Forgive Me
Chapter 4
Main Cast : Cho Kyuhyun, Kim Jeong Im (OC), Jay TRAX
Other Cast : Super Junior Member, TVXQ member
Warning : This is only FANFIC, OOC, Typo(s), DLDR
Disclaimer : bby Cuma punya plot dan ceritanya, tapi pengennya sih bilang Kyuhyun is mine #buagh
PS : disini SJ lengkap 13 member
Rate : still T
Happy Reading~~~~
Suasana ballroom salah satu hotel mewah di Seoul cukup ramai pagi itu, banyak yeoja – yeoja yang bukan hanya berasal dari Seoul atau Korea Selatan saja, namun tampak beberapa dari negara yang ada di benua Eropa, Amerika, bahkan kawasan lain dari Asia. Mereka berkumpul di satu tempat, menunggu idola mereka masuk ke dalam ruangan untuk memulai acara fanmeeting.
Lebih dari setengah jam para fans yang dikenal dengan sebutan ELF itu menunggu dan saling bercengkrama di dalam hall. Ballroom yang tertata dengan apik dan terpisah dari bagian lain hotel yang dimiliki oleh konglomerat Korea Selatan, hotel yang dimiliki oleh KimCorp.
Teriakan terdengar dari mereka yang duduk berdekatan dengan pintu masuk. Disusul oleh teriakan – teriakan lain yang menggema indah di dalam ruangan. Sebelas namja tampan yang dikenal dengan Super Junior berjalan memasuki ruangan disertai senyum cerah menyapa para fans. Namun tak beberapa lama, teriakan itu mendadak hening ketika salah seorang member, Choi Siwon terlihat tengah memapah magnae tersayang Super Junior, Cho Kyuhyun. Bisik – bisik pertanyaan berupa 'oppa kenapa' atau 'apa yang terjadi pada Kyuhyun oppa' mulai memenuhi ruangan. Leeteuk dengan sigap mengangkat tangannya dan tersenyum, seolah memberi isyarat agar mereka tenang.. Para member Super Junior kembali melanjutkan langkah kaki mereka menuju meja panjang dan duduk sesuai nama yang terpasang di atas meja. Para manager dan bodyguard dengan sigap berdiri di belakang masing – masing member.
Siwon melepaskan kalungan lengan milik Kyuhyun ketika mereka telah sampai di tempat duduk, keduanya duduk bersebelahan diikuti Sungmin di sisi kiri Kyuhyun. Para ELF yang berada di baris paling depan dapat melihat beberapa memar dan goresan luka di wajah dan tangan Kyuhyun. Namun mereka tetap diam dan hanya memandang khawatir ke arah idola mereka yang masih terus menampilkan senyumannya.
"ehem, bisa kita mulai acaranya sekarang?" tanya Leeteuk membuka acara, perhatian ELF kembali terpusat pada Leeteuk,
"neeee" jawab mereka serempak,
Leeteuk tersenyum dan memandang para member yang ada di kiri kanannya dan mengangguk, ia mengajak semua member berdiri kecuali Kyuhyun yang masih duduk lemas di kursinya, "annyeonghaseyo Super Junior imnida - urineun supo juni-oeo" ucap Leeteuk lantang dan diikuti oleh tiap member. ELF pun membalas dengan seruan mereka yang tak kalah kencangnya.
"kalian pasti bertanya – tanya apa yang terjadi pada Kyuhyun-ssi bukan?" teriakan keras membalas pertanyaan Leeteuk, "sebenarnya, Kyuhyun-ssi tidak ingin menunjukkan kelemahannya di hadapan kalian, namun, karena kakinya masih dalam masa pemulihan, dan dokter bilang ia tidak boleh terlalu banyak berjalan ataupun berlatih, jadilah, kami dengan sedikit paksaan memintanya utnuk di papah" terang Leeteuk, ia sedikit melirik ke arah Kyuhyun yang mempoutkan bibirnya. "Kyuhyun-ssi…" Leeteuk memberi jeda sesaat, memastikan apakah yang akan dikatakannya nanti benar atau tidak, ia menoleh meminta persetujuan para member dan manajer, dan setelah mendapat jawaban Leeteuk kembali melanjutkan kata – katanya, "karena terlalu bersemangat, Kyuhyun-ssi terkilir saat latihan, lalu, ia terpeleset dan mungkin kalian yang berada di baris depan bisa melihat bekas memar di sekitar bibir dan keningnya" Kamera yang ada di sana langsung menyorot wajah Kyuhyun sehingga mereka yang berada di belakang bisa ikut melihat. Terdengar gemuruh khawatir dan nada kesedihan dari ratusan yeoja yang duduk di sana. Leeteuk tersenyum kecil. Betapa magnae nya ini sangat dicintai oleh banyak orang.
"tapi kalian tidak perlu khawatir" Heechul melanjutkan, "Kim Kyuhyun-ssi adalah adik Kim Heechul yang memiliki kekuatan tak terbatas, jadi hanya luka kecil seperti itu tidak akan berdampak padanya, benar kan Kim Kyuhyun-ssi?" gelak tawa terdengar di ballroom hotel karena kata – kata Heechul. Namun Kyuhyun hanya menanggapinya dengan senyum miris, marga Kim. Marga yang memiliki ikatan kuat pada dirinya.
"jadi kalian tidak perlu khawatir, uri Kyuhyunnie pasti sembuh dengan cepat" Yesung menambahkan, ia tidak menggunakan panggilan formal seperti yang dilakukan Leeteuk atau Heechul, sejak semalam namja itu terlihat paling khawatir diantara member lain. Meski ia yakin Leeteuk juga khawatir. Namun Yesung merupakan salah satu diantara empat member yang melihat bagaimana mobil itu menyerempet tubuh ringkih Kyuhyun.
Yesung mulai larut dalam pikirannya, teringat betapa mengejutkannya kejadian tadi malam, teringat bagaimana Leeteuk menantang bahaya, melompat menyelamatkan Kyuhyun meski benturan kecil tidak dapat dihindari, namun setidaknya hal tersebut berdampak cukup besar bagi mereka. Yesung ingat, bagaimana paniknya Leeteuk ketika Kyuhyun tak sadarkan diri akibat kejadian itu. Bagaimana darah mengalir dari kening magnae mereka meski tak seberapa. Yesung perlahan tersadar dan melirik ke arah Leeteuk yang duduk di samping kirinya, seharusnya hari ini Leeteuk hanya mengenakan kaos lengan pendek, namun karena masih ada luka goresan akibat kejadian semalam, Leeteuk terpaksa menutupinya dengan jaket.
"Yesung hyung gwaenchana" Ryeowook menyenggol lengan Yesung yang terlihat sedikit melamun,
Yesung menoleh ke arah Ryeowook yang duduk di sampingnya, ia hanya tersenyum kecil dan kembali fokus pada acara, meninggalkan Ryeowook yang masih memandang hyungnya itu lekat. Namun namja yang suka memasak itu akhirnya hanya mengangkat bahu dan kembali fokus pada acara.
"kalian tidak perlu khawatir, aku baik – baik saja, dokter hanya mengatakan, jika aku tidak boleh terlalu banyak bergerak selama satu minggu" Kyuhyun mulai memberikan beberapa patah kata, meski ia mengucapkannya dengan perlahan karena sudut bibirnya masih terasa perih jika digunakan untuk bicara, sejak tadi bahkan Kyuhyun berusaha mati – matian menahan sakit karena harus terus – terusan tersenyum. "hyungdeul sangat menjagaku, mungkin, saat di panggung aku hanya duduk sementara mereka menari, tapi aku tetap tidak akan meninggalkan lagi jadwal Super Junior" ucapnya mengakhiri sambutannya.
Tanpa semua orang sadari, sebuah mobil hitam mulai memasuki kawasan parkiran ballroom yang dijaga cukup ketat. Namun, 'tamu' yang datang kali ini membuat para penjaga tersebut tidak berkutik, dan mereka justru mengangguk hormat. Seorang namja tampan dengan setelan jas hitam dan sepatu mengkilat berwarna hitam turun dari dalam mobil sport yang ia kenakan sambil membawa sebuah tas ransel yang cukup berat. Tak ada satupun dari para penjaga itu yang bertanya apa isi tas tersebut atau mereka akan dipecat saat itu juga. Namja tinggi tersebut, mulai berjalan santai menuju bangunan lain yang terletak di pinggir ballroom, sebuah bangunan menuju dalam ballroom. Namja itu memperhatikan keadaan sekitar, dan ketika dirasa cukup sepi, ia mulai mengeluarkan seseuatu dari dalam tas yang ia bawa sejak tadi. Sebuah senapan berjenis AIG Alpine TPG-1 dengan berat sekitar 6,75kg. Namja itu lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi peluru yang terlihat berbeda dari peluru kebanyakan, karena adanya ukiran khas di bodynya. Namja tampan itu lalu mulai memasukkan peluru tersebut dan memastikan senapan yang ia bawa siap digunakan. Tak perlu memasang peredam suara, karena suara tembakan itu akan menjadi misi yang harus ia laksanakan dengan baik kali ini. Namja itu lalu mulai membidik, sasarannya adalah satu tempat. Sebuah seringai licik tercetak di bibirnya.
Acara di dalam ballroom masih terus berlanjut dengan menyenangkan, tanpa ada yang tahu bahwa sebentar lagi akan ada bahaya yang mengintai. Mungkin hanya satu orang yang menyadari, Kyuhyun. Namja itu terlihat gelisah di kursinya dan memperhatikan sekitar. Matanya entah mengapa terfokus pada pintu yang berada di bagian belakang. Pintu itu terlihat sedikit terbuka. Kyuhyun mencoba mengingat – ingat struktur bangunan hotel tersebut. Ia merasa aneh, seharusnya pintu itu tertutup.
Dor! Disertai dengan suara tembakan yang mengejutkan, mendadak sebuah benda dengan kecepatan cukup tinggi melewati sela bahunya dan menancap pas di dinding yang berisi foto Super Junior di belakangnya, meninggalkan kepulan asap dan bunyi gemerincing pelan bersamaan dengan tertutupnya pintu yang berada di paling belakang ballroom.
Suasana ramai mendadak terasa sepi. Member Super Junior tidak ada satupun yang berani menoleh ke belakang, begitupun para manajer dan bodyguard yang ada di sana. Semuanya masih merasa shock atas kejadian barusan. Hanya bau yang samar – samara tercium seperti mesiu yang bisa tercium di antara member Super Junior. Kyuhyun menelan ludahnya, hampir saja ia mati jika sedikit saja ia bergerak tadi. Peluru itu melesat begitu cepat melewati tubuhnya begitupun melewati tubuh bodyguard yang berada di belakangnya. Jantung namja itu berdetak dengan sangat kencang. Perlahan, ia menoleh ke belakang. Sebuah lubang cukup besar berbekas di dinding, dan mata Kyuhyun perlahan menurun menuju lantai, sebuah peluru berwarna perak dengan sebuah ukiran yang sangat ia kenal menggelinding tepat di kakinya. Dengan tangan gemetar Kyuhyun mengambil peluru tersebut dan menggenggamnya erat. Mendadak ia tidak bisa merasakan oksigen di sekitarnya, dadanya terasa panas dan sangat sakit, seperti terhimpit batu besar. Nafasnya naik turun dengan cepat,
"apaaa itu tadi…" ucap Eunhyuk, wajahnya terlihat sangat pucat, pasalnya ia dengan jelas mendengar suara tembakan meski suasana sedang ramai saat itu.
"ya! Apa yang kalian lakukan, cepat cari tahu apa yang terjadi" Junghoon, salah satu manager Super Junior memerintahkan para penjaga untuk segera bergerak mencari tahu apa yang terjadi.
Aura ketakutan dan ketegangan masih terasa di dalam ballroom. ELF yang sejak tadi berteriak senang kini mulai merasa panik dan takut. Mereka berlarian ke sana kemari mencoba menyelamatkan diri. Suasana menjadi tidak karuan. Dengan sigap, pihak penyelenggara acara melakukan evakuasi, takut – takut jika terjadi tembakan susulan. Begitupun dengan para bodyguard yang dengan sigap melindungi para member Super Junior. Namun teriakan Sungmin menghentikan kepanikan yang ada di dalam ballroom,
"Kyuhyunnie, ireona!" Sungmin menahan tubuh Kyuhyun yang mendadak lunglai ke arahnya, ke dua mata sang magnae tertutup rapat dan dengan dada yang naik turn dengan cepat, "hyung! Dongsaeng!"
Leeteuk segera berlari dan membantu Sungmin mengembalikan tubuh lemah Kyuhyun bersandar ke kursi, "Siwon-ah tolong gendong Kyuhyunnie, kita harus membawanya ke rumah sakit" ucap Leeteuk
"hyung apa tidak terlalu jauh ke rumah sakit" tanya Kangin,
"lalu bagaimana Kangin-ah? Kita tidak ada dokter di sini!" tanpa sadar Leeteuk berteriak, mengagetkan member lain, "mianhae" Leeteuk membasahi bibirnya, sadar bahwa seharusnya saat ini ia harus lebih tenang dari dongsaengdeulnya.
"Leeteuk-ssi kami memliki dokter dan rumah sakit kecil di hotel ini" salah seorang pegawai hotel memberi tahu Leeteuk yang terlihat mencoba menenangkan diri.
"jinjja? Kalau begitu tolong tunjukkan jalannya, Siwon-ah kajja gendong Kyuhyun" ucap Heechul,
Siwon dengan segera menggendong tubuh tak sadarkan diri Kyuhyun, tanpa ada satu orangpun yang menyadari tangan sang magnae yang tengah menggenggam erat sesuatu meskipun ia dalam keadaan pingsan.
.
.
Ponsel canggih keluaran terbaru dari perusahaan LG itu bergetar di atas meja. Jay yang tengah membaca laporan pasien menghentikan kegiatannya dan meletakkan berkas - berkas yang dipegangnya. Ia meraih ponsel yang tergeletak di atas meja dan melihat nama pemanggil, "ada kabar apa Changmin-ah?" Jay melepas kacamata bacanya, keningnya berkerut, "aku sedang memeriksa berkas pasien, waeyo? Tv? Aniyo aku sedang tidak melihat tv, ah arrasseo, ne gomawo Changmin-ah" Jay mengakhiri percakapan dengan asisten pribadinya, Changmin dan segera meraih remote tv, mata Jay terbuka lebar ketika melihat breaking news.
"ige mwoya?" Jay menatap horror berita yang sedang tayang di hadapannya sekarang. "Kyung"
Drrt drrt drrt, ponsel milik Jay kembali bergetar, kali ini dari sebuah nomor yang tidak ia kenal. "Selamat pagi tuan muda Kim Young Deok" ucap suara diseberang sana,
"nuguseyo?" Tanya Jay,
"anda tidak mengenali suara saya tuan muda? Padahal baru beberapa bulan kita tidak bertemu tapi anda sudah lupa suara saya"
"neo, Jung... Yunho?" Suara Jay tercekat, "kau, katakan padaku apa semua ini perbuatan mu?"
Terdengar tawa renyah dari seberang, "anda benar - benar pintar tuan muda. Saya memang diberi tugas oleh nyonya untuk membuat kejutan"
Jay menggenggam erat ponselnya, 'eomma sampai mengutus Yunho, ini artinya...'
"Tuan muda, nyonya sudah tidak bisa bersabar lagi, beliau menunggu jawaban anda secepatnya, jika tidak, jangan salahkan saya jika peluru itu nantinya menembus kepala tuan muda Kim... Kyuhyun"
Tut tut tut... Yunho mengakhiri percakapannya dengan Jay. Meninggalkan kepanikan luar biasa dari dokter muda tersebut. "Kim Kyuhyun... Dia memanggil Kyuhyun dengan nama Kim... Apa eomma sudah tahu tentang surat wasiat kakek," Jay terduduk, keringat dingin mengucur deras di pelipisnya, ia membuka laci meja kerjanya, mengobrak - abrik isi laci tersebut, "sial dimana aku menyimpan copy surat wasiat kakek" Jay kembali membuka laci yang lain dan tetap tidak menemukannya, "Jeong Im, ne aku memberikan salinan surat itu pada Jeong Im" Jay menekan beberapa deret angka yang tersambung dengan ponsel sepupunya itu. Namun berkali-kali ia mencoba menghubungi Jeong Im, namja itu tetap tidak mengangkat teleponnya, "sial, kemana dia" rutuknya. Akhirnya Jay melepas jas dokternya, mengambil tas dan bergegas meninggalkan rumah sakit. Untungnya ia sedang tidak ada operasi penting hari ini, jadi tidak perlu khawatir bila terjadi sesuatu di rumah sakit, selain itu siapa yang bisa melawan perintahnya, mengingat posisi tertinggi SNUH ada di tangannya sekarang.
Mobil milik Jay melaju dengan kencang menuju kawasan Pyeongchang-dong, menuju salah satu tempat yang paling ia hindari sejak kejadian kurang lebih tiga tahun lalu itu terjadi. Jay memegang kemudi mobilnya dengan erat, ia tidak habis fikir, eommanya tega berbuat sekeji itu demi mendapatkan keinginannya. "ck kenapa kakek membuat surat wasiat semacam itu, kenapa kakek harus membawa nama Kyuhyun ke dalamnya, apa kakek lupa bibi Hanna bahkan dengan tegas mengatakan keluar dari keluarga Kim, lalu kenapa kakek masih memasukkan nama Kyuhyun ke dalam ahli waris, bagaimana bisa aku melindungi Kyuhyun jika seperti ini caranya, argh" Jay memukul keras kemudi mobil, membuat memar kebiruan di pinggir tangannya, "abeoji, apa yang harus aku lakukan?" Jay menggigit bibir bawahnya kuat – kuat, menahan emosi yang membuncah di dadanya.
.
Busan di pagi hari sudah terlihat sangat ramai, apalagi di area pasar dekat pelabuhan, ratusan orang telah melakukan transaksi jual beli. Namun di salah satu rumah yang terlihat sederhana seorang namja muda masih terlelap dalam alam mimpinya. Sepertinya namja itu bermimpi buruk, terlihat dari keringat dinginnya yang mengucur deras dan gumaman resah keluar dari bibirnya.
Namja itu menggeliat kesana kemari dan tangannya bergerak - gerak gelisah, berkali-kali ia menggumamkan nama Kyuhyun. Kedua tangannya mendadak terangkat menutupi wajahnya, namja itu tiba - tiba terduduk dan berteriak, "andwaeee" dan mata yang sejak tadi tertutup kini terbuka, nafasnya terengah - engah, ia menatap sekeliling dan mencoba mencari tahu dimana ia berada. Matanya terlihat merah akibat terbangun secara tiba - tiba, "mimpi? Syukurlah itu hanya mimpi, tapi mimpi itu kenapa terasa sangat nyata" Jeong Im, namja itu mengambil segelas air putih dan meminumnya. Mencoba menenangkan diri. Ia melirik jam dinding, matanya terbuka lebar, "astaga sudah jam segini? Aku kesiangan, eomma pasti kerepotan di pasar" Jeong Im tergesa - gesa mengembalikan gelas yang ia pegang dan tanpa sadar menjatuhkan ponselnya yang tergeletak di meja. Tangannya tak sengaja menyentuh ponsel tersebut dan betapa terkejutnya ia melihat puluhan panggilan dan beberapa pesan tertera di sana.
"dari Jay hyung?" Jeong Im coba balik menghubungi Jay namun nomor yang ia tuju sedang berada di luar service area. Jeong Im mencoba lagi namun tetap sama. Akhirnya ia membuka pesan yang dikirim oleh Jay dan kesadarannya terkumpul sempurna, "mwooo?" Jeong Im bergegas membuka sambungan internetnya dan membaca berita terbaru di sana. "jinjja, apa berita ini benar? Ya Tuhan" Jeong Im berlari menuju meja belajarnya dan mengambil sebuah kertas dalam sebuah map plastik, ia memasukkan map tersebut ke dalam tas dan kemudian berlari ke kamar mandi sekedar untuk gosok gigi dan cuci muka. Tanpa memakan sarapannya Jeong Im bergegas ke stasiun untuk menuju bandara. Ia telah menghubungi sang eomma dan meminta maaf tidak bisa menemaninya berjualan beberapa hari ini karena ia harus mengurus suatu hal di Seoul.
.
.
"dokter, Kyuhyun baik - baik saja kan?" Tanya Hankyung khawatir dengan bahasa korea yang sedikit tidak lancar.
Dokter yang memeriksa Kyuhyun melepas stetoskopnya dan memperhatikan satu persatu member Super Junior yang berkumpul di rumah sakit mini itu. "Kyuhyun-ssi baik - baik saja, ia mengalami shock ringan, akibatnya tubuhnya melemah dan tak sadarkan diri"
"lalu paru parunya tidak ada masalah kan dokter?" Kali ini Shindong yang bertanya,
"tidak apa, semuanya normal, hanya saja ketika ia sadar nanti usahakan tidak mengungkit sesuatu yang membuatnya shock, setidaknya hingga fisiknya cukup kuat. Saya sudah suntikkan vitamin untuk meningkatkan imun tubuhnya. Maaf, tapi, apa Kyuhyun-ssi sedang sakit sekarang?"
Semua member saling pandang satu sama lain, "ada apa dokter? Apa ada sesuatu?" Tanya Leeteuk was - was,
Dokter itu tersenyum, ia tahu pasti sebelum ini pasien yang sedang ia tangani sekarang sedang tidak dalam kondisi yang fit, "tidak ada apa - apa, hanya saja kondisi fisiknya sedang tidak baik, ditambah shock ringan yang ia alami, saya takut ia harus bed rest selama beberapa hari ke depan"
Lagi - lagi para member saling berpandangan satu sama lain, "tidak bisakah ia tetap beraktifitas seperti biasa dokter? Saya yakin begitu sadar ia pasti memaksa melanjutkan jadwal" ucap Kangin, di iyakan oleh member lain.
Dokter tersebut terlihat berfikir, "sebenarnya bisa saja asal fisiknya cukup kuat, tapi dari yang saya periksa, setidaknya Kyuhyun-ssi perlu istirahat mungkin satu atau dua hari. Tekanan darahnya cukup rendah saat ini. Saya yakin jika ia memaksa untuk beraktivitas tubuhnya tidak akan kuat dan ia bisa jatuh pingsan lagi" terangnya.
"hyung" Ryeowook memandang Leeteuk,
"teuki hyung biarkan saja Kyuhyunnie istirahat, biar aku yang menemaninya, jadwalku tidak terlalu banyak dua hari ini" Sungmin menyampaikan pendapatnya,
"ne hyung, aku bisa bergantian dengan Sungminnie menjaga Kyuhyun" lanjut Yesung,
Leeteuk memandang dongsaengdeul dan manajer Super Junior, "bagaimana menurut kalian?" Tanyanya
"jika itu demi kebaikan magnae aku setuju saja" ucap Heechul,
"ne Leeteuk-ssi biar aku yang bicara pada perusahaan untuk mengatur ulang jadwal Kyuhyun-ssi" ucap prince manajer SJ.
"Teuki hyung tenang saja, aku bisa menangani Kyuhyun jika ia merajuk nanti" Sungmin berkata meyakinkan Leeteuk.
"arrasseo, kita suruh Kyuhyunnie istirahat, lagipula sejak tadi malam ia tidak istirahat dengan benar. Dokter, bisakah anda membuat surat untuk hal ini?" Tanya Leeteuk yang dibalas anggukan setuju oleh sang dokter.
.
Sungmin sedang merapikan selimut yang dikenakan Kyuhyun, ia menyibakkan sedikit selimut itu untuk memasukkan tangan Kyuhyun ke dalam agar lebih hangat. Namun betapa terkejutnya ia ketika melihat jari jari magnaenya tertekuk seperti menyimpan sesuatu. Bergegas Sungmin membuka jari jari itu, ia menutup mulutnya begitu menemukan sesuatu berupa peluru kecil berwarna perak. Sungmin mengambil peluru itu dan mengamatinya, "apa ini? Kenapa Kyuhyunnie memiliki benda seperti ini? Darimana ia mendapatkannya, apa ini peluru yang tadi" Sungmin memutar peluru tersebut dan kembali terkejut, "lambang ini.. Bukankah ini ukiran milik kerajaan bisnis KimCorp" Sungmin memandang ngeri ke arah Kyuhyun, "Kenapa benda ini ada padamu Kyu..."
Sungmin mencoba mengingat - ingat lagi apa yang telah terjadi pada magnaenya beberapa hari lalu. Mulai dari penyerangan di dorm, peristiwa pertengkaran Kyuhyun dengan seseorang yang merupakan dokter Kyhyun selama magnaenya itu dirawat di rumah sakit, ketika Kyuhyun menemukan sesuatu yang ia duga sebagai sebuah pisau di kamar, lalu tabrakan itu dan sekarang, kasus penembakan yang baru saja terjadi, "apa yang kau sembunyikan Kyu? Apa hubungan mu dengan KimCorp? Apakah kau...Pisau yang dipegang Kyuhyunnie waktu itu, aku sempat melihat sekilas ada ukiran ini di sana, lalu ketika menyaksikan rekaman cctv tadi malam, mobil yang menabrak Kyuhyun juga memiliki lambang ini di pintu sebelah kirinya, "Kyuhyunnie..."
"Minnie hyung, berjanjilah tidak mengatakan hal ini pada hyungdeul yang lain, aku tidak ingin mereka mengetahui keluargaku yang lain, selain eomma, appa dan ahra nuna" jangan - jangan yang Kyuhyunnie maksud saat itu..."
Sungmin melirik kalung yang selalu dipakai oleh dongsaengnya, kalung yang tak pernah sekalipun ia lepas. Dengan tangan gemetar Sungmin menarik kalung tersebut, mencoba melihatnya. Dari luar kalung itu hanyalah kalung biasa dengan bandul berbentuk buku yang terbuka, namun ketika kau membukanya….
Mata Sungmin melebar ketika melihat ukiran tersebut sama persis dengan peluru yang ia pegang sekarang. Sungmin terhuyung ke belakang dan jatuh terduduk di kursi, ia bisa melihat sebuah foto di dalam bandul itu, namun Sungmin tidak tahu siapa mereka. Yang bisa ia kenali hanyalah foto Kyuhyun yang kala itu masih kecil. Bergegas Sungmin mengembalikan kalung itu ke tempatnya, serta memasukkan peluru yang ia temukan ke dalam saku celana Kyuhyun dan coba menenangkan diri ketika terdengar suara lenguhan,
"Kyuhyunnie kau sudah sadar? Bagaimaan keadaanmu?" Sungmin berusaha bersikap seolah ia tidak tahu apa - apa,
"Ming hyung, aku... di mana..." Tanya Kyuhyun lemah,
"kita…. sedang istirahat di hotel Kyu, tadi kau ketiduran, jadi kami menyewa kamar ini untukmu" bohong Sungmin
"hyungdeul yang lain?"
"mereka tentu saja melakukan jadwal, waeyo?"
Kening Kyuhyun berkerut, ia merasa ada yang aneh, kenapa Sungmin harus repot - repot menyewa kamar di hotel? Kenapa tidak membawanya kembali ke dorm saja dan lagi, bukanlah tadi harusnya ia mengikuti acara fanmeeting, lalu kenapa ia bisa berbaring di ranjang hotel dan tidak bisa mengingat apapun sebelum ini. Kyuhyun memegang kepalanya yang terasa berdenyut, "hyung, kau tidak berbohong padaku kan?" Kyuhyun menatap tajam Sungmin, membuat namja bergigi kelinci itu terkesiap,
"bohong? Untuk apa aku berbohong" ia sedikit tergagap menjawab pertanyaan Kyuhyun,
Kyuhyun bangun dari tidurnya dan bersandar ke kepala tempat tidur, "hyung, kau itu bukan orang yang pintar berbohong," komentar Kyuhyun, "katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi"
Sungmin mendudukkan dirinya di sisi kasur, ia memandang Kyuhyun lekat, "baiklah hyung minta maaf karena telah berbohong" ucapnya, Sungmin menyamankan duduknya, "kau pingsan di tengah acara, karena itu kami membawamu kemari setelah mendapat perawatan dari euisanim"
"pingsan?"
"nde, dokter bilang kau kelelahan," Sungmin berdiri dan berjalan ke arah meja dapur. Menuangkan segelas air putih dan menyerahkannya pada Kyuhyun, "minumlah," Kyuhyun menerima gelas itu dengan enggan dan meminumnya.
"Kyuhyunnie" panggil Sungmin pelan,
"ne"
Sungmin menggigit bibir bawahnya, ia sedang berunding dengan dirinya sendiri, apakah perlu ia bertanya kepada Kyuhyun sekarang atau nanti. Rasa ingin tahunya begitu besar saat ini dan Sungmin tidak ingin Kyuhyun mengalami hal yang lebih buruk dari tadi. Tapi kondisi Kyuhyun sedang tidak baik sekarang. bagaimana jika ia memaksa bertanya dan Kyuhyun kembali jatuh sakit, bisa – bisa ia dihajar oleh Leeteuk.
"Minnie hyung, waeyo?" tanya Kyuhyun karena Sungmin tidak kunjung berbicara padanya,
"a, itu, apa kau sudah baikan? Bagaimana jika kita kembali ke dorm sekarang" ucap Sungmin akhirnya, biarlah ia menunggu satu atau dua hari, itu lebih baik jika ia memaksa Kyuhyun bercerita.
"oh, aku kira hyung ingin bilang apa, aku ingin pulang sebenarnya, tapi tubuhku masih lemas, Minnie hyung mau menggendongku?" tanya Kyuhyun dengan wajah polos,
Sungmin melotot, "mwo?! Ya! Kau itu lebih tinggi daripada hyung, tidak, hyung tidak akan menggendongmu, Yongsun hyung saja yang menggendong" Sungmin mengeluarkan ponselnya dan menghubungi salah satu manajer mereka,
"aniyo aku tidak mau, aku mau Junghoon hyung yang menggendongku" rajuk Kyuhyun,
"arrasseo, akan hyung telponkan Junghoon hyung," Kyuhyun menampilkan senyum polosnya membuat Sungmin tidak bisa mengomeli magnaenya itu.
.
.
"sajangnim, saya pastikan tuan muda Young Deok sedang menuju kemari saat ini," Yunho berdiri dengan hormat di depan seorang yeoja yang tengah membaca selembar kertas penting.
Yeoja tersebut berdiri sambil membawa kertas tersebut, ia berjalan ke arah Yunho dan menepuk punggungnya, "tugasku yang lain apa sudah kau kerjakan?" bisiknya di telinga kanan Yunho.
Yunho bergidik ngeri, bisikan itu terdengar menakutkan untuknya, namun Yunho tidak menunjukkan ketakutan itu sedikitpun, sudah bertahun – tahun ia mengabdi pada yeoja di hadapannya saat ini tentu ia sudah hafal seperti apa karakternya, "anda tenang saja sajangnim, saya sudah melakukannya persis seperti yang anda perintahkan" ucap Yunho tegas,
"bagus, kau memang anak buahku yang paling bisa kuandalkan Yunho-ssi" Yeoja tersebut duduk di salah satu sofa mewah yang terlihat sangat empuk dan kembali membaca kertas yang sedari tadi ia pegang. "lima puluh persen asset perusahaan aku berikan pada cucu keduaku Kim Jeong Im, dan sisanya aku bagi kepada putra putriku. Jika Kim Jeong Im tidak mampu menjalankan wasiatku atau mencoreng nama baik keluarga Kim maka lima puluh persen asset tersebut otomatis akan jatuh kepada cucu ketiga ku, Kim Kyuhyun. Dan, hanya dengan kematian Kim Kyuhyun, maka Kim Young Deok berhak menjadi ahli waris selanjutnya" yeoja tersebut menyandarkan tubuhnya di sofa, "tidakkah ayahku itu terlalu menyayangi cucu – cucunya Yunho-ya? Ia bahkan melupakan putra putrinya sendiri" ia memandang prihatin ke arah Yunho, namun yang Yunho tahu pasti tatapan itu hanyalah sebuah kepalsuan.
"ne sajangnim,"
"karena itulah, aku ingin agar putraku secepatnya meraih apa yang seharusnya menjadi haknya, bukankah dimana – mana putra pertama yang seharusnya menjadi ahli waris? Lalu kenapa ayahku membuat surat wasiat seperti ini? Ini tidak masuk akal, aku yakin ini ada kesalahan" Yeoja itu bangkit dari posisi duduknya, memasukkan kertas tersebut ke dalam sebuah map dan menyimpannya dalam berangkas yang berada tak jauh dari meja kerjanya.
"sajangnim, boleh saya bertanya sesuatu pada anda"
"bertanyalah"
"mengapa anda begitu berambisi menjadikan tuan muda Young Deok menjadi ahli waris KimCorp? Apakah anda benar – benar ingin putra anda yang mendapatkan jabatan itu, ataukah, anda yang sebenarnya menginginkan posisi tersebut?"
Brak! Sebuah benda melayang ke arah Yunho namun bisa dengan sigap di tangkap namja itu, sajangnim yang berada di hadapannya menampilkan ekspresi marah yang sangat jarang ia temui, namun Yunho tetap diam di tempatnya, karena ia tahu bahwa wanita itu tidak akan menghilangkan nyawanya sekarang, entah nanti.
"lancang sekali kau berkata seperti itu Jung Yunho, apa kau lupa, siapa yang membuatmu seperti sekarang? jadi, kau tidak perlu tahu atau bertanya apa motifku melakukan ini, yang perlu kau tahu hanyalah, aku memberimu perintah untuk menjadikan putraku sebagai pewaris sah KimCorp, kau mengerti?" ucapnya dengan penuh penekanan di setiap kata,
Yunho mengangguk sopan, "saya mengerti sajangnim,"
"baiklah kalau begitu, aku rasa keponakanku Kyuhyun perlu kau bawa kemari secepatnya, ah tidak, bawa dia ke villa yang ada di pinggiran sungai Han, dan pastikan, tidak ada yang tahu masalah ini selain putraku dan sepupunya, lalu, para artis tak berguna yang mengaku sebagai hyungdeul keponakan kesayanganku itu. Kajja lusa kau harus melakukannya Jung Yunho, aku tidak mau menerima laporan kegagalan. Kau mengerti?"
"ne sajangnim, saya mengerti" Yunho berjalan meninggalkan yeoja tersebut dan terdiam di balik pintu, ia menggenggam erat sebuah benda di dalam saku jasnya, sebuah benda peninggalan almarhum sang ayah, benda yang menjadi kunci penting keberadaan adik laki – lakinya.
Yunho sengaja masuk ke keluarga Kim untuk mencari adiknya yang hilang. Hanya dengan berada di lingkungan keluarga yang memiliki koneksi luas inilah ia bisa mendapatkan sedikit informasi mengenai keberadaan adiknya. Namun, resiko yang harus ia hadapi dengan berada di keluarga ini adalah dengan menjadi seorang pembunuh. Meski bukan dengan tangannya langsung, tapi, ia tetaplah perancang strategi utamanya. "kau dimana Chang" gumam Yunho pelan.
.
.
"Yunho-ssi" panggilan seseorang menyadarkan Yunho dari lamunannya,
"ah, tuan muda, anda sudah datang, selamat siang" Yunho mendundukkan tubuhnya memberi hormat,
Jay mengerutkan keningnya, "sudah datang? Jadi kalian sengaja menungguku kemari begitu?"
Yunho tersenyum, "sajangnim menunggu anda di dalam tuan muda" ia mempersilahkan Jay berjalan mendekati pintu dan membukanya, "saya permisi" Yunho kembali menundukkan tubuhnya hormat sebelum Jay menghilang di balik pintu.
.
"arra lihat siapa yang datang, putraku tersayang sudah tiba rupanya"
"aku kemari bukan untuk berbasa – basi eomma, tapi aku hanya ingin memperingatkanmu, kumohon, jangan sentuh Kyuhyun lebih dari ini"
Yeoja paruh baya itu tertawa, "kau sudah pintar melawan rupanya," ia menghela nafas, "kau tahu Young Deok-ah, selama ini, eomma yang memegang kendali perusahaan keluarga kita. Tapi, perusahaan kita akan melemah jika tidak ada pemimpin tertinggi di sana"
"Jeong Im bisa melakukannya"
"tidak bisa Young Deok-ah, tidak bisa, tidak dia dan tidak juga Kyuhyun, kau, hanya kau yang bisa melakukannya. Karena itulah, selama ini eomma bersusah payah menyingkirkan para pengganggu itu, ini semua demi dirimu sayang"
"demi diriku atau dirimu sendiri eomma" jawab Jay cepat,
Yeoja itu tersenyum sinis, "kau sama saja seperti Yunho, tidak pernah mengakui bahwa ini semua eomma lakukan demi putra kesayangan eomma"
"eomma"
"eomma sudah memberimu waktu Young Deok-ah, sejak anak itu eomma coret dari nama keluarga Kim, seharusnya eomma juga melenyapkan Kyuhyun, tapi, eomma tidak ingin kau terpuruk dan menolak posisi ahli waris, karena itu eomma memberimu waktu hingga saat ini. Dan sekarang, eomma tidak bisa menunggu lagi, lebih tepatnya, perusahaan tidak bisa menunggu pimpinannya lebih lama lagi. Kau paham itu kan?" yeoja itu berjalan mendekat ke arah Jay dan memegang ke dua bahunya, menatap lekat ke dua bola mata berwarna cokelat itu, "Sekarang pilihan ada di tanganmu, kau ingin mempertahankan kebahagiaan Kim Jeong Im dan merelakan Kyuhyun terbunuh, atau, mempertahankan kehidupan Kyuhyun, tapi merelakan kebahagiaan Kim Jeong Im. Eomma tahu, selama ini kau bersusah payah mencoba mengembalikan Jeong Im ke posisi di mana ia seharusnya berada, tapi, selama eomma masih hidup, dan selama kau adalah putraku, eomma tidak akan membiarkan siapapun merebut posisi yang seharusnya kau tempati"
Jay terdiam, dadanya terasa sesak, nafasnya naik turun dengan cepat dan matanya terasa panas, ia tidak menyangka eommanya bisa berbicara seperti itu, perlahan, setetes air menetes turun dari sudut matanya, bibirnya gemetar, Jay ingin membalas kata – kata sang eomma, namun lidahnya terasa kelu. Ia memandang tajam wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya selama ini, "eomma beri kau waktu dua hari, setelah itu, eomma tidak akan perduli lagi pada keputusanmu, karena, eomma sendiri yang akan memutuskan masa depan mereka" Yeoja itu melangkah angkuh meninggalkan Jay yang masih terdiam di tempat.
Jay memegangi dadanya yang bergemuruh, bagaimana bisa ia dipaksa memilih seperti ini. Kedua – duanya adalah dongsaeng yang sangat ia sayangi lebih dari siapapun. Ia telah berjanji pada mendiang ayahnya akan melindungi kebahagiaan mereka berdua. Jay jatuh berlutut, ia merasakan setiap tubuhnya kini bergetar hebat, dalam dua hari, bagaimana bisa ia memutuskan dalam dua hari. "abeoji…. Apa yang harus aku lakukan, kebahagiaan mereka, aku tidak sanggup jika harus merenggut kebahagiaan mereka abeoji" Jay menangis, ia biarkan air matanya mengalir, laki – laki pantang menangis, itu yang selalu diajarkan sang ayah padanya, namun, kali ini Jay tidak bisa menahan rasa sesaknya. Ia sekaan – akan berada di ujung jurang bersama ke dua dongsaengnya, lalu dengan tangannya sendiri bersiap menjatuhkan salah satu dari mereka ke dalam jurang tersebut, "apa aku yang harus mati, agar mereka terselamatkan dari ketamakan eomma" Jay memandang sendu foto keluarga yang ada di ruangan kerja sang eomma. Foto saat ia dan sang ayah yang masih merasakan kelembutan dan kebaikan sang eomma.
Tanpa diketahui oleh siapapun, yeoja paruh baya tersebut berdiri dan menatap kosong putranya yang tengah berlutut di depan foto keluarga mereka. Tanpa siapapun ketahui, hati wanita itupun terluka. Namun, hidup adalah pilihan. Dan inilah pilihan yang telah ia ambil. Ia akan melakukan apapun agar tujuannya tercapai. Demi melihat kebahagiaan putra tunggalnya, demi meraih hak yang seharusnya di terima oleh putra tunggalnya. Ibu mana yang tega melihat anaknya diperlakukan tidak adil? Begitupun dia, ia hanyalah wanita biasa, ia hanyalah seorang ibu yang selalu menginginkan yang terbaik demi putranya. Meski dengan cara yang salah sekalipun, semua itu tetap ia tempuh.
.
.
Kyuhyun menggenggam erat peluru yang ia temukan di hotel tadi. Pikirannya terasa kosong begitupun dengan pandangannya, ia hanya membolak – balik peluru itu diantara jari – jarinya. Saat ini ia sedang berada sendirian di kamar, Sungmin tengah memasak sesuatu entah apa itu di dapur. Kyuhyun menghela nafas pendek, ia memandang peluru berwarna perak tersebut lalu melepas kalung yang ia kenakan, dan membukanya. Tampak dua buah ukiran dengan bentuk yang sama persis tersaji di hadapannya. Ukiran keluarga Kim.
"lambang ini, juga ada di mobil yang hampir menabrakku malam itu, mobil milikmu hyung" Kyuhyun mengelus foto wajah seseorang di dalam bandul kalung tersebut, "mataku memang minus, tapi untuk sekedar melihat nomor plat mobil dan jenis mobilnya aku masih bisa hyung," Kyuhyun menggigit bibir bawahnya kuat – kuat, "apa salahku, apa salahku hingga hyung sangat berniat membunuhku, Jay hyung" Kyuhyun kembali mengelus wajah yang ada di foto itu.
"Kyuhyunnie" Sungmin mengejutkan Kyuhyun yang tengah melamun, akibatnya kalung yang sedari ia pegang terlempar dan terhempas jatuh ke lantai, "mianhae apa hyung mengejutkanmu" tanya Sungmin dari balik pintu, ia menyembulkan sedikit kepalanya.
Kyuhyun memandang hyung manisnya itu sambil mengelus dadanya, "hyung kenapa tidak mengetuk pintu dulu" omelnnya dan tergesa – gesa menyembunyikan sesuatu di balik selimut, hal itu tentu tidak luput dari pengamatan Sungmin namun namja itu tetap diam,
"mianhae, hyung kira kau sedang main game"
"aku tidak mungkin main game saat seperti ini, aku masih sayang psp ku, jika Teuki hyung tahu aku main game bukan istirahat dia pasti membuang psp ku nanti" bibir Kyuhyun mengerucut imut,
Sungmin tertawa, "ne ne, sekarang waktunya makan, kajja, hyung sudah siapkan samgyetang untukmu, hyung tunggu di meja makan ne" Sungmin menutup pintu kamar, meninggalkan kerutan – kerutan di kening Kyuhyun,
"iss ming hyung tidak sopan" gumamnya.
Kyuhyun mengambil sesuatu yang sejak tadi ia sembunyikan di balik selimut, memasukkan benda itu ke sebuah kotak kecil yang menjadi tempatnya menyimpan barang – barang rahasianya selama ini. Kyuhyun lalu mengambil kalung yang sempat terlempar tadi, "pasti kacanya pecah" benar saja, terdapat sedikit retakan di kalung itu, namun pandangan Kyuhyun terhenti ketika melihat retakan yang dirasa aneh itu. Kaca kalung itu memang retak, namun hanya di satu area saja, di wajah seorang anak kecil tertua di foto itu. Kyuhyun memegang dadanya, entah kenapa perasaannya mendadak tidak enak, "Jay hyung…"
.
.
Jeong Im menginjakkan kakinya di Gimpo International Airport. Ia berlari melewati area kedatangan dan menuju stasiun yang berada di dekat bandara, "Jay hyung, kenapa ponselmu masih tidak aktif eoh" Jeong Im kembali merutuki nomor sepupunya yang sama sekali tidak bisa dihubungi, "apa aku harus ke rumah sakit menemuinya, ah sudahlah, lebih baik aku coba cari ke rumah sakit dulu" Jeong Im membeli tiket kereta menuju stasiun terdekat ke SNUH, "semoga Jay hyung belum meninggalkan rumah sakit ketika aku tiba" Jeong Im berdiri di jalur lima, tempat kereta yang akan membawanya ke Dongdaemun Stadium Station tiba. Begitu tiba di dongdaemun Jeong Im segera beralih ke line nomer empat dan segera keluar melalui Hyehwa Station pintu keluar nomer tiga.
"hhh, wanita itu benar – benar selalu saja merepotkan, apa kali ini dia benar – benar serius ingin membunuh Kyuhyun. Bukankah dia bisa saja masuk penjara jika membunuh orang" Jeong Im berdecak kesal sambil berjalan menuju SNUH.
Bangunan megah SNUH mulai terlihat, Jeong Im mempercepat jalannya dan bergegas menuju meja resepsionis, ia bertanya pada salah satu petugas di sana, "maaf, apakah Dokter KimYoung Deok ada di ruangannya?" Jeong Im bertanya sopan,
"mohon ditunggu sebentar, tuan?"
"Jeong Im, Kim Jeong Im"
Resepsionis tersebut mulai menghubungi seseorang yang entah siapa, sebenarnya Jeong Im bisa saja langsung menuju ruangan Jay, namun ia perlu memastikan dulu hyungnya ada di ruangan atau tidak, jika tidak maka sia – sia dia pergi ke lantai enam dan kembali lagi, "Jeoseonghamnida, Kim Jeong Im-ssi, Dokter Kim Young Deok sedang tidak ada di ruangan sekarang, sepertinya beliau sudah pulang beberapa jam lalu"
"mwo? Pulang?" resepsionis tersebut mengangguk, "ah, ne kamsahamnida" Jeong Im bergegas keluar dari loby rumah sakit, "aigoo jinjja, apa dia pulang ke apartmentnya?" Jeong Im merogoh sakunya dan menghubungi apartment Jay. Namun tetap tidak ada jawaban, "kemana ajumma yang biasanya ada di apartment Jay hyung? Kenapa tidak ada yang mengangkat telepon" Jeong Im mengacak – acak rambutnya, "aku harus kemana sekarang, tidak mungkin aku terlantar di Seoul, apa aku perlu ke tempat Kyuhyun? Ah tidak tidak, ck, lebih baik aku menunggu Jay hyung di apartmentnya saja" Jeong Im akhinrya memutuskan, namun baru selangkah ia berjalan, ponsel yang ada di sakunya bergetar. Jeong Im melihat hanya nomor saja yang tertera, dengan ragu ia mengangkat panggilan tersebut.
"yeoboseyo…." Jeong Im mengerutkan keningnya, dari sana hanya terdengar suara air mengalir, "nuguseyo?" Jeong Im kembali berbicara, namun tidak ada suara dari seberang sana,
"Jeong Im-ah"
Jeong Im tersenyum lega, akhirnya ia bisa berhubungan dengan Jay, "Jay hyung, kau di mana? Aku sedang berada di Seoul sekarang" hening, Jay tidak menyahut kalimat Jeong Im, "Jay hyung, kau mendengarku? Kau di mana? Kenapa aku mendengar seperti suara air? Apa kau sedang di pantai?" namun lagi – lagi tidak ada suara di seberang sana, "yak Jay hyung apa yang sedang kau lakukan? Jawab aku,"
"Jeong Im-ah, mianhae," hanya satu kalimat lirih itu yang terakhir di dengar oleh Jeong Im, setelah itu ia tidak bisa mendengar apa – apa lagi selain suara gemerisik air.
"Jay hyung? Yeoboseyo, Jay hyung jawab aku, Jay hyung" Jeong Im berteriak memanggil nama Jay, pikiran buruk mendadak melintas di benaknya, "Jay hyung kau jangan berbuat bodoh! KIM YOUNG DEOK KAU MENDENGARKU, YA! JAY HYUNG BUNUH DIRI ITU PERBUATAN YANG PALING DIBENCI TUHAN! JAY HYUNG KAU MENDENGARKU, JAY HYUNG JAWAB AKU! JAY HYUNG!"
Tut Tut Tut… panggilan itupun terputus tiba – tiba.
Tbc
Finally~~~~~~
Mianhae, sudah berapa bulan saya tidak update ff ini huhuhuhu
Mianhae jika ceritanya makin absurd dan gaje apalagi jika ada typo bertebaran, chap ini sudah saya ubah hampir lima kali dan inilah yang saya rasa pas
Untuk chap selanjutnya semoga tidak selama ini, doakan saja hehe…
Kamsahamnida buat yang sudah baca, review, follow dan favorite bby dan cerita ini, saya sangat terharu :')
Gimana menurut kalian chap 4 nya? Semoga tidak mengecewakan, Silahkan beri komentar di kotak review di bawah ^^
Sampai jumpa di next chapter~~~
-kiyubby-
Balasan review :
jihyunelf chapter 3 : Jeong Im gak kecelakaan , dia hanya bermimpi ^^ gomawo reviewnya
Desviana407 chapter 3 : mianhaeeee lama updatenyaaaa.. gomawo sudah menjadikan ff ini favoritnya hehe, ne, Kyuhyun kecelakaan tapi ga parah kok, cumin terkilir sama lecet aja, bby ga tega kalau ampe luka parah. Gomawo reviewnya
Awaelfkyu13 chapter 3 : mereka ga jahat kok, mereka sayang banget sama kyukyu , gomawo reviewnyaaa
diahretno chapter 3 : dan akhirnya chap ini lama updatenya hhiuhu, gomawo reviewnya
meimeimayra chapter 3 : keluarga mereka memang rumit, sepertinya kata baik – baik saja masih jauh dari mereka huhuhu, gomawo reveiwnyaaaa
chairun chapter 3 : selamat kok mereka, cumin kyu terkilir n lecet2 aja ,, gomawo reviewnyaaaaa
kyuli 99 chapter 3 : mereka ketabrak apa ga udah terjawab di chap ini hehe gomawo reviewnyaaa
Rahma94 chapter 3 : ne, kasian kyu, tapi mau gimana lagi ceritanya memang seperti itu huhuhuhu gomawo reviewnyaaaa
kyuPuchan15 chapter 3 : misterinya bakal di jelasin satu satu, tungguin aja chap seterusnya hehe gomawo reviewnyaaaa
Sparkyubum chapter 3 : ne dia eomma nya Jay, jahat memang, tapi dia punya alasan sendiri, jawabannya ditunggu aja chapter2 berikutnya hehehe gomawo reviewnyaaaa
Nurul chapter 3 : kliatnya lagi ga muncul tuh jadinya update lama hehehe, gomawo reviewnyaaa jawabannya ada di chap ini
chocosnow chapter 3 : mereka saudara sepupu ^^ gomawo reviewnyaaaa
erka chapter 1 : mianhaeee lama yaa huhuhu, next akan diusahakan lebih cepat, gomawo reviewnyaaaa
mifta cinya chapter 3 : mereka selamat atau tidak jawabannya ada di chap ini hehe, kenapa niat bunuh kyu juga ada di sini jawabannya , gomawo reviewnyaaaaa
fitripratyy chapter 3 : ini udah lanjut gomawo reviewnyaaaa
dyayudya chapter 3 : andwaeee kalau kritis bby bisa pingsan kkkk, gomawo reviewnyaaaaaaa
lianpangestu chapter 3 : ne mianhaee lama ya huhuhu, gomawo reviewnyaaaa
kyulanl chapter 3 : chap ini lebih lama lagi nunggunya huhuhuu, jawabannya ada di chap ini hehe dan mianhae g bisa lebih panjang, udah mentok haha gomawo reviewnyaaaa
chapter 3 : gomawo reviewnyaaaaa
chapter 3 : jawabannya mulai terkuak(?) di chap ini gomawo reviewnyaaa
hyunnie02 chapter 3 : gomawo reviewnyaaaa
eliz930 chapter 3 thank you so much ^^
gui88 chapter 3 : kkkk gomawoooo
MikiDobi95 chapter 3 : sepertinya memang begitu, entah kenapa aku emang bayangin drama waktu ngetik ff ini, gomawo reviewnyaaaa
Dedekyu23 chapter 3 : udah lanjut gomawo reviewnyaaaaaa
