"Aku tidak yakin akan hal itu."

Gintama " Sorachi Hideaki

Sougo x Kagura

Rate M

[Attention!]

Fanfic ini mengandung unsur dewasa yang tak layak di konsumsi oleh anak di bawah umur. Jika masih nekad saya tidak bisa menjamin kepolosan kalian tidak ternodai yaaa dan lagi saya tidak mengambil keuntungan apapun dari pembuatan fanfic ini.

Warning inside! AU, typo(s), OoC, mature theme*lemon content, etc…

Hell(o) Love" Presented by Lylliac Jocelyn

Don't Like Don't Read!

Enjoy…

Kagura benar-benar tidak yakin akan hal itu. Tidak sebelum pagi ini ia merasakan pusing dan mual. Tubuhnya lemas. Ia ingin mengecek ke dokter tapi Kagura sendiri takut jika apa yang paling tidak ia inginkan benar-benar terjadi.

Dengan gontai ia melangkah ke arah kasur dan membaringkan tubuhnya. Permata birunya melirik jam yang tergantung di dinding. Pukul sembilan pagi dan beruntung hari ini adalah hari sabtu. Ia tidak perlu naik bus dan berjalan melewati lahan parkir kantornya yang luas dan yang pasti tidak akan mendapati omelan pedas dari Sarutobi Ayame.

Baru saja ia akan memejamkan matanya lagi, pintu kamarnya terbuka dan menunjukan sosok bengis beramanik rubi yang dengan kurang ajarnya langsung merangkak naik ke atas kasur dan berbaring memeluk tubuhnya.

Sialan. Jika saja tubuhnya sehat sudah ia pastikan akan menendang sosok itu hingga terjatuh dari atas kasur.

"China, ayo jalan-jalan."

"Huh?" Kagura mengerjap pelan, "apa kau baru saja mengajakku kencan?"

Sougo menelusupkan wajahnya ke ceruk leher Kagura. "Ya, kau bisa menganggapnya begitu."

"Tidak mau."

Sougo mengernyitkan dahinya lalu berpindah posisi menjadi di atas tubuh Kagura yang ia paksa terlentang. "Apanya yang tidak mau?"

Kagura menatap Sougo dengan tatapan bosan. Oh ayolah, Kagura yakin seratus persen kalau Sougo itu memiliki otak yang cerdas dan tentu mampu mencerna kata-katanya yang sederhana.

"Kubilang tidak mau berarti aku tidak mau keluar hari ini."

"Sedang tidak enak badan?" Kagura kembali mengerjap pelan. Apa cuma perasaannya saja kalau Sougo hari ini sedikit errr gentle padanya?

"Um… sedikit." Kagura tidak bohong. Ia benar-benar masih terasa lemas.

"Mau ke dokter?"

"Tidak."

"Kenapa?"

"Jawab aku. Jangan membuatku khawatir, Kagura."

Deg

Kagura bingung. Ia membenci Sougo dari lubuk hatinya yang terdalam tetapi kenapa jantungnya berdebar-debar saat laki-laki sadis ini menyebut namanya dengan suara rendah seperti itu.

Apa ia sudah gila?

"Kagura…?"

Bagaimana mungkin ia menyukai suara Sougo menyebut namanya disaat ia membenci laki-laki itu.

"Kagura, jika kau tetap diam seperti ini maka aku akan menelanjangimu saat ini juga."

"Apa –" Kagura dengan kuat mendorong tubuh jangkung di atasnya kemudian berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya yang lagi-lagi bergejolak.

Derap kaki mendekat tertangkap oleh telinga Kagura. Tidak perlu menoleh ia tahu siapa gerangan yang kini berjongkok di belakangnya sambil mengurut lehernya.

"S-Sadis, menjauh. Bukankah ini terlihat menjijikan…"

"Sstt… bagaimana mungkin ini terlihat menjijikan disaat aku berhasrat untuk menciummu saat ini juga."

Kagura menepis tangan Sougo dari lehernya. "Sialan… ini bukan lelucon, kau tahu."

"Aku tahu, karena itu berhenti membantah dan ikut aku ke dokter."

Kagura menggeleng dengan keras. "Tidak. Tidak mau!"

"Demi Tuhan Kagura! Bisa kau tinggalkan dulu sifat keras kepalamu itu?" decakan kasar terdengar dari Sougo saat melihat Kagura tetap menggeleng.

"Baik! Jika kau tetap seperti ini, maka aku tidak akan peduli apa yang terjadi padamu nanti. Camkan itu!"

Blam

Suara debuman pintu yang tertutup keras menghantarkan keheningan.

Kagura termenung sebentar lalu kekehan pelan terdengar dari bibirnya. Ini tampak lucu dan terdengar menggelikan.

"… si sialan itu sejak kapan ia mulai peduli padaku."

(*)(*)(*)

Suara TV yang menyala mengusik tidurnya. Kagura menggeliat pelan lalu membuka matanya yang terasa berat.

Siapa?

Siapa yang sedang menonton di ruang tengah apartement-nya?

Sougo kah? Kamui kah?

Sembari membangkitkan tubuhnya ia melirik jam dinding yang menunjukan pukul empat sore.

Astaga, sudah berapa lama ia tertidur.

Menguap kecil Kagura berjalan menuju pintu kamarnya yang tidak tertutup.

"Sadis…?"

"Ara… Kagura-chan, sudah bangun ya."

Kagura terkesiap mengetahui si empu yang sedang duduk di sofa dengan remote TV di tangannya. "S-Soyo-chan… kenapa kau ada di sini?"

Soyo meletakan remote tersebut di atas sofa tempat ia duduk dan berjalan menghampiri Kagura yang masih tampak pucat.

"Bagaimana perasaanmu? Sudah mendingan? Atau masih terasa pusing?"

Bukannya menjawab pertanyaannya Soyo malah balik bertanya padanya. Kagura mengangguk pelan, meski perutnya masih terasa tidak enak.

Soyo mengamit lengannya lalu menuntunnya berjalan ke sofa sambil berucap lirih. "Kau tidak tahu betapa khawatirnya aku saat menemukanmu tidak sadarkan diri di dalam kamar mandi."

"Aku pingsan?"

"Ya."

Mereka duduk menghadap TV yang masih menyala. Kagura menatap Soyo dengan pandangan yang sedikit heran.

"Bagaimana kau bisa ada di sini? Maksudku timing-nya bisa pas sekali. Apa ini yang dinamakan ikatan batin antara sahabat?"

"Apa yang kau bicarakan, Kagura-chan. Tentu saja Okita-kun yang memberi tahuku keadaanmu dan meminta tolong untuk merawatmu."

Kagura terkesiap untuk kedua kalinya. "A-apa?! Si brengsek itu meminta tolong padamu?!"

Soyo mengangguk lalu tangannya menggenggam kedua tangan Kagura yang terasa dingin. "Apa yang terjadi? Jangan bilang kalian bertengkar lagi."

Mendengus kasar, Kagura melemparkan pandangannya ke tempat lain. "Kami tidak bertengkar. Aku hanya menolak ajakannya untuk ke dokter lalu si Sialan tiba-tiba marah dan membanting pintu."

"Oh astaga, bagaimana mungkin…"

"Ya, kan? Dia bersikap aneh sekali, aku jadi takut."

Soyo menepuk jidatnya dramatis. "Bukan itu maksudku, Kagura-chan. Bagaimana mungkin kau menolak ajakannya ke dokter? Kurasa wajar kalau Okita-kun marah padamu. Kalau aku diposisinya, aku juga akan marah padamu."

Kagura mengembalikan pandangannya ke arah Soyo dan memicing tidak suka. "Apa kau barusan secara tidak langsung menyatakan bahwa kau dipihak si Sadis itu sekarang?"

"Bukan begitu…"

"Lupakan. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu." Kagura berdiri kemudian berjalan menuju kamarnya. Namun, sebelum benar-benar masuk ke kamarnya Kagura menyempatkan menoleh ke arah Soyo dan berkata dengan nada datar. "Dan lagi, kau bisa pulang sekarang, Soyo-chan. Terima kasih sudah merawatku."

"Kagura-chan…"

(*)(*)(*)

Kagura pikir bahwa di pagi selanjutnya ia akan kembali bugar seperti biasanya tetapi ekspektasi tetaplah ekspektasi. Kini kenyataan yang seperti mimpi buruk menghantam kehidupan Kagura dengan keras. Apa yang paling ia takutkan terjadi. Dengan gemetar tangannya menaruh testpack itu di atas nakas. Tubuhnya melemas. Pagi tadi ia kembali diterjang pusing dan mual-mual hebat saat bangun tidur. Dengan bermodal keyakinan ia pergi ke apotek terdekat untuk membeli testpack. Ia hanya ingin mengklarifikasi bahwa gejala mual yang ia alami hanya masuk angin biasa tetapi tidak saat dua garis merah itu tercetak jelas.

Kagura menatap nanar pantulan dirinya di cermin. Begitu berantakan dan tampak tak hidup.

Ponselnya tiba-tiba berdering. Kagura dengan lesu mengambil benda petak yang layarnya menampilkan nama Kamui. Setelah menarik napas dalam-dalam, Kagura baru mengangkat panggilan masuk itu.

"Moshi-moshi… Imotou-chan?"

"Ada apa menelpon pagi-pagi begini, Kamui?"

"Are? Apa kau baik-baik saja, Imotou-chan? Suaramu terdengar agak –"

" –aku baik-baik saja, Kamui. Jika tujuanmu menghubungiku hanya untuk melontarkan lelucon apa kau baik-baik saja maka akan kututup sambungan ini. Jaa."

"Hidoi desu yo ne, Imotou-chan. Onii-chan menelponmu pagi begini untuk mengingatkan hari ini adalah peringatan Okaa-san. Jadi, jangan lupa seperti tahun-tahun sebelumnya, ne?" Kagura terdiam. Demi Tuhan ia benar-benar melupakan hari peringatan kematian ibunya sendiri. Namun, mengingat keadaannya seperti ini, sejujurnya ia malu untuk menghadap ibunya.

"Aku akan datang tapi Kamui…"

"Hm…?"

"Ada yang ingin kukatakan padamu tapi jangan marah ya."

"Tergantung dari apa yang akan kau katakan."

Kagura menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Kamui adalah keluarganya maka sekarang atau nanti, cepat atau lambat Kamui pasti akan tetap mengetahuinya.

"K-Kamui aku…" Tenggorokannya terasa tercekat. "… aku hamil."

"Aku hamil, Kamui. Hamil anak Sougo."

Dan Kagura ingin menangis saat itu juga ketika Kamui tidak merespon apa-apa. Ia yakin kakaknya itu sedang dalam mode syok.

"Kamui?"

"Sudah kuduga…"

"Huh?"

"Sudah kuduga suatu saat ini akan terjadi, tetapi aku tidak pernah menyangka bahwa itu akan terjadi hari ini. Demo, Kagura… ini adalah kehidupanmu, aku tidak berhak untuk marah. Yang bisa kukatakan saat ini, minta Sougo menikahimu secepat mungkin."

"T-tapi…" Kagura meragu, "… aku belum memberitahu Sougo tentang ini."

"Kalau begitu beritahu dia. Tekan sedikit egomu dan katakan kalau kau hamil."

Kagura tampak berpikir sejenak.

"Akan kucoba," Kagura kembali menatap pantulan dirinya di cermin. "Kuharap kau tidak memberi tahu hal ini pada Papi."

"Tidak akan."

"Aku tutup telponnya. Terima kasih, Kamui."

"Sama-sama, Imotou-chan. Jaa ne."

Sambungan terputus. Kagura menghela napas, matanya bergerak menatap ponsel di tangannya yang tidak menunjukan satupun panggilan atau pesan singkat dari Sougo.

"Apa dia masih marah padaku?"

Tekan sedikit egomu dan katakan kau hamil.

Kagura mencoba melakukan apa yang kakak bodohnya itu katakan. Walau sedikit gengsi untuk menghubungi Sougo duluan tetapi untuk hari ini saja akan ia buang jauh-jauh rasa gengsi itu.

Setelah nada tersambung berbunyi Kagura menempelkan benda petak itu di telinganya. Dengan harap-harap cemas dirinya semakin gugup saat Sougo tak kunjung juga menjawab panggilannya.

Kagura terus menunggu dan mencoba untuk bersabar saat panggilan pertama tidak membuahkan hasil. Ia lakukan panggilan kedua. Sama seperti sebelumnya, panggilannya juga tak kunjung diangkat oleh Sougo.

Kesal karena diabaikan. Kagura baru saja akan memutuskan panggilan itu tetapi urung kala panggilan itu akhirnya dijawab oleh Sougo.

"Halo…?"

Deg

Suara perempuan?

Kagura melihat kembali layar ponselnya dengan kening berkerut, mengecek bahwa ia tidak salah men-dial nomor.

Ini nomor Sougo. Jelas. Ia tidak salah. Nomor berkontak Bastard di ponselnya hanya Sougo tidak ada yang lain.

"Halo…?"

Kagura cepat-cepat menempelkan ponsel di telinganya. Suara wanita ini juga terasa cukup familiar baginya.

"Okita-sama bangun… ada yang menelponmu."

Permata biru itu tiba-tiba terbeliak saat ia ingat betul siapa wanita pemilik suara di seberang sana.

"Siapa yang menelpon pagi-pagi begini, Nobume?" Kagura mengepalkan tangan saat terdengar suara serak Sougo yang terkesan malas.

'Si Sialan itu….' Kagura menggertak giginya dengan kuat. Kekecewaan langsung menenggelamkan dirinya dalam jurang pahit. Ia benci. Dan semakin benci dengan laki-laki Sadis itu.

"Di sini tidak tertera siapa yang menelpon, Okita-sama. Anda tidak menyimpan nomor tersebut dalam kontak anda –"

Dengan beringas Kagura menggeser ikon merah lalu melempar ponselnya ke dinding hingga layarnya pecah.

Hatinya terasa sakit. Kepalanya mendidih. Dadanya bergemuruh. Kagura benci perasaan ini. Benci ketika ia tidak bisa mengontrol dirinya yang termakan api cemburu.

Cemburu? Ia? Kagura?

"Sial!" Kagura mulai memukul-mukul dadanya dengan kuat. "… kenapa rasanya sakit sekali!"

Dia wanita kuat. Kagura adalah wanita kuat. Berulang kali ia mensugesti dirinya sendiri bahwa ia tidak pantas merasa cemburu.

Namun, wanita tetaplah wanita. Ia bisa rapuh kapanpun.

Selama ini ia terus berusaha untuk tampil tidak peduli dan baik-baik saja. Ia juga tahu betul bahwa apa yang dikatakan Soyo beberapa waktu lalu tidak sepenuhnya salah. Namun, kini ketika ia mencoba satu langkah maju, Sougo membalas dengan satu langkah mundur.

Dan Kagura benar-benar muak.

Apa Sougo akan terus melarikan diri ke pelukan wanita berambut gelap itu saat mereka bertengkar? Apa ketika mereka menikah nanti lalu bertengkar Sougo akan kembali menghabiskan malam-malamnya dengan wanita itu?

"Menikah? Oh ayolah, apa yang kau pikirkan barusan Kagura bodoh! Tidak ada masa depan yang baik ditawarkan oleh si brengsek itu! Bagaimana bisa kau berpikiran tentang menikah dengannya! Kau wanita bodoh! Kau bodoh Kagura! Kau benar-benar bodoh!"

Kagura mulai berteriak histeris dan memukul kepalanya berkali-kali.

"Dan kau! Bagaimana mungkin kau bersarang dalam rahimku?! Tidak kah seharusnya kau meminta pada Tuhan untuk menurunkanmu pada keluarga yang baik-baik?! Aku tidak menginginkanmu, Sialan! Enyah! Enyah dari perutku!"

Emosinya meluap-luap. Kagura merasa kalau saat ini ia akan menjadi gila.Benar-benar gila.

"Hiks..." Kagura menutup wajah basahnya dengan kedua telapak tangannya. "... a-aku tidak menangis! aku tidak menangis!"

Namun, bermenit-menit kemudian ia habiskan untuk menitikan air mata.

Puas menangis, ia mulai mengelap air matanya kasar, Kagura tampak menata kembali pikirannya. "Apa yang kau tangiskan, Kagura? Tidak ada yang perlu ditangiskan di sini."

Dirinya tiba-tiba berdiri dan menatap bangkai ponselnya yang terlihat mengenaskan.

"Jangan jadi wanita bodoh, hanya karena masalah hamil dan tunanganmu selingkuh, tidak akan menggoyahkanmu."

Kagura menepuk-nepuk pipinya dengan keras. Berjalan menuju wastafel untuk mencuci muka, Kagura berencana pergi ke dokter kandungan untuk mengecek apa ia benar-benar hamil setelah ini.

Mengganti pakaiannya. Kagura merasa setelah menangis dan berteriak seperti orang gila tidak buruk. Pikirannya sedikit jernih meski hatinya masih terasa berat.

"Yosh...!" Mengambil mantel dan memakai sepatu boot berhak rendah Kagura tidak bodoh mengingat suhu semakin turun mendekati musim gugur seperti ini.

Kagura membuka pintu apartement-nya dan alangkah terkejutnya ia mendapati laki-laki dewasa berambut perak dengan aksen gelombang yang terkesan berantakan berada di depan pintu apartement-nya.

"Y-yo..."

Laki-laki itu tampak canggung dan Kagura juga merasa demikian.

"Ya...? Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"

"Ano... aku tidak tahu apa ini termasuk sikap lancang atau tidak, tapi... apa kau baik-baik saja? Maksudku, tadi aku sempat mendengar suara-suara teriakan dari apartement-mu. Kukira terjadi sesuatu, karena itu aku berdiri di sini... untuk memastikan keadaan dan –"

"Pfft..."

"Are? Kau baik-baik saja, Nona?"

Kagura menutup mulutnya, mencoba bersikap sopan tetapi entah kenapa orang di hadapannya ini sangat lucu.

"M-maaf, Tuan... aku baik-baik saja. Sungguh. Dan terima kasih atas perhatian anda."

Pria perak itu menggaruk kepala bagian belakangnya dan menghela napas lega. "Begitu kah? Syukurlah."

"Oh! ngomong-ngomong, aku Sakata Gintoki. Aku baru pindah kemarin di sini. dan tinggal tepat di sebelah apartement-mu. Yoroshiku ne."

Tangan besar itu terulur dan Kagura menyambutnya dengan senang hati. "Kagura desu. Yoroshiku, Gin-san."

Gintoki mengangguk pelan lalu tautan tangan mereka terlepas.

"Ah ngomong-ngomong lagi, apa kau mau berpergian sekarang?"

Kagura mengangguk, "ya, aku ingin keluar sebentar."

"Etto... mungkin ini sedikit lancang memang tapi kau adalah orang pertama yang berbicara denganku di sini. Bolehkah kalau kau mengajakku berkeliling di sekitar daerah sini? Aku pindahan dari luar kota, Tokyo terasa besar sekali bagiku. Haha. Jadi, aku belum terlalu mengenal daerah di sini."

Kagura ingin menolak tetapi rasanya tidak enak juga. Maka dengan satu anggukan tanda setuju, Kagura tidak dapat menampik bahwa ia suka melihat pria perak di hadapannya ini tersenyum.

TBC

Sesuai janji lho ya, wkwkwk. Ini up lumayan(?) cepet.

Sejujurnya aku habis nonton Gintama LA dan langsung ngebut nulis ini. Gimana ya, agak kecewa sih sama yang jadi Kagura. Terutama sama bentuk badannya. Well, ga ada maksud buat nyerang ya.

Tapi suka banget sama Yuuya as Hijikata yang aktingnya maksimal huhuhu Ryo juga gans maksimal meranin Okita.

Dan paling suka sama yang jadi Zaki!!! pake afro lutju bikin ngakak keji wokwokwok.

Overall, LA ini ga bikin kecewa. Sukses buat perut senam dadakan. Aku aja ngakak terus terutama yang mereka ngejer Rurimaru(kumbang emas Shogun punya) itu asli yampon, Kondo bersama kancutnya wkwkwk.

skip time.

Oke, semoga ch ini ga mengecewakan ya. 2k lho ya, panjang kan? :"""

Silakan jumpalitan di kolom review. Hajar saja saya. Hajar!! /maso nya kumat/

Paipai~

11 Januari 2018

Status: belum diedit

–EL–