Halo readers, sebenernya chapter 4 ini udah jadi dari dahulu kala.

Tapi maaf yaa baru update

So, enjoy the story! ;)

You're My Simplicity

Chapter 4

.

.

.

"Hyung!"aku membuka mataku dan menemukan tanganku berusaha menggapai langit-langit kamarku.

Aku terduduk lemas.

Kuatur nafasku yang tak beraturan. Keringat dingin mengucur dari tubuhku. Dan air..air mengalir di pipiku.

Aku menangis?

Kuraba wajahku dan mendapati mataku yang berair. Meneteskan air mata ke pipiku.

Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?

.

.

"Ada apa Changdola?"tanya ibuku saat kami sedang sarapan. Ia menatapku khawatir.

"Tidak ada apa-apa, umma"

"Lantas kenapa kamu tidak memakan sarapanmu?"ayahku kini yang bersuara "..kamu hanya memainkan sendok di atas piring seperti orang bodoh"

"Appa!"teriak ibu pada ayah

"Aku..hanya..sedang memikirkan sesuatu.."jawabku ragu

"Apa itu nak?"tanya ibu lembut

"Umma..Appa.. Siapa Tuan Jung?"tanyaku hati-hati

Seketika saja ayah dan ibuku mematung bisu. Wajah mereka benar-benar seperti melihat hantu.

Sedetik kemudian ayahku meletakkan sendok dan garpunya dan meninggalkan ruang makan. Tidak ada harapan lain, selain ibuku.

"Umma... siapa Tuan Jung umma?"tanyaku lagi pada ibuku.

Ibuku menatap nanar dan sedetik kemudian ia menangis. Aku tak tega melihatnya.

Kuhampiri ibuku dan kupeluknya.

"M...maaf...ma..af..."hanya itu yang bisa diucapkan umma disela tangisnya."...maafkan umma dan appa.."

.

.

Saat di kantor, pikiranku masih saja berkutat dengan mimpiku yang semalam. Dan kenapa ibuku menangis.

Aku rasa ada yang tidak beres dengan kehidupanku. Tapi apa, aku tidak tahu.

Kupejamkan mataku dan membayangkan mimpiku.

Tidak! Ini bukan mimpi. Ini nyata. Aku bisa melihat sebagai diriku sendiri. Aku ada di sana. Semua jelas tergambar.

Aku kembali teringat dengan anak itu. Tuan Muda Jung. Kenapa anak itu mirip sekali dengan...

Yunho

Deg!

Aku pun segera beranjak dari kursi dan meninggalkan kantor.

Aku melajukan mobilku dengan cepat. Aku tidak sabar bertemu dengan Yunho.

Aku hanya berharap bahwa firasatku ini salah.

Aku tidak ingin. Sama sekali tidak ingin menyakiti Yunho sedikitpun.

Namun saat akan tiba di ujung jalan, kulihat toko Yunho tutup.

Segera saja kuparkirkan mobilku dan berlari ke arah yang kutahu, rumah Yunho.

"Hyung..."aku mengetuk pintu rumahnya"..Hyung!"aku berteriak kali ini, mendengar tidak ada jawaban dari Yunho

Aku memegang handle pintu dan memutarnya.

Cklek!

Tidak dikunci

Langsung saja aku memasuki rumah itu dan menemukan sosok itu di sana.

Berbaring dengan selimut menutupi tubuhnya.

Agak gemetar. Atau menggigil?

"Hyung..."aku menghampirinya dan menyentuh keningnya.

"Minnie?"tanya Yunho dengan suara parau. Matanya yang berair berusaha menatapku lembut.

"Kau sakit hyung?..Aku akan membawamu ke dokter!"

"Tidak perlu minnie..aku tidak apa-apa.."

"Hyung! Kau sakit! Kau demam! Akan aku telepon dokter untuk datang kesini!"

Sebelum aku memencet tombol, Yunho mengambil ponselku.

"Aku bilang tidak perlu minnie..Aku hanya butuh istirahat.."Yunho menggenggam tangan kananku.

Seketika itu juga pipiku memanas dan jantungku berdegup kencang.

"Maukah kau menemaniku di sini, minnie?"

Entah apa yang salah dengan pendengaranku. Tapi kalimat pertanyaan itu terdengar seperti, Maukah kau menikah denganku,minnie?

Membuatku malu bukan main.

"Tentu saja hyung..aku akan di sini menemanimu.."

"terima kasih minnie.."kemudian ia tersenyum lembut sebelum akhirnya ia memejamkan matanya. Tertidur dengan tetap menggenggam tanganku di dadanya.

Tak lama kemudian aku bisa mendengar dengkuran khasnya.

Aku tersenyum melihatnya. Ekspresi wajah Yunho terlihat serius dalam tidurnya. Lucu sekali.

Aku pun mengambil ponselku dengan tangan yang bebas dan mengambil gambar wajahnya. Ia tampan. Tapi juga lucu. Aku terkekeh dalam hati.

Aku tidak pernah bosan memperhatikan wajahnya yang sedang terlelap seperti ini. Aku rasa, aku benar-benar tidak bisa menuruti perintah ibu.

Maafkan aku umma

.

.

Lima menit berlalu.

Tiba-tiba saja Yunho berteriak dalam tidurnya. Ia mengigau.

"Ummaaa... Appaaaa..Minnie!"ia mengeratkan genggamannya dengan tanganku.

"Kenapa aku disebut dalam mimpinya" pikirku heran

"Ummaaa...Appaaaa...Minnie...jangan tinggalkan aku!"

"Hyung..."aku berbisik pelan di telinganya.

Kulihat sebulir. 2 bulir. Air matanya jatuh menetes di pipinya

"Hyung...aku di sini.."aku kembali berbisik berusaha membangunkannya.

"Minnie...hiks...hiks.."

"Iya hyung..ini aku..buka matamu hyung.."kembali aku berbisik lembut.

Perlahan matanya pun membuka sedikit demi sedikit. Berusaha memastikan.

"Minnie!"Yunho bangkit dari tidurnya dan duduk menatapku

"Iya hyung..ini aku.."jawabku lembut.

Tiba-tiba saja Yunho memelukku erat. Erat sekali. Seperti tidak ingin melepaskan. Perlahan kurasakan bahuku basah.

"Aku di sini hyung.."Aku berusaha menenangkannya dan mengusap lembut punggungnya.

Kurasakan tubuhnya menjadi lebih rileks.

Aku pun melepaskan pelukan. Aku tidak mau Yunho mengetahui jantungku yang berdegup kencang di pelukannya.

Ia menatapku dari balik air matanya. Aku tidak sanggup melihatnya seperti ini.

Kubelai lembut wajahnya. Dan perlahan kuhapus air matanya dengan jemariku.

Ia diam saja. Seolah tak percaya yang sedang dilihatnya adalah aku. Ia tak henti menatapku lembut dan dalam.

Air matanya tak kunjung berhenti.

Aku tak tahan.

Sungguh aku tak tahan melihatnya terus menangis seperti ini. Satu bulir saja air mata yang menetes, serasa seperti satu bilah pedang menyayat hatiku.

Kudekatkan wajahku padanya. Aku sendiri tak yakin dengan apa yang kulakukan.

Hingga tiba-tiba saja bibirku menyentuh bibirnya. Lembut. Aku mengecupnya lembut.

Tak bertahan lama hingga kini bibirnya yang menekan bibirku. Bibirnya meminta lebih. Mata kami pun terpejam. Mencoba menikmati ciuman ini. Ciuman pertamaku.

Aku menjilat bibirnya lembut. Dan ia pun melakukan yang sama. Bisa kurasakan air matanya berhenti mengalir.

Ia mulai melumat bibirku. Panas tubuhnya sekarang menjalariku.

Kuraih tengkuknya dan ia mengeratkan pelukannya padaku.

Menciumnya seperti ini benar-benar membuat hatiku membuncah. Aku menikmati ciuman kami sekarang. Tidak ada lagi air mata yang mengalir di wajahnya. Aku yakin ia juga menikmati ciuman kami sekarang.

Lidahnya menjilat lembut bibir bawahku. Tanpa kusadari tubuhku bergetar saat merasakan itu.

Aku menekan tengkuknya lebih dalam. Ingin melumat bibirnya juga.

Aku ingin waktu berhenti untuk sementara waktu. Untuk kami, hanya aku dan Yunho.

Hingga akhirnya ciuman kami terpisah oleh kebutuhan udara yang sempat kami lupakan.

Ia meraih wajahku. Menatap lekat mataku sebelum akhirnya ia mengecup keningku. Kedua mataku. Hidungku. Kedua pipiku. Dan..

"Saranghae minnie..."ucapnya lembut sambil menatapku dalam

..kemudian ia mengecup bibirku.

.

.

Malam itu, aku tidur kembali di rumah Yunho.

Tapi berbeda dengan malam sebelumnya saat aku menginap di rumahnya.

Kali ini, kami saling berpelukan. Membenamkan wajahku di dada bidang Yunho. Aku suka sekali seperti ini. Nyaman sekali berada di pelukannya. Aku rasa, dalam pelukan Yunho lah tempat yang paling aman untukku.

Yunho yang tak henti mengecup kepalaku. Membelai lembut rambutku. Dan mengusap lembut punggungku.

Yunho menjelaskan. Semua yang terjadi.

Aku hanya mendengarkan dan mengangguk-angguk tanda mengerti.

Waktu kecil, tepatnya saat Yunho berulang tahun yang kedelapan. Aku, Yunho, dan kedua orangtuanya mengalami kecelakaan mobil saat akan menuju bandara. Saat itu, Yunho mengajakku jalan-jalan berkeliling eropa dengan orang tuanya.

Aku pun menjadi sedikit teringat akan kebaikan orang tua Yunho padaku saat aku dan Yunho masih kecil. Kala itu, Aku dan Yunho seperti tidak terpisahkan. Kemana-mana Yunho pasti akan selalu mengajakku. Tapi orang tua Yunho tak pernah melarang kami untuk dekat. Justru sebaliknya, orang tua Yunho selalu memberikan yang terbaik untukku. Bahkan aku sekolahkan di salah satu TK terbaik di Gwangju.

Akibat kecelakaan mobil itu, orang tua Yunho meninggal. Sedangkan aku dan Yunho mengalami amnesia.

Tiba-tiba saja Yunho ada di panti asuhan. Hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang penjual koran yang selalu melewati panti asuhan tempat Yunho berada. Dan penjual koran itu lalu mengadopsinya.

Saat ia bertemu denganku dan melihat sapu tanganku, ia sedikit mendapat ingatannya kembali.

Hingga ia akhirnya kembali ke Gwangju, tempat panti asuhannya dulu, sekaligus kota kelahirannya.

Di sanalah ia mendapat banyak informasi tentang keluarganya. Bahkan ia juga mengetahui bahwa ayah dan ibuku lah dalang dibalik kecelakaan itu. Kecelakaan yang hampir menewaskan anak mereka sendiri, yaitu Aku.

Karena kecelakaan itu, Yunho menjadi ahli waris satu-satunya dari kekayaan orangtuanya. Tapi Ayah dan ibuku kemudian membuat seolah-olah Yunho juga meninggal dalam kecelakaan itu, dan menitipkan Yunho di panti asuhan. Hingga akhirnya seluruh kekayaan Yunho diatas namakan pengasuh Yunho, yaitu ayah dan ibuku.

"Hyung.."aku mengeratkan pelukanku pada Yunho

"Iya minnie.."Yunho membelai lembut rambutku

"Aku minta maaf...tidak seharusnya aku bersenang-senang di atas penderitaanmu..dengan harta yang seharusnya menjadi milikmu.."

"Tidak apa-apa minnie..aku ikut senang kalau kamu senang.. "

"Tapi hyung..orang tuaku sudah jahat sekali!"

"mereka melakukan itu kan juga untukmu minnie.."

"Hyung! Kenapa kamu baik sekali sih!"teriakku kesal sambil mempoutkan bibirku

"Omooo..minnie-ku imut sekali kalau sedang kesal.."

"Hyung! jangan menggodaku! Aku serius! Pokoknya aku akan mengembalikan semua hartamu!"

Yunho tertawa ringan melihatku.

"minnie...dengarkan aku.."Yunho menatapku dalam "..ingat tidak bagaimana aku memberimu sapu tanganku?"

Aku memejamkan mataku. Berusaha mengingat-ingat kejadian 20 tahun yang lalu. Menyerah.

Aku menggeleng.

Yunho pun terkekeh.

"Aku yang menjahitkan inisial "Y" di sapu tangan itu. Kemudian aku memberikannya khusus untukmu. Karena itu adalah sapu tangan kesayanganku..."

Kemudian aku teringat kejadian itu...

"Minnie! Ini untukmu!"Yunho mengulurkan tangannya dengan saputangan di genggamannya

"Apa ini?"

"Saat ini memang hanya ini benda berharga yang aku punya. Tapi nanti aku berjanji akan memberikan semua yang aku punya untukmu"

*Flashback end

"Hmm hyung, lalu kamu mau memberiku apa sekarang? Koran bekas?"

Kami pun tertawa. Setelah tawa kami reda, aku menatapnya lekat.

"Tapi hyung, kamu tetap harus kembali mengambil hakmu!"aku bersiteguh

"Tidak minnie.. Aku memberikannya untukmu..itu janjiku padamu...Lagipula, aku hanya perlu kamu di sini..Di sisiku..selamanya"bisik Yunho dengan lembut

Pipiku mendadak panas sekali. Saking malunya aku membenamkan wajahku di leher Yunho.

"Aku tidak akan meninggalkanmu hyung, Saranghae..."

~END

.

.

Happy Endiiiiing. Lalala~~

Aku gak suka sad ending soalnya. hehe

Akhirnya Yunho memilih untuk tetap hidup sederhana dgn Changmin di sisinya.

First, aku terima kasih sekali untuk readers -terutama homin shipper dan hominoids- yang udah review. Gomawo *deep bow*

Tadinya aku mau update pas ultah Changmin oppa. Tapi sepertinya nanti aku mau publish new story aja.

So, review yaa :)