-Cinderella Polyjuice-
Chapter 4
Perasaan Harry saat itu sangat kacau, dan satu-satunya tempat yang ada dalam pikirannya adalah The Burrow. Tempat kedua sahabatnya tinggal. Dan Harry sangat bersyukur, dengan kedatangan Draco ke Greengrass Malfoy, portal penahan apparate keluarga itu dibuka. Sehingga dengan mudah Harry berapparated keluar dari rumah itu, dia juga yakin Mrs. Greengrass tidak akan menyibukkan dirinya untuk mencari Harry yang jelas-jelas mampu menggunakan tongkat sihir yang dibawa oleh tuan muda Malfoy tadi.
"Sial, aku dalam masalah besar sekarang."
Harry meracau pada dirinya sendiri saat berdiri di luar portal apparate keluarga Weasley. Setelah yakin dia akan aman dalam beberapa waktu ditempat itu, Harry melangkahkan kakinya memasuki halaman rumah keluarga besar itu masih dengan banyak pikiran yang memenuhi kepalanya. Apa Draco akan mengejarnya? Apa dia akan jadi buronan? Mrs. Greengrass pasti akan mencarinya dalam waktu dekat dan menghukumnya dengan sangat berat.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" Harry mengusap kasar wajahnya saat berada tepat di depan rumah keluarga Weasley. Setelah berusaha menenangkan dirinya, dengan ragu Harry mengangkat sebelah tangannya untuk mengetuk pintu. Tidak perlu menunggu lama, seseorang yang Harry kenal memiliki saudara kembar, Fred Weasley, membukakan pintu untuknya.
"Hei. Suatu kejutan Harry."
"Yeah. Kejutan." Jawab Harry sambil memutar bola matanya malas. Ini bukan pertama kalinya dia datang berkunjung ke rumah mereka. Bahkan Harry baru minggu lalu mengujungi mereka dan Fred masih mengatakan kedatangannya adalah kejutan. Yang benar saja, Fred.
Setelah Fred memberikan jalan kepada Harry untuk masuk, Harry tanpa berbasa-basi masuk melewati Fred ke dalam rumah sederhana itu.
"Hei sebenarnya..."
"Harry." Sebelum Harry sempat menyelesaikan kalimatnya, Hermione datang dan menubruknya dalam sebuah pelukan erat. Seperti Harry baru lolos dari kematian. Meskipun sebenarnya bisa dikatakan seperti itu, tapi pelukan Hermione terasa agak berlebihan bagi mereka yang baru saja bertemu dua hari lalu dan menghadiri sebuah pesta bersama-sama.
"Oh, Harry. Kau tidak akan percaya ini." Hermione melepas pelukan eratnya, dan beralih memegang tangan Harry. Dengan senyuman yang lebar, Hermione menarik Harry yang menatapnya dengan bingung menuju ruang keluarga yang berada satu belokan dari tempat mereka sebelumnya. Harry juga dapat merasakan langkah Fred yang mengikuti mereka dari belakang dengan diam. Tidak seperti biasanya. Ada apa sebenarnya dengan orang-orang ini?
Dan saat Harry tiba di ruang keluarga, barulah dia mengetahui alasan mengapa Hermione dan Fred bersikap seperti itu.
"Sirius."
Sirius yang sudah mengetahui kedatangan Harry tersenyum sangat lebar, dan berjalan menghampiri Harry yang berdiri kaku di depan mereka.
"Hei, son." Kemudian diapun memeluk Harry dengan erat. "Kau benar-benar mirip seperti ayahmu," dia melonggarkan pelukannya dan menarik diri agak jauh agar dapat melihat wajah Harry dengan jelas. ", tapi kau memiliki..."
"Mata ibuku, aku tahu. Remus yang mengatakannya." Sambung Harry, yang akhirnya sadar dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Akhirnya, dia dapat berinteraksi dengan orang-orang yang penting bagi orang tuanya. Terlebih lagi, Sirius adalah ayah baptisnya. Apa lagi yang dia harapkan sekarang. Ya, dia hanya perlu lepas dari keluarga Greengrass dan...
"Malfoy? Apa lagi yang membawanya ke sini?" pertanyaan George menyadarkan Harry akan tujuan awalnya datang ke tempat itu. Portal rumah keluarga Weasley mampu mendeteksi siapa saja yang datang atau berapparated di sekitar rumah mereka. Termasuk saat Draco dan sahabatnya muncul di halaman rumah keluarga itu. "Dua kali dalam sehari. Bisa kau bayangkan? Dia pasti sudah kehilangan akal." Sambung Fred sambil tertawa bersama yang lainnya kecuali Harry, Ron dan Hermione.
Harry bisa merasakan detakan jantungnya yang mulai cepat saat mendengar nama Malfoy disebutkan. "Aku... Katakan aku tidak di sini," Harry segera melepaskan diri dari pelukan Sirius dan berjalan menaiki anak tangga menuju ruangan yang biasa dia gunakan saat dia berkunjung ke rumah itu. ", Sirius kumohon, jangan katakan apapun tentangku padanya." Tanpa menunggu respon Sirius, Harry kembali menaiki tangga dan hilang dari pandangan keluarga besar di dalam rumah itu.
"Hermione, apa tidak masalah kita membiarkan Harry seperti itu?" Tanya Ron tiba-tiba pada istrinya, saat melihat seluruh anggota keluarganya kebingungan dengan tingkah laku Harry. Namun Hermione tidak menjawab, hanya tersenyum pasrah pada Ron kemudian berjalan menuju pintu yang sedang diketuk dan membukanya.
-DraRry -
Keadaan di Greengrass Manor sendiri sangat tegang karena menghilangkan Harry secara tiba-tiba, setelah menunjukkan kalau dia bisa menggunakan tongkat sihir tersebut. Semua anggota keluarga tidak ada yang mempercayai apa yang mereka lihat. Harry yang mereka kenal tidak pernah sama sekali menyentuh sihir, jadi bagaimana mungkin dia dapat menggunakan tongkat sihir. Itu sangat tidak masuk akal menurut mereka.
"Itu tidak mungkin, Ibu. Dia hanya seorang budak muggle." Rengek Astoria pada Mrs. Greengrass yang terduduk di salah satu sofa di ruangan tersebut sambil memijit keningnya. Bingung dengan kondisi yang terjadi serta tidak tahu bagaimana cara menjelaskan kepada anak-anaknya agar diam. "Pasti dia berbuat curang, si Potter itu tidak mungkin bisa menggunakan sihir." Tambah Daphnee sambil menangis dalam pangkuan ibu mereka.
Perasaan Draco sendiri sangat rumit. Dia senang karena akhirnya menemukan Harry, terkejut karena gadis yang dia cari adalah seorang pria, kecewa karena Harry langsung melarikan diri, dan bersemangat karena dia tahu kemana dia harus mencari Harry.
"Draco." Blaise yang berada disampingnya menyentuh bahu Draco untuk menenangkan pikiran sahabatnya itu. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?" lanjutnya saat Draco menoleh ke arahnya.
"Aku tahu kemana dia pergi."
"Lalu apa yang kita tunggu lagi?"
"Tapi aku tidak yakin dia, dia mungkin saja tidak menyukaiku Theo."
"Really, Malfoy? Kemana rasa percaya dirimu selama ini?"
"Ck.." Draco tahu dia terlalu berlebihan dengan ketidakpercayaan dirinya itu, hanya Harry yang mampu membuatnya seperti itu. Membuatnya tersenyum geli pada dirinya sendiri. "Hell, if he don't like me back. Kau benar Theo, ayo kita pergi sekarang." dan ditanggapi dengan senyum lebar kedua sahabatnya.
"Jadi kita pergi ke mana sekarang, Draco?"
"The Weasley." Dan ketiganya berapparated keluar dari Greengrass Manor dalam sekejap tanpa memperdulikan tangis Astoria dan Daphnee yang semakin menjadi-jadi.
Tiba di luar portal apparated rumah keluarga Weasley, jantung Draco berdegup makin kencang saking semangatnya. Sehingga dia tidak menunda lagi, dan langsung berjalan melewati halaman luas rumah keluarga Weasley dan mengetuk pintu dengan sopan saat tiba di depan rumah itu. setelah mengetuk kedua kalinya, pintu rumah terbuka dan seorang wanita. Wanita yang datang bersama Harry pada pesta mereka dua hari lalu dan wanita yang sama juga yang pagi tadi mencoba tongkat sihir milik Harry tapi tidak berhasil.
"Selamat sore, Mr. Malfoy."
"Sore, Mam."
"Ada yang bisa kami bantu?"
"Aku mencari seorang pria yang bernama, Potter. Dan aku sangat yakin dia ada di sini, bisa aku bertemu dengannya?" Wanita itu tidak langsung membalas, namun berbalik ke arah seorang pria yang berdiri dibelakangnya dan kemudian menarik tangan wanita itu dari depan pintu agar tidak menghalangi jalan masuk Draco dan sahabatnya.
"Sebaiknya kita bicara di dalam saja."
"Tapi, Ron.."
"It's Ok, Hermione."
Setelah dipersilahkan, Draco dan sahabatnya berjalan mengikuti Ron dan Hermione dari belakang mereka hingga tiba di salah satu ruangan yang ternyata sudah penuh dengan orang dan...
"Paman?"
"Oh, hallo Drake."
"Apa yang paman lakukan disini?"
"Erm... Paman sedang mengunjungi sahabat lama paman. Itu saja." Dari cara Sirius menjawab Draco sudah bisa mencium ada yang tidak beres dan dia yakin keberadaan pamannya di rumah Wesley itu pasti ada hubungannya dengan Harry.
"Paman, dimana Potter?" Draco menatap tajam ke arah pamannya yang sadar bahwa Draco sudah tahu apa yang dia sembunyikan. Sehingga membuat pamannya menatap balik Draco dengan tajam, seakan tidak ingin anak baptisnya yang baru dia temui disakiti oleh keponakannya sendiri.
"Draco, apa yang kau inginkan dari Harry?"
"Tidak ada, paman. Aku hanya ingin bicara dengannya."
"Kau yakin?"
"Aku hanya ingin menyelesaikan masalah kami, paman. Secepatnya." Draco yang merasa tersudutkan oleh pertanyaan pamannya mulai merasa gusar. Terlebih lagi karena dia tidak melihat keberadaan Harry dimanapun dalam ruangan itu.
"Baiklah." Ron kembali angkat bicara setelah dia membaca keadaan yang terjadi. "Aku akan mengantarkanmu padanya." Dia yakin apa yang Harry pikirkan selama ini keliru. Dia tahu Harry menyukai Malfoy junior itu, dia sendiri yang mengatakan hal itu pada mereka saat mereka bertemu keesokan harinya. Harry memang belum pernah berkencan gadis manapun, apalagi dengan seorang pria. Namun dari cara Harry bercerita tentang Draco dan kebersamaan mereka, Ron dan Hermione yakin bahwa sahabat mereka sedang jatuh cinta. Dan dari kedatangan Harry dan Draco yang tiba-tiba dia rasa dia bisa menghubungkan apa yang terjadi pada Harry. Dia sudah mengenal sahabatnya itu sejak umur 11 tahun, dan bukan hal yang sulit baginya untuk mengerti pemikiran Harry.
Saat Ron mulai berjalan menaiki tangga, Draco pun mengikutinya dari belakang. Namun pikiran Draco penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dia temukan sendiri. Hingga saat Ron berdiri di depan salah satu kamar dan mengetuknya dengan pelan, Draco hanya dapat berdiri diam di belakang Ron dan dengan sabar menunggu jawaban Harry.
"Harry."
Belum ada jawaban, membuat Ron mengetuk kembali.
"Harry, ini aku Ron."
"Ron.. Apa dia sudah pergi?" Draco tahu dia yang Harry maksud.
"Harry, buka dulu pintunya."
Jantung Draco berdetak makin kencang saat dia mendengar bunyi kunci pintu yang terbuka, dan dengan pelan pintu tersebut ditarik ke dalam oleh Harry hingga terbuka. Ron kemudian menghindar dari jalan masuk supaya Harry dapat melihat Draco yang berdiri di belakangnya. Mata hijau Harry terbelalak dan berusaha menutup pintunya kembali saat Draco dengan tanggap menahan pintu tersebut dengan tangannya.
"Ron..." merasa tidak bisa berbuat apa-apa lagi, terutama berapparated ke luar rumah, Harry hanya bisa menatap Ron dengan tatapan tajam yang ditanggapi Ron dengan mengendikkan bahunya dan tersenyum lemah.
"Selesaikan urusan kalian, kami semua ada di bawah." Dan Ron pun berbalik kemudian menuruni tangga menuju ruang berkumpul mereka tadi.
-DraRry -
Tidak bisa melarikan diri lagi, Harry berbalik dan berjalan menjauhi Draco yang masih menahan pintu kamar itu agar tidak tertutup. Setelah yakin aman baginya untuk melepaskan pintu itu, Draco pun berjalan masuk ke dalam kamar Harry mengikutinya dari belakang. Hingga Harry berhenti di dekat jendela kamar itu dan berbalik menghadapnya dengan tatapan yang tidak dapat Draco definisikan.
"Hei..."
"Apa yang kau inginkan, Malfoy?"
Draco tidak langsung menjawab tapi kembali berjalan ke arah Harry hingga membuat pria yang lebih muda darinya itu berjalan mundur hingga punggungnya terbentur dengan dinding keras di belakangnya.
"Masih kau tanyakan lagi?" Draco berjalan makin dekat padanya. "Apa kau lupa yang aku katakan malam itu?" Tubuh Harry menegang, mendengar pernyataan Draco dan menyadari jarak mereka yang semakin menipis.
"Aku..."
"Aku menginginkanmu, Harry."
"Tapi aku..." Jantung Harry serasa berhenti berdetak saat tangan Draco menarik tangannya dengan lembut, ", aku bukan gadis yang berdansa denganmu malam itu,.." wajahnya tertunduk dalam malu, karena dia tahu bukan dia yang Draco inginkan tetapi gadis yang berdansa dengannya malam itu. ", aku hanya..." sebelum Harry melanjutkan racauannya Draco mememerangkap wajah Harry dengan kedua tangannya kemudian mengecup pelan bibir Harry. Pelan dan lembut namun memberi reaksi yang sangat besar bagi kedua pria itu. Bahkan membuat Harry menahan nafasnya karena saking terkejut dengan sikap Draco.
"I want you, just you. The way you are, Harry." Draco kemudian menarik tangannya dari wajah Harry dan meletakkannya pada kedua sisi tubuh Harry dalam sebuah pelukan. "Aku tidak peduli apakah kau seorang pria, wanita, muggle, atau apapun Harry. Aku hanya menginginkanmu."
"Draco..."
"Katakan kau menginginkanku juga. Katakan kau menginginkan ini, kita."
"Aku," Harry akhirnya memberanikan dirinya meskipun dengan sedikit ragu untuk menyentuh wajah Draco dengan sebelah tangannya ", aku tidak mau kau menyesal, Draco." Wajah sedih Harry menunjukkan pada Draco bahwa Harry peduli padanya, bahwa Harry juga menginginkannya. Dan alasan itu sudah lebih dari cukup untuk Draco menarik Harry makin dekat padanya dan mencium bibir pria itu dengan awal yang lembut dan makin dalam dan makin panas saat Harry mulai membalas ciuman Draco dengan keinginan yang sama.
Begitu paru-paru mereka mulai kehabisan udara, keduanya dengan terpaksa melepaskan ciuman mereka dengan masih berpegangan pada satu sama lain. Draco yang masih memiliki stok energi dan udara, kembali mendekap Harry dan mengecup pelan bibir Harry sebelum menyatukan kening mereka.
"Aku tahu. Dan aku tidak akan pernah menyesal."
"Draco. Aku.."
"Aku mencintaimu, jadilah milikku."
"Aku..."
"Kumohon."
"Ok, baiklah."
"Tanpa paksaan?"
Harry tersenyum geli mendengarnya, mengingat saat pertama kali Draco mengajaknya berdansa. Dan dengan sedikit mengangkat kepalanya Harry menempelkan bibirnnya kembali pada bibir Draco dalam waktu yang singkat namun manis.
"Iya, Draco. Tanpa paksaan."
Jawaban Harry sama seperti kata kunci bagi Draco untuk kembali menarik pria itu dalam sebuah ciuman yang dalam. Keduanya berusahanya menyalurkan isi hati dan perasaan mereka dalam ciuman itu.
Akhir kata keduanya pun hidup bahagia serta saling berbagi suka dan duka hingga akhir hidup mereka. Hak wali Harry berhasil diambil oleh Sirrius, membuat Harry terbebas dari perbudakan keluarga Greengrass. Hak mencintai dan dicintai Harry berhasil didapatkan Draco yang kemudian menikahinya dalam pengambilan sumpah sehidup-semati. Dan tanpa paksaan.
Lalu apa lagi yang Harry butuhkan sekarang, kalau dia sudah berada dalam lingkungan yang peduli dan mencintainya.
Harry Potter sang Cinderella berhasil mendapatkan cintanya dengan bantuan sebotol kecil ramuan Polyjuice.
-DraRry Happy Ending-
a/n: Yayyyyy akhirnya, another happy ending story by JN Btw, maaf kalo ternyata akhir critanya mengecewakan
a/dn: Makasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca ff JN ini
a/tn: buat yang sudah RnR selama ini JN mengucapkan banyak2 trima kasih. JN senang membaca review teman2 semua tapi JN minta maaf karena tidak bisa membuat kisah yang sesuai dng keinginan teman2. Apalagi mpreg, JN payah dalam hal itu. Dan ada yang tanya soal req cerita, hmmmm JN tidak yakin. Soalnya kebanyakan crta JN muncul tiba-tiba dan itu yang buat JN senang menulis :D *alasan yg aneh* hahahahah. But afterall, thank you so much guys, JN nothing without you. Love ya.
Review are always please.
Thanx
