To be Perfect, To be Yours

Chapter 4 : Night Changes

Lightning sedang berpikir tentang dunia yang sedang ia berada saat ini. Dalam perjalanan mereka mencari tempat menginap untuk malam itu, Noctis sedang berkendara menuju ke sebuah motel dekat Hammerhead. Dalam keadaan diam seperti saat ini, Lightning berpikir tentang mengapa ia di pindahkan ke dunia 'Eos' ini. Setelah berbincang-bincang sedikit tentang masa lalu dunia ini, Lightning menerima informasi tentang masa kelam yang di hadapi dunia karena negara maju yang ingin berperang melawan dunia. Nifleheim, negara super maju yang memiliki tentara mesin, mendeklarasi perang melawan kerajaan Noctis untuk mencuri sumber kekuatan yang kekal yaitu, Kristal Kehidupan Lucis.

Setelah beberapa insiden yang begitu memilukan, Noctis dan kawan-kawannya pergi berperang dengan gaya mereka sendiri. Mereka pergi menantang penjahat yang sesungguhnya adalah salah satu bebuyut Noctis, dan Noctis berhasil mengalahkannya dengan kekuatan para raja pendahulu Lucis. Sungguh Kisah yang hebat, Lightning bahkan tidak berkedip dan terlalu fokus dalam cerita yang disampaikan Noctis. Ia bercerita dengan penuh keyakinan dan kesedihan. Ia menceritakan tentang kematian teman dan kakak temannya demi menyelamatkan dunia. Luna dan Ravus.

Mereka semua telah melewati masa kelamnya sendiri, dan sekarang telah merasakan kehidupan dalam terang yang baru. Lightning bertanya pelan kepada dirinya sendiri, "kalau begitu, untuk apa aku disini?"

"Apa katamu, Light?" Noctis bertanya, dia mendengar si wanita mengatakan sesuatu yang tidak jelas.

Lightning menyilangkan kedua tangan dan kaki, dan menatap keluar, "Aku… bertanya tentang sesuatu."

"Kepadaku? Apa itu?" Noctis memberikan tatapan kaget.

"Bu-Bukan kepadamu, sungguh…" Jawab Lightning, mencoba menenangkan Noctis, "Aku bertanya pada diriku sendiri. Atau mungkin…" ia terdiam sejenak, "Kepada Etro…"

"Etro?"

Lightning mengangguk, "Dewa yang mungkin hidup dalam kristalku."

Noctis terkaget. Dewa? apa yang dimaksud Lightning yang 'mungkin' hidup?, Noctis berpikir sejenak. Kristal Lightning tidak seperti kristalnya yang dihuni bebuyutnya, Kristalnya dihuni oleh dewa. Apakah artinya Lightning telah melakukan perjanjian dengan dewa tersebut, dulu?

Lightning menatap bingung ke arah Noctis yang kelihatan melamun sementara membawa mobilnya. Ia seperti banyak pikiran, atau mungkin ia berpikir tentangnya?

"Noct." Panggil Lightning dan hanya menerima balasan 'hmm.', "Apakah kau percaya padaku?"

Noctis hendak seperti orang yang terbangun kaget, "P-Percaya? Padamu?" Lightning mengangguk, "Tentu saja, Light!" senyumnya.

"Bagaimana bisa? Kau sama sekali tidak kenal dengan diriku, mungkin saja aku musuh atau seseorang yang berbahaya."

Noctis menatap mata Lightning dengan shock, "… Aku-"

"Apakah kristalmu menyuruhmu untuk mempercayaiku? Kau sungguh-sungguh percaya siapapun yang berada dalam kristalmu itu tidak menipumu?"

"Light, aku-"

"Bagaimana jika aku ini tidak nyata?"

Mata Noctis terpampang lebar,

"Aku dilempar ke dunia ini tanpa mengetahui apa focusku. Bahkan sesungguhnya, aku berpikir aku ini sedang bermimpi. Aku…" Lightning merasakan emosi yang datang begitu cepat, setelah mengelurarkan kata-kata ini kepada Noctis, ia juga menjadi bingung. Nah, karena Kebingungan ini, kepala Lightning terisi dengan hal-hal yang gelap dan menakutkan. Sama seperti saat, Bhunivelze melemparkannya ke kegelapan.

"Aku tak yakin aku ini nyata-"

Noctis menginjak rem dengan kaget, dan segera menepi. Lightning terdiam, melihat Noctis menatapnya dengan penuh keseriusan dan sedikit marah. Si pria bersurai hitam, membuka seat-beltnya dan keluar dari mobil. Mata Lightning mengikuti badan Noctis yang segera berjalan kearah pintu mobil sisinya dan membuka pintu tersebut. Lightning menatap mata Noctis dan merasa sedikit terintimidasi dengan matanya yang marah.

"Light, keluarlah."

Lightning hanya terdiam dan mengikuti perintah Noctis. Noctis membuka bagasi mobil dan mengeluarkan gear kemah. Ia mengangkut semuanya dan menarik Lightning dari tangannya.

"He-Hey!" Lightning terkaget. Tangan Noctis menggenggamnya dengan kuat, ia tidak bisa membebaskan diri.

"Benar."

"What?" tanya Lightning dengan binging.

"Benar! Aku tak tahu apa-apa tentangmu, Light!" Sentak Noctis, berbalik badan ke hadapan Lightning, "Aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentangmu! Aku baru saja bertemu denganmu hari ini! Makanya, kumohon, ceritakan dirimu kepadaku!"

"…"

Noctis berhasil membuat Lightning terdiam dan kaget, mungkin hal ini bukanlah hal yang bagus bagi impression untuk wanita, tapi, Jika hal ini bisa membuat Lightning terdiam dari hal-hal buruk tentang dirinya sendiri, so be it. Ia menarik Lightning kembali untuk pergi ke suatu Haven dekat mereka. Ia sebenarnya tidak ingin Lightning tidur di tanah seperti ini, tapi, Noctis berniat untuk menunjukan sesuatu kepadanya.

"Maaf, Light, apakah kau bisa tidur di tenda untuk malam ini?"

"… Aku bisa dimana saja."

Noctis menganggung terima kasih. Ia masih malu untuk menatap kebelakang tapi, ia tidak mau melepaskan tangan Lightning. Ia takut, jika ia melepaskannya, maka kata-kata Lightning akan terjadi betul. Mereka sampai di Haven dekat suatu tebing. Di balik tebing terdapat pemandangan Laut dan Langit malam yang berpadu begitu cantik dan indah. Lightning terkaget melihat pemandangan yang begitu indah ini. Noctis melepaskan tangan Lightning ketika ia berjalan kedepan, mendekati ujung tebing untuk melihat pemandangan itu dengan lebih jelas.

Noctis tersenyum senang. Sudah ia duga Lightning akan menyukai tempat ini. Ia segera menurunkan gear kemahnya dan mendekati Lightning. Pahlawan Etro itu terpesona dengan pemandangan bintang-bintang di langit malam seperti terpantul ke laut yang tenang. Langit malam yang begitu cerah dan mempesona dan hembusan angin laut yang menyentuh setiap sudut hati dan badan Lightning, menenangkannya dari pikiran buruk. Ia menatap Noctis yang berdiri di sampingnya, menikmati hal yang sama.

Lightning menatap Noctis dengan kagum. Baru kali ini, Lightning menatap Noctis dengan perasaan seperti ini. Memikirkan kembali setiap kata-kata dan tindakan Noctis, membuat hatinya terasa senang. Senang sekali. Senang, lega, dan bahagia. Hatinya berdegup dengan ritme yang kencang dan tenang. Lightning tersenyum. Senyuman yang tidak dipaksakan dan terpampang dengan malu. Ia mengingat kembali rasa hangat dan kenyamanan tiap kali Noctis mengenggam tangannya. Kehidupan Lightning sudah lama tidak merasakan kenyamanan, maka, sensasi yang memenuhi hidupnya tiap kali menatap Noctis, membuatnya merasakan hal itu.

Noctis juga merasakan hal yang sama. Ia menatap ke langit cerah, dan bintang-bintang seakan bersenyum kepadanya. Noctis sudah lama tidak merasakan perasaan begini. Perasaan dimana ia begitu senang, takut, dan marah secara sekaligus. Perasaan yang senang dan membahagiakan tiap kali ia melihat Lightning tersenyum, tertawa, dan menatap keluar jendela mobil. Ia merasakan kehadiran orang yang sangat penting di dekatnya. Ya, ia punya temang-teman dan mereka juga penting, tapi, Lightning adalah kepentingan yang special.

Meski Lightning terlihat dingin dan distant, Ia adalah orang yang terbuka, mungkin?. Noctis tertawa sedikit, benar… Ia tidak tahu banyak tentang Light.

Semoga ia perlahan mendapatkan kepercayaannya. Ia berpaling untuk menatap Lightning dan disambut dengan mata electrical blueish green yang berkilau di bawah bintang-bintang terang. Ia sedang tersenyum dan jantung dan waktu Noctis seakan berhenti sejenak. Senyum Lightning yang ia lihat sekarang adalah senyum terindah dari mulut siapapun yang pernah ia temukan. Mukanya memerah dan hatinya berdegup dengan kencang.

Lightning melihat mata ocean blue yang dalam dan tangguh. Lightning berpikir bahwa mukanya yang memerah sangatlah… imut.

Noctis memalingkan wajahnya dengan malu, dan menggaruk bagian belakang kepalanya, "A-Aku akan segera mendirikan tendanya!"

"Biar aku bantu." Kata Lightning, mengikuti Noctis.

"Eh! Light, kau istirahat saja, aku bisa sendiri, kok." Tawar Noctis, Lightning menggeleng kepala.

"Noct, aku harus membantu. Aku tak bisa membiarkan Pangeran Lucis bekerja untukku. Nanti aku dipenjara." canda Lightning yang membuat si pangeran tertawa.

"Baiklah, Light."

"Jadi, aku harus apa?"

"Kau bisa memasak?" tanya Noctis dan menerima anggukan, "Okay, great! Kelihatannya kita tidak akan mati kelaparan selama perjalanan ini."

Lightning tertawa perlahan, "Baiklah, baiklah… Dimana bahannya?"

Noctis menunjuk kearah tas hitam kecil yang berisi perlengkapan masak, dan Lightning pun mengambilnya. Mereka melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing, yaitu; Lightning, memasak. Noctis, membuat tenda dan tempat perapian bagi sumber kehangatan. Mereka bercakap-cakap tentang pengalaman camping Noctis dan teman-teman. Tertawa dengan hal-hal lucu yang dikatakan kepada satu sama lain.

XIII-XV

"Makanan ini adalah makanan yang terenak yang pernah masuk mulutku." Seru Noctis, sambil melahap nasi goreng paela ala Lightning, dengan sehat.

Mereka telah selesai melaksanakan pekerjaan mereka masing-masing dan sekarang sedang duduk di tempat duduk yang di atur melingkari perapian. Menyantap makan malam di bawah langit malam dan menghirup udara laut yang segar, membuat suasana disekitar mereka begitu tentram.

"Kau berlebihan." Lightning memakan makanannya dengan biasa, "Ini biasa-biasa saja."

Noctis menelan nasi gorengnya, "Kau bercanda? Biasa-biasa saja? Ini sangat enak, Light! Temanku, Ignis, pasti akan senang bertemu denganmu!" ia tersenyum membayangkan Ignis dan Light, memasak bersama.

Light juga menelan makanannya, "Aku tak sabar bertemu teman-temanmu. Mereka terdengar sangat hebat." Ia tersenyum.

"Tentu saja! Mereka juga pasti tak sabar bertemu denganmu!"

Mereka kembali terdiam dengan tenang, sambil menikmati makanan masing-masing. Noctis karena kegirangan makan, Ia menghabisi makanannya dengan cepat, sehingga makanannya tersedak.

"uhuk! uhuk!" Noctis menepuk dadanya dengan kuat.

Lightning segera bergerak dengan cepat untuk mengambil air bagi Noctis. Ia menumpahkan air di gelas dan memberikannya kepada pria bersurai hitam itu. Noctis mengambil gelas itu dengan segera dan meminum airnya, tenggorokannya terbebas dari makanan enak yang jatuh ke perutnya, dan Light mengusap-usap belakangnya menenangi dia.

Noctis menghela napas lega, "Oh, God. Thanks, Light."

"Kau baik-baik saja?" Lightning menaruh tangannya di pundak Noctis.

"Ya…" Noctis tertawa pelan, "Makanan ini terlalu enak bagi dahagaku."

"Kau ini-" Lightning memukul pundaknya perlahan, membuat Noctis tertawa, "Dasar…"

"Maaf, Light." Ia tersenyum ringan, berdiri dan membawa piringnya ke tempat recycle.

Lightning kembali duduk di kursinya dan meneruskan makanannya yang sedikit. Noctis kembali dengan gelas air, ia kasih ke Lightning dan menerima anggukan terima kasih. Noctis kembali duduk dan menikmati pemandangan malam cerah dan Lightning yang indah. Makan pun, Lightning terlihat seperti ratu. Sopan dan elegan. Tidak seperti Noctis. Seorang Pangeran yang makan terlalu cepat sampai tersedak. Sungguh memalukan. Ia menutup mukanya dengan satu tangan. Lightning tersenyum kecil melihat si pangeran. wanita bersurai rosy-pink menyelesaikan mekanannya dan segera menaruhnya ke kotak recycle. Ia kembali duduk disamping Noctis.

Noctis menarik napas dalam-dalam, "Jadi, Light… um-" Ia mendapatkan perhatian si surai rosy-pink, "Kau berasal dari mana?"

Lightning diam dan berpikir sejenak, "Aku berasal dari sebuah dunia yang bernama Cocoon."

"Heeh," Noctis tersenyum, "Apakah disana indah?"

"Bisa di bilang begitu. Cocoon adalah dunia mengapung diatas dunia lain yang bernama Pulse." Lightning mengingat kembali, "Duniaku jauh lebih moderen daripada duniamu ini. Bahkan, lebih indah." Ia tersenyum mengejek. Noctis tertawa sarkastik.

Lightning tertawa lepas, "Maaf, Noct. Don't take it personal."

Noctis mengangkat alisnya, tersenyum senang, melihat Lightning tidak setegang tadi, "Terus?"

Lightning menyandarkan badannya lebih santai, menatap langit indah, "Sayang, aku menghancurkannya."

"…"

"Kenapa?"

"… Kau menghancurkan duniamu?"

"Ya. Tapi, tentu saja demi menyelamatkannya."

Noctis menatap Lightning dengan bingung dan kaget, "Maksudnya?"

"Dulu Cocoon dan Pulse sangat bermusuhan. Mereka saling mengutuki dan menakuti satu sama lain. Para fal'cie dari kedua dunia ingin mengakhiri peperangan itu dan mengutus orang-orang dari berbeda dunia untuk menjadi L'cie mereka."

"Fal'cie? L'cie?"

Lightning berpikir kata-kata yang tepat untuk menjelaskannya, "Hmm, bisa dibilang Fal'cie adalah penjaga dunia-dunia kita dan L'cie adalah orang-orang pilihan Fal'cie untuk menjaga ketentraman Cocoon dan Pulse."

"Oh! Jadi mereka seperti peacekeeper,begitu?"

"Sebenarnya begitu, tetapi, penguasa-penguasa kedua dunia adalah orang-orang jahat dan membuat image para L'cie sebagai penjahat."

"Hah?! Bagaimana bisa?"

"Dari zaman dahulu, mereka membuat para masyarakat kedua dunia saling membenci dengan menyebarkan cerita-cerita buruk, seperti, 'Orang-orang langit adalah iblis yang belum turun untuk menghancurkan Pulse', atau, 'Orang-orang tanah akan menjajah dunia langit dan membawa kehancuran bagi Cocoon', seperti begitu. Cerita-cerita seperti ini meneror masyarakat untuk saling membenci dan menakuti."

"… Jadi, kau menghancurkan duniamu untuk menghentikan pertikaian seperti itu?"

"Hmm… Tidak juga."

"Heh?"

"Aku sebenarnya ingin menyelamatkan adikku yang terpilih sebagai L'cie Pulse." Cerita Lightning dengan sedih, "Dulu, aku adalah prajurit tentara Cocoon yang sama memiliki tujuan untuk menjaga kedamaian Cocoon dengan menghancurkan para L'cie."

"Kau… Jadi, Light, kau bertugas untuk… menghancurkan adikmu sendiri?"

"…"

Noctis merasakan aura sedih yang terpapar di sekitar Lightning. Kepala berkulit putih cantiknya tertunduk kebawah dan matanya memandang api yang hangat, "… Ya. Aku ditugaskan untuk menghancurkan adikku sendiri."

"Astaga, Light…"

"Aku berkata hal-hal yang buruk padanya. Dia lari dari hadapanku bersama kekasihnya. Ia ditangkap oleh Fal'Cie Cocoon, sebelum kekasihnya dapat menyelamatkan dia." Lightning menutup matanya, mencoba mengingat salah satu kejadian yang terburuk dalam hidupnya, "Aku tak ingin kehilangan satu-satunya keluargaku, maka, aku pun berhenti dari Guardian Corps dan segera mencari Serah, adikku."

"Lightning…"

"Aku berhasil menemukannya tetapi, ia telah menyelesaikan focusnya dan berubah menjadi kristal. Itulah kisah akhir para L'cie yang berhasil menyelesaikan misi mereka."

"Apa misi- um, Focus Serah?"

"Ia berhasil keluar dari Fal'cie Cocoon dan menyampaikan kepadaku untuk menyelamatkan Cocoon." Lightning mengunci tangannya, "Aku dalam keadaan marah, tak tahu harus melakukan apa, melakukan hal yang bodoh juga."

"Kau? Melakukan hal yang bodoh?"

"Aku menantang dan menghancurkan Fal'Cie Cocoon dan menerima kutukan menjadi L'cie Pulse."

Mata Noctis terpapar kaget, "Kau juga menjadi L'cie?!"

Lightning mengangguk, "Ya. Aku menjadi L'cie. Focusku adalah menyelamatkan Cocoon."

Noctis terdiam. Kisah Lightning dan dunianya sangatlah menegangkan.

"Aku… Aku sangat takut saat mengetahui bahwa aku telah menjadi L'cie. Tapi, aku berharap jika, aku mampu menyelesaikan… Aku… Aku bisa menyelamatkan Serah." Terus Lightning dengan sangat hati-hati, tidak membuat kata-katanya tidak terdengar gemetar.

Noctis menatap kebawah. Ia merasa sedih melihat Lightning begini. Mungkin ia salah menanyakan hal ini. Tapi, Ia harus tahu.

"Aku berusaha menyelamatkan Cocoon dengan teman-temanku. Kami mengungkapkan kejahatan Kaisar Cocoon, namun, meskipun begitu, Cocoon masih tetap tidak mempercayai kami. Maka, kami pun tidak sengaja menghancurkan Cocoon sehingga hampir jatuh ke tanah Pulse. Dua temanku, Fang dan Vanille, menghentikan kehancuran total Cocoon dengan mengkristalkan diri mereka bersama Cocoon." Ia tersenyum mengingat hal ini, "Dengan begitu, kami telah menyelamatkan Cocoon dan Focus kami telah terpenuhi."

Noctis menatap bingung, "Kalau begitu… Light, seharusnya kau sudah-" Mata Noctis menatap takut, "Menjadi Kristal…"

Lightning tersenyum. "Ya. Tapi, sebuah keajaiban terjadi." Lightning meregangkan tangannya, "Kami di bebaskan. Kami dibebaskan dari Kristal kami, dan begitu juga Serah."

Noctis menghela napas lega, "Syukurlah…"

Lightning tersenyum melihat Noctis, ia terlihat seperti seorang pria yang hampir kehilangan nyawanya karena tegang. Apakah ia mengkhawatirkannya?

"Jadi, setelah itu, kau dan Serah hidup bahagia?" Tawar Noctis dengan senyuman.

Lightning menahan tawanya, "Noctis, kisahku tadi hanyalah chapter pertama dari duniaku."

"Heh?"

"Setelah menyelamatkan Cocoon. Pada hari yang sama, aku mengharapkan ketenangan. Tetapi, para dewa sepertinya membenciku." Tawa Lightning, "Kau masih ingin aku melanjutkannya?"

"Apakah kau bertanya padaku seperti itu karena kau sudah lelah atau tidak ingin mengatakannya?" Tawar Noctis dengan hati-hati. Kisah Lightning yang pertama sudah memilukan, ia bisa memberikan waktu untuk Lightning agar ia bisa menceritakannya di lain waktu mungkin.

"Hmm… Tidak kedua-duanya. Namun, harus ku katakan, kali ini, Chapterku tidak akan berakhir dengan indah…" Peringatan Lightning menusuk hati Noctis.

Noctis menarik napas dalam-dalam. Ia seperti akan mendengarkan cerita hantu yang sangat menyeramkan, "Ya. Aku siap."

Lightning menepuk pundaknya dan tersenyum sedih,

"Aku membunuh Serah."