"Kau benar-benar membuatku malu ! Apa yang ada di otakmu, hah ?!" bentak ayah Sakura.
Sakura diam. Tak berniat melihat ayahnya. Dia hanya duduk tertunduk dengan pipi yang lebam dan ujung bibir yang berdarah karena dipukul ayahnya. Dia sudah terbiasa mendengar makian ayahnya, namun tetap hatinya terasa sakit, walaupun dia berusaha menahannya.
"Dasar anak tak berguna ! Garis darah busukmu itu tetap saja tak bisa dipungkiri. Seharusnya kau ikut menghilang saja bersama ibumu ! bentak ayahnya dengan kasar.
Mendengar kata-kata kasar ayahnya itu, Sakura tak bisa menahan sakit hati nya. Dia beranjak bangun dan segera pergi meninggalkan ruangan yang hanya berisi dia dan ayahnya itu.
Begitu pintu dibuka Sakura, muncul sosok Brinda dari balik pintu yang sejak dari tadi mengawasi dengan wajah cemas.
"Tuan muda ..." katanya ragu.
Namun Sakura tidak memperdulikannya dan tetap melaju dengan kecepatan penuh menuju kamarnya.
Begitu sampai di kamarnya, Sakura membanting pintu kamarnya dengan kasar, berjalan lunglai ke arah tempat tidurnya, dan kemudian terduduk lemas di situ.
Tak lama setelah duduk terdiam seperti itu, Sakura kemudian beranjak bangun dan berjalan lunglai ke arah meja belajar yang berada tepat di hadapannya. Dia membuka laci meja, dan merogoh isi di dalamya hingga akhirnya dia menemukan apa yang dia cari. Kemudian dia kembali berjalan ke arah tempat tidurnya dan terduduk kembali di sana.
"Padahal kupikir... aku tak akan menggunakannya lagi." Pikir Sakura sambil melihat sendu benda yang ada di tangannya itu.
Sakura menggulung lengan kiri kemejanya. Mendorong keluar mata pisau cutter, dan mengarahkannya ke arah pergelangan tangannya yang masih terlihat bekas-bekas torehan di situ. Kemudian dia menyayat permukaan kulit pergelangan tangannya hingga menimbulkan goresan sekitar 3 - 4cm panjangnya. Sakura melihat dengan tenang darah yang keluar dari luka goresan itu.
"Garis darah busukmu itu tetap saja tak bisa dipungkiri !" Sakura mengingat kembali kata-kata ayahnya tadi. Air mata dengan perlahan mengalir membelah pipi pucat dan lebam pemuda itu.
"Ukh...hik...uuhhh...uuu... " Sakura menangis dalam diam di kamarnya sambil memegangi pergelangan tangannya yang berdarah. Luka di tangannya terasa sakit, tapi sesuatu di dalam dadanya terasa jauh lebih sakit.
"Tlookkk...tlookkk" tangisan Sakura terhenti karena mendengar suara itu. Dia mencari-cari sumber suara itu dan ternyata berasal dari jendela kamarnya. Suara itu berasal dari kerikil-kerikil yang dilemparkan ke arah jendela.
Sakura beranjak bangun dan menuju ke arah jendelanya, mencari tahu siapa biang dari kegaduhan kecil itu. Dan kemudian terlihat sosok seorang pemuda berdiri di pekarangan rumahnya tepat di bawah jendela kamar Sakura. Berpakaian kaos putih bercorak hitam, berjaket warna coklat tua dan mengenakan celana jeans warna hitam. Dari besar dan tinggi badannya, Sakura langsung mengetahui orang itu Reiji. Di tangan kirinya penuh dengan kerikil-kerikil yang digunakannya tadi untuk memanggil keluar Sakura.
"Ma...mau apa kau di sini ? Lagipula...bagaimana caranya kau bisa berada di situ ?" tanya Sakura dengan bingungnya. Tak menduga Reiji bisa ada di rumahnya.
"Aku hanya memanjat pagar ini. Soalnya satpam penjaga rumahmu tak membiarkan aku masuk dari pintu depan, sih." Katanya sambil menunjuk pagar yang berada tak jauh di belakangnya.
"Meman...? Buat apa kau melakukan hal itu ?!" kata Sakura tak habis pikir apa yang dilakukan pemuda itu.
"Aku ingin bicara denganmu. Karena itu, turunlah." jawab Reiji serius.
"Aku tak bisa turun. Ayahku masih ada di rumah. Dia tak akan memperbolehkan aku keluar dari kamarku hari ini." Jawab Sakura.
"Kalau begitu, lompat saja. Aku akan menyambutmu." Balas Reiji.
"Apa ?! Lompat ?! Kau sudah gila ya? Aku di lantai 2. Ketinggian ini bisa mencapai 10 meter." Pekik Sakura tak percaya.
"Kan sudah kubilang aku akan menyambutmu. Aku sudah tahu berapa kira-kira beratmu, kok. Beratmu seringan bulu, dari pengalamanku menggendongmu." Sahut Reiji dengan santai.
"... tapi aku tak mau bicara." Jawab Sakura.
"Hhh...sudah kuduga itu yang akan keluar dari mulutmu. Tapi, ayolah. Kali ini saja." Bujuk Reiji dengan memelas.
"Bawa aku pergi" kata Sakura.
"Hah ? Apa ?" tanya Reiji.
""Aku tak mau bicara di sini. Karena itu, bawa aku pergi supaya aku bisa bicara." Sambung Sakura.
Reiji terdiam, berwajah bingung. Tapi itu tak lama. Dia kemudian tersenyum.
"Sini !" kata Reiji seraya merentangkan kedua tangannya.
Tanpa ragu-ragu, Sakura melompati jendela kamarnya dan terjun ke arah tangan Reiji yang siap menyambutnya. Anehnya, dirinya sama sekali tidak merasa takut. Entah kenapa, pada moment singkat itu, dia menaruh kepercayaan penuh pada Reiji.
Dan Sakura mendarat dengan mulus di permukaan tanah di dalam pelukan Reiji.
"Seperti yang kukatakan bukan ?! Seringan bulu !" gelak Reiji dengan riang.
"Lalu, bagaimana kita keluar ?" jawab Sakura cepat-cepat sambil melepaskan diri dari pelukan Reiji dengan wajah malu.
"Seperti cara aku masuk tadi, donk. P-a-n-j-a-t !" jawab Reiji dengan wajah nakal. Dia sengaja mengeja pelan-pelan kata terakhirnya.
Mau tidak mau Sakura terpaksa mengikuti cara Reiji, walaupun dia tidak menyukainya. Diawali dengan Reiji yang terlebih dahulu memanjat, dan kemudian disusul oleh Sakura. Pada saat mendarat, Sakura terpaksa memakai cara yang sama seperti saat dia terjun dari jendela tadi. Walaupun melompati pagar adalah hal yang gampang bagi Reiji, namun tidak begitu bagi Sakura. Tinggi pagar itu mencapai 3 meter lebih. Walaupun malu dan enggan, namun Sakura akhirnya menerima juga tawaran Reiji untuk menyambutnya. Reiji merasa senang dengan keadaan dimana Sakura tak bisa menolak tawarannya itu. Dan juga sensasi sewaktu Sakura jatuh di pelukannya. "Waw, seperti menangkap malaikat jatuh" candanya. Dan kemudian dibalas dengan wajah garang Sakura.
"Nah, sekarang kita mau kemana?" tanya Sakura.
"Eemmm... sepertinya kita tak bisa pergi jauh-jauh. Mengingat kau yang tidak memakai alas kaki dan dengan wajah seperti itu..." jawab Reiji dan kemudian baru menyadari hal yang tidak disadarinya dari tadi.
"Lhoooo ? Wajahmu kenapa ?! Siapa yang memukulmu ?!" pekik Reiji sambil menyentuh wajah Sakura yang lebam.
"Kau baru menyadarinya ? Lambat sekali..." timpal Sakura dengan bingung.
"Itu tidak penting ! Matamu juga sembab. Kau habis menangis ?! Katakan, siapa yang memukulmu !?" tanya Reiji dengan suara keras. Dia sangat khawatir pada pemuda di hadapannya itu.
"Sudahlah. Tidak masalah." Jawab Sakura.
"Apanya yang tidak masalah ?! Ayo ke rumahku ! Biar kukompres wajahmu." Bentak Reiji sambil menarik tangan Sakura, hendak membawanya pergi.
"Akhh..." pekik Sakura kesakitan.
"! Tanganmu..." Reiji baru menyadari pergelangan tangan Sakura yang digenggamnya itu berdarah.
Reiji berbalik ke arah Sakura. Mengangkat pergelangan tangan Sakura dengan lembut dan memperhatikan luka goresan di tangan Sakura.
"Kau memotong tanganmu lagi ?! Kau ini benar-benar keterlaluan ! Mau sampai kapan kau melakukan hal seperti ini ?!"bentak Reiji dengan penuh kemarahan.
Sakura hanya diam tak bereaksi menyaksikan Reiji. Reiji semakin kesal melihat reaksi Sakura yang seperti itu. Dia benar-benar marah dan menyipitkan matanya melihat darah yang masih mengalir keluar dari luka torehan di tangan Sakura itu.
Reiji kemudian merangkul bahu Sakura dan menariknya pergi. Tangannya yang satunya lagi menekan pergelangan tangan Sakura untuk menghentikan pendarahan.
"Ma...mau ke mana ?" tanya Sakura sambil ikut melangkah maju karena didorong Reiji.
"Ke rumahku. Merawat lukamu." Kata pemuda itu sambil tidak melihat wajah Sakura. Dia masih marah pada pemuda mungil itu.
"Haa?" Sakura tak bisa menolak. Dia hanya bisa mengikuti Reiji yang menariknya dengan kebingungan.
Rumah yang kecil. Itulah yang pertama kali muncul di benak Sakura sewaktu melihat rumah Reiji. Walau dia sudah dapat menerkanya, dari pengamatannya. Tentu saja. Dari jendela kamarnya, dia bisa melihat dengan jelas ukuran rumah Reiji dibandingkan dengan rumahnya. Bisa dibilang perbandingannya seperti bayi gajah dan induk gajah.
"Masuklah!" kata Reiji sambil membukakan pintu untuk Sakura. "Maaf kalau terlalu sempit dan kecil untukmu."
"Aahh... Tidak. Tidak sama sekali." Jawab Sakura buru-buru. "Pe..permisi..." sambungnya lagi dengan kikuk. Ini pertama kalinya dia bertamu ke rumah teman sekolahnya.
Tidak lama kemudian, dari arah dalam rumah terdengar suara derapan kaki.
"Ara... Rei-chan... sudah pulang? Cepat sekali." Nenek Reiji sudah sampai di depan pintu menyambut mereka. "Eee...? Kau bawa teman? Ada angin apa kau membawa teman ke rumah? Bisasanya tidak pernah."
"Haa?" tanya Sakura. Apa? Jadi dia pun baru pertama kali ini membawa teman sekolah ke rumahnya? Pikir Sakura sambil melihat Reiji dengan tatapan tak percaya.
Reiji pun menyadari tatapan Sakura itu, namun tidak mau ambil peduli. "Dia terluka. Aku akan mengobatinya. Bisa tolong ambilkan kotak obat, Nek ? "
"Apa? Terluka ?" kejut nenek Reiji. Kemudian dia melihat darah di pergelangan tangan Sakura dan lebam di wajahnya. "Astaga... Rei-chan, antarkan dia ke ruang tengah. Nenek akan ambilkan kotak obat dan kompres dahulu!" sambil mengatakan itu, nenek Reiji menghilang masuk ke dalam rumah.
"Ayo.." ajak Reiji.
Sakura hanya bisa menurutinya dan melangkah masuk menuju ruang tengah.
Bukan ruangan yang besar. Hanya berukuran sekitar 5x5 m. Di tengah-tengah ruangan terdapat meja pendek yang panjangnya sekitar 1.5 m. Di sisi tepi ruangan terdapat tv kecil yang diletakkan di atas rak kecil. Di tepi ruangan yang lainnya terdapat lemari-lemari kecil 3 buah. Dan di sisi yang lainnya merupakan jendela yang langsung mengarah ke pekarangan yang tidak bisa dibilang luas. "Ruangan ini merangkap tempat makan" pikir Sakura. Dari jendela di pekarangan itulah Sakura melihat adegan dimana Reiji makan bersama kakek neneknya dari jendela kamarnya. Tidak salah. Sakura melihat ke arah luar jendela dan pemandangan jendela kamarnya lah yang langsung terlihat.
"Sedang apa kau di situ ? ayo, kemari." Perintah Reiji.
Sakura tidak menjawab apa-apa. Dia hanya menuruti perintah Reiji dan duduk bersila di hadapan pemuda itu. Dia bingung kenapa dia mau saja menuruti perkataan Reiji. Mungkin karena dia berada di rumah yang baru pertama kali dia masuki.
Reiji menggulung lengan kemeja Sakura dengan lembut dan perlahan. Takut mengenai luka di tangannya. Kemudian dia memeriksa kedalaman luka yang ditimbulkan Sakura.
Sakura menjadi sangat canggung karena Reiji sama sekali tidak bicara apapun. "padahal biasanya dia sangat cerewet" pikirnya. Tapi kemudian dia menjadi malu sendiri. Dia juga sama saja. Biasanya dia pasti sudah memprotes perlakuan Reiji itu.
Tak lama kemudian, muncul nenek Reiji yang menbawa baskom kecil berisi air dan kotak obat.
"Apa perlu nenek bantu?" tanyanya sambil memberikan semua itu pada Reiji.
"Tidak perlu. Biar aku saja. Terima kasih, Nek." Jawab Reiji sambil tersenyum pada Neneknya.
"Ya, sudah kalau begitu. Nenek tinggal dulu, ya." Jawabnya sambil membalas senyum pada cucu semata wayang nya itu. "Santai saja, ya. Anggap saja rumah sendiri." Katanya ramah kepada tamunya.
"I...Iya...te...terima kasih." Balas Sakura dengan cepat dan canggung.
Reiji tersenyum geli melihat reaksi Sakura itu.
Setelah itu, nenek Reiji beranjak pergi dan meninggalkan hanya mereka berdua di ruangan itu.
"Kau ini benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya kau membuat luka sebanyak dan separah ini pada tubuhmu sendiri." Kata Reiji membuka pembicaraan. Ternyata dia juga tidak tahan, lama-lama berdiam seperti tadi.
Sakura pun sebenarnya merasa lega, akhirnya Reiji mau berbicara. Namun, dia tidak tahu harus menjawab apa dan akhirnya tetap diam.
Reiji mulai membersihkan darah dari pergelangan tangan Sakura dengan handuk basah.
"Ukh..." Sakura sedikit mengiris sakit sewaktu handuknya mengenai luka nya.
Reiji terhenti sebentar dan kemudian melanjutkannya dengan lebih hati-hati. Kemudian dia mengambil obat dan mengoleskannya ke luka Sakura dengan kapas secara perlahan dan hati-hati.
"Awww... sakitt..." ringgis Sakura. Rasanya sangat perih sampai-sampai air matanya keluar.
"Kalau kau tahu sakit, sebaiknya kau hentikan perbuatanmu menoreh tanganmu sendiri seperti ini." Jawab Reiji sambil tetap mengoleskan obat.
"Iya, aku tahu! Tapi ini perih sekali. Aduduhhh..." pekik Sakura lagi sewaktu obatnya meresap masuk ke dalam lukanya. "Obat apa yang kau pakai ?!" Obat yang biasanya dia pakai, tidak akan membuatnya sampai memekik kesakitan dan mengeluarkan air mata.
"Aku pakai obat ramuan keluargaku. Memang lebih perih dari obat luka biasa. Tapi, dengan ini lukanya akan lebih cepat kering dan menutup alias sembuh." Sahut Reiji dengan santainya.
"Pembunuh! Ow...aaaaa" keluh Sakura kesakitan.
Setelah selesai mengoleskan obat, Reiji kemudian membalut pergelangan tengan Sakura yang terluka dengan perban.
"Shit!... Aku tak mau lagi diobati olehmu, pembunuh!"umpat Sakura dengan susah payah setelah berhasil menahan rasa sakitnya.
"Sebaiknya memang jangan. Aku tak akan menjamin aku akan lemah lembut seperti ini lagi kalau mengobati lukamu lagi." Jawab Reiji sambil tetap memfokuskan perhatiannya dalam membalut luka Sakura.
"Yang seperti ini kau katakan lemah lembut ?! Aku tak berani membayangkan saat dimana kau tidak lemah lembut. Kau berniat mengobatiku atau membunuhku?" kata Sakura dengan kesal.
"Hhmm... akhirnya mulut tajammu itu keluar juga." Jawab Reiji sambil tersenyum. "Dari tadi kau sangat pendiam dan sopan, tidak seperti dirimu."
"Jangan sembarangan ngomong!" sahut Sakura dengan kesal. Namun dia langsung membuang wajah dengan wajah yang memerah. Omongan Reiji tepat pada sasaran.
"Hei, Sakura." Pangil Reiji dengan serius sewaktu dia selesai membalut luka Sakura, namun tangannya masih memegangi pergelangan tangan Sakura. Sakura melihat Reiji dengan wajah penasaran. "Aku tak akan memaksamu menjawab alasan kenapa kau melakukannya, tapi maukah kau berjanji padaku kalau kau tidak akan melakukan hal seperti ini lagi?"
Sakura terdiam. Tidak menyangka itu yang akan dikatakan Reiji. Dia pikir pemuda itu akan merendahkannya.
"Berjanjilah padaku ! Kau tidak akan menoreh tanganmu seperti ini lagi !" sahut Reiji tegas sambil melihat Sakura dengan wajah serius.
"Ahhh... y...ya..." Dia sangat terkejut dan bingung kenapa Reiji sampai segitunya khawatir pada dirinya. "Baiklah..." sambungnya lagi dengan ragu-ragu karena Reiji masih tetap melihatnya dengan tatapan tajam yang menusuk padanya.
"Kau sudah berjanji." Sahut Reiji akhirnya, dan kemudian wajahnya berubah lembut dan tersenyum pada Sakura.
Sakura masih terdiam melihat Reiji. Tidak tahu harus bereaksi bagaimana melihat perubahan air wajah Reiji itu.
Dia bingung, kenapa pemuda itu sangat memperdulikannya. Sedikitpun tidak ada perlakuan Sakura padanya yang bisa membuat pemuda itu memiliki alasan untuk berbaik hati padanya.
Belum lepas dari kebingungannya itu, Sakura dan Reiji dikejutkan oleh kedatangan nenek Reiji.
"Rei-chan, ayo makan malam. Ajak saja temanmu." Katanya dengan ramah.
""Ah, ti...tidak. tidak usah saja. Tidak perlu mengajak saya..." gagap Sakura dengan terburu-buru. Dia merasa tidak enak. Lagipula, ini pertama kalinya dia diajak makan malam oleh orang yang tidak dikenalnya dan di tempat yang asing baginya.
"Ayolah, ikut saja. Aku yakin kau belum makan apapun sejak siang tadi, kan ?!" sambung Reiji, setengah memaksa. Walaupun perkataan Reiji itu sedikit meleset. Seharusnya yang benar adalah sejak siang kemarin.
"Tidak perlu sungkan-sungkan. Tadi kan sudah saya bilang, anggap saja rumah sendiri. Rei-chan, tolong panggilkan kakek di atas, ya." Kata wanita tua itu.
"Baiklah." Jawab Reiji dengan patuh sambil beranjak berdiri.
"Kalau boleh, apa kamu tidak keberatan membantu wanita tua ini membawakan makanan dari dapur?" tanya wanita itu dengan senyum kecil bersungging di ujung bibirnya yang sudah keriput.
"Ti...Tidak! Tidak sama sekali. Izinkan saya membantu." Jawab Sakura cepat-cepat dengan suara keras. Sepertinya isi kepalanya sedang blank sekarang. Terlalu banyak hal yang membuat dia bingung dari orang-orang yang ada di hadapannya sekarang ini.
Reiji tersenyum, malah bisa dibilang hampir tertawa melihat reaksi Sakura barusan itu. Namun, dia berusaha menahannya dan berlalu menuruti perintah neneknya.
"Terima kasih." Jawab nenek Reiji dengan senyum besar dan wajah bahagia terpapar di wajahnya.
Sakura terpesona sesaat dan kemudian menunduk malu dengan wajah tersipu.
Setelah itu Sakura mengikuti wanita itu ke dapur. Kemudian kembali lagi ke ruang tengah dengan kedua tangan yang sudah penuh membawa panci. Sesampainya mereka di sana, di ruangan itu sudah duduk Reiji dan kakeknya.
"Hooo... jadi ini dia temanmu itu, Reiji ?!" tanya pemuda tua itu dan kemudian hanya dibalas anggukan oleh cucunya itu.
"Salam kenal. Nama saya Sakura." Sakura menundukkan sedikit badannya dan memperkenalkan dirinya dengan sopan dan sedikit canggung.
"Ha...ha...ha... tak perlu formal seperti itu. Santai saja." Gelaknya. "Wah, Rei-chan, hebat juga kau bisa punya teman seorang pemuda cantik seperti dia." Sambungnya lagi sambil menepuk-nepuk kuat punggung cucunya itu.
Reiji hanya bisa terbatuk-batuk pelan akibat pukulan itu. Sedangkan Sakura hanya bisa terdiam mematung, tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
"Ayo, ayo... jangan berdiri saja. Ayo duduk !" katanya ramah pada tamunya itu.
Sakura mematuhinya. Meletakkan panci makanan di atas meja dan kemudian duduk di sebelah Reiji.
"Ayo, mulai makan. Jangan malu-malu." Kata nenek Reiji menyajikan makanan ke hadapan Sakura.
"..." Sakura masih berdiam diri dengan canggung. Haruskah aku menerima ajakan makan ini? Bingungnya dalam hati.
"Ayo, makan saja." Kata Reiji pelan pada Sakura, seolah mengetahui apa yang sedang dipikirkan Sakura.
"Tapi... bagaimana kalau nanti aku... memuntahkannya...?" kata Sakura takut-takut pada Reiji dengan suara pelan.
"Tidak apa. Tidak apa kalau nanti kau memuntahkannya." Jawab Reiji lembut.
"Tapi... bagaimana kalau nanti...aku..." balas Sakura lagi dengan cemas.
"Tidak apa. Nanti aku akan menggotongmu ke toilet kalau kau ingin memuntahkannya." Potong Reiji sambil tersenyum pada Sakura.
Sakura tidak bisa berkata apa-apa lagi. Namun dia masih ragu dan takut kalau sampai yang terburuk terjadi.
"Atau kau mau kusuapi ?" goda Reiji akhirnya pada Sakura sambil mendekatkan wajahnya pada wajah pemuda cantik itu.
Godaan Reiji itu sedikit berhasil mengendurkan rasa takut dan cemas Sakura. Dan akhirnya dia hanya tersenyum dan mengambil sumpitnya.
"Selamat makan." Kata Sakura sambil mengarahkan sumpit itu ke makanan yang terpapar di hadapannya. Semua anggota yang berada di ruangan itu tersenyum lembut melihat Sakura.
Satu potongan makanan masuk ke mulut Sakura. Dia memejamkan matanya. Sebisa mungkin menelan dengan baik makanan itu. Dan dengan mulus, makanan itu melewati kerongkongan Sakura.
Rasanya biasa saja. Tidak bisa mengalahkan masakan buatan koki di rumahnya. Tapi ada sesuatu yang berbeda di makanan itu. Makanan yang biasanya dia makan, akan terasa panas ketika sampai di kerongkongannya dan setelah itu dia akan merasa mual. Tapi makanan ini, terasa hangat begitu sampai di kerongkongannya. Dan tanpa dia sadari air mata menetes perlahan dari kedua matanya.
Semua orang yang berada di ruangan itu terkejut melihat Sakura yang menangis. Apa dia segitu tidak maunya makan ? pikir mereka.
"Wah, kenapa ? Makanannya tidak enak, ya?" tanya nenek Reiji dengan cemas dan bingung.
"Ti... tidak..." jawab Sakura sambil tetap menangis. Kemudian dia tersenyum kecil. "Enak sekali."
"Maaf..." katanya sambil berusaha menghapus air matanya. "Maafkan aku..." Bagaimana bisa dia menghina orang-orang yang ada di hadapannya itu. Sakura teringat akan penghinaan yang dia lancarkan pada Reiji dulu mengenai kakek dan neneknya. Dia benar-benar merasa menyesal dan bersalah. "...maaf..." sambung Sakura berulang-ulang sambil menangis terisak-isak.
Reiji kemudian mendorong kepala Sakura ke arah bahunya. Dan kemudian merangkul pundak yang bergetar itu dengan tangannya yang satu lagi.
"Maafkan aku..." bisik Sakura dalam isak tangisnya. Dia menenggelamkan kepalanya pada dada bidang pemuda yang memeluknya itu.
Reiji tersenyum lembut dan memejamkan matanya. "Tidak apa-apa. Tak ada yang menyalahkanmu. Tenanglah." jawabnya lembut sambil mengelus-elus rambut pemuda kecil yang menangis di dalam pelukannya itu. Benar-benar...hanya orang ini saja...yang tidak bisa tidak kuperhatikan. Pikirnya sambil menghela nafas.
Di lain pihak, kakek dan nenek Reiji hanya bisa nervous dan salah tingkah menyaksikan pemandangan 'mencurigakan' di hadapan mereka.
Setelah merasa tangisan Sakura sudah mulai mereda, Reiji akhirnya melepaskan pelukannya. "Ayo makan. Nanti makanannya dingin."
Sakura hanya mengangguk pelan dan kemudian kembali ke posisi duduknya semula.
"Ayo, makan yang banyak." kata nenek Reiji akhirnya setelah lepas dari ke-nervous-an nya sambil memberikan makanan tambahan ke piring Sakura.
"Terima kasih."kata Sakura sambil tersenyum lembut dan kemudian melanjutkan makannya.
Setelah selesai makan dan Sakura berniat membantu mencuci piring, tapi kemudian niat nya itu ditolak habis-habisan oleh nenek Reiji. Kakek Reiji kembali ke kamarnya melanjutkan pekerjaan. Sekedar informasi, pekerjaan kakek Reiji adalah penulis buku.
"Ayo, kuantar pulang." kata Reiji pada Sakura sewaktu langit sudah menunjukkan malam hari.
"Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri. Lagipula cuma di sebelah ini." jawab Sakura menolak halus tawaran Reiji.
"Tidak bisa. Aku yang memaksamu ke sini. Jadi aku bertanggung jawab untuk mengantarmu kembali." kata Reiji sambil beranjak menuju pintu depan, tidak memberikan waktu bagi Sakura unutuk menolakya.
Sakura akhirnya hanya diam mengikuti Reiji. Setelah sampai di depan rumah Sakura, Reiji baru menyadari kelalaiannya.
"Astaga...bagaimana cara kamu masuk ke kamarmu kembali ? Tadi kamu kan meloncat, ya ?! Bodohnya aku ini !" Reiji memekik dan menyesali kebodohannya. Dia tidak mungkin membiarkan Sakura memanjat naik ke kamarnya yang berada di lantai 2 itu.
"Tidak apa. Aku masuk dari pintu depan saja." jawab Sakura setelah melihat penyesalan Reiji.
"Hehh? Apa tak apa-apa ? Tadi kau kan keluar tanpa izin." Reiji melihat Sakura dengan cemas dan pandangan bersalah.
"Benar tidak apa-apa kok." setelah mengatakan itu, Sakura berjalan perlahan ke depan gerbang rumahnya dan berbicara pada penjaga gerbangnya.
"David, ini aku. Bukakan gerbangnya !" kata Sakura pada seorang pria yang baru saja memunculkan setengah badannya dari pos tempat dia berjaga.
"Eh, tu...tuan muda ? Ba...bagaimana bisa...? Tuan kan..." kata David dengan kaget dan terbata-bata. Bagaimana bisa tuan muda ada di luar? Dari tadi, tidak ada yang keluar dari rumah kecuali tuan besar. Pikirnya.
"Tidak perlu dipermasalahkan bagaimana aku bisa di luar. Sekarang, buka pintunya !" perintah Sakura.
" Ba...Baik tuan muda." jawabnya buru-buru sambil dengan patuh membukakan pintu gerbang untuk Sakura.
"Nah, sudah ya. Sampaikan terima kasihku atas makan malamnya." kata Sakura sambil tersenyum pada Reiji dan kemudain dia berbalik, berjalan masuk ke rumahnya.
"Sakura ..!" panggil Reiji. Dan kemudian Sakura berhenti berjalan dan menolehkan kepalanya melihat Reiji.
"Sampai besok di sekolah, ya !" katanya lembut sambil tersenyum pada Sakura dan kemudian dibalas senyum juga oleh Sakura.
Kemudian Sakura beranjak pergi. Reiji hanya diam menyaksikan punggung kecil itu perlahan menjauh. Dan sampai sosok kecil itu menghilang di balik pintu, barulah dia berbalik, beranjak kembali ke rumahnya.
