Hinata tidak ingat. Dia ambruk ditengah pergelutan sengit. Beruntung Dia datang sebagai bala bantuan.

Ketika ia membuka mata, ia masih berada ditempat yang sama saat terakhir kali ia pingsan. Tubuhnya sakit semua. Darah mengering. Hinata terbatuk. Tubuhnya lebam semua.

Ia terluka parah, bisa membuka mata esok hari adalah keajaiban. Hinata yakin chakranya belum bisa membangunkannya kalau tidak ada supply chakra dari orang lain. Ada yang menolongnya. Tetapi siapa?

Hinata duduk bersender pohon. Jejak pertarungan seolah tidak ada. Saat bangun tadi ia melihat sebuah chakra pelindung. Dan yang penting di mana si petarung tangguh? Yang mengatainya menyedihkan semalam. Yang mungkin memberikan chakra itu.

Hinata terbatuk lagi. Dadanya sesak serasa paru-parunya tertekan tulang rusuk. Detakan jantungnya lemah.

Tidak ada yang membawanya ke klinik konoha. Hinata tidak mengeluh. Toh memang ada siapa di sini, di hutan timur yang pasukan ninja elit pun tidak pernah menjajakan kakinya menjamah daerah ini? Hanya saja ia cemas. Kejadian semalam bagai sebuah pertanda bahwa akan ada bencana besar mengancam desa kelahirannya. Entah apa itu nanti. Hinata harus segera melapor.

Hinata lupa kalau dia belum memulihkan diri. Baru bangun sedikit ia terjatuh lagi. Kepalanya mendadak pening. Matahari sudah agak tinggi, sinarnya menyelip di antara dedaunan dan jatuh menimpanya. Hinata terpejam. Ia menenangkan diri.

Bagaimana caranya mengeliminasi rasa sakit? Chakranya setipis benang. Jika dipaksakan dipakai kemungkinan tubuhnya bakal sekarat. Itu tidak enak. Nanti ia tidak bisa melapor.

Sembari menanggung sakit perlahan ia memaksakan diri. Chakra mengalir pelan. Membuka jalur di mana-mana. Kinerja cakranya terganggu. Hinata batuk darah.

Andai saja dia tidak tengah terluka saat bertarung, dia pasti bisa selamat. Mungkin dia bisa lapor detail kejadian yang menimpanya sehingga ninja elit atau anbu akan memperketat keamanan. Atau mungkin bisa menyelidiki bisunya hutan timur. Hinata berharap itu terjadi.

Hinata mengalirkan chakranya, rasa hangat mengalir namun sial, dadanya mendadak sakit. Hinata mengatur napasnya yang mulai memburu. Hinata terbatuk lagi. Hinata menghentikan laju chakra. Mata terpejamnya membuka. Pandangnya sejenak mengabur sebelum lensa matanya kembali fokus. Tubuh Hinata lunglai terbaring tanpa ia kehendaki.

Siapapun... Tolong aku!

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Main pairing: SasuHina

Genre: Hurt, Drama.

-YnK-

Shikamaru sibuk mondar-mandir membawa setumpukan dokumen, di tengah jalan ia membolak-balikan sekumpulan kertas dan membacanya begitu detail. Bibirnya komat-kamit.

Ini isinya proposal pembangunan negeri. Shikamaru mengecek lebih dalam, laporan anggarannya rancu sekali. Shikamaru mencoret proposal itu. Ah, bisa gila Shikamaru kalau harus mengurus ini. Pantas saja Naruto tidak betah berlama-lama di ruangannya.

Bicara Naruto, makhluk itu belum hadir di ruangan. Padahal sudah hampir siang. Shikamaru melap jidat. Setibanya di ruang hokage ia meletakan semua dokumen di atas meja.

Pikirannya bercabang. Mata malasnya melihat deretan patung di bukit, patung berisikan wajah-wajah hokage pertama sampai hokage keenam. Manik Shikamaru menukik ke bawah, suasana terlihat ramai. Shikamaru menghela napas. Ramai menghias kota karena pernikahan akan terjadi dalam kurun waktu tiga hari. Rasanya baru kemarin Naruto mengajukan lamaran. Secepat ini kah para tetua itu mempersiapkan altar? Terlalu cepat. Dan tentunya menarik sisi curiga.

"Ah, aku terlambat Shika. Aku ketiduran. "

Shikamaru mengerjap, ia memandangi kursi hokage yang sudah diduduki Naruto. Sejak kapan?

Shikamaru berdehem. "Kau ini, disiplinlah pada waktu. Sebentar lagi kau akan menikah. Lihat, di bawah sana ada banyak sorak bahagia menyambut hari bahagia kalian. "

Naruto cengesan, tangannya mengambil satu proposal yang sudah diberi tanda. "Ah, rasanya cepat sekali. Kenapa para orang tua itu bertindak cepat yah? Padahal aku baru mengajukannya kemarin dan belum ada sepuluh menit mereka menyetuinya begitu saja. Tidakkah kau berpikir kalau mereka itu...aneh? "

"Barangkali mereka ingin segera punya cucu. " jawab Shikamaru sekenanya.

Naruto mendelik, "A-apa? C-cucu? Yang benar saja. "

"Baiklah... Lanjut saja ke tugasmu sebagai hokage. Beberapa yang kutandai tinggal kau baca ulang. Setuju atau tidak setuju itu kau yang urus. Yang tidak kutandai itu nyeleneh. Tetapi kalau kau ingin mengecek silakan saja. Aku akan memastikan kondisi calon mempelaimu. Gara-gara kau semalam melukainya aku jadi khawatir. Ah, mendokusai! "

Naruto cemberut, "Aku kan tidak melukainya. "

"Ya terserah kau sajalah. " ujar Si Nanas sambil mengibaskan satu tangannya.

Shikamaru menutup pintu. Naruto memonyong-monyongkan bibirnya. Kesal karena semalam Shikamaru mengganggu waktunya ditambah sekarang ia benar-benar kesal dikatai melukai Hinata.

"Asisten Hokage macam apa yang pergi tidak ada sopan-sopannya? "

-YnK-

Shikamaru meloncati dahan di pinggiran hutan. Dia ingin melihat persiapan yang dilakukan klan tua itu.

Kenapa klan tua? Ya karena memang sudah sepuh dan tentunya sudah ada sejak buyut hokage pertama menjajakan kakinya di sini. Klan Hyuuga dihormati dan disegani. Dan Naruto menikahi nakamanya itu, Hyuuga Hinata, adalah berita besar. Seperti pangeran dan putri yang selayaknya harus bersanding.

Tak sengaja dia melihat Kiba dan Shino tengah masuk ke dalam hutan. Shikamaru yang penasaran mengikuti mereka di belakang.

Loncatannya dipercepat. Shikamaru tidak ingin memanggil mereka, ia hanya perlu mengikuti. Kira-kira ke mana mereka akan pergi?

Mereka turun di tanah agak lapang. Shikamaru berhenti melompat. Ia merasa asing. Shikamaru menatap sekeliling, pepohonan dengan batang besar berlumut nampak tak pernah terjamah manusia. Shikamaru meneguk ludah.

Shikamaru memutuskan menuju ke depan, menyusul Kiba dan Shino.

"Apa yang kalian lakukan di sini? " tanyanya.

Kiba menoleh, Akamaru menggonggong. Shikamaru mengelus pucuk kepala anjing Kiba.

Mereka tidak menjawab, tetapi melihat raut Kiba yang ditekuk, Shikamaru sadar ada yang tidak beres.

Shikamaru berjalan mendekat. Matanya membeliak, bukankah-

"Hinata terluka. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. " Kiba menjelaskan keadaan Hinata yang terbaring lemah.

Shino mengangguk. Seolah-olah matanya mengatakan sesuatu.

Shikamaru membeku, Hinata, bukankah kemarin malam dia ada rumah Sakura? Dia terluka waktu itu. Shikamaru melihat ada bekas amaterasu di rumput. Kakinya menjejaki rumput yang menghitam, "Seperti habis ada pertarungan di sini. "

"Kurasa begitu. Hinata terlihat mengkhawatirkan. Kita harus menolongnya. " Shino angkat bicara.

Lelaki penyuka serangga itu mendudukan Hinata. Tubuhnya ia topang. Kemudian kedua telapak tangan berada di depan jantung sang kunoichi, aliran hangat berwarna hijau memancar, Shino mentransfer chakra miliknya.

Shikamaru masih bingung, ia tidak sanggup menebak apa yang ada di dalam sana. Begitu gelap dan lebat padahal matahari begitu terik di arah jam 12. Cahayanya sang surya tertolak masuk.

"Bisa jelaskan padaku, kenapa kita berada di hutan timur? "

Kiba gelisah. Gesturnya tak lepas dari manik jelaga, "Kiba, katakan padaku. Ini aneh. Hutan timur tidak bisa dimasuki sembarang ninja. "

Kiba berdehem kalem, "Hinata kerap kali berlatih di sini. " kemudian ia meneguk ludahnya sendiri, "Hutan ini memang tidak bisa dimasuki sembarang ninja. Tetapi Hinata menggunakan chakranya untuk menjamah hutan ini. Karena itu sekarang kita bisa berada di sini. "

Shino menambahkan chakra. Tetapi kemudian ia terbatuk. Tubuhnya sudah menolak menyuplai cakra ke gadis berambut gelap.

"Shino.. Kita gantian. Shikamaru, kau mau membantu tidak? Hinata butuh banyak chakra. "

Shino mengangguk. Shikamaru mendekat. Kiba mentransfer chakra miliknya.

Kiba dan Shikamaru berkolaborasi mengalirkan chakra mereka. Walaupun chakra mereka bukan chakra penyembuh seperti milik kunoichi beramput pink itu, setidaknya asupan energi dari luar bisa meregenerasi sel-sel di dalam.

Shino menggunakan serangga-serangganya untuk memantau.

"Shikamaru, bisa kau jaga rahasia? "

Satu biji keringat meluncur bebas dari dahi Shikamaru. "Aku... Bisa. "

"Kami tidak tahu kenapa Hinata sering linglung saat memilih tempat latihan. Semisal perjanjian di hutan barat Konoha dia akan berakhir di sini, di Hutan Timur. Padahal kita tahu, tak sesiapapun bisa menjejak, termasuk anbu. Bahkan Hokage tidak pernah menjamah daerah sini. "

Benar juga perkataan Shino. Tetapi kalau Hinata bisa menembus hingga sebegini jauhnya berarti gadis ini bukan kunoichi sembarangan. Shikamaru patut curiga. Entah kenapa intuisinya bergejolak.

"Pagi hari ada burung datang membawa surat, saat aku membacanya, surat itu dari Hinata." Shino memberikan gulungan kecil dari kertas lusuh. "Kami mencari di penjuru desa, hasilnya nihil. Kami menebak, Hinata pasti berada di sini. Dan benar saja, teman kami memang berada di sini. Kondisinya mengenaskan. "

"Apa kau melihat bahwa seperti habis ada pertempuran besar di sini? Aku melihat ada api kecil di rumput, seperti ameterasu. Apa mungkin Sasuke terlibat? " Shikamaru mencetuskan opininya.

Shino mendelik. Pun Kiba. Mereka benar-benar tidak sadar.

"Astaga, aku tidak memperhatikannya Shikamaru. " Ujar Kiba.

Shino merubah raut, Shikamaru tidak bisa melihat keterkejutan Shino, muka lempeng itu susah ditebak. Sialnya, pendiam.

"Kita tidak tahu apa yang terjadi di sini selama Hinata tidak kunjung sadar dan menceritakannya. " Shino memanggil serangga-serangganya untuk kembali. Sepertinya aman. "Dan, Shikamaru, aku ingin bertanya, bagaimana cara kita membawa Hinata ke manshion Hyuuga. Pernikahannya akan berlangsung tiga hari lagi. Dengan kondisi yang parah ini, apa sebaiknya ditunda saja? "

"Aku yakin kalaupun Hinata pulih dia akan kesakitan di sekujur tubuh. Belum lagi lumpuh sementara karena pemaksaan memulihkan diri dengan chakra minus. Aku tidak mungkin membawanya ke rumah. Heboh nanti. "

Ah, Shikamaru jadi pusing. Kenapa disaat akan ada hari bahagia selalu saja ada masalah tak terduga. Sialnya, calon mempelai wanitalah yang jadi korbannya. Kalau begini, Shikamaru bisa apa coba? Otaknya ruwet, kapasitas berpikirnya ngadat mendadak, ia buntu, tidak memiliki ide untuk memboyong Hinata.

"Kalau begitu, bawa Sakura kemari. Rahasiakan. Jangan menarik perhatian! " ujar Shikamaru.

Semoga saja Sakura mau membantu. Semoga saja khalayak tidak sempat memperhatikan kegelisahan di hutan timur.

"Aku akan menjemputnya. Kiba kau bantu Shikamaru transfer chakra. Jika Hinata sempat pulih, ambil ramuan obat di tas kunaiku. "

"Cepatlah Shino, aku takut Hinata kenapa-napa. "

Shikamaru dirundung bingung lagi. Pikirannya membelah bak amoeba. Begitu Shino pergi, tak lama Hinata siuman. Gadis itu terbatuk.

"Hinata... Hinata kau sudah siuman? " Kiba nampak senang.

"Engg... Kiba-kun, terimakasih sudah menolong. " Hinata menatap Shikamaru, "Ah, Shikamaru-san, maafkan tindakanku semalam. Aku pergi diam-diam. "

"Itu tidak penting. Kenapa kau bisa terluka begini? " Shikamaru mengintimidasi. Hinata tersenyum kecut.

Kiba mengambil ramuan penambah energi dari tas kunai Shino. Pemuda dengan tato segititiga berwarna ungu di kedua pipinya itu menyodorkan sebuah botol ke Hinata, "Minumlah. Pulihkan energimu. "

"Semalam, setelah aku pergi aku ingin menyendiri di sini. Tetapi dua ninja hebat menyerangku. Shikamaru, kumohon, mintalah Hokage untuk memperketat keamanan desa. Aku takut mereka punya niat jahat. "

Hinata terbatuk. Astaga, cairan ini tidak ada enak-enaknya. Bau khasnya bikin ia menyernyitkan alis. Gelenyar pahit bahkan tidak mau hilang dipangkal tenggorokan. Ia menutup butul dan ajaib, perlahan tubuhnya menghangat.

Kiba mengelus punggung Hinata, gadis itu bersender di dada.

"Kenapa kau tidak meminta bantuan kami? Kau ini sok hebat, kalau kau menghubungi kami kau tidak akan begini. " Kiba menasehati Hinata.

"Seharusnya kau memberi kode. " Shikamaru memberikan idenya yang jelas sudah basi.

"Aku tidak sempat. Mereka terlalu kuat. Mereka, terutama yang lebih kecil, dia bertanduk. Rambutnya putih. Dan dia memiliki mata seperti Klan Hyuuga. Mata Byakugan. "

Baik Shikamaru maupun Kiba keduanya terkejut. Terutama Kiba yang tidak bisa mengendalikan diri. Belum sempat Kiba bertanya macam-macam, Shikamaru menggerakan tangan, membuat isyarat 'diam' menggunakan jari telunjuk di depan bibir.

"Kurasa ini gawat. Kita harus melaporkannya ke Hokage. Hinata terimakasih... Demi desa kau sampai harus sekarat. "

Hinata mengangguk saja.

Serangga-serangga yang diyakini milik Shino berkerubung. Shino datang dengan Sakura yang menenteng peralatan medis.

"Maaf lama, Sakura-san sibuk. " Shino tersenyum begitu mendapati Hinata siuman, "Hinata kau sudah siuman?"

Hinata mengangguk saja. Meskipun agak sakit Hinata memaksakan senyum menyambut pertolongan Shino.

Sakura dengan wajah agak ditekuk duduk di depan Hinata. "Kenapa tidak ke klinik saja, sih? Aku sibuk. "

Beruntung masih jadi rahasia diantara mereka, Sakura benar-benar seperti berkepribadian ganda. Satu sisi dia akan biasa saja ke nakamanya, namun terhadap Hinata, gadis berambut gelap itu bagaikan musuhnya si pink. Padahal Hinata tidak pernah melakukan kesalahan apapun yang menyakiti hati Sakura. Kenapa? Belum ada yang tahu alasannya, termasuk Hinata sendiri yang sekarang terdiam sesaat.

Kemudian Hinata tersenyum dan mengucap maaf pelan. Sakura mulai mengalirkan chakra. Tatapannya begitu fokus.

Shino menganggukan kepala. Shikamaru bangkit dan menutupi jejak amaterasu.

Transfer chakra memakan beberapa waktu, setelah selesai dia memberikan sebuah ramuan yang biasa digunakan untuk memulihkan diri.

"Minum ini. Kenapa kau terluka? Semalam kabur. Apa kau tersinggung dengan fakta yang kukatakan? " cecar Sakura sakarstik.

"Hei.. Kau biasa saja bisa, Sakura? Aku tidak tahu apa masalahmu, tetapi bukan begini caramu bertanya. Kau ini murid Hokage Kelima tapi perilakumu bikin aku muak. " Kiba mendesis tidak terima Hinata dibentak begitu.

Tentu saja, Hinata itu sahabat sekaligus adiknya. Dan Sakura dengan seenaknya membentak tepat di depan matanya. Hei... meskipun dia tidak tahu apa masalah mereka, hanya saja, logisnya, tidak seharusnya perlakuan ninja medis itu begitu. Kiba menatap Hinata yang sempat tersentak kecil, Kiba kian merutuk dalam hati saat Hinata malam mencoba tersenyum sambil mengucap maaf.

Shino berdehem.

Shikamaru mengamati.

Hinata? Dia tidak ingin berdebat. Biasanya dia diam. Namun sekarang ia lebih memilih tersenyum walau keterkejutan masih hinggap. Lebih baik begitu karena Hinata tahu diamnya dia hanya akan menambah masalah kian rumit.

"Sakura-san terimakasih. "

-YnK-

Pemulihan berjalan lancar. Mereka; Shino, Kiba dan Shikamaru menjelaskan kepada Hiashi kalau puteri mereka hanya membela diri saat musuh menyerang. Shikamaru sebenarnya merasa canggung apalagi ketika Hiashi menunjukan wajah masam.

Ah, konflik klan memang merepotkan.

Setiap lima jam Shikamaru bolak-balik ke kediaman Hyuuga. Ia mengantar berbagai ramuan. Sesekali dia juga membawa Ninja medis. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi, keadaan ini disembunyikan. Hokage saja tidak tahu. Hanya mereka, segelintir orang, diantaranya; Klan Hyuuga, Shikamaru, Kiba, Shino dan Ninja medis pun hanya beberapa. Termasuk Tsunade-sama yang dimintai bantuan membuat obat.

H-1 menjelang pernikahan, Hinata sudah bisa memulihkan diri. Seperti apa yang dikatakan Kiba, Hinata mengalami kelumpuhan. Namun itu hanya berlangsung duahari. Hinata bersyukur Tsunade-sama mau meracikkan ramuan ajaib.

Hinata berdiri di roka. Ia sibuk memandangi pohon yang tumbuh di tengah tanah lapang. Sampai-sampai Shikamaru yang datang dan berdehem beberapa kali tidak ia gubris.

Hinata mendudukan diri. Pikirannya bertanya banyak hal. Sedari dulu Hinata akui ia mengagumi Naruto namun Hiashi-sama sempat salah paham kalau Hinata mencintai Naruto. Hinata menjelaskanya ditengah perkumpulan keluarga. Betapa malunya dia. Naruto adalah inspirasi, motivasi eksternal. Hinata suka semangat dan sifat pantang menyerahnya, Ia palah berpikir mungkin mereka bisa menjadi teman. Namun ayahnya tetap saja mengira kalau anaknya itu cinta mati pada satu-satunya keturunan Uzumaki. Saat Naruto datang membawa lamaran tentu Hiashi bakal menerima dengan tangan terbuka. Satu sisi Naruto itu pemimpin desa dan di sisi lain Ia tidak menanggung malu lagi. Hinata menolak saat pertama kali diberitahu namun sang ayah tidak menerima penolakan. Rasanya lelah, Hinata menyender di tiang penyangga, matanya menatap awan, "Lebih baik aku pergi saja. Aku ingin sepertimu, bergerak bebas. Menjadi awan juga tidak mengapa. " bisiknya pelan.

Shikamaru menghela napas, eksistensinya ini abstrak kali ya? Sedari tadi sudah berdehem sampai serak Hinata tidak kunjung sadar.

"Ah, merepotkan! "

Barulah Hinata menoleh cepat, Shikamaru tersenyum kecut.

"S-shikamaru-san sejak kapan kau berada di situ? "

"Sejak kau berdiri di roka, duduk dan meratapi nasib. Apa sebegitunya kau tidak ingin menikah dengan Naruto? "

Berarti sudah lama? Astaga Hinata gelagapan. "M-maaf. Aku tidak tahu. " Hinata menghela napas, pertanyaan Shikamaru ia abai.

Shikamaru mengangguk saja.

"Bagaimana keadaanmu? Sudah baikan? Apa ramuannya manjur? "

"Sudah baikan. Tetapi aku tidak bisa bertarung saat ini. Shikamaru-san, apa aku boleh menolak pernikahan ini? Maksudku... Aku ingin menemukan pria yang benar-benar aku cintai. "

Shikamaru terdiam lama hal itu membuat Hinata berharap-harap cemas.

"Klan melarangmu. Aku tahu, suka tidak suka kau harus mematuhi peraturan klan. Merepotkan. "

Hinata ingin bertanya lagi namun urung saat Shikamaru meletakan ramuan obat lantas pergi.

Hinata tidak bisa memilih takdirnya sendiri. Lagi-lagi usahanya dipandang rendah. Dengan cara pernikahan, bukankah sudah jelas kalau dia itu mau disingkirkan?

Hinata benci hal itu.

Keesokan harinya, masih pagi buta Hinata terjaga. Susah tidur. Hinata mendudukan tubuh. Perlahan ia mengalirkan chakra.

Alirannya tidak selancar dulu. Hinata diam-diam mendesis.

Tiba-tiba Hinata teringat dengan pertarungannya kemarin. Ia penasaran, apakah lelaki itu selamat? Dua lawan satu sebenarnya tidak terlalu mustahil tetapi kalau lawan kekuatannya setinggi langit bagaimana dengan si penolong yang hanya sendiri memegang katana?

Hinata ingin berterimakasih. Sungguh. Lengkungan samar tercipta. Kapan yah Hinata bisa berjumpa?

Tiba-tiba ia tersenyum malu.

-YnK-

Naruto bangun lebih awal, hari ini merupakan hari membahagialan dalam hidupnya. Pernikahannya dengan Hinata.

Dulu pernah ada rumor jika Heiress Hyuuga itu menyukainya diam-diam. Sering menguntitnya pulang atau pergi. Hanya rumor tapi bikin hati Naruto berdebar.

Dia memegang dadanya. Terlalu dini jika ia menyukai Hinata. Mungkin ini hanya perasaan senang mengingat hari ini Naruto akan diberkati. Atau mungkin perasaan senang saat tahu ada gadis baik-baik menaruh hati? Entahlah.

Naruto menoleh saat Iruka membuka pintu apartemen sambil menenteng setelan jas.

"Ah, ternyata sudah bangun. Tumben. " ujarnya kalem. Iruka meletakan jas itu di atas meja. Ia menyalakan lampu.

Kondisi apartemen yang tidak ada rapi-rapinya membuat Iruka geleng-geleng.

Sunggingan Naruto tidak pudar malah makin ceria. Iruka sampai bergidik merasakan aura tersebut.

"Kau datang terlalu pagi, sensei. Tapi tidak apa, kau kan akan jadi waliku. "

Iruka tersenyum.

"Hiduplah dengan baik setelah ini, Naruto. Jaga Hinata. Aku tidak tahu bagaimana kalian menjalin hubungan. Maksudku, aku tidak pernah melihatmu tertarik pada gadis kecuali Haruno Sakura. Dan sekarang, aku mengantarkan jas mahal ke tempat bocah yang mau diwakili olehku. Ini aneh. "

Naruto menggaruk tengguk, suara serak khas bangun tidur menggema di ruangan tak seberapa luas.

"Memangnya harus kelihatan menjalin hubungan dulu ya sebelum ada pernikahan? " Naruto berkata lagi, "Aku tidak pernah sekalipun memikirkan Sakura. "

Iruka salah tingkah. "Tidak juga." ia gelagapan. Ah, Sakura... Iruka tidak tahu harus berkata apalagi. Jadinya hanya kalimat itu yang keluar. "Sudahlah, mandi sana! Pernikahan akan dilakukan dua jam lagi. Kau harus siap-siap. Jangan sampai bikin malu! "

"Baik, ayah. " jawab Naruto sekenanya. Namun hal itu sukses membuat Iruka berhenti di ambang pintu sejenak.

Pertama kali dalam hidup Iruka berdebar. Ia terharu.

-YnK-

Pagi hari yang cerah. Suasana meriah. Semua orang berbondong-bondong datang ke depan kantor hokage dengan baju mewah. Hari ini merupakan hari membahagiakan, warga desa konoha tersenyum suka cita meramaikan acara nikah.

Tak terkecuali para pasukan anbu. Walaupun keamanan desa lebih utama, mereka menghadiri acara tersebut. Pasalnya ini adalah pernikahan hokage, pemimpin desa. Walaupun acaranya mendadak, tetapi berkat bantuan warga desa dan para ninja persiapan telah terlaksana dengan baik.

Shikamaru menghela napas. Ia berdiri di bawah pohon mengenakan jas yang katanya buang-buang uang. Sesekali ia merapikan penampilan.

Kiba datang menepuk pundak, Shikamaru menoleh dan tersenyum. Shino tidak membawa serangga-serangganya. Akamaru tampak tenang. Para rekan lain satu per satu berkumpul. Kecuali Sasuke Uchiha.

Dia sudah kembali namun dia pergi lagi. Laki-laki itu banyak memikul penderitaan. Pulangpun hatinya terasa sakit. Shikamaru pernah melihatnya sekali saat Sasuke berdiri termenung di taman manshion uchiha. Hari itu adalah hari pertama Si Tunggal Uchiha pulang.

"Ah, rasanya baru kemarin aku berbincang dengan Hinata, menggodanya, sekarang dia akan jadi istri hokage. Rasanya sakit. " setelah Kiba mengatakan itu Shino memberinya tinju di kepala. Kiba mengelusnya.

"Kau ini... Dasar keranjang busuk!"

Kiba manyun dikatai begitu oleh Shino.

"Ternyata Hinata mendahului kita yah? Aku tidak menyangka. " Ino berkata sambil melirik-lirik Sai. Lelaki itu tidak peka dan malah menatap Ino bingung. Pasangan ini bikin nakama yang lain terkikik. Pasalnya, siapa sih yang tidak tahu perasaan Nona Yamana ke mantan anbu, Sai? Sudah dikejar, ditempel sampai ditembak, ekspresi Sai masihlah sama. Tidak menolak tidak menerima. Selalu saja senyum itu yang keluar, senyuman palsu.

Semuanya tersenyum kecuali Sakura. Gadis itu, dia sangat pendiam. Seolah tidak senang.

Tenten berdehem, berniat menarik perhatian Sakura. Namun gadis itu pergi meninggalkan semua rekannya dan berjalan menyusuri jalan setapak. Entah mau kemana.

Perbincangan mereka berhenti saat acara akan dimulai.

Naruto nampak gagah dengan jas putihnya. Bunga mawar merah terselip di saku. Rambutnya, sepertinya baru saja dipangkas. Bikin pangling.

Para nakama berbisik-bisik. Perubahan Naruto sungguh luar biasa.

Di bawah mentari pagi, Naruto menunggu sang mempelai. Saat yang ditunggu tiba, Naruto begitu terpana. Sosok itu nampak anggun. Dia berjalan diapit sang ayah.

Iruka berdehem. Naruto mempertegas penampilan. Saat itu ia begitu gugup. Sampai-sampai Hinata yang sudah berada si sampingnya tidak ia sadari.

"Nak, kuserahkan Hinata padamu. "

Gandengan itu terlepas begitu Naruto mengambil alih. "Baik, Hiashi-sama. "

Naruto memegang lembut tangan Hinata. Membawanya berjalan ke para tetua. Untuk diberkati.

Hinata tidak berani mendongak, ia menunduk sepanjang jalan. Hatinya gelisah. Jujur, ia tidak merasakan bahagia.

Bibirnya membuka hendak mengatakan sesuatu kalau saja suara jeritan itu tidak terdengar. Cepat-cepat kepalanya menoleh ke belakang, semua orang melakukan hal yang sama. Pun Naruto. Ia yang hampir disatukan oleh tetua tertunda sejenak.

"Ada apa? "ujar Naruto bingung.

Kemudian tanah bergetar. Warga sipil menjerit ketakutan. Para nakama masuk ke pepohonan. Memantau kondisi.

Sampai kemudian Sakura meloncat mundur menghindari sebuah serangan, ia menggunakan pukulan terbaiknya, Shanaroo untuk menangkis. Sakura terengah.

Anbu memerintahkan warga sipil untuk berlindung. Lantas mereka terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok melompat berpencar. Kelompok satunya membuat barikade perlindungan darurat.

"Astaga, ada apa ini? Apa musuh sedang menyerang? " Kiba berdebar. Ia meloncati pepohonan. Di sana.. Di tanah lapang, dua lelaki berbeda ukuran mendekat. Auranya kuat. Mereka luar biasa kuat.

"Semuanya hati-hati! " Shikamaru memerintah. Semuanya mengangguk patuh.

Sementara itu Naruto memandang jauh ke sana seolah bisa melihat di kejauhan. "Aku akan memastikannya. Ini bahaya! Semuanya! Lindungi warga sipil, amankan penduduk! Ini darurat. Hinata, kau kau berhati-hatilah! "

Hinata mengangguk. Ia menaikan gaun pengantin. Gaun itu besar dan panjang membuatnya susah bergerak lincah.

Namun tanpa diduganya, sebuah serangan telak mengantamnya hingga merobohkan dinding. Tubuh Hinata rasanya remuk. Luka kemarin masih belum pulih benar sekarang bertambah. Hinata merintih. Ia bangkit tertatih. Seketika batuk darah. Gaunnya kotor, ujungnya sobek. Hinata melap darah segar itu menggunakan tangan. Kemudian matanya menemukan si penyerang di atas. Lelaki itu lagi.

Lelaki itu mendekat. Menyeringai mengerikan dimata Hinata. Seketika itu tubuh Hinata bergetar.

Sebenarnya apa yang diinginkan orang ini? Kenapa menyerang desanya? Hinata tidak lagi memikirkan acara pernikannya dengan Naruto yang sepertinya bakal gagal.

"Kau... Apa maumu? Kenapa membuat keributan di sini? " tanya Hinata lantang.

Beberapa anbu mendekat dan menyerang. Serangan mereka seketika membalik membuat kaget, mereka menghindar cepat. Lelaki itu seolah-olah cermin. Berkali-kali serangan datang kemudian memantul dan menyerang balik tuannya. Namun Hinata bisa melihat, di tangan lelaki itu ada rinengan.

Hinata melangkah mundur saat musuh kian mendekat. Hinata jengkel, kenapa disaat ada musuh ia tidak bisa menyerang? Kenapa dia harus terluka?

Dan penyebabnya adalah orang yang sama. Ia frustasi.

"Perkenalkan, aku Momoshiki Otsutsuki. "

Buat apa berkenalan kalau dia adalah musuh. Hinata tidak habis pikir. Maka dari itu menyerang. Dengan gesit ia maju. Chakra di kedua telapak tangannya yang berwarna biru memukul musuh habis-habisan. Namun musuh mudah sekali menghindar. Hinata sudah ngos-ngosan. Demi apapun, tubuhnya tidak fit. Ia mulai merasakan sakit.

Tubuh Hinata diserang balik, semua pukulan chakra dibalikan melalui tangan itu, Hinata terlempar. Beberapa pukulan mengenai tubuh. Satu mengenai ulu hati. Nyerinya luar biasa. Lagi-lagi ia batuk darah.

"Wah, apa segini saja kekuatanmu? Dimana jutsu mengagetkan itu yang kau gunakan untuk melawanku tempo hari? " Momoshiki terkekeh. Jubahnya berkibar-kibar.

Hinata tidak berniat menjawab. Ia melakukan serangan lagi. Dia mengeluarkan chakra lagi. Namun serangannya selalu meleset.

Dengan mudah Momoshiki berkali-kali melukai Hinata. Ia tahu kalau lawannya ini miskin chakra. Hal itu sangat memudahkannya menjalankan rencana.

Kali ini tidak bisa ditolerir, Hinata benar-benar tak berkutik. Mati rasa. Byakugannya meredup. Disaat tak berdaya begitu, Momoshiki hendak melemparkan serangan chakra ke arahnya. Hinata sudah bersiap.

Namun serangan itu tak kunjung mengenainya. Hinata membuka matanya. Chakra jingga melindungi. Naruto berdiri di depannya, melindungi dirinya, jubahnya berkibar. Tubuhnya diselimuti chakra. Hinata tersenyum samar.

"Apa kau baik-baik saja, Hinata? " suara Naruto berat dan tegas. Hinata hanya menggumam.

"Wah wah.. Apa yang kau lakukan, Uzumaki Naruto? " suara Momoshiki menggema. Lelaki bertanduk seperti kelinci itu menyenyeringai.

Naruto menggunakan chakra kyuubi. Melindungi Hinata dan para tetua yang berdiri menggigil.

"Melindungi mereka, memangnya apalagi, huh? " jubah jingga berkibar-kibar. Itu tak luput dari mata Hyuuga Hinata.

Momoshiki menyeringai dan berkata, "Serahkan dia dan kulepaskan desa."

Seketika Naruto melihat orang yang diincar oleh Momoshiki, para tetua juga melihat kearah sana.

Apa maksud Momoshiki? Hinata? Dia... Kenapa mereka menginginkan calon istrinya?

"Tidak akan! Tidak boleh! Hinata tidak ada urusan denganmu! "

"Kheh, benarkah? " ujar Momoshiki. Tiba-tiba Kinshiki datang. Tubuhnya besar. Hal itu mengacaukan konsentrasi Naruto saat dia harus menahan Momoshiki sementara di satu sisi dia diserang jarak jauh.

Naruto bertahan dan menyerang. Dia melemparkan rasengan dan secara aneh, rasengan itu lenyap tepat di hadapan momoshiki.

"Pemaksaan akan aku lakukan. Kenapa kau harus repot-repot menyerangku? " tangan Momoshiki, sebelah kiri, menjulur. Barulah Naruto sadar, rinengan membuka ditelapak tangan dan seketika itu, rasengan yang tadi dia gunakan untuk menyerang muncul dan menyerang balik ke arahnya.

Seperti batu makan tuan.

Ledakan besar menggema. Memporak-porandakan desa. Tanah rusak. Bangunan hancur. Orang-orang menjerit ketakutan. Shinobi terluka.

Hinata bergetar. Dia tak sanggup melihat. Kalau Momoshiki memang berniat membawanya maka biarlah. Ia tidak bisa melihat warga tak bersalah menjerit ketakutan. Ia tidak sanggup melihat para shinobi terluka. Maka ia bangkit. Tubuhnya sempat oleng, ia berjalan mendekat.

"Hinata, apa yang kau lakukan? Tetap berlindung di belakangku! Jalan melakukan hal-hal bodoh! "

Hinata tersenyum, "Naruto, terimakasih. " gadis itu menepuk pundak Si Pirang.

"Kenapa kau tidak menyerah saja dari awal? Kau tidak harus melihat kemalangan ini."

Hinata diam. Wajahnya terlihat tegas. Shikamaru yang baru saja keluar dari hutan terperangah. Jadi, yang menyerang Hinata tempo hari adalah mereka? Astaga... Sebenarnya apa yang diinginkan mereka?

"Hinata... " bisiknya. Kiba yang baru saja menyusul ikut terkejut. Pun nakama yang lain.

Apa yang dilakukan gadis itu? Kenapa Hinata harus menyerah begitu saja?

Shikamaru memikirkan strategi agar bisa menyerang dua makhluk aneh itu.

Hinata mengangkat kedua lengan ke dada. Orang-orang mengira dia akan mengeluarkan jutsu andalan. Namun tebakan mereka salah.

Naruto menatap Hinata lama. Masih dalam lindungan chakra kyuubi, Hinata mengeluarkan chakra. Tubuhnya terselimuti chakra biru, byakugannya aktif.

Gadis itu terbatuk, Kiba menjerit, "Hinata... Tidak! Hinata jangan lakukan! "

Gadis itu masih fokus, lambat laun chakranya berubah warna indigo. Disertai angin, tiba-tiba ada api menyambar Momoshiki. Lelaki itu terkejut, serangan itu hampir mengenainya, namun malang, Kinshiki terkena api itu. Dia terbakar dan berteriak.

Momoshiki mendecih, "Kau memang selalu menarik, Hyuuga Hinata. "

Angin begitu kuat, chakranya menjadi hijau indah. Seperti dedaunan yang lebat dan menenangkan, lantas transparan bersama si empu. Naruto tidak berkedip.

"Hinata... "bisiknya lirih, kemudian ia tersadar dan menjerit, "HINATA! "

Momoshiki bertindak waspada. Apa yang ia tunggu ternyata datang juga. Apalagi kalau bukan jutsu unik gadis itu.

Dia sudah pernah melawan sebelumnya, paling tidak ia tahu seperti apa pola gadis itu.

Tudung transparan Momoshiki berkibar, kemudian tiba-tiba, terlepas. Rambutnya terpotong beberapa helai. Lengannya tersayat, bajunya compang-camping. Momoshiki kalah gesit.

Tangannya bergerak-gerak menembakan bola chakra berharap mengenai Hyuuga Hinata. Nihil. Sampai Kinshiki menjerit ketika kedua matanya tertancap kunai.

"Beraninya kau! "geramnya murka.

Semua orang takjub. Pukulan telak dari tengguk Momoshiki dapat. Tepat di titik buta byakugan. Lelaki itu jatuh bebas dan menghantam tanah retak.

Lelaki itu berdiri sambil mengelap darah disudut bibir. Byakugannya aktif namun tidak sanggup melihat keberadaan Hinata. Dia seperti menghilang. Momoshiki hampir putus asa, kemudian melihat Naruto yang melihat ke arah atas, mencari-cari.

"Kau bisa menyerang tapi kau tidak bisa melindungi. " ujarnya. Tangannya terjulur, sebuah bola chakra hitam meluncur bebas ke arah Naruto.

Naruto menamengi diri dengan chakra. Namun bola cakra itu seolah menyerap tameng Naruto dan mengenainya. Ledakan terdengar lagi, Naruto terpental jauh menjebol dinding.

"Naruto! "

Momoshiki tersenyum mendengar jeritan itu. Kemudian dia mengarahkan bola hitam yang sama ke atas. Entah kenapa ia merasa suara itu dari sana.

Dan benar saja beberapa saat setelah bola hitam terlepas, ada ledakan di atas dan Hinata melayang. Berlumur darah. Dia jatuh bebas.

Tergeletak tak berdaya. Shikamaru dan yang lainnya berusaha menyelamatkan Hinata dari cengkraman musuh, naasnya mereka malah terpental. Dan semua jutsu yang mereka gunakan untuk menyerang malah membalik menyerang diri mereka sendiri.

Kekacauan itu berakhir dengan dibawanya Hinata. Momoshiki membawa pula Kinshiki. Mereka melayang, bagaikan menggunakan teleportasi, jejak mereka musnah.

Naruto yang terluka parah merintih, "Hinata... Hinata.. "ujarnya pelan.

Nakama yang lain yang terpental bangkit dan mendekati Sang Hokage. Mereka membantu Hokage tersebut. Mata Naruto terpejam.

Sakura bertindak cepat, dia mengalirkan chakra penyembuh ke Naruto. Aliran hijau itu membuatnya berkeringat. Sakura panas dingin saat Naruto tak kunjung membuka mata.

Shikamaru menggigit bibirnya. Ada banyak pertanyaan.

Kiba dan Shino bergerak, melakukan pengejaran terhadap Hinata. Kiba memimpin di depan, beberapa kali pria itu mengumpat.

Shino di belakang nampak tenang, Namun hatinya cemas. Bagaimana tidak cemas? Teman setimnya dibawa pergi setelah musuh menggegerkan desa, melukai Hokage dan menewaskan beberapa warga sipil.

Shino tidak mendapati jejak chakra. Chakra Hinata hilang tepat di hutan timur.

"Kiba! " seru Shino memperingatkan.

"Aku tahu Shino," ucapan Kiba menggantung, Shino yang menunggu kalimat itu harus menghela napas karena Kiba tak kunjung menjawabnya. Akamaru menggonggong ke arah balik semak-semak. Mata hewan itu nyalang mengarah ke tengah hutan.

"Apa kita harus melaporkan ini kepada Hokage?"

"Ya. " bisik Shino lemah.

Mereka kembali ke desa. Raut penuh kesedihan menghiasi wajah Kiba. Semua mata mengarah pada mereka, Kiba menggeleng kalau dia tidak berhasil menelusuri jejak Hinata bersama Momoshiki. Para nakama membelalakan mata dan menutup mulut. Terutama Tenten.

Gadis itu hendak mencecar Kiba dengan berbagai pertanyaan, Shikamaru maju menahan lengan Tenten.

"Tidak sekarang... Keadaan sedang kacau. " ujar Shikamaru. Tenang.

Namun Tenten dapat mendengar getaran disetiap katanya, mata Shikamaru tampak sendu.

Tenten menatap sedih ke arah Naruto. Fokusnya mengarah ke tanah. Genangan darah.

-YnK-

Keributan sudah jelas terjadi di Desa Konoha. Dengan terlukanya Hokage, tewasnya beberapa warga sipil, anbu dan shinobi yang terluka parah, hilangnya calon Heiress Hyuuga, menggemparkan lima aliansi negara ninja.

Ada rapat mendadak para kage, Naruto digantikan oleh Shikamaru. Mereka berlima membahas bagaimana cara membawa Hinata kembali dan menghukum Momoshiki.

Setelah keputusan di dapat, mereka mengeluarkan shinobi terbaik untuk melacak keberadaan Hyuuga Hinata. Berbagai misi dilakukan.

Ini bukan pertama kali terjadi di Desa Konoha. Bukan pertama kali juga Heiress Hyuuga dibawa orang lain. Motifnya belum diketahui. Tetapi mereka cemas jika niat mereka seperti Negara Kumogakure dulu, menculik heiress demi kekkei genkai. Demi menambah kekuatan agar bisa menggempur Konoha sampai tak tersisa.

Shikamaru sampai tak fokus pada dokumen di tangan, pikirannya masih mengambang jauh ke sana.

"Shikamaru-sama, apa sebaiknya kita menghubungi Sasuke? Maksudku dia mengabdikan diri ke Konoha, dia juga berjanji jikalau Naruto terluka dia akan bertanggung jawab buat desa? "

"Jikapun berjanji kalau dia punya kesibukan percuma. "

"Memang dia sesibuk apa? " cibir lelaki itu. Ah, Sasuke sepertinya masih banyak orang yang membencimu. Mungkinkah ini yang membuatmu memilih mengembara ketimbang menikmati hidup di Konoha?

Shikamaru menatap tajam, "Kau tidak lupa kalau Sasuke juga dalam misi rahasia, bukan? Dari pada kau sibuk menuruti emosi lebih baik kau lakukan sesuatu yang benar. "

Lelaki itu terbungkam.

Shikamaru menghela napas. Benar-benar runyam.

-YnK-

Jauh dari hiruk pikuk Desa Konoha, di dalam hutan belantara, Hinata terbatuk pelan. Ia bergerak sedikit karena posisinya benar-benar menyakitkan.

Hinata tidak sanggup membuka mata, ia tidak sanggup mengucap kata. Telinganya masih bisa mendengar walau samar-samar.

Hinata mencoba menggerakan tangan. Sialnya tangannya terikat. Tidak perlu membuka mata, tubuhnya bisa merasakan tali chakra yang kuat membelenggunya.

Bibirnya bergerak pelan, desah napasnya tidak beraturan. Keringat mengucur deras, menandakan betapa letihnya sang gadis.

Hinata tidak sanggup melihat. Semuanya gelap. Hinata berpikir kira-kira dia ada di mana? Ke mana perginya Pemuda Otsutsuki itu? Apa yang akan Dia lakukan?

Sebuah gerakan kecil membuat Momoshiki menyeringai. Tangan putih pucatnya terulur, jemarinya membelai wajah Hinata yang basah. Dari dahi yang tidak terlalu lapang, alis yang melengkung indah, lentiknya bulu mata, hidung mungil khas perempuan Hyuuga, bibir mungil tipis yang berpotensi minta dicium, dagu yang indah, Momoshiki merangkumnya.

Semua keindahan ini, membuat Momoshiki semakin melebarkan seringaiannya.

Kedua jari Momoshiki bergerak naik menuju kelopak mata. Sebuah gerakan cepat tercipta saat Momoshiki menekan masuk secara paksa, sebuah jeritan menggema memenuhi belantara hutan.

Ada yang terenggut di sana. Betapa sakitnya hingga mendadak hutan sunyi senyap seolah turut berduka.

-YnK-

Maaf lama, jangan bosen nunggu chapter selanjutnya.

Salam sayang, Yoshiro no Yukki