Summary : Cagalli berusaha mengerti kesibukan Athrun-kekasihnya sebagai seorang ketua OSIS. Tapi bagaimana jika Athrun terlalu sibuk sampai-sampai Cagalli merasa tidak dipedulikan olehnya? Mungkinkah Cagalli bisa bertahan? Atau kah dia mulai tergoda dengan cinta baru yang menyapanya?
Rate : T
Genre : Romance & Drama
Warning : AU, mungkin OOC.
Disclaimer : Clamp.
Trust You
"Biar aku saja yang menemaninya, sensei" sahut Shinn pada senseinya itu, kemudian beranjak dari tempat duduknya sambil merangkul Cagalli untuk menemaninya ke UKS.
Sesampainya di ruang UKS, ternyata ruangan itu sepi karena tidak ada seorang pun di sana, padahal sekolah sudah menyediakan satu orang untuk menjaga dan merawat siswa yang sakit di ruang itu. Tapi Shinn tidak terlalu mempersoalkan hal itu, yang penting baginya sekarang adalah keadaan Cagalli. Akhirnya Shinn membawa Cagalli untuk duduk di tepi kasur yang ada di ruang UKS itu.
"Kau istirahat saja di sini, nanti kalau ada apa-apa.. katakan saja padaku" ujar Shinn yang sangat perhatian pada sahabatnya yang satu ini.
"Iya,, aku mengerti. Sebaiknya kau kembali ke kelas saja, aku tidak ingin gara-gara aku,, kau malah ketinggalan pelajaran" balas Cagalli dengan senyum palsu.
"Hei.. jangan bersikap seolah kau baik-baik saja. Aku tahu, kau jadi begini pasti gara-gara kejadian di kantin tadi" ucap Shinn serius.
"Sudahlah.. aku sedang tidak ingin membicarakan hal itu. Aku ingin menenangkan pikiranku dulu" jawab Cagalli sambil berbaring di kasur dan membelakangi Shinn yang masih berdiri.
"Jadi jangan ganggu aku. Sebaiknya kau kembali saja ke kelas sana" sambugnya lagi.
"Baiklah, baiklah.. aku akan kembali ke kelas. Tapi ingat, kapan pun kau perlu,, aku pasti akan datang" ucap Shinn dengan senyum manisnya.
Cagalli tidak menjawab, dia lebih memilih diam dan menunggu sampai Shinn keluar dari ruangan itu. Tanpa Cagalli sadari, dia mulai meneteskan air mata lagi.
'Tidak, aku tidak boleh menangis. Aku harus kuat'
'Belum tentu berita itu benar. Selama aku tidak melihatnya secara langsung, aku akan tetap mempercayaimu, Athrun' batin Cagalli menyemangati dirinya sendiri.
~#####~
Bel pertanda waktu pulang sekolah telah berbunyi.
Sedikit demi sedikit siswa yang meninggalkan sekolah semakin banyak dan sekolah sudah sepi. Sepi bukan berarti tidak ada orang di sana, masih ada beberapa yang bertahan di sekolah karena alasan tertentu. Sebut saja Shinn dan Meyrin yang masih ada di kelas 2-2.
"Bodoh sekali kau, Shinn. Bisa-bisanya kau meninggalkan Cagalli di ruang UKS sendirian, bagaimana kalau terjadi apa-apa dengannya. Apalagi penjaga UKS kan sedang tidak ada" omel Meyrin pada Shinn sambil memasukkan buku-buku Cagalli ke dalam tas berwarna hitam milik Cagalli.
"Kau tenang saja, Meyrin. Kau tau sendiri kan, dia itu gadis yang kuat. Lagipula dia tidak ingin orang lain mengkhawatirkannya" jawab Shinn enteng yang sedang duduk di salah satu bangku di kelas itu.
"Tidak seperti kau yang sangat penakut kalau ditinggal sendirian" ejeknya pada Meyrin.
"Hhhh.. terserah kau sajalah. Aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu" balas Meyrin dengan tenang.
"Nah.. sudah selesai. Sekarang ayo kita temui Cagalli di UKS" sambungnya lagi.
"Sini, biar aku saja yang membawa tas itu" ucap Shinn sambil mengulurkan tangannya pada Meyrin.
"Ya sudahlah" jawab Meyrin seraya menyerahkan tas Cagalli pada Shinn.
Merekapun beranjak dari kelas itu menuju ruang UKS, tempat di mana Cagalli sedang menenangkan pikirannya.
Kriiiett… suara pintu UKS dibuka membuat Cagalli yang sedang duduk di kasur mengalihkan pandangannya ke pintu bercat putih itu.
"Hei Cagalli,, kau baik-baik saja kan?" ucap Meyrin yang tiba-tiba muncul dari balik pintu itu dan diikuti oleh Shinn di belakangnya.
"Ah iya,, aku baik-baik saja kok. Tadi aku hanya perlu istirahat saja" jawab Cagalli saat Meyrin duduk di tepi kasur.
"Syukurlah kalau begitu" balas Meyrin yang tiba-tiba memeluk Cagalli.
"Kau jangan cemas" ujar Cagalli melepaskan pelukan Meyrin padanya.
"Sudah ku bilang kan,, kalau Cagalli itu kuat. Jadi jangan terlalu dikhawatirkan" tiba-tiba Shinn menjawab.
"Iya. Iya.." ujar Meyrin agak cemberut.
"O iya, mengenai konser David Archuleta,, kau jadi ikut kan, Cagalli?" sambungnya lagi.
"Umm.. bagaimana ya,, sepertinya aku tidak jadi ikut. Aku baru ingat ada sesuatu yang harus ku kerjakan" jawab Cagalli agak pelan karena tidak ingin Meyrin kecewa.
"Oh begitu,, ya sudahlah tidak apa-apa. Nanti aku ajak yang lain saja" balas Meyrin disertai senyuman.
"Benar tidak apa-apa?" sahut Cagalli agak cemas.
"Iya, tidak apa-apa. Emm.. aku pulang duluan ya, aku harus siap-siap untuk menonton konser nanti malam. Shinn, jaga Cagalli baik-baik ya!" ucap Meyrin seraya berdiri dan pamit pulang pada Cagalli dan Shinn.
~#####~
"Baiklah,, kurasa sampai di sini dulu rapat hari ini. Besok ku harap semuanya bekerja sungguh-sungguh" ucap seorang laki-laki berambut biru tua. Setelah mendengar instruksi darinya, semua peserta rapat membubarkan diri.
Setelah ruangan OSIS itu sepi, Athrun segera berlari menyusuri koridor sekolah menuju kelas 2-2. Dia ingin menemui gadisnya. Gadis yang selalu mengisi hatinya. Gadis yang selalu dicintai dan dirindukannya. Ya,, dialah Cagalli Yula Athha.
Tapi saat tiba di tempat yang dituju, dia harus menerima kenyataan bahwa ruang itu sudah sepi dan tidak ada lagi orang di sana. Dia kecewa, sangat kecewa karena tidak berhasil menemui gadisnya.
'Ternyata dia sudah pulang' ucapnya dalam hati.
"Athrun, apa yang kau lakukan di sini?" tanya seseorang tiba-tiba dari belakang dan sukses membuatnya berbalik.
"Oh ternyata kau, Meer. Aku hanya sedang mencari Cagalli. Tapi sepertinya dia sudah pulang. Kau sendiri kenapa masih di sini?" tanyanya balik pada sosok yang ternyata adalah Meer.
"Umm.. aku sedang mencarimu" sahut Meer.
"Mencariku? Untuk apa?" tanya Athrun agak bingung.
"Kau lupa ya, kita kan harus mempersiapkan barang-barang untuk Pentas Seni besok" katanya pada Athrun.
"Lagipula, Kira dan Lacus sudah mengurus masalah dekorasi panggung. Jadi hanya tinggal kita yang harus mempersiapkan barang-barang lain" sambungnya lagi.
"O iya,, aku baru ingat. Baiklah, kita pergi sekarang" balas Athrun agak malas-malasan.
Mereka pun pergi berdua. Athrun pergi dengan hati yang kecewa karena gagal menemui Cagalli. Sedangkan Meer sangat senang karena bisa pergi dengan Athrun, selain itu juga karena Athrun tidak berhasil menemui Cagalli. Dalam hatinya, dia tersenyum puas…
~#####~
Di tempat lain…
"Baiklah, kalau begitu kita juga pulang. Kau masih kuat untuk berjalan kan, Cagalli?" tanya Shinn pada Cagalli.
"Tentu saja" jawab Cagalli santai sambil berdiri dari posisi duduknya tadi di kasur UKS.
Akhirnya Shinn dan Cagalli meninggalkan sekolah menggunakan BMW silver milik Shinn. Sambil menyetir, Shinn sesekali mencuri pandang pada Cagalli yang duduk di sampingnya,, tapi untungnya Cagalli tidak menyadari itu. Cagalli malah melamun sendiri, entah apa yang dipikirkannya.
"Hei Cagalli, jangan melamun terus! Nanti kau malah kerasukan roh halus" ujar Shinn menakut-nakuti Cagalli.
"Aku tidak takut. Paling-paling malah roh halus itu yang tidak berani padaku" sahut Cagalli dengan senyum meremehkan. Shinn agak terkikik mendengarnya.
"Emm,, Shinn?" panggil Cagalli pelan.
"Iya, ada apa?" jawab Shinn sambil tetap berkonsentrasi menyetir.
"Aku tidak ingin pulang dulu, aku mau pergi ke suatu tempat" kata Cagalli sambil menunduk.
"Memangnya mau ke mana?" sahut Shinn mulai penasaran.
"Nanti kau juga akan tau. Kau mau kan mengantarkan aku ke sana?" balas Cagalli yang semakin membuat Shinn penasaran.
"Baiklah, terserah padamu saja.. Tuan Putri" sahut Shinn yang sontak membuat wajah Cagalli memerah.
"Hei! Kenapa wajahmu tiba-tiba memerah seperti itu? Kau malu ya ku panggil seperti itu?" goda Shinn pada Cagalli setelah menyadari wajah Cagalli yang memerah.
"Ti.. tidak kok. Aku tidak malu. Jangan panggil aku seperti itu lagi, awas kau!" ancam Cagalli sambil mengeluarkan death-glarenya pada Shinn.
Shinn malah tertawa pada melihat tingkah Cagalli. Dia tidak pernah takut meskipun Cagalli mengeluarkan death-glarenya, yang membuatnya takut hanyalah saat Cagalli menangis. Hanya sebentar saja dia tertawa karena harus kembali berkonsentrasi pada jalan.
~#####~
Pukul 17.30..
"Huahh.. akhirnya sampai juga" kata Cagalli saat keluar dari mobil.
"Ternyata tempat ini masih seindah dulu. Tidak ada yang berubah" sambungnya lagi.
"Memangnya ini tempat apa, Cagalli?" tanya Shinn mengerutkan keningnya.
"Ini namanya Danau Minerva. Danau ini menyimpan banyak kenangan untukku" jawab Cagalli sambil berjalan ke tepi danau.
"Maksudmu,, kenangan bersama Athrun?" tebak Shinn yang kemudian menyusul Cagalli ke tepi danau.
"Ya begitulah,, salah satunya kenangan saat Athrun menyatakan perasaannya padaku" ujar Cagalli dengan tetap memandangi pemandangan indah di depannya.
Danau itu tidak terlalu luas dan diseberang danau itu terdapat sebuah gunung yang tidak terlalu tinggi. Dan lagi, danau itu dikelilingi oleh pepohonan dan bunga-bunga yang sedang bermekaran. Di tepi danau itu, terdapat sebuah perahu kecil yang bisa digunakan untuk menyebrang.
"Begitu ya,, pasti kau tidak akan pernah melupakan kejadian itu. Lagipula danau ini benar-benar indah, ku rasa aku akan betah berada di sini" ucap Shinn yang mengagumi keindahan danau itu.
"Ternyata Athrun orang yang romantis. Aku tidak menyangka di balik sifatnya yang misterius, dia adalah orang yang seromantis ini" sambung Shinn.
"Dia memang seperti itu. Payah sekali jika kau baru tau sekarang" ejek Cagalli pada Shinn.
"Kemarilah,, aku kan ceritakan bagaimana cara dia mengungkapkan perasaannya" kata Cagalli yang sudah berada di dekat perahu kecil yang ada di tepi danau, dan bersiap menaikinya.
"Hei! Kenapa malah naik itu?" tanya Shinn menghampiri Cagalli.
"Kau mau aku ceritakan atau tidak? Sekarang cepatlah naik perahu ini dan gunakan dayung itu" perintah Cagalli pada Shinn sambil menunjuk dayung yang ada di samping perahu.
"Iya iya, baiklah" ucap Shinn yang pasrah menuruti perintah Cagalli sambil naik perahu dan mendayung sekuat tenaga.
Setelah Shinn mendayung dengan sekuat tenaga, sampailah mereka di tengah-tengah danau. Cagalli akhirnya menceritakan pada Shinn bagaimana Athrun menyatakan perasaannya di tengah danau, tempat di mana mereka berada sekarang. Shinn memang mendengarkan cerita Cagalli dengan antusias, tapi sebenarnya hatinya sakit karena mendengar cerita itu.
Sebenarnya Shinn menyukai Cagalli sejak kecil, tapi dia baru menyadari perasaannya itu saat Cagalli sudah bersama Athrun. Karena dia merasa cemburu saat melihat Cagalli bersama Athrun. Tapi Shinn tidak ingin merusak hubungan Cagalli dan Athrun, karena yang paling penting baginya adalah kebahagiaan Cagalli. Selama Cagalli bahagia bersama Athrun, maka dia akan terus mendukung hubungan mereka.
~#####~
Pukul 19.00… di kediaman Yamato
Kira bersama ayah dan ibu angkatnya sedang berada di ruang makan, tentu saja untuk makan malam. Makan malam pada malam itu terasa sedikit berbeda karena anggota keluarga mereka yang tidak lengkap. Cagalli belum pulang meski pun sudah malam. Ayah dan ibunya sangat mengkhawatirkan Cagalli, belum lagi handphone Cagalli yang tidak aktif saat dihubungi, menambah kecemasan mereka.
"Kira, kau tau di mana Cagalli? Kenapa sampai saat ini dia belum pulang juga?" tanya sang ibu di sela-sela makannya.
"Kalau hal itu,, jujur saja aku tidak tau. Tapi Ibu tenang saja, Cagalli pasti bisa jaga diri" sahut Kira setelah meneguk minumannya.
"Tapi, kenapa dia belum memberi kabar ya?" tanya ibunya masih cemas.
"Memangnya kau tau dia pergi dengan siapa, Kira?" ujar Ayahnya juga ikut cemas.
"Emm,, mungkin dia sedang pergi dengan Shinn, mereka kan memang sering pergi bersama" Kira menuturkan.
"Lagipula Shinn itu kan orang yang baik, jadi dia pasti akan menjaga Cagalli. Selain itu, feelingku mengatakan kalau dia memang baik-baik saja" jelas Kira lagi di tengah aktifitas makannya.
"Ya sudah lah kalau feelingmu mengatakan seperti itu. O iya kenapa akhir-akhir ini Athrun jarang sekali datang ke rumah?" ujar ibunya yang sudah menyelesaikan makannya.
"Athrun pacar Cagalli itu kan? Benar juga, belakangan ini Ayah jarang sekali melihat dia datang kemari. Kau tau sesuatu, Kira?" kata Ayahnya yang ikut menanyakan hubungan Cagalli dengan Athrun.
"Umm,, mungkin karena Athrun sedang sibuk. Tapi Ayah dan Ibu tenang saja, hubungan mereka masih baik-baik saja kok" jawab Kira menyembunyikan keadaan yang sebenarnya.
"Oh begitu… kau sendiri, bagaimana perkembangan hubungannmu dengan Lacus?" tanya Ibunya lagi yang sontak membuat semburat merah muncul di wajah Kira.
"Emm.. itu,, kami juga baik-baik saja" jawab Kira malu-malu berusaha menyembunyikan semburat merah di wajahnya.
"Bagus lah kalau begitu,, hari Minggu nanti kau ajak Lacus kemari ya? Ibu dan Ayah ingin mengenalnya lebih dekat" tutur Ibunya lagi.
"I..iya,, nanti akan ku ajak dia kemari" sahut Kira yang semakin malu.
"Sepertinya sebentar lagi Ayah akan punya menantu,, hahaha" goda sang Ayah pada Kira sambil tertawa, sang ibu yang melihatnya hanya tersenyum saja menyadari anaknya sudah beranjak dewasa.
"Aayyahh.." sahut Kira asal karena sekarang wajahnya sudah semerah udang rebus yang diberi tomat.
Tidak lama setelah itu, makan malam yang penuh dengan kehangatan itu pun berakhir. Kira memilih duduk di sofa ruang tengah sambil nonton TV, sedangkan ibunya sedang sibuk mencuci piring di dapur dan ayahnya sedang sibuk di ruang kerjanya mempelajari beberapa dokumen karena beliau adalah seorang direktur di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang property.
Pukul 20.30…
Kira masih betah duduk di sofa sambil nonton TV, ibunya sudah terlelap tidur di kamar, sedangkan ayahnya masih berkutat dengan beberapa dokumen.
Tiba-tiba…
"Aku pulang..!" ucap Cagalli yang baru masuk ke dalam rumah.
"Hei Cagalli..!" sapa Kira saat Cagalli melewati ruang tengah, tempat ia nonton TV.
"Ada apa?" kata Cagalli menoleh sedikit kepada saudara kembarnya.
"Tadi yang mengantarmu pulang itu, Shinn ya?" tanya Kira sambil memencet tombol remote TV.
"Kalau kau sudah tau, untuk apa bertanya lagi. Memangnya kenapa?" tanya Cagalli balik dengan nada ketus.
"Tidak apa-apa sih,," katanya dengan cuek.
Cagalli hanya memutar bola matanya bosan, kemudian berlalu meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya.
'Sepertinya Athrun tidak menemui Cagalli, pasti dia sibuk lagi untuk besok' batin Kira setelah Cagalli meninggalkannya sendirian di ruang tengah.
Sementara itu, Cagalli yang sudah masuk ke kamarnya segera saja meletakkan tasnya di samping meja belajar. Kemudian dia berjalan ke kamar mandi, tentu saja untuk mandi melepaskan segala penat di tubuhnya.
Setelah selesai mandi dan berpakaian, Cagalli langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur tidurnya yang empuk. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar. Saat bosan dengan langit-langit kamar, dia mengalihkan pandangannya ke samping dan matanya tertuju pada sebuah foto yang berada di atas meja di samping kiri kasur. Cagalli bangkit dari kasur dan berjalan mengambil foto itu, fotonya bersama Athrun.
Kemudian dia duduk di tepi kasur dengan mendekap foto itu dalam pelukannya. Lalu sekali lagi merebahkan diri, perlahan dia pejamkan matanya sambil tetap mendekap foto itu berharap dapat bertemu dengan Athrun walau hanya dalam mimpi.
~#####~
"Huuhh,, lelah sekali..!" keluh seorang pemuda yang sedang menyetir mobil Mercedes Bens berwarna hitam miliknya.
"Sekarang sudah larut malam, apa aku masih bisa bertemu Cagalli di rumahnya? Bagaimana kalau ternyata dia sudah tidur?" pemuda itu berbicara tanpa ada lawan bicara.
"Seandainya saja tadi Meer tidak minta tolong diantarkan pulang, mungkin masih sempat bertemu Cagalli sebelum dia tidur" umpatnya menyesali keadaan.
"Hhhh.. mungkin besok saja aku menemui Cagalli, sekarang aku lelah sekali" katanya sambil berkonsentrasi menyetir.
'Tidak,, tidak,, pokoknya aku harus menemuinya sekarang juga. Aku tidak bisa menunggu sampai besok' batinnya coba memberontak pada keadaan tubuhnya yang lelah.
"Cagalli,, tunggu aku" sambungnya lagi, kemudian menghentikan mobilnya dan berbalik arah menuju rumah Cagalli.
~#####~
Pukul 22.00… di kediaman Yamato
Semua orang di rumah sudah tertidur lelap di kamar masing-masing, hanya Kira saja yang masih asik menyaksikan TV yang menayangkan film 'The Last Air Bender' yang diputar perdana disalah satu stasiun TV swasta.
Ting Tong…
Suara bel berbunyi memaksa Kira beranjak dari duduknya untuk mengetahui siapa yang datang ke rumahnya malam-malam begini. Setelah membuka pintu, Kira sedikit terkejut dengan kedatangan tamunya kali ini.
"Athrun?" sapanya agak kaget.
"Iya, ini aku. Umm,,, aku ingin bertemu Cagalli. Boleh tidak?" tanya Athrun minta izin pada Kira untuk menemui Cagalli.
"Cagalli sudah tidur,, tapi kalau kau memang ingin bertemu dengannya, aku akan membangunkannya" tawar Kira pada sahabatnya itu.
"Tidak usah, kau tidak perlu membangunkannya. Aku hanya ingin bertemu saja" tutur Athrun pada Kira.
"Baik,, masuklah. Aku antar ke kamar Cagalli" kata Kira sambil mempersilahkan Athrun masuk.
"Apa hanya kau saja yang belum tidur, Kira?" tanya Athrun setelah melihat suasana rumah yang sepi.
"Ya begitu lah…" kata Kira seadanya.
"Nah,, sudah sampai. Kau masuklah ke dalam, pintunya pasti tidak di kunci. Aku akan menunggu di luar kamar, memastikan kau tidak macam-macam pada Cagalli" sambung Kira setengah mengancam saat mereka sudah tiba di depan kamar Cagalli.
"Kau tenang saja, percayakan padaku" sahut Athrun dengan gaya cool-nya.
Setelah itu, Athrun masuk ke kamar Cagalli dan menutup pintunya tanpa dikunci. Ternyata Cagalli memang sudah tertidur pulas. Athrun berjalan mendekat dan duduk di tepi kasur dekat Cagalli. Athrun terus saja memperhatikan wajah Cagalli yang sedang tidur.
'Kau seperti malaikat,, ketika sedang tertidur' batin Athrun sambil mengelus rambut Cagalli.
Kemudian matanya menangkap sesuatu yang janggal. Dia bingung melihat Cagalli yang tidur sambil mendekap sebuah foto. Athrun memperhatikan foto itu dengan seksama, ternyata itu adalah foto dirinya bersama Cagalli. Timbul rasa bersalah di dalam hatinya.
"Cagalli, maafkan aku" ucapnya pelan karena tidak ingin membangunkan Cagalli.
Athrun kemudian berdiri untuk menarik selimut yang ada di bawah kaki Cagalli dan menyelimutkannya pada Cagalli.
"Ngh.." Cagalli menggeliat sedikit dalam tidurnya.
Athrun hanya tersenyum melihat Cagalli. Dia menunduk sedikit pada Cagalli lalu mengelus-elus rambutnya dan… mengecup kening Cagalli dengan pelan dan lembut, serta penuh perasaan.
"Selamat malam,,,,Cagalli" ucapnya setelah melepaskan kecupan di kening Cagalli yang hanya sebentar itu.
Setelah itu, dia berdiri dan berjalan menuju pintu kamar Cagalli untuk keluar. Tapi sebelum membukanya, Athrun berbalik sebentar untuk menatap malaikatnya yang sedang tidur. Kemudian dia hanya tersenyum simpul. Lalu membuka pintu dan menemui Kira yang sedari tadi sudah menunggunya di luar kamar.
Meskipun hanya sebentar, tapi itu pun sudah mengobati kerinduannya selama ini pada Cagalli. Athrun pulang dengan hati yang lega.
TBC
Maaf kalau chapter ini cenderung membosankan, karena saya membuatnya dengan otak yang hampir error setelah mengerjakan tugas biologi. Setelah ini, masih banyak tugas yang menanti untuk dikerjakan. Maaf kalau masih ada typo..
Mohon reviewnya atas chapter kali ini… ^_^
