"Mereka semua tak mempan dengan ancaman, ketua."
"Aku tahu soal itu—tak usah diulang lagi."
"Jadi—apa yang harus kita lakukan selanjutnya?"
"Apa saja. Asalkan Host Club sialan itu bisa hancur dan dibubarkan dari sekolah."
.
.
.
Recon High School Host Club
Chapter 4: Hidden Feelings
.
.
**Author: Nacchan Sakura**
**Shingeki no Kyojin (c) Isayama hajime**
**Ouran High School Host Club (c) Bisco Hatori**
(Warning—pemakaian bahasa agak kasar karena sifat pemeran yang mengikuti alur cerita, tak ada maksud untuk menyinggung siapapun. Cerita tak mengikuti Ouran, hanya mengambil dasarnya saja.)
.
.
.
Hari ini—tepat seminggu Eren Jaeger resmi bekerja sebagai Host.
Dan kabar yang menyambutnya pagi ini, adalah...
"Festival sekolah tahun ini, Host Club akan membuka cosplay cafe!"
Suara tepuk tangan terdengar dari lima orang anggota Host Club—minus Rivaille yang tak peduli dan Eren yang sama sekali tidak mau berpasitipasi. Ya, festival sekolah sudah di depan mata—festival tahunan yang penuh dengan acara menyenangkan, dan tahun ini lebih spesial karena festival akan dibuka untuk umum, tidak hanya untuk murid-murid sekolah lain yang mendapat undangan khusus saja.
Dan Host Club tak mungkin tidak termasuk dalam daftar—daftar dari klub yang akan ikut membuka stand agar acara semakin meriah. Dan tahun ini mereka membuka sebuah cafe.
Semuanya antusias dan tak sabar untuk acara tersebut—kecuali satu orang.
Eren menghela nafas. "—Aku mundur."
"Enak saja. SEMUA anggota Host Club harus ikut, termasuk kau! Apalagi kau itu disini untuk bayar hutang, Eren!" Jean—dengan sewot—menimpali pernyataan Eren. Eren menggerutu.
Ya, benar—Eren Jaeger, enam belas tahun. Siswa ranking satu di angkatan kelas dua, dan berhasil mendapatkan beasiswa di sekolah elit seperti ini—meski sebenarnya, ia hanya lelaki biasa yang serba kekurangan.
Namun pertemuannya dengan Host Club yang tak terduga—sukses membuat hidupnya berubah. Hanya karena sebuah guci emas, Eren harus bekerja menjadi seorang Host sampai lulus sekolah.
"Aku ini sibuk, tahu. Kalian tidak tahu berapa kerja sambilan yang aku ambil untuk menghidupi diriku sendiri, hah?"
Eren bertambah sewot—orang-orang kaya yang kelebihan uang sampai-sampai otaknya jadi udang ini tak mengerti betapa sulitnya untuk Eren agar bisa bertahan hidup—apalagi tanpa orang tua.
"Kalau begitu, keluar saja dari semua kerja sambilanmu itu. Beres, 'kan?" dengan wajah stoic khasnya, Rivaille menjawab Eren—sedikit tidak peduli.
Setdah, gampang banget ngomong gitu—
"Kalian mau aku mati kelaparan? Haha, benar—orang-orang kaya seperti kalian tak tahu sih, bagaimana susahnya mencari uang."
Eren Jaeger baru saja memulai perang, sepertinya.
"Baiklah, baiklah—jangan emosi seperti itu, Eren. Kami tahu kok, betapa sulitnya untuk mencari uang itu." Irvin mencairkan suasana—ia menghampiri Eren seraya tersenyum ke arahnya. "Bagaimana kalau aku melakukan penawaran, Eren?"
"..Penawaran?"
"Ya, penawaran." Irvin menatap Eren lekat-lekat. "Kalau kau bersedia bekerja di Host Club secara sungguh-sungguh dan tidak mengeluh, hutangmu lunas. Sepenuhnya."
"Yah.. kalau itu sih, aku sudah tahu—"
"—Dan," Irvin belum selesai bicara, nampaknya. "Aku akan menjamin kehidupanmu. Makan, kebutuhan sekolah, dan yang lainnya. Yang ini hanya penawaran pribadi dariku, bukan atas nama Host Club. Kau tak perlu kerja sambilan lagi—kau hanya perlu fokus belajar, dan menjadi Host disini."
Eren menelan ludah—tawaran ini terlalu menggiurkan! Saking menggiurkannya—Eren sampai-sampai melihat Irvin sebagai malaikat lengkap dengan sayap lebar dan halo di atas kepalanya—jangan lupa efek kerlap kerlip dan cahaya lampu sorot entah dari mana.
"T-tapi—"
"Tak usah sok berkata, 'aku takut merepotkanmu'. Kau tahu persis bahwa mengurus hal kecil seperti itu tak akan merepotkan aku. Jadi..?"
Eren tak bisa menyangkal—tawaran itu memang tak akan menjadi beban pastinya, untuk semua anggota Host Club termasuk Irvin. Keluarga mereka adalah jenis keluarga yang mampu menyewa satu pulau untuk kepentingan pribadi—membiayai satu orang anak lelaki seperti Eren itu tak akan menjadi masalah sama sekali.
..Jadi...?
"...Aku terima tawaranmu."
"Bagus!" Irvin menepuk-nepuk bahu Eren. "Kalau begitu, berusahalah dengan giat di Host Club, Eren. Dan bersiaplah menyambut festival sekolah!"
Pada akhirnya—Eren kalah, dan ia harus ber-urusan lebih jauh lagi dengan club yang tidak waras ini.
Eren menghela nafas—setidaknya, hari-harinya yang datar akan berubah drastis mulai hari ini, sepertinya.
.
.
.
"...Irvin, apa tujuanmu?"
"Hmm—?"
Ruangan Host Club hanya dihuni oleh dua orang saat ini—Rivaille dan Irvin, yang kebetulan memiliki jam kosong karena rapat guru kelas tiga. Sementara anggota Host Club lainnya telah kembali ke kelas masing-masing—membuat ruangan yang biasanya ramai ini kembali menjadi sepi.
"Membiayai Eren. Ada tujuan apa kau melakukan itu?"
"—Tidak ada. Aku hanya ingin membantunya, apa itu salah?"
"..Tidak, bukannya... salah." Rivaille mengacak-acak rambutnya—bagaimana cara ia menjelaskan perasaan campur aduknya kepada Irvin? "Tapi—"
"—Oh, Rivaille... Kau cemburu?"
CTAK!
"—Kau boleh menyebut apapun soal perasaan campur aduk ini," Rivaille menggeram kesal. "Tapi yang pasti—AKU. TIDAK. CEMBURU."
Oh, Rivaille dan perasaan Love in denial miliknya. Mengundang tawa dari Irvin Smith yang sedang membaca buku novelnya.
"Kalau begitu, kenapa kau bertanya begitu?"
"Aku—entahlah. ...Sudah, tidak usah dibahas."
"Kau sebenarnya ingin membantu Eren juga, tapi kau tidak berani bilang, ya?"
Jleb!
"Kau berniat membantunya diam-diam, tapi keduluan oleh aku yang sudah menawarkan bantuan lebih dahulu, ya?"
Jleb! Jleb!
"—Dan kau ingin aku untuk tidak menolongnya, karena kau ingin menolong Eren dengan caramu sendiri, ya?"
Jleb! Jleb! Jleb!
"—Dasar Tsundere."
JLEBBB!
"—Sudahlah, aku mau pergi mencari udara segar dulu."
"Tidak bisa melawan, ya?"
JLEBBBBBB!
"BERISIK."
.
.
.
"Ereeeen, aku tidak mengerti soal nomor tiga!" Reiner mengguncang-guncang bahu Eren dengan dramatisnya. "Tolong aku!"
"...Minta tolong saja pada Berthold, sana." Eren menghela nafas—demi apapun, ia tak tahu kalau ternyata Reiner, Berthold, Jean dan Armin—semuanya berada di satu kelas yang sama dengannya. Mungkin ini efek dari tak pernah peduli akan sekitar, selama beberapa bulan kemarin.
"Berthold juga tidak mengerti, katanya. Kimia bukan keahlian dia. Armin juga sama. Kalau minta tolong Jean, nanti nilaiku malah jadi merah..."
"HEY, AKU DENGAR ITU, BODOH!"
Eren geleng-geleng kepala—orang-orang ini... "...Baiklah, kalian yang tidak mengerti—cepat kesini. Duduk melingkar, agar aku mudah menjelaskan."
Suara gaduh di ruang kelas tak mengganggu kelima orang yang sedang berdiskusi soal pelajaran kimia—dan dengan ajaibnya, penjelasan Eren mudah dimengerti oleh semua anggota Host Club, bahkan Jean yang terkenal malas belajar sekalipun. Selesai Eren menjelaskan—mereka kembali mengerjakan soal masing-masing dengan serius, tak mau wali kelas mereka muncul dan mengamuk karena tugas belum selesai.
Ya, satu hari yang tenang—dimana lima sekawan mengerjakan soal kimia dan tak ada hal aneh apapun yang terja—
—BRAK!
...Baiklah—mungkin tidak.
Seluruh murid menoleh ke arah pintu—yang baru saja dibuka secara keras dan paksa. Oh—disana ada gadis dengan rambut hitam berdiri, dengan tatapan dingin yang mengitari ke seluruh ruangan.
"Apa disini ada anak yang bernama Eren Jaeger?"
Tanpa meminta maaf terlebih dahulu kepada guru yang sedang mengajar—atau tanpa menjelaskan apa tujuannya datang begitu saja ke kelas mereka—gadis itu melemparkan pertanyaan.
"—Ackerman, ada urusan apa kau di kelas ini?"
Wali kelas mereka angkat bicara—membuat gadis yang disapa Ackerman itu menoleh ke arahnya.
"Saya ada urusan dengan Eren Jaeger."
"Kau bisa bilang permisi dulu, bukan? Kau tidak sopan karena sudah membuka pintu secara paksa seperti itu."
"—Maafkan saya, sensei. Tapi ini urusan penting."
"Terserah. Jaeger—acungkan tanganmu!"
Eh—aku? Eren bertanya di dalam hati—sebelum ia mengacungkan tangannya. "Ikutlah bersama Ackerman."
Eren mengangguk dan meninggalkan mejanya—berjalan mendekati gadis dengan syal merah yang melingkar di lehernya. Gadis itu tanpa basa-basi menarik lengan Eren—dan membawanya pergi dari kelas.
"...Hey, apa Eren tidak apa-apa?" Armin melemparkan pertanyaan kepada empat temannya.
"Ya... paling usaha si Ackerman itu gagal lagi, walau ia berusaha menghasut Eren yang anggota baru." Reiner memainkan pensil mekaniknya—menunggu jam pelajaran habis karena tugasnya sudah selesai.
"Tapi.. Eren itu berbeda, loh. Satu tawaran menggiurkan saja bisa membuatnya melakukan apapun. Dia tidak seperti kita, ingat?"
. . . . . .
"KALAU BEGITU SIH, BERBAHAYA!"
"Makanya, aku bilang—"
"Kita harus lapor Rivaille-senpai!"
"Aku akan mengejar Eren!"
Ke empat anggota Host Club tersebut berdiri dari kursinya—membuat seisi kelas kembali dikejutkan tiba-tiba.
"HEY, KALIAN YANG DI BELAKANG! KALIAN MAU—"
"Sensei, kami ber-empat izin ke ruang kesehatan! Tugas kami sudah selesai!"
"HEY, JAM PELAJARAN BELUM—"
Belum selesai wali kelas mereka berbicara, ke-empat orang itu sudah hilang dari pandangan.
"..Setidaknya dengarkan aku berbicara.. sampai selesai..."
Tes, tes—oh, tidak... sang wali kelas sudah menangis dengan dramatisnya.
"E-eh.. Sensei, jangan menangis—"
. . . .Wali kelas yang malang.
.
.
.
"Silahkan duduk, Eren Jaeger."
"A-ah, iya.."
Hening.
Eren menatap gadis di hadapannya seraya menelan ludah sesekali—ini siapa, sih? Kenapa seram sekali tatapannya?
Belum cukup tatapan yang tajam itu, gadis itu juga memiliki aura menekan di sekelilingnya—membuat Eren bertambah gugup tanpa sebab.
"Aku Mikasa Ackerman—ketua OSIS di sekolah ini," Oh—ternyata gadis itu bernama Mikasa. "Dan sepertinya kau tahu kenapa aku memanggilmu, bukan?"
"...Err—maaf, aku tidak tahu." Eren menjawab ragu. "Memangnya... ada apa, ya? Ada urusan apa denganku?"
Suatu kejutan. Eren Jaeger—yang terkenal memiliki mulut yang tak bisa dijaga, tiba-tiba bisa menjadi sangat sopan di hadapan gadis bernama Mikasa ini.
"Tentu saja aku mau meminta kerja sama darimu!" Mikasa menggebrak meja besar di hadapannya—membuat Eren sedikit terloncat dari atas kursi karena terkejut bukan main. "Aku tahu kau masuk Host Club karena terpaksa."
Eren sudah mulai menggerutu dalam hati—kalau ada sangkut paut dengan Host Club, pasti masalahnya tidak beres.
"Ya.. begitulah—"
"Maka dari itu, aku akan menolongmu." Mikasa menatap iris Emerald Eren dengan serius—dan Eren terdiam seketika. "Aku akan membayarkan hutangmu di Host Club, dan kau akan terbebaskan. Tapi—aku meminta kerja sama darimu."
"..Dan... kerja sama itu, maksudnya...?" tanya Eren, sedikit penasaran akan tawaran dari Mikasa.
"Aku ingin kau—"
Di detik berikutnya—kedua bola mata milik Eren membulat.
"—Untuk membubarkan Host Club."
.
.
.
"RIVAILLE-SENPAI, IRVIN-SENPAI!"
Pintu ruangan Host Club yang malang harus terbuka secara keras dan terpaksa—membuat suara yang lantang terdengar. Rivaille dan Irvin berhenti membaca buku mereka—dan Rivaille mendecak kesal. Kapan sih, anggota klubnya ini bisa tenang sedikit?
"Berisik..."
"—INI GAWAT!" Teriak Reiner—mengabaikan Rivaille yang sudah memasang wajah menyeramkan stadium empat. "SI KETUA OSIS ITU BARU SAJA MEMBAWA EREN!"
Oh—Rivaille kini memasang tampang horror stadium duabelas. Dan Irvin mengubah raut wajahnya yang tenang kepada level waspada.
"—Reiner, Berthold. Kalian susul Eren."
"Jean dan Armin sudah ke tempat Eren, senpai—"
"Pasti mereka akan dihalangi oleh anggota OSIS lainnya. Jadi kalian bantu Armin dan Jean." Rivaille menyimpan bukunya di atas meja—buku itu sudah tak menarik lagi, untuk saat ini. "Irvin... kau susun strategi."
"Baiklah."
"Dan aku..." Rivaille menarik nafas sejenak—"Akan berurusan langsung dengan ketua osis itu."
(Baca: "Aku akan memberinya pelajaran karena sudah mencoba untuk mengambil Eren seenaknya.")
.
.
.
"...Maaf?"
"—Aku yakin kau tidak tuli, Eren Jaeger. Aku memintamu untuk membubarkan Host Club."
"Eh—"
"Kacaukan klub itu di saat festival sekolah nanti. Pekerjaan mudah, bukan? Kau tinggal bersikap kasar kepada tamu, sehingga mereka semua meninggalkan klub kalian satu per satu. Kalau kau berhasil membuat Host Club jatuh, aku akan membayar semua hutangmu. Kau bebas."
Tawaran itu tidak buruk, Eren harus mengakui hal itu—tapi...
Entahlah, Eren memang benci pada klub tidak waras yang satu itu—tapi bukankah terlalu kejam kalau harus membubarkan klub itu secara paksa?
"—Euh, apa alasanmu melakukan semua ini?"
"Tentu saja aku mau membersihkan nama baik sekolah ini. Sebuah Host Club di dalam sekolah? God—mana boleh hal seperti itu terjadi?!"
Ya—memang benar sih. Sebuah Host Club di dalam sekolah itu memang luar-biasa-tidak-wajar. Apalagi mereka melakukan hal-hal hom—
Oke, lupakan saja yang satu itu.
"Tapi, klub mereka disetujui oleh kepala sekolah... 'kan?"
"HAH! Walau kepala sekolah menerima—aku menentangnya." Mikasa mendengus kesal. "Jadi, Eren Jaeger, pikirkan lagi. Apa kau menerima tawaranku,"
"Atau tidak?"
Galau—bimbang—tak bisa memutuskan.
Itulah keadaan Eren jaeger saat ini, kalau bisa dijelaskan oleh kata-kata.
"..Aku..."
Kalau Host Club dibubarkan, hidup Eren memang akan kembali menjadi seperti semula.
..Tapi—
Seragam ini, kehidupan lamanya,
juga...
"Kalau menangis, kau terlihat bodoh."
"GAAAH!" Eren tanpa sadar membanting—ralat, membenturkan kepalanya sendiri ke tembok terdekat. Mikasa menarik satu halisnya ke atas—terkejut akan anak lelaki di hadapannya yang tiba-tiba bertindak aneh—Mikasa bahkan sampai bersiap untuk menelepon dokter jiwa.
"Jaeg—"
"SIAL, KENAPA AKU MALAH MIKIRIN SI KETUA KONTET ITU?!" Eren menjambak rambutnya frustasi—oke, mungkin Eren memang benci Host Club, namun harus ia akui—mereka tak melakukan hal yang salah, dan mereka tak punya alasan untuk dibubarkan. Tapi kenapa Rivaille harus masuk ke dalam daftar 'alasan-kenapa-Host Club-tidak-usah-dibubarkan'?!
Dan lagi—kenapa bisa ia kepikiran soal Rivaille dan kata-katanya kemarin, secara tiba-tiba?!
"...Jaeger?"
"A-ah—" Eren tersadar dari dunianya sendiri—dan melirik ke arah Mikasa yang sudah menatapnya aneh. "Maaf, abaikan saja yang tadi."
"Uh.. oke. Baiklah. ..Jadi, bagaimana dengan penawaranku itu?"
"...Itu—"
Eren masih berpikir keras—terima, jangan, terima, jangan—
Mungkin kalau Host Club bubar ada bagusnya. Eren juga benci pada klub itu dan seluruh anggotanya yang tidak waras. Tapi—
Eren tahu bahwa mereka semua sebenarnya bukan orang-orang yang jahat. Mereka hanya sedikit menyebalkan—sedikit-sedikit, membahas soal rakyat jelata (dengan cara yang kampungan, pula.). Sedikit-sedikit main perintah. Sedikit-sedikit homo-an.
Tapi—tak ada satupun dari mereka yang pernah menyinggung soal status Eren. Kata-kata rakyat jelata dan jalan kaki ke sekolah mungkin memang sedikit membuatnya kesal—tapi tak ada satupun dari mereka yang memandang Eren berbeda hanya karena status sosial itu.
Mereka selalu menganggap Eren sama seperti mereka—salah satu dari mereka.
Seorang anggota Host Club yang selalu dibanggakan.
..Jadi?
"...Maaf, Mikasa-san, aku—"
"—Eren tak akan menerima tawaran itu, dan tak akan pernah."
Mikasa dan Eren menoleh bersamaan ke arah sumber suara—oh, baiklah... sang ketua dari klub yang tadi mereka bicarakan baru saja tiba. Dan dari wajahnya yang sangat, sangat horror tersebut... Eren yakin Rivaille saat ini lebih menyeramkan dari perempuan yang sedang mengalami PMS.
"—Ackerman, kau belum menyerah, sepertinya."
"HAH. Dalam mimpimu. Aku tak akan menyerah, aku akan membubarkan klub kalian—PASTI!"
Suasana perang sudah mulai terasa di ruangan ketua OSIS—dan Eren yang menjadi 'orang tak tahu apa-apa' hanya bisa terdiam dan bingung.
Etdah—terus aku harus ngapain? Pikir Eren. Suasana sudah makin mencekam di dalam ruangan—dua orang yang saling melemparkan tatapan tajam, dengan wajah yang tak kalah horrornya dari film The Ring, dan juga geraman yang terdengar oleh Eren entah dari mana.
Uh oh—perang dunia ke berapa, ini?
"Err... Rivaille-senpai... kenapa bisa ada disini?" Eren—malah bertanya dengan polosnya tanpa membaca situasi. Mungkin niatnya hanya untuk mencairkan suasana, tapi—
"Tentu saja aku mau membawamu kembali! Kau mau dihasut oleh mahluk macam ini, hah?!" Rivaille menunjuk-nunjuk Mikasa dengan tidak sopannya. Mikasa menggeram kesal.
"HEY, JAGA SIKAPMU, PENDEK!"
"BERISIK, GADIS KUTUB! LALU KENAPA KALAU AKU PENDEK, HAH?! TOH, ISI OTAKKU LEBIH BAGUS DARIMU."
"DASAR CHIBI—"
Dan—usaha Eren gagal. Bukannya mencairkan suasana, perang malah semakin panas.
Eren menghela nafas—sudahlah. Ia memutuskan untuk duduk di atas kursi sambil menonton mereka berperang, ditemani satu kotak popcorn—
"Eren!"
—Yah, sepertinya Eren tidak jadi menonton perang live yang baru saja akan dimulai.
"Armin..?"
"K-kau baik-baik saja? Ketua OSIS tidak melakukan sesuatu kepadamu, 'kan?"
"..Kalian pikir aku ini apa, tersangka penculikan anak di bawah umur?!" Mikasa sewot sendiri—melemparkan tatapan tajam kepada anggota Host Club lain yang sudah tiba di dalam ruangan. "Kalian semua lebih baik pergi dari sini, urusanku hanya dengan Eren Jaeger saja!"
"Hah—dan kami mau mengambil kembali anggota klub kami karena ada urusan penting, Ackerman." Rivaille berjalan mendekatin Eren—dan tanpa Eren sadari, Rivaille sudah meraih lengannya secara tiba-tiba. "Jadi.. kami permisi dulu. Sekarang, Reiner!"
"Aye Aye!"
BOOM!
NGUIING—
—JDER!
Baiklah—kalau sound effect di atas tidak menjelaskan keadaan—Reiner melemparkan sebuah bom asap dan beberapa petasan—yang jangan ditanya bisa didapat dari mana—agar Mikasa Ackerman terkecoh. Sementara asap menyelimuti ruangan—Rivaille menarik lengan Eren dan membawanya kabur.
..Tapi—kaburnya bukan dari pintu.
—Melainkan lompat dari jendela.
"—SENPAI, INI LANTAI TIGA!"
"Ya, aku tahu." Rivaille menggendong Eren dengan gaya tuan putri—seraya membawanya loncat dari jendela. Romantis? Yaa—romantis, kalau saja Eren tak ketakutan sendiri karena senior kontetnya ini baru saja memanggil ajal mereka berdua secara sengaja.
"K-KITA BISA MATI! BISA MATI! YA TUHAN, KALAU AKU BENAR-BENAR MATI, TOLONG TEMPATKAN AKU DI SISI IBUKU—"
"BERISIK! Kita tidak akan mati, Eren!"
Yak—tanah tinggal beberapa meter lagi. Eren masih komat-kamit membaca do'a—sementara yang menjadi tersangka (baca: Rivaille) masih memasang wajah datarnya.
Tap!
"Tuhan, Tuhan, Tuhan—setidaknya sebelum aku mati, aku ingin punya pacar dul—"
"Eren, kita sudah di mendarat dengan selamat."
"...He?"
Eren membuka matanya yang tadi terpejam—oh. Mereka sudah mendarat di atas tanah—dengan selamat sentosa.
Hore.
. . . . .
"—TUNGGU, KAMU INI MANUSIA, 'KAN?"
"...Itu caramu berterimakasih kepadaku?"
"KENAPA BISA KAMU LOMPAT DARI LANTAI TIGA DAN MENDARAT DENGAN SELAMAT?!"
"Aku memiliki caraku sendiri, Eren. Dan jangan berpikir bahwa aku ini iblis kontet dan semacamnya karena aku manusia." Rivaille menurunkan Eren dari posisi 'gendong-ala-tuan-putri'nya. "Dan sekarang, lebih baik kita mencari tempat bersembunyi untuk sementara.."
Tempat bersembunyi? Eren mengerutkan dahinya—ini fanfiksi kenapa tiba-tiba jadi kaya' cerita tentang agen rahasia?
"Tapi... kenapa harus bersembunyi?"
"Karena Ackerman itu ngotot. Dan aku yakin kau mudah dihasut—jadi kau harus dijauhkan dari gadis itu. Sejauh mungkin."
Oh—Rivaille sudah memasuki mode 'kakak protektif', sepertinya. Atau lebih tepatnya, 'pacar posesif'?
"Oh—ikut aku, Eren." Rivaille menarik lengan Eren—lagi, tanpa basa-basi. Ia membawa Eren ke suatu tempat yang tidak diketahui oleh Eren—mungkin tempat yang dianggap aman untuk bersembunyi.
Eren memutuskan untuk tidak banyak bertanya—membiarkan Rivaille membawanya bersembunyi, dimana saja terserah. Toh Eren juga malas berurusan dengan Mikasa Ackerman itu—auranya yang penuh penekanan rasanya membuat Eren tidak tenang. Apalagi dia tukang maksa. Lebih baik bersembunyi saja bersama Rivaille daripada harus bertemu dengan gadis itu lagi—
...Loh. Tunggu.
Tadi.. Eren seperti baru saja mengatakan bahwa bersama Rivaille itu lebih baik daripada bersama Mikasa.. bukan?
'Aku ini kenapa, sih..' Eren menghela nafas—baiklah, aneh. Ini... aneh. Sangat aneh. Dari tadi otaknya selalu membawa solusi yang berujung kepada Rivaille, Rivaille, dan Rivaille lagi—
Entah kenapa rasanya...
Menyebalkan.
Menyebalkan karena—ya, dia tidak tahu kenapa harus berujung pada senior kontet yang paling menyebalkan di tahun 2013 itu. Dan lebih menyebalkan lagi karena—Eren tak bisa mengerti kenapa ia bisa memiliki perasaan seperti ini.
Like, dislike?
"—Eren, masuk."
"..H-hah?" Eren tak sadar bahwa dia dan Rivaille sudah sampai ke suatu tempat—oh, ralat—ke suatu lorong dimana di hadapannya ada sebuah pintu kecil yang terbuat dari kayu biasa—berbeda dengan pintu lainnya yang megah dan lebar. Err.. ini ruangan apa, coba?
"Kenapa malah bengong? Cepat masuk, sebelum anggota OSIS lain menemukan kit—"
"KETUA ACKERMAN, AYO KITA PERIKSA SEBELAH SINI!"
—Baru saja diomongin.
"Eren, masuk!" Rivaille membuka pintu dan nendorong Eren masuk secara paksa—tanpa tahu ruangan apa yang sebenarnya ada di dalam. Rivaille kemudian menyusul masuk—kemudian menutup pintu dengan rapat.
.
.
.
"Ketua Ackerman, disana ada salah satu dari mereka?"
"—Tidak. Disini tidak ada siapa-siapa. Cari ke tempat lain!"
Oh—untunglah, mereka pergi.
—Atau tidak. Demi Tuhan—Eren berharap kalau ia ditemukan saja, secepatnya.
Kenapa?
Karena—
"Jangan banyak bergerak, bodoh!" Rivaille mengecilkan suaranya—agar tak terdengar keluar ruangan. "Ruangan ini sempit!"
—Ya. Ruangan yang mereka pakai untuk bersembunyi—ternyata—adalah ruang penyimpanan alat-alat kebersihan.
Dan ruangan itu sangat sempit, saudara-saudara. SANGAT sempit. Karena saking sempitnya—posisi Eren dan Rivaille saat ini betul-betul terlihat 'menjanjikan' jika dilihat oleh salah satu tamu Host Club yang seorang fujoshi.
Tubuh Eren—yang masuk terlebih dahulu—terpaksa harus bersender kepada tembok, dan Rivaille—yang masuk belakangan—terpaksa harus merapatkan—ralat—mendorong tubuhnya dekat dengan Eren, dan agar keseimbangan tubuhnya terjaga—Rivaille meletakkan kedua tangannya di sisi tubuh Eren, membuat lelaki itu semakin tak bisa bergerak dari tempatnya.
Dan oh—yang membuat Eren risih hanya satu, sebenarnya. Posisi satu paha Rivaille yang kini... terletak di antara—
Kedua kakinya.
'—Tuhan, apa kau benar-benar benci kepadaku?' Eren membatin. Tidak, tidak—jantungnya tidak berdetak kencang. Sama sekali tidak. Ia sama sekali tak merasakan sesuatu yang aneh—karena di antara kedua kakinya—atau kita baca sebagai –'dekat-dengan-selangkang'nya, ada sesuatu yang menekan. Tidak—tidak sama sekali—
Ah. Eren berusaha menghindari kenyataan.
Doki, Doki, Doki—
Beruntung di dalam sini sedikit gelap, tak banyak cahaya—sehingga Rivaille tak menyadari bahwa wajah Eren saat ini sudah se-merah tomat siap petik. Tapi Eren yakin tak lama lagi—Rivaille akan sadar bahwa jantung Eren berdebar lebih kencang dari biasanya.
Ya Tuhan. Ya Tuhan. Ya Tuhan—Eren masih komat-kamit dalam hati.
"..Eren, kau kenapa?"
Doki, Doki, Doki—
—Oh, sial. Apa Rivaille menyadari ada hal yang aneh?
"T-ti-tidak ada apa-apa, senpai.."
"Ucapanmu terputus-putus seperti itu dan kau bilang kau tidak apa-apa?" Rivaille mendengus kesal. "Jangan berbohong. Ah—apa kau demam? Rasanya wajahmu panas sekali—"
'—HYAAAA!' Eren semakin berdebar—Rivaille malah sengaja mendekatkan jarak wajah mereka karena penasaran akan Eren dan sikap anehnya. Untunglah Rivaille mengira ini sebagai 'demam'.
"Jangan banyak bergerak, biar kuperiksa suhu tubuhmu."
...Oh my God.
Eren rasanya ingin mengutuk seisi dunia—karena ketika ia mengharapkan sesuatu yang aneh untuk tidak terjadi, takdir malah memberikannya hal yang lebih parah lagi—Rivaille. Wajahnya. Dan jarak wajah mereka yang sangat dekat—
Niat Rivaille hanya menempelkan keningnya pada kening Eren—memeriksa suhu tubuh lelaki itu, memastikan bahwa ia demam atau tidak. Tapi Eren—ya, bilang saja ia malah membayangkan hal lain.
"—Kh.."
Eren hanya bisa mengeluarkan desis pelan—tak tahu harus berkata apa. Kedua matanya tertutup rapat—takut kalau ia melihat wajah Rivaille, debar jantungnya hanya akan semakin memburuk saja.
"...Eren?"
"I-iya?"
"Kenapa kau menutup matamu?"
"E-eh—tidak, tidak apa-apa..."
"Kau takut gelap?"
"..Tidak.."
"Kalau begitu, buka matamu, bocah."
"—Tidak mau."
Bocah tengil ini—Rivaille memaki di dalam hati. Kenapa bocah di hadapannya ini tiba-tiba menjadi keras kepala tanpa sebab?
"Buka matamu, Eren."
"—Tidak mau!"
"EREN."
"Pokoknya ga mau!"
—Baiklah, Rivaille sudah habis kesabaran.. dan jangan harap Eren akan mendapatkan belas kasihan kalau Rivaille sudah habis kesabaran.
Dan yang Rivaille lakukan selanjutnya—tanpa disadari—adalah menggigit keras—
..Sisi kanan leher Eren.
Tidak—tidak romantis sama sekali. Karena ia menggigit dengan keras—dan rasanya pasti sakit sekali, saudara.
"—AW!"
"Buka. Matamu. Bocah."
Oke—membuat bitemark secara paksa bisa jadi cara ampuh untuk membujuk Eren, hal itu harus dicatat oleh Rivaille dan siapapun yang merasa ingin melumpuhkan Eren Jaeger.
Eren harus menurut, mau tak mau.
Eren perlahan membuka matanya—sial, sial—jantungnya malah semakin berdebar ketika matanya bertemu dengan iris lelaki di hadapannya—secara langsung dan tanpa penghalang apapun. Tanpa sadar Eren menutup kembali matanya dengan cepat—berharap Rivaille tak sadar akan perlakuan anehnya, dan juga rona aneh di wajah Eren yang entah muncul dari mana.
"Eren. Kubilang, buka mata—"
"Tidak bisa!" Eren memotong kalimat Rivaille dengan suaranya—yang sedikit gemetar. "A-aku—"
Eren menelan ludah—ia harus berkata apa? Ia harus memberikan alasan apa?
"Aku... di mataku ada debu!"
"..Hah?"
"Jadi kalau membuka mata, rasanya perih!"
"—Oh. Pantas saja." Rivaille mendecak pelan. "Buka matamu sebentar, aku akan meniup debunya."
—MAKIN PARAH. Oke,Eren sudah menyerah—harus apa lagi. Harus bagaimana lagi?
"Eren," —Eren dapat merasakan sesuatu menyentuh wajahnya—oh, tidak.. tangan itu—jemari halus itu...
Ba-thump, Ba-thump—
"Eren.." Ini tangan milik Rivaille, menyentuh wajahnya dengan lembut dan hangat—perlahan jemarinya mendekat ke arah matanya, mungkin mencoba untuk membuat mata Eren terbuka. Tapi, Eren.. berpikir lain, entah kenapa.
Sial, sial, sial—aku ini mikir apa, sih?! —batin Eren.
Ba-thump, Ba-thump—
"Eren—" Eren menelan ludah—siapapun, siapapun! Tolong hentikan keanehan di dalam dirinya ini—
"—KETEMU, KALIAN BERDUA!"
. . . . . .
...Nah loh—tadi Eren berharap supaya bisa ditemukan oleh anggota OSIS atau ketuanya sekalian agar bisa kabur, 'kan?
Tadi Eren berharap agar keanehan ini bisa berhenti dengan segera, 'kan?
Takdir berbaik hati—Mikasa menemukan Eren dan Rivaille, akhirnya. Eren harus berterimakasih.
...Harus?
"—GYAAAA!" Suara jeritan ala tokoh utama manga shoujo menggema di lorong sekolah—Rivaille ingin rasanya menabok Eren dan suara melengkingnya yang tiba-tiba keluar tepat di dekat telinganya. Yah—mau bagaimana lagi, Eren memang terkejut tingkat SMP kelas tiga saat itu.
"Hah! Mau kabur kemana kalian sekarang, hah?" Mikasa memasang senyum iblis—yang menebarkan aura penuh kemenangan, seperti kucing yang akhirnya berhasil menangkap tikus buruannya. "Ke-ma-ri-lah... aku akan membuat kalian membayar semua kerusakan di ruang OSIS karena bom asap tadi!"
Uh-oh—Mikasa mulai OOC, tapi ia tidak peduli—menghabisi mahluk kontet di hadapannya terlihat lebih menarik daripada menjaga imej aslinya.
"—Tidak perlu, Ackerman. Bagaimana kalau kita membicarakan hal ini baik-baik?" Rivaille tak mengubah raut wajahnya—datar, tenang. "Kita biarkan Eren memilih."
...Hah?
Sementara Rivaille /seenaknya/ melempar keputusan kepada Eren—yang bersangkutan malah cengokarena tiba-tiba diberi tugas seperti itu oleh Rivaille. Memilih? Memilih apa, coba?
"—Eren, pilih. Mikasa Ackerman, atau aku?"
. . . . .
Hening.
Ini fanfiction Humour, 'kan? Bukan drama Korea—'kan? Eren berkali-kali mengucek matanya—memastikan bahwa ia masih sadar dan masih berada di dunia yang sama—bukan di dunia lain yang ber-setting-kan drama Korea dan cinta segitiga.
—Sebentar. Cinta segitiga apa, yang satu 'kan cowok sama cowok?
"Eren! Kalau kau memilih aku—kau akan bebas dari Host Club!"
Itu adalah keinginan Eren, tapi—
"Eren! Kalau kau memilih aku, aku akan menjamin kehidupanmu—sama seperti yang Irvin janjikan!"
Nah—itu juga keinginan Eren selama ini.
Tunggu—ini kenapa jadi memperebutkan Eren secara tiba-tiba?
"Euh, maaf—"
"EREN!"
"Cepat putuskan, Eren Jaeger!"
Kampret, sabar dikit kek—kalian yang menyuruh untuk memilih, tapi kok kalian juga yang maksa?
Eren geleng-geleng kepala—ia menghela nafas panjang. Ya—dia sudah tahu sih, apa keputusan yang akan ia ambil, sejak awal.
Dan jujur saja—meskipun ingin terbebas dari Host Club, tawaran yang diberikan oleh Irvin dan Rivaille lebih menggiurkan—ia mau hidup berkecukupan, apalagi dibiayai oleh orang lain. (Ya, Eren mengakui hal itu—siapa juga yang tidak mau hidup enak tanpa harus mengeluarkan uang sendiri? Semua orang pasti mau, bukan?)
Dan lagi, ia merasa...
Host Club tak memiliki alasan untuk dibubarkan.
Eren sudah memantapkan hatinya.
"Aku memilih Host Club. Maaf—ketua OSIS."
Rivaille/Host Club: 1
Mikasa Ackerman/OSIS: 0
Pemenang sudah ditemukan!
Mikasa terjatuh dramatis—tak bisa dipercaya, harapan satu-satunya untuk membubarkan Host Club, yaitu Eren Jaeger—ternyata tak menerima tawarannya. Dan itu berarti—usahanya untuk membubarkan klub itu gagal, lagi.
Sudah berapa kali ia gagal, dihitung dengan hasil yang sekarang?
"—Kh..." Mikasa mendesis kesal. "Aku tahu usahaku akan gagal. Sudahlah."
Mikasa berbalik setelah memberikan tatapan tajam nan horror ke arah Rivaille—terlihat sekali bahwa ia sangat tidak puas akan hal ini. Dan entah kenapa—Eren sedikit, sedikit merasa bersalah akan hal itu.
Tapi..
"—Mikasa-san!"
Eren menarik lengan Mikasa—tanpa diduga. Mikasa menoleh ke arah Eren, masih dengan wajah kecewa—dan Rivaille diam-diam memperhatikan dengan wajah yang menyeramkan.
Oh—ada yang cemburu..?
"Kurasa, Mikasa-san hanya melihat Host Club dari sudut pandangmu seorang saja." Ujar Eren, "Cobalah melihat Host Club dari sudut pandang orang lain—misal, gadis-gadis tamu klub di sekolah ini. Mungkin kau juga akan memberikan penilaian yang berbeda."
Ya—benar, Eren juga berpikir seperti itu.
Di dalam pandangannya, klub ini hanyalah klub yang hobi memberikan fanservice demi kepuasan tamu semata—tapi ia juga harus mengakui, jika ia menjadi gadis-gadis yang setia menjadi tamu Host Club, hal ini merupakan satu-satunya hal yang dapat membuat mereka senang di dalam padatnya tugas sekolah.
Jadi..
"—Kumohon, jangan bubarkan Host Club, ya?"
Eren tersenyum lembut ke arah Mikasa—membuat gadis itu terdiam. Bola mata gadis itu sedikit membesar—oh, tidak, kenapa ia mulai melihat kerlap-kerlip di sekelilingnya dan juga bunga-bunga bertebaran—
Ini masih Fanfiction, 'kan? Bukan Shoujo Manga—'kan?
"—Terserah kalian saja, aku sudah lelah."
Mikasa melepaskan genggaman tangan itu dan pergi meninggalkan Eren dan Rivaille—di dalam keheningan, begitu saja. Entahlah—reaksi itu samar, apa artinya Mikasa tak akan mengganggu Host Club lagi?
Atau...?
"—Kalau dia sudah menyerah, baguslah. Ayo kita kembali ke ruang klub, Eren."
"Ah—baik!"
Dan satu masalah sudah selesai, sepertinya.
.
.
.
"..Eren Jaeger, ya?" Mikasa tertawa kecil seraya melihat ke luar jendela—oh, gawat. Pikirannya tak bisa berhenti memikirkan lelaki dengan senyum lembut itu. "Lelaki yang.. menarik."
—Dan muncullah satu rival cinta bagi Rivaille.
.
.
.
To Be Continued
A/N:
... *keluar dari dalem lemari* halo...
Bertemu lagi dengan saya, pohon palem jadi-jadian yang akhir-akhir ini telah kehilangan semangat untuk hidup..
...karena sebentar lagi masuk kuliah.
Dan jadwal kuliah yang baru bener-bener kampret.
Berasa jadi anak sekolahan lagi masa, semua kelas masuk jam tujuh pagi... nangis aja.
Oke—kenapa jadi curcol.
Oke! Special thanks to:
akechii yoshioka, chun .is. haru, reincanz anquezz, SeraphelArchangelaClaudia, Rivaille Jaegar, Yami-chan Kagami, dira andriani, Earl Louisia vi Duivel, Roya Chan, Earl Yumi Regnard, ayakLein24, Kunougi Haruka, Ookami-Utsugi, F-Kondios, Azure'czar, Kim Arlein 17, mager, Kyo Kyoya, JackFrost14, aitamicchi, Rikkagii Fujiyama, Shigure Haruki, Nekonyandaisuki, NatureMature, Rei Ichihara, Hasegawa Nanaho, dan para Silent Reader semuanya!
Kehadiran kalian selalu disambut hangat di Host Club ini, silahkan pilih sesuka hati mau dilayani oleh siapa~
Dan Author mau mengucapkan maaf kalau updatenya bakalan jadi lama—karena ya... kuliah sudah dimulai... Studio desain komunikasi visual sudah dimulai... *tertawa hampa*
Doakan saja Author masih bsia update ya ahaha :'D
Sampai jumpa di chapter depan!
Author yang hobi menggalau,
Nacchan Sakura.
