Disclaimer: Naruto is Masashi Kishimoto's
Warning: A/U, OOC, flat-and-slow
Pairing: SasuHina
#####
Nyawa adalah penggantinya.
"Aaahh!"
Hinata melompat dari tidurnya. Mata lavendernya bergetar dan napasnya sedikit terengah.
'Benarkah..?'
Ia mengucek-ucek matanya untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih menyerang dirinya. Diliriknya jam yang tergantung di dinding. 'jam 6 pagi…'
Gadis Hyuuga itu beranjak dari tempat tidurnya.
'Tempat tidur…?'
Hinata terhenyak. Bukannya semalam ia tertidur bersandar ke dinding? Siapa yang memindahkannya? Dan lagi…
'Keningku hangat…' pikirnya seraya menyibak poninya, meletakkan telapak tangannya ke atas keningnya.
Dilayangkan pandangannya keluar jendela. Matanya tertuju ke arah dua sosok laki-laki dan seorang permepuan yang tengah menyapu. Hinata menatap mereka dalam diam sebelum melangkahkan kakinya menuju pintu kamarnya dan melenggang keluar. Koridor yang ia susuri menuntun dirinya ke tangga utama.
Setelah menuruni tangga tersebut, Hinata bergegas berjalan keluar dari rumah besar tersebut melalui pintu utama yang tidak dikunci. Suara deritan terdengar saat ia menggerakkan engsel-engsel yang ada pada pintu itu. Tak lupa ia meraih sebuah sapu yang tersandar di dinding sebelum menuju ke halaman belakang rumah besar itu.
#####
"Nnnnggghhhh…" erang Naruto sambil melemaskan otot-ototnya yang pegal. Bayangkan saja, kau ditugaskan untuk menyapu halaman seluas setengah lapangan bola kasti secara tiba-tiba oleh seorang nenek cerewet seperti Tsunade di hari sepagi ini!
Di kejauhan terlihat Sasuke dan Sakura yang juga sedang menyapu dalam ilusi keharmonisan belaka. Naruto mendengus kesal.
'Menyebalkan! Dia selalu saja berdua dengan Sasuke..! Apa bagusnya sih laki-laki itu?'
Merasa ada yang memperhatikannya, Sasuke mendongakkan kepalanya dan bertatapan dengan Naruto yang tengah mengobarkan api pertarungan dari sekujur tubuhnya. Ia menaikkan sebelah alisnya.
"Apa?" tanyanya datar.
"Lihat saja! Akan kukalahkan kau, Sasuke!" geram Naruto. Akhirnya, dengan semangat dan kecepatan tinggi, Naruto menyapu seluruh dedaunan yang berguguran. Debu-debupun beterbangan kemana-mana.
" Berhenti—Uhuk! Uhuk! Naru—Uhuk! to! Apa yang kau laku—Uhuk! kan bodoh!" hampir bersamaan, Sasuke dan Sakura meneriaki Naruto yang tengah menyapu dengan tenaga kudanya, tidak menghiraukan kekacauan yang ia buat.
"AKU BILANG BERHENTI BODOH!" seru Sakura yang di dahinya telah muncul urat-urat kemarahan.
BLETAK!
"Aduh! Sakit Sakura!" laki-laki berambut jabrik kuning itupun berhasil mendapatkan sebuah benjolan besar di puncak kepalanya.
"Lihat apa yang kau perbuat!" seru Sakura lagi, matanya berkilat-kilat marah.
"Eh?" Naruto mengedarkan pandangannya. Benar saja. Alih-alih bersih, yang ada malah semakin kotor. Dedaunan gugur yang telah mereka sapu dan ditumpukkan menjadi satu, kini kembali berserakan. Debu-debu menempel pada tanaman yang ada di halaman kediaman klan Konoha tersebut. Termasuk Sakura dan Sasuke.
"Naruto… kau…" geram Sasuke, tangannya sudah gatal ingin menghajar temannya itu. Namun diurungkan niatnya tersebut. Ga elit banget, bila seorang Uchiha sepertinya terprovokasi oleh masalah seperti ini.
Srek! Srek!
Tiga sekawan yang tengah menatap kerja keras mereka yang telah kembali ke bentuk asalnya—serakan daun tersebut dengan pasrah, secara serentak melayangkan pandangannya ke asal suara gesekan sapu yang terdengar. Terlihatlah seorang perempuan berambut indigo pendek dan mengenakan yukata berwarna biru muda yang sedang menyapu dengan tenangnya.
Srek! Srek!
"Hinata?" ujar Sakura terpaku. Yang bersangkutan malah tersenyum simpul.
"Ku-kupikir, a-akan lebih c-cepat selesai jika banyak orang yang mengerjakannya.." ujar Hinata tulus dan kembali menyapu.
'Kenapa kami tidak menyadari kehadiranmu?' tanya Sakura dan Naruto dalam hati.
Sasuke menatap Hinata yang tengah menyapu dengan gerakan berirama. Matanya menatap sosok gadis itu dengan pandangan tak terbaca. Ia sedikit tersentak kaget ketika Hinata membalikkan tubuh dan menghadap ke arah dirinya, lebih tepatnya ke arah mereka bertiga.
"D-dan, mungkin lebih baik kalian membersihkan diri setelah ini. B-banyak debu yang menempel d-di sekujur tubuh k-kalian." saran Hinata lagi, dengan wajahnya yang polos.
Seketika itu juga Sakura dan Sasuke menatap tajam ke arah Naruto. Laki-laki berambut jabrik kuning itu menyadari aura membunuh yang mengoar keluar dari tubuh kedua sahabatnya dan telah siap menerkamnya.
Kami-sama! Aku belum mau matiiii!
#####
Dengan telaten Hinata membersihkan debu-debu yang menempel pada tanaman-tanaman yang kebanyakan berjenis bonsai, anggrek dan ajisai itu dengan kain yang terlebih dahulu ia basahi dengan air. Tangan mungilnya bergerak lincah di antara dedaunan. Sesekali ia menyemprotkan air ke kelopak bunga yang tertempeli oleh debu.
Sakura, Sasuke, dan Naruto telah menghilang untuk membersihkan diri mereka dari debu-debu yang menempel di tubuh mereka. Oleh sebab itulah, seorang diri ia membersihkan tanaman-tanaman itu.
Saking asyiknya membersihkan debu-debu dari tanaman, Hinata tidak menyadari seseorang yang datang mendekatinya. Laki-laki itu menggenggam sehelai kain.
"Biar kubantu."
Tentu saja ucapan laki-laki itu membuat Hinata kaget setengah mati. Ia menoleh ke arah sumber suara tersebut. Di sampingnya, seorang laki-laki berambut raven mencelupkan kain yang ia bawa ke ember air, memerasnya, dan mulai mengelap debu-debu yang ada pada tanaman-tanaman itu.
"Eh! I-itu..!" seketika itu juga tangan Hinata berhenti bekerja. Ia masih diliputi rasa kaget.
Gadis itu diam sejenak, sebelum menunduk dan melanjutkan kegiatannya membersihkan tanaman, "Te-terima k-kasih."
"Hn." Singkat, padat, dan jelas sekali ucapan Sasuke tersebut.
Mereka berdua bekerja dalam diam. Hinata merasa sedikit canggung dengan kesunyian di antara mereka. Iapun berinisiatif untuk memulai sebuah percakapan.
"Ah, n-na—"
"Uchiha Sasuke." potong Sasuke tanpa melirik ke arah Hinata.
"E-eh? M-maaf?" Hinata memandang Sasuke dengan bingung.
Masih tidak melirik ke arah Hinata, Sasuke membuka mulutnya.
"Uchiha Sasuke. Namaku Uchiha Sasuke."
Hinatapun ber-oh, "O-ohh.. s-salam kenal. A-aku Hyuuga Hi-Hinata." ucap Hinata terbata-bata. Pipinya sedikit memerah menahan rasa gugupnya.
"Hn. Aku sudah tahu." Jawab Sasuke datar, membuat Hinata menunduk. Menyembunyikan rasa malunya. Tentu saja banyak orang yang tahu mengenai dirinya. Satu-satunya penghuni Mizuyose Jinja yang selamat.
"O-ohh, be-begitu ya…" kesunyianpun kembali datang menghampiri mereka, membuat Hinata kembali tidak nyaman. Ingin sekali ia cepat-cepat menyelesaikan kegiatannya ini. Gadis itupun hanya diam sambil menggerakkan kembali tangannya.
"Apa… laki-laki bernama Hyuuga Neji itu kakakmu?"
"Eh?" Hinata menatap Sasuke. Kini laki-laki itu menatap lurus ke arahnya. Hinata dapat melihat jelas warna hitam kelam pada mata onyx Sasuke.
"D-dia sepupuku." jawab Hinata sambil menyembunyikan wajahnya dari tatapan Sasuke yang terkesan mengintimidasi. Begitu pula dengan Sasuke, ia menyibukkan kembali dirinya dengan daun-daun bunga anggrek yang masih berdebu.
Kesunyian kembali melanda mereka berdua. Namun kesunyian itu pecah oleh suara lembut Hinata.
"K-kenapa Uchiha-san bertanya?" tanya Hinata, jari telunjuknya saling beradu satu sama lain. Ia menatap Sasuke dari pinggir matanya.
"Tidak. Bukan apa-apa." jawab laki-laki itu singkat.
"Pasti senang sekali mempunyai saudara." ujar Sasuke pelan, namun masih dapat di dengar oleh telinga Hinata yang berdiri di sampingnya.
Hinata mendongakkan wajahnya dan menatap lekat wajah Uchiha tersebut. Entah kenapa, gadis tersebut dapat merasakan suatu kepiluan dari pancaran mata pemuda tersebut.
"Memangnya… k-kamu tidak mempunyai s-saudara?"
Namun Sasuke menanggapi dingin pertanyaan Hinata, "Bukan urusanmu."
Laki-laki itu kembali melanjutkan pekerjaannya. Hinata hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia mengikuti apa yang pemuda itu lakukan, melanjutkan menyeka daun bunga anggrek. Kini ia beralih ke bunga ajisai.
Tak berapa lama kemudian, Hinata dan Sasuke menyelesaikan pekerjaannya. Kini semua tanaman terlihat bersih berkilau.
"Te-terima kasih Uchiha-san.." ujar Hinata sambil membungkukkan badannya.
"Hn." pemuda itu menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Ia berdiri memandang tanaman-tanaman tersebut dan gadis Hyuuga itu berdiri di sampingnya, ikut memandangi tanaman-tanaman yang telah bersih dari debu.
"Hyuuga."
Hinata mengalihkan pandangannya ke arah Sasuke, "Y-ya?"
"Terima kasih sudah menolong kami menyapu halaman." ujar Sasuke, samar-samar terlihat sedikit semburat merah di pipi laki-laki itu. Hinata tertegun melihatnya dan tanpa ia sadari, tangannya bergerak sendiri dan mengacak-acak rambut hitam Sasuke, seperti yang dilakukan seorang kakak kepada adiknya. Ia tersenyum senang.
"Terima kasih kembali, Uchiha-san."
#####
Kakashi berjalan sambil membawa beberapa dokumen tebal yang akan ia serahkan kepada Tsunade. Pikirannya melayang kepada kejadian tadi malam.
FLASHBACK::
Kakashi terdiam mendengar perkataan wanita berkimono itu. Apa dia tidak salah dengar?
"Nyawa adalah penggantinya."
Pria itu berusaha mempertajam pendengarannya, namun suara Hinata dan wanita itu terdengar samar-samar, seperti terhalang sesuatu.
"Nya…wa?" ujar Hinata tertegun. Ia menatap lurus ke arah mata wanita itu, mencari sebuah pembenaran pada tiga kalimat itu.
"Kau harus mengorbankan tubuhmu sebagai medianya, Hyuuga Hinata-san." jawab sang dewi air. Ia bergerak lembut mengikuti alunan gelombang air yang menerpa dirinya.
Hinata terdiam, sesaat kemudian ia mendongakkan kepalanya.
"Jika penyegelan itu gagal.. a-apa yang akan t-terjadi?"
Sang dewi air tersenyum ke arah Miko kecil yang ada di hadapannya ini. Ia merendahkan sedikit tubuhnya agar sejajar dengan Hinata.
"Hyuuga Hinata-san, ini sudah waktunya untuk kau tidur."
"Eh? Maksud anda… Suijin-sama?" tanya Hinata heran. Yang tidak ia ketahui, sang dewi air menatap lurus ke arah Kakashi yang berada jauh di belakang Hinata.
Kakashi yang menyadarinya, bergegas memejamkan matanya.
'Kai!'
END FLASHBACK::
Pria berambut silver itu mengacak rambut depannya. Tak ia sangka, maksudnya hanya untuk membaca ingatan gadis itu malah membawanya ke alam mimpi sang gadis. Iapun juga tak mengira, kalau saat itu gadis tersebut mengalami Kamigakari.
Saat itu, setelah keluar dari alam mimpi Hinata. Ia bergegas meninggalkan kamar gadis itu dan menuju kamarnya untuk beristirahat. Untunglah sang dewi air tidak mendatanginya ke dalam mimpi.
Kakashi terus melangkahkan kakinya dengan santai, satu tangan terselip di saku celananya, sementara satu tangan yang lain menopang dokumen tebal yang ia bawa. Ia melewati pelataran yang menghadap langsung ke halaman belakang kediaman klan Konoha.
"Terima kasih kembali, Uchiha-san."
Kaki Kakashi berhenti melangkah, diganti dengan matanya yang bergerak menatap dua orang yang sedang berdiri di depan tanaman bunga ajisai. Dimatanya, tertangkap Hinata yang sedang mengacak-acak rambut Sasuke, sementara pemuda raven itu hanya berdiri dan tidak berbuat apa-apa. Menatap takjub ke arah Hinata. Yah, seperti itulah yang tertangkap oleh mata Kakashi.
Kakashi dibuatnya tercengang oleh pemandangan itu.
'Kami-sama… baru kali ini aku melihat Sasuke tidak melakukan apa-apa saat seorang perempuan menyentuhnya. Biasanya dia akan menepis keras tangan lawan jenisnya dan berjalan pergi, tapi kali ini…'
Kakashi menelan air ludahnya dan mengeringkan kerongkongannya, masih tidak percaya dengan penglihatan matanya.
'Oh tidak… jangan katakan kiamat akan segera datang!'
#####
Reviewers:
Ulva-chan terima kasih yo atas review dan pujiannya. Hehehe, gak nyangka juga aku minjem sejarah Jepang, nohiru hikari Ahaha, begitukah? Terima kasih dattebayou! Tapi jangan lupa bayaran untuk ramennya yaaaaa… *senyumiblis*Wah, kalau saya, Hinata pairing apapun suka. Tapi tetep ada kecualinya sih. Hehe, Kaka hihihi, author malah gak kasihan ma Hinata *digeplak Neji* sip, ini udah update XD
A/N:
Maaf lama update, salahkanlah modem dan kemalasan saya, hehehe. Ini nih, kalau udah masuk FFn pasti kerjaannya baca fanfic aja. Update lama *pundung* Ah, yang penting, mohon dinikmati! Harap-harap kalian suka~ Maaf kalau yang kali ini agak pendek -.-U
