SMA gokil
DISCLAIMER : BLEACH bukan punya saya. BLEACH Cuma milik Tite kubo-san seorang! Saya Cuma minjem karakternya aja, kok! Kecuali kalo Tite Kubo mengangkat saya sebagai anaknya. Hehe. :D
But, the story is 100% mine.
WARNING : agak OOC, gaje, abal, dst.
Thankyou buat yang udah nge review! :3
Shab akan selalu seneng menerima saran, kritik, review yang masuk.
Trus, pertanyaan reviewer mengenai nasib Matsumoto dan Hinamori akan terjawab di chapter ini~ ^^
So, just read and review..
"Hey cewek, kok malem-malem jalan berdua aja, nih?" ucap salah satu anggota geng itu, yang sepertinya adalah pentolan di kelompok itu.
"Tch. Mau apa kalian?" tanya Matsumoto tajam.
"Rangiku-san?" bisik Hinamori pendek.
"Tenang saja, Hinamori! Mereka tidak akan berbuat macam-macam pada kita, kok!" balas Matsumoto.
"Bagaimana kalau kalian ikut dengan kami dulu?" tanya seorang anggota yang lain, lalu mendekati kedua gadis manis ini.
"Jangan deket-deket!" kata Matsumoto sedikit berteriak.
"Ih, kamu cantik-cantik kok galak, sih?" kata preman itu, berniat mencolek Matsumoto.
Dengan cepat Matsumoto menangkis tangan nakal itu.
"Kalau begitu, kamu saja yang ikut dengan kami, ya?" kata preman ketiga pada Hinamori.
"Nggak!" jawab Hinamori, tajam.
"Kalau mereka tidak mau di ajak baik-baik, kita paksa aja!" teriak beberapa preman yang tersisa.
Para preman itu semakin mendekat dan berniat untuk membawa paksa Matsumoto dan Hinamori.
Naluri bertarung Matsumoto keluar, dan segera saja ia mengeluarkan jurus Tae Kwon Do andalannya.
"Hiaa..t!" tendangan pertama mengenai perut salah satu preman.
"Awas, kau!" teriak preman yang lain, dan menyerang Matsumoto dari belakang.
"Rangiku-san! Awas!" ucap Hinamori lalu berlari dan mengunci gerakan preman itu – yang berniat menyerang Matsumoto – dengan jurus Aikido yang pernah ia pelajari sewaktu duduk di bangkus SMP.
"Thanks, Hinamori!" kata Matsumoto lalu menyerang preman yang tersisa dengan tendangan mautnya.
Namun, ternyata ada salah satu dari penjahat itu yang membawa sebilah pisau, dan pisau itu berhasil merobek kulit lengan kiri Matsumoto. Luka yang di hasilkan cukup lebar.
"Argh. Sial!" teriak Matsumoto, lalu memberikan Eolgol chagi* yang kemudian mengenai kepala sang preman.
Preman-preman nakal itu, berhasil dikalahkan oleh Hinamori dan Matsumoto, 2 orang gadis manis yang ternyata sangar.
"Kau tidak apa-apa, Rangiku-san?" Tanya Hinamori ketika melihat darah terus mengucur dari lengan kiri Matsumoto.
"Aku.. tidak.. apa.. apa.." jawab Matsumoto terengah-engah. Ia merasa lemas sekali ketika melakukan tendangan terakhir.
Rupanya darah yang dihasilkan dari luka itu lumayan banyak.
"Tidak apa-apa bagaimana? Lukamu itu cukup lebar dan darah yang dikeluarkan banyak. Akan kubantu kau sampai rumah." Ucap Hinamori lalu memapah Matsumoto pulang. Untunglah rumah mereka berdekatan, dan tidak terlalu jauh dari tempat kejadian.
.
.
"Sudah tidak apa-apa kok, Hinamori. Terima kasih, ya!" kata Matsumoto lalu memberikan sebuah 'pelukan' maut ke Hinamori. Lengan kirinya sudah di perban, sehingga darahnya pun berhenti mengucur.
"Sama-sama. Hehehe. Oh iya, Rangiku-san, aku tidak tahu kalau kau jago Tae Kwon Do. Baru kali ini aku melihatnya." Ucap Hinamori.
"Sekarang aku memegang sabuk hitam, Dan 3. Hehe. Gin saja tidak tahu kalau aku ikut Tae Kwon Do sejak SD, padahal kami sudah berteman lama. Memang aku tidak pernah memperlihatkan keahlian bela diriku di depan teman-teman sekolahku, makanya tidak pernah ada yang tahu." Jelas Matsumoto lalu nyengir kuda.
"Oh, begitu. Pantas saja.."
"Oh iya Hinamori, kau sendiri bisa bela diri, kan? Yang kau gunakan tadi? Aikido, kah?"
"Iya, Aikido. Hehehe. Aku pernah ikut Aikido waktu SMP, sebelum aku pindah ke Karakura.."
"Tak ku sangka, cewek manis sepertimu bisa Aikido!"
"Ah, aku sendiri tidak terlalu ahli, kok! Rangiku-san sendiri, ahli dalam Tae Kwon Do."
"Jangan merendah begitu, dong!"
"Tidak kok! Hehe. Tapi, setahuku, yang ikut Tae Kwon Do itu, betis nya jadi besar?"
"Setahuku juga begitu. Tapi nggak tahu nih, kaki ku segini-segini aja!"
Dan mereka berdua pun tertawa.
"Rangiku-san, aku pulang dulu, ya! Sudah malam, ibu pasti mencariku." Kata Hinamori berpamitan.
"Oke, see you!"
~~SHS~~
"Pagi, semua!" sapa Matsumoto pada teman-temannya.
"Pagi, Rangiku-san!" balas Hinamori.
Yah, walaupun rumah mereka dekat, Matsumoto jarang berangkat bareng dengan Hinamori. Entah apa alasan yang digunakan oleh mereka berdua untuk tidak berangkat bersama.
"Hei Rangiku-san, tangan kiri mu kenapa, tuh?" Tanya Ikkaku waktu melihat lengan kiri Matsumoto yang dibalut perban.
"Ehm, tidak, kemaren ada masalah sedikit waktu perjalanan pulang." Jawab Matsumoto sambil nyengir.
"Jangan-jangan kau baru saja menyatakan cintamu pada anak baru itu ya? Tapi di tolak, makanya, sewaktu perjalanan pulang dari rumahnya, kau berusaha untuk bunuh diri dengan melukai lenganmu sendiri." Timpal Ayasegawa, yang tiba-tiba sudah berada di sebelah Ikkaku.
"Dasar Yumichika, kalau mau bunuh diri, yang dipotong kan urat nadi di pergelangan tangan, bukan di lengan!" sahut Hinamori mendengar kelemotan Ayasegawa.
Matsumoto dan Ikkaku hanya tertawa.
"Hei, ada yang membicarakan aku?" Tanya sebuah suara yang ternyata adalah Hitsugaya.
"Ih Shiro-kun GR!" sahut Hinamori.
"Hei, Snowy hair~!" sapa Matsumoto kepada pemuda pendek itu.
"Panggilan baru lagi.." desah Hitsugaya pendek.
"Hehehe." Kata Matsumoto cengengesan.
"Ngomong-ngomong, lengan kiri mu kenapa, Matsumoto? Seingatku, waktu kau dan Hinamori pulang dari rumahku tadi malam, perban itu belum menempel di tanganmu?" Tanya Hitsugaya – yang merupakan orang kedua setelah Ikkaku yang menanyakan perihal perban yang membalut lengan Matsumoto.
"Ih, kalian berdua ngapain di rumah Hitsugaya malam-malam?" Tanya Ikkaku.
"Latihan band!" jawab Hitsugaya, Matsumoto dan Hinamori bersamaan. Mereka tahu kebiasaan berpikir Ikkaku yang terkadang aneh.
"Ooohh.. Kirain ngapain.." ucap Ikkaku sambil cengengesan.
"Haahh.. Baiklah, ku ceritakan sedikit. Kemaren, waktu aku dan Hinamori baru pulang dari rumah Snowy hair ini –"
"Namaku bukan Snowy hair!" sela Hitsugaya.
"Ih, kan lucu~" protes Matsumoto.
Hitsugaya sweatdrop, yang laen ketawa.
"Oke, lanjut!" kata Ikkaku, kayak sutradara film-film bokep (?).
"Lanjut. Waktu kemaren aku sedang jalan pulang bareng Hinamori, sekelompok preman mencegat kami. Lumayan banyak, sih. Untungnya kami selamat, tapi lengan kiriku ini berhasil dilukai oleh salah seorang preman yang membawa senjata tajam." Jelas Matsumoto singkat.
"Selamat? Ada yang menolong kalian?" Tanya Hitsugaya.
"Rangiku-san ahli Tae Kwon Do!" jawab Hinamori cepat.
"Hah? Rangiku-san ahli apa?" Tanya Ayasegawa dengan polosnya. Duh, lemot amat sih ni cowok 'cantik'.
"Tae Kwon Do, Ayasegawa." Jawab Ikkaku menghela nafas.
"Oohh.." ucap Ayasegawa pendek.
"Ah, Hinamori juga bisa Aikido, kok!" kata Matsumoto merendah.
"Kau sabuk apa, Matsumoto?" Tanya Hitsugaya.
"Hitam. Dan 3." Jawab Matsumoto singkat, tapi sambil cengengesan.
"Waw. Udah lama ikut Tae Kwon Do ya, Rangiku-san?" Tanya Ikkaku.
"He eh!"
"Tapi aku tidak menyangka, gadis manis seperti kalian berdua, ternyata jago bela diri!" ucap Ikkaku.
Hinamori dan Matsumoto cengengesan nggak jelas.
"Hanya untuk jaga-jaga, siapa tahu kejadian kayak tadi malam akan terjadi lagi." Kata Matsumoto.
"Tapi, aku tidak tahu kalau kau bisa Tae Kwon Do sejak lama, Rangiku-san." Sela Ikkaku.
Ikkaku dan Matsumoto saling kenal sejak SMP kelas 2.
"Gin yang merupakan temanku sejak SD saja, tidak tahu kalau aku ikut Tae Kwon Do, Ikkaku. Aku memang tidak pernah menunjukkannya pada teman-temanku."
"Dan kau, Hinamori. Wajahmu itu sama sekali tidak mengindikasikan kalau kau bisa salah satu bela diri." Sambung Ayasegawa.
"Don't judge the book by it's cover!" jawab Hinamori sambil mengacungkan kedua jarinya membentuk peace.
"Sudah ah, nanti dilanjutkan lagi, tuh guru sinting udah dateng!" kata Ikkaku sambil menunjuk ke guru kimia mereka, pak Mayuri, yang sudah meletakkan buku nya di atas meja.
"Iih, kok on time banget sih, tu guru!" keluh Matsumoto.
~~SHS~~
After the school..
Ichigo, Rukia, dan teman-temannya yang lain sedang berkumpul untuk membahas rencana weekend.
"Ih, lengan kiri mu kenapa, Rangiku-san?" Tanya Rukia ketika melihat lengan Matsumoto yang dibalut perban.
"Nyuu.. Kau adalah orang ke 10 yang menanyakan tanganku ini, Rukia.." kata Matsumoto sweatdrop. Yah, rupanya perban di lengan kiri Matsumoto cukup mengundang pertanyaan dari teman-teman dekatnya.
"Kemarin waktu kami baru pulang dari rumah Shiro-kun, kami di hadang beberapa orang preman dan rupa nya Rangiku-san adalah ahli Ta–" jawab Hinamori terputus karena mulutnya dibekap oleh Matsumoto. Rupanya Matsumoto tidak ingin teman-temannya tahu kalau ia bisa Tae Kwon Do. Yah, selaen Ikkaku, Yumichika, Hitsugaya dan Hinamori tentu nya.
"Err.. Pokoknya ada deh, yang menolong kami!" kata Matsumoto melanjutkan kalimat Hinamori yang terpotong.
"Maaf, Rangiku-san! Aku tidak tahu kalau kau tak mau rahasia mu itu di ketahui!" bisik Hinamori pada Matsumoto.
"Tidak apa kok, Hinamori!" jawab Matsumoto sambil tersenyum.
"Oke, lanjut ke topic awal!" kata Gin layaknya ketua OSIS.
"Jadi, kita mau pergi ke mana, nih?" Tanya Ichigo lalu mengedarkan pandangan ke arah teman-temannya.
"Ke mall? Makan-makan, gitu?" kata Renji, memberikan usul yang pertama.
"Bosen tau, baboon!" protes Arronierro.
"Hei, emang aku seperti baboon, ya?" keluh Renji.
"IYA!" sahut yang lain.
Renji langsung pundung di pojok kantin.
"Renji, Renji, udah, jangan nangis! Wajahmu tambah jelek kalau kau nangis gitu!" kata Grimmjow. Yang lain pun tertawa.
Akhirnya Renji balik lagi ke tempat duduk bersama teman-temannya.
"Belajar, ngerjain PR, nyiapin diri buat minggu berikutnya.." saran Nanao, yang kemudian langsung mendapat death glare dari yang lain.
"Eh iya, maaf." Lanjut Nanao dengan wajah merah.
"Taman ria!" kata Matsumoto.
"Hei, sepertinya itu ide yang bagus! Yang laen setuju nggak?" timpal Ichigo.
"Boleh. Udah lama aku nggak ke taman ria!" seru Rukia.
"Oke!" tambah Isane.
"Baiklah. Aku juga ikut!" ucap Gin.
"Mana aja boleh!" lanjut Ulquiorra.
Dan di putuskan lah, mereka akan ke taman ria di salah satu sudut kota Karakura, hari sabtu.
~~SHS~~
Sore hari menjelang malam, di dojo** tempat Matsumoto berlatih – dan mengajar juga, sebetulnya..
"Senior sabuk merah! Ayo ajarin juniornya! Tendangan dasarnya masih ada yang salah, tuh!" kata Matsumoto yang merupakan salah satu staff pengajar di situ.
"Hai!" jawab TaeKwonDo–in*** yang menyandang sabuk merah.
Ya, memang tidak mudah untuk menciptakan seorang ahli bela diri yang bagus. Teori memang mudah, tapi pada kenyataannya, itu cukup sulit untuk dilakukan.
"Rangiku-san," panggil sebuah suara yang merupakan teman berlatih Matsumoto, Chad. Chad pun sudah menyandang sabuk hitam, dan 4.
"Hmm?" jawab Matsumoto pendek.
"Hari sudah hampir malam, bagaimana kalau kita sudahi saja latihan hari ini? Ku dengar, kejahatan meningkat akhir-akhir ini."
Terlihat Matsumoto berpikir beberapa saat.
"Kau benar, Chad. Kalau pulang terlalu malam, nanti malah berbahaya."
Yah, latihan pada hari-hari sekolah memang kurang efektif, karena sebagian besar waktu mereka digunakan untuk sekolah.
"Semua! 5 menit lagi latihan berakhir! Lalu setelah itu, langsung pulang, ya! Kejahatan semakin meningkat akhir-akhir ini!" teriak Matsumoto pada seluruh juniornya itu.
.
.
"Tet, tet, tet.."
Ponsel Matsumoto berbunyi ketika ia baru sampai di rumahnya.
From : Snowy Hair
'Matsumoto, lagu yang buat lomba, di coba terus, ya! Lomba nya bentar lagi, loh. Aku udah ngasih tahu Hinamori buat nyari kunci keyboardnya, dan sudah kuminta Hinamori untuk memberi tahu Ichigo mengenai masalah ini. Kau beritahu Gin, ya? Aku nggak punya nomor ponselnya. Thankyou, Matsu.'
'Oke!' balas Matsumoto singkat.
Matsumoto segera menelepon teman sejak SD nya itu dari telepon rumah. Gin mengangkat pada deringan ke 2.
"Moshi-moshi, Ran-chan. Ada apa?" terdengar suara dari seberang sana.
"Yo, Gin. Emm.. Aku baru teringat sesuatu, bisa kah kau mencari kunci nada yang pas untuk lagu band kita?"
"Jangan bilang kau di minta oleh anak pendek itu?"
"T.. Tidak kok. Aku sendiri baru teringat akan masalah ini ketika akan melatih vokalku."
Matsumoto nggak mau menambah masalah antara Gin dan Hitsugaya.
"Emm.. Baiklah. Ngomong-ngomong, tadi pulang sekolah kau tidak langsung pulang, ya?"
"Tidak, aku ada perlu sedikit. Hehe. Kenapa kau bisa tahu?"
"Tadi aku melihatmu berbelok ke arah lain, jadi kupikir kau pasti pergi ke suatu tempat."
"Begitu, kah? Baiklah, sudah dulu, ya. Aku harus mandi dan makan malam. See you, Gin."
"Oke."
Klek. Sambungan telepon pun di putus.
~~SHS~~
"Rukia," panggil sebuah suara yang begitu anggun milik Byakuya, kakak dari Rukia serta guru biologi di SMA Karakura.
"Ya, nii-sama?" Tanya Rukia menoleh. Ia sedang mengerjakan beberapa pekerjaan rumah yang belum sempat ia selesaikan.
"Hari sabtu besok, kau ada acara dengan teman-temanmu tidak? Aku berencana ingin mengajakmu pergi keluar kota."
"Yaa, nii-sama.. Aku sudah ada janji dengan teman-temanku akan pergi ke taman ria. Minggu depan saja, bisa tidak?"
"Begitu, ya. Baiklah, minggu depan saja."
"Thankyou, nii-sama!"
"Ya, tak apa. Oh iya, Rukia, bagaimana hubunganmu dengan si rambut duren itu?"
Seperti biasa, Byakuya selalu memanggil Ichigo dengan panggilan 'rambut duren'.
"Ichigo? Biasa saja, memang kenapa?"
"Memang kau sama sekali tidak punya perasaan dengannya?"
Pipi Rukia pun merona merah.
"Eh.. Aku.. Tidak juga."
"Hayo, Rukia kecilku sudah bisa jatuh cinta, rupanya. Hahaha." Kata Byakuya dengan nada yang sedikit menggoda adik semata wayang nya itu.
"Nii-sama bisa saja! Aku kan tidak bilang suka padanya!"
"Tapi pipimu sudah menunjukkannya, Rukia! Udah merah, tuh!"
"Sudah ah, nii-sama! Jangan menggodaku terus!"
"Baiklah, aku keluar dulu ya! Jangan mikirin rambut duren itu terus!"
"iih, Nii-sama! Udah ah, keluar sana!"
Byakuya keluar dari kamar Rukia sambil tertawa.
Yah, siapa sangka, di balik tampang 'cool' dari seorang Byakuya Kuchiki, ternyata ada sifat yang begitu hangat.
~~SHS~~
Weekend..
"Pagi semua! Maaf kami terlambat!" kata Kaien, yang setengah berlari bersama Ichigo ke arah teman-temannya.
Mereka memang janjian di taman Karakura.
"Kalian lama sekali! Hampir saja kami tinggal!" ucap Rukia sedikit marah, karena Ichigo dan Kaien terlambat hampir setengah jam.
"Maaf, semalam kami nonton film sampai larut, sehingga tadi kami telat bangun." Ucap Ichigo di sela-sela nafasnya yang terengah-engah.
"Film bokep ya?" Tanya Grimmjow, sedikit ngajak ribut.
"Nggak lah!" jawab Ichigo tidak sabar.
"Udah, udah! Kalo berantem di sini, ntar kita nggak berangkat-berangkat, nih!" kata Nel melerai Ichigo dan Grimmjow sebelum pertengkaran mereka berdua dimulai.
.
.
"Tumben hari ini sepi? Biasanya hari libur kan rame~" kata Ichigo, begitu sampe di taman ria.
"Bagus dong, setidaknya kita bisa mencoba seluruh permainan yang ada di sini." Sambung Rukia.
"Hmm." Gumam Ulquiorra tidak jelas.
"Mau ngapain dulu?" tanya Hinamori.
"Kora-kora!" sahut Renji.
"Apa aja deh!" kata Hitsugaya pasrah.
"Untung kau bisa masuk, Hitsugaya! Kalau tinggi minimum nya 150, saja, kau tak akan bisa naik wahana ini!" kata Ichigo lalu di iringi derai tawa dari yang lainnya.
"ih, sebel." Desah Hitsugaya pendek.
Yeah, hari itu memang menjadi hari yang menyenangkan bagi mereka.
Next chapter : Latihan band di perketat, hubungan Gin dan Hitsugaya tidak juga membaik! Matsumoto bingung karena kedua temannya ini tidak bisa di-akur-kan.
***TO BE CONTINUED***
*Eolgol Chagi : Tendangan atas, istilah dalam tae kwon do, biasanya mengarah pada kepala lawan.
** Dojo : tempat latihan bela diri.
*** TaeKwonDo-in : para peserta yang berlatih tae kwon do.
Well, gimana?
Pertanyaan kalian di chapter sebelumnya, kejawab, kan? :D
Yah, Matsumoto dan Hinamori memang tidak pernah menunjukkan kemampuan beladiri mereka di depan teman-temannya.
Oke, review, please!
Saya selalu menunggu komentar dari readers~
And, kalo ada typo, let me know, please!
See you later! ^^
