Super Junior © SM Entertainment

Other © Their Own Management

Fantasy Adventure


"Kalian sakit!" sembur Donghae dan ia segera masuk ke dalam rumah dengan membanting pintu. Meninggalkan Sungmin yang hanya bisa berdiri mematung.

"Dia... marah?"


Final Zone

©Sansan Kurai

2014


~Pukul 07.59 di depan ruang kelas 11-2~

"Hae! Donghae!"

Donghae berpura-pura tak mendengar panggilan itu dan terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas. Namun tiba-tiba tubuhnya tertarik kebelakang dan detik berikutnya ia telah berhadap-hadapan dengan Hyukjae dengan jarak yang sangat dekat.

"Hae, aku memanggilmu sejak tadi," protes Hyukjae dan wajahnya sedikit ditekuk.

"Oh, aku tak mendengarnya," jawab Donghae asal sembari melepaskan genggaman tangan Hyukjae dari lengannya agar jarak mereka tak terlalu dekat. Melihat sikap Donghae, Hyukjae pun melepaskan genggamannya dan menatap Donghae bingung.

"Ada apa Hae? Apa ada masalah? Apa kau sakit?"

"Tidak," jawab Donghae singkat. "Guru sudah datang, aku masuk sekarang."

Tanpa menunggu jawaban dari Hyukjae, Donghae segera masuk ke kelasnya. Sedangkan Hyukjae hanya bisa terdiam melihat sikap Donghae terhadapnya.

"Hyukjae-ssi, di sini bukan kelasmu kan?"

"Bukan.." jawab Hyukjae singkat dan segera pergi tanpa berpamitan pada guru yang akan mengajar sahabatnya itu. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, seseorang menabraknya dengan keras dari depan dan itu membuatnya mundur beberapa langkah. "Jungsoo hyung.."

Hyukjae menatap Jungsoo yang dengan kasar membuka pintu ruang kelas Donghae. Hyukjae bisa melihat dari jendela bahwa Jungsoo kini tengah menatap lurus ke arah sahabatnya tanpa mempedulikan sang guru yang tengah memarahinya karena masuk dengan cara tak sopan. Matanya terus mengikuti pergerakan Jungsoo dan sekarang seluruh kelas tengah menatap Jungsoo dan Donghae secara bergantian. Dan..

Buagh! Brugh!

Terjadi begitu saja. Jungsoo memukul wajah Donghae dengan kepalan tangannya dan Donghae pun rubuh ke lantai kelas. Hyukjae yang shock dengan kejadian itu tanpa berpikir panjang segera masuk ke dalam kelas dan menghampiri sahabatnya.

"Hyung.. apa yang kau lakukan?" tanya Hyukjae sembari berusaha membantu Donghae berdiri, namun Donghae menepis tangan itu dan membuat Hyukjae menatap nanar sahabatnya. "Hae.."

"Aku bisa bangun sendiri," ucap Donghae dingin sembari bangkit. "Kenapa hyung memukulku? Apa karena bocah gay itu?"

Buagh!

Jungsoo memukul wajah Donghae lagi hingga Donghae yang belum seutuhnya bangkit pun akhirnya harus merelakan tubuhnya untuk kembali mencium lantai kelas yang dingin. Jungsoo berjongkok diatas tubuh Donghae dan menarik kerah seragam Donghae hingga wajah Donghae hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Walau kesakitan Donghae masih mampu tersenyum, senyum yang meremehkan sikap Jungsoo.

"Sekali lagi kau menyebutnya gay, kubunuh kau!" ancam Jungsoo dan ia pun melepaskan cengkeramannya pada kerah Donghae. Setelah itu ia berlalu dari kelas itu.

Donghae berdecih dan mulai bangkit. Berusaha mengacuhkan Hyukjae yang sedari tadi menatapnya dalam diam. Teman-teman sekelas Donghae serta sang guru hanya bisa terpaku melihat kejadian didepan mata mereka.

Setelah beberapa detik melihat sikap Donghae, akhirnya Hyukjae hanya bisa tertawa. Entah menertawakan apa, ia lalu segera berlalu dari kelas itu.


~Pukul 10.03 di lapangan tenis~

Hyukjae terus memukul bola tenis tanpa henti walau keringatnya telah mengucur deras. Tak dipedulikannya siswa-siswi yang tengah menggoncang-goncang jaring pagar yang ada di sekeliling lapangan sembari meneriaki Hyukjae untuk membuka gembok pagar. Tak dipedulikannya juga saat tangannya sudah mulai terluka. Ia hanya ingin membuat dadanya terasa lega dengan memukul bola tenis itu kuat-kuat.

"Hyukjae.. berhenti!"

Hyukjae seakan menulikan indra pendengarannya dan terus saja memukul bola tanpa henti. Darah mulai menetes dari telapak tangannya, namun itu tetap tak membuat Hyukjae berhenti.

"Hyukjae cukup! Kau sudah melakukannya selama 2 jam! CUKUP!"

Entah siapa yang meneriakkan itu, Hyukjae tak peduli. Ia merasa dadanya masih terasa sesak. Ia ingin sekali menghilangkan perasaan itu.

"Eunhyuk hyung.. hentikan.."

Seorang pria berstelan jas mahal perlahan mendekati Hyukjae yang tengah mengambil nafas.

"Hah?! Bagaimana dia bisa masuk?"

"Pagarnya masih dikunci!"

"Tidak mungkin dia bisa masuk begitu saja!"

"Dari mana dia masuk?!"

Pertanyaan-pertanyaan itu akhirnya membuat Hyukjae mendongak. Hyukjae berusaha menatap pria yang kini tengah berdiri dihadapannya.

"Sudah cukup hyung semua siksaan ini.."

"Kau.."

Hyukjae pun pingsan sebelum menyelesaikan perkataannya dan orang itu segera menangkap tubuh Hyukjae sebelum menabrak lantai.

"Aku Kibum, adikmu.." bisik orang itu sembari tersenyum miris saat melihat keadaan Hyukjae.


~Pukul 16.29 di rumah Hyukjae~

"Ghamsahamnida.."

Hyukjae membuka matanya saat samar-samar ia mendengar suara sang Ibu yang mengucapkan terima kasih. Hyukjae menggerakkan tangannya namun ia tertegun saat melihat kedua telapak tangannya tengah diperban.

"Oh, kau sudah bangun Hyukjae?"

"Bu.." sapa Hyukjae. "Aku—"

"Kau hanya kelelahan Hyukjae," jawab Ibu sembari duduk di pinggir ranjang Hyukjae. "Temanmu mengatakan bahwa kau terlalu keras berlatih tenis. Lihat telapak tanganmu, sampai terluka."

Hyukjae menatap telapak tangannya dan menyunggingkan senyum tipis.

"Teman?" Hyukjae seakan baru tersadar dengan ucapan sang Ibu tentang 'teman' itu.

"Ya, temanmu," angguk Ibu. "Ibu memang belum pernah melihatnya tapi Ibu kira dia anak yang baik Hyukjae. Kalau Ibu tak salah ingat namanya... Kim Kibum.."

"A—apa?" Hyukjae begitu terkejut dan menatap mata Ibunya lekat-lekat.

"Ada apa?"

Tanpa berfikir panjang, Hyukjae turun dari ranjangnya. Tak dipedulikannya teriakan sang Ibu yang menyuruhnya untuk kembali beristirahat.

"Kau mau ke mana Hyukjae? Apa kau tak mendengarkan ucapan Ibumu?"

"Ayah.." Hyukjae menghentikan larinya saat melihat sang Ayah yang tengah berdiri dihadapannya dengan wajah dingin. "Aku—"

"Masuk ke kamarmu!" perintah Ayah telak.

"Ayah, jangan terlalu keras pada Hyukjae. Dia sedang—"

"Biarkan Sora!" tegas Ayah, kakak perempuan Hyukjae yang mendengar nada bicara sang Ayah hanya bisa mendesah lelah. Ia lalu menuntun Hyukjae kembali ke kamarnya. Ibu yang sedari tadi berdiri di depan pintu kamar Hyukjae hanya tersenyum lembut untuk menenangkan Hyukjae.

"Aku harus bertemu dengannya," batin Hyukjae sembari kembali membaringkan tubuhnya ke ranjang.


[1 Mei 2013]

~Pukul 12.38 di kantin SMA Geosang~

Donghae tengah mengaduk-aduk makan siangnya dengan malas. Sama sekali tak ada niatan untuk memakan makanan yang ada dihadapannya dan kelakuannya itu menarik perhatian seseorang.

"Kau tak memakan makan siangmu?"

Donghae mendongak dengan malas namun sesaat kemudian raut wajahnya berubah dingin. Tanpa mengucapkan apapun, Donghae bangkit dari tempatnya dan segera pergi meninggalkan makan siangnya.

"Tunggu Hae.."

"Apa!" tanya Donghae ketus.

"Sebenarnya ada apa Hae? Kenapa kau jadi seperti ini padaku? Apa aku berbuat salah padamu?" Donghae diam, tak berniat menjawab sama sekali dan sikapnya itu menarik perhatian beberapa murid yang ada di kantin.

"Aku minta maaf padamu jika aku berbuat salah tap—"

"Kau sudah selesai bicara? Aku masih banyak urusan."

"Dong—"

"Donghae! Kenapa kau seperti itu pada Hyukjae!"

Donghae yang sudah melangkahkan kakinya menjauh segera menghentikannya dan berbalik.

"Oh, Sungmin.. kenapa? Apa kau tidak terima mantan pacarmu itu ku perlakukan seperti ini?" ledek Donghae sembari menatap hina Sungmin serta Hyukjae.

Sungmin mengepalkan jemarinya geram. Ia tak pernah melihat sikap Donghae yang seperti ini. Sedangkan Hyukjae diam mematung mendengar ucapan Donghae.

"Hae.. Kau.. kau tahu?" gumam Hyukjae lirih sembari menundukkan kepalanya. Donghae menatap sinis Hyukjae.

"Aku tahu! Aku tahu semuanya!" raung Donghae hingga seluruh murid di kantin diam membisu memperhatikan Donghae, Hyukae serta Sungmin. "Aku tahu kalau kau—"

Buaaaggghhhh!

"Berhenti bicara atau ku bunuh kau!"

"Itouku-sama!" seru Sungmin sembari menutup mulutnya dengan kedua tangan karena terkejut atas serangan yang tiba-tiba itu.

"Sudah berapa kali aku mengatakannya padamu!" bentak Jungsoo sembari menarik kerah seragam Donghae. Seperti dulu, Donghae hanya menatap remeh Jungsoo seakan tak peduli dengan segala ancaman yang akan keluar dari bibir Jungsoo. Walau sebenarnya lehernya sedikit tercekik.

"Jungsoo hyung.. hentikan.." lirih Hyukjae.

"Aku sedang tak bicara padamu, brengsek!" seru Jungsoo tanpa menatap Hyukjae.

"Itouku-sama, hentikan.." pinta Sungmin. "Membunuhnya pun tak akan membuat masalah ini selesai.. kita bicarakan baik-baik.."

"Bicara baik-baik?" tanya Jungsoo sembari menatap mata Donghae dalam. Donghae pun menantang tatapan itu. "Bocah ini—"

Brugghhh!

Jungsoo tiba-tiba pingsan dan menimpa tubuh Donghae. Cengkeraman di lengan Donghae terlepas begitu saja dan itu membuat Donghae terengah. Donghae berusaha menyingkirkan tubuh Jungsoo dari atas tubuhnya.

"Itouku-sama!" seru Sungmin sembari menghambur ke arah Jungsoo. Namun Jungsoo tak bergerak dan matanya terpejam rapat seakan Jungsoo tengah tertidur lelap.

Brugghhhhh!

Dari arah belakangnya, tiba-tiba Hyukjae juga pingsan.

"Hyuk!"

Sungmin beralih menghampiri Hyukjae yang sudah tak bergerak. Melihat Hyukjae dan Jungsoo seperti itu, Donghae hanya terdiam. Murid yang lain pun hanya diam mematung tanpa ada niat untuk mendekat.

"Apa yang terjadi pada kalian?!" seru Sungmin ketakutan.

"Sudah saatnya!"

Ucapan bernada tegas itu membuat Sungmin dan Donghae menolehkan kepalanya.

"Apa yang kau lakukan padanya, Kibum!" seru Sungmin marah.

"Kita tak punya banyak waktu lagi Sungmin hyung!" marah Kibum.

"Tapi tidak dengan cara seperti ini!" raung Sungmin. Wajahnya kini merah padam menahan amarah yang siap meledak setiap saat.

"Kesampingkan dulu sikap melindungimu itu hyung! Cepat bawa mereka!" tegas Kibum.

"Demo—"

"Cepat atau aku akan menunjukkan 'itu' pada anthropinos-anthropinos itu!" ancam Kibum. Sungmin membelalakkan matanya tak percaya mendengar ancaman yang keluar dari bibir Kibum.

"Kau tak bisa melakukan itu Bum!" desis Sungmin. "Aku tak peduli apa statusmu tapi kelakuanmu ini lebih rendah dari apapun! Kita tak bisa membawanya secara paksa, semua ini akan—Donghae!"

Donghae telah pergi meninggalkan mereka dan itu membuat Sungmin semakin geram. Sungmin berdiri dan mengejar Donghae cepat. Sungmin menarik lengan Donghae kasar lalu menampar pipi pria dihadapannya itu. Dibelakangnya, Kibum menatap Sungmin heran.

"Bodoh!" maki Sungmin tepat di depan wajah Donghae yang menghadapnya. "Apa kau sahabatnya? Kau memperlakukan sahabatmu seperti ini? Apa kau benar-benar sahabatnya? Meninggalkannya setelah tahu keburukannya? Kau benar-benar sahabatnya, huh?! JAWAB AKU BODOH!"

Donghae terdiam. Terkejut dengan semua perbuatan Sungmin. Ia tak menyangka, pria imut dihadapannya ini bisa berlaku kasar terhadapnya.

"Kau akan menyesalinya Hae! Kau akan sangat menyesal!"

Sungmin berbalik dan segera membawa Jungsoo ke dalam gendongannya. Dengan malas Kibum menarik Hyukjae dan melakukan apa yang Sungmin lakukan.

Sekilas Donghae melihat wajah Hyukjae saat Kibum melewatinya. Wajahnya terlihat sangat polos dan itu membuat hatinya berdesir.

"Hyukjae.." lirih Donghae.

Raut wajahnya yang semula keras berangsur-angsur berubah menjadi lembut. Donghae menundukkan kepalanya seakan baru menyadari apa yang telah ia lakukan terhadap Hyukjae beberapa hari ini.

"Kau akan sangat menyesal!"

Kata-kata Sungmin kembali bergema ditelinganya dan itu membuat Donghae menengadahkan kepalanya. Ia berbalik dan segera mengejar Sungmin serta Kibum yang sudah tak terlihat sosoknya.

"Hyukjae! Hyukjae!" seru Donghae sembari terus berlari. Namun ia tetap tak menemukan sosok Kibum dan juga Sungmin. Donghae terengah dan menatap nanar jalanan di depan gerbang sekolahnya. Ia menundukkan kepalanya dan perlahan terdengar suata tawa yang amat sangat lemah keluar dari bibir Donghae dan lama kelamaan tawa itu menjadi semakin kuat dan keras.

"Sepertinya aku juga sakit," ucap Donghae setelah menghentikan tawanya. "Perasaan apa ini? Kenapa jadi sesakit ini? Tidak mungkin aku mencintai Hyukjae! Dia sahabatku! Hanya sahabatku! Tapi kenapa sesakit ini? Kenapa?"

Donghae terduduk, ia mulai tertawa lagi. Menertawakan dirinya sendiri. Menertawakan atas semua yang ada didirinya.

"Aku tak mungkin mencintai Hyukjae bodoh itu.." lirih Donghae sembari memukul aspal keras berwarna abu-abu dihadapannya dengan keras. "Awas kau Lee Sungmin! Aku akan mencari dan membunuhmu! Semua ini gara-hara dirimu!"


[1 bulan kemudian]

Suasana kelas terlihat sunyi senyap. Seluruh siswanya tengah memeras otak untuk menyelesaikan soal-soal ujian yang tengah mereka hadapi hingga peluh membasahi dahi mereka. Beberapa dari siswanya ada yang tengah menarik-narik rambutnya frustasi saat tak ada yang bisa dilakukan dengan soal-soal mengerikan dihadapannya.

Namun tidak dengan Donghae. Setelah kejadian waktu itu Donghae menjadi lebih sering diam. Hyukjae yang sampai ujian kenaikan kelas ini tak menunjukkan batang hidungnya membuat Donghae seperti kehilangan separuh jiwanya. Yang dilakukannya setiap hari hanya melamun dan mendatangi lapangan tenis tempat Hyukjae sering menghabiskan waktunya.

Donghae menghela nafas pelan dan mulai mencorat-coret kertas ujiannya asal. Ia tak peduli bahwa itu ujian kenaikan kelas. Ia tak peduli jika nilainya akan hancur. Ia tak peduli jika kedua orang tuanya akan memukulinya hingga mati karena ia tak naik kelas. Ia benar-benar sudah tak peduli dengan segalanya. Bahkan ia tak peduli saat tiba-tiba hawa dikelasnya menjadi dingin.

"Lee Donghae.."

Desahan suara yang memanggil namanya itu membuat Donghae sedikit mengangkat kepalanya. Dengan enggan Donghae mengamati sosok berjubah hitam dihadapannya sesaat, setelah itu ia kembali menekuni kertas ujiannya.

"Kau anthropinos yang selalu bersama Eunhyuk kan?"

Donghae kembali mengangkat kepalanya saat sosok berjubah itu mengeluarkan suara desahannya kembali. Donghae tak menyadari bahwa kini seluruh isi kelas tengah diam, seakan telah membatu.

"Eunhyuk?" tanya Donghae, ia seperti pernah mendengar nama itu disuatu tempat. Namun semakin keras ia mencoba untuk mengingat, semakin jauh pula ingatannya tentang nama itu.

"Kau ingin bertemu dengannya lagi? Ikutlah aku, aku akan mengantarkanmu menemuinya."

"Eh? Menemuinya?" tanya Donghae tak mengerti.

"Ya.. Menemuinya, Lee Donghae.. Bukankah Eunhyuk sahabat baikmu sebelum Sungmin menghancurkan segalanya?"

"Sungmin?"

Donghae terdiam. Tiba-tiba di depan matanya melintas kejadian-kejadian yang sudah dilewatinya. Saat tetangga barunya Kibum memanggil Hyukjae dengan Eunhyuk hingga ingatan terakhirnya tentang Hyukjae yang tiba-tiba pingsan dan dibawa pergi oleh tetangganya itu.

"Bawa aku ke sana!" tegas Donghae, sorot matanya dipenuh dengan amarah. Sosok dihadapannya sedikit membungkuk lalu mempersilahkan Donghae untuk berjalan terlebih dahulu. Donghae melangkahkan kakinya keluar ruang kelas dan masih tak menyadari dengan apa yang terjadi dengan teman-temannya saat ini.

Sosok berjubah itu mengikuti langkah penuh amarah Donghae dengan perlahan. Sesampainya diambang pintu, sosok itu berhenti tanpa membalikkan tubuhnya lalu ia menjentikkan jarinya setelah itu ia segera menyusul Donghae.

Ternyata anthropinos itu sangat mudah dipengaruhi.

to be continued~


back...

info saja..
saya sedang tak berminat membuat fanfic apapun sekarang ini..
dan itu berarti saya juga tak ada minta untuk melanjutkan fanfic apapun..
tapi tenang saja, saya tetap akan melanjutkan fanfic-fanfic yang masih on-going..

dan kali ini saya nggak akan banyak bicara..

the last...
silahkan direview untuk chapter ini...