"Siapa ya?", baru Yaya membuka pintu, ia terserontak terkejut sekaligus shock.

"Laki-laki yang pernah mengisi hatimu, Yaya"

"Taufan?"

Yang dihadapan Yaya sekarang adalah laki-laki pernah mengisi kekosongan hatinya, dan pernah bersinggah dihatinya, dan namanya adalah Taufan, laki-laki yang pernah membuat Yaya merasakan manisnya cinta pertama.

"Taufan?", ucap Yaya tidak percaya yang ada dihadapannya sekarang.

"Kau melihatku seperti melihat hantu, Yaya", muncul senyuman manis dari wajah Taufan.

Entah apa yang harus dilakukan Yaya, tapi yang bisa dilakukan Yaya hanya membisu ditempat.

"Kau tidak pernah berubah ya, Yaya Yah.", Taufan mendekati wajahnya ke wajah Yaya.

Pipi Yaya seketika memerah, suhu yang ada diseluruh tubuhnya seperti berpindah ke kedua pipinya. Dan reflek saja, Yaya mengambil jarak dari Taufan.

"A..-a..pa tujuanmu kesini?", tanya Yaya grogi.

"Ya ampun Yaya, masih saja kaku.", Taufan menepuk jidatnya pelan.

"Kau tinggal jawab saja, apa tujuanmu kesini"

Seuntai senyuman muncul lagi diwajah Taufan.

"Aku hanya ingin minta maaf saja", senyuman dari Taufan memang masih ada, tetapi senyuman itu tercampur kesedihan.

"Untuk apa?."

"Aku mempunyai hubungan dengan sahabat masa kecilmu tanpa sepengetahuanmu", Taufan menundukkan kepalanya

"Sudah berapa kali aku bilang, tidak usah bawa masalah itu lagi setiap bertemu denganku. Apa kau tidak paham juga?", nada bicara Yaya meninggi.

"Aku juga seharusnya minta maaf kepada kakakku, Yaya"

"Memangnya kau ada masalah apa lagi dengan kakakmu?", Yaya tampak tak mengerti, ia menaikkan satu alisnya ke atas.

"Sebenarnya sahabatmu itu dengan kakakku berpacaran."

"Jadi... Kau menghianati aku dan kakakmu sendiri? Bagaimana bisa kau sebrengsek itu hah? Mengapa kau menghancurkan 2 hati orang sekaligus? Mengapa Taufan?", suara Yaya terdengar bergetar.

Taufan membisu, tidak menjawab pertanyaan dari Yaya.

"Aku dengan pacarmu itu, dari TK sampai SMP kita bersama-sama. Kita berpisah karena berbeda SMA dan aku merasa kesepian. Kau hadir dikehidupanku, berteman, dan kau mulai memberikan harapan.", Yaya mati-matian menahan tangisnya

"Ya aku tahu itu Yaya"

"Dan kita saling menyukai, dan kau menyatakan perasaanmu padaku. 5 bulan kita menjalani bersama, dan disaat yang bersamaan kau mulai berubah. Aku berfirasat kau tidak menyayangiku lagi. Dan ternyata benar, aku melihat kau dengan sahabatku sendiri berdua, bahkan kau berciuman dengan dia Taufan. Kau tau apa yang kurasakan waktu itu? Sakit, bagaikan ditusuk beribu bambu runcing", muncul setetes air mata Yaya.

Dan Taufan masih membisu melihat Yaya.

"Padahal kau dan dia berbeda SMA, mengapa kau bisa mengenal dia Taufan?"

"Jadi Sahabatmu dan kakakku satu SMA", Taufan menampilkan senyumannya tapi senyuman itu tidak bisa menutupi kesedihannya.

Yaya terkejut apa yang dikatakan Taufan.

"Setiap sepulang sekolah, pasti kakakku membawa pacarnya kerumah, dan aku berteman dengan dia, dan tanpa aku sadari aku menyukai dia, begitu pun sebaliknya. Tanpa pengetahuanmu dan kakakku"

Yaya nampak begitu kesal mendengar cerita Taufan.

"Dan ketika kita lulus SMA, kau pindah ke pulau rintis. Di saat yang bersamaan hubungan dengan kakakku mulai renggang, dia hampir mengetahui jika aku berpacaran dengan sahabatmu. Aku dan dia pergi ke pulau rintis dan tinggal di pulau rintis. Dan sekarang ini aku dengar kakakku ada disekitar pulau rintis."

'PLAKK'

Seketika Yaya menampar Taufan sangat kencang.

"Sudah cukup Taufan, kumohon. Cukup aku saja yang kau hianati, mengapa kau harus menghianati kakakmu sendiri? Kumohon jadikan kisah ini menjadi pertama dan terakhir untuk kau khianati. Dan hati itu bukanlah baja yang setiap disakiti bakalan tahan banting, semua hati sama saja. Seperti kaca, kalau udah disakitin ga bakalan bisa diperbaikin lagi, jika diperbaikin tidak bisa ke bentuk aslinya.", Yaya tidak bisa membendung air matanya lagi.

"Aku tahu itu, itu sebabnya aku kesini untuk meminta maaf kepadamu. Dan aku juga minta maaf baru menceritakan kejadian ini padamu"

"Apa kau akan ceritakan itu ke kakakmu dan apakah kau meminta maaf?"

"Aku tidak tahu, Yaya. Aku meminta maaf kepadamu, butuh persiapan yang lama.", Taufan nampak frustasi.

"Aku juga sepenuhnya belum memaafkanmu Taufan.", Yaya menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan air matanya, walaupun sudah terlihat air matanya oleh Taufan.

"Kau sudah pantasnya begitu kok padaku, aku memang tidak pernah pantas untukmu", Taufan mengelus kepala mungil Yaya.

Yaya begitu merindukan hal ini, tapi ia sadar Taufan sekarang bukan siapa-siapa Yaya lagi, Yaya bukan prioritas dihati Taufan lagi.

"Tujuanmu kesini sudah terpenuhikan? Sekarang kau pulang", Yaya menyingkirkan tangan Taufan dari kepalanya.

"Maaf", Taufan lenyap dari hadapannya

"Maafkan aku juga", kaki Yaya melemas dan ia terduduk dilantai. Setetes air mata keluar, dan semakin lama, air matanya keluar dengan deras.

"Kau curang Taufan, curang. Kau berhasil menghianatiku dan kakakmu sendiri.", Yaya menyeka air matanya secara kasar.

"Yaya?"

Yaya langsung mendongakkan kepalanya keatas, sumber suara itu dari Hali. Yaya buru-buru menyeka air matanya dan bangun dari duduknya.

"Hali udah pulang? Urusannya udah selesai? Berarti pijitin aku lagi ya", Yaya sukses menampilkan senyumannya walaupun Hali tau itu senyuman palsu.

"Bego. Tidak usah senyum kayak gitu, sok kuat", Hali menyentil dahi Yaya kencang sehingga menimbulkan bekas memerah di dahi Yaya.

"Apaan sih? Kok bawa sok kuat sok kuat? Emangnya aku abis ngapain?", tanya Yaya tidak mau kalah, ia berusaha menutupi kebohongannya supaya Hali tidak tahu.

"Tanya sama diri kamu sendiri.", Hali menatap tajam ke Yaya, tapi ada perasaan cemas yang tertanam diperasaan Hali.

"Yaya emangnya kamu abis ngapain? Yaya jawab dong", Yaya mengikuti perintah Hali, entah Yaya berpura-pura polos, atau menutupi masalahnya, atau memang dia bodoh.

"Ck, kau... Terserah.", Hali berdecak kesal karena sikap Yaya yang sok kuat, sok polos, dan sok semuanya lah.

"Yaiyalah terserah aku dong ini kan masa-...", pembicaraan Yaya terpotong karena Hali melewatinya dan pergi ke kamar. Yaya membuang nafasnya lega dan ia tersenyum tipis "Satu masalah selesai, aku berhasil menutupi masalahku dari Hali.", gumam Yaya lega dan air matanya menetes lagi.

Hali membuka pintu kamarnya dan membantingnya secara kasar. Hali menyenderkan kepalanya dipintu dan menatap ke langit-langit kamarnya. "Aku tidak suka senyuman itu, senyuman sok kuat, dan tidak ada artinya.", Hali nampak begitu kesal.

"Bukannya kau tidak akan mempedulikan Yaya lagi?"

"Bukannya kau akan dingin ke setiap perempuan kecuali kepada orang yang kau cari itu?"

"Bukannya kau akan membenci Yaya? Mengapa kau selalu membantu dia, bahkan sekarang kau mencemaskan dia?!"

"Apa karena kau menyukai Yaya? Kekasihmu itu mau dikemanakan?"

"Hatimu sudah terbuka untuk Yaya, jika kau menyayangi kekasihmu. Tutuplah rapat-rapat hatimu untuk Yaya, Hali."

Kata-kata itu melayang-layang terus dipikiran Hali, Hali memukul tembok yang ada di sampingnya sangat kencang. Ia tak peduli tangannya berdarah, bahkan jika tangannya patah ia takkan peduli.

"Aku akan menjauhi Yaya."

Tbc

Aloha readers, jadi saya langsung ke intinya saja yaa. Uhm maaf words yang bisa aku hasilkan segini doang karena ide aku mentoknya ampe segini. Dan kalo dipaksain justru tambah ancur ceritanya kan ga enak juga bacanya:(. Dan kayaknya cerita ini ga begitu jelas, alurnya kecepetan (tapi plot ceritanya udah aku buat), dan uhm bagi Ayaa ceritanya ga begitu menarik, makin kesini.

Tapi ya tapi Ayaa punya penawaran, ff ini aku hapus atau aku tetep lanjutkan. Dan silahkan riviews dan kasih pendapat tentang ff Ayaa ini :((, ga riviews gapapa sih, berarti itu Ayaa artikan ff ini dihapuskan hueee :(((, tapi sekarang Ayaa gak bales riviews kalian satu persatu. Maaf sekali lagii :"(.

Sampai jumpa lagi.

Salam manis Ayaa-chan :**