Behind The Pain~
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : Uzumaki Naruto/Hyuuga Hinata
Warning : Semakin tidak jelas, typo yang bertebaran dan masih banyak lagi kesalahan yang tidak patut dicontoh
Rated :T (Sepertinya akan tetap di rate ini, saya masih belum siap,,)
Don't Like? Please, Don't read...
Part-4~
Jubah warna hitam itu tampak berkibar tertiup angin, mengiringi langkah tegap tersebut menuju kediaman Hyuuga. Langkah kaki Naruto terasa berat, ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi reaksi ayah Hinata – Hyuuga Hiashi – ketika tetua Hyuuga itu tahu keadaan putri sulungnya. Ingatan Naruto menampakkan wajah Hinata yang tampak sedih tapi masih terus ditutupi dengan sikap tegarnya. Tangan Naruto mengepal erat, ingin sekali membalas apa yang telah dilakukan oleh dua orang ninja tak tahu diri yang berani-beraninya menyentuh Hinata.
Tampak gerbang kediaman Hyuuga tinggal beberapa langkah lagi dari tempatnya berdiri, tubuh Naruto tidak mau diajak bekerja sama dadanya terasa sesak dan suhu badannya terasa meningkat padahal ini masih musim dingin. Naruto ingin mengutuk dirinya sendiri, kenapa dia bisa sebodoh ini bahkan menjaga calon istrinya saja dia tidak bisa.
Maafkan aku Hinata,
Oo00oO
"Aku belum menenmukan penyebab yag pasti tentang kelumpuhanmu Hinata," Tsunade tampak diam dan menghela nafas berat. HInara duduk dalam diam, hanya menatap kepalan tangannyayang kini berada diatas pangkuannya, menunggu kalimat selanjutnya yang akan dilontarkan Tsunade. "Aku akan berusah sebaik mungin untuk penyembuhanmu Hinata,"
Kepala Hinata terangkat dan menatap Tsunade memberikan senyuman terbaiknya pada Hokage kelima tersebut. "Terimakasih Hokage-sama". Naruto menatap gadis disampingnya, kenapa Hinata tidak menangis saja tidak aka nada yang menyalahkannya jika dia menangis, kenapa gadis ini malah tersenyum seolah mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Akan lebih baik gadis disebelahnya marah atau mungkin mencaci maki dirinya yang tidak becus menjaga Hinata, bukan tersenyum seperti ini.
"Sama-sama Hinata, sebaiknya kamu menginap dulu untuk hari ini, aku ingin melakukan beberapa pemeriksaan dulu,"
Hinata mengangguk mengerti akan dan mulai memutar kursi rodanya menuju pintu keluar dari ruangan Hokage tersebut. Naruto terpaku diam menatap punggung Hinata yang perlahan menghilang di balik pintu.
"Bisakah kamu berjanji untuk menyembuhkannya Baa-chan?" Naruto masih menatap pintu yang tertutup tersebut di depannya. Mendengar permintaan yang seperti perintah tersebut, Tsunade menghel nafas pelan mendongakkan kepalanya menatap langit-langit ruangan meyakinkan dirinya.
Naruto masih menunggu ketika Tsunade memandang Hokage muda tersebut. "Kamu pikir aku siapa? Hinata pasti bisa kusembuhkan Naruto,"
Naruto menatap Tsunade mencari keraguan dari bola mata berwarna madu tersebut, Dia hanya menemukan ketulusan disana, ketulusan yang membuatnya lega. Perlahan Naruto menampilkan senyuman kecilnya dan berbalik untuk menuju pintu keluar ruangan tersebut, tapi kemudian suara Tsunade terdengar lagi mengurungkan langkah kakinya untuk melangkah lebih jauh. "Hinata adalah tunanganmu Naruto, aku harap kamu tahu posisi dan tanggung jawabmu"
Naruto memutar tubuhnya menghadap Tsunade, "Tanpa kau mintapun, aku akan mengingat tanggung jawabku padanya, aku akan selalu menjaganya. Aku sudah berjanji," Tsunade hanya membalas dengan keheningan, membuat Naruto berpikir untuk pergi dari ruangan meninggalkan hokage kelima tersebut dengan tanggung jawabnya. Ketika pemuda Uzumaki tersebut sudah hilang dari hadapannya, Tsunade bergumam kecil "Dia butuh lebih dari sekedar tanggung jawab dan janjimu Naruto,"
Naruto kini berjalan pelan menuju kamar gadis Indigo tersebut. Tubuh tingginya berhenti di depan sebuah pintu berwarna biri yang membatasinya dengan Hinata. Naruto menghela nafas sejenak guna menenangkan dirinya sebelum bertemu Hnata.
Dengan perlahan Naruto meraih kenop pintu bersiap untuk membuka pembatas di depannya ketika tanpa sengaja telinga Naruto mendengar isakan halus dari dalam. Naruto mengurungkan niatnya untuk membuka pintu dan lebih memilih melihat kedalam melalui kaca pintu.
Tampak Hinata yang sedang menundukkan kepalanya sambil terisak. Naruto memandang Hinata, dia sedikit meringis, entah kenapa bagian dalam dirinya ada yang terasa sakit ketika melihat Hinata terpuruk seperti itu. Ini semua adalah kesalahannya dan yang harus menanggung semua itu adalah Hinata. Andai saja waktu itu dia bisa memberanikan menyuarakan hatinya dan lebih memikirkan perasaan gadis tersebut bukannya menjadi keras kepala.
Mata samudranya menatap kemabali gadis Indigo yang masih setia tertunduk di atas ranjang berwarna putih. Walaupun keraguan masih menggerogoti hatinya, Naruto akhirnya memutuskan untuk melangkah masuk untuk menemui Hinata walaupun dia juga sudah bersiap untuk diusir oleh Hinata karena tidak becus menjaga gadis tersebut.
"Hinata…" panggilan lirih tersebut terdengar lirih ketika diucapkan oleh Naruto. Decitan ranjang terdengar ketika Naruto ikut duduk di samping Hinata. Tidak ada penolakan dari Hinata, gadis itu masih setia menundukkan kepalanya, berusaha menahan bulir-bulir air mata yang kini semakin memenuhi kelopak mata Hinata.
Naruto menatap sendu Hinata, "Hei…" tangan tan-nya menyentuh puncak kepala Hinata dan mengusapnya perlahan, berharap bisa menenangkan Hinata. Merasakan sentuhan lembut tersebut, Hinata mendongak dan menatap manik samudera milik Naruto dengan lavendernya yang masih digenangi air mata.
"Maafkan aku Hinata, aku memang tidak becus," Naruto tampak memutuskan kontak mata mereka dan memilih menunduk untuk melanjutkan kalimat selanjutnya. "Maafkan aku tidak bisa melindungimu, maaf" Naruto semakin menunduk menunggu reaksi gadis lavender tersebut. Dia tahu maaf saja tidak akan cukup untuk menghapus kesalahannya.
Hinata tidak berhak untuk diperlakukan seperti ini, harusnya dia saja yang masuk rumah sakit bukan Hinata, harusnya dia saja yang merasakan sakitnya jangan Hinata. Tangannya yang semula masih berada diatas kepala Hinata perlahan mulai turun dan berakhir pada tangan putih porselen yang kini berada dalam genggamannya.
Kepala oranye Naruto masih terus menunduk melihat tangannya yang kini bertautan dengan tangan Hinata memikirkan kata selanjutnya yang akan dia berikan. Tapi setelah sekian lama, hanya kata maaf saja yang terus diucapkan Naruto.
Hinata bukannya tidak mendengar kata maaf yang terucap lirih yang kini terus dibisikkan Naruto, dia terlalu terkejut dengan Naruto yang mau memegang tangannya dan juga berusaha menenangkan dirinya.
Gadis Indigo tersebut tidak pernah ingin Naruto untuk merasa bersalah atas kelemahan dirinya. Dirinya yang terlalu lemah bukan karena Naruto yang tidak melindunginya, dia yang seharusnya bisa menjaga dirinya sendiri.
Hinata menggeleng kuat ketika Naruto belum lelah untuk terus membisikkan kata maaf tersebut. Dengan mengumpulkan keberaniannya, Hinata mengangkat tangan kanannya yang bebas menuju pipi berwarna tan tersebut. Mata sapphire Naruto tampak terkejut ketika kulit mereka bersentuhan.
"Jangan terus menyalahkan dirimu Naruto-kun, aku yang terlalu lemah, aku yang selalu merepotkanmu, aku yang…" Kalimat Hinata terhenti ketika lengan tegap Naruto mengelilinginya dengan kehangatan, memeluknya erat. "Berhenti Hinata, kamu kuat, kamu tidak pernah merepotkanku, kamu gadis yang selalu bisa melihatku ingat?"
Mata Hinata bertambah panas ketika Naruto terus mengingatkan dirinya, tentang segala tindakannya yang membuat Naruto merasa bahwa dirinya sangat berharga. "Jangan menahan segala perasaanmu Hinata, jangan anggap aku adalah orang asing, aku ingin kamu bisa bergantung padamu," Naruto berusaha meyakinkan gadis dalam pelukannya.
"Kamu bisa menangis Hinata," walaupun kata-kata Naruto mungkin hanya sebait kalimat sederhana, tapi memberikan dampak yang sangat besar pada gadis Indigo tersebut. Hinata semakin menyurukkan kepalanya pada dada bidang Naruto dan terisak lebih keras lagi. Naruto membelai lembut kepala gadis tersebut.
Setelah sekian lama menumpahkan perasaanya, Hinata merasa sangat lelah dan semakin menyamankan kepalanya pada dada Naruto. Dan akhirnya menyerah pada dewa mimpi yang menjemputnya untuk tertidur.
Merasa mendengar tarikan nafas yang mulai teratur Naruto menundukkan kepalanya dan melihat Hinata yang masih berada dalam pelukannya tapi kini dalam keadaan tertidur. Dengan perlahan Naruto meletakkan kepala Hinata pada bantal dan dengan perlahan berdiri dari ranjang Hinata.
Sebelum pergi dari ruanag tersebut, Naruto mendekatkan wajahnya dan mengecup lama kening Hinata. "Selamat tidur, Ohime-sama,kembalilah ceria dan sehat,"
Naruto tersenyum kecil dan kemudian melangkah pergi meninggalkan Hinata yang terlelap.
Oo00oO
Naruto tampak gelisah memandang calon ayah mertuanya yang tampak geram dan menahan amarahnya. "Dimana dua bajingan keparat, yang berani menyentuh Hinata?"
Dengan wajah takut yang tidak bisa dia sembunyikan Naruto menjawab pelan "Mereka sedang diurus oleh para Anbu, otousan,"
Hiashi tampaknya menghela nafas berat, "Aku tidak ingin menyalahkanmu Naruto, hanya saja aku ingin kamu melindunginya sesuai janjimu waktu itu,"
Mata mereka bertatapan, yang lebih tua berusaha membuat pemuda didepannya mengerti. "Hinata dan Hanabi adalah peninggalan mendiang istriku yang sangat aku sayangi, mereka harta karunku,"
Hiashi berjalan keluar ruangannya dan memberi isyarat Naruto untuk segera mengikuti ketua klan Hyuuga tersebut. "Aku akui dari kecil aku mendidik Hinata terlalu keras, membuatnya menjadi pribadi yang pendiam dan terlalu rendah diri," Hiashi mengajaknya semakin ke dalam rumah yang sebelumnya tidak pernah ia lihat. "Dia tidak pernah menunjukkan perasaannya padaku, tapi ketika melihat dia bisa bersemangat karena dirimu, aku tahu gadis kecilku sudah mendapatkan tempat yang dia inginkan, yaitu disampingmu,"
Naruto tampak terkejut dengan kalimat terakhir dari Hyuuga Hiashi. Hiashi melirik pemuda disebelahnya yang tampak terkejut. "Ternyata benar kata Hanabi bahwa kau itu sangat bodoh, bahakan perasaan anakku saja tidak bisa kau baca"
Naruto hanya dapat menunduk tampak malu mendengar ucapan pedas sang mertua. Naruto masih menunduk, sampai langkah mereka terhenti di sebuah kamar dengan dinding berwarna lavender dan bau familiar yang bisa Naruto rasakan ketika ia berada di dekat Hinata.
Kamar Hinata.
Mereka kini berada di dalam kamar gadis tersebut. Hyuuga Hiashi berjalan perlahan memasuki kamar putri sulungnya. Hiashi kemudian mengambil sebuah buku berwarna ungu yang berada di atas meja belajar Hinata. Menyerahkan buku tersebut kepada Naruto.
Naruto menerima buku tersebut dan kemudian menatap Hiashi. "Aku harap kamu mengerti perasaan putriku Naruto, walaupun nanti kalian menikah hanya karena para tetua, aku hanya berharap kamu juga memiliki hal yang sama pada Hinata," tetua kln tersebut menhela nafas dan melanjutkan kalimatnya sambil melirik buku yang kini berada di genggaman Naruto. "Kembalikan pada tempatnya jika kamu akan pulang,"
Hiashi sudah akan pergi meninggalkan Naruto di dalam ketika dia berhenti dan menengok putra Yondaime Hokage itu, "Tinggalah untuk makan malam dengan kami, Naruto,"
Naruto menoleh dan tersenyum sekilas "Hai, otousan,"
Sepeninggal Hiashi, Naruto mulai melihat halaman pertama buku tersebut yang memuat foto Hinata dan tim 8 serta keluarga besar Hyuuga. Halaman berikutnya bercerita tentang kegiatan sehari-hari Hinata dalam bentuk naratif.
Ini adalah buku harian Hinata, tapi kenapa Hiashi memberikan padanya. Naruto dengan acak membuka halaman lainnya.
Jumat, 31 Januari 2000
Hari ini kami menghadiri pemakaman untuk mereka yang telah berjuang di medan perang, Heji-niisan, apa kabarmu? Apa kamu bahagia diatas sana?
Semoga iya, aku disini baik-baik saja. Tapi Naruto-kun tetap tidak melihatku. Tapi tidak apa-apa asal dia bahagia bukan begitu nii-san?
Naruto menahan nafasnya. Hinata masih memikirkannya, padahal dia masih bersedih karena kehilangan Neji. Dengan gemetar Naruto membuka halaman lainnya.
Rabu, 14 Februari 2000
Semua orang hari ini saling memberikan coklat kepada orang-orang yang mereka sayangi. Hari ini aku meletakkan sebuah coklat bundar kecil buatanku diatas makam ibu dan Neji-niisan. Berdoa untuk mereka dan meminta keberanian untuk memberikan coklat buatanku pada Naruto-kun.
Sore itu aku berjalan dengan langkah kaku tampak grogi menuju apartemen Naruto. Saat di depan apartemen tersebut, aku mendengar suara tawa Sakura-chan dan Naruto-kun.
Lewat kaca yang berada di depanku, aku melihat Naruto-kun sangat bahagia berada di samping Sakura-chan. Aku tersenyum miris.
Dengan perlahan sambil berusah mencegah mataku semakin panas, aku meletakkan bingkisanku di depan apartemen Naruto dan berjalan menjauhi sumber rasa sakitnya.
"Selamat hari Valentine, Naruto-kun"
Naruto teringat akan rasa coklat yang ia makan waktu itu. Sangat enak. Naruto sangat berterimakasih pada pemberi coklatnya. Dia tidak sendirian karena ada coklat tersebut yang menemaninya ketika Valentine 3 bulan lalu karena ditinggal Sakura dan Sasuke kencan. Andai dia tahu itu Hinata. Naruto pasti mempersilakan Hinata dan cepat-cepat membuat Sakura keluar dengan Sasuke. "Hime…"
Selasa, 2 Mei 2000
Undangan itu datang bagai badai. Undangan berwarna emas itu sekarang berada dalam genggamanku. Kenapa Sakura-chan tega melakukan ini pada Naruto-kun. Aku ingin mencegah Sakura-san memberikan undangannya pada Naruto-kun. Aku berlari, aku mohon jangan sekarang Naruto baru sembuh dari luka-luka ketika penyerangan bulan lalu. Tidakkah Sakura mengerti?
Aku melihat Sakura menutup pintu ruangan Hokage. Dirinya terlambat.
Aku berdiri di luar mendengar pembicaraan mereka dengan suara Naruto yang tetap terdengar tenang.
Ketika Sakura keluar dari ruangan Naruto, aku menatapnya dan menyapa Sakura "Sakura-chan…"
Gadis tersebut tersenyum dan berlalu. Aku ingin masuk kedalam melihat keadaan Naruto, tapi apa aku punya hak?
"Sakura" panggilan lirih tersebut terdengar menyakitkan. Aku melirik ke dalam dan bisa melihat Naruto sedang berulang kali memanggil nama gadis tersebut.
Tuhan, matahariku sedang menangis, apa yang harus aku lakukan?
Kuatkan dia Tuhan…
Tanpa kusadari pipiku sudah mulai basah, Naruto-kun kenapa bukan aku saja yang menangis? Kenapa bukan aku saja yang kamu cintai?
Kali ini Naruto tidak bisa menahan air matanya. Hinata menangis untuknya dan dia tidak pernah tahu, dia memang laki-laki paling brengsek.
Jumat, 12 Mei 2000
Apakah aku tidak bisa menggantikan Sakura-chan, Naruto-kun?
Kalimat terakhir pada buku tersebut membuatnya sesak nafas. Hinata. Hinata. Naruto memanggil nama gadis tersebut dalam hatinya. Dadanya terasa nyeri, mengingat segala sesuatu yang telah gadisnya perbuat untuk dirinya. Dengan pelan buku bersampul violet tersebut tertutup dan diletakkan diatas meja lagi.
Naruto keluar kamar Hinata, dia berjalan gontai menuju ruang makan. Disana tampak Hiashi yang menunggunya. "Terimakasih otousan"
Hiashi hanya tersenyum, mengerti bahwa calon menantunya sedang berpikir keras.
Oo00oO
Naruto tidur terlentang diatas atap apartemennya. "Yo, Naruto"
Sebuah panggilan tersebut tidak membuatnya beranjak dari posisinya semula. "Apa yang kamu rasakan ketika mencintai seseorang Sensei?"
Pertanyaan tersebut membuat Kakashi terkejut, ini pasti tentang gadis indigo tersebut. "Kamu tidak ingin dia terluka, menangis, atau apapun yang membuatnya terganggu,"
Dahi Naruto berkerut sejenak, "Aku memiliki perasaan yang sama pada Sakura maupun Hinata, Sensei. Aku tidak ingin mereka terluka ataupun menangis,"
"Kamu tidak ingin dia jauh darimu dan selalu ingin melindunginya,"
Naruto terdiam.
"Banyak hal yang bisa terjadi ketika kamu mencintai seseorang Naruto, tapi kamu hanya akan jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama jika kamu benar-benar mencintainya,"
"Hinata gadis yang baik Naruto dan akan menjadi calon istrimu, jangan pernah menyesal atas keputusanmu sendiri" Kakashi mengacak pelan rambut Naruto dan pergi meninggalkan Hokage muda tersebut.
"Hinata,"
Entah sejak kapan gadis tersebut membuatnya susah tidur.
Oo00oO
Naruto masih berkutat dengan dokumen-dokumen yang tidak akan pernah habis tersebut ketika Moegi datang dengan membuka pintunya sembarangan. Gadis tersebut nampak panik. "Naruto-niisan, Hinata-nee… Hinata-nee… dalam kondisi kritis,"
Mendengar perkataan Moegi, Naruto merasakan dirinya diserang kengerian luar biasa. Pikirannya segera melayang, memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuknyang bisa terjadi. Dengan kasar Naruto keluar dari ruangannya dan dengan cepat menghilang menuju Rumah Sakit.
Terdengar erangan kesakitan dari dalam kamar Hinata. Tampak Sakura, Tsunade dan Shizune sedang berusaha mengobati Hinata. Naruto menerobos masuk.
"Apa yang terjadi pada Hinata?" Naruto memperhatikan Shizune yang kini sedang menyalurkan chakranya pada kaki Hinata. "Fungsi tubuhnya kacau akibat racun Naruto,"
"Sekarang kami sedang berusaha mengeluarkan racunnya Naruto," Sakura melirik Naruto sekilas
"Aaarrghh! Sakit…..hikss….sakit..Na..ru..to…kun…Tolong," Hinata memejamkan matanya erat-erat ketika Tsunade menarik sesuatu dari dalam Hinata seperti benang tapi berwarna hitam pekat. Naruto menggenggam tangan Hinata. "Bertahanlah,"
"Tahan Hinata," Tsunade menatap manik lavender tersebut.
"Kami akan mengeluarkan racunnya sekarang, ini sangat berisiko Naruto jadi tolong buat Hinata terus terjaga jangan sampai dia pingsan,"
Naruto menatap Hinata yang tampak kelelahan, "Sedikit lagi, Hinata-chan,"
Tangan Naruto terasa mau remuk ketika Hinata menggenggamnya sangat erat. "Ahh..arrghh! Na..ru…to..kun…Aargh!" Hinata terus berteriak, air mata meleleh dari sepasang mata lavendernya.
"Hinata tatap aku terus sayang," Naruto membelai lembut rambut Hinata yang terasa basah karena keringat. Hinata berusaha fokus, menatap Naruto.
"Aaaargghh!" teriakan terakhir tersebut sangat memilukan membuat mata Naruto terasa panas.
"Ahh..berhasil!" Sakura berteriak gembira.
Mendengar Naruto tersenyum senang, Hinata selamat. Hinata-nya selamat.
Naruto mencium kening Hinata, Hinata menatapnya sayu "Kamu berhasil Hinata-chan," Mendengar suara Naruto, Hinata tersenyum kecil.
Naruto mendekatkan kepala mereka dan berbisik, "Aku mencintaimu,"
Seketika itu, yang Hinata lihat berikutnya adalah kegelapan.
~TBC~
Yuu kembali minnaa!
Ini lanjutannya silahkan menikmati…jangan lempar Yuu pakai kunai kalo jelek ya…haha…
Mohon reviewnya ya teman…
Semoga kalian suka,,
Salam Hangat,
Yuu
