang spesial, Granger. Wanita yang saat ini aku butuhkan untuk membantuku mencari cincin keluarga ku." ucapan Draco membuat Hermione tersenyum. Hati Hermione sangat tersanjung dengan ucapan Malfoy muda itu.
Hermione kemudian memandang mawar putih yang diberikan Draco, dan mengingat-ingat ucapan malfoy muda tersebut. Wanita yang spesial. Ya, Hermione menurut Draco adalah wanita yang spesial baginya.
Mungkin saat ini semburat merah telah menghiasi wajah cantik Hermione. Hermione masih saja memandang bunga mawar itu. Bunga mawar itu menjadi sebuah benda yang untuk pertama yang diberikan dari seorang Draco Malfoy.
Draco memperhatikan Hermione yang sedang tersenyum memandang bunga mawar putih yang tadi ia diberikan kepada Hermione. Draco tersenyum melihat Hermione yang seperti itu, "Oh. Aku tahu itu."
Senyuman Hermione seketika luntur. "Kau memikirkan ucapanku ya, Granger." ucap Draco kelewat percaya diri. Hermione mendengus, "Tidak, Terima kasih malfoy." dengus Hermione yang melihat Draco bertingkah sok tampan.
"Aku hanya bercanda, Granger. Jangan percaya ucapanku tadi." Hermione terdiam, otaknya mencerna ucapan Draco. "ucapan yang mana, Malfoy?" tanya Hermione yang seperti orang paling tolol yang pernah Draco lihat. "Tentang kau wanita spesial."
To Be Continued
A/N: Bagaimana chapter 4 nya? semakin aneh dari chapter sebelumnya? Terima kasih untuk para readers yang selalu membaca cerita ini, terima kasih untuk para reviews; GrangerBrOwN, swift, kalian bagaikan motivasi untuk terus bersemangat cerita ini. aku sangat menyayangi kalian :*. Oke, untuk pendapat kalian tentang chapter ini, mugkin jelek, atau nggak nyambung, atau yang lainnya, kalian bisa review di kotak review dibawah ini. aku tunggu review dari kalian semuanya.
Love,
Periewinkle.
