~ Happy Reading ~
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Kira Desuke
Warning : OOC, AU, gaje, misstypo?
Genre : Romance/Humor/Family
Pairing : SasuSaku
Sekuel My Enemy or My Love?
.
.
SASUKE'S PAIN
"Hoaaaahm," aku menguap lebar di ruang keluarga saat aku tengah menonton bersama istriku. Mungkin karena suara menguapku yang terlalu kencang membuat istri kesayanganku itu mendelik tajam padaku karena acara menonton TVnya terganggu. Aku hanya memutar bola mata bosan. Death glare pasaran seperti itu sih, tentu saja aku sudah kebal.
Oh ya, namaku Sasuke Uchiha. Dan perkenalkan ini istriku yang perkasa, Sakura Haru—err maksudku Sakura Uchiha. Karena aku hari ini lagi berbaik hati, maka aku akan memuji-muji istriku. Dia adalah istri yang baik, selalu membantu suami, selalu memanjakan suami, lembut, penyayang, wajahnya cantik, mata hijau emeraldnya bersinar terang, bibir tipisnya yang ranum, dan paling penting dia SANGAT feminim. Hmph, kenapa ya. Membayangkannya saja aku ingin muntah.
Aku terkekeh sendiri memikirkan kata-kataku ini. Se-sempurnanya manusia pasti masih memiliki kekurangan. Begitu pula istriku. Tapi tapi nggak tuh. Aku sangat mencintai kekurangannya itu. Cinta, sangat cinta! Oh, aku memang laki-laki paling beruntung di dunia ini.
Perlu kutekankan lagi? Yeah, I'm the LUCKY husband!
Beruntung, sangat berun—
Bhuagh!
Ugh, mulai deh.
"Apa sih pukul-pukul? Dasar istri gak tahu diuntung!" tukasku kesal sambil mengelus-ngelus pipiku. Bisa kulihat melalui kaca di seberang kami, oh tidak wajahku yang tampan ini kembali mendapat stiker berwarna biru di pipi kirinya.
Sakura merengut kesal, "Lagian dari tadi kan gua minta tolong gantiin channel soalnya lu yang megang remote TV. Eh malah melamun, ya udah kupukul aja," jawab Sakura dengan nada sok dipolos-polosin. Dengan ogah-ogahan aku mengambil remote di sampingku dan menekan-nekannya. Mengganti-ganti channel sampai Sakura menyuruhku berhenti.
Tapi kuganti terus juga Sakura tetap tidak bergeming. Dengan kesal aku menoleh dan kulihat dia dengan wajah cemas mengelus perutnya. Aku semakin bingung, apalagi saat dia menggigit bibir bawahnya, "Kenapa lu?" tanyaku sambil mengangkat sebelah alisku. Spontan Sakura langsung menoleh dan menatapku ragu.
"Anu..." Sakura memainkan jarinya, dia meringis menatapku, "aku lapar, pingin rujak," jawabnya sambil tertawa hambar. Aku terdiam tanpa ekspresi, sesaat kulirik jam dinding di seberang kami.
Jam setengah dua belas malam.
Great.
"Hebat Sakura, sepertinya kau kesurupan jin tengah malam. Ayo lekas tidur!" tukasku kesal sambil mematikan TV dan segera menarik lengan Sakura agak sedikit kasar. Mungkin kalian akan mengira kalau aku adalah suami yang tidak pengertian. Tapi perlu dicatat, aku adalah korban di rumah tangga ini.
Sakura merengut kesal, "Gua nggak kesurupan!" ketusnya seraya menarik lengannya dari cengkramanku, "Lu kali yang kesurupan! Jelas jelas gua cuma minta rujak eh dibilang kesurupan,"
"Lalu apa namanya kalau bukan kesurupan hah? Mana ada cewek liar tengah malam minta rujak nggak jelas. Kecuali kalo dia ngi—" sebentar, sepertinya aku teringat akan sesuatu. Aku menatap mata hijau emerald di depanku yang menatapku penuh harap, "err, lu ngidam?" tanyaku ragu. Entah kenapa aku tidak rela mengatakan ini.
Sakura mengangguk cepat, "Bingo! Harusnya sebagai suami yang baik, lu nyariin rujak buat gue sekarang!" ancam Sakura dengan mata hijau emeraldnya yang berkilat menang. Membuatku harus menelan ludah. Aku tak habis pikir saat tiba-tiba dia mengelus perut buncitnya dan berkata, "Hiks, sabar ya nak. Kamu punya ayah tidak berkeperimanusiaan yang selalu menyiksa ibumu di saat hamil. Hiks maaf! Maaaf!"
Sesungguhnya aku ingin berteriak, "KEBALIK, BEGO!" dan kalau bisa kutendang mukanya yang sok melas seperti itu. Oke, sabar. Sabar Sasukeeee. Jaga lha imej Uchiha sebaik mungkin!
Aku menarik nafas dan segera beranjak menuju kamar. Aku mengambil jaket biru tua kesayanganku dan memakainya dengan malas-malasan. Begitu keluar dari kamar, aku bisa melihat Sakura yang tengah memandangku berseri-seri. Jujur, melihat wajah Sakura seperti itu membuat aku tenggelam ke dalam kegalauan antara ingin mencubit pipi lalu meraepnya dan menendangnya sampai wajah itu biru. Hn, pilihan kedua sepertinya terlalu kejam. Oke, kupilih pilihan pertama saja. Setidaknya di pilihan pertama aku bakal merasakan lebih banyak kenikmatan sekaligus penderitaan (?)
"Sasuke, kau jadi pergi?" Sakura berdiri dari sofanya dan berjalan menghampiriku. Aku mengernyitkan alis saat Sakura bergelayutan manja di dadaku. Kenapa ya, setiap Sakura melakukan tindakan manis aku tidak bisa sekalipun berpikir positif? "Aku sayang kamu deh," ujarnya seraya mencium pipi kiriku.
Blush! Ah sial, pipiku pasti memerah lagi. Wajahku langsung terasa panas, padahal hanya dicium pipi saja, "...Masih kurang," bisikku tiba-tiba. Hei hei Sasuke, ingat ini fic rate T!
"Kurang?" Sakura tersenyum mencurigakan, dan akhirnya aku mengerti jawabannya saat tiba-tiba Sakura mencium bibirku sekilas. Damn, aku benar-benar blushing berat sekarang, "Udah sana! Cariin rujak asem pedes ya. Harus seimbang! Jangan terlalu asam dan jangan terlalu pedes!" perintahnya. Aku hanya menghela nafas malas dan segera melangkah keluar rumah sebelum aku dapet bogem mentah lagi dari dia.
"Iya, iya! Gua pergi!" teriakku malas. Dan langkah selanjutnya, akhirnya aku bisa juga menghirup udara bebas. Fuuuh syukurlah.
Aku mulai berjalan di tengah malam begini. Jalanan sepi sekali, rasanya cuma aku yang hidup di kota ini. Aku bisa melihat nafasku yang mengepul membentuk kepulan asap putih. Hari ini memang dingin, aku pun semakin mempererat jaketku. Sialan, Sakura benar-benar ingin ngerjain aku kayaknya. Dari tadi aku menoleh ke sana kemari dan yang ada hanya tulisan 'CLOSE' yang besar di setiap pintu toko. Aku memutar bola mataku bosan setiap melihat tulisan itu.
Aku terus melangkah tanpa melihat lurus ke depan sampai aku merasa menabrak seseorang, "Ouch!" keluhku seraya memegang jidatku. Sepertinya orang itu lebih tinggi dariku karena aku bisa merasakan kepalaku menabrak dagunya, "Hei, hati-hati kalau ja—"
"Sasuke?" aku tersentak kaget. Siapa? Dari suaranya rasanya aku mengenalnya. Tapi wajahnya tidak kelihatan jelas karena dia memakai—hei, apa orang ini gila? Masa' memakai kacamata hitam di tengah malam begini? "Ini aku, gurumu yang tampan, Kakashi Hatake," lanjutnya dengan nada narsis seraya melepas kacamata hitamnya. Aku tertegun di tempat.
"Kakashi… sensei?" tanyaku ragu. Dan memang, tidak ada orang yang memiliki warna mata hitam dan merah lalu memiliki rambut perak melawan gravitasi, yang seperti itu cuma ada satu di dunia. "Sedang apa kau di sini?"
Ya, Kakashi-sensei. Huh, mana mungkin kulupakan guru menyebalkan yang satu itu. Dulu, dia adalah salah satu guru yang paling berperan—dan bertanggung jawab—atas insiden-insiden yang aku alami dengan Sakura saat masa perjodohan itu(*) Seperti… tiba-tiba dia menyuruhku merawat Sakura dalam satu rumah dan jangan lupakan saat aku dan Sakura diborgol olehnya. Oh, aku masih ingat perasaan ingin membunuh yang waktu itu muncul di dadaku.
"Nada bicaramu masih dingin seperti biasa ya, Sasuke," ucapnya dan aku bisa tahu dia tersenyum dari balik maskernya, aku mendengus kesal, "yah seperti biasa, mencari ngidamnya istri hamil," lanjutnya dan tertawa santai. Aku hanya membentuk mulutku seperti 'ooooh'.
"Rujak." Hei, aku dan Kakashi mengucapkannya bersamaan. Kami saling menatap satu sama lain sampai aku bertanya, "Kakashi-sensei juga mencari rujak?" tanyaku lumayan antusias. Entah kenapa aku senang karena ternyata ada yang senasib denganku.
"Yah begitulah, haha istri hamil memang selalu aneh-aneh. Betul kan Sas?" Kakashi kembali tertawa dan kali ini dia menepuk-nepuk keras punggungku. Dari tepukannya aku bisa tahu kalau dia juga sesungguhnya tidak ikhlas mencari rujak untuk istrinya itu, yah aku juga sih.
Aku mengangguk cepat, "Dan tambah garang," tambahku mengoreksi. Kakashi juga terlihat bersungut-sungut sampai akhirnya dia juga menjawab.
"Tambah manja!"
"Hn, lebih menyebalkan,"
"Maunya diturutin mulu!"
"Kalau udah nyiksa suami baru puas…"
#
Normal POV
"HATCHII!"
Sudah ke sekian kalinya Sakura bersin-bersin hingga hidungnya memerah. Dia merapatkan selimutnya agar lebih hangat dan Sakura pun melanjutkan kembali acaranya baca membaca. Matanya sudah terasa kantuk, tapi walau pun Sakura ingin tidur juga tetap tidak bisa. Rasanya rujak benar-benar dibutuhkan olehya saat ini.
"Ngh, pokoknya kalau Sasuke sudah pulang, gua pingin nonjok dia!"
#
Sasuke POV
"Kesimpulannya, istri yang hamil itu menyebalkan," ucap Kakashi setelah aku dan dia sudah menyelesaikan unek-unek tentang istri hamil. Aku hanya mengangguk-angguk setuju. Mataku masih tetap berkonsentrasi mencari warung rujak yang buka.
Aku menghela nafas, "Hei Kakashi-sensei, bagaimana ini? Tidak ada warung yang buka lagi," aku mulai mengucek-ngucek mataku yang terasa gatal ingin menutup, "mana aku mulai mengantuk," ucapku pelan seraya menguap lebar.
"Hemm benar juga," Kakashi terlihat bersungut-sungut dan menatapku polos seperti biasa, "sepertinya kita pulang saja Sasuke. Kalau kita ceritakan masalahnya, aku yakin istri kita akan memakluminya," lanjutnya yang sepertinya berniat memberiku usul. Aku menatapnya tajam dengan mata onyxku yang sehitam batu osidian ini.
"Aku. Masih. Belum. Mau. Mati. Kakashi…" jawabku dengan penekanan di setiap kata. Ah, aku tidak bisa membayangkan kalau aku tidak pulang membawa rujak. Apakah aku akan dibunuh? Digigit? Oh atau malah aku akan dimutilasi? Aku menggerutu pelan saat Kakashi menertawakanku dengan puas.
"HAHAHAHA! Kau berlebihan Sasuke!" tawanya membahana di tengah jalan yang sepi ini, "Masa' sih Sakura sekejam itu? Oke, aku tahu dia memang tomboy, tapi kau juga kan jauh lebih kuat dari dia," kekehnya pelan seraya mengacak-acak rambut biru donkerku. Tidak jelas, sebenarnya dia itu berniat menghiburku atau tidak sih?
Kakashi masih tersenyum-senyum sendiri setelah dengan tanpa dosanya dia mengacak-acak model rambutku yang keren ini. Aku merengut kesal. Benar-benar bad mood hari ini. Aku melirik jam tangan G-Shock hitam milikku, sudah jam setengah satu pagi. Hebat, berarti aku sudah mencari selama satu jam tanpa adanya pencerahan. Mau mencari kemana saja belum jelas. Diam-diam aku mengutuki istriku dalam hati.
"Hei Sasuke! Lihat!" tiba-tiba saja Kakashi menepuk punggungku dengan sangat keras membuatku terkaget. Dengan kesal aku menoleh, dan melihat sebuah cahaya berkerlap-kerlip di sebuah warung dengan tulisan…
Ibiki Rujak : MANTAP EUY~~
"Lampunya masih nyala, berarti masih buka kan?" tanya Kakashi antusias. Aku mengangkat sebelah alisku heran walau aku hanya bisa mengangguk saja, "Bagus, ayo Sasuke. Biar kita cepat pulang!" ajak Kakashi lagi. Aku pun hanya menurut saat Kakashi menarik tanganku, rasanya kepalaku jadi blank.
Kakashi membuka pintu warung kecil itu. Wajahnya berseri-seri kontras sekali denganku yang agak kusut karena kantuk sudah mulai menyerangku. Namun, Kakashi tidak membutuhkan air untuk membangunkanku. Karena wajah botak yang penuh luka—pemilik warung kecil ini cukup membuatku membelalakkan mata hingga melotot.
"Ah, ada yang bisa saya bantu?" tanya penjaga warung itu dengan suara serak seperti setan, membuatku menelan ludah. Aku melirik Kakashi, dia kok bisa sih tenang-tenang saja seperti ini?
Aku menolehkan kepalaku perlahan dan menjawab dengan ragu, "Kami mau membeli rujak, dia rasa biasa saja. Sedangkan aku tidak terlalu pedas dan tidak terlalu asam," jelasku panjang lebar. Penjaga warung itu mengangguk dan segera melihat bahan-bahan rujaknya. Aku dan Kakashi dengan sabar menunggu dengan duduk di kursi. Tak lama kemudian, aku melihat Ibiki (aku hanya menebak-nebak namanya) datang menghampiri kami dengan wajah yang terlihat bersalah.
"Err maaf tuan-tuan, sepertinya persediaan rujaknya habis. Porsinya hanya tinggal untuk satu orang," ucap Ibiki itu. Spontan aku dan Kakashi melotot. Oh tidak, mana ada yang mau mencari warung lain lagi? Tapi, nasib sial berpihak padaku.
"Aku yang beli!" dengan cepat Kakashi langsung menerobosku dan mengambil jatah porsi satu orang. Siaaaaal, bisa-bisanya aku keduluan! Betapa bodohnya kau, Uchiha Sasuke!
Ibiki yang tidak tahu menahu masalah berat kami hanya mengangguk patuh dan memberikan rujaknya pada Kakashi, "Silahkan, harganya lima ribu rupiah(**)," dan sensei sialan berambut perak itu hanya tersenyum tanpa dosa dan menerima rujaknya. Aaaaa, aku benar-benar ingin mengubur diriku sendiri di suatu tempat!
"Nah Sasuke~" panggilan Kakashi membuatku menoleh, "karena aku guru yang baik, maka aku akan memberimu setengah porsi rujak ini—" aku tertegun. Hei, sejak kapan guru ini jadi baik? Sebelum aku berteriak mengucapkan terima kasih, guru ini langsung memotongku, "—dengan sepuluh ribu rupiah~"
APA? Hei, itu setengahnya pun tidak ada! "Yang benar saja! Harusnya aku cuma membayar dua ribu lima ratus rupiah kan? Kenapa jadi meningkat dua kali lipat begitu?" tanyaku menggebu-gebu. Jelas saja aku tidak terima! Dia pikir keturunan elit Uchiha ini bodoh apa, sampai tidak bisa menghitung untung rugi?
Kakashi menggelengkan kepalanya, "Ckck tidak bisa begitu Sasuke. Harusnya kau sudah untung aku mau menawarkannya padamu," guru sialan itu tengah tertawa kecil, "waah aku tidak bisa membayangkan bagaimana Sakura mengamuk nanti karena tidak bisa makan rujak," ucapnya. Ugh, sial. Aku menelan ludah ngeri membayangkan istriku yang liar itu.
Dengan sangat amat terpaksa, aku mengambil dompet di kantong belakang celanaku dengan gemetaran. Baiklah, aku memang kaya dan harta yang kumiliki mungkin tidak akan habis tujuh turunan. Tapi… entah kenapa mengeluarkan uang sepuluh ribuan saja untuk diberikan pada guru tengil di depanku ini rasanya benar-benar tidak rela. Aku merengut kesal saat aku menyodorkan lembaran sepuluh ribuan itu di depan wajah Kakashi yang terkekeh.
"Fufu, terima kasih Sasu-chan," sungguh, aku bersumpah jika bukan dikarenakan kebutuhan istriku yang sedang hamil ini, mungkin aku sudah membuka bungkusannya dan melemparkan rujak tepat di muka mantan guruku itu, "oke, kita berpisah di sini. Salam buat Sakura ya!" dan tanpa izin dariku, dengan santainya dia keluar dari warung ini dan meninggalkanku sendiri. Aku menghela nafas panjang lalu tersenyum sesaat dengan Ibiki sebelum aku benar-benar keluar dari warung tersebut.
Dalam perjalanan pulang, aku hanya bisa berharap Sakura sudah tidur duluan.
Entah kenapa, aku punya firasat akan dihajar lagi kalau dia masih bangun…
.
#
.
"Tadaima," ucapku malas seraya menutup pintu rumah dan menguncinya. Tidak ada jawaban. Berarti mungkin Sakura memang sudah tidur, aku menghela nafas lagi dan berjalan menuju kamar.
Memang benar, setan—err maksudku malaikatku itu sedang tertidur dengan nyenyaknya. Kasurnya benar-benar berantakan, dia ini kalau tidur memang tidak pernah rapi ya. Ditambah ada banyak buku berserakan di sampingnya. Pasti dia ketiduran karena membaca buku. Dasar dia ini. Aku mendengus pelan dan duduk di tepi tempat tidur, kunaikkan selimutnya supaya bisa menghangatkannya.
Aku menguap sangat lebar, kulirik jam sudah mulai menunjukkan pukul tiga pagi. Aku melepaskan jaketku dan melemparkannya sembarang, sementara rujak kutaruh di atas meja yang ada di samping tempat tidurku. Aku benar-benar ngantuk dan kedinginan. Sedikit menggeser tubuh Sakura, akhirnya aku tidur dengan posisi memeluk tubuh istriku itu dari belakang.
Kurasakan Sakura bergerak di tengah pelukanku, "Ngh, Sasuke?" tanyanya perlahan. Aku hanya ber'hn' ria. Lama tidak ada respon lagi, aku pikir dia sudah tertidur. Tapi… rupanya aku salah lagi.
BHUUG
"Uhuk!" aku sedikit terbatuk saat tiba-tiba Sakura menyikut perutku cukup dalam. Aku menatap Sakura yang baru saja melepaskan diri dari perlukanku dengan death glare khas milikku, "Kalau memang tidak mau dipeluk, bilang dong! Nggak perlu nonjok juga bisa kali!" ketusku kesal. Iyalah! Lagi enak-enak tidur juga.
Sakura merengut, "Bukan itu!" dia tiba-tiba saja duduk di atas tubuhku yang sedang terbaring. Apa sih maunya cewek ini? "Mana rujak gue?" tanyanya menuntut. Dengan gerakan kepala, aku langsung menunjuk bungkusan di atas meja dengan daguku.
"Tuh, sana makan! Minggir!" aku berusaha mendorong tubuh wanita itu dengan hati-hati. Bagaimanapun, aku masih tahu diri mengingat Sakura tengah mengandung anakku saat ini. Kalau tidak sih, tanpa ragu-ragu sudah kutendang dari tadi tuh monster.
Fuuuh, akhirnya aku bisa juga tidur dengan nyenyak. Sesekali kudengar suara Sakura yang tengah mengunyah rujak pemberianku dengan lahapnya. Ck, apa sih enaknya rujak? Dari dulu aku tidak suka makanan semacam itu. Aku juga sempat mendengar langkah kaki Sakura yang bergerak menjauh. Halah, paling dia cuma ke dapur untuk sekedar mengambil air minum. Aku tidak mau ambil pusing lagi, dalam hitungan detik aku pun kembali terlelap dalam mimpi.
Kupikir sih begitu…
BHUAG
…sebelum ada pukulan lagi yang melayang ke kepalaku.
Aku mendecak kesal dan memegang kepalaku, "Apa lagi sekarang, hah?" tanyaku benar-benar kesal. Rasanya dari tadi aku tidak bisa benar-benar tidur dengan tenang. Sakura hanya menatapku polos dan berikut-berikutnya…
BHUG
DHUAK
DUGH
"SUDAH CUKUP!" dengan emosi, aku menahan tangannya yang akan menonjokku lagi, "mau lu apa sih? Benar-benar deh! Kalau mau ngajak berantem, keluarin dulu anak gue! Ntar gue layanin lu deh sampai puas!" gertakku makin kesal saja. Kami saling bertatapan ditambah dengan gigiku yang terus bergeletuk dari tadi.
"Oke!" Sakura melepaskan diri dari cengkraman tanganku dan melompat untuk tidur di sampingku. Aku menatapnya bingung dengan sebelah alis terangkat, "Entah kenapa rasanya lega setelah memukulmu," lalu Sakura bangkit sebentar dan kembali mencium pipiku, "oyasumi Sasuke-kun!"
"Tu-Tunggu! Gue nggak ngerti maksud lu," cegahku sebelum Sakura benar-benar tertidur.
Sakura menatapku malas, "Pertama, anakmu ini tadi minta rujak," wanita berambut soft pink itu mengelus-ngelus perutnya yang mulai kelihatan makin buncit di depanku, "lalu entah kenapa yang kedua, anakku ingin aku ngidam nonjokin kamu," ucapnya dengan seringai polos. Dan detik kemudian, dia kembali berbalik—tidur membelakangi tubuhku, "oyasumi~~"
Aku hanya menatap cengo. Oh, jadi anakku sendiri yang meminta Sakura untuk menonjokku. Anak durhaka kau nak! Aku menyeringai menertawakan diriku sendiri yang bodoh. Awas saja, begitu anak itu lahir aku benar-benar akan menguncinya di kamar seharian—hanya susu bubuk yang menemani. Dan Sakura? Sebagai hukuman sudah menghajar suaminya yang ganteng ini, maka aku akan membantingnya.
Err tambahan…
Aku benar-benar akan membantingnya ke atas tempat tidur.
.
.
Special thanks for :
Yuna mikuzuki, CyneCivetLeonhard, Cherry Orihara, Chima GeunMa, Miss Uchiwa 'Tsuki-chan, Aburame anduts, Kazuma big Tomat, Ka Hime Shiseiten, 7color, Sakura 'Cherry' Snowfalls, Hika Midori chan, Resty neo haruno, D kiroYoiD, tralala trilili, Mayura, Shard VLocasters, Rievectha Herbst, Hanaya Muchiniwa, 4ntk4-ch4n, Dhevitry Haruno, Haruchi Nigiyama, Shisylia-chan, me, Yoona Furukawa, 12starZ, Riku Aida, Rin Akari Dai Ichi, Imuri Ridan Chara, Yunacha Zaitte, Ni-chan Akatsuki, Oh-chan is Nanda, Mikami Azura, Farah aishiteru SasuSaku, Pink Uchiha, Shizukari Fourteen, Uchiha ai-chan sekseh, cherrysakusasu, Namikaze Sakura, Sadistic Shinigami Kuroi, Kirei Atsuka, Chancha-Flower, OraRi HinaRa, Uchiha Athena, Frozenoqua, yami123
Dan untuk yang lainnya kalau tidak kesebut, terima kasih :)
(*) = ada yang masih ingat bagian ini? Ada di MEOML, saat Kakashi ditugaskan mengambil bagian dalam perjodohan SasuSaku 8D
(**) = kalau pake yen, aku bingung. Jadi pake rupiahnya Indonesia aja ya =w= #dilempar
Yosh! Hai minna! #ojigi Mohon maafkan ketelatan saya dalam mengupdate fic ini. Maklum saya mood-moodan kalau bikin fic apalagi genre humor, lemon, dan gore orz
Semoga chapter ini nggak garing deh, aku bikinnya tengah malem sih sambil smsan. Jadi nggak terlalu konsen ==' *lirik mysticahime* Mohon reviewnya aja ya minna-san~ :D
