Hi there. Arisa is here. Sempat gak ada ide untuk chapter ini, tapi akhirnya saya bisa melanjutkan chapter ini. Untuk chapter sebelumnya saya minta maaf karena masih ada typo (mungkin saya harus buat quiz untuk bisa melihat ada berapa typo yang ada dalam 1 chapter -,-"). Dan terima kasih sudah mau menebak pertanyaan saya. Yup, uang yang dikirim tiap bulan ke Gilbert dan Ludwig berasal dari gaji Gilbert. Sayangnya masih belum ada yang berhasil menjawab apa yang terjadi dengan ayah mereka. Kalau masih ada yang mau menjawab, dipersilahkan loh.
aruyo : setelah saya cek kembali, ternyata ada yang lain dan ada beberapa kata yang seharusnya ada tapi tidak saya tulis, huwaaa. Menurut saya ada bukan heartless, tapi berhati kuat. Puk puk, waktu kelas 1 saya mengalami hal yang sama. Sampai maag saya kambuh. Maka dari itu saya pilih ips *ikutan curhat. Tebakan anda benar! Thanks for the review.
c-445 : saya juga merasakan hal yang sama. Tapi karena saya anak sulung, saya tidak dibanding-bandingkan dengan kakak. Tapi dengan ibu. Iya setting-nya ke English, bukan Bahasa, makanya banyak yang typo. Tapi untuk chapter ini, saya mengerjakannya lewat hp dengan harapan typo berkurang. Thanks for the review
kwon eun soo : anda benaaar! untuk alasan Gilbo membawa Ludwig keluar dari rumah, saya rencanakan ada di chapter 6. Thanks for the review.
unknowners : *baca review dari anda, dan saya berfikir untuk buat Arthur yandere juga. Kita senasib! *tos. Thanks for review.
warning : saya sempat baca fanfic NetCan dan entah kenapa saya suka ._. dan saya berkeinginan Canada nanti dengan Netherland (semoga kesampaian).
disclaimer : I own nothing.
Chapter 4 : I want to be with my brother and my father, always.
Arthur melipatkan kedua tangannya saat berdiri di depan pintu kamar mandi. Handuk menutupi lehernya dan kaki kanannya mengetuk lantai kayu. "ALFREEED! BURUAAAN! JANGAN TERLALU LAMA DI KAMAR MANDI!" tak sabar, Arthur berteriak sambil memukul pintu kamar mandi dengan keras.
"DIAM ARTIE! AKU BARU MASUK!" balas Alfred ikut berteriak dari dalam kamar mandi.
"BOHONG KAU! KAU SUDAH ADA DI DALAM SELAMA 15 MENIIIT! BURUAAAN!"
"Iya iya! kau sarapan dulu saja!" Arthur menghela nafas saat mendengar teriakan Alfred. Membiarkan Alfred masuk ke kamar mandi sebelum dia adalah kesalahan besar yang ia lakukan pagi ini. Arthur mengalah. Ia berjalan menuju meja makan tempat pancake vanila buatan Matthew menunggu.
"Oh, ayah. Sudah selesai mandi?" saat duduk di kursi meja makan, Arthur melihat Matthew sedang mengeringkan piring yang sudah ia cuci.
"Belum. Alfred menyuruhku untuk sarapan dulu. Astaga, ayah macam apa aku ini yang mau diatur dan diperintah oleh anaknya sendiri." keluh Arthur sambil memotong pancake nya dan melahapanya. Matthew hanya tertawa mendengarnya. Melihat tawa Matthew, Arthur tersenyum. Setidaknya Matthew lebih dewasa daripada Alfred dan senyuman Matthew bisa menenangkan hatinya. "Bagaimana sekolahmu, Matthew?" tanya Arthur membuka pembicaraan setelah mereka diam untuk beberapa saat.
Matthew yang berdiri membelakangi Arthur sedikit kaget dengan pertanyaan ayahnya. Karena tak biasanya Arthur bertanya tentang kehidupan sekolahnya. "Ba.. baik." jawab Matthew gugup. Selain Alfred, Matthew juga tak ingin Arthur tahu apa yang dialaminya di sekolah.
"Benarkah? bagaimana dengan pelajaran? aku bisa membantumu jika ada pelajaran yang sulit." kata Arthur sambil membersihkn mulutnya dengan tissue karena ia merasa ada sirup vanila di sekitar bibirnya.
Masih membelakangi Arthur, Matthew menggeleng. "Tidak. Aku bisa sendiri. Lebih baik kau segera habiskan sarapanmu, ayah. Kak Alfred sudah keluar dari kamar mandi." kata Matthew mengingatkan. Arthur melihat ke arah kamar mandi yang pintunya terbuka lebar.
"Oh, kau benar." Arthur mempercepat memakan sarapannya. Begitu piringnya sudah kosong, Arthur bergegas menuju kamar mandi supaya tidak terlambat berangkat kerja. "Oh, Matthew." langkah Arthur terhenti tepat sebelum memasuki kamar mandi. "Hati-hati di jalan! selamat jalan!" kata Arthur yang kemudian menutup pintu kamar mandi.
Matthew terdiam saat mendengar ucapan Arthur. Rasa bersalah sedikit menyelimutinya saat ia tahu ia telah berbohong pada ayahnya. Ia ingin bicara jujur pada Arthur. Tentang teman-temannya yang selalu memanfaatkannya, tentang guru-guru yang selalu membandingkan dirinya dengan Alfred. Namun saat ia ingin bercerita, ia selalu melihat wajah Arthur yang lelah sehabis bekerja, ia mengurungkan niatnya. Matthew tahu menjadi orang tua tunggal dengan dua anak tidaklah mudah. Arthur bersusah payah untuk menghidupi mereka dan menjadi ayah yang sempurna. Karena itu Matthew tidak akan bilang supaya tidak menambah beban Arthur.
"Oi Mattie, apa yang kau lakukan? ayo berangkat sekolah!" suara Alfred membuyarkan lamunan Matthew.
"Tunggu sebentar, kak." Matthew mengambil tas sekolahnya yang ada di meja makan, kemudian berjalan keluar rumah tempat kakaknya menunggu. Di luar, setelah melihat adiknya keluar, Alfred langsung menarik tangan Matthew dan menggenggamnya.
"Matt," Alfred merasa ada yang aneh dengan tangan Matthew saat ia menggenggam tangannya. "kenapa tanganmu dingin?"
"Hah? dingin? yang benar? aku merasa biasa saja. Mungkin karena tadi tanganku kena air." kata Matthew yang bingung dengan pertanyaan Alfred. Alfred merasa perasaannya tidak enak. Tapi ia berusaha menghilangkannya.
"Ya sudah. Ayo kita berangkat."
X
Selama perjalanan menuju sekolah, banyak orang yang menyapa Alfred. Entah itu polisi, tukang roti, ataupun anak kecil. Dan Alfred selalu membalas sapaan mereka dengan ramah. Sedangkan Matthew, ia hanya menundukkan kepalanya. Karena setelah menyapa Alfred, orang-orang akan membicarakan Matthew dengan tatapan yang menyedihkan.
"Hei, lihat! itu Matthew! ia terlihat lemah seperti biasanya ya."kata salah satu polisi yang menyapa Alfred kepada temannya.
"Kau benar. Sepertinya ia masih menyusahkan Alfred." atau saat Alfred disapa oleh anak kecil.
"Halo Kak Alfred!"
"Hei, kau tak sapa Matthew?" tanya temannya.
"Untuk apa? ia terlihat lemah. Aku saja lebih kuat darinya." Matthew sedih mendengarnya. Tapi ia tak bisa menolak karena ucapan mereka benar. Tubuh Matthew lemah. Ia tidak bisa bertengkar dan berbuat kasar seperti Alfred. Dan ia adalah tipe orang yang tidak bisa menolak. Sehingga jika ada orang yang memarahinya, ia akan bilang bahwa itu adalah kesalahannya.
Matthew melihat ke arah Alfred, untuk melihat reaksi Alfred. Namun sepertinya Alfred tidak tahu bahwa orang-orang membicarakan Matthew di belakang Alfred. Matthew sedikit lega, karena ia tak mau paginya diawali dengan kerusuhan yang dibuat Alfred hanya karena dirinya. Tak terasa, sekolah sudah ada di depan mereka. Dan Matthew melihat Natalya sedang berdiri di depan gerbang sekolah.
"Hai, Natalie!" sapa Alfred ramah.
"Matthew, istirahat nanti aku ingin bicara padamu di atap sekolah." kata Natalya tanpa membalas sapaan dari Alfred.
"Untuk apa?" tanya Alfred bingung.
"Bukan urusanmu." jawab Natalya dengan ketus kemudian pergi meninggalkan Alfred dan Matthew. Tapi, baru beberapa langkah berjalan, Natalya harus berhenti berjalan karena ada beberapa siswa laki-laki yang dikenal sebagai 'Nat FC' menyapa Natalya.
"Pagi Natalie." sapa mereka.
"Pagi." jawab Natalya pendek.
"Pagi ini kau memakai jepit rambut baru ya?" tanya siswa yang betubuh pendek dan memakai kacamata.
"Iya. Kak Ivan baru membelinnya kemarin. Dan aku sangat menyukainya. Bagus kan?" tanya Natalya sambil memamerkan jepit rambut barunya. Sekeliling Natalya mendadak hening setelah Natalya menyebutkan nama kakak laki-lakinya. Karena mereka tahu betapa seramnya Ivan.
"Hari ini kita buatkan bekal untukmu loh." kata siswa yang bertubuh tinggi dan mempunyai wajah yang berjerawat.
"Wah maaf, hari ini aku ada acara dengan Matthew saat istirahat, jadi tak bisa. Sudah dulu ya." kata Natalya kemudian pergi meninggalkan para penggemarnya. Para penggemar Natalya langsung menoleh ke arah Matthew dengan tatapan yang menyeramkan. Matthew bersembunyi di belakang kakaknya, yang tak tahu bahwa adiknya dalam bahaya saat istirahat nanti.
X
"Mom, kita sudah sampai." kata Arthur yang membangunkan ibunya yang sedang tertidur di bangku penumpang mobil yang baru saja Arthur beli minggu lalu, hasil dari gaji pertamanya bekerja di perusahaan ternama. "Benar ini tempatnya?" tanya Arthur saat melihat rumah berpagar hitam, bercat putih dan mempunyai taman yang luas.
Nyonya Cristine ikut melihat bangunan yang ada di depannya. "Benar." jawabnya kemudian turun dari mobil. "Ini panti asuhan yang pernah kukunjungi. Pokoknya Artie, kau harus memilih anak yang lucu. Laki-laki atau perempuan terserah. Kau mau mengadopsi bayi juga tak apa." kata Nyonya Cristine dengan nada senang.
"Mama kan tahu pekerjaanku sangat sibuk. Tak mungkin bisa mengurus bayi. Dan aku tak percaya pada pelayan yang bertugas merawat anak." keluh Arthur sambil membuka pintu pagar dan membiarkan ibunya masuk terlebih dahulu.
"Aku bisa mengurusnya!" Arthur menghela nafas mendengarnya. Ia tahu ibunya bisa merawat bayi seorang diri, karena ibunya sudah merawat dirinya seorang diri sejak ayahnya meninggal. Tapi usia ibunya sudah tua dan ia tak tega melihat ibunya merawat anak seorang diri lagi. ."Ah, itu Lili!" seru ibunya saat melihat seorang wanita berambut pendek sedang bermain dengan anak-anak di taman.
Arthur dan ibunya berjalan menghampiri Lili yang tampaknya sedang kerepotan. "Lili!" Nyonya Cristine berteriak memanggil Lili, membuat Lili menoleh ke arah mereka kemudian menghampiri mereka. Nyonya Cristine langsung memeluk Lili saat Lili sudah ada di hadapan mereka. "Wah, apa kabarnya, Lili? sudah lama sekali kita tidak bertemu!"
"Ma, ia tidak bisa bernafas." kata Arthur yang melihat Lili sulit bernafas karena ibunya memeluknya terlalu erat.
"Huwa! maaf!" Lili hanya tersenyum.
"Tidak apa. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Lili.
"Aku ingin mengadopsi anak untuk anakku, Arthur." kata Nyonya Cristine sambil memperkenalkan Arthur.
"Arthur Kirkland." kata Arthur memperkenalkan dirinya sambil memberikan tangan kanannya.
"Lili Zwingli." Lili menjabat tangannya sambil tersenyum. "Kalau begitu ayo kita ke kantor terlebih dahulu." ucap Lili sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Arthur dan ibunya mengikutinya dari belakang. Nyonya Cristine tak henti-hentinya berbicara pada Lili, sedangkan Arthur hanya diam di belakang mereka sambil melihat pemandangan taman.
Sejak tahu dirinya tak bisa menyukai perempuan, Arthur tak membanyangkan ia akan punya anak nantinya. Ia juga tak berani mengaku pada ibunya, karena ia tahu menjadi gay akan membuat ibunya sedih dan ia sangat sayang pada ibunya. Tapi ternyata ia salah. Kemarin, saat ia mengaku pada ibunya bahwa ia tak bisa menyukai perempuan, ibunya hanya memeluknya sambil berbisik, "Tak apa. Ibu akan melindungimu jika ada orang yang bilang kau aneh dan menyakitimu. Kau masih punya ibu." Arthur menangis mendengarnya. Ia tak menyangka ibunya akan berkata seperti itu. Ia menangis di pelukan ibunya sambil meminta maaf.
Setelah tenang, Nyonya Cristine melepas pelukannya dan menggenggam erat kedua tangan Arthur. "Artie, ibu tahu kau tak akan menikah dan punya anak dari istrimu nantinya. Tapi ibu tetap inginkan cucu. Besok kita adopsi anak, ya."Arthur menganguk pelan. Semua akan ia lakukan untuk ibunya yang sudah menerima ia apa adanya.
Dan di sinilah ia sekarang. Di panti asuhan yang pernah ibunya kunjungi dalam rangka bhakti sosial. Ia tak tahu akan mengadopsi anak yang seperti apa. Ia hanya ingin anaknya nanti bisa membuat ibunya senang. Untuk urusan adopsi hari ini, sepertinya ia akan menyerahkan seutuhnya pada ibunya.
Namun saat melihat sosok anak kecil di bawah pohon, pikirannya berubah. Langkahnya yang awalnya berjalan mengikuti Lili, kini berjalan menuju pohon. Ia melihat ada seorang anak kecil dengan rambutnya yang sedikit keriting berwarna pirang, memakai kacamata sedang duduk sambil menundukkan kepalanya.
"Hei, Kau." Arthur memanggil anak itu yang membuat anak tersebut kaget. "Kau tak apa?" anak itu tak menjawab pertanyaan Arthur. Ia hanya mengakat kepalanya dan menangis. Arthur kaget saat anak itu menangis. "Hei, kau kenapa?"
"Maaf… maaf jika aku lemah…" anak itu lagi-lagi tidak menjawab pertanyaan Arthur. "Maaf jika aku tak sekuat Kak Alfred.." anak it uterus menangis, membuat Arthur bingung apa yang harus ia lakukan. Ia ingin memeluknya dan menenangkannya. Tapi ia takut jika tindakannya itu akan membuat anak itu tambah menangis. Akhirnya Arthur memutuskan mengambil kedua tangan anak itu dan menggenggamnya.
"Jangan menangis. Aku ada di sini." kata Arthur sambil tersenyum. Ternyata anak itu menangis lebih keras. Ia melepaskan genggaman tangan Arthur kemudian memeluk Arthur. Arthur kaget saat anak itu memeluknya. Tapi ia tak mempermasalahkannya. Ia mengelus rambut anak itu supaya anak itu tenang.
Tanpa sadar, Arthur merasa ingin melindungi anak ini. Ia ingin anak itu tidak menangis lagi. Karena ia yakin anak ini akan lebih manis jika tersenyum. "Au!" disaat sedang menenangkan anak yang sedang menangis ini, Arthur merasa ada yang menyerangnya dengan batu. Arthur langsung menoleh ke belakang, dan ia melihat anak yang sedang menangis di pelukannya sedang berjalan ke arahnya dengan wajah marah.
"Apa yang kau lakukan pada Mattie?!" teriaknya. Arthur kaget dan bingung saat melihatnya. Kenapa anak yang sedang menangis di pelukanku melemparku dengan batu dari belakang?, pikirnya bingung.
"Kak Alfred!" anak yang sedang menangis di pelukan Arthur melepas pelukannya dan berlari menuju anak yang melempar Arthur dengan batu. Arthur baru sadar jika mereka adalah anak kembar.
"Kau tak apa, Matt?" tanya Arthur. Matthew menggeleng.
"Tidak apa-apa. Tadi om itu menenangkanku." jawab Matthew sambil menunjuk Arthur.
"Om? Hey Kido!" Teriak Arthur yang tersinggung dipanggil Om oleh Matthew. "Kau kakak dari anak ini kan? lebih baik kau tidak membuatnya menangis!"
"Kau habis menangis, Matt? Pasti karena anak-anak itu ya?" tanya Alfred dengan nada marah.
"A… a.. bukan kok. Aku menangis karena ingat Mama, iya kan om?" kata Matthew berbohong kemudian melirik ke Arthur, berharap Arthur bisa bekerja sama dengannya.
"Iya…" Arthur yang melihat reaksi Matthew tahu bahwa Matthew ingin ia berbohong di depan Alfred.
"…..an."
"Astaga, aku pikir karena apa. Ya sudah, senyum dong. Kau jelek jika menangis." kata Alfred sambil tersenyum. Matthew ikut tersenyum, membuat Arthur terdiam. Dugaan ia benar. Matthew lebih manis jika ia tersenyum. Tanpa sadar, Arthur berlutut di hadapan Alfred dan Matthew.
"Tuan…."
"Hei kalian. Aku kesepian di rumah. Kalian mau menemaniku? Akan kutemani hari-hari kalian sebagai seorang ayah."
"Tuan Arthur." Arthur terbangun dari tidurnya saat mendengar suara sekretarisnya. Ia melihat sekretarisnya sedang berdiri di samping sofa tempat Arthur tidur begitu ia sampai di kantor sambil membawa telfon. "Ada telfon dari sekolah." Arthur menghela nafas mendengarnya. Pasti Alfred, pikirnya kesal. Karena biasanya pihak sekolah akan menelfonnya saat ia bekerja untuk melaporkan kenakalan Alfred. Entah itu Alfred memukul temannya, Alfred melawan gurunya.
Dengan wajah sedikit kesal, Arthur menerima telfon. "Halo?"
"Halo, Tuan Kirkland. Saya Vash, guru dari Alferd dan Matthew." terdengar suara laki-laki dari seberang telfon.
"Iya, ada apa Pak? Jika ini mengenai Alfred, hukum saja dia."
"Oh, bukan. Ini bukan karena Alfred. Ini mengenai Matthew." Arthur terdiam mendengarnya. Karena baru kali ini pihak sekolah menelfonnya untuk melaporkan Matthew.
"Ada apa dengan Matthew?"
"Ia jatuh dari atap sekolah dan sekarang menuju Rumah Sakit."
X
5 menit yang lalu…
Siang hari ini sangat panas. Beberapa siswi di kelas Alfred yang berada di lantai dua tak henti-hentinya berkipas, sedangkan para siswa membuka kancing pertama dan kedua mereka.
"Panasnya… Toris! Buka kaca jendela dong!" perintah salah satu murid pada siswa yang duduk di sebelah jendela kelas yang menghadap ke lapangan.
Toris menghela nafas. Sebenarnya ia malas untuk berdiri dari tempat duduknya. Tapi saat ia piker dengan membuka jendela akan membuatnya panasnya berkurang, ia melakukannya. Toris berdiri dari tempat duduknya dan membuka kaca. Namun betapa terkejutnya saat ia melihat ada sesuatu yang jatuh di hadapannya. Dan saat ia melihat ke bawah apa yang jatuh, ia melihat orang berlumuran darah.
"Huwaa!" teriak Toris membuat seisi kelas menoleh padanya.
"Kyaaaa!" dari lapangan terdengar juga suara jeritan siswi.
"Ada apa Toris?" Tanya teman-teman sekelasnya bingung.
"Ada orang jatuh! astaga Alfred! aku kira itu kau karena warna rambut kalian sama!" Alfred terkejut saat Toris berkata seperti itu. Ia segera pergi ke arah jendela untuk melihat ke bawah. Dan ia melihat Matthew berlumuran darah sambil melihat ke atas, seolah melihat langit.
"Matthew!"
Dan inilah quiz di chapter ini : 1) Berapa banyak typo? (untuk memastikan bahwa typo di chapter ini berkurang) 2) Kenapa Matthew bisa jatuh? 3) Siapa sekretaris Arthur? (ini bukan tebakan, hanya meminta saran karena saya masih belum bisa menentukan siapa sekretaris Arthur).
Untuk chapter selanjutnya tidak akan membahas Germany Brothers tapi menceritakan Gilbert dan Matthew. Saya anggap chapter selanjutnya adalah chapter bonus, sehingga isinya pendek sekali.
Saran dan kritik saya terima. So, R & R please
