Chapter 4

...

Maaf ya, minna-san dan senpai-senpai sekalian. Akhir-akhir ini Nami lagi sibuk ujian sekolah sama ujian les, jadi gomen minna. Apalagi Nami lagi kena penyakit yang namanya malas, jadi updatenya sesuai mood aja.

Balasan review chapter 3

Shinichi .Kudosaki : Hah~, dikira Nami udah panjang. Kalau yang ini?

: Mudah-mudahan ini udah cukup panjang. Arigatou atas reviewnya

Yondaime Namikaze Fadil: Ini udah diupdate

Yuuki Chen:Ini udah dilanjut

Wildan no Arashi: Ok, arigatou atas reviewnya

Rannada Youichi: Hehehe, ok ini udah dilanjutin, arigatou atas reviewnya

.7739814: Ok ini udah lanjut kok

TobiAkatsukiID: Ini udah dilanjutin

Namikaze Sholkhan: Ini udah diupdate, tapi gak janji update kilat

Puja911: Ini udah dilanjutin

Mitsuka sak urai: Ok, ini udah dilanjutin. Gak apa-apa

Kiame: Ini udah update

Hn-kun: Ini udah dilanjutin

MORPH: Ok, udah dilanjutin, tapi gak janji update kilat

Guest: Disini Narutonya anak jenius, jadi diumurnya yang ke 16 udah lulus kuliah

Guest (Aicinta): Sepertinya iya hehehe (ditendang readers),Itu masih rahasia. Sepertinya akan terjawab dichapter ini, dan untuk romance NaruSasu nanti akan Nami usahakan

Zack: Ok, ini udah diupdate

Namikaze Ichilaw: Itu masih rahasia , nih udah diupdate

Rahma Des: Ini udah dilanjutin

: Ini udah dilanjutin

Arigatou minna, yang telah mereview serta membaca fic Nami. Dan, gomen kalau ada yang salah dalam penulisan nama minna-san, serta kata-kata yang hilang.

Happy Reading !


Because Of You © Naminamifrid

Naruto bukan punya Nami, tapi punya Masashi Kishimoto sensei.

Pairing: NarufemSasu

Warning: Typo yang bertebaran, Ooc, Gender-Bender, Kata-kata yang hilang, +Alur yang kecepetan, Dll.


.

.

.

Sebelumnya

"Siapa kau, bocah?" "Ka-kau Naru sedan apa disini?" tanya Tsunade heran, pasalnya Naruto sudah lulus kuliah satu tahun yang lalu. Naruto memang anak yang jenius, karena dia lebih banya mengambi gen dari ayahnya. "Naru, ingin bersekolah lagi Baa-chan" pinta Naruto agar diizinkan bersekolah lagi.

Chapter 4

Start

.

.

.

.

.

Normal POV

"Hah~, untuk apa kau bersekolah lagi bocah, dan apa-apaan dengan pakaianmu itu?" tanya Tsunade sambil menghela nafas lelah, melihat tingkah cucu satu-satunya itu.

"Naru, Cuma ingin mencari seorang gadis, yang telah merebut hati Naru Baa-chan. Dan untuk pakaian ini untuk menyamar, kerenkan seperti yang ada di film-film" jawab Naruto sambil nyengir-nyegir tak jelas. Keluar sudah sifat Naruto yang dulu, sebelum Minato dan Kushina meninggal dunia. Sifat yang ceriah, dan hyperactive itu yang selalu ingin dilihat Tsunade, jarang-jarang ada orang -mungkin juga tidak ada- yang dapat membuat Naruto seperti itu.

"Terus, bagaimana dengan Perusahaanmu, siapa yang akan menjaganya?"

"Tenang saja Baa-chan , ada Iruka yang akan menjaganya. Dan setiap hari sabtu atau minggu, Naru akan kembali kesana untuk memantau pekerjan mereka semua, sekalian menyelesaikan berkas-berkas yang akan dikirimkan Iruka kerumah" ucap Naruto panjang lebar.

"Hah~, baiklah. Shizune tolang panggilkan Kakashi"

"Ha'i, Tsunade-sama" Setelah diperintah , Shizune langsung melasanakan tugasnya, yaitu memanggil Kakashi. Tak beberapa lama, suara ketukan pintu pun terdengar .

Tok-tok-tok

"Masuk" Shizune pun masuk sambil membawa Kakashi, yang masih setia dengan buku orange kesayanganya "Sudah berapa kali kubilang Kakashi, jangan pernah membawa buku nista itu saat bertemu denganku" desis Naruto geram, melihat tingkahlaku salah satu pengasunya. Sebenarnya Naruto mempunya tiga orang pengasuh, dan yang paling dekat denganya adalah Iruka, sedangkan Kakashi dan Yamato lebih banyak membantu Tsunade atau pun Jiraya.

"Yo, Naruto-sama. Ada apa dengan pakainmu itu?" Kakashi menyimpan bukunya kembali, kekantung celananya. Sepertinya Kakashi terlalu takut untuk membantah perintah tuanya.

"Aku sedang menyamar Kakashi, jadi jangan beritahu siapa-siapa!" ancam Naruto dengan raut wajah yang serius. Sedangkan Kakashi hanya tersenyum nervous, sambil menggaruk belakang kepala yang pastinya tidak gatal. "Kakashi, antar Naruto kekelasnya Xll-2, dan kau Naruto segala perlengkapanmu Shizune yang akan menyiapkanya"

"Ha'i, Tsunade-sama" ucap Kakashi sambil berjalan keluar, mengantar Naruto kekelasnya.

;;

;;

;;

;;

;;


~~;;00;::;00;;~~

Dikelas Xll-2

"Oi, Sasuke. Bolehkah kupinjam prmu, sebentar lagi Kakashi-sensei akan datang?" tanya Kiba sambil memegang bukunya. Tapi sebelum Sasuke menyerahkan bukunya suara pintu kelas pun terdengar, dan tampaklah Kakashi-sensei, bersama seorang pemuda yang dapat dikatakan culun –itu menurut mereka- berjalan dibelakang Kakashi. Kiba pun langsung pergi ketempat duduknya dengan terburu-buru.

"Hei, kau kenal dia tidak?"

"Hoam, mendokusei"

"…"

"krauk-krauk kau mau ki-krauk-ba?"

"Kyaaa, Ino lihat ini ada discount baju"

"Mana-mana!"

"Kaca matanya tebal sekali, sudah min berapa ya?"

Was

Wes

Wos

Dan masih banyak lagi percakapan yang tidak penting untuk didengar. Sementara itu Kakashi hanya sweatdrop melihat tingkah murid-muridnya.

"Ehm…". Suasana kelas pun hening seketika

"Menma, silakan perkenalkan dirimu" Kakashi mempersilakan Naruto untuk berkenalan. (Karena Naruto sedang menyamar, jadi nama dan penampilanya pun berubah)

"Menma, Uzumaki Menma salam kenal" Naruto membungkukan kepalanya, sebentar sambil melihat- lihat wajah teman-teman barunya, sampai padanganya tertuju pada seorang gadis yang sedang menatap keluar jendela. Sasuke membalikan badanya dan sampai manic Onyxnya, bertemu pandang dengan mata berwarna seperti batu Shappire, terdiam sejenak sebelum Kakashi membuyarkan lamunan mereka berdua.

"Na-Menma, kau boleh duduk disamping Kiba. Kiba angkat tanganmu" hampir saja Kakashi keceplosan memanggil nama aslinya, Naruto jangan ditanya, ia hanya meberikan death glare terbaiknya. Penampilan Naruto saat iniberupah dari pakaian yang mewah, dan mahal berganti dengan pakaian yang standar. Rambutnya yang dulu berwarna pirang sekarang berwarna hitam, matanya yang jernih sekarang sudah tertutup oleh kaca mata tebalnya, tanda lahir kumis kucingnya sudah lebih dulu dihilangkan entah menggunakan apa.

Sungguh sempurna penyamaran Naruto saat ini, tidak ada yang mengetahui bahwa CEO pemilik perusahan terbesar didunia yang selalu diidam-idamkan oleh seluruh wanita, bagaimana tidak sudah tampan kaya lagi, siapa yang tidak mau denganya. Namun, sekarang Naruto hanya mendapatkan tatapan mencemoh, dari wanita-wanita yang ditemuinya disekolah. Dasar cewek matre, hanya mementingkan uang saja. Oke, back story

Naruto terus berjalan menujuh tempat duduknya, sambil menulihkan telingan yang terus mendengar ejekan merendahkan dirinya 'Cih, lihat saja nanti. Klian akan tau akibatnya!'

Setelah sampai ditempat duduknya, Naruto pun mulai mengeluarkan bukunya, sebelum terdengar suara yang memanggilnya. "Hai, aku Inuzuka Kiba. Salam kenal"

"Menma, Uzumaki Menma. Salam kenal, juga Kiba-san"

"Panggil Kiba saja. Menma apakah kau mau ikut pergi kekantin sama-sama, nanti kukenalkan teman-temanku?" ucap Kiba sambil berbisik-bisik, takut terkena hukuman dari Kakashi yang terkenal dengan keKilleranya dalam menghukum setiap siswa. "Boleh? Arigatou Ki-"

"Ehm…"sebelum melanjutkan kata-katanya, dehemman dari Kakashi terdengar, serta Kiba yang sudah komat-kamit tak jelas. Seluruh siswamenatap mereka –kecuali Sasuke, Neji, Shikamaru, dan Gaara yang sudah sibuk dengan urusan mereka masing-masing-.

"Apakah kalian meperhatikanku?" tanya Kakashi dengan aura gelapnya. Naruto yakin, pasti Kiba melihat Kakashi dengan background kuburan disertai kilat yang menyambar-nyambar.

"Kami, menperhatikan sensei" jawab Kiba, disertai degusan bosan dari Naruto. "Hah~, lain kali jangan seperti itu" Kakashi pun kembali menerangkan pelajaran matematika yang sempat tertunda sebentar.


SKIP TIME

.

.

.

Teng-teng-teng

Akhirnya, bel istirahat berbunyi. Para siswa dan siswi berlarian keluar, tentunya dengan Kakashi yang sudah lebih dulu menghilang entah kemana. Sasuke? Ia sudah lebih dulu pergi sambil membawa buku yang disuruh Kakashi tadi.

"Oi, Menma jadi ikut tidak?" tanya Kiba sambil memasukan buku pelajaranya. "Jadi, Kiba tunggu aku!" seru Naruto saat melihat Kiba sudah berjalan lebih dahulu.

Disepanjang jalan menuju kantin Kiba dan Naruto terus bercerita, sambil bercanda-canda. Sepertinya mereka mulai akrab. Mereka terdiam, saat dengan tidak sengaja menabrak senpai mereka. Dan mengakibatkan jus yang sedang dipegang Sasori –nama senpai tersebut- mengenai kemejanya.

"Apa yang, kau lakukan. Hah!" Sasori pun mencengkram kerah baju Naruto, sambil mengangkatnya sedikit (tinggi badan Naruto dan Sasori Cuma berbeda sedikit). Kerumunan para siswa bertambah banyak, mereka ingin melihat Sasori menghajar anak culun tersebut. 'Sasori, atau Akasuna no Sasori merupakan anak dari pemilik perusahaan Akasuna Group, yang bergerak dibidang obat-obatan. Uhm, sepertinya perusaanya masih dibawahku' batin Naruto menyelidik .

"Gomen, senpai. Kami tak melihat jalan" Kiba pun menundukan kepalanya, Kiba tidak mau berhadapan dengan senpai yang terkenal brandal disekolah.

"Maaf-maaf, tidak ada kata maaf!. Suigetsu, Jugo serang dia" perintah Sasori kepada anak buahnya. Kerumunan para siswa tadi akhirnya bubar, karena mereka tidak mau terkena imbasnya. Sementara itu Kiba disuruh menyingkir oleh Naruto.

"Huh, beraninya kau!" dengus Sasori geram, karena belum ada yang berani melawanya

"Ha'i, Sasori-sama" jawab mereka, sedangkan Naruto langsung mengambil ancang-ancang (?) siap bertarung. Suigetsu langsung berlari dikuti Jugo. Suigetsu pun langsung menendang Naruto dari arah samping, sayangnya karena reflex Naruto yang bagus atau memang sudah terlatih,(Disini Naruto ahli segala jenis Martial Arts) Naruto menggeser tubuhnya sedikit kekiri, dan memukul tepat diulu hatinya.

Jugo juga tidak mau tinggal diam. Jugo pun melayangkan pukulan bertubi-tubi kearah wajah Naruto, Naruto langsung menyilangkan kedua tanganya didepan wajahnya, untuk melindungi wajahnya dari serangan Jugo. Naruto pun tak mau kalah, Naruto langsung menendang kepala Jugo. Suigetsu yang sudah bangun mengeluarkan sebuah pisau dari saku celananya, karena serangan yang tiba-tiba, pisau tersebut berhasil menggores pipi dan tangan Naruto, untuk saja Naruto langsung menghindar, kalau tidak pasti pisau tersebut sudah menusuk wajah Naruto. Sedangkan Kiba sedang berusaha melepaskan diri dari cengkraman anak buah Sasori.

Naruto POV

'Cih, sial. Bukanya disekolah ini dilarang membawa benda-benda tajam. Aku harus beritahu Baa-chan agar lebih diperketat penjagaanya'Naruto pun terus menghidar sabetan-sabetan dari pisau Suigetsu. Jugo langsung berlari kearahnya, sambil diarahkan pukulan serta tendangan kearah perut Naruto…

Naruto End POV

Normal POV

Tak beberapa lama, akhirnya Suigetsu dan Jugo kalah, dengan wajah yang bisa juga dikatakan sudah babak belur (?). Sedangkan Naruto masih berdiri dengan tegak, tapi ditubuh Naruto hanya dihiasi (?) oleh darah dibagian pipi dan tangan, yang tergores oleh pisau dari Suigetsu tadi. Sasori dan anak buahnya sudah pergi entah kemana. Kiba pun segera mengatar Naruto keUks, untuk merawat pipi dan tangan yang tergores pisau.

"Kiba, yang lain pada kemana ? kok sudah sepi" rupanya mereka telah melewatkan jam istirahat, dan para murid-murid sudah masuk kedalam kelasnya masing- masing, karena jam pelajaran sudah dimulai sejak 20 menit yang lalu.

"Sekarang sudah masuk jam pelajaran" Kiba pun membuka pintu ruang Uks, sambil mencari obat merah dan kapas diP3k. Kiba menyerahkan obat merah dan kapas kepada Naruto. Setelah selesai mereka pun kembali kekelas.

.

.

.

.

.

Dikelas Xll-2

"Sekarang kita akan belajar tentang sejarah terjadinya perang dunia kedua. Buka buku hal 105" kata Asuma-sensei, yang merupakan guru Ips di KIS. Dan ia mempunyai istri bernama Kurenai Yuhi, yang juga merupakan seorang guru Ipa di KIS.

Asuma mulai menjelaskan tentang-tentang perang dunia kedua, mulai dari sebab-sebab terjadinya perang, sampai masalah-masalah yang ditimbulkan. Tapi penjelasan Asuma terusik, oleh seseorang yang mengetuk pintu.

Tok-tok-tok

"Masuk" perintah Asuma. Kiba masuk terlebih dahulu dan diikuti Naruto, yang wajahnya masih ditempel oleh kapas. "Astaga!, kau kenapa Menma?" tanya Asuma, yang kaget saat melihat bekas darah dipipi dan ditangan. Kiba pun mulai menjelaskan dari A sampai Z, sedangkan Naruto hanya diam saja. Murid-murid mulai berbisik-bisik, tentang keadaan yang dialami Naruto.

"Diam!" suara gebrakan meja yang akhirnya, mendiamkan mereka.

"Kiba,dan Menma kalian boleh duduk. Sekarang kita kembali kepembelajaran kita tadi" Asuma kembali membuka buku dan mulai menjelaskan kembali.


SKIP TIME

.

.

.

"Sekarang buat kelompok 2 orang untuk 1kelompok. Buatlah kliping tentang perang dunia kedua, dan dikumpul senin depan. Kelompok akan sensei bagikan sesuai absen"

"Aburame Shino dengan Amaru" Dan seterusnya sampai, nama Uzumaki Menma dan Uchiha Sasuke dipanggil.

"Uzumaki Menma dengan Uchiha Sasuke"

"Sensei kami tidak setuju, bagaimana bisa siculun itu bersama Sasuke!" protes salah satu Fansboynya Sasuke . "Keputusan ini, tidak bisa diganggu gugat" kata Asuma cuek bebek –sepertinya Asuma tidak memperdulikan protesan anak didiknya, Asuma pun kembali membagi kelompok yang lain.

Ting-tong-teng

"Sekarang kalian boleh pulang" Asuma memberaskan peralatanya sambil mempersilakan anak muridnya untuk pulang

"Uhm, Uchiha-san. Kapan kita mengerjakan tugas klipingnya?" tanya Naruto

"Besok, Dirumahku. Jam 7 malam jangan telat, alamatnya tanya saja keKiba" jawab Sasuke cepat, singkat, dan padat. Sasuke pun langsung berlenggang pergi, keluar kelas.

Melihat suasana kelas yang sudah sepi, Naruto pun berjalan kearah keruangan Tsunade. Untuk mengambil baju yang sudah disiapkan oleh Shizune, sekaligus membicarakan prihal tadi, dimana ada siswa yang membawa benda tajam kesekolah.

Brak

Naruto pun menendang pintu ruang kepala sekolah dengan keras

"Apa yang kau lakukan, bocah!" ucap Tsunade marah.

"Baa-chan, kuharap kau lebih mengetatkan penjagaan. Apa lagi ada murid yang membawa benda- benda tajam kesekolah " Naruto pun melenggang pergi setelah mengambil seragamnya yang telah dibawakan oleh Shizune tadi. Naruto langsung menelpon Iruka, untuk menjemputnya didepan sekolah.

Tin-tin

Iruka segera membukakan pintu mobil, dan Naruto berjalan masuk kearah mobil, sambil menyerahkan tas sekolah miliknya.

.

.

.

.

.

-0o0-0o0-


Cut.

Actionya jelek ya? Maaf Nami memang gak pandai membuat adegan perkelahian. Tapi Nami suka adegan Action apa lagi yang menggunakan senjata-senjata .

Jadi mohon saran Dan kritiknya, Onegai ~.

Please to review, and thanks for RnR

P

L

E

A

S

E