Kau masih membenciku, Kudo?
.
.
.
Disclaimer : Aoyama Gosho
Ini terjadi dengan tiba-tiba.
Mereka sedang berdiri di dalam lab bawah tanah yang gelap. Cuma sedikit cahaya dari screen computer yang menyala. Udara terasa sesak.
…dan dia berkata dengan suaranya yang jernih.
"Aku akan pergi dari sini setelah semuanya usai."
Shinichi Kudo tak mendengarnya dengan jelas tetapi matanya membesar ketika dia berusaha mencernanya lagi.
"Kenapa?" desaknya.
Dia tersenyum. Senyuman yang mengiris hatinya dan hati pria itu.
"Aku akan pergi ke Amerika. Ini kesempatan bagus untukku, Kudo"
Shinichi merasa paru-parunya hampir meledak. Entah karena kurangnya oksigen atau kata-kata gadis itu yang menggaung terus. Dia menekan dadanya. Matanya menyipit menatap Shiho Miyano. Mereka tak bicara berdua lagi setelah itu.
Saling menghindari satu sama lainnya.
.
.
.
Kudo,
Bagaimana kabarmu? Aku telah menerima undanganmu. Aku akan datang ke Japan begitu mendapat izin cuti dari FBI.
Shiho Miyano
.
.
.
"Haibara?"
Dia menoleh dan menemukan Masumi Sera tersenyum padanya.
"Miyano namaku sekarang"
"Aku tahu. Cuma tak biasa memanggilmu dengan nama itu. Daripada Miyano, aku lebih suka memanggilmu Shiho-chan" ujar Sera sambil nyengir dan memeluk gadis didepannya.
"Kau sama sekali tidak berubah"
Sera cemberut. "Kau tidak melihat dadaku sudah tumbuh?"
Shiho memutar bola matanya. "Sepertinya iya"
Sera tertawa dan memeluk sahabatnya lagi.
"Selamat datang kembali"ujarnya.
.
.
.
Shinichi benci memakai jas dan dasi. Dia berulang kali melepaskan ikatan dasi dan memasangnya balik sambil mendecak di depan cermin.
Pintu terbuka dan Heiji Hattori masuk.
"Kudo, gadis itu berada disini"
"Siapa?" tanyanya acuh tak acuh.
"Haibara-san"
Shinichi berhenti menarik dasinya. Dia kemudian merapikan jasnya. Heiji mengamatinya dari balik cermin.
"Lalu?" gumamnya.
"Dia baru tiba dari perjalanan 12 jam New York dan langsung kesini dari bandara untuk menemuimu"
"…"
"Kau masih membencinya?"
"…"
Heiji mendesah.
"Acaranya mulai sebentar lagi"
"Aku tau"
.
.
.
Haibara, kau sama sekali tidak membalas emailku dan tidak mengangkat teleponku. Kau baik-baik disana kan? Pelatihan FBI tentu berat bagimu. Aku khawatir dan cemas.
.
Haibara, Jodie-san baru meneleponku kalau kau baik-baik saja dan kau menyuruhku untuk berhenti meneleponmu dan mengirimkan email. Sebenarnya ada apa dengan kau? Kau membalas email dan telepon yang lain, tapi kau tega terhadapku. Kau membenciku?
.
Haibara. Sial. Kau tak bisa begini terus. Kenapa menghindariku?
.
Haibara, kau menganggapku apa sebenarnya? Jadi apa yang telah kita lewati bersama, tidak ada artinya bagi kau?
.
Haibara, walau apapun yang terjadi, perasaanku tak akan berubah. Jangan membuatku membencimu.
.
Aku membencimu.
.
Email dan telepon dari Shinichi berhenti. Detektif itu menyerah.
.
Lalu…
.
Haibara, aku akan menikah dengan Ran.
.
.
.
Ran sangat cantik dengan balutan gaunnya yang berwarna putih. Tangannya menggenggam buket bunga mawar merah yang indah dan dia tersenyum kepada semua tamu yang hadir. Tak terkecuali Shiho.
Shiho mengamati jalannya prosesi pemberkatan dengan wajah datarnya. Dia melihat Heiji dan Kazuha di salah satu sudut bangku dengan Sonoko dan Makoto disampingnya. Sonoko tampak menangis dan menyembunyikan wajahnya di balik saputangannya.
Kogoro dan Eri Mouri tampak disalah satu sudut ruangan lain. Mereka tampak bahagia dan saling bergenggaman tangan. Di salah satu bangku lain tampak Yusaku dan Yukiko Kudo yang juga tak mampu menahan tangis haru.
Kau bahagia bukan, Kudo?
Kau yang paling kuinginkan untuk bahagia, Kudo.
Apa kau membenciku sekarang, Kudo?
Shiho memperhatikan kedua mempelai saling berciuman dan menukar cincin setelah saling mengucapkan janji yang dipimpin pendeta.
Gadis itu menyadari ada yang mengamatinya, dia menoleh, Hakase menatapnya dengan wajah berkerut. Shiho tersenyum menenangkannya dan meremas tangan Hakase pelan.
.
.
.
Kue dipotong. Semua tamu tampak gembira dan saling bercengkerama. Heiji memperhatikan Shinichi yang tampak sibuk melayani tamu. Dia tau kalau Shinichi melayani hampir semua tamu tetapi pandangan matanya tidak mau bertemu ke suatu titik. Titik dimana Shiho Miyano berada.
Setelah berbincang sejenak dengan Hakase tentang kesehatannya, dan memeluk Sera lagi, Shiho bersiap-siap untuk meninggalkan gedung gereja ketika mendengar namanya dipanggil.
"Haibara…"
Shiho menegang ketika mendengar suara pria itu, tapi dia segera berbalik, gaunnya melayang berputar mengelilingi tubuh rampingnya dan rambut pirang strawberrynya jatuh kepundaknya berirama.
Shinichi menatapnya.
"Kau ingin pergi" desisnya.
Shiho membuka mulutnya, tidak ada suara yang keluar.
"…tanpa mengucapkan selamat tinggal"
Shiho mengangkat alisnya.
"…lagi. Seperti dulu"
"Selamat atas pernikahanmu, Kudo. Kau dan Ran sangat serasi"
"Aku tidak butuh ucapan selamatmu, Haibara"
Shiho termangu.
"Kau meninggalkanku tanpa mengucapkan selamat tinggal"
"Aku tidak pernah bagus dalam hal perpisahan, kau tau itu, Kudo"
"Kau tidak membalas semua email dan teleponku. Dan kau datang seolah-olah tak terjadi apa-apa. Kau datang seakan kau tak bersalah."
"Bukankah impianmu itu menikah dengan Ran?" elak Shiho.
"Haibara…"
"Ran adalah wanita impian setiap pria, bukan begitu , Kudo?"
"…"
"Kau selalu meminta antidote untuk menghabiskan waktu bersama dengannya bukan begitu, Kudo?"
"Haibara!"
"Ran adalah orang yang paling cocok untukmu. Kau bahagia bukan, Kudo?"
"Hentikan, Haibara!" wajah Shinichi mengeras. "Kau tau apa tentang diriku, Haibara?"
Shiho tersenyum.
"Aku mengenalimu, Kudo. Sangat mengenalimu"
"Berarti kau tau apa yang sebenarnya kuinginkan, Haibara"
"Aku tau"
"Tapi apa kau inginkan dan kau butuhkan, itu beda, Kudo…"lanjut Shiho lagi dengan lembut.
Shinichi menatapnya tak mengerti.
Shiho tersenyum lagi. Matanya memantulkan kesedihan, putus asa, luka, penyesalan, namun hanya sekejap. Bola matanya yang berwarna lavender kebiru-biruan itu sekarang bertemu dengan iris mata Shinichi.
Mata pria itu pertama kalinya tampak hidup setelah sekian lama dan menyala-nyala, menyiratkan emosi yang sama dengan gadis itu.
"Haibara…"bisiknya. Tangannya ragu sejenak kemudian naik memegang bahu gadis itu dan dia merasakan gadis itu menegang dibawah sentuhannya.
"Kudo…"
Kedua mata mereka masih bertemu. Jiwa mereka seakan bersatu untuk sejenak.
Tangannya yang berada di bahu Shiho, terlepas, kemudian turun perlahan ke pundak, lengan, siku dan pergelangan tangan gadis itu.
Shinichi melepaskan tangannya perlahan, jari mereka saling bersentuhan sebentar seakan tidak menginginkan perpisahan. Kemudian Shiho menarik tangannya sambil berpura-pura merapikan gaunnya.
"Haibara… A—Aku…"sahut Shinichi pelan.
Shiho segera memotongnya,"Sssttt…"bisiknya sambil meletakkan telunjuknya ke bibirnya sebagai tanda supaya detektif itu berhenti.
Dan Shinichi menurutinya…
"Jadi ini adalah selamat tinggal sesungguhnya, Kudo?" bisik Shiho lagi dengan lirih.
Shinichi tak menjawab. Matanya masih menatap gadis itu dengan dalam.
Shiho tersenyum kecil dan berbalik meninggalkan pria itu.
Shinichi tak mengejarnya, dia hanya melihat langkah gadis itu menjauh.
Selamat tinggal, Shinichi Kudo.
Apakah kau masih membenciku?
.
.
.
Fin
Author's note : U-uh, my angsty mood... Salah satu alternate ending DC dimana Shinichi dan Ran pasti berakhir bersama. Tapi ya, Shinichi tetap gak bisa melupakan gadis yang lain. hehe. Gadis yang cuma ingin dikenang dan mengharapkan kebahagiaan Shinichi.
Thanks telah meluangkan waktu untuk membaca. ^_^
